Kitab Suci - Deuterokanonika

Kitab Suci - Deuterokanonika Gereja yang didirikan di Yerusalem oleh Yesus dari Nazaret (sekitar tahun 33 Masehi) Sejarah Gereja Katolik meliputi rentang waktu selama hampir dua ribu tahun.

Sebagai cabang kekristenan tertua, sejarah Gereja Katolik merupakan bagian integral Sejarah kekristenan secara keseluruhan. Istilah Gereja Katolik yang digunakan dalam artikel ini digunakan secara khusus untuk menyebut Gereja yang didirikan di Yerusalem oleh Yesus dari Nazaret (sekitar tahun 33 Masehi) dan dipimpin oleh suatu suksesi apostolik yang berkesinambungan melalui Santo Petrus Rasul Krist

us, dikepalai oleh Uskup Roma sebagai pengganti St. Petrus, yang kini umum dikenal dengan sebutan Paus.

27/08/2023

*INSPIRASI PAGI*
Hasrat Memuliakan Tuhan
Senin, 28 Agustus 2023 – Peringatan Wajib Santo Augustinus

Matius 23:13-22

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

[Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.”

***

Sosok Santo Augustinus tidak boleh dilepaskan dari Santa Monika, ibunya. Santa Monika adalah ibu yang penyabar. Ia tekun dalam mendidik dan mendampingi anaknya. Augustinus lahir di Tagaste pada tanggal 13 November 354. Hidup masa mudanya tidak karuan. Namun, berkat ketekunan doa Santa Monika, ia berangsur menjadi anak yang baik. Setelah bertobat, hasrat hidup Augustinus hanya tertuju kepada Tuhan. Ia pun menjadi imam, hingga menjadi uskup di Hippo.

Salah satu tulisan Augustinus yang terkenal adalah Pengakuan-Pengakuan. Dikatakan di situ: “Terlambat aku mengasihi-Mu, keindahan yang sangat lampau namun sekaligus sangat baru, terlambat aku mencintai-Mu. Engkau memanggilku, menembus ketulian pendengaranku. Engkau menyilaukan mataku, membuatku tersungkur, namun Kausembuhkan p**a butanya mataku. Engkau telah mengembuskan aroma-Mu padaku. Kini aku telah menghirupnya, dan kini aku lapar dan haus akan Dikau. Engkau telah menjamahku dan kini aku terbakar dengan hasrat untuk sampai pada kedamaian-Mu.”

Bacaan pertama khusus dalam Peringatan Wajib Santo Augustinus, 1Yoh. 4:7-11, menguraikan bagaimana Allah dikobarkan oleh hasrat akan kasih-Nya kepada manusia sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal sebagai silih bagi dosa-dosa kita. Dia adalah Allah yang solider kepada manusia. Santo Augustinus mengerti akan hal itu. Itulah sebabnya, sepanjang hidupnya, ia dikobarkan dalam semangat yang sama untuk mengasihi dan memuliakan Allah.

Mari berefleksi: Bagaimana dengan kita? Apa hasrat hidup kita yang terdalam?

*W. Teguh Santosa SJ* (Vikaris Parokial Paroki Santo Antonius Purbayan, Surakarta)

27/08/2023

*MADAH HARIAN PAGI (Senin, 28 Agustus 2023 - Peringatan wajib Santo Agustinus, Uskup & Pujangga Gereja)*

Pemimpin mulia bapa bijaksana
Yang hari ini kita peringati
Kini berjaya penuh s**acita
Di surga baka.

Diberi beban memegang pimpinan
Selaku guru imam umat baru
Dengan teladan memberi bimbingan
Di keuskupan.

Semoga kita ditolong doanya
Dan menerima pengampunan dosa
Dihantarkannya menuju ke surga
Menghadap Bapa.

Dimulyakanlah Bapa mahamurah
Bersama Putra penebus dunia
Roh Kudus p**a penghibur Gereja
Slama-lamanya. Amin.

DOA
Tuhan, cahaya kebenaran, baharuilah kiranya di dalam Gereja-Mu semangat yang Kaucurahkan dalam diri Santo Agustinus. Semoga kami merindukan Dikau, sumber kebijaksanaan sejati, dan mencari Engkau, asal segala cinta ilahi. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

26/08/2023

*MADAH HARIAN PAGI (Minggu, 27 Agustus 2023- Hari Minggu Biasa XXI)*

Allah hidup dan meraja
Alleluya, alleluya
Maut sudah dikalahkan
Hidup sudah dilimpahkan.
Alleluya, alleluya
Terpujilah Kristus Tuhan.

Hari ini hari Tuhan
Alleluya, alleluya
Hari penuh kes**aan
Hari raya kebangkitan
Alleluya, alleluya
Terpujilah Kristus Tuhan.

Mari kita bergembira
Alleluya, alleluya
Bersyukur sambil memuji,
Bermadah sambil bernyanyi
Alleluya, alleluya
Terpujilah Kristus Tuhan. Amin.

DOA
Ya Allah, Engkau menyatukan hati umat beriman untuk mengejar tujuan yang sama. Semoga kami mencintai perintah-Mu dan merindukan janji-janji-Mu, agar di tengah kesibukan dunia ini hati kami tetap terpikat pada s**acita sejati. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Like dan share page Kristen Katolik
21/08/2021

Like dan share page Kristen Katolik

Saint of The Day
Santo Pius X (Paus ke 257)

Pius X adalah paus kita yang ke-257. Ia dilahirkan pada tahun 1835 di Riese, Italia dan diberi nama Giuseppe Sarto. Guiseppe (Yosef) adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dalam keluarga, ia biasa dipanggil dengan nama kesayangan "Beppi". Ayahnya seorang pegawai pos. Papa dan mama Sarto mengajarkan cinta kasih kepada Yesus dan Gereja-Nya kepada kedelapan anak mereka melalui teladan cinta kasih dalam rumah mereka.

Melebihi segalanya, Giuseppe ingin menyerahkan hidupnya untuk membawa banyak orang ke surga. Ia rindu menjadi seorang imam. Dan untuk itu, ia dan keluarganya harus banyak berkorban agar ia dapat bersekolah di seminari. Itu bukan masalah baginya. Ia bahkan biasa berjalan bermil-mil jauhnya dengan kaki telanjang ke sekolah agar sepatunya yang satu-satunya itu jangan sampai rusak. Ketika usianya 23 tahun, Giuseppe ditabhiskan menjadi seorang imam.

Don Sarto (sapaan orang Italia kepada para imam) berkarya di paroki-paroki miskin selama tujuhbelas tahun. Semua orang mengasihinya. Don Sarto biasa memberikan segala yang ia miliki demi membantu mereka yang membutuhkan. Seringkali saudarinya harus menyembunyikan sebagian pakaiannya agar jangan sampai Don Sarto tidak mempunyai pakaian untuk dikenakan. Bahkan setelah ia diangkat menjadi Uskup kota Mantua dan kemudian diangkat lagi menjadi Kardinal, ia masih s**a membagi-bagikan apa yang ia miliki kepada mereka yang berkekurangan. Ia bahkan tidak menyimpan apa-apa bagi dirinya sendiri.

Ketika Paus Leo XIII wafat pada tahun 1903, Kardinal Sarto diangkat menjadi paus. Ia memilih nama Pius X. Ketika Mama Sarto datang mengunjunginya di Vatican, Paus menunjukkan kepada ibunya cincin kepausannya. Mama Sarto berkata, "Kamu tidak akan mengenakan cincin itu hari ini, jika aku tidak terlebih dahulu mengenakan cincin ini.." sambil menunjukkan cincin perkawinannya.

Secara istimewa Paus Pius X dikenang karena kasihnya yang berkobar-kobar kepada Ekaristi Kudus. Bapa Suci mendorong semua orang untuk menyambut Yesus sesering mungkin, bahkan tiap hari! Ia juga menetapkan ketentuan yang mengijinkan anak-anak menyambut Komuni Kudus juga. Sebelumnya, anak-anak harus menunggu hingga usia 12-14 tahun untuk dapat menyambut Tuhan. Paus yakin bahwa Komuni Kudus memberi kekuatan yang diperlukan untuk melakukan segala sesuatu demi kasih kepada Yesus!

Paus Pius X percaya teguh dan amat mencintai iman Katolik. Ia menghendaki setiap orang Katolik mengenal dan mencintai keindahan kebenaran ajaran iman Katolik. Ia amat peduli pada tiap-tiap orang, mengenai kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmaninya. Ia mendorong para imam dan para katekis membantu orang banyak mengenal iman mereka. Paus mengerahkan banyak upaya untuk memperbaharui liturgi. Sepanjang hidupnya ia tertarik pada musik-musik sakral dan mendorong digunakannya Lagu-lagu Gregorian di setiap paroki.

Namun demikian, ia menjelaskan bahwa ia beranggapan usaha untuk menggantikan segala bentuk musik Gereja lainnya dengan Lagu Gregorian tidaklah dikehendaki. Ia mendorong digunakannya juga komposisi modern dalam liturgi, selama komposisi modern ini memenuhi standard musik liturgi Gereja. Paus Pius X juga merevisi Ibadat Harian Gereja.

Ketika pecah Perang Dunia I, Paus merasa amat menderita. Ia tahu bahwa akan ada banyak orang terbunuh. Ia mengatakan, "Aku akan dengan senang hati menyerahkan nyawaku demi menyelamatkan anak-anakku yang malang dari penderitaan yang mengerikan ini."

Paus Pius X wafat pada tanggal 20 Agustus 1914. Dalam surat wasiatnya ia menulis, "Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin, saya berharap mati miskin." Paus Pius X dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1954. Pestanya dirayakan setiap tanggal 21 Agustus.

Sumber: katakombe.org ; luxveritatis7.wordpress.com

♡ Valentine ✞

04/04/2021

EMBUN ROHANI PAGI dari Kota TOBELO MARAHAI, MALUKU UTARA
Senin, 05 April 2021
Bacaan I, Kis. 2 : 14. 22 - 32
Injil, Mat. 28 : 8 - 15
*SENIN DALAM OKTAF PASKAH*

YESUS PASTI MENJUMPAIMU

" _Bila tempat tujuanmu baru setengah perjalanan, maka tentu ada kecemasan atau ketakutan, entah kah nanti Anda bisa menyelesaikannya atau tidak. Namun bila ada sahabat yang datang membantu dan menawarkan diri untuk menemanimu maka yakinlah bahwa Anda pasti akan sampai ke tujuan."_

Hati yang masih diliputi oleh kecemasan dan ketakutan terasa sirna seketika ketika Yesus menjumpai Maria Magdalena dan teman-temanya di tengah perjalanan dan berkata, " *Salam bagimu!" Jangan Takut!"* Hati mereka pun diliputi s**acita dan kebahagiaan karena tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit dan Ia hidup.

Kita pun atas salah satu cara sedang mengadakan perjalanan kehidupan; Ada kecemasan, ketakutan, kegagalan dan banyak tantangan. Namun justru di saat-saat seperti itu, apakah kita masih bisa melihat Yesus dalam setiap derita dan kesulitan hidup? Masih terbukakah telinga untuk mendengar sapaan Yesus, Salam bagimu dan Jangan takut? Masih ada hati untuk merasakan kehadiran-Nya?

Hari ini kita diyakinkan bahwa Yesus pasti mendatangi kita dalam situasi apa pun yang kita sedang alami dan hadapi saat ini. Ia pasti meringankan beban di pundak, menghibur hati yang bersedih, menguatkan yang lemah dan mengangkat yang jatuh.

Berilah tangamu dipegang oleh Yesus maka tanganmu takan terlepaskan sebesar apa pun tiupan angin dan badai menghadangmu.

Selamat beraktivitas untuk para sahabat

Salam, doa dan berkat Tuhan tercurah untukmu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin

( Romo Inno Ngutra _alias_ Rinnong - Duc in Altum )

30/03/2021

*INSPIRASI PAGI*
Dipanggil untuk Bertanggung Jawab
Rabu, 31 Maret 2021 – Hari Rabu dalam Pekan Suci

Matius 26:14-25

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.”

***

“Bukan aku, ya Tuhan?” Ungkapan ini disampaikan oleh para murid ketika Yesus berkata bahwa di antara mereka ada seorang yang akan mengkhianati-Nya. Kita ketahui kemudian bahwa orang itu ternyata adalah Yudas. Dalam refleksi menjelang Tri Hari Suci, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan ungkapan tersebut, “Bukan aku, ya Tuhan?”

Meski Yudas bertanggung jawab atas pengkhianatannya terhadap Yesus, saya tidak ingin menghakimi Yudas. Saya ingin kita masing-masing mengucapkan sendiri perkataan tersebut, “Bukan aku, ya Tuhan?” Bayangkan berbagai peristiwa yang kita alami akhir-akhir ini: Pandemi Covid-19, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan berbagai peristiwa lain. Tuhan memandang dengan sedih keadaan dunia, lalu memandang kita, dan kita menjawab, “Bukan aku, ya Tuhan?”

Ketika saya mengucapkan kalimat tersebut, saya malu. Rasanya saya “cuci tangan” atas segala keadaan dunia yang rusak dan berantakan. Meskipun bukan saya yang menyebabkan munculnya virus corona, sudahkah saya memperhatikan protokol kesehatan agar saya menjaga diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya? Sudahkah saya berperan aktif untuk mengurangi risiko penularan Covid-19?

Kita tidak bisa berkata, “Bukan aku, ya Tuhan?”, sebab kita harus bertanggung jawab atas berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak bisa “cuci tangan” seolah-olah kita tidak terlibat, seolah-olah kita bersih. Mengembangkan sikap tanggung jawab hendaknya menjadi keutamaan yang perlu kita sadari dan kita usahakan.

Bertanggung jawab berarti mau repot dan bersedia turun tangan. Yesus ingin kita menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab. Kita tidak perlu berkata “Bukan aku, ya Tuhan?” Sebaliknya, baiklah kita tanggap untuk membantu Tuhan dalam menghadirkan kebaikan di sekitar kita.

*Ernest Justin SJ* (Staf Pusat Pastoral Yogyakarta)

30/03/2021

*INSPIRASI PAGI*
Dipanggil untuk Jujur dan Otentik
Selasa, 30 Maret 2021 – Hari Selasa dalam Pekan Suci

Yohanes 13:21-33, 36-38

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia keras**an Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian p**a Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.”

Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

***

Hari ini kita diajak untuk merenungkan kejadian saat Yesus makan bersama dengan murid-murid-Nya. Ada dua tokoh utama yang kiranya bisa kita renungkan, yakni Yudas Iskariot dan Simon Petrus. Apa yang dilakukan Yesus terhadap mereka berdua? Yesus mengajak mereka untuk melihat dengan jujur ke dalam hati mereka: Yudas yang merencanakan pengkhianatan, serta Petrus yang pura-pura berani tetapi nantinya akan menjadi pengkhianat juga.

Masing-masing dari kita memiliki lapisan-lapisan pikiran, perasaan, dan hasrat-hasrat. Kadang kita menampilkan diri sebagai seorang yang aktif di Gereja, tetapi sebenarnya tidak s**a terlibat dalam pelayanan. Kita aktif karena dipaksa. Kadang kita menampilkan diri sebagai seorang yang baik di hadapan pemimpin, tetapi sebenarnya sadar bahwa sikap itu palsu, tidak otentik, dan sekadar cari muka.

Yesus menegur Yudas dan Petrus karena kepalsuan yang mereka bawa. Yudas terseret kepalsuan hasrat untuk mencapai hasil yang instan tanpa sungguh mendengarkan bisikan hati yang terdalam, bisikan dari Yesus yang telah ia dengar selama mengikuti-Nya. Petrus terseret kepalsuan hasrat untuk tampil hebat tanpa menyadari kelemahan, ketakutan, dan kecilnya hati yang ada dalam dirinya.

Sembari merenungkan itu, mari kita menempatkan diri kita di antara para murid. Kita mendengar Yesus menyapa dan menegur kita. Yesus ingin kita jujur dengan segala kepalsuan yang kita bawa, kepura-puraan yang menjadi topeng kita. Apa yang belum saya akui dengan jujur? Apa yang membuat saya tidak otentik?

Mari kita mohon rahmat agar kita bisa menjadi seorang yang jujur, seorang yang otentik. Kejujuran tidak muncul begitu saja secara spontan. Kejujuran memerlukan usaha untuk mendengarkan suara hati yang terdalam, suara hati yang datang dari Tuhan. Itulah kejujuran yang sejati. Percayalah, kejujuran yang sejati akan membawa kegembiraan dan kedamaian dalam hati kita.

*Ernest Justin SJ* (Staf Pusat Pastoral Yogyakarta)

28/03/2021

*INSPIRASI PAGI*
Dipanggil untuk Bersaudara
Senin, 29 Maret 2021 – Hari Senin dalam Pekan Suci

Yohanes 12:1-11

Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

***

Mari kita bayangkan apa yang dirasakan Yesus pada hari-hari menjelang penderitaan-Nya. Mungkin Ia merasa cemas? Mungkin Ia merasa takut, sebab orang Farisi dan para imam kepala bermufakat untuk menghabisi-Nya? Apa yang dilakukan Yesus menghadapi persekongkolan yang begitu kejam dan bengis itu?

Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang pergi ke Betania untuk makan bersama dengan Lazarus, Marta, dan Maria. Ini menunjukkan, meskipun situasi tengah genting dan mencekam, Yesus tidak sibuk dengan diri-Nya sendiri. Ia tidak terjebak pada ketakutan dan kekhawatiran. Saya percaya bahwa Yesus pun merasa gelisah. Namun, situasi yang sulit tidak Ia hadapi dengan emosi negatif yang menguras energi. Karena itu, Yesus datang mengunjungi sahabat-sahabat yang sungguh mencintai dan mendukung-Nya. Ia menghendaki agar cinta dan perhatian menjadi kekuatan yang menopang-Nya. Dengan ini, Yesus menunjukkan kepada kita betapa dukungan dan cinta menjadi nilai yang sungguh penting di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kompetisi dan emosi negatif.

Ignatius Loyola dalam Latihan Rohani mengajarkan sebuah meditasi berjudul Dua Panji: Di satu sisi ada panji Kristus, di sisi lain ada panji setan. Kita perlu peka untuk melihat bahwa apa yang menjadi nilai dunia bisa jadi adalah manip**asi setan. Saya teringat cerita seorang rekan yang bekerja di dunia perbankan yang penuh dengan tekanan karena kompetisi, iri hati, gosip, dan semangat saling menjatuhkan. Semua berlomba untuk menjadi yang terhebat; semua saling menyingkirkan; semua berlomba saling menjatuhkan. Nilai setan sayangnya menjadi nilai yang dipegang banyak orang.

Di tengah dunia yang penuh dengan nilai-nilai negatif, Yesus datang berkunjung kepada Lazarus, Marta, dan Maria. Nilai persahabatan dan dukungan menjadi nilai Kristus. Kita ditantang untuk menjadi saudara dan sahabat bagi sesama, bukan menjadi ancaman dan beban bagi mereka.

*Ernest Justin SJ* (Staf Pusat Pastoral Yogyakarta)

18/03/2021

EMBUN ROHANI PAGI dari Kota LANGGUR, TANAH PARA MARTIR KEI
Jumat, 19 Maret 2021
Bac.I, 2Sam 5 : 4 - 5a. 12 - 14a. 16
Bac.II, Rom. 4 : 13 - 16. 18. 22
Injil, Mat. 1 : 16. 18 - 21. 24a atau Luk. 2 : 41 - 51a
*HR St. YUSUF, Suami SP. MARIA*

Ikuti di link: *Maaf karena berada di luar Ambon sehingga tidak bisa membuat rekaman*

MENCINTAI DENGAN DIAM

" _Seorang ayah akan mencintai kita anak-anaknya dengan diam. Walaupun sedih dan gagal tapi ia takan membiarkan air matanya jatuh di hadapan putra-putrinya. Hanya satu yang diharapkannya yakni agar engkau sukses dan bahagia."_

Tentang Yusuf, suami Santa Perawan Maria memang tidak disebutkan banyak dalam Kitab Suci, namun karakter ketulusan dan keiklasannya tetap dikenang sepanjang masa. Dan pada hari rayanya, ini saya mengajak para pembaca untuk merenungkan tentang diamnya seperti yang tercatat dalam Injil Lukas. Ketika Maria dan dirinya menemukan Yesus yang tertinggal di Yerusalem, Maria bertanya kepada Yesus, mengapa Ia menyusahkan mereka, tapi Kitab Suci tidak mencatat tentang reaksi Yusuf. Kendatipun demikian, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan suami yakni menghantar p**ang Maria dan Yesus ke Nazaret dan melanjutkan kehidupan keluarga mereka.

Pelajaran penting bagi kita di hari raya St. Yusuf ini adalah;

1) Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan banyaknya kata-kata yang terucap. Kadang dalam moment tertentu, hanya diam, senyum, tatapan dan pelukan saja sudah cukup untuk menentramkan orang lain;

2) Cinta dan perhatian tak selamanya dinyatakan dengan kata dan bukti. Mencintai dengan diam adalah karakter seorang pencinta sejati karena ia tak mau membiarkan orang lain merasa terbebani dengan cinta dan perhatiannya;

3) Ketiadaan kata bukan berarti pasif, melainkan selalu memberi ruang bagimu untuk melakukan tindakan dan perbuatan baik dalam diammu.

Akhirnya sadarlah bahwa banyak orang telah, sedang dan akan memperhatikan, mencintai dan berkorban untukmu dengan diam mereka dengan harapan agar engkau sukses dan bahagia.

Selamat berhari raya untuk para sahabat

Salam, doa dan berkat Tuhan tercurah untukmu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin

( Romo Inno Ngutra _alias_ Rinnong - Duc in Altum )

12/03/2021

Inspirasi Pagi

Tidak Ada Sesuatu yang Tidak Berarti
Sabtu, 13 Maret 2021 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

Lukas 18:9-14

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini p**ang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Seorang yang sudah bertobat tidak akan mengatakan bahwa segala sesuatu tidak ada artinya lagi. Sebaliknya, ia akan berkata bahwa segala sesuatu yang ada, ada pada Allah, dan bahwa Allah adalah tempat di mana kita dapat mengerti tata kehidupan yang sebenarnya. Ia tidak akan berkata, “Tidak ada lagi yang berarti, sebab saya mengetahui bahwa Tuhan ada,” melainkan, “Sekarang segala sesuatu terbungkus oleh cahaya ilahi, dan karena itu, tidak ada sesuatu pun yang tidak berarti.”

Seorang yang sudah bertobat melihat, mendengar, dan memahami segala sesuatu dengan mata ilahi, dengan telinga ilahi, dan dengan hati ilahi. Seorang yang sudah bertobat mengenali bahwa dirinya dan seluruh dunia ada pada Allah. Seorang yang bertobat berada di tempat Allah berada, dan dengan demikian segala sesuatu mempunyai arti, entah itu memberi air kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, bekerja demi tata kehidupan dunia yang lebih baik, berdoa, tersenyum pada seorang anak, membaca buku, atau tidur dengan tenteram. Segala sesuatu menjadi lain meskipun tampaknya sama saja.

Diolah dari Henri Nouwen, Tuhan Tuntunlah Aku (Yogyakarta: Kanisius, 1994).

Antonius Dhimas Hardjuna SJ

Address

Ambon

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kitab Suci - Deuterokanonika posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share