Gema Baiturrahman

Gema Baiturrahman Tabloid Gema Baiturrahman
Terbit Sejak 3 September 1983

Pendiri: H. Ameer Hamzah, H. Basri A. Bakar, HM. Jakfar Puteh dkk

Redaksi: Sayed Muhammad Husen dkk

OpiniMTQN dan Momentum Kebangkitan AcehOleh Shafwan Bendadeh, S.H.I., M.ShDosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah Institut Nah...
03/10/2026

Opini

MTQN dan Momentum Kebangkitan Aceh
Oleh Shafwan Bendadeh, S.H.I., M.Sh
Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah Institut Nahdlatul Ulama Aceh

Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke 31 di Provinsi Jawa Tengah tahun 2026 telah berakhir dan Provinsi Aceh menoreh prestasi yang gemilang pada posisi keempat. Tentu kegiatan ini bukan sekadar arena perlombaan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. MTQN juga menjadi ruang silaturahmi nasional, sekaligus cermin sejauh mana pembinaan generasi Qur’ani dilakukan secara berkelanjutan di setiap daerah. Karena itu, prestasi sebuah provinsi dalam MTQN tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah medali, tetapi juga dari kualitas pembinaan yang berlangsung di baliknya.

Bagi Aceh, MTQN memiliki makna yang lebih khusus. Sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam, pembinaan Al-Qur’an seharusnya menjadi bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia. Prestasi Aceh yang berhasil menempati peringkat keempat pada MTQN menjadi capaian yang patut diapresiasi. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional.

Namun, prestasi peringkat keempat sebaiknya tidak berhenti sebagai kebanggaan sesaat. Capaian tersebut harus menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk menyusun strategi pembinaan yang lebih terarah. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana mempertahankan posisi keempat, tetapi bagaimana membangun sistem pembinaan yang mampu mengantarkan Aceh mencapai target yang lebih tinggi pada MTQN berikutnya.

Apalagi Aceh akan menghadapi momentum penting sebagai tuan rumah MTQN pada tahun 2028. Status tuan rumah tentu membawa peluang sekaligus tanggung jawab besar. Aceh tidak cukup hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga perlu sukses secara prestasi. MTQN 2028 harus menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Aceh mampu menyelenggarakan perhelatan nasional sekaligus menghadirkan kafilah yang kompetitif.

Persiapan menuju 2028 karena itu harus dimulai sejak sekarang. Pembinaan peserta tidak dapat dilakukan secara instan menjelang perlombaan. Diperlukan pemetaan potensi sejak tingkat kabupaten/kota, pembinaan berjenjang, pelatih yang kompeten, program pemusatan latihan yang terukur, serta evaluasi berkala. Cabang-cabang yang selama ini menjadi kekuatan Aceh perlu dipertahankan, sementara cabang yang masih lemah harus mendapatkan perhatian khusus.

Di sisi lain, Aceh perlu membangun ekosistem pembinaan Al-Qur’an yang lebih luas. Peserta MTQN tidak seharusnya dipersiapkan hanya untuk menjadi juara. Mereka adalah generasi yang diharapkan memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an dan mampu menerjemahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, keberhasilan MTQN tidak hanya diukur dari piala yang dibawa p**ang, tetapi juga dari lahirnya generasi yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kontribusi bagi masyarakat.

Target Aceh ke depan perlu dirumuskan secara realistis dan terukur. Peringkat keempat dapat dijadikan baseline untuk melakukan lompatan prestasi. Dengan persiapan yang sistematis, target masuk tiga besar bahkan bersaing untuk posisi teratas pada MTQN 2028 dapat menjadi agenda pembinaan. Namun, target tersebut harus ditopang dengan investasi yang serius pada manusia, bukan sekadar anggaran kegiatan.

MTQN 2028 hendaknya menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, LPTQ, lembaga pendidikan, dayah, perguruan tinggi, ulama, pelatih, serta masyarakat perlu mengambil peran masing-masing. Jika seluruh potensi tersebut disinergikan, MTQN 2028 bukan hanya menjadi pesta nasional di Aceh, tetapi juga momentum kebangkitan pembinaan generasi Qur’ani.

Pada akhirnya, prestasi peringkat keempat adalah capaian yang patut disyukuri, tetapi belum menjadi garis akhir. Ia adalah titik awal untuk bekerja lebih serius. Aceh memiliki waktu untuk mempersiapkan diri. Pertanyaannya sekarang bukan apakah Aceh mampu menjadi lebih baik, tetapi seberapa sungguh-sungguh seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan dua tahun persiapan menuju MTQN 2028. []

KolomPenantian 23 Tahun Alhamdulillah, Kafilah Aceh meraih peringkat keempat pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasio...
03/10/2026

Kolom

Penantian 23 Tahun

Alhamdulillah, Kafilah Aceh meraih peringkat keempat pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ###I Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Prestasi itu merupakan yang terbaik bagi Aceh selama penantian 23 tahun terakhir. Hasil tersebut diumumkan oleh Ketua Dewan Hakim MTQ Nasional ###I, Prof Syibli Syarjaya, pada penutupan MTQ Nasional ###I di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (19/9/2026) malam. MTQ ini ditutup oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar. MTQ Nasional ###I di Jawa Tengah digelar sejak 11 hingga 20 September 2026 berjalan baik dan sukses.

Kita mengapresiasi kepada peserta MTQ, pelatih, dan segenap pihak lain yang terlibat dalam persiapan mengikuti MTQ. Kinerja terbaik ini tidak lahir dalam semalam. Butuh waktu bertahun-tahun yang melelahkan sehingga memperoleh hasil terbaik pada hari ini. Prestasi ini membawa nama baik bagi Aceh di kancah nasional. Karena itu sudah selayaknya kepada kafilah MTQ Aceh dan tim pendukungnya mendapat penghargaan sebagai apresiasi dan untuk memicu semangat bagi yang lain.

Bagaimana tidak, kafilah Aceh meraih 99 poin dan di posisi keempat bersama Jawa Timur. Posisi teratas ditempati Kalimantan Timur dengan 288 poin, disusul Jawa Tengah 208 poin dan DKI Jakarta 129 poin. Hasil ini merupakan perjuangan seluruh unsur Kafilah Aceh yang telah mempersiapkan diri menghadapi MTQ Nasional. Mereka sudah memberikan yang terbaik. pelatih bekerja keras, ofisial, dan seluruh tim juga memberikan dukungan penuh. Ini adalah buah perjuangan bersama.

Hasil MTQ di Semarang sangat bagus dibandingkan MTQ Nasional ### Tahun 2024 di Samarinda, ketika Aceh di peringkat ke-12 nasional.

Kita sepakat Aceh berada di peringkat keempat ini bukan hasil akhir. Terus berlatih keras dan cerdas agar pada MTQ selanjutnya bisa rangking nomor 1 MTQ Nasional di Jakarta pada 2027. Setelah ini, harus ada evaluasi pembinaan untuk mendapatkan hasil maksimal pada MTQ di Jakarta dan selanjutnya.

Kita mengetuk pintu hati Pemerintah Aceh untuk memberikan apresiasi dalam bentuk bonus kepada peserta yang telah menorehkan tinta emas di MTQ Semarang. Peserta MTQ dan pelatih tidak meminta hadiah atau hal lain kepada umara karena bagi mereka membaca Qur’an dan melatihnya adalah ladang ibadah. Pemerintah Aceh harus peka memahami untuk memberikan bonus yang memicu umat untuk mencintai Qur’an dan mengamalkan isinya.

Kita menyaksikan, salah satu bentuk apresiasi kepada sang juara MTQ yakni kep**angan mereka disambut langsung oleh jajaran pejabat utama Pemerintah Aceh dari asisten Sekda Aceh hingga para kepala dinas, di Ruang VIP Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Pemerintah Aceh selayaknya memberikan perhatian maksimal kepada mereka yang telah membawa harum nama Aceh di tingkat nasional. [Murizal Hamzah]

Aktivitas Sabtu Pagi1. Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman; 2. Diskusi penguatan media dan imam;3. Silaturrahim d...
03/10/2026

Aktivitas Sabtu Pagi
1. Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman;
2. Diskusi penguatan media dan imam;
3. Silaturrahim dengan senior (Tgk M Nur) dari Balohan Sabang;
4. Silaturrahim di warkop.

Foto: NA Riya Ison

Salam Prestasi MTQN Aceh, Jangan Berhenti di MimbarAlhamdulillah, kafilah Aceh menorehkan capaian membanggakan pada Musa...
02/10/2026

Salam

Prestasi MTQN Aceh, Jangan Berhenti di Mimbar

Alhamdulillah, kafilah Aceh menorehkan capaian membanggakan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ###I Tahun 2026 di Semarang. Aceh berhasil menempati peringkat keempat juara dengan 99 poin—prestasi terbaik dalam 23 tahun terakhir. Sebanyak 10 gelar juara dan 11 juara harapan berhasil diraih, termasuk empat juara pertama, empat juara kedua, dan dua juara ketiga.

Capaian ini patut disyukuri dan diberikan apresiasi. Ketua Kafilah Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag. MAP, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh, official, peserta, pelatih, pembina, serta masyarakat Aceh yang terus memberikan dukungan. Kerja keras seluruh kafilah kali ini telah membawa nama Aceh kembali diperhitungkan di panggung MTQ Nasional.

Namun, prestasi tidak boleh berhenti pada ucapan selamat, seremoni, dan foto bersama. Aceh tidak boleh lengah. Justru setelah mimbar ditinggalkan, pekerjaan sesungguhnya dimulai.

Aceh harus menjadikan capaian kali ini sebagai pijakan kuat untuk membangun sistem pembinaan Al-Qur’an yang lebih serius, terukur, dan berkelanjutan. Apalagi pada tahun 2028 nanti, Aceh akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Momentum tersebut harus disiapkan sejak sekarang, bukan ketika acara sudah di depan mata dengan persiapan ala kadarnya.

Dari dulu, modal Aceh dalam menjaring talenta musabaqah sebenarnya sangat kuat. Ribuan dayah, lembaga pendidikan Al-Qur’an, dan pusat pembinaan tersebar di berbagai pelosok. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara terarah melalui sinergi Pemerintah Aceh, LPTQ, Kementerian Agama, dayah, lembaga pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan.

Ke depan, pembinaan berkelanjutan, dengan dukungan anggaran oleh Pemerintah Daerah yang memadai, peningkatan kualitas pelatih, serta penguatan tim official harus menjadi agenda serius.

Peringkat keempat adalah kabar baik. Tetapi target berikutnya harus lebih tinggi. Semoga Aceh mampu mempertahankan prestasi, tahun depan dapat menembus tiga besar, dan pada tahun 2028 saat Aceh menyandang status tuan rumah sebagai momentum untuk menghadirkan prestasi terbaik: juara umum. Insyaallah. (JUNIAZI YAHYA)

Wawancara Dr. Tgk. H. Hajarul Akbar, MAKetua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) AcehAlhamdulillah, Prestasi Ac...
02/10/2026

Wawancara

Dr. Tgk. H. Hajarul Akbar, MA
Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Aceh

Alhamdulillah, Prestasi Aceh di MTQN 2026 Melampaui Target

Bagaimana Anda melihat prestasi kafilah Aceh pada MTQN ###I Tahun 2026 di Semarang?

Alhamdulillah, prestasi kafilah Aceh pada MTQN kali ini benar-benar di luar ekspektasi kita. Secara pribadi, saya sangat terkejut sekaligus bersyukur melihat hasil yang dicapai. Apalagi saya sebagai Ketua LPTQ Aceh belum genap dua bulan menerima SK dari Gubernur Aceh.

Tentu prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi kita semua. Apa yang sudah dicapai harus kita pertahankan dan, kalau memungkinkan, terus kita tingkatkan pada MTQ berikutnya.

Menurut Anda, apa yang menjadi faktor utama meningkatnya prestasi Aceh kali ini?

Kalau melihat dari sisi kesiapan kafilah, sebenarnya persiapan MTQ hampir setiap tahun relatif sama. Namun, saya melihat tahun ini para peserta memiliki motivasi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Motivasi itu tentu tidak muncul begitu saja. Ada kerja keras dan dukungan dari banyak pihak, baik Pemerintah Aceh, Dinas Syariat Islam maupun LPTQ Aceh. Sinergi dan semangat bersama inilah yang menurut saya menjadi salah satu faktor penting di balik pencapaian tahun ini.

Sejauh mana dukungan Pemerintah Aceh terhadap pembinaan kafilah selama ini?

Kalau dukungan secara moril, saya melihat Pemerintah Aceh sudah sangat bagus. Namun, dari sisi materi, menurut saya dukungannya masih belum sepenuhnya utuh.

Karena itu, ke depan pembinaan perlu dilakukan secara lebih terukur, terorganisir dan profesional. Kita tidak boleh hanya mempersiapkan kafilah menjelang pelaksanaan MTQ. Pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan program yang jelas, sehingga potensi para peserta dapat dikembangkan secara maksimal.

Setelah berhasil menempati peringkat keempat tahun ini, bagaimana target Aceh untuk MTQN berikutnya?

Saya masih tetap pada target awal. Tahun ini target kita sebenarnya masuk 10 besar, kemudian pada 2027 targetnya lima besar, dan pada 2028, saat Aceh menjadi tuan rumah MTQ, targetnya tiga besar.

Alhamdulillah, tahun ini kita justru melampaui target tersebut dengan sangat jauh. Karena itu, untuk tahun depan kita tetap menargetkan Aceh masuk lima besar. Kalau kita bisa mempertahankan posisi lima besar, meskipun secara peringkat turun dari tahun ini, bagi kami itu tetap merupakan pencapaian target. Syukur-syukur kita bisa kembali menembus tiga besar.

Bagaimana dengan target juara umum pada MTQN 2028 ketika Aceh menjadi tuan rumah?

Saya tidak ingin berandai-andai terlalu jauh mengenai juara umum pada MTQN 2028. Kalau ada yang bisa menjamin Aceh menjadi juara umum, tentu itu sangat hebat. Tetapi saya lebih memilih berbicara tentang proses dan persiapan.

Kita akan mempersiapkan kafilah Aceh sebaik mungkin. Pelatihan dan training center (TC) harus dirancang secara terorganisir, terukur dan berkesinambungan. Dengan persiapan yang matang, kita berharap para peserta dapat tampil maksimal ketika bertanding nanti.

Sebagai tuan rumah MTQN 2028, apa yang sedang dipersiapkan LPTQ Aceh bersama Pemerintah Aceh?

Persiapan MTQN 2028 tentu membutuhkan perencanaan yang matang dan dilakukan sejak jauh-jauh hari. LPTQ Aceh bersama Pemerintah Aceh terus melakukan komunikasi dan koordinasi untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan penyelenggaraan.

Kita ingin event ini dipersiapkan secara terencana, bukan secara mendadak. Karena itu, koordinasi dan komunikasi antarpihak akan terus kita perkuat. Di sisi lain, pembinaan kafilah juga harus berjalan beriringan, sehingga ketika Aceh menjadi tuan rumah pada 2028, kita tidak hanya siap sebagai penyelenggara, tetapi juga memiliki kafilah yang benar-benar siap bertanding. (Juniazi Yahya)

LAPORAN UTAMA: ACEH GEMILANG DI SEMARANGDari Empat Besar Menuju Sukses Panggung MTQN 2028Malam penutupan MTQ Nasional XX...
02/10/2026

LAPORAN UTAMA:

ACEH GEMILANG DI SEMARANG
Dari Empat Besar Menuju Sukses Panggung MTQN 2028

Malam penutupan MTQ Nasional ###I Tahun 2026 di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Sabtu malam (19/9/2026), menjadi momentum penuh haru dan sukacita bagi seluruh masyarakat Aceh.

Rasa syukur bergema takbir bersahutan saat pengumuman peringkat dibacakan. Bukan karena berada di puncak klasemen tertinggi, melainkan sebuah penantian panjang yang akhirnya terbayarkan. Nama Aceh kembali berdiri tegak di papan atas syiar Al-Qur’an tingkat nasional.

Sebanyak 99 poin mengantarkan Kafilah Aceh menempati peringkat keempat bersama Provinsi Jawa Timur. Di atasnya, berturut-turut Kalimantan Timur dengan 288 poin, tuan rumah Jawa Tengah dengan 208 poin, dan DKI Jakarta dengan 129 poin.

Bagi Aceh, angka 99 bukan sekadar statistik di atas papan skor. Capaian ini merupakan prestasi terbaik Tanah Rencong dalam 23 tahun terakhir, saat Aceh menduduki posisi serupa pada MTQ Nasional 2003 silam.

Malam Sukacita

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, yang akrab disapa Dek Fadh, hadir langsung menyaksikan penutupan resmi yang dipimpin oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Sebelum malam puncak, Wagub sempat menyambangi pemondokan kafilah di Hotel Ibis Styles Simpang Lima, Semarang. Di hadapan para peserta, pelatih, pembina, dan ofisial, ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas perjuangan tanpa lelah mereka di arena musabaqah.

Sebagai wujud kebanggaan dan apresiasi spontan, Dek Fadh memberikan bonus pribadi sebesar Rp 200 juta tunai untuk mendukung kafilah.

"Namun ingat, ini bukan akhir dari segalanya. Pembinaan generasi Qur’ani harus terus kita perkuat di daerah agar prestasi yang telah diraih dengan susah payah ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan," pesan Dek Fadh.

Bukan Hasil Kebetulan

Di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu MTQ Nasional, ada proses panjang dan sunyi yang tidak terlihat oleh publik. Ada air mata, keringat, dan kenyamanan hidup yang harus dikorbankan.

Perjuangan ini melibatkan dedikasi tanpa batas, peserta yang rela berlatih berjam-jam setiap hari, pelatih yang jeli mengoreksi setiap ketukan harakat dan irama lagu, serta pembina yang menjaga ketangguhan mental mereka, bergerak harmonis bersama ofisial yang memastikan urusan logistik dan akomodasi kafilah terpenuhi sempurna.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh sekaligus Ketua Kafilah Aceh, Dr. Tgk. H. Misran Fuadi, S.Ag., MAP, menegaskan bahwa kesuksesan di Semarang adalah hasil murni dari kerja kolektif yang solid.

Sistem pembinaan dilakukan secara ketat melalui empat tahapan Training Center (TC). Tahap pemantapan terakhir bahkan sengaja dilaksanakan langsung di Jakarta dengan melibatkan pelatih-pelatih berkaliber nasional sebelum kafilah bertolak menuju Jawa Tengah.

Sinergi yang kuat antara Dinas Syariat Islam, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ), dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh menjadi pilar utama di balik kesiapan matang ini.

Prestasi ini menjadi energi positif untuk menatap agenda berikutnya. Terlebih, Aceh akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-33 pada 2028. Dukungan pemerintah dan kolaborasi semua pihak perlu terus diperkuat.

Buah dari proses panjang tersebut menjelma menjadi 10 gelar juara utama, yang terdiri dari empat Juara I, empat Juara II, dan dua Juara III. Tidak hanya itu, Aceh juga sukses membawa p**ang 11 predikat juara harapan.

Penantian Panjang yang Terbayar

Kemenangan Aceh di Semarang terasa sangat emosional karena beberapa cabang berhasil memecahkan rekor kebuntuan sejarah yang berlangsung selama puluhan tahun.

Menurut Pimpinan Dayah Insan Qur’ani Aceh Besar, Ustaz H. Muzakkir Zulkifli, S.Ag., torehan Juara I yang diraih kali ini memiliki catatan historis yang sangat monumental bagi Bumi Serambi Mekkah.

Pada cabang Fahmil Qur’an, kafilah Aceh sukses menyabet Juara I setelah menanti selama 45 tahun, terhitung sejak cabang tersebut pertama kali diperlombakan secara nasional pada tahun 1981. Pada cabang Tilawah Remaja Putra, gelar Juara I akhirnya kembali ke pangkuan Aceh setelah penantian selama 57 tahun semenjak cabang remaja ini mulai diperkenalkan pada MTQ Nasional kedua tahun 1969.

Sejarah baru juga tercipta pada cabang Tahfizh 30 Juz Putri. Delegasi Aceh berhasil keluar sebagai Juara I setelah berjuang selama 54 tahun sejak pertama kali cabang tersebut dikompetisikan pada tahun 1972. Terakhir, cabang Tafsir Bahasa Indonesia turut menggenapi catatan sejarah dengan meraih Juara I setelah menanti selama 32 tahun.

Kontribusi Sektor Pendidikan dan Lembaga Dayah

Kesuksesan besar ini juga tidak lepas dari andil lembaga pendidikan Islam di Aceh, salah satunya Dayah Insan Qur’ani. Lembaga ini menjadi salah satu lumbung penyuplai banyak peserta bagi Kafilah Aceh. Dari total 99 poin yang dikumpulkan Aceh di Semarang, santri Dayah Insan Qur’ani menyumbangkan 26 poin melalui raihan Juara I Fahmil Qur’an Putri, Juara II Syarhil Qur’an Putra, Juara II Qiraat Murattal Remaja Putra, dan Juara Harapan I 5 Juz Tilawah Putri.

Ustaz Muzakkir menekankan bahwa bakat alami hanya sebuah potensi mentah. Potensi tersebut tidak akan bertransformasi menjadi prestasi tanpa adanya sistem pembinaan yang berkelanjutan dan terarah sejak dini. Peserta Fahmil Qur’an, sebagai contoh, sudah mulai digembleng secara konsisten sejak mereka masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Harapan Menuju 2028

Pada Senin (21/9/2026), rombongan Kafilah Aceh tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda dan disambut langsung oleh jajaran Pemerintah Aceh di ruang VIP bandara. Asisten Bidang Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Aceh, Syakir, mengungkapkan rasa syukur mendalam karena capaian kafilah jauh melampaui target awal pemerintah yang semula hanya membidik posisi 10 besar.

Namun, kep**angan ini justru menandai awal dari pekerjaan rumah yang jauh lebih masif. Provinsi Aceh telah resmi ditunjuk untuk mengemban amanah besar sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional ###II pada tahun 2028 mendatang. Sebagai tuan rumah berarti Aceh harus memenuhi dua target, yakni sukses secara manajemen penyelenggaraan dan sukses prestasi.

Humas Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Said Mulyadi, mengingatkan bahwa pemerintah daerah harus segera menyusun persiapan yang matang dari sekarang, terutama menyangkut aspek pelayanan bagi tamu-tamu dari luar daerah.

Ketersediaan tempat pemondokan kafilah yang memadai, higienis, dan nyaman merupakan kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Selain itu, kawasan kuliner lokal harus mulai ditata dengan memberikan pembekalan dan arahan kepada para pelaku usaha agar menyajikan makanan yang berkualitas dengan mengedepankan standar kebersihan tinggi serta keramahtamahan khas masyarakat Aceh.

Dari sisi teknis kepesertaan, Said Mulyadi juga menegaskan bahwa langkah strategis untuk melahirkan Qari dan Qariah terbaik di rumah sendiri harus segera dimulai. Aceh membutuhkan persiapan tenaga pembimbing dan pelatih yang betul-betul kompeten serta memiliki jam terbang tinggi di panggung MTQ tingkat nasional.

Evaluasi total dari hasil di Semarang harus dijadikan cetak biru (blueprint) guna merancang program pembinaan jangka panjang yang lebih terukur, terstruktur, dan komprehensif demi menjaga marwah Aceh di panggung MTQ Nasional 2028.[]

PANDUAN TALK SHOWPERBINCANGAN SABTU PAGI – RADIO BAITURRAHMAN FM 98,5Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Oktober 2026Pukul: 07.00–07....
02/10/2026

PANDUAN TALK SHOW
PERBINCANGAN SABTU PAGI – RADIO BAITURRAHMAN FM 98,5

Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Oktober 2026
Pukul: 07.00–07.30 WIB
Topik: Masjid, dari Tempat Sujud Menjadi Pusat Kemandirian
Narasumber
• Juniazi Yahya – Pemimpin Redaksi Gema Baiturrahman
• Dr. H. Basri A. Bakar, M.Si. – Ketua Pengurus KSPPS Baitul Qiradh Baiturrahman

Pengantar Topik
Gema Baiturrahman mengangkat Laporan Utama “Masjid, dari Tempat Sujud Menjadi Pusat Kemandirian” untuk menggali kembali potensi masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pemberdayaan umat. Masjid memiliki jamaah, dana umat, aset, tanah wakaf, dan jaringan sosial yang besar. Potensi tersebut dapat dikembangkan agar masjid tidak hanya mampu membiayai kebutuhan operasionalnya, tetapi juga berkontribusi terhadap kemandirian ekonomi jamaah.

Pengalaman KSPPS Baitul Qiradh Baiturrahman dapat menjadi salah satu inspirasi bagaimana ekosistem masjid dikembangkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.
_____________________________________
PERTANYAAN TALK SHOW
Untuk Juniazi Yahya
1. Gema Baiturrahman memilih tema “Masjid, dari Tempat Sujud Menjadi Pusat Kemandirian”. Apa yang melatarbelakangi Laporan Utama ini, dan persoalan apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat?
2. Masjid memiliki jamaah, dana umat, tanah wakaf, dan berbagai aset lainnya. Mengapa potensi tersebut belum banyak dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan pemberdayaan umat?
3. Ketika kita berbicara tentang “masjid sebagai pusat kemandirian”, sebenarnya seperti apa konsep yang dimaksud? Apakah masjid harus memiliki usaha sendiri atau cukup menjadi pusat yang menggerakkan berbagai potensi ekonomi jamaah?

Untuk Dr. H. Basri A. Bakar
4. Baitul Qiradh Baiturrahman dapat menjadi salah satu contoh pemberdayaan ekonomi yang tumbuh dari lingkungan umat. Dari pengalaman BQB, bagaimana masjid dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi jamaah dan masyarakat?
5. Kalau sebuah masjid ingin mulai mandiri secara ekonomi, dari mana sebaiknya dimulai? Apakah dari pengelolaan wakaf dan aset, unit usaha, koperasi, pengembangan dana umat, atau kemitraan dengan lembaga ekonomi syariah?
6. Salah satu persoalan pengelolaan masjid adalah banyak pengurus bekerja secara sukarela. Apa dampaknya jika pengelolaan masjid yang semakin kompleks tetap sepenuhnya mengandalkan tenaga sukarela? Sejauh mana profesionalisme diperlukan?

Dialog Bersama
7. Apakah profesionalisasi pengelolaan masjid harus berarti pengurus diberi honor dan masjid menjalankan kegiatan bisnis? Bagaimana menjaga keseimbangan antara profesionalisme, amanah, keikhlasan, dan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah?
8. Jika kita ingin masjid di Aceh bergerak menuju kemandirian, apa langkah paling realistis yang bisa dilakukan mulai sekarang, baik oleh pengurus masjid, jamaah, maupun lembaga ekonomi umat?
_____________________________________
PENUTUP
Pertanyaan pamungkas kepada kedua narasumber:
“Masjid yang memiliki jamaah, aset, wakaf, dan dana umat seharusnya tidak hanya bertanya bagaimana membiayai masjid, tetapi juga bagaimana masjid memberi manfaat ekonomi kepada jamaah. Apa pesan Anda kepada pengurus masjid di Aceh untuk memulai perubahan tersebut?”

Alur Waktu 30 Menit
• 07.00–07.03 — Pembukaan dan pengantar tema
• 07.03–07.10 — Pertanyaan 1–3: latar belakang dan gagasan Gema
• 07.10–07.20 — Pertanyaan 4–6: pengalaman BQB dan model kemandirian
• 07.20–07.27 — Pertanyaan 7–8: profesionalisme dan langkah konkret
• 07.27–07.30 — Pesan penutup kedua narasumber dan closing host

Catatan untuk host: Tidak perlu membacakan seluruh pertanyaan secara kaku. Jika jawaban narasumber sudah mencakup subtopik pertanyaan berikutnya, host dapat langsung mengembangkan jawaban tersebut agar diskusi terasa alami dan waktu 30 menit tetap terjaga.

Banda Aceh, 2 Oktober 2026
Disiapkan oleh Abu SMH atas bantuan ChatGPT

SalamJangan Biarkan Masjid Kehilangan Generasi MudanyaMasjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk sh...
02/10/2026

Salam

Jangan Biarkan Masjid Kehilangan Generasi Mudanya

Masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk shalat, lalu p**ang tanpa membawa perubahan. Di tengah derasnya arus zaman, masjid dituntut hadir lebih jauh: menjadi rumah bagi ilmu, pembentukan karakter, kreativitas, solidaritas, sekaligus pemberdayaan generasi muda.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: sudahkah masjid kita benar-benar menjadi ruang yang ramah bagi anak muda?

Kita generasi tua kerap mengeluhkan generasi muda yang lebih akrab dengan media sosial, nongkrong di cafe dan senang hura-hura. Namun, sebelum menyalahkan mereka, barangkali kita perlu bertanya lebih jujur: apa yang telah kita tawarkan kepada mereka di masjid?

Remaja masjid jangan cuma ditempatkan sebagai panitia kegiatan keagamaan atau pelaksana acara seremonial semata. Sudah saatnya mereka dipercaya menjadi penggagas, pengelola, bahkan pemimpin kegiatan. Sebab, regenerasi tidak lahir dari sekadar melibatkan anak muda, tetapi dari keberanian memberi mereka ruang untuk mengambil peran dan keputusan.

Badan Kemakmuran Masjid, tokoh agama, dan masyarakat kiranya perlu mengubah cara pandang. Masjid harus membuka ruang diskusi, literasi, pelatihan kewirausahaan, olah raga atau bahkan seni, hingga kajian keislaman yang kreatif dan relevan dengan kehidupan generasi muda. Media digital pun semestinya dimanfaatkan di masjid sebagai jembatan dakwah, bukan dianggap sebagai ancaman.

Masjid juga perlu belajar mendengar suara anak muda: kegelisahan mereka, cita-cita mereka, serta tantangan yang mereka hadapi. Ketika anak muda dan remaja merasa dihargai, didengar, dan dipercaya, masjid tidak lagi sekadar bangunan tempat ibadah semata, tetapi menjadi rumah kedua yang mereka cintai dan perjuangkan.

Di sinilah pentingnya regenerasi. Jangan sampai masjid ramai oleh generasi tua, tetapi sunyi dan sepi dari suara anak muda.

Sebab, masjid yang kehilangan generasi mudanya bukan sekadar kehilangan jamaah masa depan. Ia sedang memutus mata rantai perjuangan. Pastikan, menghidupkan generasi muda masjid hari ini berarti memastikan masjid tetap hidup esok hari. (JUNIAZI YAHYA)

WawancaraJangan Biarkan Masjid Kehilangan Generasi MudanyaRemaja masjid perlu kembali ditempatkan sebagai bagian penting...
02/10/2026

Wawancara

Jangan Biarkan Masjid Kehilangan Generasi Mudanya

Remaja masjid perlu kembali ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan masjid. Lantas, apa yang harus dilakukan agar generasi muda kembali menjadikan masjid sebagai rumah kedua mereka? Berikut pandangan Dr. Muhammad Syuib, MH, M.Leg.St, akademisi UIN Ar-Raniry dan pengamat sosial keagamaan.

Seberapa penting keberadaan remaja masjid bagi keberlanjutan pengelolaan masjid?

Remaja masjid merupakan kader dan calon pengurus masjid di masa depan. Keberadaan mereka sangat penting karena keberlanjutan pengelolaan masjid bergantung pada proses regenerasi yang baik. Pengurus masjid hari ini pada dasarnya adalah remaja masjid pada masanya. Begitu p**a remaja masjid sekarang kelak akan menjadi pengurus berikutnya.

Karena itu, mereka perlu dibekali pengetahuan, pengalaman, kepedulian, serta kemampuan mengelola masjid. Dengan demikian, fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan keumatan dapat terus berjalan dan berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Bagaimana kondisi keterlibatan remaja dan pemuda dalam kegiatan masjid di Aceh saat ini?

Geliat remaja masjid di Aceh saat ini mulai terasa berkurang. Berdasarkan beberapa penelitian dan laporan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa UIN Ar-Raniry, misalnya, minat sebagian remaja dan pemuda untuk menjadikan masjid sebagai “rumah kedua” mulai menurun. Dalam satu kampung, keterlibatan pemuda yang aktif dalam kegiatan remaja masjid bahkan ditemukan hanya sekitar 20 persen.

Memang, tanpa kehadiran mereka kegiatan masjid tetap berjalan, seperti salat berjamaah, maulid, dan kegiatan keagamaan lainnya. Namun, jika kondisi ini dibiarkan, keterikatan dan kecintaan generasi muda terhadap masjid bisa semakin melemah. Di sinilah persoalan regenerasi masjid perlu mendapat perhatian serius.

Mengapa kondisi remaja masjid sekarang berbeda dengan era 1990-an?

Situasi sosial telah banyak berubah. Pada era 1990-an, masjid dan meunasah tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, bercengkerama, dan merancang berbagai kegiatan bersama. Interaksi pemuda dengan masjid terasa lebih kuat.

Sekarang, perkembangan teknologi digital menghadirkan banyak pilihan ruang interaksi bagi generasi muda. Masjid tidak bisa hanya mempertahankan pola lama, tetapi perlu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat.

Apa yang perlu dilakukan agar masjid kembali menjadi magnet bagi generasi muda?

Kita perlu menghidupkan kembali semangat remaja masjid dengan menjadikan masjid sebagai ruang yang dekat dengan kehidupan mereka. Masjid harus menjadi tempat untuk beribadah, belajar, berdiskusi, berkarya, sekaligus membangun persaudaraan.

Karena itu, revitalisasi remaja masjid perlu dilakukan dengan memberikan ruang partisipasi, kepercayaan, dan kesempatan kepada mereka. Mereka jangan hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga dilibatkan dalam merancang dan melaksanakan program. Dengan cara itu, mereka akan merasa bahwa masjid adalah bagian dari kehidupan mereka.

Siapa yang bertanggung jawab atas menurunnya aktivitas remaja masjid?

Persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada remaja. Ada tanggung jawab bersama dari BKM, tokoh masyarakat, orang tua, dan seluruh jamaah untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan generasi muda tumbuh bersama masjid. Mereka harus benar-benar diberi peran dan kepercayaan dalam segala aktifitas di masjid.

Apa indikator keberhasilan revitalisasi remaja masjid?

Revitalisasi remaja masjid bukan sekadar menghidupkan kembali kegiatan, tetapi membangun kembali hubungan emosional dan sense of belonging generasi muda terhadap masjid.

Keberhasilannya dapat dilihat ketika generasi muda kembali menjadikan masjid sebagai bagian penting dari kehidupan mereka. Mereka datang, beraktivitas, berkarya, dan terlibat bukan semata-mata karena diperintah, tetapi karena merasa memiliki dan mencintai masjid. (Juniazi Yahya)

Address

Kota Banda
Banda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gema Baiturrahman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share