GKPB Jemaat Kudus Sading

GKPB Jemaat Kudus Sading GKPB: Gereja Kristen Protestan di Bali Jemaat Kudus Sading
Kebaktian Pk. 08.00 WITA
Bahasa Indonesia https://kudussading.wordpress.com/ Br.

Pekandelan, Kelurahan Sading, Mengwi, Badung, Bali

11/06/2026

JANJI HIDUP
Jumat 12 Juni 2026

TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau.
Ulangan 8: 7 Perikop (TB)

Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
2 Korintus 9: 8 Perikop (TB)

Bacaan Alkitab
Yohanes 15: 9–17
Hosea 2: 1–3

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Sungai yang sehat airnya jernih, mengalir deras, ikan berenang bebas di dalamnya, dan orang-orang datang untuk mendapatkan manfaat. Sungai yang sehat menerima air dari hulu dan segera mengalirkannya kembali, sehingga ia tetap bersih dan membawa kehidupan. Sungai ini bisa menjadi gambaran tentang hidup manusia yang diberkati untuk memberkati, seperti yang disampaikan dalam bacaan firman Tuhan hari ini.

Kitab Ulangan 8: 7 merupakan Janji Tuhan bagi umat Israel. Setelah mereka melewati perjalanan padang gurun yang keras, Tuhan membawa mereka ke negeri yang baik, berlimpah air, gandum, dan hasil bumi. Namun, tentu bukan berkat ini yang menjadi tujuan akhir dari janji Allah kepada umat-Nya. Ia memberkati umat Israel supaya mereka tetap mengingat Tuhan, hidup sesuai perjanjian Allah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Hal yang sama juga ditegaskan dalam 2 Korintus 9: 8. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa kecukupan dari Tuhan tidak boleh berhenti pada diri mereka sendiri. Tuhan memberikan kasih karunia, kecukupan dan kekuatan agar mereka dapat melakukan kebajikan. Berkat yang dari Tuhan tidak boleh dinikmati sendiri, tetapi untuk dibagikan juga kepada orang lain yang memerlukan. Orang yang diberkati Tuhan adalah orang yang menjadi saluran kasih-Nya.

Dari perenungan firman Tuhan hari ini, kita diingatkan betapa Tuhan memberkati kita. Ia yang memilih dan memberkati kehidupan kita dengan keselamatan dan segala hal yang kita perlukan di tengah-tengah dunia ini. Kita diberkati dengan keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan komunitas yang mengasihi kita. Kita diberkati dengan kecukupan. Semua itu bukanlah kebetulan, melainkan anugerah Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita sebagai umat yang telah menerima kasih karunia demi kasih karunia-Nya, menjadi alat di tangan Tuhan untuk membagikan kebajikan-Nya. Berkat yang kita terima harus berubah menjadi tindakan nyata untuk menguatkan yang lemah, menghibur yang berduka, menolong yang berkekurangan, mengampuni yang bersalah dan mengasihi tanpa pamrih. Ingatlah bahwa kita dipilih untuk diselamatkan dan diutus menjadi berkat. Kita diberkati bukan hanya untuk menikmati, tetapi untuk memberkati sesama seperti sungai yang terus mengalirkan air yang bersih dan membawa kehidupan bagi sekitarnya. Mari kita yang telah diberkati, hidup menjadi berkat.
Penulis: (KS)

Doa: Ya Tuhan kami bersyukur atas segala berkat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Tolonglah kami agar terus berkelimpahan dalam kebajikan, sehingga kami menjadi berkat bagi sesama. Amin.

10/06/2026

*JANJI HIDUP*
Kamis 11 Juni 2026

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu?
Yosua 1: 9 Perikop (TB)

Paulus menulis: Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi.
2 Korintus 1: 9-10 Perikop (TB)

Bacaan Alkitab
Yohanes 21: 15–19
Hosea 1: 1–9

_*Jangan Takut, Tuhan Pasti Sanggup!*_

“Kuatkanlah hatimu, lewati setiap persoalan. Tuhan Yesus selalu menopangmu. Jangan berhenti harap pada-Nya...” Sepenggal lirik lagu berjudul Tuhan Pasti Sanggup ini tentu sangat menguatkan setiap orang yang mendengarnya, terlebih ketika sedang berada dalam pergumulan yang berat. Lagu ini menjadi penyejuk jiwa yang menghadirkan pengharapan di tengah hati yang gundah.

Kegundahan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk seorang pemimpin seperti Yosua. Ia pernah merasakan kegelisahan ketika menerima tugas besar untuk membawa umat Tuhan menuju tanah Kanaan, menggantikan Musa. Sebuah tugas yang terhormat sekaligus penuh tantangan. Yosua menyadari dirinya masih muda, dan memimpin bangsa Israel bukanlah perkara mudah. Belum lagi ia harus menghadapi bangsa-bangsa lain dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Tantangan dari dalam maupun dari luar tentu berkecamuk dalam pikirannya. Ketakutan dan kegentaran sangat mungkin ia rasakan. Namun di tengah kegalauan itu, firman Tuhan menyapanya dalam Yosua 1:9: “… kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Sebuah seruan agar ia tetap yakin kepada Tuhan Allah yang mengutusnya. Tugas Yosua adalah menguatkan dan meneguhkan hatinya dalam keyakinan akan pertolongan Tuhan, sebab Tuhan pasti sanggup menolongnya. Bukan hanya Yosua, rasul Paulus pun menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan imannya kepada Tuhan. Banyak penderitaan yang ia alami. Namun dalam semuanya itu, Paulus tidak mengandalkan kekuatan dan kehebatannya sebagai manusia. Ia hanya mengandalkan Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang berkuasa menyelamatkannya dari kematian dan yang terus menyelamatkannya dari berbagai tantangan, bahkan dari bahaya dunia.

Dari pengalaman iman Yosua dan Paulus, kita menyadari bahwa kehidupan sebagai pengikut Kristus tidaklah mudah. Iman kepada-Nya memang memberikan keselamatan dan hidup yang kekal, tetapi juga perutusan untuk melayani. Tantangan dalam melayani Tuhan sangat banyak, dari tantangan yang biasa hingga pada penolakan. Hal ini bisa saja membuat hati kita gundah. Namun kabar baik hari ini adalah apa pun situasi sulit yang kita hadapi, Tuhan sanggup menolong. Jangan takut beriman dan melayani Tuhan! Dalam segala situasi, kuatkan dan teguhkanlah hati kita untuk menaruh kepercayaan dan pengharapan hanya kepada Tuhan Yesus. Ia sanggup menolong kita.
Penulis: (KS)

_Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar tetap setia menaruh iman dan pengharapan kami hanya kepada Tuhan sehingga kami tidak menjadi takut dan gentar dalam melayani Tuhan. Terima kasih ya Tuhan. Amin._

09/06/2026

JANJI HIDUP
Renungan harian
Rabu, 10 Juni 2026

Ayat Nats
Yesaya 55: 1
Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air:

Perikop (TB)
Yohanes 6: 35
Kata Yesus kepada mereka: Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Perikop (TB)
Bacaan Alkitab
Yohanes 12: 1–8
Ibrani 13: 15–25

Sang Sumber Kelegaan

“Haus/Dahaga” adalah suatu sinyal alami dari tubuh yang menandakan kekurangan cairan. Ketika kadar air dalam tubuh menurun, tubuh kekurangan air, tenaga melemah dan aktivitas terhenti. Oleh karena itu kita membutuhkan air, agar dahaga dalam tubuh kita dapat hilang dan kita dapat kembali fokus melakukan berbagai aktivitas dengan baik. Namun ada jenis dahaga yang tidak terlihat oleh mata yaitu “dahaga jiwa”. Dahaga akan damai, penerimaan, pengampunan, dan kepastian hidup. Banyak orang berusaha memuaskannya melalui pencapaian-pencapaian, keberhasilan, kekayaan, hubungan, atau hiburan. Namun setelah semuanya diraih, tetap masih ada ruang kosong yang tidak terisi.

Dalam Kitab Yesaya 55:1 Tuhan berseru, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air.” Seruan ini adalah undangan kasih. Tuhan mengetahui kebutuhan terdalam manusia, dan Ia sendiri yang mengundang kita datang. Yang indah, undangan itu tidak disertai syarat pembayaran. Ini adalah anugerah. Air yang ditawarkan bukan sekadar kelegaan sementara, melainkan pemulihan batin yang menghidupkan kembali hati yang kering. Undangan itu menemukan kepenuhannya dalam perkataan Yesus di Injil Yohanes 6:35, ketika Ia berkata bahwa siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan haus lagi. Yesus tidak sekadar memberi sesuatu; Ia memberikan diri-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan. Percaya kepada-Nya berarti menyerahkan kehausan kita kepada-Nya dan membiarkan Dia memenuhi kekosongan terdalam.

Dunia sering menawarkan “air” yang tampak menyegarkan, tetapi hanya memuaskan sesaat. Semakin kita mengejarnya, semakin kita merasa perlu lebih banyak lagi. Berbeda dengan Kristus, yang memberi kepuasan yang menetap dan damai yang tidak bergantung pada keadaan. Karena itu, jika hati terasa kering dan lelah, jangan terus mencari di sumur yang salah. Datanglah kepada Tuhan dengan kejujuran. Ia tidak menolak siapa pun yang haus. Di dalam Dia, jiwa menemukan ketenangan, harapan dipulihkan, dan hidup memperoleh makna yang sejati.
Penulis: (IMAAP)

Doa
Tuhan yang penuh kasih, Kami mengakui bahwa sering kali kami mencari kepuasan di luar Engkau dan akhirnya merasa kosong. Hari ini kami datang kepada-Mu sebagai jiwa-jiwa yang haus, Biarlah hidup kami dipuaskan oleh hadirat-Mu. Amin

08/06/2026

*JANJI HIDUP*
Selasa, 9Juni 2026

Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia.
Kejadian 32: 1 Perikop (TB)

Paulus berkata: Tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.
Kisah Para Rasul 27: 23-24 Perikop (TB)

Bacaan Alkitab
Lukas 6: 27–35
Ibrani 13: 7–14

_*Tak Pernah Berjalan Sendiri*_

Hidup sering digambarkan sebagai sebuah perjalanan panjang yang penuh warna. Ada saat ketika langkah terasa mantap dan penuh keyakinan, tetapi ada p**a masa ketika hati diselimuti kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok hari. Kita berjalan sambil membawa berbagai beban: kekhawatiran akan masa depan, bayang – bayang kesalahan masa lalu, atau ketidakpastian yang belum terjawab. Dalam situasi seperti itu, rasa takut mudah muncul dan melemahkan hati.

Kitab Kejadian 32:1 berkisah tentang situasi Yakub yang melanjutkan perjalanannya, lalu malaikat-malaikat Allah berjumpa dengannya. Peristiwa itu bukan kebetulan. Yakub sedang menuju pertemuan yang menegangkan dengan Esau. Sebelum ia menghadapi ketakutannya, Tuhan lebih dahulu menunjukkan tanda penyertaan-Nya. Seolah-olah Tuhan hendak berkata, “Engkau tidak berjalan sendiri.” Kehadiran malaikat menjadi pengingat bahwa kuasa Allah yang senantiasa menyertai setiap langkahnya. Hal serupa dialami Paulus dalam Kisah Para Rasul 27:23–24. Di tengah badai dahsyat yang mengancam nyawa, ketika harapan hampir sirna, malaikat Tuhan berdiri di sisinya dan berkata, “Jangan takut.” Pesan itu menegaskan bahwa sekalipun ombak mengguncang kapal, hidup Paulus tetap berada dalam rencana Allah. Bahkan bukan hanya dirinya yang akan diselamatkan, tetapi juga orang-orang yang bersamanya.

Dari dua kisah ini kita memahami bahwa penyertaan Tuhan bukan berarti meniadakan tantangan. Yakub tetap harus menghadapi Esau, dan Paulus tetap melewati badai. Namun perbedaannya terletak pada kepastian bahwa Tuhan hadir di dalam setiap situasi. Ia menguatkan sebelum kita menghadapi persoalan dan meneguhkan saat badai melanda. Karena itu, ketika perjalanan hidup terasa berat, ingatlah bahwa Tuhan berjalan bersama kita. Kita mungkin tidak selalu melihat cara-Nya bekerja, tetapi kita dapat mempercayai hati-Nya yang setia. Bersama-Nya, ketakutan tidak lagi berkuasa, dan badai tidak lagi menentukan akhir perjalanan kita.
Penulis: (IMAAP)

_Doa: Tuhan yang setia, Terima kasih karena Engkau menyertai setiap langkah hidup kami. Ketika kami takut menghadapi hari esok, ingatkan kami bahwa Engkau selalu ada bersama kami. Amin_

07/06/2026

*JANJI HIDUP*
Senin, 8 Juni 2026

Aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.”
Yesaya 49: 4 Perikop (TB)

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apaapa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Lukas 5: 5 Perikop (TB)

Bacaan Alkitab
Roma 12: 9–16
Ibrani 13: 1–6

_*Lelah Tak Berarti Gagal*_

Ada musim dalam hidup ketika kita merasa seluruh tenaga sudah dikeluarkan, tetapi hasil yang diharapkan tidak kunjung datang. Kita sudah berusaha dengan sungguhsungguh, melayani dengan sepenuh hati, bekerja tanpa banyak mengeluh, namun yang terlihat justru kekosongan. Dalam kejujuran hati, mungkin pernah terlintas pikiran: “Apakah semua ini sia-sia?”

Pergumulan seperti ini diungkapkan dalam Kitab Yesaya 49:4. Sang hamba Tuhan merasa telah bersusah payah tanpa hasil dan bahkan menghabiskan kekuatannya dengan percuma. Itu adalah ungkapan yang sangat manusiawi, terbuka, dan penuh keletihan. Namun ayat itu tidak berhenti pada rasa kecewa. Ia segera menegaskan bahwa haknya tetap terjamin pada Tuhan dan upahnya ada pada Allahnya. Di tengah rasa gagal, ia memilih percaya bahwa Tuhan tetap memperhitungkan setiap pengorbanan. Iman membuatnya melihat melampaui situasi. Hal serupa terlihat dalam Injil Lukas 5:5. Simon dan teman-temannya telah bekerja sepanjang malam tanpa menangkap apa pun. Bagi seorang nelayan, itu adalah kegagalan yang nyata. Tubuh lelah, hati letih, dan harapan mungkin menipis. Namun ketika Yesus memintanya menebarkan jala kembali, Simon menjawab, “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Ketaatan lahir bukan dari keyakinan pada keadaan, tetapi dari kepercayaan kepada firman Tuhan.

Dari kedua bagian ini kita belajar bahwa lelah tidak sama dengan gagal. Rasa siasia tidak selalu berarti Tuhan tidak bekerja. Kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kekosongan agar kita belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Ia tidak menilai hidup kita hanya dari hasil yang terlihat, tetapi dari kesetiaan yang tersembunyi. Jika hari ini kita merasa upaya kita belum membuahkan hasil, jangan putus asa atau menyerah. Serahkanlah seluruh hidupmu kepada Tuhan. Tetaplah taat meskipun logika berkata tidak mungkin. Sebab di tangan-Nya, tidak ada jerih payah yang terbuang percuma, dan setiap ketaatan selalu memiliki makna kekal.
Penulis: (IMAAP)

_Doa: Terima kasih untuk firman-Mu yang menguatkan hati kami hari ini. Ketika kami merasa lelah, kecewa, dan hampir menyerah, Engkau mengingatkan bahwa tidak ada jerih payah yang sia-sia di dalam-Mu. Amin_

Address

Br. Pekandelan, Sading, Mengwi
Badung
80351

Opening Hours

07:00 - 00:00

Telephone

+6281353309333

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKPB Jemaat Kudus Sading posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GKPB Jemaat Kudus Sading:

Share