Atjeh Media Islamic.

Atjeh Media Islamic. Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Atjeh Media Islamic., Religious organisation, Banda Aceh.

Suku Singkil adalah sebuah suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil, Sebagian Kabupaten Aceh Selatan, Sebagian Aceh ...
16/07/2021

Suku Singkil adalah sebuah suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil, Sebagian Kabupaten Aceh Selatan, Sebagian Aceh Tenggara dan kota Subulussalam, Aceh Utara di provinsi Aceh. Suku Singkil mempunyai khas tersendiri yakni yaitu termasuk peribahasa, budaya, adat dll.

Bahasa Singkil Adalah suatu bahasa mayoritas yang di gunakan di Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam dan sebagian di Kabupaten Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan. Bahasa ini bisa dikatakan mirip atau serumpun dengan bahasa Karo di provinsi Sumatra Utara. Namun bahasa Singkil mempunyai keunikan sendiri disisi lain mempunyai kosakata lainnya yang jauh berbeda dengan suku Karo serta mempunyai ciri khas seperti hurif R di ucapkan 'Kh'

Contoh:

Indonesia: Rupa
Singkil: Khupa

Suku Singkil memliliki budaya sendiri yang banyak dipengaruhi oleh tradisi keislaman. Meski serumpun, etnis ini memiliki adat dan budaya yang jauh berbeda dengan Suku Pakpak. Hal ini dikarenakan suku Singkil mayoritas menganut agama Islam sedangkan suku Pakpak mayoritas memeluk agama Kristen. Selain itu suku Singkil lebih banyak bercampur dengan etnis-etnis pendatang, seperti suku Pakpak, Karo, Aceh, Minang, Melayu dan Kluet. Jadi bisa dikatakan suku Singkil merupakan suku sendiri yang mempunyai kebudayaan, adat, budaya, bahasa, silsilah, nenek moyang/leluhur, marga sendiri dan ia suku yang mandiri. Namun suku Singkil juga telah bercampur/berasimilasi dan terjadilah kulturisasi antara suku-suku itu tadi sehingga terciptalah budaya baru tetapi marga Singkil juga telah banyak yang berkaitan dengan marga suku Batak Pakpak, suku Karo dan suku Minangkabau.

Sebagaimana halnya suku-suku di sekitarnya salah satunya Batak, etnis inipun mengenal marga yang diturunkan dari garis patrilineal (ayah). Secara umum, marga-marga yang digunakan Suku Singkil relatif sama atau mirip dengan marga-marga yang ada di Suku Batak Pakpak Namun ada juga yang mirip dengan suku Alas, suku Karo, suku Kluet, suku Gayo, suku Batak Toba dan sedikit sisanya marga-marga yang berasal dari gelar/klan Suku Aceh dan Minangkabau. Namun juga ada yang berbeda. Marga-marga yang terdapat dalam Suku Singkil di antaranya adalah

• Kombih
• Ramin
• Buluara
• Palis
• Kembang
• Bako
• Manik
• Lingga
• Pokan
• Lembong
• Barat
• Siketang
• Melayu
• Goci
• Maha
• Sambo
• Saran
• Payung
• Pardosi
• Brutu
• Cibero
• Angkat
• Bancin
• Munthe
• Atjeh
• Maha
• Padang
• Sulin
• Segala
• Tinambunen
• Pinem
• Berampu
• Kesugihen
• Ujung
• Sinaga
• Barus
• Capah

Suku Singkil beragama Islam. Agama Islam diyakini telah menyebar sejak beberapa abad. Kemudian juga dari kekuasaan kerajaan Aceh yang pernah menguasainya selama beberapa abad. Suku Singkil pernah memiliki ratusan tokoh ulama yang terkenal pada masa lalu yakni Abdurrauf Singkil atau Syekh Abdur Rauf syekh Hamzah alfanshury assingkily, kyai Singkil (pernah pernah mengabdi didemak/Banten) menjadi seorang ulama besar dan m***i di Kerajaan Aceh.

Seni dan budaya suku Singkil:

• Tari Alas
• Tari Dampeng
• Tari Barat
• Tari Sri Ndayong
• Tari Piring
• Tari Biahat (Tari Harimau)
• Tari Payung
• Tari Lelambe(Ambe-ambe)

Hukum Denda Adat, dalam masyarakat suku Singkil terdiri dari 3 tingkatan, yang disesuaikan dengan kesepakatan dan perkembangan zaman, yaitu: Denda 105, apabila seorang raja melakukan suatu kesalahan, maka hal tersebut hanya ditujukan kepada seorang raja saja.
Denda 100, apabila seorang pengulu/ kepala desa melakukan suatu kesalahan, maka hanya ditujukan kepada seorang pengulu saja.
Denda 80, apabila seseorang warga melakukan kesalahan, maka hanya ditujukan kepada seseorang warga tersebut saja.
Perkawinan, dalam adat istiadat perkawinan suku Singkil, harus dipenuhi oleh pihak laki-laki.

Beras 100 (sepuluh kaleng)

Kambing 1 ekor

Uang hangus (jumlah tidak tertentu), ada disebut dengan Khukun damae artinya kebutuhan yang dibutuhkan dengan musyawarah.

Obon (nasi kendang), yang dibawa oleh pengantin laki-laki (yang mengiringi) atau disebut dengan mengakhak dan jumlah obon 16 talam.

• Makanan tradisional
• Nditak
• Pelita Talam
• Ndalabakh
• Buah Belaka
• Nakan Nggekhsing (nasi kuning)
• Seme Malum, Cemanis (puluh bekuah)
• Ndalabakh Manuk, Cenecah

Keterampilan Tradisional, yang juga digunakan oleh mempelai laki-laki, masing-masing sebanyak 16 buah.

• Sumpit Belopepinang
• Ndulang
• Pahar

Dalam bertahan hidup pada umumnya orang Singkil pada bidang pertanian, buruh perkebunan kelapa sawit, memuat balok-balok kayu ke kapal yang akan diekspor ke luar negeri atau Jakarta.

Berapa Lama perang AceH.Kesultanan Aceh merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar yang pernah Berdiri di ujung utara ...
27/06/2021

Berapa Lama perang AceH.

Kesultanan Aceh merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar yang pernah Berdiri di ujung utara Sumatera. Kerajaan yang dijuluki sebagai Negeri Serambi Mekkah itu didirikan pada tahun 1496. Selama lebih dari 400 tahun berdiri, Kesultanan Aceh telah banyak melewati berbagai peperangan.

Salah satu perang terbesar yang pernah dilakukan Kesultanan Aceh yaitu peperangan melawan Belanda atau yang lebih dikenal dengan Perang Kaphe.

Peperangan ini telah melahirkan beberapa tokoh pejuang dari Aceh di antaranya, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tengku Cik Ditiro, dan Cut Nyak Mutia.

Sementara itu, bagi pihak Belanda, Perang ini merupakan perang terberat yang pernah dilakukannya untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Tidak seperti kerajaan yang lainnya di Nusantara, ketika istana dan raja sudah bisa ditaklukkan, maka rakyatnya juga telah berhenti melakukan perlawanan. Namun di Kesultanan Aceh, hal itu berbeda. Dengan ditaklukkannya istana dan raja, rakyat Aceh tidak berhenti melakukan perlawanan, ketika satu pemimpin perlawanan tertangkap, maka akan muncul perlawanan yang lainnya. Hal ini terjadi karena masyarakat Aceh mengobarkan perang jihat.

Begitu sulitnya Perang Aceh bagi Belanda, sampai-sampai Belanda harus mendatangkan ilmuan Snouck Hurgronje untuk mempelajari masyarakat Aceh dan Agama Islam yang merupakan pegangan utama masyarakat Aceh dalam menjalankan perang jihat. Melihat realita tersebut, Aceh merupakan wilayah terakhir yang sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda. Berapa lama sebenarnya perang ini berlangsung?

Van Heutsz sedang memperhatikan pasukannya dalam penyerangan ke Batee Iliek. Foto: wikipedia.org
Perang Aceh melawan Belanda dimulai tanggal Maret 1873, setelah Komisaris Hindia Belanda, Niewenhuyzen, mengumumkan perang terhadap Kerajaan Aceh dari geladak kapal Citadel Van Antwerpen yang berlabuh di Pantai Ulele.

Perbedaan pandangan mengenai berakhirnya Perang Aceh belum dapat dipecahkan. Van Swieten menganggap Aceh sudah takluk setelah keraton Aceh jatuh di awal tahun 1874, bahkan hal ini telah diumumkan ke seluruh dunia. Van Swieten beranggapan bahwa ketika kraton jatuh dan raja mangkat, maka rakyat akan takluk.

Van Swieten keliru, perjuangan rakyat Aceh tidak bergantung pada istana dan sultan. Istana boleh hancur, sultan boleh gugur, namun kemerdekaan, keadilan, dan keyakinan akan dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ahli sejarah Belanda ada yang berpendapat bahwa perang Aceh melawan Belanda berakhir pada tahun 1903, setelah sultan Aceh terakhir, Alaiddin Muhammad Daud Syah, turun tahta bersama Panglima Polem. Ada juga yang berpendapat bahwa Perang ini berakhir pada tahun 1912, 1913, 1916, dan 1917.

Namun, para ahli sejarah cenderung menyetujui pendapat Paul Van Veer, seorang penulis Belanda. Dalam buku De Atjeh Oorlog, Van Veer menulis bahwa perang tersebut baru berakhir pada waktu Belanda dikalahkan oleh Jepang pada tahun 1942.

“Dengan pandangan ini, maka perang Belanda di Aceh berlangsung dari tanggal 26 Maret 1873 sampai Maret 1942, suatu perlawanan yang cukup panjang (selama 69 tahun) dan melelahkan,” tulis Drs M. Thamrin Z, mantan Kepala Perpustakaan Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh dalam makalahnya yang berjudul “Peranan Aceh Selatan dalam Perang Kemerdekaan Aceh.” Makalah ini disampaikan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Aceh di Tapaktuan, aceh selatan pada bulan Mei 1989.

Baju adat suku Alas Aceh tenggara
27/06/2021

Baju adat suku Alas Aceh tenggara


Perjuangan Sisingamangaraja Xll Dan Para Panglima Perang Aceh DarussalamSaat seluruh nusantara telah di kuasai serta tun...
27/06/2021

Perjuangan Sisingamangaraja Xll Dan Para Panglima Perang Aceh Darussalam

Saat seluruh nusantara telah di kuasai serta tunduk dalam aturan Belanda tinggallah Tanah Batak dan Aceh yang tidak pernah di kuasai Belanda karena kegigihan para pejuangnya

Dada Meuraxa (1973:524) dalam Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara (1973) menyebut Raja Negeri Toba sebelumnya, yakni Sisingamangaraja XI (ayahanda Sisingamangaraja XII), pernah menetap di tanah rencong dan mendapatkan didikan militer dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Dalam buku Perang Batak: Perang Sisingamangaradja (1972) karya O.L Napitupulu, disebutkan bahwa upaya penolakan Kristenisasi di Batak dilakukan Sisimangaraja dengan cara mengusir zending (organisasi penyebar agama Kristen) yang memaksakan agama Kristen kepada rakyat Batak pada 1877.

Menanggapi tindakan pengusiran oleh Sisingamangaraja, pemerintah Kolonial Belanda melakukan tindakan tegas untuk melindungi para Misionaris.

Pada 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja (pedalaman Sumatra Utara) dan bergabung dengan kaum misionaris Belanda.

Kedatangan tentara Belanda di wilayah Batak telah memprovokasi Sisingamangara sehingga ia mengumumkan perang pada 16 Februari 1878 dengan melakukan penyerangan ke pos-pos Belanda di Bahal Batu.

Sisingamangaraja bergabung dengan pejuang Aceh pada Desember 1878 untuk melakukan perlawanan keras terhadap Belanda.

Kabar Sisingamangaraja XII seorang muslim sempat diembuskan justru oleh penginjil Kristen. Mereka yakin Sisingamangaraja XII memeluk Islam karena Negeri Toba menjalin kerjasama erat dengan Kesultanan Aceh Darussalam untuk menghadapi Belanda sekaligus membendung masuknya ajaran kristen yang di bawa misionaris Belanda ke Tanah Batak.

Raffles juga pernah menyinggung kemungkinan ini meski tidak secara gamblang. Ia menyebut jika kekuatan Islam antara Minangkabau dan Aceh bersatu, maka akan menjadi ancaman sangat serius bagi kekuasaan Belanda karena kerajaan Toba adalah jembatannya, oleh sebab itu Belanda sangat menggencarkan Kristenisasi melalui para Misionarisnya untuk mematahkan jembatan penghubung antara Aceh, Toba dan Kesultanan Pagaruyung yang bertautan dengan Negeri Toba.

dilaporkan:

“Bahwa sudah pasti S.S.M. (Sisingamangaraja XII) yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya (Menurut Belanda).” (Walter Bonar Sidjabat, Ahu Si Singamangaraja, 1983:340)
Dalam laporan lain, Sisingamangaraja XII juga diyakini telah memeluk agama Islam.

Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada 17 Juni 1907, Ia kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI pada 19 November 1961.

Sisingamangaraja Xll dan rakyat Batak tidak berjuang sendiri banyak panglima-panglima Aceh juga berjuang di sisinya sampai titik darah penghabisan di tanah Toba.

Ayahnya Sisingamangaradja XI mengirim Sisingamangaradja XII ke Aceh, disanalah ia menimba ilmu agama islam, politik dan ilmu militer yang kemudian dipergunakan untuk melatih pemuda Batak dan melawan penjajah Belanda

Aliansi Sisingamangaraja dan Aceh mampu menduduki wilayah pedalaman Sumatera Utara, namun saat masuk wilayah kota pasukan ini dapat dipukul mundur oleh Belanda.

Perang Batak antara pasukan Sisingamangaraja dan Belanda berjalan seimbang selama tahun-tahun 1880-an. Serangan Sisingamaraja pada Agustus 1889 mampu meduduki daerah Lobu Talu dan membunuh beberapa tentara Belanda.

Namun pendudukan Lobu Talu tidak berlangsung lama karena Belanda kembali mendatangkan bantuan dari Padang untuk merebut kembali Lobu Talu dari tangan Sisingamangaraja.

Perlawanan Sisingamagaraja dalam Perang Batak mulai meredup semenjak wilayah Huta Paong diduduki oleh Belanda pada September 1889.

Pasca pendudukan Huta Paong, Belanda terus memburu Sisingamangaraja dan pasukannya hingga terjadi pertempuran di daerah Tamba.

Dalam pertempuran tersebut pasukan Batak mengalami kekalahan dan melarikan diri menuju daerah Horion.

Belanda terus melacak arah pelarian Sisingamangaraja dan pasukannya. Bahkan, pihak Belanda menggunakan orang-orang dari Senegal, Afrika untuk membantu pelacakan.

Tahun 1907, Belanda mampu mengepung Sisingamangaraja XII di daerah Dairi, namun ia tak mau menyerahkan diri. Sisingamangaraja beserta pasukannya bertarung hingga titik darah penghabisan dan meninggal pada pengepungan tersebut.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Tongkat peninggalan seorang ulama kharismatik Kesultanan Atjeh Dar aL salam milik teungku chik di reube mansur yang pern...
27/06/2021

Tongkat peninggalan seorang ulama kharismatik Kesultanan Atjeh Dar aL salam milik teungku chik di reube mansur yang pernah merantau dan berdakwah serta mengislamkan sulawesi dan makasar orang makasar menyebut beliau dengan istilah daim atau penolong sewaktu belanda berperang dengan orang makasar beliau turut berperang yang di kemudian hari nama beliau berubah menjadi daeng kemudian setelah naik haji beliau tidak kembali ke makasar tetapi menetap di pidie, Atjeh.

Sejarah Islam dan Peninggalan Bersejarah di Tamiang.Seluruh etnis di nusantara memiliki peninggalan dalam bentuk materil...
20/06/2021

Sejarah Islam dan Peninggalan Bersejarah di Tamiang.

Seluruh etnis di nusantara memiliki peninggalan dalam bentuk materil maupun moril yang diwariskan masing-masing leluhur mereka. Peninggalan dalam bentuk moril berupa makam batu yang dalam kajian antropologi dinamakan punden berundak, perkakas seperti kapak genggam, dan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding gua-gua.

Sedangkan peninggalan dalam bentuk moril berupa pesan, ajaran, dan nasehat yang disampaikan secara lisan turun temurun. Perjalanan sejarah manusia diawali setelah manusia mengenal tulisan, sementara sebelumnya adalah zaman pra sejarah. Tamiang satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang banyak menyimpan peninggalan sejarah yang hingga kini masih bisa disaksikan.

Namun sayangnya peninggalan tersebut banyak yang terlantar dan kurang perhatian dari pemerintah maupun instansi yang terkait yang menangani kebudayaan. Di bawah ini saya menampilkan peninggalan sejarah makam Raja Tamiang saya lupa nama Rajanya siapa makamnya terletak tepatnya di pinggiran Alur Pika kampung Tanjung Gelumpang Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang dan ada juga bangunan peninggalan sejarah di Kampung Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang seperti penjara bawah tanah, tempat pemandian, balai pertemuan, dan gudang logistik. Semua peninggalan ini berasal dari zaman Belanda.

Tetapi sangat disayangkan karena seluruh peninggalan sejarah kurang mendapat perhatian dan kepedulian dari pemerintah setempat dan juga penduduk di sekitarnya. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga (Disbudpora) Aceh Tamiang yang seyogianya berperan aktif dalam pelestarian dan perlindungan peninggalan sejarah selama ini seakan membisu melihat kenyataan ini.

Keberadaan peninggalan sejarah tersebut hanya dijadikan bahan tontonan, padahal bila peninggalan itu diperhatikan dan dirawat dengan baik, maka bisa menjadi obyek kunjungan wisata yang tentunya akan membantu menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) pemerintah setempat. Penduduk setempat terus berlalu lalang di lokasi peninggalan bersejarah ini, namun tidak pernah muncul keinginan untuk memperhatikan dan merawatnya.

Selain itu, masih banyak lagi material bersejarah di Aceh Tamiang yang layak untuk kita lestarikan, namun kondisinya tetap saja tidak jauh berbeda dengan peninggalan sejarah lainnya, fakta membuktikan pemerintah setempat tetap apatis terhadap warisan bersejarah tersebut. Sejarah adalah peristiwa masa lalu yang banyak menyimpan pelajaran berharga dan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan masa lalu leluhur kita yang seyogianya semua pihak wajib untuk menjaga dan melestarikannya.

Akibat kurangnya kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap peninggalan sejarah dan budaya, generasi muda juga mengikuti jejak tersebut. Hampir mayoritas generasi muda dewasa ini acuh tak acuh terhadap warisan leluhurnya, mereka umumnya lebih terpesona dengan sesuatu hal yang menyenangkan mata dan menghibur hati. Untuk kalangan mahasiswa, peninggalan sejarah bisa menjadi bahan untuk membuat skripsi, tesis, dan disertasi.

Oleh karena itu saya sebagai masyarakat Tamiang mengimbau kepada seluruh masyarakat Tamiang dimana pun berada agar menyadari kekurangan dan ketidakpedulian kita selama ini. Jangan sempat pihak luar mendahului kita, sebab saat ini banyak muncul para peneliti muda terutama berasal dari luar daerah. Bila itu terjadi, maka hal itu akan mempermalukan kita sebagai penduduk asli Tamiang terutama pemerintah setempat yang bertanggungjawab untuk itu.

20/06/2021

hip hop terhits di aceh yaitu orang hutan squad selalu mengangkat bahasa pribumi aceh yaitu bahasa Aceh, Alas, Gayo, singkil, Tamiang Simeulue dan Aneuk jame

20/06/2021

Salah satu leluhur Suku Singkil yang peran nya sangat mengagumkan di Nusantara bahkan dunia yaitu Syekh Abdurrauf as singkily. Beliau punya murid-murid yang luar biasa seperti syekh Yusuf Al makassary dari suku Makassar, dan murid nya yang lain juga di kenal sebagai tokoh besar di Nusantara.

 Sejarah Etnis Alas Atjeh Tenggara (1)Raja Lambing Pertama Bermukim di Tanoh AlasKutacane-Kata “Alas” sebenarnya diperun...
19/06/2021



Sejarah Etnis Alas Atjeh Tenggara (1)
Raja Lambing Pertama Bermukim di Tanoh Alas

Kutacane-Kata “Alas” sebenarnya diperuntukan bagi seseorang atau etnis (kelompok),sedangkan “daerah alas” yang disebut dengan “tanoh alas” adalah suatu tempat atau lokasi dimana sekelompok orang atau etnis alas menetap atau tinggal. Kata alas sendiri berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari raja pertama) yang bermukim di tanoh Alas.Menurut catatan sejarah yang pernah ditulis dan diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh penulis berkebangsaan Belanda bernama Radermacher (1781:8) sejarah dan Seni Budaya Etnis Alas Ukhang Alas atau khang Alas atau Kalak Alas telah bermukim di lembah Alas jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Atjeh.

Bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk alas ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme.
Seperti yang diungkapkan oleh Buhari Selian, salah seorang anggota DPRK Agara yang pernah menjadi seorang tenaga pendidik (guru) dan mempelajari sejarah etnis alas dari beberapa sepuh yang sekarang sudah wafat.
Desa yang paling tua di Tanah Alas adalah Desa Batu Mbulan dimana Raja pertama yaitu Raja Lambing bermukim dengan keluarganya yang sekarang dikenal dengan nama desa yang sama namun mayoritas penduduk disana saat ini bermarga Selian.

Raja Lambing yaitu keturunan dari Raja Lotung atau dikenal dengan cucu dari Guru Tatae Bulan dari Samosir Tanah Batak, Tatae Bulan adalah saudara kandung dari Raja Sumba. Guru Tatae Bulan mempunyai lima orang anak, yaitu Raja Uti, Saribu Raja, Limbong, Sagala, dan Silau Raja. Saribu Raja adalah merupakan orang tua dari Raja Borbor dan Raja Lotung. Raja Lotung mempuyai tujuh orang anak yaitu, Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan Siregar atau yang dikenal dengan siampudan atau payampulan.

Sedangkan Pandiangan merupakan moyangnya Pande, Suhut Nihuta, Gultom, Samosir, Harianja, Pakpahan, Sitinjak, Solin di Dairi, Sebayang di Tanah Karo, dan Selian di Tanah Alas, Keluet di Atjeh Selatan.“Berarti Raja Lambing adalah moyang dari marga Sebayang di Tanah Karo dan Selian di Tanah Alas, Raja Lambing merupakan anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara yaitu abangnya tertua adalah Raja Patuha di Dairi, dan nomor dua adalah Raja Enggang yang hijrah ke Kluet Aceh Selatan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Pinem atau Pinim,”terang Buhari Selian.

Kemudian Raja Lambing hijrah ke Tanah Karo dimana keturunan dan pengikutnya adalah merga Sebayang dengan wilayah dari Tigabinanga hingga ke perbesi dan Gugung Kabupaten Karo.Diperkirakan pada abad ke 12 Raja Lambing hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, dan bermukim di Desa Batumbulan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Selian. Di Tanah Alas Raja Lambing mempunyai tiga orang anak yaitu Raja Lelo (Raje Lele) keturunan dan pengikutnya ada di Ngkeran (Kecamatan Lawe Alas sekarang).

Kemudian Raja Adeh yang merupakan moyangnya dan pengikutnya orang Kertan (Dikecamatan Darul Hasanah sekarang), dan yang ketiga adalah Raje Kaye yang keturunannya bermukim di Desa Batumbulan (Dikecamatan Babussalam sekarang), termasuk Bathin. Keturunan Raje Lambing di Tanah Alas hingga tahun 2000, telah mempuyai keturunan ke 26 yang tersebar diwilayah Tanah Alas Atjeh Tenggara,Setelah Raja Lambing kemudian menyusul Raja Dewa yang istrinya merupakan putri dari Raja Lambing.

Raja Lambing menyerahkan tampuk kepemimpinan Raja kepada Raja Dewa (menantunya) Yang dikenal dengan nama Malik Ibrahim, yaitu pembawa ajaran Islam yang termashur ke Tanah Alas. Bukti situs sejarah ini masih terdapat di Muara Lawe Sikap Desa Batumbulan,Malik Ibrahim mempunyai satu orang putera yang diberinama ALAS dan hingga tahun 2000 telah mempunyai keturunan ke 27 yang bermukim di wilayah Kabupaten Atjeh Tenggara, Bandar Atjeh, Medan, Malaysia dan tempat lainnya.

Ada hal yang menarik perhatian kesepakatan antara putera Raja Lambing (Raja Adeh, Raja Kaye dan Raje Lele) dengan putra Raja Dewa (Raja Alas) bahwa syi’ar Islam yang dibawa oleh Raja Dewa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat Alas, tetapi adat istiadat yang dipunyai oleh Raja Lambing tetap di pakai bersama, ringkasnya hidup dikandung adat mati dikandung hukum (Islam) oleh sebab itu jelas bahwa asimilasi antara adat istiadat dengan kebudayaan suku Alas telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu..

https://m.facebook.com/seujara/jobs/?ref=bookmarks&mt_nav=0


&

Baju adat ini ada di museum Aceh, semuanya suku pribumi di Aceh ada di museum kan baju adat suku nya masing-masing, sila...
19/06/2021

Baju adat ini ada di museum Aceh, semuanya suku pribumi di Aceh ada di museum kan baju adat suku nya masing-masing, silahkan datang ke museum Aceh di Banda Aceh. Seperti baju adat Aceh, alas, Gayo, Singkil, Tamiang, Simeulue, kleut dan Aneuk jame.

19/06/2021

Tari Dampeng suku Singkil di tampilkan di Banda Aceh pada tahun 2017 yang lalu

Ulama Aceh haji Abdullah Ujong rimba.Kolonel Moh Amin.Dr mahjuddin,Aj piekaar.Gubernur Aceh Muzakir walad.Azhar kasem.J ...
19/06/2021

Ulama Aceh haji Abdullah Ujong rimba.Kolonel Moh Amin.Dr mahjuddin,Aj piekaar.Gubernur Aceh Muzakir walad.Azhar kasem.J linzel atase pertahanan Belanda.Moh syah asyik dan drs jakfar Ahmad

Mareka menghadiri pemakaman kembali tulang belulang Jendral Kohler di Peucut kerkoff umum untuk jasad jasad serdadu Belanda yang tewas dalam perang Aceh.atas prakarsa Gubernur Muzakir walad belulang Kohler di kubur kembali di Kerkoff peucut pada tahun 1977.nanpak pada gambar mareka memberi penghormatan kepada tulang belulang kaphe Kohler.

Address

Banda Aceh
00991

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Atjeh Media Islamic. posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Atjeh Media Islamic.:

Share