08/03/2017
Sejarah Konflik Bangsa-bangsa dan Bhinneka Tunggal Ika
(Bagian 3)
Josip Broz Tito (1892-1980) adalah pendiri negara Yugoslavia, nama panjangnya adalah Republik Sosialis Federal Yugoslavia (agar esai ini menjadi agak lebih panjang). Yugoslavia semula berbentuk monarki sejak 1918 dengan nama Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia. Lalu pada 1929, Raja Alexander I menamainya Kerajaan Yugoslavia, dengan alasan persatuan bangsa. Selama Perang Dunia II (1939-1945) Kerajaan Yugoslavia dikuasai oleh Blok Poros (Jerman, Jepang, Italia).
Selama Perang Dunia II, Marsekal Josip Broz Tito memimpin Partisan Yugoslavia, sayap militer multi-etnis yang didukung oleh Blok Sekutu, beranggotakan 800.000 milisia, dengan komposisi 44% suku Serbia, 30% suku Kroasia, 10% suku Slovenia, 5% suku Montenegro, 2,5% suku Makedonia, dan 2,5% suku Bosnia Muslim. Ketika Blok Poros kalah melawan Blok Sekutu, Yugoslavia pun mendeklarasikan kemerdekaannya, 29 November 1945, sebagai Republik. Josip Broz Tito, berayah etnis Kroasia beribu Slovenia, terpilih menjadi perdana menteri pertama sekaligus panglima tertinggi militer.
Yugoslavia berdiri sebagai federasi dari enam republik berideologi sosialisme: Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Serbia, Slovenia, Montenegro, dan Makedonia. Semboyan negara adalah: Persaudaraan dan Persatuan. Yugoslavia dipimpin oleh Josip Broz Tito sebagai perdana menteri, dan kemudian presiden seumur hidup. Sempat mengalami lima kali usaha pembunuhan yang dirancang oleh Stalin, sebab Tito memisahkan diri dari blok komunis Uni Sovyet, dan memilih cara sosialismenya sendiri, bahkan mendirikan Gerakan Non Blok. Josip Broz Tito, akhirnya tutup usia 4 Mei 1980 pada umur 87 tahun, karena gangrene. Pemakaman Presiden Tito dihadiri presiden / raja / perdana menteri / pangeran / menteri perwakilan dari 128 negara.
Tito meninggalkan Yugoslavia dalam keadaan ekonomi sulit. Menumpuknya hutang luar negeri sebagai akibat kegagalan sistem ekonomi terpimpin sosialisme, menjadi hambatan terbesar pertumbuhan ekonomi. Angka pengangguran terus melonjak. Ketiadaan pemimpin yang kuat dan disegani membuat upaya pemulihan ekonomi turut terganjal oleh perbedaan kepentingan politik. Maret – April 1981 serangkaian protes mahasiswa dan rakyat etnis Albania di kota Pristina, Kosovo, menuntut otonomi Kosovo menjadi negara federal, berakhir rusuh. Insiden ini menjadi pemicu kebangkitan nasionalisme etnis di Yugoslavia.
Di awal 1987, rakyat Slovenia mulai berpendapat bahwa ekonomi Slovenia akan menjadi lebih baik jika merdeka dari Yugoslavia. Kesenjangan ekonomi antar negara federal tampaknya menyulut disintegrasi. Negara yang ekonominya masih lumayan baik beranggapan bahwa mereka hanya dieksploitasi oleh negara federal yang ekonominya terpuruk. Sementara negara federal yang ekonominya terpuruk menuduh negara seperti ini hanya akan merusak ”Persaudaraan dan Persatuan”.
Kejatuhan komunis di Eropa timur pada saat yang bersamaan membuat dominasi partai komunis di Yugoslavia melemah. Figur politisi senior partai komunis Yugoslavia Slobodan Milosevic (yang juga menjabat Presiden Republik Sosialis Serbia) yang tak dis**ai politisi komunis dari negara federal lain, membuka jalan bagi terbukanya sistem multi partai di negara-negara federal. Pada 8 April 1990, pemilu multi-partai berlangsung untuk pertama kali sejak Yugoslavia merdeka. Di Slovenia partai Demokrat menang pemilu. Di Kroasia partai Persatuan Demokrat Kroasia, pimpinan Franjo Tudjman, menang.
Pada 23 Desember 1990, Slovenia melakukan referendum kemerdekaan dengan hasil 88,5% memilih Republik Slovenia merdeka. Tanggal 25 Juni 1991 Republik Slovenia mendeklarasikan kemerdekaan. Deklarasi itu diikuti oleh Republik Kroasia juga memilih keluar dari Yugoslavia. Sehari berikutnya pecah perang Sepuluh Hari yang berlangsung antara Tentara Rakyat Yugoslavia dan Tentara Slovenia di perbatasan.
Di Republik Kroasia, etnis minoritas Serbia yang tak mengakui hasil pemilu dan kemerdekaan Kroasia memberontak pemerintahan Presiden Tudjman. Etnis Serbia di Kroasia membentuk milisi yang didukung pemerintahan Yugoslavia. Perang saudara berkecamuk 1991-1995, antara tentara Kroasia melawan milisi Serbia di Kroasia dan Tentara Rakyat Yugoslavia, yang didominasi oleh etnis Serbia karena militer dari etnis lain telah menyatakan desertir.
Pemisahan tanpa kekerasan terjadi di Makedonia yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Yugoslavia pada 25 September 1991, setelah sebelumnya melakukan referendum dengan hasil 95% memilih menjadi Republik Makedonia.
Februari 1992, rakyat Bosnia-Herzegovina melakukan referendum, yang diboikot oleh etnis Serbia yang tinggal di Bosnia. Hasilnya tanggal 3 Maret 1992 Republik Bosnia-Herzegovina menyatakan kemerdekaan, dipimpin presiden Alija Izetbegovic. Tentara Republik Bosnia-Herzegovina segera dibentuk pada 15 April 1992, untuk menghadapi perang yang mungkin terjadi.
Perang Bosnia menjadi perang saudara yang paling menelan banyak korban. Etnis Serbia yang menolak referendum, dan jumlahnya di Bosnia relatif lebih banyak dibandingkan dengan etnis Serbia di Slovenia dan di Kroasia, membentuk sendiri Republik Srpska, dengan presiden Radovan Karadzic, seorang ultra-nasionalis Serbia. Tentara Srpska, dipimpin Ratko Mladic, dan didukung oleh Yugoslavia bertempur melawan tentara Bosnia-Herzegovina. Perang Bosnia menjadi makin rumit karena etnis Kroasia di Bosnia pada Oktober 1992 memproklamasikan berdirinya Republik Kroasia Herzeg-Bosnia yang didukung oleh Republik Kroasia. Pertempuran segitiga antara etnis Bosnia-Herzegovina vs. Etnis Serbia vs. Etnis Kroasia berakhir saat UNPROFOR dari PBB turun tangan dan NATO melakukan serangan udara untuk menekan pas**an Ratko Mladic.
Perang Bosnia berakhir dengan ditandatanganinya Kesepakatan Dayton 14 Desember 1995 antara Slobodan Milosevic, Alija Izetbegovic, dan Franjo Tudjman. Disaksikan oleh Bill Clinton, Jacques Chirac, John Major, Helmut Kohl, dan Viktor Chernomyrdin. Korban perang Bosnia diperkirakan 100.000 jiwa tewas atau hilang, menurut Komisi Penyidik Kriminal Perang PBB.
Disintegrasi Yugoslavia berlanjut tahun 1998-1999 dengan terjadinya perang Kosovo. Sepeninggal empat etnis mendeklarasikan kemerdekaan, etnis Albania yang mendiami provinso Kosovo, membentuk Tentara Pembebasan Kosovo, sebagai upaya separatis karena tuntutan untuk mendapatkan otonomi sebagai negara federal ditolak oleh Belgrade. Perang dihentikan dengan campur tangan NATO dan unit perdamaian PBB. Kosovo lalu menjadi wilayah pengawasan PBB.
Selepas kemerdekaan Slovenia, Kroasia, Makedonia, dan Bosnia-Herzegovina, maka hanya Republik Sosialis Serbia dan Republik Sosialis Montenegro yang berada dalam pemerintahan (bekas) Yugoslavia. Negara jelmaan ’Yugoslavia baru’ di 2003, Serbia dan Montenegro, pun hanya bertahan hingga 2006. Pada 21 Mei 2006 akhirnya Montenegro memutuskan berpisah dari Serbia dan merdeka melalui referendum. Dengan demikian hingga kisah sejarah pendek, ya pendek, ini ditulis, maka bekas Yugoslavia telah terpecah menjadi enam negara merdeka baru, yang semuanya berasal dari federasinya.
Yugoslavia meninggalkan catatan sejarah beberapa pemain sepakbola terbaik di dunia, seperti Stjepan Bobek (kroasia), Dragan Dzajic (serbia), Fahrudin Jusufi (bosnia), Dejan Savicevic (montenegro), dan Predrag Mijatovic (serbia), yang mengalahkan Juventus 1-0 dalam final Piala Champion 1998.
(Sumber gambar : wikipedia)