06/06/2025
Kisah Apasmāra: Asura yang Dilupakan Cahaya
Pada suatu ketika, di alam semesta yang penuh cahaya dan kesadaran, terdapat asura kecil bernama Apasmāra. Ia juga dikenal dengan nama Muyalaka atau Muyalakan. Menurut legenda, Apasmara adalah asura yang muncul dan mendapatkan kekuatannya dari ketidakharmonisan semesta. Ia menjadi makhluk asura kecil yang sangat perkasa — bukan karena tubuhnya yang besar, tetapi karena ia bisa membuat makhluk lain lupa siapa diri mereka sebenarnya.
Akhiran smāra berasal dari kata smaraṇam, yang berarti “ingatan.” Gabungan apasmāra berarti kehilangan ingatan. Dalam konteks medis (ayurveda), kata ini juga merujuk kondisi seperti sakit hilang ingatan, demensia, amnesia, atau omongan yang kacau (tidak dapat dimengerti).
Apasmāra bukan asura biasa seperti asura lain yang diceritakan dalam d**geng. Ia kecil, dan licik. Tempat persembunyiannya adalah di dalam hati dan pikiran makhluk hidup. Ia membisikkan hal-hal seperti, “Aku lebih hebat,” “Aku harus menang,” “Yang lain tidak penting,” hingga perlahan-lahan, manusia lupa akan kebaikan, kasih, dan cahaya di dalam dirinya. Apasmāra menyebarkan lupa — lupa pada Tuhan, lupa pada kedamaian, dan lupa pada siapa kita sebenarnya.
Lama-kelamaan, dunia menjadi kacau. Orang-orang menjadi penuh kesombongan, marah karena perbedaan, saling menyakiti demi ego. Para dewa pun cemas, karena Apasmāra tidak bisa dibunuh. Maka, mereka memanggil satu-satunya yang mampu mengatasi ini dengan keanggunan dan kesadaran — Dewa Śiva.
Untuk menyelamatkan manusia dan para deva, Śiva datang, bukan sebagai pejuang, tapi sebagai penari. Ia menari di langit dalam wujud Naṭarāja, Sang Raja Penari Semesta, menarikan tandava, tarian kosmik penciptaan, kehancuran, dan pembebasan akhir. Musik dari semesta — ritme bintang, detak hati, dan bisikan angin, mengiringinya hentakan geraknya. Setiap gerakan tarian menciptakan kehidupan, menghancurkan ilusi, dan menyalakan kembali kesadaran semesta.
Dan dengan kaki kanannya, Naṭarāja menekan Apasmāra, bukan dengan marah, tetapi dengan keheningan dan cahaya. Apasmāra tidak di bunuh, ia tidak boleh mati — ia tetap ada, demi kesimbangan semesta, karena manusia perlu tantangan untuk tumbuh. Tapi kini, ia tidak lagi liar. Ia ditaklukkan, dikendalikan oleh tarian kesadaran dan kasih.
Sejak hari itu, kisah Natarāja menjadi simbol bahwa ego, kebodohan, dan lupa tidak bisa dikalahkan dengan kemarahan atau kekerasan, tapi dengan tarian hati yang sadar, tarian jiwa yang lembut, dan penuh cahaya. Dan setiap kali kita menari dalam kejujuran, merenung dalam diam, atau mencintai tanpa syarat, kita memohon —kaki Śiva Naṭarāja menari di hati kita, menjaga agar Apasmāra tak lagi berkuasa.
***
Apasmāra adalah simbol yang mewakili avidyā (ketidaktahuan spiritual) dan ahamkāra (ego), karena itu ia digambarkan sebagai pria kerdil yang terkadang memegang ular kobra, simbol ahamkāra (ego) dalam tradisi Shiva. Ahamkāra secara harfiah berarti “pembentuk aku”, yaitu ketika jīva mengidentifikasi dirinya dengan tubuh fisik, dan bukannya dengan diri yang sejati. Dalam Śiva Purāṇa, ahamkāra dijelaskan berasal dari Prakṛti (alam materi).
Apasmara melambangkan ketidaktahuan akan jati diri sejati, bentuk kebodohan kosmis yang bersifat universal dan diperlukan agar jiwa bisa menjalani kehidupan duniawi (saṃsāra) — dengan melupakan kehidupan masa lalu dan mengidentifikasi dirinya dengan tubuh baru setiap mengalami kelahiran kembali. Kebodohan ini dianggap sebagai "kejahatan yang diperlukan" (necessary evil) dalam keseimbangan kosmis antara pengetahuan spiritual dan ketidaktahuan. Membunuh Apasmara akan menyiratkan mendapatkan pengetahuan spiritual tanpa usaha, kemauan, dan pengabdian, sehingga merendahkan nilai dari pengetahuan itu sendiri.
Untuk memungkinkan moksha (pembebasan spiritual) sambil tetap menjaga keseimbangan kosmik antara pengetahuan dan kebodohan dalam siklus saṃsāra, Apasmara harus ditaklukkan, bukan dimusnahkan. Sebagai Naṭarāja — Śiva melakukan tarian kosmik tāṇḍava, menekan Apasmara dengan kaki kanannya, yang melambangkan penaklukan atas kebodohan dan ego.
Apasmara diyakini tetap tertunduk selamanya di bawah kaki Naṭarāja , dengan Śiva terus menari, menjaga keseimbangan antara kesadaran dan ketidaksadaran dalam semesta. Simbolisme serupa juga muncul dalam ikonografi Dakṣiṇāmūrti, wujud Śiva sebagai guru agung, di mana Apasmara juga ditaklukkan di bawah kaki kanan beliau.
***
🔥 Siapa Apasmāra dalam Diri Kita?
Dalam pendekatan tantrik, Apasmāra bukan makhluk luar, melainkan bagian dari struktur batin manusia: Ia adalah ketidaktahuan akan hakikat sejati (avidyā), Ahamkāra (ego-pemilik yang memisahkan), dan energi tamasik (kegelapan, keengganan untuk berubah).
Apasmāra muncul saat: Kesadaran tercerabut dari sumber ilahinya, dan manusia mengidentitaskan dirinya dengan badan, emosi, status, atau keakuan.
***
Magic Mantra:
Ek Ong Kaar Sat Gur Prasaad,
Sat Gur Prasaad Ek Ong Kaar.
Hanya Ada Satu Tuhan - Kesadaran Ilahi (Ek) yang kreatif dan meresapi segalanya (Ongkar). Kebenaran dan kesadaran akan Tuhan itu, hanya bisa diperoleh melalui anugerah Guru Sejati."
Mantra ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan spiritual sejati BUKAN hasil logika atau ritual semata, melainkan berkah dari Tuhan yang turun melalui bimbingan Guru.
***
Dalam dirimu ada Apasmāra yang membuatmu lupa bahwa engkau adalah cahaya. Tapi saat kau menyatu dengan Ek Ongkar, dan berserah diri kepada Sat Gur Prasad, maka ego itu tidak perlu dilawan—cukup dimenangkan dengan kasih. Itulah tarian pembebasan: ketika Naṭarāja di dalam diri, menari di atas ilusi dunia.
om tat sat śrī śivārpaṇam astu.
🕉️❤️🙏
©Bhakta Shiva Indonesia.