30/06/2020
Biarkan saya menjadi diri sendiri; menjadi apa yang saya ingini!
Ada apresiasi besar dalam diri berhadapan dengan siapa saja yang berprinsip seperti itu. Asumsi yang selalu muncul setiap saat mendengar hal itu dikatakan, adalah bahwa pribadi berprinsip tersebut adalah orang yang sungguh mengenali dirinya; tak hanya sebagai seorang manusia tapi juga sebagai pribadi utuh. Pribadi sungguh tahu kekuatan dalam diri dan berani menerima juga kelemahan yang ada padanya. Karenanya setiap orang pun tahu ke mana langkah kaki harus ditapakkan.
Konsekuensinya adalah bahwa tindakan semena-mena tanpa memperhatikan sekelilingnya merupakan hal yang sama sekali tidak dapat dibenarkan. Orang tidak dapat berkata di satu sisi: "Hargai diri saya dan setiap keputusan yang saya buat untuk hidup saya", sementara di sisi lain: "Apa yang saya perbuat terserah saya. Karenanya orang lain dirugikan? Itu urusan mereka sendiri". Mengapa? Karena menjadi manusia yang sejati tidak seegois itu. Keberartian hidup manusia senantiasa hanya dapat ditemukan dalam relasi dengan orang lain. Bahkan sebagai pribadi, tak mungkin diri sendiri dikenali dan beroleh daya transformasi tanpa hadirnya orang lain di sekitar. Maka dari itu pahamilah bahwa setiap kehendak dan pilihan sadar senantiasa membutuhkan rasa tanggung jawab tak hanya pada diri sendiri tapi juga seluruh sistem kehidupan yang ada dalam hidup itu sendiri. Sadarilah bahwa keberadaan dalam dunia mengandaikan kesesuaian hidup seturut identitasmu dalam dunia. Sebagai seorang manusia, jangan lecehkan kemanusiaanmu karena merasa bahwa dunia selalu tentang "saya" dan bukan "kita"!