IBN ATHAILLAH

IBN ATHAILLAH Himpunan Kalam Hikmah Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap.

{Ibnu Atha'illah as-Sakandari}

Syekh Ibnu Atha'illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari (bahasa Arab: ابن عطاء الله السكندري) (lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/ 1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M) adalah tokoh Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia dan di Indonesia.

[Biografi]

Namanya lengkapnya adalah Taj al-Din Abu

'l Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn 'Abd al-Karim ibn Atha 'illah al-Iskandari al-Syadzili adalah tokoh Tarekat Syadziliyah. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu.

[Pendidikan]

Sejak kecil, Ibnu ‘Atha’illah dikenal gemar belajar. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibn Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba.

[Karya dan Pemikiran Syekh Ibnu 'Atha'illah]

Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktik sufisme. Sementara Ibnu Atha'illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at. Ibnu Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Ia dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah pendirinya Abul Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abul Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha'illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah Tarekat Syadziliyah tetap terpelihara. Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al-Hikam. Kitab Al-Hikam ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara. Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya

Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat. Adapun pemikiran-pemikiran tarikat tersebut adalah: Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi. "Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya," kata Ibnu Atha'illah. Kedua, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat. Ketiga, zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. "Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahwu) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi," ujarnya. Keempat, tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha'illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta. Kelima, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik. Keenam, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha'illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh. Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, ia berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; mawahib, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan makasib, yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, dzikir, wudhu, puasa, sahalat sunnah dan amal shalih lainnya..

04/12/2024

Ketika Allah menegur dan mengangkat derajat seseorang, maka ketahuilah, itu adalah pemberian kontan dari-Nya. Tak ada perantara, tak ada penundaan, sebab kehendak-Nya mutlak atas segala sesuatu.

Syariat yang kamu jalankan adalah jalan untuk menjatuhkan kesombonganmu sendiri, bukan untuk menghakimi orang lain. Syariatmu adalah jalan Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya, bahkan mereka yang kamu pandang rendah sekalipun.

Jangan pernah berkata bahwa ucapanmu yang merendahkan makhluk lain telah mengangkat derajat mereka. Sebab sejatinya, itu adalah jalan Allah untuk menegurmu yang sedang terlena oleh kesombongan, dan sekaligus jalan-Nya untuk mengangkat derajat seseorang yang Allah kehendaki tanpa campur tanganmu.

Jalan Tassawuf bukan tentang merendahkan orang lain, melainkan tentang perendahan diri di hadapan Allah. Ini adalah pengakuan tulus atas ketidakmampuan, kebodohan, dan kekerdilan diri sendiri. Tassawuf mengajarkan bahwa segala kelebihan yang ada hanyalah titipan, dan manusia tetaplah makhluk hina yang bergantung sepenuhnya pada Sang Maha Kuasa.










20/07/2024

Halo semuanya! 🌟 Anda bisa mendukung saya dengan mengirim Bintang, itu membantu saya mendapatkan uang untuk terus membuat konten yang Anda sukai.

Setiap kali Anda melihat Stars, Anda bisa mengirimi saya Stars!

27/07/2021

Kalau saya bawakan atau tulis cerita Imam Ali bin Abi Thalib KW, orang menyangka saya syi’i (syi’ah).. Saya bukan Syi’i.. Saya bukan Mu’tazilah.. Saya bukan khawarij... Saya sunni.. Saya Syafi’i.. Saya Asy’ari.. Saya pencinta sahabat Nabi saw tanpa terkecuali.. termasuk imam Ali KW.
Mari kita buka lagi bingkisan kado yang datang dari sahabat dan misanan Nabi saw, Imam Ali bin Abi Thalib KW. Sebelum kita buka bingkisanya, saya teringat dengan sebuah hadist Rasulallah saw yang berbunyi:
ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻣﻦ ﻧﻔﺲ ﻋﻦ ﻣﺆﻣﻦ ﻛﺮﺑﺔ ﻣﻦ ﻛﺮﺏ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻧﻔﺲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﺮﺑﺔ ﻣﻦ ﻛﺮﺏ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ . ﻭﻣﻦ ﻳﺴﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺴﺮ ﻳﺴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ . ﻭﻣﻦ ﺳﺘﺮ ﻣﺴﻠﻤﺎً ﺳﺘﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﺃﺧﻴﻪ
“Barangsiapa melepaskan seorang mu’min dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seorang mu’min yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Sekarang kita buka bersama sama bingkisan kado Imam Ali bin Abi Thalib KW yang penuh dengan mutiara hikmah yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi kehidupan kita sehari hari.
:
Di pagi yang cerah, seroang pengemis datang ke rumah Imam Ali bin Abi Thalib KW meminta makanan. Imam Ali menyuruh anaknya Hasan mengambil uang dari ibunya Fatimah satu dinar yang masih tersisa 6 dinar dari uangnya. Sayyidina Hasan masuk kedalam, kemudian ia keluar tanpa membawa apa apa. Ia menjelaskan bahwa ibunya akan digunakan uang tersebut untuk membeli tepung gandum.
Dengan sedikit jengkel beliau ia menyuruh lagi anaknya Hasan untuk mengambil uang satu dinar dari ibunya, Fatimah. Adapun kali ini Hasan keluar dengan membawa uang satu dinar. Imam Ali mengambil uang itu lalu diserahkan kepada pengemis tadi.
Belum sempat Imam Ali KW masuk ke dalam rumahnya, tiba tiba seseorang datang dengan menuntun seekor unta. Ia menawarkan beliau untanya seharga 140 dirham. Tanpa tawar menawar, Imam Ali KW setuju membelinya. Beliau menjajikannya akan membayar harga untanya di sore hari. Orang itu pun setuju. Lalu beliau mengikat unta tadi di depan rumahnya.
Di siang harinya ada seseorang melewati rumah beliau. ia melihat seekor unta diikat di depan rumah. Ia bertanya kepada beliau,
“Apakah unta ini mau dijual?”.
Beliau menjawab,
“Ya, betul unta itu akan kujual dengan harga 200 dirham. Apakah kau berminat membelinya?”.
Orang itu melihat lagi unta tersebut untuk kesekian kalinya. Akhirnya, Ia tertarik untuk membelinya dan membayar kontan harga unta sebesar 200 dirham kepada Imam Ali KW.
Di sore harinya orang yang menjual unta datang untuk menagih uang penjualanya. Imam Ali KW langsung memberikan kepadanya 140 dirham sesuai dengan perjanjian. Untung Imam Ali dari penjualan unta 60 dirham diberikan kepada istrinya, Fatimah ra.
Dengan keheranan siti Fatimah menerima uang itu seraya berkata ),
“Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?”.
Imam Ali pun tersenyum, lalu berkata,
“Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah melalui lisan nabi kita Muhammad saw:
ﻣَﻦْ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻓَﻠَﻪُ ﻋَﺸْﺮُ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ
“Barangsiapa membawa amal baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat” Al an’am 160
Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang di bawah. Biarpun kita kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tidak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Imam Ali KW dan seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tidak menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.
Alkisah, ada seorang kaya dari Bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang.
Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu.
Istrinya pun berkata kepada suaminya,
”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasihan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang?"
Sang suami tiba-tiba membentaknya,
“Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah”.
Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berubah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemudian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru.
Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan p**a terdapat seporsi ayam panggang.
Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan.
Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah:
“Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”.
Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis.
Suaminya sangat heran dan bertanya:
“kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”.
Istrinya menjawab:
“tidak pak, tidak sama sekali, akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”.
Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya:
“Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”.
Istrinya menjawab:
“Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”.
Mendengar ulasan sang istri, sang suami segra berkata kepada istrinya,
“Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.
Subhanallah, Itulah dunia. Kalau kita tidur, Allah tidak tidur. Kalau kita lupa Allah tidak akan lupa. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau kita sedang berada di atas jangalah angkuh, bangga dan lupa kepada yang di bawah, sebaliknya kalau kita berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangya:
“Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17
Maka, Cintailah yang di bumi agar Yang di langit mencitaimu.
Wallahua’lam,

24/01/2019

BISSMILLAHIRAHMANIRAHIM
Alhamdulillah, bii idznillah funpage ini bisa kembali aktif setelah cukup lama vakum, kevakuman tersebut disebabkan 2 orang pengelola funpage ini telah kembali ke rahmatullah (semoga Allah menempatkan mereka dengan pahala yang setimpal. Aamiin).
Baiklah kami awali perjumpaan ini dengan artikel yang cukup panjang, jadi jika tak berkenan bisa abaikan saja..

1. Kusampaikan salam hangatku kepadamu. Aku memohon kepada Allah Swt. agar memberi kita keberhasilan sempurna, petunjuk ke arah Jalan Lurus, dan jaminan bahwa harapan kita bakal terpenuhi dan amalan-amalan kita menjadi benar.
Telah kuterima suratmu. Di dalamnya engkau mencari penjelasan atas pertanyaan yang dikemukakan kepadamu oleh kitab karya , risalah penyembuhan. Seperti yang kau minta, berupaya menjelaskan sepenuhnya kandungan kitab itu berarti harus mengungkapkan rahasia-rahasia dan pengetahuan gaib. Yang demikian itu sungguh riskan dan amat berbahaya. Lagi p**a, analisis tajam terhadap sifat-sifat dan hakikat Allah sangatlah menyulitkanku. Orang dapat sampai pada kebenaran-kebenaran seperti itu hanya dengan cahaya keimanan, dan hanya manusia-manusia paling tulus dan ikhlaslah yang beroleh bimbingan di sepanjang Jalan itu. Siapakah di antara kita yang dapat mengklaim hidup di Jalan itu atau merupakan bagian dari masyarakat seperti itu? Nafsu kita telah membuat ktia buta. Kita tidak tahu lagi bagaimana kita mesti berperilaku; jejak-jejak padang perkemahan menghentikan langkah kita, sampai kita kehabisan bekal dan gagal mencapai tujuan. Dengan pelbagai kelicikan dan bujuk rayunya, musuh dan tingkah laku kita telah membunuh kita. Pandangan kita buta, dan kalbu kita gelap gulita. Sungguh suatu kecongkakan dan kesombongan belaka bila kita menghasratkan pengalaman menyeluruh tentang apa yang engka minta agar aku menjelaskannya, menyusuri jalan penyingkapan dan kejelasan pandangan. Yang demikian itu, berarti mengabaikan kepastian kita serta menjerumuskan diri kita ke jurang kebodohan presensi (berpamrih) yang melecehkan dan menghina orang-orang pandai dan membuktikan kejahilan orang-orang bodoh. Kebatilan tidak bakal bisa tegak dengan sarana seperti itu.
2. Seandainya kita harus memasuki dunia ahli fiqih, kita akan tahu bahwa mereka juga tidak bakal mampu memuaskan dahaga kita atau menunjukki kita jalan pemahaman lewat penggunaan akal dan pandangan-pandangan kaku mereka. Semuanya itu merupakan langkah mundur dan tidak tepat. Salah satu alternatif kita dalam hal ini ialah menyerahkan hal itu kepada mereka yang berwenang dan layak menanganinya. Kita harus puas dengan apa yang ada pada diri kita dan mencari mukasyafah (penyingkapan) dari Tuhan, Yang menurunkan wahyu, Yang Mahabijak. Kita harus mencari bimbingan menuju Jalan Lurus (Qs. 1 : 5) dari orang-orang yang menegaskan treansendensi dan mengingkari antropomorfisme . jalan itu benar-benar aman dari pelbagai kemalangan, dan akan menjaga orang-orang seperti kita dari pelbagai perilaku serta tindakan bodoh. Diperlukan perilaku yang benar, kalau kita berjalan dengan apra wali dan guru spiritual, suatu perilaku yang mengangkat seseorang ke puncak tertinggi kewalian. Seperti dikatakan oleh , “Meyakini apa yang telah kita pelajari : Inilah kewalian.” Sekalipun begitu, aku tetap merasa berkewajiban menjawab pertanyaanmu, karenanya, aku akan berbicara tentang soal ini sejauh pemahamanku. Aku akan membahas apa yang tampaknya tepat dalam keadaan seperti ini, dalam upaya menghilangkan keraguan serta sikap yagn tidak bisa dipertahankan lagi. Aku akan membatasi perhatianku pada hal itu saja. Sekiranya aku nanti sampai pada Kebenaran Mistik, maka hal itu terjadi berkat bantuan Ilahi. Jika aku gagal, penyebabnya adalah kelemahan manusiawi semata. Betapapun juga, hanya Allah Swt. saja yang berhak dipuji.
Ini adalah soal penting yang merupakan bagian dari ilmu mengenal keesaan Allah. Dengan demikian, ia berkaitan dengan soal waktu yang penting bagi orang-orang yagn yakin akan keunikan Allah. Ini selaras dengan prinsip-prinsip kaum sufi, melambangkan makna spiritual ketulusan, dan berasal dari orang-orang yang memiliki keyakinan, keimanan, pengalaman dan pandangan yang jelas. Hal itu tidak bisa dijelaskan kecuali dengan menghayatinya, dan tak ada seorang pun bisa membuktikan kebenarannya kecuali dengan memberikan contohnya.
setuju dengan padangan Abu Thalib, dan mengungkapkan soal itu dengan cara yang sama. Keduanya berbicara tentang muslihat (Ilahi) dan menguraikannya secara panjang lebar. Dan Allah Swt. telah menisbahkan hati itu pada Diri-Nya dalam berbagai surah di dalam Kitab-Nya, sama seperti dinisbahkannya cobaan, godaan dan kelicikan kepada-Nya. Semua istilah ini mengungkapkan aspek-aspek dari kehendak dan pengetahuan-Nya, dan menunjukkan bahwa kesucian, transendensi dan keagungan-Nya tidak bisa dibandingkan dan sama sekali tak mengandung antropomirfisme.
Baiklah, aku mulai saja di sini dengan pendahuluan. Pencipta Mahaagung telah menciptakan dan membentuk manusia dengan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, semuanya itu amatlah kecil manakala dibandingkan dengan-Nya. Kemudian, Dia membekali manusia dengan kecenderungan untuk mengetahui (Ma’rifah) tentang Diri-Nya dan tentang sifat-sifat serta Nama-nama-Nya. Dengan sarana itu, Dia mengangkat seseorang tinggi-tinggi mengatasi batasan-batasan intelek, sehingga seseorang dapat memahami ilmu-ilmu empiris, serta menuntunnya untuk merenungi berbagai tanda kekuasaan di alam semesta dan dalam diri makhluk. Keagungan dan keajaiban menampakkan diri di depan seseorang yang memperhatikan tanda-tanda kekuasaan ini. Semuanya itu memaksa dirinya mengakui bahwa Pencipta, Penyebab Pertama memiliki sifat-sifat seperti hidup, mengetahui, berkuasan dan berkehendak – bahkan waktu seseorang memperhatikan dirinya sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan. Kemudian orang itu juga memperhatikan dirinya sendiri serta melihat di sana sifat-sifat kesempurnaan seperti mendengar, melihat dan berkata-kata, sehingga pengalaman ihwal kekuasaan Ilahi memaksanhya menisbahkan sifat-sifat serupa kepada Pencipta.
3. Lalu, orang melihat perbedaan sangat besar antara yang baru dan yang azali, makhluk dan Khalik. Hal ini mendorong dia menegaskan transendensi dan mengingkari antropomorfisme. Pada titik ini, orang memahami segala yang bisa dijangkau oleh pemahaman manusia tentang transendensi Penciptanya Yang Maha Tinggi. Dari sana, dia naik ke derajat tertinggi dan tingkatan maksimal kemampuannya untuk menegaskan dan melihat. Inilah proses, yang dengan proses ini, seseorang mengamati dan melakukan refleksi dan terbimbing menuju Sebab lewat akibat-akibat-Nya.dan proses itu akan cukup membimbing setiap orang yang pandai menuju dasar-dasar pengetahauan mendalam yang merupakan syarat bagi keselamatan dan kemajuan spiritual. Akan tetapi, orang mungkin masih mengalami keraguan dalam keimanannya dan tidak mengalami pengembangan inti wujudnya serta penyucian kalbu.
Kemudian Allah Swt. memilihi sebagian hamba-Nya. Allah Swt. menampakkan diri-Nya kepada mereka lewat cahaya-Nya, sesuatu yang tampak sangat jelas bagi mereka. Dengan cahaya itu, mereka pergi menyusuri jalan yang ditunjukkan dengan jelas oleh pengetahuan mendalam mereka tentang-Nya. Mereka merenungkan sifat-sifat menakjubkan dan Nama-nama-Nya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh golongan pertama. Mereka memahami keagungan kehadiran Ilahi dan cahaya-cahaya suci sedemikian sehingga tak dapat dilakukan oeh orang-orang yang mencari bukti. Kepada orang-orang yang mencari bukti inilah hamba-hamba terpilih itu mengatakan, “Mengapa engkau mencari informasi tentang apa yang pada dasarnya tidak bisa dipaparkan? Kapan Dia Dia begitu tersembunyi sehingga tidak ada bukti tentang-Nya? Bagaimana mungkin Dia hilang dari kita sementara banyak jejak yang menuntuk kita menuju kepada-Nya? Bisakah segala sesuatu selain Dia menjadi tampak dengan cara di luar kekuatan alaminya sampai Di menampakkannya? Mana mungkin Dia yang pada diri-Nya segala sifat diketahui bisa diketahui oleh sifat-sifat-Nya? Atau, mana mungkin Dia yang Wujud-Nya mendahului segala wujud lainnya bisa dibedakan sebagai satu entitas khas? Dan bagaimana mungkin dengan sarana tidak memadai Dia yang “lebih dekat ketimbang urat leher” (banding Qs. 50 : 16) bisa dijangkau? Dan “Tidakkah cukup Tuhanmu, karena sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Qs. 41 : 53).
Melalui pengetahuan mendalam tentang-Nya, mereka sampai hanya pada nama-nama; disebabkan oleh transendensi-Nya, mereka tidak sampai pada batas pujian dan pengagungan paling jauh. Namun mereka merenungkan Wujud itu, dan bila segala sesuatu lainnya dibandingkan dengan-Nya hanyalah ketiadaan semata, yang bila keabadian segala sesuatu lainnya ddibandingkan dengan-Nya tidak berarti apa-apa, yang mengalaminya hanyalah kepalsuan, yang melihatnya hanyalah ilusi, yang mengingatnya hanyalah kelupaan, dan yang bertambahnya hanyalah kekurangan. Demikianlah, mereka melihat dengan pandangan mata keyakinan dan bukti yagn jelas keberanaran orang yang mengatakan, “Allah maujud sebelum segala sesuatu, dan Dia maujud terpisah dari segala sesuatu yang bergantung kepada-Nya.”
Setelah mereka mencapai peringkat ini, mereka bisa memahami Sang Raja Yang Maha Mengetahui. Dia bebaskan mereka dari perbudakan menuju pengetahuan dan menyebabkan mereka mati terhadapat segala-galanya. Relung kalbu mereka menjadi suci, dan Allah Swt. menampakkan diri kepada mereka melalui Sifat-sifat dan Nama-nama-Nya yang paling mulia. Dia beri mereka pengetahuan tentang apa yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka berlaku sebagai hamba di hadapan Tuannya. Mereka beristirahat di tempat di maan Zat yang mengetahui setiap pemikiran rahasia mereka mengawasi mereka. Mereka bergabung dalam barisan ibadah bersama-sama orang-orang yang “membentuk shaf serta bertasbih memuji-Nya” (bandingkan Qs. 37: 165-166). Mereka mencapai tingkatan hamba paling mulia, dan bertasbih dengan lidah keadaan spiritual mereka, seraya berkata, “ Betapa banyak hasrat kalbuku .....” Dan betapa bahagianya mereka dipilih menjadi penghuni tempat orang-orang yang dicintai, dengan “Akhir kehidupan indah.” (Qs. 3 : 14, 13 : 29), seperti diungkapkan dalam Umm Al-Kitab.
4. Perbedaan antara dua jalan dan metode-metodenya ini bisa dengan gamblang dijelaskan dengan cara begini. Di dalam inti jalan pertama dicarinya bukti oleh akal serta ketidakmampuan akal untuk memahami, kecuali dengan penalaran analogis dan perbandingan. Yang demikian itu berlaku selama dibimbing oleh pengkajian empiris. Akan tetapi, jalan kedua bertumpu pada cahaya keyakinan, yang hanya dengan itu Kebenran Nyata tampak jelas. Itulah sesuatu paling agung yang bisa turun dari langit ke dalam kalbu orang-orang mukmin pilihan, yang dengan begitu memahami Kebenran Mistik Sifat-sifat dan Nama-nama.
Setelah engkau memahami pendahuluan ini, engkau akan memahami bahwa berbagai keberatan yang kau ajukan berkenaan dengan Syaikh Abu Thalib runtuh dengan sendirinya. Masalah ini berkaitan erat dengan cara berpikir yagn tidak ada hubungannya dengan pemahaman analogis atau tatanan rasional. Selanjutnya, keberatan-keberatan itu berkaitan dengan cara berpikir yang lebih luas, sebab pendekatannya terhadap masalah ini tidak melampaui batas-batas akal.
Sekarang tentang pernyataan Abu Thalib, “Muslihat Tuhan tak berkesudahan, sebab kehendak dan ketentuan-Nya juga tak terbatas.” Di sini dia menyebutkan bahwa satu aspek dari pengetahuan, kalam, kehendak dan keputusan Allah Swt. itu, tak dapat dipahami dan dimengerti. Karena itulah Nabi dan Jibril takup kepada tipu daya Tuhan mereka yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, sekalipun mereka memiliki keimanan kuat. Takut seperti inilah yang niscaya ada pada diri kita. Hampir tak bisa dibayangkan untuk lepas dari rasa takut seperti ini, sebab hal ini adalah salah satu syarat bagi keimanan dan pengetahuan tentang Sifat-sifat dan Nama-nama hakiki Tuhan. Karena itu, semakin besar pengetahuan kita tetnang Sifat-sifat dan Nama-nama, semakin takut kita jadinya. Seperti dikatakan oleh salah seorang sufi, “Seorang yang meiliki pengetahuan mendalam tentang Allah Swt. tidak akan merasa nyaman, dengan pengetahuan seperti ini menggoncangkan rasa amannya. Hanya orang-orang berandalan saja yang menganggap diri mereka aman dari tipu daya Tuhan.” (Qs 7:79). Dan seorang lainnya mengatakan : “Takutlah kepada Tuhanmu sedemikian sehingga engaku selamat dari segala hal, tapi waspadalah jangan sampai hatimu merasa aman dari Allah Swt dalam hal terntu.” Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk takut kepada sesuatu, akan tetapi, seseorang tak bkal pernah merasa aman dari Allah Swt.
Sesungguhnya makna lahiriah firman Allah “Aku telah menjadikan kamu berdua aman” tidaklah dimaksudkan untuk menghilangkan ketakutan mereka, sebab, makna yang tampak dari dari kata-kata itu tidak menghilangkan kebutuhan batiniah akan sifat takut itu. Seperti telah dikatakan oleh Syaikh Abu Thalib, pernyataan itu berlaku pada sifat khusus bahwa Allah Swt. sudah menetapkan ketentuan dengan pengetahuan-Nya. Ini adalah satu aspek dari transendensi kalam Allah, dan tak ada satu pun yang bertentangan dengannya, sebab metode-metode rasional tidak bisa menghalangi Allah dari mengatakan hal-hal yang tidak bisa kita pahami. Dalam pembahasan ini, cobaan dan ujian Muhammad dan Jibril bersifat mendidik bagi kita. Hal itu akan bermanfaat buat kita untuk mengamati keadaan mereka dalam memperhatikan hakikat Sifat-sifat Ilahi, untuk mengetahui bagaimana Allah mengubah keadaan hamba pilihan-Nya, seperti dalam ksiah Ibrahim a.s.
Janji pengukuhan dari Allah sungguh masuk akal. Tapi bagaimana melihat nuansa-nuansa itu? Selain itu, dalam pengalaman Muhammad dan Jibril ada sesuatu yang menunjukkan kebergantungan penuh mereka kepada Tuhan meraka yang Mahakuasa dan Mahatinggi. Tingkatan (maqam) ini – Allah mengangkat Nabi-Nya ke tingaktan ini – dalam keadaan sebagian besar keadaannya, adalah tingkatan yang tinggi dan mulia. Dan ini lebih sempurna ketimbang memperlihatkan ketakbergantungan. Kefakiran lebih tepat bagi kondisi penghambaan ketimbang ketakbergantungan, sebab, seperti dilukiskan oleh para pemimpin sufi, ketakbergantungan adalah salah satu hak istimewa Allah. Masalahnya adalah bahwa kedua makhluk terkasih (Muhammad dan jibril) bisa memahami, lewat penyingkapan sifat ketakbergantungan dan pengalaman tentang kebesaran dan keagungan-Nya dalam keadaan ini, bahwa apa yang dikehendaki Allah dari mereka pada saat itu dalam mengakui kefakiran dan menyadari kerendahan dan kelemahan. Itulah sebabnya Dia berurusan dan berbicara dengan mereka seperti yang dilakukan-Nya.
Lebih jauh Abu Thalib mengatakan bahwa “Allah Swt tidaklah dipaksa oleh aturan-aturan apa pun, dan tak ada kecaman-kecaman manusia berlaku atas-Nya. Ini mengacu pada aspek lain dari transendensi esensi Ilahi atas batasan-batasan kemakhlukan. Dia bertindak dan memiliki ekagungan sempurna secara mutlak. Tak ada ketentuan apa pun yang mengikat-Nya, sebab Dia-lah yang mengeluarkan berbagai ketentuan. Lalu bagaimana mungkin Dia terikat oleh ketentuan atau terkena batasan, dan dengan demikian tak mampu membuktikan secara penuh kebenaran-Nya dalam kata dan tindakan? Sebab, Dia-lah yang menyatakan setiap orang tulus yang memiliki ketulusan, dan Dia-lah yang memberikan kesadaran penuh tentang Kebenaran kepada setiap orang yang memiliki kebenaran. Setiap perkataan-Nya adalah Kebenaran itu sendiri. Kebenaran Mistik yang mengartikulasianya melampaui sekedar ungkapan lahiriah. Karena itu, jika maknya tersembunyi dari kita atau maksudnya tak bisa kita pahami, maka Allah Swt – kalau begitu – pasti bukan Tuha. Ini meruntuhkan kebenaran-kebenaran terhadap apa yang dikatakan Syaikh Abu Thalib. Allah tidak mungkin bisa dilukiskan tidak berwatak benar. Dengan demikian, yang kita dapatkan di sini hanyalah kesulitan dalam memahami gaya ungkapan-Nya.
Abu Thalib selanjutnya mengatakan : “Jika kata-kata berubah, maka Dia sendiri adalah pengganti kata-kata itu.” Dan sebagainya. Ini adalah pernyataan logis dan luar biasa tentang makna keesaan Ilahi yang tak mampu dipahami secara rasional. Allah tidak perlu, seperti dibayangkan sebagian orang, minta izin untuk membatalkan apa yang telah dikatakan-Nya.
Aku tidak yakin akan kesahihan haids yang dikutip Abu Thalib. Aku juga tak tahu ahli-ahli hadis mana yang meriwayatkannya. Akan tetapi, Abu Thalib menguatkannya dengan padangannya bahwa karena hadis mutawatir tidak bertentangan dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi, maka ia bisa dipakai dan sahih, sekalipun ada keraguan tentang rantai periwayatannya. Baik Ahmad ibn Hanbal maupun ‘Abd Al- Rahman ibn Mahdi dan yagn lainnya tidak menyebutkan hadis ini dalam “Bab Ilmu.”
6. Betapapun juga, aku berpendapat bahwa tak perlu ada bukti penguat guna menjelaskan hadis itus serta menghilangkan keraguan tentangnya. Sungguh mengherankan bahwa ada orang tak mau menerima hadis ini atas dasar karena dia tak memahaminya serta yakin bahwa hadis itu tak masuk akal dan berasal dari rantai periwayatan yagn tak sahih. Sesungguhnya, keimanan dan keyakinan yang dipatrikan Allah Swt. pada Muhammad dan Jibril tidak bisa diragukan lagi. Kedudukan tinggi dan kemuliaan mereka, dan diangkatnya mereka ke tempat yang amat mulia, cukuplah membuktikan hal itu.
Ketakutan mereka akan tipu daya Allah bisa juga dipahami sebagai masalah intelektual. Yang jelas pertanyaana dan jawaban itu merupakan bentuk ucapan, dan itulah yang menjadikan masalah ini bisa dipahami. Jawaban kita tentang hadis ini tak lain adalah jawaban yang selalu diberikan berkenaan dengan kesulitan intelektual ini. Al-Ghazali membahas soal ini dan mengomentari hadis ini dengan mengemukakan hadis lain tentang doa Nabi saw. kepada Tuhannya pada waktu Perang Badar. “Jika Engkau menghancurkan barisan pasukan ini, maka tak bakal ada seorang pun menyembah-Mu.” Beliau berdoa seperti ini dalam kontek janji pertolongan dan kemenangan dari Allah Swt. Maksud hadis ini dalam koleksi ini, dan komentar atasnya, sama dengan apa yagn dikatakan tentang hadis pertama, kecuali bahwa dalam hadis pertama karakteristik kefakiran tampak lebih jelas.
Kisah Musa a.s. dan ketakutannya setelah memiliki keyakinan dan keimanan kuat, adalah variasi lain tentang tema pengetahuan transenden, kalam, kehendak, dan ketentuan Allah Swt. serta tentang kebutuhan nyata Musa akan Tuhannya, dan tentang kemuliaan kedudukannya. Inilah makna pernyatan Syaikh Abu Thalib “Musa tidak merasa aman” sampai kalimat “karena Musa memiliki pengetahuan mendalam tentang tipu daya tersembunyi-Nya dan sifat-sifat terselubung-Nya.” Pengamatan Abu Thalib “dan adapun pengetahuan-Nya tidak tunduk kepada ketentuan sejauh yang di bawah ketentuan adalah sebentuk paksaan. Allah-lah yagn emnang, namun seandainya Dia tunduk pada ketentuan, maka Dia akan menjadi yagn diadili dan bakal menjadi yang dikalahkan. Tapi Allah jauh di atas hal semisal itu.
7. Maksud Allah yang kedua tidaklah, seperti engkau bayangkan, memiliki pengertian seperti yang pertama. Yang kedua jelas meliputi salah satu rahasia Allah Swt. yang mengakibatkan timbulnya kedamaian, ketenangan, keyakinan, dan tiadanya ketakutan dalam diri Musa. Ini menunjukkan kerahmanan dan kerahiman-Nya dalam menjalankan kehendak-Nya dalam diri Musa a.s. Syaikh Abu Thalib memperhatikan ini ketika berkata : “Kemudian dia percaya pada zat yang tengah berbicara kepadanya, sekalipun mula-mula dia tidak bisa diam tenang.” Tidakkan engkau mengetahui sebagai Allah Swt. membawa Musa menuju pemahaman lebih dalam tetang tujuan-Nya guna membuat dia aman, dengan menggunakan sebuah kalimat yang subyeknya diberi tekanan dan dengan menambahkan kata-sandang tertentu pada predikatnya – dalam bentuk superlatif dan sesudah subyek kata ganti yang ditegaskan? Begitu banyak perbedaan lahiriah antara kedua pernyataan itu.
Begitu p**a, kisah Isa a.s. melukiskan transendensi pengetahuan dan kalam Allah, dan menunjukkan perilaku yang tepat dalam kedudukan itu yang tidak dapat dilukiskan oleh keindahan sastra dan paparan yang runtut teratur. Yang demikian itu diamanatkan kepada guru-guru yang dipilih Allah untuk menggunakannya. Karena itu, aku tidak akan mengulas lebih jauh soal ini; dan aku memohon ampun kepada Allah Swt. atas apa yang tak kulakukan. Sesungguhnya, tak ada seorang pun bisa benar-benar memahami kedudukan yang telah aku uraikan itu, kecuali orang-orang pilihan yang telah mengalaminya secara langsung. Dan aku pun benar-benar tak mampu memahaminya juga, seperti halnya orang lain.
Engkau menyinggung beberapa pernyataan Abu Bakr Al-Khatib yang tidak sependapat dengan Abu Thalib mengenai pandangan-pandangan kaum sufi tentang Sifat-sifat Ilahi. Pernyataan-pernyataan argumentatif itu muncul sesudah pujian Abu Bakr atas Abu Thalib, dan sulit menjelaskan bagaimana pertentangan dan pujian bisa berjalan seiring. Jika orang yang merasa keberatan memaksudkan kata-katanya yang belakangan sebagai berarti bid’ah Abu Thalib, seolah-olah dia berdebat dengan seseorang yang tidak setuju mengenai dasar sifat-sifat, keabadiannya, hubungan timbal balik menyeluruhnya, atau transendensinya, maka Abu Bakr pastilah tidak menyinggung-nyinggung soal itu. Tak ada sesuatu pun yagn telah dikatakan Abu Thalib membenarkan kesimp**an seperti itu. Lantas, bagaimana perbedaan pendapat Abu Bakr sesuai dengan pujiannya kepada Abu Thalib, jika pada saat yang sama Abu Thalib pantas menerima kecaman pedas atas keadaan spiritual dan kesalahannya, lebih daripada dia layak beroleh pujian dan sanjungan Abu Bakr? Jika, sebaliknya, Abu Bakr sekedar tidak setuju tanpa bermaksud menilai bahwa dia telah berbuat bid’ah, seperti dalam debat damai antara kaum literalis dan spiritualis, maka ahal itu bisa diterima, dan satu pihak pun tidak punya bukti meyakinkan untuk menjatuhkan pihak lain.
Yang aku inginkan darimu adalah berhenti pada soal yagn ada dalam kita Al-Khatib itu. Tulislah lengkap bagian itu, dan kirimkan kepadaku agar aku bisa memepelajarinya. Aku senang engkau menggeluti ilmu-ilmu ini dan mengkajinya, sekalipun engkau jauh dari rumah dan terpisah dari sanak saudara dan lingkunganmu. Kokohkan pikiranmu dalam kajian itu dan tekunilah, dan hasil-hasilnya bakal sangat bermanfaat bagimu.
8. Engkau memerlukan pengajaran yagn maknanya bisa dipahami sepenuhnya hanya lewat kecerdasan dan pengalaman, dan seseorang bisa dipalingkan dari pengajaran itu hanya oleh kelalaian dan kepura-puraan. Inilah bahaya-bahaya yang bakal engkau jumpai dalam proses belajar ini. Khusunya di antara orang-orang yang memiliki salah satu dari tiga sifa ini : keangkuhan, bid’ah, dan taqlid buta. Keangkuhan adalah laknat yang mencegah seseorang memahami ayat-ayat dan peringatan-peringatan Ilahi. Bid’ah adalah kesalahan. Melalui kesalahan ini keangkuhan menyebabkan seseorang jatuh ke dalam kesulitan-kesulitan serius. Dan taqlid buta adalah belenggu yang mencegah seseorang meraih kejayaan dan mencapai tujuan. Orang yang memiliki salah satu dar sifat-sifat ini tunduk pada penilaian tak berarti dan berada dalam pergulatan dan kekacauan terus menerus. Bagaimana jadinya dengan orang yang dalam dirinya bergabung sifat-sifat itu.
Jangan biarkan dirimu dipengaruhi oleh orang-orang seperti ini. Janganlah pergaulanmu dengan mereka menghalangimu dari proses belajar ini, sehingga kesalahanmu menjadi lemah, dan pintu-pintu petunjuk serta keberhasilan tertutup bagimu. Manakala salah seorang di antara orang-orang ini mengemukakan berbagai argumen tak masuk akal atau mengaku berada dalam keadaan atau maqm (kedudukan) tertentu. Maka akibatnya adalah penalaran sesat, dusta, penipuan, dan angan-angan. Ini menggiurkan orang yang berbicara dan orang yang mendengarkan, sebab mengaku membuat kaya setiap orang yang bodoh dan mudah tertipu. Semuanya itu adalah kesombongan di atas kesombongan. Di dalamnya dijumpai salah satu bukti paling meyakinkan ihwal keunggulan pengetahuan yagn sudah aku bicarakan. Ia membuka pintunya hanya buat hamba yagn suci dan bertakwa kepada Allah, dan menyingkapkan hijabnya hanya buat kalbu yang bertobat dan dibersihkan dari berbagai padangan pertentangan yang dikemukakan oelh bentuk-bentuk lain pengetahuan.
Karenanya, janganlah memandang pendukung hukum lebih mampu ketimbang seseorang yang berasal dari mazhab Pengetahuan ini. Sebab, pengetahuan eksoteris bertentangan sekali dengan Kebenaran Mistik. Ia menutup ke arah perilaku tak benar dan kerusakan jalan hidupnya,d an puncaknya adalah kehampaan membinasakan buat mereka yang terlibat di dalamnya.
Kaum sufi, sebaliknya, merenungkan apa yang tersembunyi dari orang lain, dan menyadari sepenuhnya kebenaran-kebenaran yang tidak dipahami orang lain. Mereka itu seperti orang-orang yang dikatakan oleh penyair :
Malamku telah menjadi fajar cerah karena wajahmu,
Meski petang telah menampak ke angkasa.
Banyak orang tetap berada dalam malam mereka,
Sementara kami berada dalam pesona kecemerlangan wajahmu.
9. Seperti dikatakan Jibril : “Jangan menganggap dirimu alim, sebab pengetahuan para ulama hanyalah kecurigaan.” Manakala sebuah pertanyaan dilontarkan kepadamu, janganlah engkau deakti dengan gaya intelektual semata. Sebaiknya engkau menanganinya dengan tenang, mengesampingkan keberatan-keberatan rasional, sehingga kebenaran sederhananya, yang bisa menenangkan kalbumu dan meluaskan inti wujudmu, bisa tersingkap bagimu. Engkau memerlukan niat suci dan keinginan tulus guna mengejar pengetahuan ini, sebab ia adalah pentetahuan mulia yang membawa sang hamba menuju pengetahuan mendalam ihwal Rahmat-Nya. Melaluinya, sang hamba di bawa menuju puncka pertemuan dengan-Nya bersama orang-orang pilihan dan terkasih-Nya. Al-Junayd berkata : “Sekiranya akau tahu bahwa Allah memiliki pengetahuan lebih mulia di kolong langit ini ketimbang pengetahuan yang kita uraikan bersama-sama sahabat dan saudara-saudara kita ini, aku baka segera lari mengejarnya.” Semuanya ini ddiasarkan atas mencari perlindungan secara tulus, atas kesadaran akan kebutuhan diri, atas doa terus menerus, dan atas penidadaan diri, di hadapan Sang Raja Yang Mahaagung. Mulai sarana-sarana inilah inti wujud seseorang berkembang dan berbagi rahasia bisa dibongkar. Dan tidak ada pertolongan dan kekuatan kecuali dari Allah Swt.
Siapa saja yang menerima perintah ini dan bertindak sesuai dengan rincian tersurat dan maksud-maksudnya, bakal beroleh kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat nanti, dan bakal beroleh kegembiraan. Hanya saja, bila seseorang terus menerus menangguhkan dan menghindari peringatan-peringatan berisi petunjuk, maka dia tidak bakal pernah bisa menyamai orang-orang bijak dalm hal kebaikan. Marilah kita beroda kepada Allah, agar Dia menerangi penglihatan kita dan menyucikan kalbu kita, sehingga dengan kemurahan dan karunia-Nya. Dia melimpahkan rahmat kepada kita yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Dan, yang awal serta yang terakhir, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas Junjungan kita Muhammad dan keluarganya.

Adresse

Lyon

Site Web

Notifications

Soyez le premier à savoir et laissez-nous vous envoyer un courriel lorsque IBN ATHAILLAH publie des nouvelles et des promotions. Votre adresse e-mail ne sera pas utilisée à d'autres fins, et vous pouvez vous désabonner à tout moment.

Partager