Rumahku Syurgaku

Rumahku Syurgaku Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Rumahku Syurgaku, Cipicung Gang Rancabaru Bale Endah, Baleendah.

04/05/2021

Bismillah
UKURAN ZAKAT FITRAH

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صَلّى اللهُ عَلَيه وَسَلّم صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, untuk lelaki dan wanita, orang merdeka maupun budak, berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari 1511 dan Muslim 2327)

Dalam hadis lain, dari Abu Said Al Khudzri radliallahu ‘anhu,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dulu kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju atau stu sha’ anggur.” (HR. Bukhari 1506 & Muslim 2330)

Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa kadar zakat fitri adalah satu sha’ bahan makanan.

● Apa itu sha’?

Sha’ adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “sha’” yang berlaku di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sha’ masyarakat Madinah. Yang itu setara dengan 4 mud.

Satu mud adalah ukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan.

Mengingat sha’ adalah ukuran takaran, umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu sha’ itu berbeda-beda tergantung berat jenis benda yang ditakar. Satu sha’ tepung memiliki berat yang tidak sama dengan berat satu sha’ beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.

Hanya saja, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk menemukan titik terang masalah ukuran ini. Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

Ringkasan kadar zakat:
1 sha’ = 4 mud
1 mud = cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
1 sha’ = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
1 sha’ beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.
1 sha’ gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.

InsyaaAllah, untuk zakat fitrah 3 kg sangat aman. Dan kami sarankan agar dikeluarkan 3 kg. Lebih baik dilebihkan dari pada kurang. Karena jika lebih, kelebihannya menjadi sedekah.

Allahu a’lam.

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Sumber :
https://m.facebook.com/Share-gambar-dan-video-sunnah
Repost Ummunya Ar-Rum

21/01/2021

❓SIAPAKAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH?

Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)

Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berk*mpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berk*mpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).

Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.

Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:

Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan p**a Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:

Beriman kepada takdir Allah,
Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.
Jangan salah membatasi

Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru p**a orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar p**a membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.

Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.

✍Ustadz Yulian Purnama Hafidzahullah

➡Muslim.or.id

🌹Repost Fp Ittiba'Rasulullah

🌹Silahkan dishare
🌹Barakallahu Fiik*m

19/01/2021

🌿 *If it's meant to be* 🌿
(Jika itu memang ditakdirkan)

Sahabat....
Kita boleh berhitung soal apa saja, tapi tidak soal taqdir..

Tersenyumlah...😁
Karena rizkimu tidak akan dimakan orang lain..
Jodoh mu pun tidak akan tertukar.

Diakhirat kelak, engkau hanya akan ditanya tentang amalmu, bukan tentang apa yang diamalkan orang lain.

Tersenyumlah...😁
Walaupun semua tak seindah yang kau lakukan.

Jika hari ini engkau tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan, maka yakinilah bahwa engkau hanya berpindah dari satu taqdir ke taqdir yang lain.

Jalanilah hari ini dengan amal-amal terbaik...
Tak perlu cemas untuk esok yang belum tentu kau lalui...
Cukup tuliskan saja semua rencana elokmu itu dengan azam (tekad) kemauan yang kuat.

*Namun ingat...!!!*
Di ujung semua goresan rencana itu, ada pena yang telah diangkat dan lembaran lembaran taqdir yang telah mengering.

Semoga bermanfaat..🙏

┏🍃🌺━━━━━━━━━━━━━━┓            *RENUNGAN  PAGI*┗━━━━━━━━━━━━━━🌺️🍃┛                      ﷽*✋🏼 KAMI TIDAK ADA URUSAN DENGAN...
02/01/2021

┏🍃🌺━━━━━━━━━━━━━━┓
*RENUNGAN PAGI*
┗━━━━━━━━━━━━━━🌺️🍃┛



*✋🏼 KAMI TIDAK ADA URUSAN DENGANNYA ‼*

بمناسبة السنة الميلادية الجديدة
أقول لكم
*"Berkenaan dengan masuknya tahun baru Masehi..*

*Saya ucapkan,*

كل عام ونحن لا شأن لنا بهم
*Setiap tahun dan kami tidak ada urusan dengannya..*

كل عام ونحن لنا دين نعتز به !
*Setiap tahun dan kami memiliki agama yang kami banggakan..!!*

كل عام ولنا قدوة حسنة نقتدي به (صلى الله عليه وسلم)
*Setiap tahun dan kami memiliki teladan terbaik yang bisa kami teladani -semoga sholawat dan salam- terlimpahkan kepada beliau..*

إن كان للنصارى (بابا نويل )
يحقق لهم أحلامهم كل سنة
*Apabila kaum Nasrani memiliki Sinterklas yang (diklaim) bisa memenuhi segala mimpi (permohonan) mereka setiap tahunnya..*

فلنا رب " يحقق لنا أحلامنا كل حين
*Maka kita memiliki Rabb yang bisa memenuhi segala permintaan kita setiap saat..*

فاعتزوا بدينكم واقتدوا بنبيكم صلى الله عليه وسلم
*Karena itu, berbanggalah dengan agama kalian, dan ikuti Nabi kalian Shallallahu 'alaihi wa Sallam..*

كل عام ونحن نشهد أنه لا إله إلا الله
*Setiap tahun dan kami selalu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah semata..*

كل عام ونحن نشهد أن محمدا عبد الله ورسوله
*Setiap tahun dan kami selalu bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya..*

كل عام ونحن نشهد أن الله واحد أحد وليس ثالث ثلاثة
*Setiap tahun dan kami senantiasa bersaksi bahwa Allah itu tunggal hanya satu, bukan salah satu dari oknum yang tiga (trinitas)..*

كل عام ونحن نشهد أن الله لم يلد و لم يولد و لم يكن له كفواً أحد
*Setiap tahun kami senantiasa bersaksi bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak p**a diperanakkan, serta tidak ada satupun yang setara dengan diri-Nya..*

كل عام ونحن نشهد أن عيسى عبد الله ورسوله
*Setiap tahun dan kami bersaksi bahwa Isa itu hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya..*

كل عام ونحن نشهد أن عيسى كلمته التي ألقاها إلى مريم وروح منه
*Setiap tahun kami selalu bersaksi bahwa Isa itu adalah (yang diciptakan dari) kalimat Allah yang Allah sampaikan kepada Maryam dan dengan tiupan (ruh) darinya..*

كل عام ونحن نشهد أن اليهود ما صلبوه وما قتلوه ولكن شبه لهم
*Setiap tahun kami bersaksi bahwa Yahudi tidaklah berhasil menyalib Isa dan tidak p**a membunuh beliau, namun orang yang diserupakan dengan Isa..*

كل عام ونحن قد ثبتنا الله على نعمة الإيمان والتوحيد
*Setiap tahun dan kami berharap semoga kami tetap diteguhkan di atas iman dan tauhid..*

كل عام ونحن مسلمون موحدون
*Setiap tahun dan kami adalah kaum muslimin dan muwahhidin..*

كن مسلماً معتزاً بإسلامك.
*Jadilah seorang muslim yang bangga dengan keislamannya..*

*✒️*
Reposted by : 👥 Grup wa manhaj salaf Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
IG:
IG:
_📲 Silakan di-share semoga bermanfaat untuk orang-orang yang anda cintai. Baarakallahu fiik.._

•════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I'tidāl
✉ TG : https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

You can view and join right away.

21/11/2020

🍂بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌿DOA PERLINDUNGAN UNTUK ANAK

(Doa Nabi kepada Hasan dan Husain)

Ibnu Abbas menceritakan, bahwa Rasulullah membacakan doa perlindungan untuk kedua cucunya,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“U’iidzuk*maa bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithoonin wa haammah, wa min kulli ‘ainin laammah.”

“Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua, dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu, dan dari pandangan mata buruk.”
(H.R. Abu Dawud no.4737, Tirmidzi no. 2060, Ibnu Majah no.3525 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

"Termasuk segala sesuatu yang mendatangkan keburukan. (lihat: Fathul Bari Li Ibnu hajar 6/410)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas menggunakan kata ganti orang kedua untuk dua orang (k*maa) karena yang didoakan Nabi adalah Hasan dan Husain.

Jika yang didoakan hanya seorang anak laki-laki maka lafal (k*maa) diganti dengan (ka), sebagaimana sebagai berikut lafalnya:

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“U’iidzuka bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithoonin wa haammah, wa min kulli ‘ainin laammah.”

Adapun jika kepada seorang anak perempuan, lafalnya diganti (ki):

أُعِيْذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“U’iidzuki bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithoonin wa haammah, wa min kulli ‘ainin laammah.”

Jika anak-anaknya banyak maka diganti dengan (k*m) : أُعِيْذُكُمْ

Sumber: Ustadz Firanda

📚IslamDiaries

10/07/2020

RAHASIA TERKABULNYA DOA PARA NABI

Jika kita bertanya :
"Doa seperti apa yang dikabulkan?

Mungkin banyak di antara kita akan menjawab :
"Doa di sepertiga malam yang terakhir, doa antara adzan dan iqomat, doa di depan Ka'bah, doa di Raudhoh, mengangkat kedua tangan, mengkonsumsi yang halal, dan seterusnya.

Ini semua adalah perkara yang agung, perlu diwujudkan saat kita berdoa.

Namun ada rahasia dalam berdoa yang mungkin banyak di antara kita tidak memberikan perhatian kepadanya, padahal itulah *unsur utama terkabulnya doa.*

Untuk mengetahui rahasia tersebut, mari sejenak merenungkan doa-doa terbaik para Nabi yang diabadikan dalam Al-Qur'an.

☆ Musa 'Alaihissalam.

Ketika beliau dalam pelarian, dikejar-kejar bala tentara Fir'aun untuk dibunuh. Tanpa bekal, tanpa tunggangan, tanpa teman. Perjalanan yang jauh dan berat. Dari Mesir menuju Madyan. Rasa mencekam, remuk redam di hati karena tak satupun Bani Israil yang menolongnya ketika itu.Ditambah rasa haus dan lapar yang menyiksa.

Musa menampakkan kefaqirannya dalam berdoa di hadapan Allah. Ketika itu beliau menyendiri berteduh di bawah pohon, lalu terucaplah doa dari lisan beliau yang diabadikan al-Quran;

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"Wahai Rabbku, sungguh aku sangat-sangat butuh kebaikan dan bantuan-Mu"
(QS. al-Qashash: 24)

Langsung Allah menjawab doa tersebut. Di Madyan, beliau mendapatkan istri yang shalihah, mertua yang Shalih, keamanan, perlindungan, rizki yang baik, dan lingkungan yang lebih baik daripada Mesir.

☆Ayyub 'Alaihissalam

Beliau ditimpa penyakit selama 18 tahun lamanya. Hingga beliau ditinggal oleh para kerabat, yang jauh maupun dekat. Dalam kesendirian, beliau hanya berkeluh-kesah dan menampakkan kehinaan di hadapan Allah melalui ungkapan :

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

"Sungguh hamba-Mu yang lemah ini yaa Allah, tengah ditimpa musibah, dan hanya Engkaulah Yang Maha Penyayang di antara yang penyayang."
(QS. al-Anbiya: 83)

Simaklah bagaimana jawaban Allah kemudian:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا

"Maka Kamipun menyingkap penyakit yang menimpa Ayyub, lalu kami kembalikan kepadanya kerabat keluarganya, sebagai Rahmat dari Kami."
(QS. al-Anbiya: 84)

☆Yunus 'Alaihissalam

Diselimuti 3 lapis kegelapan, kegelapan malam, kegelapan samudera, dan kegelapan perut ikan. Dalam kesendirian itu, beliau bermunajat sambil mengakui kekhilafannya, menampakkan kefakirannya pada Allah.

أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Tidak ada ilah selain Engkau yaa Allah, sungguh aku telah berbuat zhalim."
(QS. al-Anbiya: 87)

Lantas Allah berfirman :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.
(QS. al-Anbiya: 88)

☆Zakariya 'Alaihissalam

Allah berfirman tentang beliau :

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.
(QS. al-Anbiya: 89)

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, _“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku._
(QS. Maryam: 3-4)

APA RAHASIA TERKABULNYA DOA MEREKA

Allah Ta'ala berfirman :

Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan *mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas.* Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
(QS. al-Anbiya: 90)

- Dalam doa, terkandung pilar pilar tauhid yang terbesar.

- Dalam doa, ada harapan kepada Allah, ada kecemasan dan keluh kesah, ada ungkapan kebutuhan hamba pada Allah, ada pengakuan bahwasanya Dialah yang Mahakuasa, Mahakaya, dan Mahapengasih.

- Dalam doa ada pengakuan bahwasanya kita benar benar hamba yang faqir dan hina di hadapan Allah.

Inilah tauhid yang sesungguhnya.
Tidak heran jika Nabi Shallallahu 'alaihi Wa sallam bersabda :

"Doa adalah inti ibadah."

*KESIMPULAN :*
Inilah rahasia terkabulnya doa para Nabi.

1. Mereka menampakkan kebutuhan yang sangat di hadapan Allah.

2. Mereka mengungkapkan pengakuan; pengakuan akan kuasa Allah, pengakuan bahwa hanya DIA yang berhak diibadahi, pengakuan bahwa hamba telah berbuat khilaf.

3. Mereka berdoa dengan sepenuh jiwa dan khusyu', karena berada dalam keadaan bahaya dan genting.

4. Mereka berdoa dalam kesunyian dan kesendirian, di saat hanya Allah yang melihat dan mendengar. Ini menggambarkan betapa tinggi ketulusan doa mereka.

Dalam beberapa hadits disebutkan, bahwa di antara orang orang yang dikabulkan doanya adalah :

- Orang yang terzalimi.

اتَّقِ دعوةَ المظلوم؛ فإنها ليس بينها وبين الله حجاب

- Orang yang berpuasa.

ثلاثة لا تُردُّ دعوتُهم: الإمام العادل، والصَّائم حين يُفْطِر، ودعوة المظلوم

- Dan doa musafir yang jauh dari kampung halaman serta keluarga kerabatnya.

ثلاث دعوات متسجابات لا شك فيهن: دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده. رواه الترمذي وحسنه الألباني.

Ada kesamaan di antara mereka yang menjadikan doa mereka terkabul. Ketiganya sama-sama dalam suasana hati yang tengah meluap ketauhidannya.

Sama-sama menunjukkan kondisi faqir dan kebutuhan yang mendesak pada pertolongan Allah.

Demikian p**a pada doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yang beliau juluki "Sayyidul Istighfar" (Istighfar yang paling hebat).

Pada doa tersebut terdapat ungkapan ungkapan yang menggambarkan empat hal, dan semuanya adalah unsur-unsur Tauhid yang terbesar.

● Pengakuan akan Rububiyyah Allah Uluhiyyah-Nya, dan Asma' wa Shifat-Nya.

● Pengakuan akan status kita sebagai hamba di hadapan Allah.

● Pengakuan akan nikmat-nikmat Allah kepada hamba.

● Pengakuan bahwa hamba telah berbuat dosa dan kesalahan pada Allah, sehingga mendesak butuh ampunan dan rahmat Allah.

Untuk itu, ketika berdoa hendaklah menghadirkan 3 hal dalam hati kita.

1. Al Iftiqoor : Merasa sangat-sangat butuh, kerdil, dan hina di hadapan Allah,

2. Al Idhthiroor : Merasa berada dalam keadaan genting, butuh pertolongan Allah dengan segera.

Kedua hal tersebut bisa diungkapkan dengan pengakuan akan nikmat Allah, dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna, sementara kita justru banyak berbuat zalim dan kufur pada nikmat Allah yang melimpah.

3. Al-Isroor, berdoa dalam hening dan kesunyian, doa ketika sendiri, di saat hanya Allah yang mendengar dan melihat doa kita.

Ketiga hal tersebut adalah unsur-unsur Tauhid yang terbesar. Jika seorang hamba mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya,
maka setiap doanya tidak akan tertolak. Maka hati, tidak boleh lalai dalam doa.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:
"Berdoalah kalian dengan penuh keyakinan bahwa doa kalian akan dikabulkan. Dan ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lupa dan lalai (tidak khusyu', tidak menampakkan rasa butuh kepada Allah)."

12/06/2020

📖﷽

Hati-Hati Dengan Pemikiranmu

SIBUK MEMIKIRKAN SESUATU…
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
“Berfikir adalah asal segala ketaatan, dan asal semua kemaksiatan.”
(Miftah Daar As Sa’adah hal. 226).

Kok bisa begitu ya?..
Setelah direnungkan.. Betul juga..
Memikirkan sesuatu biasanya akan merubah suasana hati..
Lalu menimbulkan niat dan keinginan..
Sedangkan niat adalah awal perbuatan..

Ketika seseorang memikirkan tujuan kehidupannya..
Ia ingat kehidupan setelah kematian..
Suasana hatipun berubah..
Timbullah keinginan untuk berbuat ketaatan..

Ketika seorang istri melihat keburukan suaminya..
Ia sibuk memikirkan keburukan tersebut..
Hingga hilang semua kebaikan suaminya..
Timbullah perbuatan nusyuz.. Atau setidaknya berkurang rasa cintanya..
Padahal mungkin suaminya sudah banyak berbuat baik kepadanya..

Ketika seorang lelaki melihat wanita jelita..
Lalu ia sibuk membayangkan keindahannya..
Ia pun lupa dari berdzikir kepada Allah..
Lupa bahwa bidadari surga lebih indah dan jelita..
Lalu muncul keinginan yang terlarang..
Ketika melihat gemerlapnya dunia..
Ia berfikir.. Dan terus sibuk memikirkannya..
Seperti orang yang melihat kemewahan si Qorun..
Ia berkata, “Andai aku kaya seperti dia.. Duhai beruntung sekali rasanya..
Suasana hatinya berubah.. Ia menilai kehormatan sebatas dengan kekayaan.. Kedudukan.. Dan kenikmatan dunia..
Sementara temannya yang mukmin berkata..
“Celaka kamu.. Pahala Allah lebih baik dan lebih kekal..
Dunia hanyalah kesenangan sesaat..
Lalu ia akan hancur dan musnah..
Hari ini..
Esok dan lusa..
Kita sibuk berfikir apa ??
Moga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu berfikir positif....

Aamiin Yaa Rabb Al 'Alim

Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

~ dakwah tauhid
~ dakwah sunnah

10/06/2020

🌸﷽🌸
Apakah perbedaan JIN, SETAN & IBLIS
🔥Jin

Jin adalah salah satu jenis makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat fisik tertentu, berbeda dengan jenis manusia atau malaikat.

Jin diciptakan dari bahan dasar api, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (14) وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ(15)

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)

Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam dua hal:

a. Jin memiliki akal dan nafsu, sebagaimana manusia juga memiliki akal dan nafsu.

b. Jin mendapatkan beban perintah dan larangan syariat, sebagaimana manusia juga mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.

Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang pintar masalah agama dan ada jin yang bodoh. Bahkan ada jin Ahlussunnah dan ada jin pengikut kelompok sesat, dst.

Sedangkan perbedaan jin dengan manusia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kemampuan bisa kelihatan dan tidak.

Makhluk ini dinamakan jin, karena memiliki sifat ijtinan (Arab: اجتنان), yang artinya tersembunyi dan tidak kelihatan. Manusia tidak bisa melihat jin dan jin bisa melihat manusia. Allah berfirman,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

🔥Setan

Untuk memahami setan, satu prinsip yang harus Anda pegang: Jin itu makhluk dan setan itu sifat. Karena setan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri.

Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, s**a membelot, s**a maksiat, s**a melawan aturan, atau semacamnya.

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,

الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Setan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).

Dinamakan setan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena setan pelakunya dijauhkan dari rahmat Allah.
(Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان)

Kembali pada keterangan sebelumnya, karena setan itu sifat maka kata ini bisa melekat pada diri manusia dan jin. Sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ada setan dari golongan jin dan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, setelah menjelaskan sifat-sifat setan,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 6).

🔥Iblis

Siapakah iblis? Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para maialakt, ‘Sujudlah kallian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

Allahu a’lam

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ اللهُ

Address

Cipicung Gang Rancabaru Bale Endah
Baleendah
40375

Telephone

02261461434

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumahku Syurgaku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share