04/08/2026
Ketika Upakara Menjadi Panggung: Merenungi Dampak Kemewahan dalam Ngaben dan Ritual Hindu Bali
Sebuah ngaben besar digelar. Ratusan orang berdatangan. Warung-warung kecil di sekitar setra mendadak ramai, tukang parkir kebanjiran rezeki, penjaja banten dan jajanan laris sepanjang hari. Media sosial dipenuhi unggahan foto dan video, disaksikan ribuan orang yang bahkan tidak mengenal siapa yang diupacarai.
Di satu sisi, ada kehidupan yang bergerak, ekonomi lokal yang menggeliat, kebersamaan yang terjalin, kenangan yang terekam untuk diwariskan. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih sunyi dan jarang diucapkan:
"apakah kemegahan ini masih tentang leluhur yang diupacarai, ataukah sudah menjadi tentang siapa yang mengupacarai?"
Ketika sebuah keluarga kaya merasa malu mempersembahkan upakara kecil, bukan karena ketulusannya berkurang, tapi karena takut dipandang pelit atau tidak berbakti. di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: upakara ini sedang berbicara kepada siapa, sebenarnya?
Dua Wajah dari Satu Upacara
Dalam ajaran Hindu Bali, upakara persembahan dalam segala bentuk ritual, termasuk ngaben, pada dasarnya adalah bahasa bhakti (persembahan) dan yadnya (pengorbanan tulus) yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi, leluhur, dan semesta. Besar-kecilnya upakara sejak dahulu memang mengenal tingkatan: nista, madya, utama — yang disesuaikan dengan kemampuan (desa, kala, patra: tempat, waktu, dan keadaan) masing-masing keluarga. Prinsip ini sebenarnya sudah menyediakan ruang yang adil: seseorang tidak dituntut melampaui kemampuannya, dan upacara sederhana yang dilakukan dengan tulus dianggap sama sahnya dengan upacara besar yang dilakukan dengan mampu.
Namun praktik di lapangan sering bergerak menjauh dari prinsip itu. Upakara yang unik, megah, dan berskala besar memang membawa dampak nyata yang tidak bisa disangkal. Secara ekonomi, ia menggerakkan banyak sektor: perajin banten, penjual bahan upacara, tukang bangunan bade, penyedia konsumsi, hingga sektor pariwisata yang kerap menjadikan upacara besar sebagai daya tarik budaya.
Secara sosial, ia mempererat gotong royong, banyak tangan yang terlibat, banyak keluarga besar yang berkumpul, banyak cerita yang lahir dari kebersamaan itu. Dan secara emosional, ia menjadi kenangan: sebuah upacara besar sering diingat lintas generasi, menjadi cerita yang diwariskan tentang bagaimana keluarga melepas leluhurnya dengan penuh hormat.
Kesalahpahaman yang mudah muncul adalah menyimpulkan bahwa dampak-dampak positif ini secara otomatis membenarkan segala bentuk kemewahan, tanpa perlu mempertanyakan lebih jauh dari mana dorongan untuk bermewah-mewah itu sebenarnya berasal, dari ketulusan bakti, ataukah dari kekhawatiran akan penilaian orang lain.
Kesadaran yang Tergerus di Balik Kemegahan
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam, dan mungkin lebih jujur untuk diakui. Ketika seorang yang mampu secara ekonomi merasa malu mempersembahkan upakara kecil untuk leluhurnya, sesungguhnya yang sedang bekerja bukan lagi bhakti, melainkan rasa takut akan pandangan sosial.
Bakti, dalam maknanya yang paling murni, tidak seharusnya diukur dari besar-kecilnya persembahan, melainkan dari ketulusan hati yang menyertainya, sebagaimana Bhagawad Gita mengajarkan bahwa sekuntum bunga yang dipersembahkan dengan hati yang bersih, lebih bernilai daripada persembahan besar yang dilakukan dengan hati yang penuh pamrih atau gengsi.
Jika kemegahan upakara lahir dari ketakutan akan opini publik, maka sesungguhnya yang sedang dipuja bukan lagi leluhur atau Sang Hyang Widhi, melainkan pandangan masyarakat sekitarnya. Ironisnya, tekanan sosial semacam ini justru bisa menjadi beban baru bagi mereka yang tidak mampu, memaksa keluarga berutang demi menjaga gengsi, atau menunda upacara bertahun-tahun karena merasa belum "layak" menggelarnya dengan sederhana sekalipun.
Ada p**a sisi yang perlu dilihat dengan jernih tanpa berlebihan menghakimi: dampak lingkungan dari upacara berskala besar. Penggunaan bahan-bahan alam dalam jumlah besar, sampah dari dekorasi dan material yang tidak terurai, hingga jejak karbon dari mobilisasi ratusan tamu, adalah konsekuensi nyata yang jarang masuk dalam pertimbangan saat sebuah keluarga merancang kemegahan upacaranya. Padahal filosofi dasar Hindu Bali sendiri, Tri Hita Karana justru menekankan keharmonisan antara manusia dengan alam sebagai salah satu pilar utama kehidupan yang seimbang. Bukankah aneh jika sebuah upacara yang bertujuan menyucikan dan membebaskan, dalam praktiknya justru meninggalkan beban baru bagi bumi yang harus ditanggung generasi berikutnya?
Ini bukan ajakan untuk menolak kemegahan sepenuhnya, sebab kemegahan yang lahir dari kemampuan dan ketulusan tetaplah sah dan bermakna. Yang perlu terus dipertanyakan adalah motifnya: apakah kemewahan itu dipersembahkan untuk leluhur, ataukah untuk memenuhi standar yang diciptakan oleh mata orang lain yang menyaksikan?
Barangkali pertanyaan yang paling jujur untuk kita bawa p**ang bukanlah "seberapa besar seharusnya sebuah upakara", melainkan "kepada siapa sebenarnya persembahan ini sedang berbicara". Jika jawabannya adalah leluhur dan Yang Maha Kuasa, maka besar atau kecil, upacara itu akan tetap sampai dengan sempurna. Namun jika jawabannya diam-diam adalah pandangan tetangga, status sosial, atau kenangan yang ingin dipamerkan, mungkin di situlah kesadaran kita perlu diperiksa kembali.
Kenangan untuk leluhur yang paling abadi barangkali bukan terletak pada seberapa megah bade yang diarak atau seberapa viral upacara itu di media sosial, melainkan pada seberapa tulus hati yang menyertainya. Sesuatu yang tidak pernah bisa difoto, namun selalu bisa dirasakan oleh mereka yang hadir dengan hati yang jernih.
Jika kelak kita berdiri di hadapan pilihan itu, mempersembahkan upakara besar atau kecil untuk orang yang kita kasihi, pertanyaan apa yang sebaiknya kita ajukan pada diri sendiri terlebih dahulu: apa yang sesungguhnya ingin kita persembahkan, dan untuk siapa sesungguhnya persembahan itu kita tujukan? (art)