11/06/2026
Kamis, 11 Juni 2026
Peringatan Wajib Santo Barnabas Rasul
Dalam cerita rakyat yang terkenal, Robin Hood digambarkan sebagai sosok yang mengambil dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Tentu, sebagai orang beriman kita tidak membenarkan tindakan mencuri dalam bentuk apa pun, karena tujuan yang baik tidak pernah menghalalkan cara yang salah. Namun di balik kisah tersebut terdapat sebuah nilai yang tetap relevan, yaitu semangat untuk peduli dan berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Dalam kehidupan nyata, semangat seperti itu tampak pada banyak orang yang rela menyisihkan waktu, tenaga, dan rezekinya demi membantu sesama tanpa mengharapkan balasan. Mereka sadar bahwa berkat yang diterima bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan juga untuk dibagikan. Semangat inilah yang diangkat oleh Sabda Tuhan hari ini ketika Yesus berkata, “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, maka berilah dengan cuma-cuma p**a.” Mari kita merenungkan bagaimana rahmat yang kita terima dari Tuhan dapat menjadi berkat bagi orang lain melalui teladan Santo Barnabas Rasul.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan para murid, “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, maka berilah dengan cuma-cuma p**a” (Mat 10:8). Sabda ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang paling berharga dalam hidup—kehidupan, kasih, iman, dan keselamatan—adalah anugerah Allah yang diterima secara cuma-cuma. Karena itu, rahmat yang kita terima tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada sesama. Seperti air yang mengalir tetap segar, darah yang mengalir memberi kehidupan, dan napas yang terus keluar-masuk menjaga manusia hidup, demikian p**a rahmat Allah akan menghasilkan buah jika dibagikan. Teladan indah dari sikap ini tampak dalam hidup Santo Barnabas Rasul, yang dikenal sebagai “anak penghiburan.” Ia rela menjual hartanya demi membantu umat, berani menerima dan memperkenalkan Saulus kepada Gereja ketika banyak orang masih takut kepadanya, serta menguatkan iman banyak orang di Antiokhia. Barnabas menunjukkan bahwa kasih, pengampunan, talenta, pengalaman, dan berkat yang diterima dari Tuhan harus menjadi sarana untuk melayani sesama. Di tengah dunia yang sering mengajarkan untuk menimbun dan mementingkan diri sendiri, Injil mengajak kita menjadi saluran rahmat Allah. Sebab kebahagiaan sejati ditemukan bukan dalam menggenggam, melainkan dalam memberi, sehingga hidup kita menjadi berkat dan sumber harapan bagi banyak orang.
Bagaimana denganku selama ini? Mari kita renungkan apakah aku sudah menjadi saluran berkat yang membawa kasih, penghiburan, dan harapan bagi sesama, atau justru masih lebih sering menyimpan semuanya untuk diri sendiri?
Tuhan memberkati