PHDI Provinsi Lampung

PHDI Provinsi Lampung PHDI Provinsi Lampung adalah media online Pengurus Harian PHDI Provinsi Lampung yang dikelola oleh Wakil Ketua Bidang Sains dan Teknologi.
(2)

Bale Tajuk di Balinuraga: Ketika Gotong Royong dan Kebanggaan Bertemu di Satu WadahAda sebuah pertanyaan yang selalu mun...
04/08/2026

Bale Tajuk di Balinuraga: Ketika Gotong Royong dan Kebanggaan Bertemu di Satu Wadah

Ada sebuah pertanyaan yang selalu muncul setiap kali kita bicara tentang gotong royong: sampai di titik mana kebersamaan itu benar-benar merata, dan di titik mana ia masih menyisakan ruang bagi manusia untuk tetap ingin dikenali?

Pertanyaan itu menemukan jawabannya yang jujur di Balinuraga, Lampung Selatan — sebuah desa Hindu Bali di luar p**au asalnya, yang menggelar ngaben massal dengan pola yang tak biasa. Delapan puluh bale tajuk berdiri berjejer, masing-masing dihias sedemikian rupa hingga menyerupai wadah yang megah. Sementara di sampingnya, berdiri satu wadah tunggal yang jauh lebih besar — cukup untuk mengusung seluruh jenazah bersama-sama menuju setra.

Delapan puluh kebanggaan yang berdiri sendiri-sendiri, dan satu kebersamaan yang menampung semuanya. Bukankah ini gambaran paling jujur tentang bagaimana manusia selalu berusaha menyeimbangkan antara keinginan untuk diakui dan kebutuhan untuk bersama?

Bale Tajuk yang Berbeda dari yang Kita Kenal

Dalam banyak wilayah di Bali, bale tajuk umumnya dikenal sebagai struktur sederhana dari bambu dan kayu — tempat jenazah dibaringkan sebelum dibakar, tanpa hiasan berlebih, berbeda jauh dari bade yang megah dan berhias naga atau lembu raksasa.

Namun di Balinuraga, istilah dan wujudnya bergeser. Bale tajuk di sana adalah petulangan — wadah pembakaran berbentuk lembu, singa, gajahmina, atau wujud lain sesuai soroh (klan) masing-masing keluarga — yang dimodifikasi dan dihias dengan kreativitas hingga tampilannya menyerupai wadah atau bade yang megah. Delapan puluh bale tajuk semacam ini dibuat oleh keluarga-keluarga yang mampu, masing-masing menjadi ekspresi bakti sekaligus identitas keluarga yang berbeda satu sama lain.

Sementara itu, wadah atau bade yang sesungguhnya — struktur pengusung utama menuju setra — justru dibuat hanya satu, namun dalam ukuran besar, cukup untuk mengangkut seluruh pengawak (jenazah) secara bersama-sama. Dan bagi keluarga yang tidak mampu membangun bale tajuk sendiri, panitia menyediakan petulangan umum, tetap disesuaikan dengan soroh masing-masing peserta, sehingga tak seorang pun tertinggal dari tata cara yang seharusnya ia terima.

Di sinilah kesalahpahaman yang mudah muncul jika kita hanya membaca sepintas: mengira ngaben massal selalu berarti keseragaman total, tanpa ruang bagi perbedaan. Balinuraga menunjukkan sebaliknya — gotong royong dan ekspresi individu ternyata bisa berjalan berdampingan, asal keduanya diberi tempat yang jelas: yang kolektif pada wadah tunggal yang mengusung semua orang, dan yang personal pada bale tajuk yang boleh dihias sesuai kemampuan masing-masing keluarga.

Di Mana Sebenarnya Letak Kesetaraan

Namun di sinilah kejujuran perlu kita telusuri lebih dalam. Jika bale tajuk di Balinuraga justru menjadi ruang bagi keluarga mampu untuk menampilkan kreativitas dan kebanggaannya, sementara keluarga yang tidak mampu menggunakan petulangan umum yang disediakan panitia — apakah ini berarti kesetaraan yang selama ini kita bayangkan dalam ngaben massal ternyata tidak pernah benar-benar utuh?

Jawabannya, jika kita jernih membacanya, justru terletak pada satu detail yang mudah terlewat: bade tunggal itu. Sebesar dan semewah apa pun delapan puluh bale tajuk yang berjejer, pada akhirnya seluruh pengawak tetap diusung bersama-sama dalam satu wadah yang sama, menuju setra yang sama, menghadapi api yang sama. Di titik itulah kesetaraan sesungguhnya tidak dihapuskan oleh perbedaan bale tajuk — ia hanya dipindahkan tempatnya, dari struktur pembakaran ke perjalanan terakhir menuju penyucian.

Ini mengajarkan sesuatu yang lebih realistis dibanding sekadar romantisme tentang "kesetaraan total di hadapan kematian". Manusia, sekuat apa pun ia berusaha melepaskan ego semasa hidup, tetap membawa serta kebutuhan untuk dikenali — bahkan hingga ke ambang upacara yang seharusnya menjadi pelepasan segala keterikatan duniawi. Balinuraga tidak menyembunyikan kenyataan itu, dan justru di situlah kejujurannya patut dihargai: alih-alih memaksakan keseragaman yang munafik, mereka memberi ruang bagi kebanggaan keluarga untuk tetap hadir, sembari tetap menjaga satu titik pertemuan yang tak bisa dinegosiasikan — bahwa pada akhirnya, kita semua akan diusung bersama, menuju tempat yang sama.

Barangkali pola di Balinuraga ini adalah cerminan paling jujur tentang bagaimana manusia menjalani hidup dan menghadapi kematian: kita boleh membangun delapan puluh bahkan lebih bentuk kebanggaan yang berbeda-beda sepanjang perjalanan kita, dengan segala kemampuan dan kreativitas yang kita miliki.

Namun akan selalu ada satu wadah, satu momen, yang cukup besar untuk menampung kita semua bersama-sama, tanpa lagi bertanya siapa yang dulu mampu membuat bale tajuk sendiri, dan siapa yang dulu menumpang pada petulangan umum yang disediakan bersama.

Pertanyaan yang layak kita bawa p**ang bukanlah "apakah kesetaraan itu nyata", melainkan: di bagian mana dalam hidup kita, hari ini, sedang kita perjuangkan sebagai bale tajuk pribadi dan di bagian mana kita sebenarnya sudah, atau akan, duduk berdampingan dengan semua orang lain, dalam satu wadah yang sama?

Mungkin justru di persimpangan antara kebanggaan personal dan kebersamaan kolektif itulah, makna ngaben yang sesungguhnya paling terasa hidup — bukan di kemegahan salah satu, tapi di keseimbangan antara keduanya.

Kalau agamamu membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain, mungkin yang kau sembah bukan Tuhan, tapi dirimu sendiri.
03/08/2026

Kalau agamamu membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain, mungkin yang kau sembah bukan Tuhan, tapi dirimu sendiri.

Di Tengah Sawah, Ida Pandita Membuka Gerbang yang Tak TerlihatPringsewu, Lampung — Tidak ada panggung megah. Tidak ada d...
03/08/2026

Di Tengah Sawah, Ida Pandita Membuka Gerbang yang Tak Terlihat

Pringsewu, Lampung — Tidak ada panggung megah. Tidak ada dekorasi berlapis emas. Yang ada hanya hamparan sawah, angin yang menerbangkan debu tanah kering, dan sebatang penjor menjulang sendirian di antara langit biru yang polos.

Di sanalah, dalam upacara Entas-Entas, Ida Pandita Romo Rsi Hasto Dharmo Eka Telabah berdiri — bertelanjang dada, berbalut kain putih sederhana, memimpin ritual membuka gerbang dimensi leluhur. Di sekelilingnya, para pemangku dan warga berpakaian serba hitam, berdiri khidmat mengelilingi sebuah meja kecil berlapis kain kuning, tempat d**a dan buah-buahan tersaji seadanya.

Tidak ada yang mewah dari pemandangan itu. Justru di situlah letak kekuatannya.

Kita sering membayangkan bahwa sesuatu yang sakral — sesuatu yang menyentuh dunia leluhur, menyentuh dimensi yang tak kasat mata — harus datang dengan kemegahan. Dengan ornamen berlapis, dengan tempat yang dihias serupa istana. Tapi di tengah sawah Pringsewu itu, sebuah gerbang leluhur justru dibuka hanya dengan doa, tanah becek, dan orang-orang yang berdiri tanpa alas kaki.

Menariknya, justru kesederhanaan itu yang membuat semuanya terasa jujur. Tidak ada yang perlu dibuat-buat ketika yang dihadapi adalah leluhur sendiri. Tidak ada ruang untuk pencitraan ketika yang diajak bicara adalah dimensi yang tak bisa dibohongi.

Di titik ini realita menampar dengan caranya sendiri: kita, generasi yang tumbuh dengan standar "harus terlihat wah", justru diingatkan bahwa yang paling suci sering datang dari yang paling bersahaja.

Dan mungkin itu p**a pesan yang dititipkan penjor yang menjulang tinggi hari itu — bahwa untuk menyambung diri dengan yang di atas, kita tidak butuh kemewahan, hanya ketulusan yang cukup rendah hati untuk berdiri tanpa alas kaki di atas tanah.

Karena realita… tidak selalu seperti yang kita kira.

Tuhan tidak butuh dibela lewat perdebatan. Yang butuh dibela biasanya bukan Tuhan, tapi ego yang mengaku paling dekat de...
02/08/2026

Tuhan tidak butuh dibela lewat perdebatan. Yang butuh dibela biasanya bukan Tuhan, tapi ego yang mengaku paling dekat dengan-Nya.

Diksa Pariksa: Ketika Kesucian Harus Melewati Meja VerifikasiAda sebuah pemandangan yang mungkin jarang dibayangkan oran...
02/08/2026

Diksa Pariksa: Ketika Kesucian Harus Melewati Meja Verifikasi

Ada sebuah pemandangan yang mungkin jarang dibayangkan orang awam: seorang calon sulinggih, yang kelak akan disembah, dicium tangannya, dimintai tirta oleh ribuan umat — duduk di hadapan sebuah tim, membawa berkas, menjawab pertanyaan, menunggu hasil yang bisa saja berbunyi *ditunda*.

Bukankah kesucian semestinya datang dari langit, bukan dari meja administrasi?

Pertanyaan itu wajar muncul, terutama di zaman ketika segala sesuatu — mulai dari izin usaha sampai status pernikahan — harus melalui verifikasi berlapis. Ketika istilah seperti "diksa pariksa" terdengar oleh telinga modern, yang terbayang mungkin birokrasi: map kuning, stempel, tanda tangan pejabat. Maka lahirlah kegelisahan yang jujur: apakah jalan spiritual pun kini harus tunduk pada logika administratif?

Untuk menjawabnya, kita perlu masuk lebih dalam — bukan menolak pertanyaan itu, tapi mendudukkannya di tempat yang benar.

Apa Sebenarnya Diksa Pariksa

Diksa, dalam tradisi Hindu Bali, adalah proses penyucian diri seorang walaka (orang biasa) menjadi dwijati — "lahir dua kali". Kelahiran pertama adalah kelahiran badan dari rahim ibu. Kelahiran kedua adalah kelahiran atman yang disucikan melalui upacara mediksa, dituntun oleh Nabe (guru kerohanian), untuk kemudian mengemban tugas sebagai sulinggih — pemimpin spiritual yang berhak muput upacara dan menyalurkan tirta bagi umat.

Diksa Pariksa sendiri bukanlah upacara suci itu sendiri, melainkan proses verifikasi yang dilakukan sebelum upacara berlangsung. Ia adalah proses administrasi yang dijalankan PHDI, dengan membentuk tim yang terdiri dari pandita dari Paruman Pandita dan Paruman Walaka, serta pengurus harian PHDI sesuai domisili calon. Tim ini melakukan tureksa — pemeriksaan — untuk memastikan segala hal yang berkaitan dengan proses calon diksa nantinya menjalani Diksa Dwijati benar-benar terpenuhi: mulai dari keabsahan Sang Tri Guru (Nabe Napak, Guru Putra/Waktra, Guru Saksi), dukungan dari keluarga dan lingkungan, baik adat maupun dinas, hingga persyaratan lain yang diatur bagi calon diksita.

Mengapa proses seperti ini dibutuhkan? Karena PHDI adalah satu-satunya majelis agama Hindu yang diakui negara, sehingga kehadirannya dalam proses ini mewakili negara dalam memberikan keabsahan dan legalitas terhadap tata cara pelaksanaan diksa. Keabsahan itu kemudian dituangkan dalam bentuk piagam resmi — sebuah pengakuan bahwa proses spiritual yang dijalani telah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Paruman Pandita.

Di sinilah kesalahpahaman yang sering terjadi: banyak yang mengira Diksa Pariksa adalah "ujian kesaktian" atau semacam tes kelayakan batin seseorang menjadi suci. Padahal ia lebih dekat pada fungsi pemeriksaan kelengkapan syarat, keabsahan garis guru, serta restu sosial dan keluarga. Ia menjaga agar jalan diksa tidak ditempuh sembarangan, tidak dipalsukan silsilahnya, dan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari — baik dengan keluarga yang belum merestui, adat yang belum menerima, maupun negara yang membutuhkan kepastian hukum.

Administrasi vs Substansi

Namun di sinilah letak ketegangan yang jujur perlu diakui. Praktik keagamaan, sekokoh apa pun filosofinya, selalu berjalan di dalam sejarah manusia — dan sejarah manusia mengenal kelembagaan, mengenal kepentingan, mengenal perdebatan wewenang. Pernah muncul perdebatan cukup tajam di kalangan pandita sendiri tentang sejauh mana PHDI Kota/Kabupaten berhak "tidak meluluskan" seorang calon pandita, dan apakah hal itu justru berbenturan dengan bhisama yang mengatur pedoman pelaksanaan diksa dwijati. Bhisama itu sendiri lahir dari Sabha Pandita — bukan dari struktur administratif semata, melainkan dari otoritas kerohanian tertinggi dalam organisasi umat Hindu.

Perdebatan ini sebenarnya menyingkap sesuatu yang jujur: bahkan dalam institusi keagamaan, ada tarik-menarik antara otoritas spiritual dan otoritas administratif. Siapa yang berhak menentukan kesucian seseorang — guru kerohaniannya, ataukah tim verifikasi?

Jawabannya, jika kita jernih membacanya, sebenarnya bukan "salah satu". Diksa Pariksa tidak menggantikan otoritas Nabe dalam menuntun muridnya menuju penyucian batin. Ia hanya memastikan bahwa jalan itu ditempuh dengan bersih — tidak ada pemalsuan garis guru, tidak ada pemaksaan dari pihak yang tidak berhak, tidak ada penolakan keluarga yang disembunyikan. Sama seperti pernikahan sakral yang tetap membutuhkan pencatatan sipil bukan untuk menggantikan cinta, tapi untuk melindunginya dari sengketa di kemudian hari.

Yang perlu terus diawasi justru adalah ketika verifikasi berubah wujud menjadi kekuasaan — ketika tim yang seharusnya memeriksa kelengkapan syarat, mulai merasa berhak menilai kelayakan batin seseorang untuk menjadi suci. Di titik itulah birokrasi mulai menggerus makna aslinya, dan pertanyaan pembuka tadi menjadi relevan kembali: jangan sampai yang sakral tunduk sepenuhnya pada yang prosedural.

Barangkali persoalan sesungguhnya bukan pada ada atau tidaknya verifikasi, melainkan pada di mana kita meletakkan hati kita ketika menjalani sebuah proses.

Seorang calon sulinggih yang duduk di hadapan tim Diksa Pariksa sesungguhnya sedang belajar hal pertama dari kesucian itu sendiri: kerendahan hati untuk diperiksa, kesabaran untuk ditunda, dan keikhlasan untuk tunduk pada tata cara yang lebih besar dari egonya sendiri. Bukankah itu justru latihan awal menjadi seorang pemimpin spiritual — orang yang kelak akan dimintai tuntunan oleh banyak umat?

Pertanyaannya kini kembali kepada kita, yang bukan calon sulinggih namun juga menjalani banyak "pariksa" dalam hidup — ujian, verifikasi, penilaian orang lain sebelum kita dianggap layak menyandang sebuah peran. Sudahkah kita memandang proses semacam itu sebagai penghalang, ataukah sebagai bagian dari perjalanan menyucikan niat kita sendiri?

Mungkin di situlah letak kebijaksanaan lama yang masih relevan hari ini: bahwa jalan menuju yang sakral tidak pernah instan, dan justru dalam kesediaan diperiksa itulah, kesucian mulai teruji.

Dari Sekretariat PHDI Lampung: Satu Langkah Lagi Menuju Panggung SuciBandar Lampung, 1 Agustus 2026 — Pagi itu, sekretar...
02/08/2026

Dari Sekretariat PHDI Lampung: Satu Langkah Lagi Menuju Panggung Suci

Bandar Lampung, 1 Agustus 2026 — Pagi itu, sekretariat PHDI Provinsi Lampung tidak seperti biasanya. Ada getar berbeda, campuran gugup dan khidmat, ketika satu nama dipanggil duduk di hadapan majelis: Jro Gede Pande Komang Nuka, calon Sulinggih yang membawa berkas, doa, dan bertahun niat yang akhirnya sampai di titik ini.

Diksa Pariksa — pemeriksaan berkas dan wawancara menuju penyucian diri sebagai Sulinggih — digelar sejak pukul 09.00 WIB. Tim penguji bukan sembarang orang: Dharma Upapati Ida Pandita Rsi Agung Dharma Rakta Teja Sumandya, Ketua Paruman Walaka Ir. Ketut Pasek, MBA., hingga Ketua Pengurus Harian PHDI Lampung Dr. I Nyoman Setiawan, S.E., M.M. Tokoh adat dari Way Kanan pun hadir — bukti proses ini urusan komunitas, bukan satu orang.

Rangkaian berjalan sesuai jadwal: pemeriksaan berkas, wawancara mendalam, Tri Sandya, hingga makan siang bersama. Sederhana di atas kertas, tapi siapa pun yang paham beratnya jalan menuju Diksa tahu, tak ada yang benar-benar sederhana di sana.

Hasilnya membawa kabar baik. Seluruh tahapan dinyatakan lancar. Berkas lengkap, wawancara tuntas — calon Diksita dinyatakan dapat melanjutkan ke tahap Diksa berikutnya.

Di sinilah realita menampar dengan lembut namun jelas: menjadi Sulinggih bukan sekadar siap secara spiritual, tapi juga siap diuji habis-habisan oleh mereka yang ingin memastikan kesuciannya benar-benar utuh.

Ada yang layak direnungkan: jalan menuju kesucian tetap harus melewati meja, kertas, dan pertanyaan manusia biasa — seolah mengingatkan bahwa yang sakral pun butuh proses yang membumi untuk sampai ke langit.

Karena realita… tidak selalu seperti yang kita kira.

Bubur 5 Warna dalam Entas-Entas: Simbol yang Sering Dilihat, Tapi Jarang DipahamiDalam tradisi entas-entas Hindu Jawa, b...
29/07/2026

Bubur 5 Warna dalam Entas-Entas: Simbol yang Sering Dilihat, Tapi Jarang Dipahami

Dalam tradisi entas-entas Hindu Jawa, banyak orang melihat bubur 5 warna hanya sebagai pelengkap sesaji. Disiapkan, ditata, lalu selesai. Tapi di balik itu, ada pesan spiritual yang sangat dalam.

Lima warna dalam bubur tersebut bukan sekadar estetika. Ia melambangkan arah mata angin sekaligus kekuatan ilahi yang menjaga keseimbangan alam. Putih di timur melambangkan kesucian dan awal kehid**an. Merah di selatan melambangkan energi dan semangat hidup. Kuning di barat menggambarkan kematangan dan kebijaksanaan. Hitam di utara menjadi simbol perlindungan dan kekuatan. Dan di tengah, semua warna menyatu sebagai lambang keseimbangan dan pusat kesadaran.

Mengapa ini penting dalam entas-entas?
Karena tujuan utama ritual ini bukan hanya “melepas” leluhur, tetapi mengembalikan mereka dalam keadaan seimbang. Bubur 5 warna menjadi simbol bahwa roh tidak boleh berjalan dengan energi yang timpang. Semua unsur harus harmonis, agar perjalanan menuju alam yang lebih tinggi menjadi sempurna.
Lebih dalam lagi, bubur ini juga mencerminkan diri kita sendiri. Kita hidup dari lima unsur, bergerak dengan berbagai emosi, dan sering tidak seimbang. Entas-entas seolah mengingatkan: bukan hanya leluhur yang perlu disucikan, tapi juga kita yang masih hidup.

Masalahnya hari ini, banyak yang hanya membeli sesaji tanpa memahami maknanya. Ritual tetap berjalan, tapi kesadaran sering tertinggal. Padahal kekuatan sejati dari tradisi bukan pada bentuknya, tapi pada pemahaman dan ketulusan di baliknya.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya “melakukan”, dan mulai benar-benar “mengerti”.

Paramasivatattva: Hakikat Tuhan yang Melampaui Segala BatasParamasivatattva merupakan konsep ketuhanan tertinggi dalam a...
27/07/2026

Paramasivatattva: Hakikat Tuhan yang Melampaui Segala Batas

Paramasivatattva merupakan konsep ketuhanan tertinggi dalam ajaran Wrhaspati Tattwa. Sebagai puncak Tri Purusa, Paramasivatattva menggambarkan Tuhan sebagai Kesadaran Tertinggi yang melampaui ruang, waktu, bentuk, maupun batas pikiran manusia.

Dalam ajaran ini, Tuhan bersifat Apremaya, yaitu tidak dapat diukur, dibayangkan, ataupun dipahami sepenuhnya oleh akal. Ia juga disebut Ananta, tanpa awal dan tanpa akhir, serta Anidesya, tidak dapat diberi ciri atau dibatasi oleh apa pun. Tidak ada sesuatu pun yang dapat disamakan dengan-Nya sehingga disebut Anaupamya.

Walaupun tidak berwujud atau niskala, Paramasivatattva bukan berarti tidak ada. Justru Ia hadir di seluruh alam semesta. Sifat ini dikenal sebagai Sarvagata, yaitu Tuhan meresapi seluruh ciptaan tanpa terkecuali. Keberadaan-Nya sangat halus, tetap, tidak berubah, dan tidak pernah berkurang, menjadi sumber kehid**an bagi seluruh alam.

Paramasivatattva juga merupakan lambang kemurnian sempurna. Dalam keadaan suci yang bebas dari segala noda, Ia menjadi Iśvara, Pengatur Tertinggi yang mengendalikan seluruh hukum alam tanpa dikendalikan oleh siapa pun. Dari-Nyalah seluruh kehid**an berasal dan kepada-Nyalah seluruh kehid**an kembali.

Bagi seorang pencari spiritual, memahami Paramasivatattva bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi arah perjalanan hidup. Melalui penyucian diri, pengendalian pikiran, pelaksanaan dharma, dan pendalaman pengetahuan suci, Atman berproses menuju penyatuan kembali dengan Kesadaran Tertinggi. Keadaan inilah yang disebut Moksa, yaitu kebebasan sejati dari ikatan kelahiran, penderitaan, dan karma.

Ajaran Wrhaspati Tattwa mengingatkan bahwa semakin mengenal hakikat Tuhan, semakin kita terdorong untuk hidup dengan kasih, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap kehid**an.

Jalan Kembali Menuju Paramasiwa: Lima Tahapan Suci Mencapai Moksa Menurut Wrhaspati TattwaDalam ajaran Wrhaspati Tattwa,...
27/07/2026

Jalan Kembali Menuju Paramasiwa: Lima Tahapan Suci Mencapai Moksa Menurut Wrhaspati Tattwa

Dalam ajaran Wrhaspati Tattwa, tujuan tertinggi kehid**an bukan sekadar mencapai kebahagiaan duniawi, melainkan mengembalikan kesadaran Atman yang terikat menuju penyatuan dengan Paramasivatattva. Perjalanan suci ini dikenal sebagai Moksa, yaitu terbebas dari ikatan kelahiran, kematian, serta belenggu karma yang membatasi kesadaran manusia.

Untuk mencapai keadaan tersebut, seorang pencari spiritual menempuh Sadāṅgayoga yang meliputi Pratyāhāra, Dhyāna, Prāṇāyāma, Dhāraṇa, Tarka, dan Samādhi. Tahapan ini membimbing pikiran menjadi tenang, fokus, dan akhirnya menyatu dengan kesadaran Ilahi.

Selain latihan yoga, penyucian batin dilakukan dengan membakar karmavāsanā atau bekas-bekas karma melalui Śivāgni, api spiritual yang melambangkan proses pemurnian diri. Pengetahuan suci atau Jñāna juga menjadi bekal penting agar seseorang mampu memahami hakikat kehid**an, membedakan antara kesadaran dan materi, serta terbebas dari kebingungan duniawi.

Perjalanan menuju Moksa harus disertai pelaksanaan Daśāśila, yaitu sepuluh kebajikan yang menanamkan nilai kejujuran, kasih sayang, pengendalian diri, dan kesucian batin. Ketika seluruh latihan ini dijalankan dengan tekun, seorang yogi dapat mencapai Turyāntapada, tingkat kesadaran tertinggi yang melampaui keadaan terjaga, mimpi, dan tidur lelap.

Ajaran luhur ini mengingatkan bahwa jalan menuju Tuhan bukan hanya melalui ritual, tetapi juga melalui penyucian pikiran, pengendalian diri, pengetahuan, dan kebajikan dalam kehid**an sehari-hari. Dengan hati yang bersih dan kesadaran yang jernih, Atman akhirnya kembali menyatu dengan Paramasiwa sebagai tujuan akhir kehid**an spiritual.

Rakor PHDI Provinsi Lampung Sepakati Tiga Program Prioritas OrganisasiBandar Lampung – Rapat Koordinasi (Rakor) Parisada...
27/07/2026

Rakor PHDI Provinsi Lampung Sepakati Tiga Program Prioritas Organisasi

Bandar Lampung – Rapat Koordinasi (Rakor) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Lampung yang dilaksanakan pada Sabtu, 25 Juli 2026 di Sekretariat PHDI Provinsi Lampung, Labuhan Dalam, berlangsung dengan lancar dan menghasilkan tiga kesepakatan strategis sebagai arah program organisasi ke depan. Rakor dihadiri oleh Pengurus PHDI Provinsi Lampung, PHDI Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung, serta organisasi dan lembaga keumatan Hindu.

Melalui musyawarah yang berlangsung penuh semangat kebersamaan, seluruh peserta menyepakati tiga program prioritas yang akan dilaksanakan secara bersama.

Pertama, mendukung Program 1000 Candi sebagai upaya memperkuat sarana keagamaan sekaligus melestarikan nilai-nilai Hindu.

Kedua, meneruskan rehabilitasi pembangunan fasilitas Pura KJKB Way Lunik agar mampu memberikan kenyamanan dan menunjang kegiatan ibadah serta pembinaan umat.

Ketiga, melaksanakan sosialisasi Mahasabha XIII PHDI Pusat kepada seluruh jajaran PHDI Kabupaten/Kota dan organisasi keumatan Hindu di Provinsi Lampung guna meningkatkan pemahaman serta partisipasi dalam menyukseskan agenda nasional organisasi.

Ketua PHDI Provinsi Lampung, Dr. I. Nyoman Setiawan, S.E., M.M., menyampaikan bahwa hasil Rakor ini menjadi komitmen bersama untuk memperkuat sinergi, meningkatkan koordinasi, dan mengoptimalkan pelayanan kepada umat Hindu di Provinsi Lampung.

Dengan tiga kesepakatan tersebut, diharapkan seluruh jajaran PHDI dan organisasi keumatan Hindu dapat bergerak dalam satu visi, memperkuat persatuan, serta mewujudkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi umat.

Address

Jalan Mawar Indah No. 2 Labuhan Dalam
Bandar Lampung
35149

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PHDI Provinsi Lampung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to PHDI Provinsi Lampung:

Shortcuts

Share