26/12/2025
RINGKASAN PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE-13
PILIHLAH PADA HARI INI"
AYAT HAFALAN: " _Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN_ !" (Yosua 24: 15).
PENDAHULUAN
Di akhir hidupnya, Yosua menantang Israel untuk memperbarui perjanjian dan memilih dengan tegas kepada siapa mereka akan beribadah. Tanpa raja manusia, bangsa itu diingatkan bahwa Yahwe saja adalah Raja mereka: kesetiaan membawa berkat, pengkhianatan mendatangkan kehancuran. Seruan “pilihlah pada hari ini” adalah panggilan mendesak bagi setiap generasi untuk menentukan loyalitasnya—kepada Tuhan yang hidup atau ilah-ilah palsu.
I. KAMU ADA DI SANA
a. Allah setia pada janji-Nya dan sejarah keselamatan berakar pada karya-Nya. Pembaruan perjanjian di Sikhem menegaskan bahwa Allah yang berjanji kepada Abraham adalah Allah yang menggenapinya. “Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini.” (Kejadian 12:7)
b. Israel ada karena kasih karunia Allah, bukan karena jasa manusia. Dalam Yosua 24:2–13, Allah menegaskan bahwa Dialah pelaku utama sejarah—Israel hanyalah penerima anugerah dan pembebasan. “Bukan karena kebenaranmu atau karena kejujuran hatimu engkau memasuki negeri itu… melainkan karena kefasikan bangsa-bangsa itu TUHAN, Allahmu, menghalau mereka.” (Ulangan 9:5)
c. Setiap generasi bertanggung jawab secara pribadi dan kolektif terhadap perjanjian Allah.
Perjanjian tidak hanya untuk leluhur, tetapi juga untuk mereka yang hadir “hari ini,” sehingga iman harus dihidupi bersama sebagai satu umat.
“Bukan hanya dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian ini, tetapi dengan kita, yakni kita semua yang hidup di sini pada hari ini.” (Ulangan 5:3, TB)
II. DENGAN TULUS DAN SETIA
a. Setiap umat harus membuat pilihan sadar untuk setia kepada Tuhan. Yosua menegaskan bahwa kesetiaan kepada Allah bukan warisan otomatis, melainkan keputusan pribadi dan kolektif. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” (Yosua 24:15)
b. Takut akan Tuhan berarti hormat yang mendalam dan ketaatan yang nyata. Takut akan Tuhan bukan ketakutan emosional, melainkan kesadaran akan kekudusan dan otoritas-Nya yang menuntun pada hidup taat. “Supaya ia belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ulangan 17:19)
c. Melayani Tuhan dengan tulus dan setia menuntut hati yang utuh dan konsisten. Pelayanan sejati bukan formalitas lahiriah, tetapi kesetiaan yang dapat dipercaya, lahir dari hati yang tidak terbagi. “Engkau harus hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 18:13)
III. BEBAS UNTUK MELAYANI
a. Melayani Tuhan harus lahir dari pilihan bebas, bukan paksaan. Yosua menghormati kehendak bebas Israel, karena kesetiaan sejati hanya bermakna jika dipilih dengan sadar. “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” (Yosua 24:22, TB)
b. Komitmen kepada Tuhan adalah keputusan serius dengan konsekuensi nyata. Yosua memperingatkan Israel agar tidak meremehkan janji mereka, sebab Allah itu kudus dan setia, dan ketidaktaatan membawa akibat. “Kamu tidak sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus.” (Yosua 24:19)
c. Melayani Tuhan hanya mungkin melalui hubungan dengan Allah yang menyelamatkan. Ketaatan bukan sekadar usaha manusia, melainkan respons syukur atas karya pembebasan Allah. “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” (Keluaran 20:2)
*IV. BAHAYA PENYEMBAHAN BERHALA.*
a. Penyembahan berhala adalah ancaman nyata karena berakar di dalam hati umat. Yosua mengulang seruannya karena berhala tidak berada di masa lalu, melainkan “di tengah-tengah” Israel. “Jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengahmu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” (Yosua 24:23)
b. Kesetiaan kepada Tuhan menuntut keputusan sadar untuk mengarahkan hati kepada-Nya. Hati manusia tidak secara alami tunduk kepada Allah; diperlukan pilihan terus-menerus untuk mendengarkan suara-Nya. “Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup.” (Yesaya 55:3)
c. Ketaatan sejati bersifat relasional, bukan sekadar formal atau legalistik. Janji Israel untuk “mendengarkan suara-Nya” menegaskan bahwa perjanjian adalah hubungan hidup dengan Allah yang penuh kasih karunia. “Kami akan beribadah kepada TUHAN, Allah kami, dan mendengarkan suara-Nya.” (Yosua 24:24)
*V. MENGAKHIRI DENGAN BAIK*
a. Kesetiaan Allah di masa lalu menjadi dasar pengharapan bagi masa depan. Penguburan Yosua, Eleazar, dan tulang Yusuf menegaskan bahwa janji Tuhan kepada para leluhur telah digenapi. “TUHAN memberikan kepada Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang mereka.” (Yosua 21:43)
b. Iman tidak diwariskan otomatis—setiap generasi harus memilih sendiri. Meski generasi Yosua setia, masa depan Israel bergantung pada keputusan rohani generasi berikutnya. “Orang Israel beribadah kepada TUHAN selama Yosua hidup dan selama para tua-tua yang lanjut umurnya hidup sesudah Yosua.” (Yosua 24:31)
c. Mengakhiri dengan baik bergantung pada kesetiaan seumur hidup kepada Tuhan.
Keberhasilan Yosua terletak pada ketekunannya berjalan bersama Allah sampai akhir hidupnya. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)
*KESIMPULAN*
Kitab Yosua mengajarkan bahwa Allah setia menggenapi janji-Nya, tetapi umat-Nya harus merespons dengan pilihan sadar untuk melayani Dia dengan tulus dan setia. Iman bukan warisan otomatis; setiap generasi dipanggil meninggalkan berhala, mengarahkan hati kepada Tuhan, dan berjalan setia sampai akhir.
Mengucapkan: Selamat Hari Sabat, Selmat beribadah dan selamat bersukcita bersama keluarga tercinta.