07/05/2016
Dulu, menurut saya perempuan itu terlihat cantik saat memakai rok, rambutnya tergerai rapi, ditambah senyum manis yang menghiasi bibir. Dulu (sampai beberapa waktu lalu), bagi saya jilbab itu sekadar seragam, hanya dipakai saat sekolah atau jalan-jalan. Dulu, saya merasa aneh melihat mbak-mbak muslimah yang jilbabnya dirangkap dua, diulur panjang, apalagi yang sampai bercadar.
Lebih dari 9 tahun jilbab menjadi “asesoris” kepala saya. Orang tua tak pernah mempermasalahkan sistem “buka-tutup” jilbab, karena begitulah yang biasa terjadi di lingkungan kami. Selama itu, bukan berarti saya tak pernah tahu kewajiban menutup aurat dan batasan-batasannya. Tahu kok!
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab:59)
Ayat di atas sudah sering saya baca dan dengarkan sejak SMP. Tetapi, “kedudukannya” ibarat rumus trigonometri. Diketahui, dihafalkan, ditanyakan, dijawab saat ujian, lalu dilupakan! Kalau meminjam istilah pengkaderan, tidak pernah tau apa esensi turunnya ayat itu.
Pada tahun 2013 saya diterima sebagai mahasiswa di jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Jawaban atas doa-doa yang khusyu saya panjatkan selama dua bulan (maklum, sindrom menjelang UN, SNMPTN, sampai SBMPTN). Alhamdulillah, di kampus perjuangan ini Allah mempertemukan saya dengan orang-orang (terutama perempuan) yang sholeh insyaa Allah. Awalnya merasa aneh melihat penampilan mbak-mbak ini. “Mbak ini kenapa jilbabnya panjang banget? Mbak itu kenapa jilbabnya dirangkap dua sampai tiga?” Dan beberapa pertanyaan serupa. Jawaban yang saya dapatkan biasanya teoritis. “Karena itu kewajiban dek. Menurut ayat ini begini. Menurut hadits itu begitu.” Ah, sudah pernah dengar. Namun, dalam hati sebenarnya bertanya-tanya, “Kapan saya bisa seperti (mbak) itu?”
Suatu ketika, ada teman yang nyeletuk, “Kerudung kamu kenapa makin pendek?” Normalnya kerudung yang dulu saya pakai itu sampai sebahu, tetapi saat itu hanya sampai pundak karena lipatannya saya perpendek (yang perempuan pasti ngerti) supaya tidak terlalu terawang (mulai sadar (). Kemudian dia menyarankan untuk merangkapnya daripada diperpendek seperti itu. Lalu, besoknya... tetap tidak dirangkap hehe. Alasannya, ribet!
Seiring berjalannya waktu, saya masih kepikiran apa yang diucapkan teman saya. Kemudian, iseng-iseng saya coba merangkap jilbab. Eh, ternyata nyaman! Perlahan-lahan, tampilan luar saya berubah sedikit demi sedikit. Namun, orang tua mulai berkomentar, “Kenapa celana jeans-nya tidak pernah dipakai lagi? Kenapa kerudungnya harus dirangkap? Tidak usah terlalu fanatis menjalankan agama. Biasa-biasa saja.” Deg. Bingung harus menjawab apa. Secara tampilan mungkin sudah berubah, tetapi dari pengetahuan agama masih cetek, sifat dan perilaku masih begitu-begitu saja. Kalau harus mendebat orang tua dengan dalil-dalil, rasanya tak pantas. Toh, bertahun-tahun saya mengenal dalil-dalil itu belum mampu menggerakkan hati (atau mungkin belum mau) untuk menjalankannya.
Galau. Karena hampir tiap hari disodori pertanyaan yang sama. Lalu, di salah satu kajian, saya curcol masalah itu. Jawabannya sederhana, lanjutkan saja! Buktikan kepada orang tua bahwa perubahan ini bukan hanya secara fisik tapi juga perilaku. Saya coba merubah perilaku saya sedikit demi sedikit juga berdoa semoga Allah memudahkan jalan ini. Alhamdulillah, lambat laun mereka mulai mengerti dan mendukung perubahan saya (.
“Berjilbab mudah saja bagi sebagian muslimah, namun penuh kendala dan tantangan bagi sebagian yang lain. Syukuri kemudahan, doakan yang berjuang!” (Asma Nadia)
Sampai sekarang saya masih terus dan harus berbenah. Masih banyak kekurangan dan khilaf disana sini. “Jilbabku bukan jaminan aku masuk surga, tetapi setidaknya aku ingin menjadi wanita ahli surga. Diri ini bukan orang baik, tetapi ingin terus menjadi baik tanpa merasa lebih baik dari orang lain.” (Anonim)
Ditulis oleh: Silvi Fauziah - 2013