06/07/2024
KETIKA MESJID KAMPUS, SAKSI SEJARAH DAN MENJADI PUSAT PERADABAN BANGSA
oleh Jauhari Zailani
+++
UGM dan ITB, menjadi ikon perubahan Islam di Indonesia. Ketika itu sebelum 1980, jagad politik amat monolitik. Arus informasi searah dari pemerintah saja. Pemerintah menjadi satu-satunya sumber informasi. Pemerintah menjadi satu-satunya sumber dan pemilik kebenaran. Pemerintah menjadi pembuat aturan dan memonopoli tafsirnya. Bukan hanya tentang hukum positif, tetapi juga tentang agama. Itu keadaan politik Indonesia tahun 1970an - 1980an.
Era itu, era ketika politik serba tidak boleh. Tidak boleh diskusi. Tidak boleh demontrasi. Apalagi soal agama. Sebagai gambaran sekilas, betapa terkekangnya orang islam ketika itu: Tidak boleh memakai jilbab. Jilbab dilarang. Perempuan yang mengenakan jilbab di sekolah atau di kampus. Langsung dikeluarkan. Perempuan PNS langsung dipecat.
Alhamdulillah kampus UGM mendobrak kekangan itu. Melalui tema "Dakwah in Campus" mahasiswa mempelopori perubahan, perubahan Islam dan perubahan Indonesia. Di gedung "Gelanggang Mahasiswa" (yang berdampingan dengan gedung "Purna Budaya") mereka mengadakan kegiatan-kegiatan bernapas Islam.
Mengawali kegiatan "Ramadhan ing Kampus", UGM melaksanakan teraweh bersama. Teraweh di laksanakan di "Gelanggang Mahasiswa" yang diikuti oleh ratusan dan ribuan mahasiswa Yogyakarta dan masyarakat. Dengan kreatif, mahasiswa mengemas kegiatan "Dakwah" dalam kegiatan budaya. Sudah menjadi tradisi, dalam teraweh ada ceramah, Ceramah yang kini lazimnya dilakukan oleh ustad, ketika itu oleh budayawan atau cendekiawan. Setelah solat Isya dan teraweh bersama acara dilanjutkan dengan diadakan diskusi.
Budayawan yang mengisi "Ceramah Ramadhan" di "Gelanggang Mahasiswa" nama-nama (untuk menyebut beberapa nama) yang akrab dengan masyarakat, misalnya dari kalangan budayawan adalah WS Rendra, Emha Ainun Najib, dan Grup Bimbo dari Bandung, dan lain-lain, Kaum cendekiawan seperti Sahirul Alim, yang memaparkan era kejayaan ilmuwan Islam dan pengaruhnya pada peradaban dunia,
Dengan canggih Sahirul Alim menguraikan "tafsir Alquran kontekstual" tentang bumi, alam semesta dalam Islam". Kuntowijoyo memaparkan peran Islam dalam peradaban dunia dan Indonesia. Dan bagaimana Islam menjawab tantangannya peradaban dalam era modern.
Di bawah pemerintah yang repressif, Emha Ainun Najib membacakan Puisi berjudul "Lautan Jilbab", Kemudian puisi itu dipentaskan dalam drama dengan judul yang sama. Ketika itu, di Indonesia tidak ada orang yang memakai jilbab. Di sekolah, di kampus, di kantor jilbab di larang. Bahkan di pabrik, atau karyawan toko. Kalau ada yang berani memakai jilbab, langsung dipecat. Imajinasi Cak Nun tentang "lautan jilbab" adalah sebuah perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa.
Kisah singkat, peran "mesjid" sebagai pusat peradaban. Ketika itu UGM belum memiliki mesjid. Kegiatan "Dakwah ing Kampus" dan "Ramadan ing Kampus" menjadi cikal bakal berdirinya "Mesjid Salahuddin". Mesjid di kampus UGM kini. Itu kisah dari Yogyakarta.
Selain UGM di Yogyakarta, di Bandung ada mesjid yang menjadi pusat pergerakan dan peradaban, yaitu mesjid "Salman".
Semoga, anda bisa menikmati acara di mesjid UGM. Dan anda bisa menambahkan informasi dari kampus yang lain. Misalnya IPB, ITB, UNAIR, UNIBRAW dan lain-lain. Silahkan
+++
Bandar lampung,
September 2020