Nasehat Ulama

Nasehat Ulama Guru Sekumpul, Guru Zuhdi, Ustadz Ilham Humaidi, Guru Bakhiet, Guru Banjar Indah, Guru Rasyid Ridho, Guru Udin

JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMUJangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pen...
08/09/2023

JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMU

Jangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pengalaman. Dengan merenungkan masa lalu, kita bisa meninggalkan hal-hal yang negatif dan mengambil sisi-sisi positif sebagai bekal menghadapi masa depan. Kita harus optimis bisa melakukan perubahan lebih baik di masa yang akan datang dengan terus melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik. Rasulullah saw bersabda, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).

Allah juga sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Saudaraku rahimakumullah,
Selain melakukan muhasabah terhadap apa yang telah dilakukan pada masa lalu, kita juga harus melakukan persiapan untuk menghadapi masa depan. Hal ini penting karena sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal yang cukup agar kita bisa sampai ke tujuan dengan baik.

Dalam mengarungi kehidupan melalui ikhtiar ini, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita diperintahkan untuk melakukan ikhtiar dan setelah itu kita diingatkan untuk bertawakal, berserah diri kepada Allah. Dalam surat Luqman ayat 34 disebutkan:

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya, “Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu p**a) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

Ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas masa depan dan ketidaktahuan kita tentang apa yang akan terjadi esok. Dalam satu ayat ini Allah menunjukkan lima kekuasaannya sekaligus tentang masa depan.

Pertama, Allahlah yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Tidak ada satu pun manusia yang tahu kapan kiamat datang.

Kedua, Allahlah yang mengetahui kapan hujan akan turun untuk menghidupkan bumi ini dan memberi rezeki kepada manusia untuk bekal kehidupan di dunia.

Ketiga, Allahlah yang tahu apa yang ada dalam kandungan seorang ibu. Walaupun saat ini sudah ditemukan alat-alat canggih untuk melihat kondisi bayi dalam rahim seorang ibu, seperti USG dan sebagainya, namun pada hakikatnya semua masih dalam fase prediksi.

Keempat, Allahlah yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Kita hanya berusaha dengan cara yang terbaik, namun Allah lah yang akan menentukan hasilnya.

Kelima, Allahlah yang tahu kapan seseorang akan mati. Tidak ada manusia yang bisa merencanakan umurnya, meninggal dunia di mana, dan di mana dia akan dikuburkan. Namun kematian merupakan keniscayaan yang akan dihadapi oleh semua makhluk yang bernyawa.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya, “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (p**a) meminta percepatan.” (QS: Al-A’raf: 34)

Saudaraku rahimakumullah,
Mari kita renungi pesan Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Hakim:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya, “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sehatmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufiq NYA

DIANTARA NIKMAT YANG TERBESAR ADALAH NIKMAT AMANSetelah bebas dari penjajahan, Tiada henti kita berdoa dan bersyukur kep...
05/09/2023

DIANTARA NIKMAT YANG TERBESAR ADALAH NIKMAT AMAN

Setelah bebas dari penjajahan, Tiada henti kita berdoa dan bersyukur kepada Allah , Semoga Indonesia selalu aman dan berkah.

Berikut sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, nikmat sehat dan yang paling penting nikmat rasa aman dan kondusif

Nikmat yang paling nikmat adalah adanya rasa aman, oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa ujian yang disebutkan pertama kali adalah ujian rasa takut (yang sedikit), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [3]kekurangan harta, [4] jiwa, dan buah-buahan”. (al-Baqarah: 155)

Rasa Aman lebih baik dari nikmat sehat dan waktu luang. Ar-razir rahimahullah berkata,

سئل بعض العلماء: الأمن أفضل أم الصحة؟ فقال: الأمن أفضل، والدليل عليه أن شاة لو انكسرت رجلها فإنها تصح بعد زمان ولو أنها ربطت في موضع وربط بالقرب منها ذئب فإنها تمسك عن العلف ولا تتناوله إلى أن تموت، وذلك يدل على أن الضرر الحاصل من الخوف أشد من الضرر الحاصل من ألم الجَسَد”

“Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakinya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi… kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan.”

Hendaknya kaum muslimin selalu menjaga rasa aman ini dan menjaga agar suasana selalu kondusif. Kita tidak ingin ada darah yang tertumpah, anak-anak menjadi yatim dan para wanita menjadi janda. Perlu kesabaran dan bimbingan para ulama ketika terjadi fitnah atau ujian yang menimpa kaum muslimin

Kita harus banyak bersyukur karena semua nikmat ini ada pada diri kita, karena ada tiga pokok kenikmatan yaitu sehat, aman dan ada makanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141)

Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan menjaga keamanan dan kestabilan negara kita dan senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan Taufiq Nya.

05/09/2023
✒️ADAB DALAM MENASEHATIYahya bin Ma'in rahimahullah berkata:ما رأيتُ على رجلٍ خطأً إلا سترته ، وأحببتُ أن أزين أمره ، وم...
01/09/2023

✒️ADAB DALAM MENASEHATI

Yahya bin Ma'in rahimahullah berkata:

ما رأيتُ على رجلٍ خطأً إلا سترته ، وأحببتُ أن أزين أمره ، وما استقبلتُ رجلاً في وجهه بأمر يكرهه ، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه ، فإن قبل ذلك وإلاَّ تركته

"Tidaklah aku melihat kesalahan saudaraku, kecuali aku pasti menutupinya serta aku senang untuk memperbaiki urusannya. Tidaklah aku menemui seseorang di hadapannya dengan hal yang dia benci, tetapi aku jelaskan kesalahannya kepadanya secara empat mata. Jika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), sebaliknya jika dia tidak menerima ucapanku, maka aku tinggalkan dia."

INGAT SELALU KEMATIAN & AKHIRATImam Asy-syafii mengatakan kepada muridnya al-muzani rahimahumallah ta'ala,"{اتق اللّه وم...
29/08/2023

INGAT SELALU KEMATIAN & AKHIRAT

Imam Asy-syafii mengatakan kepada muridnya al-muzani rahimahumallah ta'ala,

"{اتق اللّه ومثل الآخرة في قلبك، واجعل الموت نصب عينك، ولا تنس موقفك بين يدي اللّه، وكن من اللّه على وجل، واجتنب محارمه وأد فرائضه، وكن مع الحق حيث كان}."

“Bertakwalah kepada Allah dan jadikanlah akhirat selalu di dalam hatimu. Jadikan kematian selalu berada dalam ingatanmu. Jangan lupakan tempat berdirimu di hadapan Allah. Hendaklah engkau selalu merasa takut kepada Allah, hindarilah hal² yang dilarang dan tunaikan kewajiban²-Nya dan teruslah bersama kebenaran di manapun berada.”

JANGAN S**A MELANGKAHI MAKMUM JUMATANLuthfi BashoriJika ingin duduk di shaf terdepan saat shalat Jumat, datanglah di awa...
25/08/2023

JANGAN S**A MELANGKAHI MAKMUM JUMATAN

Luthfi Bashori

Jika ingin duduk di shaf terdepan saat shalat Jumat, datanglah di awal waktu. Jangan datang terlambat, tapi minta duduk pada shaf terdepan, karena rawan melangkahi bahu para jamaah yang datang terlebih dahulu. Melangkahi jamaah shalat Jumat yang datang terlebih dahulu seperti itu termasuk larangan syariat.

Namun para jamaah yang datang terlebih dahulu, perlu juga tahu ilmunya, bahwa jika mereka itu mau mengambil posisi duduk yang di depan, tentu jauh lebih mulia dalam pandangan syariat jika dibanding jamaah yang duduk di belakangnya.

Di samping itu, jamaah yang datangnya terlebih dahulu, lantas mengambil posisi duduk yang terdepan, sama halnya ikut meminimalisir terjadinya pelanggaran syariat yang terjadi di masjid terkait.

Apalagi kecenderungan jamaah shalat Jumat dewasa ini, banyak yang mencari posisi tempat duduk itu hanya disesuaikan dengan keinginan pribadi, bukan karean pertimbangan afdhaliyah (lebih utama) menurut standar syariat, sekalipun mereka itu tidak mempunyai alasan udzur syar’i untuk duduk di belakang .

Yang dimaksud udzur syar’i hingga terpaksa tidak mungkin mencari posisi duduk di shaf yang depan, antara lain seperti orang yang sering kencing karena sakit diabetes misalnya, maka ia cenderung mencari posisi tempat duduk yang paling dekat dengan toilet.

Atau orang yang tidak tahan terhadap hembusan kipas angin yang dipasang oleh takmir masjid karena merasa rawan masuk angin, maka ia cenderung mencari tempat yang jauh dari letak kipas angin, demi kesehatan dirinya.

Adapun selain orang-orang yang tidak memiliki udzur syar’i sebagaimana di atas, maka hendaklah mencari tempat duduk di bagian depan selagi dapat dilakukan, namun tetap harus menghindar jangan samapi melangkahi bahu para jamaah yang datang terlebih dahulu.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melangkahi leher orang-orang pada hari Jum’at (salat Jum’at) berarti menempuh jembatan yang menuju ke nerakaJahannam.” (HR. Imam Ahmad).

Hadits ini mengancam neraka kepada siapa saja yang sengaja melangkahi jamaah lain yang telah duduk terlebih dahulu di saat shalat Jum’at, kecuali jika pelakunya adalah orang yang bertugas sebagai khatib atau imam shalat.

SEMUA AKAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYAKita semua tidak akan lepas dari pertanggungjawaban setiap apa yang telah kita ...
22/08/2023

SEMUA AKAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA

Kita semua tidak akan lepas dari pertanggungjawaban setiap apa yang telah kita lakukan semasa hidup ini.

Apakah itu sekecil apapun perbuatan baik, begitu juga perbuatan buruk.
Jika amalannya baik, maka dia akan bahagia dan beruntung. Namun jika buruk, maka dia akan sengsara dan merugi di akhirat kelak.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka.

Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.

Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Hadits di atas memberikan penegasan bahwa sejatinya setiap diri adalah seorang pemimpin. Beliau menegaskan bahwa pemimpin bukan hanya mereka yang menjadi presiden, gubernur, wali kota, dan pejabat lainnya. Akan tetapi, seorang pembantu sekalipun, masuk dalam kategori pemimpin dengan bertanggung jawab atas harta majikannya.

Hal ini juga berlaku pada bidang pekerjaan apa pun. Misalnya, seorang karyawan pabrik yang sedang mengerjakan bidang tertentu, maka ia menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas apa yang dia kerjakan.

Dengan demikian, yang terpenting dalam kepemimpinan pada diri manusia bukan persoalan besar atau kecilnya tanggung jawab yang dipikulnya. Akan tetapi, yang terpenting adalah seberapa kuat ia menjalankan tanggung jawabnya dengan amanah dan adil.

Dalam Al-Qur’an surah an-Nahl ayat 90, Allah mengingatkan kita:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Pada ayat di atas disebutkan tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah itu ialah berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan berbuat baik kepada kerabat. Sedangkan tiga larangan itu ialah berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.

Penyimpangan dari keadilan adalah penyimpangan dari sunnah Allah dalam menciptakan alam ini. Hal ini tentulah akan menimbulkan kekacauan dan kegoncangan dalam masyarakat, seperti putusnya hubungan cinta kasih sesama manusia, serta tertanamnya rasa dendam, kebencian, iri, dengki, dan sebagainya dalam hati manusia. Semua yang disebutkan itu akan menimbulkan permusuhan yang menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu, agama Islam menegakkan dasar-dasar keadilan untuk memelihara kelangsungan hidup masyarakat.

Dalam Islam, adilnya seorang pemimpin merupakan hal yang sangat penting dan diperhatikan. Mengapa? Karena keadilan pemimpin dapat membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas. Maka, tidak heran jika Allah sangat memuji dan menjanjikan balasan kebaikan yang luar biasa bagi pemimpin yang baik, namun juga menjanjikan balasan keburukan bagi pemimpin yang tidak baik, sebagaimana Rasulullah:

ﷺ: إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُ عَذَابًا إِمَامٌ جَائِرٌ

Artinya: "Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah ﷻ pada hari kiamat dan paling ‘dekat’ tempat duduknya dari-Nya adalah seorang pemimpin yang adil, sedangkan orang yang paling dibenci Allah pada hari kiamat dan paling keras siksanya adalah seorang pemimpin yang lalim." (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain, beliau juga menegaskan tentang jaminan naungan Allah di hari kiamat kepada pemimpin yang adil:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ
Artinya: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat saat tidak ada naungan kecuali dari Allah, di antaranya diberikan kepada imam atau pemimpin yang adil...” (HR al-Bukhari)

Kebijaksanaan pemimpin dalam sejarah Islam dapat kita lihat salah satunya pada diri Umar bin Khattab yang rela berkeliling malam-malam untuk mencari warganya yang tidak bisa makan. Hingga akhirnya, beliau menemukan sebuah gubuk yang di dalamnya ada seorang perempuan janda sedang memasak dan anaknya yang sedang menangis.

Perempuan janda ini tidak tahu bahwa yang datang ke rumahnya adalah Khalifah Umar.

“Mengapa anakmu menangis?” tanya Umar.
“Seharian dia belum makan, dan kini sedang menunggu masakan yang sedang aku masak,” jawab perempuan itu.

Namun, alangkah terkejutnya ketika Umar melihat ternyata yang dimasak adalah kerikil batu. Perempuan janda ini memasak batu karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, lantas untuk menghibur anaknya, ia memasak batu agar anaknya tertidur.

Dengan nada sinis, perempuan ini berkata, “Sungguh aku menyesal memiliki pemimpin seperti Umar yang tidak peduli terhadap kesusahan warganya.”

Sontak Umar kaget mendengar ucapan itu. Secepat mungkin ia pergi ke lumbung makanan negara, mengambil sekarung gandum, dan memikul sendiri gandum itu ke rumah perempuan janda yang sedang kelaparan itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Khalifah Umar kemudian membantu memasak hingga masakannya matang dan dimakan oleh perempuan dan anaknya.

Pertanyaannya, mengapa Umar bersusah payah mengangkat gandum sendiri hingga membantu memasak si perempuan janda itu? Karena ia sangat sadar bahwa dosa pemimpin yang tidak adil sangatlah besar dan dia sendirilah yang akan menanggungnya.

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ

Artinya: “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan shalat. Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali" (QS Fathir: 18).

Semoga kita semua mendapat kekuatan untuk mampu mengemban misi sebagai pemimpin di muka bumi ini dengan baik, amanah, dan adil, setidaknya dapat memimpin diri sendiri agar bisa selamat di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin ya rabbal alamin.

4 NASIHAT BIJAK ALI BIN ABI THALIB PADA PUTRANYA HASAN DAN HUSEINSalah satu sifat terpuji Ali sebagai ayah adalah kesaba...
18/08/2023

4 NASIHAT BIJAK ALI BIN ABI THALIB PADA PUTRANYA HASAN DAN HUSEIN

Salah satu sifat terpuji Ali sebagai ayah adalah kesabaran dan kelemahlembutan dalam mendidik Hasan dan Husain. Di sisi lain, Ali senantiasa memberikan dan kepada putra-putranya, khususnya Hasan dan Husein. Nasihat ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan panduan hidup pada mereka dan untuk kita semua.

Di antara Sayyidina Ali dalam menghadapi kehidupan.

Pertama, Ali menasihati anaknya agar senantiasa bertakwa pada Allah. Ali berkata;

“Wahai Anakku, bahwa yang paling kusukai untuk engkau amalkan dari wasiatku ini, adalah bertakwa kepada Allah dan membatasi diri mengamalkan apa yang diwajibkan atasmu, serta meneladani leluhurmu dan orang-orang yang shaleh dari keluarga mu,”

Takwa pada Allah adalah lentera dan perahu bagi orang beriman. Takwa adalah penuntun manusia untuk selamat di dunia dan akhirat. Tanpa adanya dalam hati, manusia akan tenggelam dalam dunia yang penuh dengan intrik, tipuan, dosa dan hawa nafsu. Takwa adalah kompas untuk menuntun manusia.

Ahmad bin Muhammad as-Shawi dalam kitab Hasyiah al-Shawi ala al-Jalalain [Beirut; Dar Kutub al Ilmiah, jilid IV, 2006, halaman 397], terdapat satu nasihat bijak dari Luqman al Hakim, tentang pentingnya takwa dalam kehidupan manusia dalam menempuh hidup dalam dunia ini. Ia berkata;

يَا بُنَيَّ إِنَّ الدُّنْيَا بَحْرٌ عَمِيقٌ يَغْرَقُ فِيهِ نَاسٌ كَثِيرٌ، فَلْتَكُنْ سَفِينَتُكَ فِيهَا تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى، وَحَشْوُهَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَشِرَاعُهَا التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ لَعَلَّكَ تَنْجُو

Artinya: "Wahai anakku sesungguhnya dunia adalah lautan yang sangat dalam. Banyak manusia terjebak dan tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah iman sebagai sampan, takwa kepada Allah sebagai layar agar engkau tak tenggelam dalam gemerlap lautan dunia ini”

Kedua, menolong orang yang berhutang. Dalam salah satu nasihatnya, Ali bin Abi Thalib juga senantiasa mewasiatkan sebelum wafat, untuk senantiasa meminjami uang kepada orang yang membutuhkan jika mereka datang untuk berhutang. Pasalnya, perbuatan itu tergolong mulia dan meringankan beban orang yang tengah kesusahan.

Ali berkata; “Wahai anakku, gunakanlah kesempatan mengutangi siapa yang meminta diberi utang pada saat engkau mampu, agar dia dapat mengembalikan utangnya saat krisis menimpamu. Ketahuilah di hadapanmu terdapat jalan yang penuh pendakian dan kesulitan, siapa yang ringan bebannya ketika itu lebih baik keadaannya daripada yang berat, yang lambat jalannya lebih buruk dari yang cepat,”.

Dalam sebuah Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan menolong dan membantu orang yang membutuhkan, bahwa pahalanya dibalas dengan 70 kebaikan. Tidak sebatas itu saja, orang yang menolong akan dihindarkan dari 70 kejelekan atau keburukan.

Rasulullah bersabda;

مَنْ مَشٰی فِی حَاجَۃِ اَخِيْهِ الْمُسْلِمِ كَتَبَ اﷲ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَۃٍ سَبْعِينَ خَسَنَۃ وَكَفَرَ عَنْهْ سَبْعيْنَ سَيِّاءۃ

Artinya; "Siapa saja yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat saudaranya yang muslim maka setiap satu langkah akan dibalas dengan tujuh puluh kebaikan dan dijauhkan dari tujuh puluh keburukan."

Ketiga, jangan putus asa dari rahmat Allah. Dalam hidup, ketika ditimpa kemalangan dan musibah, seyogianya seorang tidak berputus asa dan berprasangka buruk pada Allah. Pasalnya, Allah adalah pemberi rencana sempurna.

Di sisi lain, ketika doa dan pinta belum terpenuhi, tidak p**a putus asa. Pasalnya, bisa jadi Allah tidak mengabulkan atau belum mengabulkan karena menunggu momen yang tepat. Sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu itu yang terbaik bagi hidup, sebaliknya yang dianggap buruk, justru itu adalah hal yang terbaik dalam hidup.

“Jangan sekali-kali engkau berputus asa terdorong oleh kelambatan pengabulan-Nya, karena anugerah sesuai dengan niat pemohonnya. Boleh jadi pengabulannya ditunda agar itu menjadikan ganjaran lebih agung bagi pemohon dan anugerah lebih besar buat si pengharap,”

Keempat, nasihat bijak Ali ialah dilarang memakan harta yang haram. Allah SWT telah menetapkan larangan untuk memakan harta yang haram dalam Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Larangan ini ditujukan untuk melindungi kehidupan ekonomi masyarakat dan menjaga keadilan dalam distribusi harta.

Beberapa ayat dalam Al-Quran yang menegaskan larangan ini antara lain:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ

Artinya: “Dan janganlah kamu memakan harta kamu di antara kamu dengan cara yang batil dan (dengan) membawanya kepada hakim dengan maksud supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa (yang nyata)." (QS. Al-Baqarah: 188)

Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan menghormati martabat setiap manusia. Tidak dibenarkan dalam Islam, merendahkan kemanusiaan, termasuk dalam hal ini merampas dan mencuri harta orang lain.

Ali berkata; “Seburuk-buruk makanan, adalah yang haram. Seburuk-buruk penganiayaan adalah menganiaya yang lemah, penggunaan kelemahlembutan, jika bukan pada tempatnya, menambah kekerasan, sedang bersikap tegas pada tempatnya melahirkan kelemahlembutan,”.

Itulah nasihat bijak Ali bin Abi Thalib pada dua orang putranya, Hasan dan Husein bin Ali. Semoga bermanfaat. Dan kita semua bisa mengambil pelajaran hikmah ini… AAMIIN

Address

Banjarmasin

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nasehat Ulama posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share