01/09/2026
Perayaan 40 tahun imamat RD Agustinus (Agus) Ulahayanan peringatan 58 tahun perjalanan Paroki Santa Maria Bintang Laut (MBL) Ambon
menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang pelayanan seorang imam di Keuskupan Amboina. Misa syukur yang berlangsung di Paroki Santa Maria Bintang Laut, Minggu (30/8/2026), dihadiri perwakilan umat dari delapan paroki Kevikepan Kota Ambon. Perayaan tersebut tidak hanya menyoroti usia imamat, tetapi juga kesetiaan, pengorbanan, pengampunan, dan dinamika pelayanan yang dilalui RD Agus Ulahayanan.
Dalam homili, RD Amandus Oratmangun, Episkopal Kevikepan Kota Ambon sekaligus Pastor Paroki Santa Maria Bintang Laut, mengaitkan perjalanan RD Agus dengan bacaan kedua dari Roma 12:1-2 tentang mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Menurut dia, kehidupan imamat RD Agus menunjukkan karakter seorang pelayan yang berusaha menyelesaikan setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. Sikap itu, kata Amandus, terlihat sejak RD Agus menjalankan pelayanan pastoral di wilayah kepulauan yang pada masa lalu memiliki tantangan geografis dan transportasi yang berat.
Amandus mengibaratkan RD Agus seperti “Motor Paula”, kapal yang dahulu digunakan para misionaris untuk menjangkau wilayah-wilayah pelayanan di Kepulauan Tanimbar. Menurut dia, kapal tersebut sangat dikenal masyarakat Larat dan Saumlaki karena perannya dalam pelayanan misi. Ia kemudian menggunakan perumpamaan itu untuk menggambarkan kegigihan RD Agus dalam menjalankan tugas pastoral.
“Motor Paula adalah Pastor Agus Ulahayanan,” kata RD Amandus Oratmangun.
Menurut Amandus, ketika bertugas di Larat, RD Agus tidak membatasi dirinya pada pekerjaan pastoral di gereja. Ia disebut terlibat dalam berbagai pekerjaan lapangan, termasuk perjalanan melalui laut dan kegiatan di hutan. Dalam kondisi tertentu, ia bahkan mengemudikan kapal dan membantu pekerjaan ketika perjalanan menghadapi angin dan gelombang. Bagi Amandus, pengalaman tersebut memperlihatkan kesediaan RD Agus menjalankan tugas tanpa banyak mengeluh.
Karakter RD Agus yang menginginkan sesuatu dikerjakan dengan baik juga disebut terlihat dalam berbagai karya pelayanan. Amandus mencontohkan pengalaman pembangunan tempat wisata rohani Katolik di Air Louw, Kecamatan Nusaniwe, Ambon. Ia mengatakan RD Agus dapat meminta pekerjaan dibongkar dan dikerjakan kembali apabila hasilnya dinilai belum sesuai dengan standar yang diharapkannya.
“Di mana saja dia berada, RD Agus Ulahayanan mau supaya kesempurnaan iman dan kesempurnaan hidup terjamin, tetapi kesempurnaan itu terkadang membutuhkan penderitaan,” ujar Amandus.
Perjalanan RD Agus juga tidak terlepas dari dinamika sejarah sosial Maluku. Amandus mengingat peran RD Agus dalam masa konflik sosial Maluku, termasuk keterlibatannya dalam upaya perdamaian. Ia menyebut RD Agus sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam proses perdamaian Maluku dan pernah terlibat dalam rangkaian Pertemuan Malino. Namun, Amandus juga mengungkap bahwa setelah masa tersebut RD Agus sempat tidak menjalankan pelayanan pastoral selama beberapa tahun dan keberadaannya ketika itu tidak banyak diketahui publik.
Menurut Amandus, ketika RD Agus kembali, Uskup Keuskupan Amboina saat itu, Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, menempatkannya sebagai Sekretaris Keuskupan Amboina. Bagi Amandus, keputusan tersebut menjadi gambaran penting tentang pengampunan dalam kehidupan Gereja. Ia menilai masa lalu tidak semestinya menjadi alasan untuk menutup kesempatan seseorang kembali memberikan pelayanan...( Baca Selengkapnya Klik Tautan Dibawah.)