08/02/2023
Di NU itu banyak ulama yang khumul yang berperan di balik layar. Tidak banyak dikenal orang dan juga tidak kenal banyak orang. Tapi beliau-beliau itu menjadi jimatnya NU.
Seperti video ini, sosok kyai sepuh yg sudah sejak sebelum subuh bisa melewati screening paspamres di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, lokasi perhelatan seremoni puncak peringatan Satu Abad NU. Beliau adalah KH. Masduqi Abdurrahman Al-Hafidz, kyai sepuh yang dalam kesehariannya waktunya habis untuk mendaras dan menjaga Al-Qur'an.
Melihat sosok sepuh menggelar sorban dan berdzikir di lorong GOR, tiba2 Gus Yahya tuan rumah perhelatan akbar itu datang untuk sungkem ke beliau. Tapi apa reaksi Kyai Masduqi? Beliau malah bertanya : Sampeyan sinten? (Anda siapa?) Dalem e pundi? (Rumahnya mana?). Dengan ta'dzimnya Sang Ketum PBNU itu menjawab : Kulo Yahya, Kyai. Saking Rembang. (Saya Yahya, Kyai. Dari Rembang.)
Setelah jawaban itu mungkin Kyai Masduqi baru sadar bahwa yg sungkem di depan beliau adalah tuan rumah acara akbar yg beliau datangi itu. Maka beliau tersenyum dan memeluk gus yahya..
Ah, saya kok jadi terharu. Keikhlasan Kyai Masduqi untuk ikut ngalab berkah muassis NU sampai-sampai beliau tidak kenal dengan sosok Ketua Umum PBNU yang ada di depannya. Ternyata ketenaran sosok Ketum PBNU belum bisa menembus ruang sunyi yg menjadi laku para kyai-kyai sepuh.
Saya tidak tahu bagaimana perasaan Gus Yahya yang tidak dikenal oleh jama'ahnnya sendiri. Tapi gestur beliau sangat menyiratkan ta'dzimnya seorang santri pada kyai sepuh.
Saya yakin sosok seperti Kyai Masduqi ini, kyai-kyai sepuh yg khumul juga sangat diperlukan NU untuk menjadi jimat menuju kedigdayaannya di abad ke 2 pengabdiannya.
Allohu yahfadzhum. Sehat2 selalu poro kyai... 🤲
(Tulisan Gus Wafiyul 'Ahdi Tambakberas, Jombang)