18/09/2026
亮良
*ANTARA MATERIALIS & SPIRITUALIS*
Memuja materi hingga mengukur segala hal dengan tumpukan benda adalah sebuah kesesatan budi. Manusia yang terjebak dalam ekstrim materialis menjadi budak bagi hartanya sendiri, kehilangan kedalaman jiwa, dan lupa bahwa benda mati tidak akan pernah mampu mengisi ruang dahaga batinnya.
Namun, melarikan diri ke ekstrim spiritualis pun bukanlah kebijaksanaan. Mereka yang terbuai oleh pencarian ketenangan jiwa hingga melupakan raga, mengabaikan kewajiban dasar, dan hidup dalam ilusi berhalusinasi sejatinya sedang mengingkari kodratnya sebagai manusia yang berpijak di atas bumi.
Keduanya adalah jalan sesat yang sama-sama merusak.
Seorang pejalan Ru (儒) dengan kesadaran junzi (君子) di bumi Nusantara menolak kedua kutub ekstrim tersebut. Kuncinya ada pada zhong yong (中庸)—jalan tengah yang sejati. Kita tidak boleh menjadi hamba harta, dan kita juga tidak boleh melarikan diri dari realitas duniawi.
Kita bekerja mencari nafkah dan memenuhi raga secukupnya tanpa kesetanan, sekaligus merawat batin agar tetap tenang tanpa kehilangan pijakan pada bumi.
Keseimbangan antara meninggalkan keterasingan spiritual menuju tindakan nyata yang harmonis ini tergambar indah dalam Shijing (詩經), bait puisi Famu (伐木):
伐木丁丁,鳥鳴嚶嚶。
Fá mù dīng dīng, niǎo míng yīng yīng.
Menebang kayu berbunyi nyaring, burung-burung berkicau saling menyahut.
出自幽谷,遷於喬木。
Chū zì yōu gǔ, qiān yú qiáo mù.
Keluarlah dari lembah yang sunyi, berpindah menuju pohon yang tinggi.
嚶其鳴矣,求其友聲。
Yīng qí míng yǐ, qiú qí yǒu shēng.
Kicauan burung itu terdengar, mencari suara dari sahabatnya.
Bait ini mengingatkan agar kita tidak terus mengurung diri dalam lembah sunyi spiritualisme yang semu dan menyendiri, melainkan keluar bertindak nyata di tengah dunia fisik.
Maka, jalan bijak seorang junzi adalah menggabungkan olah rasa dan karya nyata. Jangan biarkan materi menguasai jiwamu, dan jangan biarkan pencarian spiritual membuatmu lupa pada tugas kemanusiaanmu di bumi Nusantara.
Junzi Nusantara