Berbagai Firman Tuhan,Doa,Renungan dan Inspirasi Kristen

Berbagai Firman Tuhan,Doa,Renungan dan Inspirasi Kristen Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Berbagai Firman Tuhan,Doa,Renungan dan Inspirasi Kristen, Church of God, GBR 3, BLOK F, Bandung.

11/09/2021

Alfra Gea
Bacaan: YOSUA 5
Setahun: Yeremia 4-6

Tunduk pada Otoritas
Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" (Yosua 5:14)

Tidak sedikit orang kristiani dikaruniai Tuhan menjadi pemimpin. Melalui kepemimpinan mereka, banyak orang terinspirasi. Keteladanan hidup mereka pun mampu mengangkat kehidupan orang-orang yang terpuruk. Mengagumkan! Tetapi di titik inilah hati seorang pemimpin diuji. Masihkah ia sadar diri dan tetap menjaga hatinya murni di hadapan Sang Pemimpin Sejati? Tidak jarang pemimpin kristiani berubah tinggi hati dan jatuh dalam keangkuhannya.

Yosua dipilih Tuhan menggantikan Musa. Sejak semula Tuhan mengingatkan bahwa pemimpin utama umat Israel adalah Tuhan sendiri. Yosua hanyalah alat yang dipercaya untuk memimpin umat-Nya dengan membawa otoritas Tuhan. Peringatan ini menyadarkan Yosua tentang posisinya sebagai pemimpin kecil di bawah Pemimpin Sejati. Pengakuannya ini juga diwujudkan dengan sikap tunduknya untuk selalu mengikuti perintah Sang Pemimpin Sejati. Sikap tunduknya pada otoritas Tuhan memampukannya untuk menjaga diri tetap rendah hati dan murni di hadapan Tuhan sampai akhir hidupnya.

Untuk melaksanakan rencana-Nya yang besar di bumi ini, Tuhan memakai dan memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya. Kita dipilih-Nya untuk menjadi pemimpin dalam berbagai tugas pelayanan. Belajar dari Yosua kita diingatkan untuk selalu sadar diri agar tetap rendah hati. Terjaganya hati terjadi ketika kita menyadari bahwa hanya Tuhan saja pemimpin umat yang sejati. Tetap tunduk pada otoritas-Nya melalui ketaatan, dan menjaga hidup tetap berkenan kepada-Nya. Dengan demikian, godaan keangkuhan tidak mendapat tempat dalam hati kita.

KESADARAN DIRI UNTUK MENGAKUI DAN TUNDUK PADA OTORITAS TUHAN,
SANG PEMIMPIN SEJATI, MENOLONG AGAR TETAP RENDAH HATI.

09/09/2021

Renungan Malam
(Lebih Indah Dari Pelangit)

Pelangit itu indah,karna banyak warnanya,dan an karena beberapa warna itu disatukan,maka ia kelihatan indah dan cantik,lalu disebut Pelangit.Begitupun dengan kita di mata Tuhan,kita sangat indah dimatanya.Setiap kita memiliki warna tersendiri,mempunyai keunikan tersendiri,cuman kita sendiri tidak menyadari dan tidak melihatnya.Kalau kita menjaga warna2 di diri kita,maka dimata Tuhan kita lebih indah dari pada Pelangit.Apakah yang membuat kita indah dimata Tuhan?Tuhan tidak melihat anting2 ditelinga,Tuhan juga tidak melihat rambut yang terjaga rapi,tidak juga dengan pakaian mahal kita,tidak juga dengan emas yang terselipi dijari dan terkalung dileher.Tuhan tidak memandang Cantik tampan peras rupa kita.Bukan itu yang Tuhan inginkan,tetapi hati kita;"jangan perhatikan tinggi badannya atau wajah rupanya;bukan dia yang aku kehendaki,aku tidak menilai orang seperti cara manusia menilai orang.Manusia melihat rupa tetapi aku melihat hati."(Samuel 16:7)Kebaikan hati itu yang Tuhan inginkan dari kita."Oleh karena itu,matikanlah keinginan duniawi yang menguasai diri kamu,seperti perkara yang tidak benar,hawa nafsu,keinginan jahat dan ketamakan.Perkara2 semacam itu membangkitkan kemurkaan Allah kepada orang yang tidak menurut perintahnya."(Kolose 3:5-6)Jika kita dapat menyingkirkan semua keinginan duniawi itu,dan tidak ada menyimpan dendam,tidak s**a memfitnah orang,dan s**a menolong orang yang memerlukan pertolongan,memaafkan kesalahan orang lain,mengampuni orang yang bersalah,maka jika semua kebaikan ada dalam diri kita,maka dimata Tuhan kita lebih indah dari pelangit. AMINNN 😇🙏
TUHAN YESUS MEMBERKATI♥️

06/09/2021

Bacaan: KEJADIAN 3
Setahun: Yeremia 1-3

Dua Suara
Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kejadian 3:1)

Dalam dua pasal pertama Alkitab, Tuhan adalah satu-satunya Pribadi yang berfirman. Dia bekerja, menciptakan segala sesuatu, dan memerintah atas seluruh ciptaan. Semuanya baik dan sempurna. Manusia merespons dengan ketaatan yang intim. Lalu tiba-tiba, muncul "suara" lain, yakni dari Iblis, sang Ular (bdk. Why 12:9). Ialah si penipu, pendusta dan pembunuh (Yoh 8:44). Ia menanamkan keraguan dalam hati manusia dengan memutarbalikkan kebenaran dan mempertanyakan kebaikan Tuhan (ay. 1, 5).

Kita sudah tahu kisahnya. Setelah sekian lama menaati Pencipta mereka, Adam dan Hawa akhirnya memilih untuk mendengarkan dan menaati suara si Iblis. Mereka pun tertipu. Sejak saat itu, dosa menguasai kehidupan mereka beserta keturunannya. Mereka tidak lagi menginginkan Allah, melainkan berusaha menjauhi-Nya (ay. 8).

Terpujilah Tuhan, Dia tidak menyerah dalam mengasihi manusia. Dia segera mendeklarasikan rencana penyelamatan-Nya (ay. 15). Inilah yang berulang kali disampaikan nabi-nabi. Lalu digenapi dalam Kristus Yesus dengan karya penyelamatan-Nya. Melalui iman kepada Kristus, Allah mengutus Roh-Nya berdiam di dalam setiap hati orang yang percaya kepada-Nya. Dialah yang terus bersuara di dalam hati kita, untuk menuntun kita menaati Allah.

Namun si Iblis juga belum menyerah. Ia selalu berusaha menguasai kita, seperti singa yang mengaum. Jurusnya tetap sama: menipu, menggoda, merayu, memutarbalikkan kebenaran, serta membuat kita meragukan kebaikan Allah. Suara siapakah yang akan kita dengarkan dan taati?

ALLAH MENJADI MANUSIA AGAR KITA DAPAT MENJADI ANAK-ANAK ALLAH,
YANG MENDENGARKAN SUARA-NYA DAN MENAATI-NYA DENGAN SETIA.

03/09/2021

Bacaan: MAZMUR 22
Setahun: Yesaya 64-66

Pujian si Tertindas
Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya. (Mazmur 22:25)

Ada banyak kisah tentang penindasan. Penindasan bisa dialami siapa saja dan kapan saja. Bentuk penindasan pun bermacam-macam. Ada sekelompok orang yang diperlakukan begitu kejam bak sapi perah. Ada orang yang mengalami tindak kekerasan oleh orang terdekat. Hingga maraknya bentuk-bentuk penindasan verbal yang dialami oleh anak-anak. Apa pun bentuknya, penindasan selalu menimbulkan rasa sakit yang begitu hebat. Orang yang tertindas kerap digambarkan sebagai sebuah ketidakberdayaan. Hanya ada amarah di hati dan jeritan pilu yang kadang tak terucap.

Tertindas dan tak berdaya, kisah pilu inilah yang kita baca tentang pemazmur hari ini. Ia menjerit karena merasa diri ditinggalkan Allah. Ada amarah yang diluapkan karena ia merasa seruannya tidak dihiraukan Allah. Ia mencoba bertahan terhadap orang-orang yang terus-menerus mengolok-olok dan menghinanya. Ya, untuk sesaat pemazmur menjerit dalam ketidakberdayaannya, namun ia tidaklah meninggalkan Allah. Ia tetap percaya bahwa Allah akan memberinya kekuatan dan pengharapan. Itu sebabnya pemazmur berkata: "Aku akan memasyhurkan nama-Mu" (ay. 23).

Seperti pemazmur, penderitaan yang tak kunjung berhenti membuat kita merasa ditinggalkan Allah. Kita pun menjerit. Yesus pun menjerit hal yang sama saat tubuh-Nya terpaku di kayu salib. Tetapi kita belajar bahwa baik pemazmur maupun Yesus tidak meninggalkan Allah. Mampu tetap memuji Tuhan di tengah penindasan adalah perjuangan iman. Dalam pujian kepada Allah ada keyakinan bahwa Allah akan membebaskan kita dari derita.

KETIKA KITA TETAP MEMILIH "JALAN IMAN" DI TENGAH PENINDASAN, KITA SEDANG
MEYAKINI BAHWA ALLAH TIDAK PERNAH TINGGAL DIAM MELIHAT PENDERITAAN KITA.

31/08/2021

Disiplin Rohani dan Hikmat Kehidupan
Yakobus 1:1-8

Surat Yakobus memang menerima reputasi yang buruk dari Martin Luther, yang menyebutnya surat jerami karena dianggap lebih menekankan perbuatan baik ketimbang lebih berfokus pada iman. Namun, surat Yakobus sebenarnya sangat penting karena menyajikan suatu disiplin rohani yang konkret dan menolak keras iman yang mati.

Penulis surat ini secara tradisi dipercaya sebagai Yakobus saudara Yesus. Ia menulis suratnya kepada dua belas suku Israel di diaspora (1). Menurut Yakobus, iman selalu menemukan ekspresi dalam disiplin rohani yang nyata, misalnya sikap dalam menghadapi pencobaan (2-4) dan postur hati tidak mendua dalam doa permohonan (5-8).

Iman yang sejati selalu hidup dan menghidupkan. Ujian dan pencobaan hidup adalah kesempatan merasakan kebahagiaan sejati dan sebagai latihan ketekunan. Yakobus tahu bahwa iman semacam itu membutuhkan hikmat dari Allah sendiri. Memohonkan hikmat yang demikian butuh fokus hati kepada Allah, bukan mendua hati karena godaan dunia.

Sebenarnya, Yakobus menggemakan sastra hikmat yang sudah akrab dalam tradisi Yahudi. Menghidupi iman dalam tradisi hikmat bukanlah sesuatu yang statis dan rapi terprediksi. Iman adalah memilih respons dan setia kepada Allah dalam segala kenyataan hidup yang penuh kejutan, baik pahit getir maupun berkat bahagia.

Pergumulan iman bisa penuh perdebatan seperti dalam kisah Ayub dan teman-temannya ketika menghadapi kesengsaraan. Namun, bagi Ayub, pergumulan iman adalah soal mengarahkan postur hati. Hati yang setia kepada Allah di tengah pencobaan dan ujian, bahkan ketika tak cukup berhikmat untuk setia!

Krisis adalah waktu yang menentukan untuk memilih respons kita. Di tengah krisis, sering muncul kejelasan atas berbagai prioritas dan kesetiaan dalam hati kita. Krisis menjadi momen krusial untuk kita mendekat kepada Allah. Memang banyak hal ada di luar kendali kita. Namun, iman tidak akan patah dihajar ujian dan pencobaan, melainkan semakin matang di tengah.

29/08/2021

Bacaan: 2 SAMUEL 12:1-25
Setahun: Yesaya 52-57

Refleksi Diri
Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul." (2 Samuel 12:7)

Apakah reaksi spontan Anda jika ada pemimpin kristiani yang Anda kagumi tepergok jatuh dalam dosa? Biasa-biasa saja karena itu urusan pribadi yang tidak perlu terlalu dipersoalkan dan biasa untuk era sekarang? Atau marah sekali karena dia bersikap munafik? Mungkin Anda berpendapat bahwa dia sangat tidak pantas berperilaku seperti itu? Sedih karena Anda kehilangan figur panutan yang dapat Anda banggakan? Anda turut menanggung malu?

Mendengar kisah yang diceritakan Nabi Natan, Raja Daud marah besar kepada sang tokoh cerita. Orang kaya yang memiliki sangat banyak kambing domba dan lembu sapi dalam kisah itu tega menyuguhkan tamunya domba semata wayang milik si miskin. Sikap tamak dan penindasan sangatlah dibenci Daud. Namun reaksi marah berlebihan memperlihatkan bahwa orang seperti Daud pun dapat dibutakan nuraninya oleh dosa. Daud justru marah kepada orang lain dan bukan sedih oleh dosanya sendiri. Betapa tertamparnya Daud ketika Natan menunjuk dirinya sebagai orang kaya tersebut. Daud pun tersadar, mengakui dosanya dan memohon pengampunan (ay. 13).

Ketika menyaksikan orang terjatuh dalam dosa, maka yang kita lakukan harusnya adalah melakukan refleksi diri. Adakah kita juga telah berdosa dan belum menyesali serta bertobat di hadapan Tuhan? Setelah itu barulah kita dapat bereaksi secara tepat sesuai kasih Kristus. Entah kita menegur rekan kita yang berdosa, menunjukkan keprihatinan kita, atau menghibur mereka yang tergoncang dan kecewa. Kita dapat melakukannya dengan lebih tepat.

REFLEKSI DIRI DIPERLUKAN KETIKA MENYAKSIKAN KEJATUHAN ORANG LAIN.
MARI BERESPONS SESUAI DENGAN KASIH KARUNIA KRISTUS YESUS.

Address

GBR 3, BLOK F
Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Berbagai Firman Tuhan,Doa,Renungan dan Inspirasi Kristen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Berbagai Firman Tuhan,Doa,Renungan dan Inspirasi Kristen:

Share

Category