Good News

Good News Kabar Baik Kehidupan

03/04/2026

Selamat Hari Sabat

13/03/2026

Selamat Hari Persiapan Sabat

08/03/2026
08/03/2026

3 Hal Penghancur Masa Depan Gen Alpha

1. Lebih mendengarkan nasihat teman dari pada orang tua.

2. Malas belajar, dan mengabaikan pendidikan.

3. Gemar main game online, menghabiskan waktu dengan HP

31/01/2026
RINGKASAN PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE-13 PILIHLAH PADA HARI INI"AYAT HAFALAN: " _Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk...
26/12/2025

RINGKASAN PELAJARAN SEKOLAH SABAT KE-13

PILIHLAH PADA HARI INI"

AYAT HAFALAN: " _Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN_ !" (Yosua 24: 15).

PENDAHULUAN
Di akhir hidupnya, Yosua menantang Israel untuk memperbarui perjanjian dan memilih dengan tegas kepada siapa mereka akan beribadah. Tanpa raja manusia, bangsa itu diingatkan bahwa Yahwe saja adalah Raja mereka: kesetiaan membawa berkat, pengkhianatan mendatangkan kehancuran. Seruan “pilihlah pada hari ini” adalah panggilan mendesak bagi setiap generasi untuk menentukan loyalitasnya—kepada Tuhan yang hidup atau ilah-ilah palsu.

I. KAMU ADA DI SANA
a. Allah setia pada janji-Nya dan sejarah keselamatan berakar pada karya-Nya. Pembaruan perjanjian di Sikhem menegaskan bahwa Allah yang berjanji kepada Abraham adalah Allah yang menggenapinya. “Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini.” (Kejadian 12:7)

b. Israel ada karena kasih karunia Allah, bukan karena jasa manusia. Dalam Yosua 24:2–13, Allah menegaskan bahwa Dialah pelaku utama sejarah—Israel hanyalah penerima anugerah dan pembebasan. “Bukan karena kebenaranmu atau karena kejujuran hatimu engkau memasuki negeri itu… melainkan karena kefasikan bangsa-bangsa itu TUHAN, Allahmu, menghalau mereka.” (Ulangan 9:5)

c. Setiap generasi bertanggung jawab secara pribadi dan kolektif terhadap perjanjian Allah.
Perjanjian tidak hanya untuk leluhur, tetapi juga untuk mereka yang hadir “hari ini,” sehingga iman harus dihidupi bersama sebagai satu umat.
“Bukan hanya dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian ini, tetapi dengan kita, yakni kita semua yang hidup di sini pada hari ini.” (Ulangan 5:3, TB)

II. DENGAN TULUS DAN SETIA
a. Setiap umat harus membuat pilihan sadar untuk setia kepada Tuhan. Yosua menegaskan bahwa kesetiaan kepada Allah bukan warisan otomatis, melainkan keputusan pribadi dan kolektif. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” (Yosua 24:15)

b. Takut akan Tuhan berarti hormat yang mendalam dan ketaatan yang nyata. Takut akan Tuhan bukan ketakutan emosional, melainkan kesadaran akan kekudusan dan otoritas-Nya yang menuntun pada hidup taat. “Supaya ia belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ulangan 17:19)

c. Melayani Tuhan dengan tulus dan setia menuntut hati yang utuh dan konsisten. Pelayanan sejati bukan formalitas lahiriah, tetapi kesetiaan yang dapat dipercaya, lahir dari hati yang tidak terbagi. “Engkau harus hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 18:13)

III. BEBAS UNTUK MELAYANI
a. Melayani Tuhan harus lahir dari pilihan bebas, bukan paksaan. Yosua menghormati kehendak bebas Israel, karena kesetiaan sejati hanya bermakna jika dipilih dengan sadar. “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” (Yosua 24:22, TB)

b. Komitmen kepada Tuhan adalah keputusan serius dengan konsekuensi nyata. Yosua memperingatkan Israel agar tidak meremehkan janji mereka, sebab Allah itu kudus dan setia, dan ketidaktaatan membawa akibat. “Kamu tidak sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus.” (Yosua 24:19)

c. Melayani Tuhan hanya mungkin melalui hubungan dengan Allah yang menyelamatkan. Ketaatan bukan sekadar usaha manusia, melainkan respons syukur atas karya pembebasan Allah. “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” (Keluaran 20:2)

*IV. BAHAYA PENYEMBAHAN BERHALA.*
a. Penyembahan berhala adalah ancaman nyata karena berakar di dalam hati umat. Yosua mengulang seruannya karena berhala tidak berada di masa lalu, melainkan “di tengah-tengah” Israel. “Jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengahmu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” (Yosua 24:23)

b. Kesetiaan kepada Tuhan menuntut keputusan sadar untuk mengarahkan hati kepada-Nya. Hati manusia tidak secara alami tunduk kepada Allah; diperlukan pilihan terus-menerus untuk mendengarkan suara-Nya. “Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup.” (Yesaya 55:3)

c. Ketaatan sejati bersifat relasional, bukan sekadar formal atau legalistik. Janji Israel untuk “mendengarkan suara-Nya” menegaskan bahwa perjanjian adalah hubungan hidup dengan Allah yang penuh kasih karunia. “Kami akan beribadah kepada TUHAN, Allah kami, dan mendengarkan suara-Nya.” (Yosua 24:24)

*V. MENGAKHIRI DENGAN BAIK*
a. Kesetiaan Allah di masa lalu menjadi dasar pengharapan bagi masa depan. Penguburan Yosua, Eleazar, dan tulang Yusuf menegaskan bahwa janji Tuhan kepada para leluhur telah digenapi. “TUHAN memberikan kepada Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang mereka.” (Yosua 21:43)

b. Iman tidak diwariskan otomatis—setiap generasi harus memilih sendiri. Meski generasi Yosua setia, masa depan Israel bergantung pada keputusan rohani generasi berikutnya. “Orang Israel beribadah kepada TUHAN selama Yosua hidup dan selama para tua-tua yang lanjut umurnya hidup sesudah Yosua.” (Yosua 24:31)

c. Mengakhiri dengan baik bergantung pada kesetiaan seumur hidup kepada Tuhan.
Keberhasilan Yosua terletak pada ketekunannya berjalan bersama Allah sampai akhir hidupnya. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)

*KESIMPULAN*
Kitab Yosua mengajarkan bahwa Allah setia menggenapi janji-Nya, tetapi umat-Nya harus merespons dengan pilihan sadar untuk melayani Dia dengan tulus dan setia. Iman bukan warisan otomatis; setiap generasi dipanggil meninggalkan berhala, mengarahkan hati kepada Tuhan, dan berjalan setia sampai akhir.

Mengucapkan: Selamat Hari Sabat, Selmat beribadah dan selamat bersukcita bersama keluarga tercinta.

Ringkasan SS Pelajaran ke-13:PILIHLAH PADA HARI INI!Rabu, 24 Des. 2025 BAHAYA PENYEMBAHAN BERHALABacalah Yosua 24 : 22-2...
24/12/2025

Ringkasan SS
Pelajaran ke-13:

PILIHLAH PADA HARI INI!

Rabu, 24 Des. 2025

BAHAYA PENYEMBAHAN BERHALA

Bacalah Yosua 24 : 22-24. Mengapa Yosua perlu mengulangi seruannya kepada orang Israel untuk menyingkirkan berhala-berhala mereka?

Ancaman penyembahan berhala bukanlah ancaman yang bersifat teoritis. Sebelumnya, di dataran Moab, dalam konteks yang sama, Musa meminta keputusan yang sama (Ul. 30 : 19, 20). Dewa-dewa yang ada di hadapan mereka bukanlah dewa-dewa di Mesir atau di seberang sungai, tetapi dewa-dewa itu ada "di tengah-tengah mereka." Oleh karena itu, Yosua memohon kepada bangsanya untuk mencondongkan hati mereka kepada Tuhan. Istilah Ibrani yang digunakan di sini, natah, berarti "merentangkan", "membengkokkan". Kata ini menggambarkan Allah yang diharapkan untuk membungkuk dan mendengarkan doa (2 Raj. 19 : 16, Mzm. 31 : 2, 3, Dan. 9 : 18), dan ini juga merupakan sikap yang dituntut dari Israel di kemudian hari oleh para nabi (Yes. 55 : 3, Yer. 7 : 24). Kata ini digunakan untuk menunjukkan kemurtadan Salomo ketika hatinya condong kepada ilah-ilah asing (1 Raj. 11 : 2, 4, 9). Hati manusia yang berdosa tidak memiliki kecenderungan alami untuk tunduk dan mendengarkan suara Tuhan. Dibutuhkan keputusan sadar dari pihak kita untuk mengarahkan hati kita kepada pemenuhan kehendak Allah.

Jawaban bangsa Israel secara harfiah berbunyi: "Kami akan mendengarkan suara-Nya." Ungkapan ini menekankan aspek relasional dari ketaatan. Israel tidak diminta untuk secara rutin mengikuti aturan-aturan yang tidak bernyawa. Perjanjian ini adalah tentang hubungan yang hidup dengan Tuhan, yang tidak dapat sepenuhnya diungkapkan oleh peraturan-peraturan belaka. Agama Israel tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi legisme; sebaliknya, agama Israel adalah sebuah percakapan yang terus-menerus dalam iman dan kasih dengan Juruselamat yang kudus dan penuh belas kasihan.

Bahkan setelah janji rangkap tiga bangsa Israel untuk melayani Tuhan, yang menyiratkan, seperti yang diperintahkan Yosua, pembuangan ilah-ilah asing dari tengah-tengah mereka, laporan bahwa hal itu benar-benar terjadi tidak ada. Di sepanjang kitab ini, sudah menjadi kebiasaan untuk melaporkan pemenuhan perintah Yosua (atau perintah Musa) sebagai contoh ketaatan. Tidak adanya hal itu di akhir kitab ini membuat permohonan Yosua menjadi tidak jelas. Imbauan utama dari kitab ini untuk melayani Tuhan bukan hanya untuk generasi Yosua, tetapi juga untuk setiap generasi baru umat Allah yang akan membaca atau mendengar pesan ini.

*Seberapa sering Anda berjanji kepada Tuhan bahwa Anda akan melakukan sesuatu tetapi ternyata Anda tidak melakukannya? Mengapa Anda tidak melakukannya? Apakah yang dapat Anda pelajari dari jawaban Anda tentang kasih karunia?*

Ayat Hafalan: Yosua 24:15.
"Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; ... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Ringkasan pelajaran sekolah sabat pelajaran ketigabelas hari Selasa tanggal 23 Desember 2025.  Bebas untuk Melayani.  Ay...
23/12/2025

Ringkasan pelajaran sekolah sabat pelajaran ketigabelas hari Selasa tanggal 23 Desember 2025.

Bebas untuk Melayani.

Ayat Yosua 24:16-21.

Yosua, sebagai pemimpin yang benar dan setia, menghormati kehendak bebas bangsa Israel dan berharap agar bangsanya melayani Tuhan atas dasar pilihan bebas bukan paksaan. Inilah “memilih” yang disengaja sebagaimana Tuhan memilih Israel.

Israel bebas untuk berkata “ya” atau “tidak” setelah Tuhan memilih mereka. Pilihan akan menentukan nasib Israel. Israel menjawab tantangan Yosua dengan jawaban positif. Mereka berkomitmen untuk menyembah Tuhan saja dan melayani Tuhan dengan kesetiaan.

Namun Yosua merespon terbalik. Yosua melihat bahwa bangsa Israel tidak akan sanggup beribadah kepada Tuhan karena Tuhan itu kudus, cemburu dan tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa. Yosua memahami ketidakstabilan bangsa Israel seperti yang terjadi di padang belantara selama empat puluh tahun.

Yosua ingin mengingatkan bangsa Israel atas persoalan komitmen hati.

Beberapa hal yang perlu diingat dalam pidato Yosua tentang pilihan Israel adalah:

Pertama, keputusan untuk melayani Tuhan adalah keputusan yang serius. Keputusan itu harus membentuk seluruh bangsa sesuai dengan wahyu Tuhan. Ada berkat dan konsekuensi dari pilihan tersebut.

Kedua, keputusan bangsa Israel untuk melayani Tuhan haruslah Keputusan mereka sendiri, bukan keputusan yang dipaksakan oleh seorang pemimpin.

Ketiga, Israel harus menyadari bahwa manusia tidak dapat melayani Tuhan dengan kekuatannya sendiri.

Melayani Tuhan bukan sekedar menaati ketentuan-ketentuan perjanjian, tetapi melalui hubungan pribadi dengan Tuhan yang menyelamatkan.

Pdt. Milton Pardosi

👉  : apakah orang Advent Hari Ketujuh merayakan  ? : Sebagai gereja, kita tidak memiliki pernyataan atau posisi resmi te...
22/12/2025

👉 : apakah orang Advent Hari Ketujuh merayakan ?

: Sebagai gereja, kita tidak memiliki pernyataan atau posisi resmi tentang merayakan Natal, sebaliknya menyerahkan kepada individu.

Kita harus berhati-hati untuk tidak membiarkan subjek Natal menjadi isu yang memecah belah di antara kita, mengkritik atau mengasingkan mereka yang mungkin melihatnya secara berbeda dari kita sendiri.

Ellen White telah memberikan nasihat bijak tentang topik ini yang tetap relevan bagi kita hari ini:

“Kita sekarang mendekati penutupan tahun berikutnya, dan tidakkah kita akan membuat hari-hari perayaan ini kesempatan untuk membawa kepada Tuhan persembahan kita? Saya tidak bisa mengatakan pengorbanan, karena kita hanya akan menyerahkan kepada Tuhan apa yang sudah milik-Nya, dan yang hanya Dia percayakan kepada kita sampai Dia akan memanggilnya. Tuhan akan sangat senang jika pada Natal setiap gereja akan memiliki pohon Natal yang akan digantung persembahan, besar dan kecil, untuk rumah-rumah ibadah ini.

"Surat-surat pertanyaan telah datang kepada kami bertanya, Haruskah kami memiliki pohon Natal? Apakah tidak akan seperti dunia? Kami menjawab, Anda dapat membuatnya seperti dunia jika Anda memiliki watak untuk melakukannya, atau Anda dapat membuatnya tidak seperti dunia mungkin. Tidak ada dosa khusus dalam memilih pohon hijau yang harum dan meletakkannya di gereja-gereja kita, tetapi dosa terletak pada motif yang mendorong untuk bertindak dan penggunaan yang terbuat dari karunia-karunia yang diletakkan di atas pohon.

“Pohon itu mungkin setinggi dan rantingnya selebar yang paling sesuai dengan acara ini; tetapi biarkan rantingnya dipenuhi dengan buah emas dan perak dari kebaikan Anda, dan persembahkan ini kepada-Nya sebagai hadiah Natal Anda. Biarkan donasi Anda disucikan dengan doa.

“Perayaan Natal dan Tahun Baru dapat dan harus diadakan atas nama mereka yang tidak berdaya. Tuhan dimuliakan ketika kita memberi untuk membantu mereka yang memiliki keluarga besar untuk didukung.

“Apakah kamu tidak akan bangkit, saudara-saudari Kristenku, dan bersiap-siap untuk tugas dalam takut akan Tuhan, sehingga mengatur hal ini agar tidak kering dan tidak menarik, tetapi penuh kenikmatan yang tidak bersalah yang akan memikul tanda Surga? Saya tahu kelas yang lebih miskin akan menanggapi saran-saran ini. Orang yang paling kaya juga harus menunjukkan bunga dan memberikan hadiah dan persembahan mereka sebanding dengan sarana yang Tuhan percayakan kepada mereka.

“Biarkan ada dicatat dalam buku-buku surgawi seperti Natal yang belum pernah terlihat karena sumbangan yang akan diberikan untuk menopang pekerjaan Tuhan dan membangun kerajaan-Nya. ” — Ulasan dan Herald, 11 Desember 1879, par. 15.

Sementara kita tidak tahu persis kapan Yesus lahir, yang penting adalah kita tahu nubuat terpenuhi persis seperti yang diprediksi — Yesus lahir di Betlehem dari seorang perawan. Dia dibungkus dengan pakaian yang dibedong dan berbaring di palungan. Dia menjalani kehidupan tanpa dosa, terluka karena pelanggaran kita, mati dan bangkit kembali dan sekarang di surga melayani kita di tempat kudus surgawi. Segera, Dia akan datang lagi, bukan sebagai bayi yang tak berdaya tetapi sebagai Raja menaklukkan untuk membawa kita pulang.

Mari kita gunakan waktu tahun ini untuk membawa hadiah terbaik kita kepada Raja segala raja untuk menjangkau teman-teman, tetangga, rekan kerja, kenalan, dan bahkan orang asing, dengan pesan indah yang disampaikan dengan begitu indah dalam Yesaya 9: 6: "Karena bagi kita seorang anak lahir, bagi kita seorang anak lahir diberikan: dan pemerintah akan berada di atas bahunya: dan namanya akan disebut Ajaib, penasihat, Tuhan yang perkasa, Bapa yang kekal, Pangeran Perdamaian. "

Semoga Tuhan memberkati kita masing-masing saat kita memberikan hati kita kepada Kristus hari ini dan setiap hari saat kita menunggu kedatangan-Nya segera — kedatangan-Nya yang kedua.

Pr. Ted Wilson
Mantan presiden SDAC

22/12/2025

Ringkasan SS
Senin 22 Desember 2025.

Dengan Tulus dan Setia.

Ayat Yosua 24:14,15.

Yosua menyerukan kepada bangsa Israel untuk memilih menyembah Tuhan dan melayani Tuhan dengan tulus dan kesetiaan (kebenaran). Bangsa Israel harus mempertahankan keunikan mereka sebagai bangsa pilihan dan penyembah Tuhan. Pilihan ada di tangan Israel.

Takut akan Tuhan berarti rasa hormat dan kagum yang berasal dari pengakuan akan besarnya, kudusnya, dan ketidakterbatasan manusia. Takut akan Tuhan adalah kesadaran yang terus-menerus akan besarnya tuntutan-Nya, pengakuan bahwa Dia bukan hanya Bapa Surgawi tetapi juga Raja. Kesadaran ini akan menuntun kepada ketaatan kepada Tuhan.

Takut menggambarkan sikap batin yang harus menjadi ciri khas orang Israel sementara hasil praktis dari rasa hormat kepada Tuhan adalah pelayanan.

Bangsa Israel dituntut untuk melayani Tuhan dengan tulus dan kebenaran (kesetiaan). Kata “tulus” adalah kata menggambarkan kesempurnaan hewan korban. Sementara “kebenaran” berkonotasi dengan keteguhan dan stabilitas. Istilah ini merujuk kepada Tuhan yang berkarakter setia.

Orang yang setia adalah orang yang dapat diandalkan dan dipercaya. Orang Israel harus menunjukkan kesetiaan yang sama kepada Tuhan karena Tuhan sudah menunjukkan kesetiaan-nya sepanjang Sejarah mereka. Di sini melibatkan konsistensi hati yang tidak terbagi, hidup penuh rasa syukur. Inilah hidup yang diinginkan dari umat-umat-Nya.

Pdt. Milton Pardosi

Address

Jalan Drive J. Leimena No 1, Hative Besar
Ambon
97234

Opening Hours

Monday 09:00 - 16:30
Tuesday 09:00 - 16:30
Wednesday 09:00 - 16:30
Thursday 09:00 - 16:30
Friday 09:00 - 12:30

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Good News posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share