15/09/2026
๐ฆ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ฎ, ๐ญ๐ฑ ๐ฆ๐ฒ๐ฝ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ
๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ช๐ฎ๐ท๐ถ๐ฏ ๐ฆ๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐๐ธ๐ฎ๐ฐ๐ถ๐๐ฎ
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita diajak memandang Maria bukan sebagai pribadi yang jauh dari penderitaan, tetapi sebagai seorang ibu yang tetap berdiri ketika hatinya hancur. Ada kisah nyata tentang Santo Yohanes Paulus II. Ketika ditembak pada 13 Mei 1981, ia datang mengunjungi Mehmet Ali Aฤca, penembaknya, di penjara. Ia tidak datang dengan kebencian, melainkan dengan pengampunan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kasih yang sejati tidak selalu menghapus luka, tetapi memberi kekuatan untuk tetap berdiri dan tidak membiarkan luka menentukan hati kita. Demikian p**a Maria di bawah salib: ia tidak mampu mengubah keadaan, tetapi kehadirannya menjadi tanda kasih yang tidak meninggalkan.
Sehari setelah Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci, kita memandang Maria yang berdiri teguh di bawah salib Putranya. Ia tidak mampu menghentikan penderitaan Yesus atau memahami seluruh misteri yang terjadi, tetapi ia memilih untuk tetap tinggal, menemani, mengasihi, dan percaya. Inilah iman Maria: bukan iman yang bebas dari penderitaan, melainkan iman yang membuatnya tetap setia di tengah penderitaan. Dari atas salib, Yesus memberikan Maria sebagai ibu kepada murid yang dikasihi-Nya: โInilah ibumu.โ Murid itu kemudian menerima Maria ke dalam rumahnya. Rumah bukan hanya bangunan, tetapi hati, keluarga, komunitas, pelayanan, dan seluruh hidup kita. Menerima Maria berarti memberi ruang bagi cara hidupnya: rendah hati, setia, peka terhadap penderitaan, berani mengikuti Kristus, dan tetap mengasihi dalam luka. Maria mengajarkan bahwa penderitaan boleh membuat mata kita menangis, tetapi jangan sampai membuat hati berhenti mengasihi. Setiap orang memiliki salib dan luka: kehilangan, kegagalan, penolakan, konflik, atau kekecewaan. Bersama Maria, kita belajar mengolah luka agar tidak menjadi kepahitan, melainkan menjadi sumber belas kasih. Ketika Maria sungguh diterima dalam hidup kita, kita belajar menjadi pribadi yang mampu menemani mereka yang terluka dan menanggung beban sesama. Sebab Maria selalu membawa kita kepada Yesus. Menerima Maria berarti belajar tetap percaya, tetap berdiri, dan terutama tetap mengasihi ketika kehidupan sedang terluka.
Bagaimana denganku selama ini? Mari kita renungkan apakah ketika orang yang ku kasihi sedang menderita, apakah aku tetap hadir?
Tuhan memberkati.