08/10/2024
(◍•ڡ•◍)❤
•┈┈••✾•◆◆❀◆◆•✾••┈┈•
۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞
🟢 ULAMA' NUSANTARA🟢
"KEISTIMEWAHAN SYAIKHONA KH.SAID BIN ARMIA MURSYID THORIQOH AT-TIJANi GIREN TALANG TEGAL"
"Pernah suatu ketika kyai Hasyim asyari menghadap gurunya, syaikhona kholil bangkalan. Beliau kyai hasyim meminta amalan agar bisa setiap saat berjumpa dengan nabiallah khidir AS.
Kemudian oleh mbah kholil, kyai hasyim disuruh untuk ke tegal ke pondoknya kyai ubaidah sahabatnya, tapi untuk menemui santri kyai ubaidah yang masih kecil bernama (kyai) said bin armia yang masih kanak kanak.
Kmudian mbah hasyim pun ke tegal menemui kyai said kecil, saat itu kyai said sedang bersama nabi khidir.
Setelah nabi khidir pergi, mbah hasyim pun mendekat ke kyai said kecil dan meminta agar beliau bisa dengan mudah bertemu nabi khidir.
Setelah itu esok harinya kyai said kecil pun matur ke nabi khidir bahwa ada kyai hasyim yang ingin dekat dengan beliau.
Hingga akhirnya Kyai Hasyim diberi keistimewaan itu menjadi murid nya nabi khidir.
ADA SEBUAH CERITA;Di masa Habib Husen Bin Muhammad Bin Ali Al-Haddad masih kecil, beliau menghadiri haul di Cikura. Setiba di area kediaman KH Said, beliau mengikuti terus arah KH Said berjalan.
Saat itu, sepanjang perjalanan di area pegunungan dengan berliku-liku, Cikura yang sangat indah dengan kesuburan tanahnya menghijau tanaman di sisi kiri kanan menyejukkan mata.
Tanaman yang sedang berbuah adalah tanaman jeruk. Di mana-mana terhampar tanaman jeruk dengan buah yang sangat lebat. Begitu juga di pekarangan dan halaman penduduknya dipenuhi lebatnya tanaman jeruk yang ranum.
Habib Husen kecil pun menginginkan jeruk, ”Kiai Said saya pengen jeruk, Kiai Said,” katanya sambil menunjuk kearah tanaman jeruk.
“Oh sampeyan pengen jeruk Bib? Kalau sampeyan pengen, sebentar lagi jangan yang ini, nanti di sana ya,” jawab KH Said sambil mengalihkan menuju ke tempat lain.
Berjalanlah keduanya agak jauh. Hingga tiba di sisi tanah dengan tanaman jeruk yang sangat lebat. “Bib, itu tanaman jeruknya. Bila Habib pengen jeruk, ambillah semau Habib,” kata KH Said.
“Iya kiai?,” tanya Habib Husen kecil kegirangan dan seakan tak percaya.
“Iya Bib,” jawab KH Said.
Dengan sigap gembira memetiklah beberapa buah jeruk cukup banyak dan dibawa pergi untuk menuju kediaman KH Said kembali.
Setiba di sana, Habib Husen kecil menikmati buah jeruk yang baru dipetiknya. Beliau merasakan rasa yang teramat lezat nikmat yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dengan lahapnya karena nikmat tiada tara.
Satu demi satu akhirnya jeruk pun habis. Namun Habib Husen kecil masih ingat jalan arah dimana tanaman jeruk yang amat lezat ini berada. Beliau pun beringsut menuju ke sana.
Toh sudah mengantongi izin dari KH Said untuk mengambil semaunya. Tengak tengok dicarinya tanaman yang tadi dipetiknya, ternyata tidak ada. Sambil mengingat kembali dan yakin jika tadi di situlah berada, namun pohonnya sudah tidak ada.
Berlarilah kembali menuju KH Said, ”Kyai, saya tadi menuju pohon jeruk yang tadi saya petik, namun sudah tidak ada. Mengapa tidak ada kiai?,” tanya Habib Husen kecil.
“Bukankah tadi saya sudah pesan Bib, ambillah yang banyak. Kalau sekarang ya sudah tidak ada," jawab Kiai Said
“Mengapa kiai?,” tanya Habib Husen kecil penasaran.
“Sebab yang tadi adalah hadiah tanaman jeruk dari syurga. Kalau sekarang ya sudah tidak ada lagi, ya bagaimana lagi,” jelasnya.
Semoga banyak manfaat barokah...