24/08/2025
Pengajian Rutin Ahad Subuh
24 Agustus 2025
Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh
======================
Ust. Dr. Badrul Munir, Lc, MA
======================
"Keruntuhan Kekuasaan dalam Lintasan Sejarah: Durus wa Ibrah"
Kekuasaan adalah amanah besar yang dalam sejarahnya telah mengalami siklus naik dan turun. Yang dimaksud dengan kekuasaan di sini adalah kekuasaan yang terstruktur—seperti kerajaan, kesultanan, kekhalifahan, maupun bentuk negara yang memiliki sistem pemerintahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa sejarah kekuasaan itu berputar dan tidak abadi. Ia diberikan kepada siapa yang Allah kehendaki dan dicabut dari siapa yang tidak lagi layak memikulnya.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran:
"Dan hari-hari (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia..." (QS. Ali Imran: 140)
Kata “nudāwiluhā” dalam ayat ini berasal dari fi’il mudhāri’ (yudāwilu), yang bermakna berkelanjutan dan terjadi berulang di berbagai zaman dan tempat. Ini menandakan bahwa kejayaan dan keruntuhan adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang terus terjadi dalam sejarah umat manusia.
Kilas Balik Sejarah Peradaban
Sejarah mencatat berbagai kerajaan dan peradaban besar yang pernah berjaya: Mesopotamia, Babilonia, Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Persia, dan lain sebagainya. Banyak dari raja-raja mereka yang melampaui batas dan mengaku sebagai tuhan, sebagaimana kisah Fir’aun yang sangat terkenal dalam Al-Qur’an:
"Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS. An-Nazi'at: 24)
Sejak masa kelahiran Rasulullah ﷺ, dunia telah menyaksikan hadirnya berbagai kekuasaan besar yang menguasai wilayah luas, seperti Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), Kekaisaran Persia (Sasaniyah), Kerajaan Aksum di Afrika, dan Kerajaan Himyar di Yaman. Masing-masing memiliki sistem, kekuatan, serta kontribusi peradaban—namun semua itu tidak menjamin kekuasaan tersebut abadi.
Faktor-Faktor Runtuhnya Kekuasaan
Keruntuhan kekuasaan dalam sejarah dapat ditelusuri melalui dua faktor utama: internal dan eksternal. Mari kita perhatikan satu per satu.
A. Faktor Internal
Konflik Perebutan Kekuasaan
Ketika perebutan kekuasaan terjadi tanpa mekanisme yang adil dan damai, maka kehancuran biasanya hanya tinggal menunggu waktu.
Provokasi dan Perpecahan Internal
Pecahnya solidaritas internal karena fitnah dan hasutan membuat kekuasaan menjadi rapuh dari dalam.
Kesombongan, Keserakahan, dan Hedonisme
Allah memperingatkan bahwa jika suatu negeri diisi oleh orang-orang yang hidup dalam kesombongan dan kemewahan tanpa taat kepada-Nya, maka kehancuran adalah balasannya:
"Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat), tetapi mereka durhaka. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan (Kami), lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS. Al-Isra: 16)
Kelemahan Pemimpin dan Sistem Birokrasi
Salah satu tanda kehancuran adalah ketika urusan diserahkan kepada orang yang tidak kompeten.
Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR. Bukhari)
Korupsi dan Tidak Berjalannya Keadilan Hukum
Ketika hukum tebang pilih dan keadilan hanya berpihak pada golongan tertentu, maka negara akan kehilangan legitimasi rakyatnya.
Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah, jika yang mencuri itu orang terpandang, mereka membiarkannya. Tetapi jika yang mencuri itu orang lemah, mereka tegakkan hukum atasnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakpuasan Rakyat dan Gerakan Perlawanan
Ketika suara rakyat tidak lagi didengar, dan keadilan tidak dirasakan, maka tumbuhlah bibit-bibit pemberontakan yang melemahkan sendi-sendi kekuasaan dari dalam.
B. Faktor Eksternal
Kekuasaan juga bisa hancur karena tekanan dan serangan dari luar, seperti invasi, penjajahan, atau dominasi asing yang ingin menguasai sumber daya atau wilayah strategis.
Salah satu contoh besar adalah serangan bangsa Mongol yang menguasai hampir separuh dunia. Mereka berhasil menaklukkan wilayah dari Asia hingga Eropa Timur, termasuk menghancurkan Baghdad pada tahun 1258 M—yang menandai runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah.
Siklus Sejarah Menurut Ibnu Khaldun
Sejarawan Muslim terkenal, Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah-nya menyebutkan bahwa umur sebuah dinasti atau negara biasanya bertahan antara 100–120 tahun. Jika dalam rentang itu tidak dibangun sistem yang kuat dan adil, maka negara tersebut akan mulai melemah dan menuju kehancuran.
Islam Tetap Bertahan
Meski banyak kekuasaan hancur dalam sejarah, Islam sebagai ajaran dan nilai tetap hidup dan berkembang. Ini adalah janji Allah yang pasti benar.
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (perkataan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya." (QS. Ash-Shaff: 8)
Islam akan terus eksis karena nilai-nilainya yang humanis, adil, dan rahmatan lil ‘alamin. Selama umat Islam memegang teguh ajaran ini, mereka akan terus menjadi bagian penting dari peradaban dunia.
Dari sejarah, kita belajar bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah. Dan jika amanah itu disalahgunakan, maka kehancuran adalah akibatnya. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diambil pelajaran (‘ibrah) agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mau mengambil pelajaran dari sejarah, bukan menjadi bagian dari mereka yang hanya mengulanginya tanpa hikmah.