Masjid Al-Abror

Masjid Al-Abror Masjid Al-Abror terletak di Jl. Jamrud No.9 Cisaranten Kulon Arcamanik Bandung. Masjid Al-Abror: Menjalin Ukhuwah, Menebar Manfaat.

Tulisan ini mengajak kita menelusuri perjalanan paling perih dalam hidup Rasulullah SAW di Thaif—saat luka, penolakan, d...
18/01/2026

Tulisan ini mengajak kita menelusuri perjalanan paling perih dalam hidup Rasulullah SAW di Thaif—saat luka, penolakan, dan kesendirian dijawab dengan kesabaran dan tawakkal total kepada Allah—hingga Allah membalas kepasrahan itu dengan hadiah agung Isra dan Mi‘raj, mengingatkan kita bahwa di balik setiap luka yang dijalani dengan iman, selalu ada pelukan langit yang menanti.

https://wakool.id/blog/2116-ketika-jalan-ke-thaif-berujung-ke-langit

Tulisan ini mengajak kita menelusuri perjalanan paling perih dalam hidup Rasulullah SAW di Thaif—saat luka, penolakan, dan kesendirian dijawab dengan kesabaran dan tawakkal total kepada Allah—hingga Allah membalas kepasrahan itu dengan hadiah agung Isra dan Mi‘raj, mengingatkan kita bahwa di b...

01/11/2024
Al-Qur'an menjelaskan bagaimana agar dalam sebuah masyarakat itu bisa sukses mencapai cita-cita yang diinginkannya. Seka...
22/09/2024

Al-Qur'an menjelaskan bagaimana agar dalam sebuah masyarakat itu bisa sukses mencapai cita-cita yang diinginkannya. Sekaligus menjelaskan hal yang dapat menyebabkan kehancuran dan kecelakaan pada masyarakat dan para anggotanya.
Berikut penjelasan dan diskusi Tadabbur Surah Ali Imran ayat 105 dan 106.

https://youtu.be/XOVdlw230Ac?si=6_mlw8GD8U42QYJq

Al-Qur'an memberikan penjelasan apa yang perlu disiapkan dalam setiap masyarakat agar sukses mencapai cita-citanya serta terhindar dari kehancuran dan kecela...

BANGKRUT KUADRATDalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Siapakah oramg yang bangkrut i...
28/08/2024

BANGKRUT KUADRAT

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Siapakah oramg yang bangkrut itu? ”Para sahabat umumnya menjawab bahwa orang yang bangkrut itu adalah orang yang tidak lagi memiliki uang dan harta kekayaan lagi. Rasulullah kemudian mengkoreksi jawaban para sahabatnya tersebut. Bahwa orang benar-benar bangkrut itu adalah orang yang datang ke mahkamah akhirat dengan berbagai amalan baiknya di dunia. Tapi disamping itu dia juga s**a mencaci, menuduh dan merugikan orang lain. Sehingga kemudian pahala kebaikan-kebaikan yang dia lakukan itupun ditransfer ke orang-orang yang dia caci, tuduh, dan rugikan tersebut. Apabila sudah habis, maka dosa-dosa orang yang dia caci dan tuduh itu yang akan ditransfer balik ke orang yang awalnya membawa banyak amal kebaikan tersebut, lalu dia akan dilemparkan ke neraka. Orang seperti itulah orang bangkrut yang sebenarnya, kata Rasulullah SAW.


Kalau seseorang bangkrut di dunia, dia mungkin masih ada kesempatan untuk bangkit dan melakukan perbaikan-perbaikan. Tapi kalau bangkrutnya di hari akhir nanti? Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali penyesalan tanpa guna. Dia mengira ketika datang ke hari akhir bahwa ia sungguh akan sukses karena kebaikan-kebaikannya, tapi sebagian perbuatannya telah menjerumuskan dia kekebangkrutan yang sebenar-benarnya.

"(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahf: 108).


Kalau kita lihat kondisi kita sekarang, cacian dan tuduhan begitu banyak berseliweran di sekeliling kita. Bahkan mungkin seringkali kita ikut-ikutan menelurkan cacian dan tuduhan tersebut, atau setidaknya ikut menyebarkannya. Padahal kita tidak punya informasi yang cukup lengkap tentang hal-hal tersebut. Tapi kita sering terburu nafsu untuk melakukannya.


Kita perlu menyadari betul bahwa sebenarnya pada zaman medsos ini pemikiran dan pemahaman kita sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai bias kognitif. Bias kognitif ini ada banyak jenisnya, tapi diantara bias kognitif yang paling dominan adalah bias konfirmasi dan cara pikir hitam putih. Keduanya membentuk banyak dari pemahaman kita tentang berbagai hal, namun sayangnya seringkali tanpa kita sadari.


Bias konfirmasi menyebabkan seseorang melakukan penerimaan yang naif atau sebaliknya skeptisisme yang membabi-buta. Penerimaan yang naif terjadi ketika seseorang tidak lagi merasa perlu mempertanyakan kebenaran informasi yang dia terima selama informasi tersebut sesuai dengan kecenderungan atau kepercayaan yang dia pegang. Sementara skeptisisme buta mendorong seseorang untuk menolak dan menentang dengan sekuat kemampuan atas informasi yang bertentangan dengan pandangan-pandangan yang dipegangnya saat itu.


Bias ini tertanam dalam jiwa kita didorong oleh amygdala yang mengatur emosi dan ingatan otak kita yang berhubungan dengan rasa takut dan bahagia. Sehingga seseorang akan menikmati kucuran dopamine ketika ia sukses mengabaikan informasi yang tidak dia setujui. Implikasi dari bias konfirmasi ini juga akan berlanjut pada bagaimana seseorang akan melakukan pencarian informasi. Ia akan cenderung untuk mengabaikan sumber-sumber yang mungkin membuka cakrawala pendapatnya. Sehingga hal ini akan terjadi pengerasan pendapat yang ia anut saat itu, alih-alih mendapatkan kebenaran yang lebih baik dan pemahaman yang lebih luas.


Demikian juga dengan bias kognitif yang kedua, yaitu pola pikir hitam putih. Seorang yang mengidap bias jenis ini akan selalu menyederhanakan permasalahan yang kompleks menjadi 2 ekstrim: hitam atau putih. Cara pikir dikotomis ekstrim seperti ini akan melakukan generalisasi segala sesuatu sebagai hitam atau putih. Tidak ada abu-abu tua dan muda. Jika dia tidak s**a dengan seseorang, maka orang itu akan dia warnai hitam mutlak. Tidak ada baiknya sama sekali.


Tentu bias-bias semacam ini harus kita lawan. Penting bagi kita untuk secara sadar mempertanyakan reaksi awal kita pada setiap informasi. Kita perlu pertanyakan ketika kita ingin bahwa sebuah informasi tersebut benar itu adalah sebuah penerimaan naif atau bukan. Sambil mempertimbangkan validitas dari informasi tentang hal yang kita benci sebagai langkah mitigasi atas kemungkinan skeptisisme yang membabi buta. Demikian p**a halnya ketika mendapatkan pernyataan-pernyataan dengan bahasa absolut, perlu kita sadar betul agar kita terhindar dari cara berpikir hitam putih yang membuat misleading.


Mengenali bias-bias ini membuat kita lebih berhati-hati. Membimbing kita pada pendekatan yang lebih baik untuk menghadapi kompleksitas dunia yang sudah semakin mendekati akhir ini. Sehingga kita dapat memiliki pemikiran yang lebih jernih dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.


Dalam perpolitikan, kita seringkali disuguhi pertentangan sengit antar pendukung di akar rumput. Saling tuduh dan caci antar pendukung begitu masif kita saksikan demi mendukung tokoh dan/atau kelompok pilihannya. Padahal masing-masing kelompok tidak tahu informasi yang lengkap tentang kondisi sebenarnya. Tidak tahu sepenuhnya kompleksitas kondisi yang sesungguhnya dibalik sebuah keputusan. Tanpa informasi yang lengkap, kita menuduh orang ini dan orang itu dengan tuduhan yang sangat sadis. Ia juga menolak apresiasi walau sedikit. Bias konfirmasi dan cara pikir hitam putih yang banyak menguasainya. Padahal seringkali dalam sejarah kita menemukan kenyataan betapa cairnya orang-orang di atas sana. Mereka bisa berubah-ubah sekehendaknya demi kepentingan mereka dan kelompoknya. Anehnya, banyak orang di akar rumput yang kemudian dengan cepat menyesuaikan bias kognitifnya untuk kembali semangat membela mati-matian lagi.


Sebagai orang yang beragama, kita tentu yakin bahwa dunia ini ibarat ladang untuk akhirat. Bahwa akhirat itu jauh lebih baik dan layak diperjuangkan dibanding dunia. Sehingga sungguh sangat merugi orang yang menjual akhiratnya demi dunianya. Ia mau melakukan segala hal demi terhindar dari kebangkrutan di dunia, sekalipun itu menerjang larangan-larangan agama.


Tapi sungguh ada yang lebih rugi lagi dari orang yang menjual akhiratnya demi dunianya itu. Yaitu orang-orang kebanyakan yang dengan semangat berjuang atas dasar bias-bias kognitifnya. Sehingga ia terus semangat mencaci maki orang, menuduh orang dan sebagainya yang berisiko sangat besar ancaman akhiratnya. Sementara ia juga tidak dapat apa-apa di dunia dengan perbuatannya itu. Ia menjual akhiratnya, bukan untuk dunianya. Melainkan untuk dunianya orang lain. Ini namanya BANGKRUT KUADRAT. Na'udzubillah!

Artikel ini telah tayang di Wakool dengan judul "BANGKRUT KUADRAT"
Penulis : Umar Alhabsyi
Klik untuk baca https://wakool.id/blog/2070-bangkrut-kuadrat
Download Aplikasi Wakool untuk akses lebih mudah dan cepat
Android :https://play.google.com/store/apps/details?id=com.milenial&hl=en_US&gl=US
IOS : https://apps.apple.com/us/app/wakool-id/id1576165842

Mendefinisikan bangkrut yang sesungguhnya. Semoga kita dapat terhindar dari segala jenis kebangkrutan. Apalagi kebangkrutan kuadrat.

Sebuah keterangan bagi yg berdosa, yg bersih dari dosa boleh skip keterangan ini. "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang tel...
03/07/2024

Sebuah keterangan bagi yg berdosa, yg bersih dari dosa boleh skip keterangan ini.

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." QS. Az Zumar [39] : 55

Apa yg harus diikuti ? Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, Yaitu Al-Qur'an, yang merupakan Kitabullah yang terbaik dari kitab-kitab Allah lainnya yang pernah Dia turunkan kepada manusia.

Untuk lebih jelasnya mari kita baca dari 2 ayat sebelumnya :
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.
QS. Az Zumar [39] : 53-55

Saat ini boleh jadi akhirat hanya menjadi sebuah cerita dan dongeng semata, tp kelak akan tiba saatnya akhirat itu nyata dan dunia akan menjadi cerita.

13/06/2024

Tadabbur hari ini,

Mari kita baca QS. Al Israa (17) ayat 9 sampai 15. Ayat2-Nya sangat jelas lagi menjelaskan…

Alhamdulillaah...

23/05/2024

QS. TAHA (20) Ayat 132
dan
QS. AT TAHRIM (66) Ayat 6

Assalamu alaykum wr.wb.Mengundang kaum muslimin dan muslimat untuk menghadiri acara spesial Ramadhan Al-Abror berupa Cer...
19/03/2024

Assalamu alaykum wr.wb.
Mengundang kaum muslimin dan muslimat untuk menghadiri acara spesial Ramadhan Al-Abror berupa Ceramah Kesehatan bertema "Puasa, Kesehatan Syaraf, dan Ancaman Stroke" yang akan disampaikan oleh dr. Hasan Baraqbah, Sp.Bs.

Acara akan dilaksanakan pada hari Ahad 24 Maret 2024, jam 10:00 s/d selesai di Masjid Al-Abror, Jl. Jamrud No. 7 Cisaranten Kulon Arcamanik Bandung.

Mari hadiri dan makmurkan. Ramadhan Karim.

17/03/2024

Hikmah Ke-139 dari Kitab al-Hikam karya Syaikh Ahmad Ibn Atha'illah As-Sakandary rhm.

النَّاسُ يَمْدَحُوْنَكَ لِمَا يَظُنُّوْنَهُ فِيْكَ، فَكُنْ أَنْتَ ذَامًّا لِنَفْسِكَ لِمَا تَعْلَمُهُ مِنْهَا .

“Orang-orang memujimu karena apa yang mereka sangka ada pada dirimu, maka celalah dirimu karena apa yang kau ketahui tentangnya.”

Pointers Pesan Penting:
1. Setiap manusia tempatnya aib dan keburukan. Kecuali hamba-hamba tertentu dilindungi dari hal-hal yang tercela karena Allah akan menjadikannya sebagai panutan teladan, yaitu para Nabi dan Rasul.

2. Allah menyembunyikan aib-aib setiap manusia (sattar al-'uyuub). Karena itu orang lain hanya mengetahui apa yang tampak zahir di mata.

3. Hikmah Allah menutup aib-aib manusia itu antara lain adalah agar manusia dapat mudah saling berteman, saling mengasihi, dll. Apabila manusia saling mengetahui keseluruhan aib dari manusia lainnya, maka manusia akan sulit untuk dapat saling berinteraksi, saling mengasihi, berteman, dsb.
Selain itu dengan ditutupi aib-aibnya tersebut, maka manusia bisa punya percaya diri berjalan di tengah manusia karena sebagian besar celanya ditutup oleh Allah.

4. Allah menyukai rasa malu dan penutup aib. Allah tidak s**a kepada orang yang membuka aibnya sendiri dan orang lain, padahal Dia Allah telah menutupinya.

5. Semakin banyak orang yang mengungkapkan keburukan maka akan membuat inflasi nilai dari keburukan tersebut di mata masyarakat. Sehingga keburukan tersebut akan menjadi seolah hal biasa di tengah-tengah masyarakat.

6. Oleh karena kita yang paling tahu tentang keburukan diri kita, maka ketika orang memuji diri kita maka celalah dirimu sendiri dalam hati. Karena pada hakikatnya orang memuji kita itu karena ketidaktahuan mereka akan keburukan dan kekurangan kita.

7. Pujian manusia kepada manusia yg lain adalah sebuah sunnatullah agar manusia dapat saling berinteraksi dengan harmonis. Tapi Semua pujian hakikatnya hanya bagi Allah swt.

8. Sesungguhnya manusia itu paling tahu tentang dirinya sendiri, walaupun seringkali ia berdalih dengan berbagai hal untuk menjustifikasinya.

9. Celaan kepada diri sendiri itu (di dalam hati) agar pujian orang itu tidak jadi melekat pada diri kita. Hal ini berbahaya karena lama-kelamaan dia akan semakin yakin terhadap prasangka orang pada kita tersebut, dan meninggalkan keyakinan hakiki yang sebelumnya kita yakini (tentang cela yg ada pada diri kita).

10. Apabila ada orang yang menyampaikan keburukannya kepada kita, sebaiknya kita berusaha batasi agar penyampaian keburukan itu bisa minimal, lalu kita berikan nasehat semampu kita. Kecuali pada kasus-kasus tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu seperti pengobatan, dan sejenisnya. Itupun pihak yang dikonsultasikan tersebut wajib menjaga rahasia aib orang tersebut.

(disarikan dari kajian rutin Al-Hikam di Masjid Al-Abror, 17 Maret 2024).

Address

Jalan Jamrud No. 9 Cisaranten Kulon Arcamanik
Bandung
40293

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid Al-Abror posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Masjid Al-Abror:

Share