04/08/2026
Bale Tajuk di Balinuraga: Ketika Gotong Royong dan Kebanggaan Bertemu di Satu Wadah
Ada sebuah pertanyaan yang selalu muncul setiap kali kita bicara tentang gotong royong: sampai di titik mana kebersamaan itu benar-benar merata, dan di titik mana ia masih menyisakan ruang bagi manusia untuk tetap ingin dikenali?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya yang jujur di Balinuraga, Lampung Selatan — sebuah desa Hindu Bali di luar p**au asalnya, yang menggelar ngaben massal dengan pola yang tak biasa. Delapan puluh bale tajuk berdiri berjejer, masing-masing dihias sedemikian rupa hingga menyerupai wadah yang megah. Sementara di sampingnya, berdiri satu wadah tunggal yang jauh lebih besar — cukup untuk mengusung seluruh jenazah bersama-sama menuju setra.
Delapan puluh kebanggaan yang berdiri sendiri-sendiri, dan satu kebersamaan yang menampung semuanya. Bukankah ini gambaran paling jujur tentang bagaimana manusia selalu berusaha menyeimbangkan antara keinginan untuk diakui dan kebutuhan untuk bersama?
Bale Tajuk yang Berbeda dari yang Kita Kenal
Dalam banyak wilayah di Bali, bale tajuk umumnya dikenal sebagai struktur sederhana dari bambu dan kayu — tempat jenazah dibaringkan sebelum dibakar, tanpa hiasan berlebih, berbeda jauh dari bade yang megah dan berhias naga atau lembu raksasa.
Namun di Balinuraga, istilah dan wujudnya bergeser. Bale tajuk di sana adalah petulangan — wadah pembakaran berbentuk lembu, singa, gajahmina, atau wujud lain sesuai soroh (klan) masing-masing keluarga — yang dimodifikasi dan dihias dengan kreativitas hingga tampilannya menyerupai wadah atau bade yang megah. Delapan puluh bale tajuk semacam ini dibuat oleh keluarga-keluarga yang mampu, masing-masing menjadi ekspresi bakti sekaligus identitas keluarga yang berbeda satu sama lain.
Sementara itu, wadah atau bade yang sesungguhnya — struktur pengusung utama menuju setra — justru dibuat hanya satu, namun dalam ukuran besar, cukup untuk mengangkut seluruh pengawak (jenazah) secara bersama-sama. Dan bagi keluarga yang tidak mampu membangun bale tajuk sendiri, panitia menyediakan petulangan umum, tetap disesuaikan dengan soroh masing-masing peserta, sehingga tak seorang pun tertinggal dari tata cara yang seharusnya ia terima.
Di sinilah kesalahpahaman yang mudah muncul jika kita hanya membaca sepintas: mengira ngaben massal selalu berarti keseragaman total, tanpa ruang bagi perbedaan. Balinuraga menunjukkan sebaliknya — gotong royong dan ekspresi individu ternyata bisa berjalan berdampingan, asal keduanya diberi tempat yang jelas: yang kolektif pada wadah tunggal yang mengusung semua orang, dan yang personal pada bale tajuk yang boleh dihias sesuai kemampuan masing-masing keluarga.
Di Mana Sebenarnya Letak Kesetaraan
Namun di sinilah kejujuran perlu kita telusuri lebih dalam. Jika bale tajuk di Balinuraga justru menjadi ruang bagi keluarga mampu untuk menampilkan kreativitas dan kebanggaannya, sementara keluarga yang tidak mampu menggunakan petulangan umum yang disediakan panitia — apakah ini berarti kesetaraan yang selama ini kita bayangkan dalam ngaben massal ternyata tidak pernah benar-benar utuh?
Jawabannya, jika kita jernih membacanya, justru terletak pada satu detail yang mudah terlewat: bade tunggal itu. Sebesar dan semewah apa pun delapan puluh bale tajuk yang berjejer, pada akhirnya seluruh pengawak tetap diusung bersama-sama dalam satu wadah yang sama, menuju setra yang sama, menghadapi api yang sama. Di titik itulah kesetaraan sesungguhnya tidak dihapuskan oleh perbedaan bale tajuk — ia hanya dipindahkan tempatnya, dari struktur pembakaran ke perjalanan terakhir menuju penyucian.
Ini mengajarkan sesuatu yang lebih realistis dibanding sekadar romantisme tentang "kesetaraan total di hadapan kematian". Manusia, sekuat apa pun ia berusaha melepaskan ego semasa hidup, tetap membawa serta kebutuhan untuk dikenali — bahkan hingga ke ambang upacara yang seharusnya menjadi pelepasan segala keterikatan duniawi. Balinuraga tidak menyembunyikan kenyataan itu, dan justru di situlah kejujurannya patut dihargai: alih-alih memaksakan keseragaman yang munafik, mereka memberi ruang bagi kebanggaan keluarga untuk tetap hadir, sembari tetap menjaga satu titik pertemuan yang tak bisa dinegosiasikan — bahwa pada akhirnya, kita semua akan diusung bersama, menuju tempat yang sama.
Barangkali pola di Balinuraga ini adalah cerminan paling jujur tentang bagaimana manusia menjalani hidup dan menghadapi kematian: kita boleh membangun delapan puluh bahkan lebih bentuk kebanggaan yang berbeda-beda sepanjang perjalanan kita, dengan segala kemampuan dan kreativitas yang kita miliki.
Namun akan selalu ada satu wadah, satu momen, yang cukup besar untuk menampung kita semua bersama-sama, tanpa lagi bertanya siapa yang dulu mampu membuat bale tajuk sendiri, dan siapa yang dulu menumpang pada petulangan umum yang disediakan bersama.
Pertanyaan yang layak kita bawa p**ang bukanlah "apakah kesetaraan itu nyata", melainkan: di bagian mana dalam hidup kita, hari ini, sedang kita perjuangkan sebagai bale tajuk pribadi dan di bagian mana kita sebenarnya sudah, atau akan, duduk berdampingan dengan semua orang lain, dalam satu wadah yang sama?
Mungkin justru di persimpangan antara kebanggaan personal dan kebersamaan kolektif itulah, makna ngaben yang sesungguhnya paling terasa hidup — bukan di kemegahan salah satu, tapi di keseimbangan antara keduanya.