02/08/2026
Kubah:
Muhammad Nasir, S.IP., MPA, Sekretaris Daerah Aceh
Menggerakkan Aceh dari Balik Layar
Di tengah sorotan publik terhadap dinamika pemerintahan dan penanganan bencana di Aceh, nama Muhammad Nasir tampil sebagai sosok yang bekerja tanpa banyak gemuruh. Sebagai Sekretaris Daerah Aceh, ia lebih memilih memastikan roda birokrasi berjalan efektif daripada mengejar pop**aritas di ruang publik. Baginya, hasil kerja adalah bahasa yang paling meyakinkan.
"Yang penting doakan kami sukses mengurus Aceh ini. Kami bukan orang politik, kami orang kerja di balik layar membantu Gubernur dan Wakil Gubernur," ujar Nasir yang didampingi Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man), Juru Bicara Pemerintah Aceh, saat menerima jurnalis Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya dan Sayed Muhammad Husen, di ruang kerjanya, Selasa (28/7/2026).
Kalimat itu mencerminkan karakter kepemimpinannya. Tenang, sederhana, tetapi sarat tanggung jawab. Sejak dilantik sebagai Sekretaris Daerah Aceh pada 15 Agustus 2025, Nasir memegang peran sentral sebagai penggerak birokrasi sekaligus penghubung antara arah kebijakan kepala daerah dengan pelaksanaan di lapangan.
Kariernya dibangun melalui proses panjang sebagai birokrat profesional. Ia memulai pengabdian dari Setda Kabupaten Aceh Utara, meniti berbagai jabatan mulai dari urusan ekonomi, pemerintahan mukim dan gampong, hingga legislasi di DPR Aceh. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa pemerintahan tidak hanya membutuhkan regulasi yang baik, tetapi juga kemampuan membangun koordinasi dan kepercayaan.
Kariernya kemudian terus berkembang. Ia pernah menjabat Kasubbag Pemilu dan Pilkada pada Biro Tata Pemerintahan Setda Aceh, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Lembaga Wali Nanggroe, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, hingga dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Sekda sebelum akhirnya dilantik secara definitif.
Lulusan Administrasi Negara Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada ini juga memperkuat kapasitas kepemimpinannya melalui pendidikan strategis di Lemhannas RI. Bekal akademik dan pengalaman birokrasi tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan pemerintahan.
Ujian terbesarnya datang ketika Aceh menghadapi bencana hidrometeorologi yang melanda sebagian besar wilayah provinsi. Menurut Nasir, penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan pekerjaan besar yang memerlukan koordinasi lintas sektor dan lintas pemerintahan.
"Tidak benar jika ada anggapan bahwa rehab dan rekon sepenuhnya ditangani pusat. Pemerintah Aceh juga bekerja, mulai dari pendataan, koordinasi hingga komunikasi intensif dengan kementerian. Ini adalah kerja bersama," tegasnya.
Ia menjelaskan, seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh bergerak cepat melakukan pendataan kerusakan dan menyusun kebutuhan rehabilitasi. Komunikasi dengan pemerintah pusat, terutama Kementerian Dalam Negeri, BNPB, LKPP, serta berbagai kementerian terkait terus dilakukan agar proses penanganan berjalan sesuai ketentuan.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan kesiapan Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 triliun untuk mendukung pemulihan daerah terdampak. Namun Nasir mengingatkan, membangun kembali Aceh tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat.
"Kita bukan Aladin. Semua ada prosesnya. Undang-undang bahkan memberi waktu hingga tiga tahun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi," katanya.
Bencana yang melanda 18 kabupaten/kota, 203 kecamatan, dan lebih dari 3.000 gampong itu telah meninggalkan kerusakan luas pada permukiman, lahan pertanian, jaringan irigasi, jalan, hingga fasilitas publik. Karena itu, menurutnya, setiap tahapan harus dilakukan secara terukur agar hasilnya benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Di tengah kritik yang muncul, Nasir memilih menjadikannya sebagai energi untuk terus memperbaiki kinerja birokrasi.
"Penilaian masyarakat menjadi cambuk bagi kami untuk bekerja lebih baik. Yang terpenting adalah tetap profesional, transparan, dan tidak berhenti mencari solusi," ungkap penerima penghargaan Tokoh Inspiratif Nasional 2026 dan Mitra Pers Terbaik 2026 itu.
Bagi Muhammad Nasir, kepemimpinan bukanlah tentang seberapa sering tampil di hadapan publik, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Dari balik meja koordinasi, ruang rapat, dan berbagai keputusan strategis yang jarang terlihat, ia terus menggerakkan mesin pemerintahan agar tetap bekerja. Sebab, menurutnya, birokrasi yang kuat bukan diukur dari banyaknya sorotan, melainkan dari kemampuannya menghadirkan pelayanan, membangun kepercayaan, dan memastikan Aceh terus melangkah maju.*