30/08/2021
๐ท [TADABBUR DO'A] ๐ท
Seringkali kita menafsirkan bahwa arti kebaikan yang kita lantunkan dalam doa ini ialah banyak harta dan materi yang terkumpul padahal standar kebaikan Allah tak berhubungan dengan dunia.
Bahkan dalam banyak kasus seringkali Allah ketika sudah membenci satu kaum yang Ia murkai maka justru dibukakan pintu kesenangan duniawi yang berlimpah yang tak pernah ia reguk menjadi mudah ia genggam, supaya ia semakin tenggelam dengan gelimang dunia tersebut lalu terhenyak ketika dimatikan oleh Allah.
"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al An'am: 44)
Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan kepada mereka, maka dibukakanlah berbagai pintu dunia dan kelezatannya. Mereka pun lalai sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka. Akhirnya Allah subhanahu wa ta'ala menyiksa mereka dengan tiba-tiba.
Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.
Kalaulah urusan dunia dari sederet mobil, rumah, dan emas pun bukan tanda kebaikan dunia akhirat. Lalu sebenarnya hakikat kebaikan dunia akhirat itu mewujud hal apakah? Ketika menafsirkan ayat
ููู ุงูุฏููููููุง ุญูุณูููุฉ
"Kebaikan di dunia." (QS. Al-Baqarah:201)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, "Maksudnya adalah ilmu dan ibadah."
Dan ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta'ala
ููููู ุงููุขุฎูุฑูุฉู ุญูุณูููุฉู
"Dan kebaikan di akhirat." (QS. Al-Baqarah:201)
Beliau berkata, "Maksudnya adalah Surga."
Inilah tafsir yang paling baik, karena kebaikan yang paling tinggi adalah ilmu syar'i yang bermanfaat dan amal yang shalih.
Karena ilmu yang berbuah manis dengan ketaatan itulah sejatinya arti dari hasanah yang kita sebutkan dalam doa, karena kita semua mengetahui bahwa Surga identik dengan ilmu selayak ikan identik air.
Ketika Allah ingin mengubah nasib seseorang di akhirat, maka Allah pun menganugerahkan kepadanya ilmu akhirat yang berujung pada amal sholeh sehingga ia berjalan sesuai kecintaan serta keridhoan-Nya. Ia pun mampu membedakan mana jalan Surga dan mana jalan neraka, mampu mengiris antara jalan keburukan dan jalan keselamatan. Dan itu semua bisa diraih dengan sebuah pintu yang bernama ilmu.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
" Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya."
(HR. Bukhari No. 71, HR Muslim No. 1037)
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad membagi manusia dalam pusaran ilmu dan harta menjadi empat kelompok
โข Kelompok pertama, kelompok yang diberi harta dan ilmu. Dia berbuat baik kepada masyarakat dan kepada dirinya sendiri dengan ilmu dan hartanya.
โข Kelompok kedua, sosok yang diberi ilmu namun tidak diberi harta. Pahala kelompok pertama dan kedua itu sama karena niatnya. Jika tidak, maka kelompok pertama yang berinfaq dan bersedekah, berada diatas kelompok ke dua karena infak dan sedekahnya.
Orang yang berilmu namun tidak memiliki harta, maka sama pahalanya dengan kelompok pertama dengan niatnya yang sungguh-sungguh dan ditindaklanjuti dengan apa yang mampu dilakukannya, yaitu mengucapkan niatnya.
โข Kelompok ketiga, kelompok yang diberi harta namun tidak diberi ilmu. Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya disisi Allah. Karena hartanya adalah sarana menuju kehancurannya. Jika dia tidak mempunyai harta, maka itu lebih baik baginya. Dia diberi sesuatu yang bisa dijadikan bekal menuju surga, namun justru dia gunakan sebagai bekal menuju neraka.
โข Kelompok keempat, kelompok yang tidak diberi harta maupun ilmu. Dia bermaksiat kepada Allah jika diberi harta. Maka kedudukannya lebih rendah daripada orang kaya yang bodoh. Dosanya sama karena niatnya yang sungguh-sungguh dan ditindaklanjuti dengan apa yang mampu dilakukannya, yaitu ucapan.
Maka Nabi membagi kebahagiaan ke dalam dua kelompok. Beliau menjadikan ilmu dan amal sebagai sebab untuk meraihnya.
Beliau juga membagi kecelakaan dalam dua kelompok dan menjadikan kebodohan beserta akibat-akibatnya sebagai penyebab kecelakaannya.
Maka seluruh kebahagiaan kembali kepada ilmu dan konsekuensinya. Dan seluruh kecelakaan kembalinya kepada kebodohan dan buahnya.
Berapa banyak manusia mendapatkan kebaikan hidup dengan perhiasan ilmu dan amal yang ia miliki.
Lihatlah kepada Ahnaf bin Qais rahimahullah. Sosok yang disifati dengan kepala yang kecil, hidung yang menukik turun, telinga yang lunak, gigi yang tidak beraturan, bibir yang bengkok, dagu yang miring, pelipis yang menonjol, mata yang pecak, kurus lebar, dan kedua kaki yang kering.
Namun dibalik semua kekurangan fisiknya, terdapat tumpukan ilmu dan amal. Maka Allah pun memuliakannya.
Al-Hasan Al-Bashri _rahimahullah_ menuturkan,
"Aku tidak melihat sosok pemuka kaum yang lebih utama dari Al-Ahnaf."
Khalid bin Shafwan berkata,
"Al-Ahnaf lari dari kemuliaan, akan tetapi kemuliaan justru mengikuti Al-Ahnaf."
Semoga kita termasuk yang dianugerahi harta, ilmu dan perhiasan amal shalih uang memantaskan kita mendapatkan tiket Surga. Atau minimal kita diberikan anugerah ilmu dan amal yang menjadi penyelamat dalam kehidupan akhirat kelak kita nanti.
Sumber: Buku "Letter to Allah. Menyelami Untaian Do'a 40 Rabbana di dalam Al-Qur'an" karya Abu Bassam Oemar Mita
_________________________________
Held by: Ikatan Remaja Musholla Qurrata'aini SMKN 1 Bantaeng
Follow us
๐ฑ Instagram : https://instagram.com/irmussmkn1btg
๐ฑ Facebook : https://m.facebook.com/irmussmkn1btg
๐ฑ YouTube: bit.ly/Irmussmkn1btg
๐ WhatsApp : Wa.me/685242864720