Romo Yongki Wawo

Romo Yongki Wawo Halaman Inspirasi Hati Untuk Dunia Baru

Di Bawah Cahaya Bulan di Biara Sunyi: Kisah Suster AngelaDi balik tembok-tembok kokoh Biara Bunda Penolong Abadi, waktu ...
27/08/2025

Di Bawah Cahaya Bulan di Biara Sunyi: Kisah Suster Angela

Di balik tembok-tembok kokoh Biara Bunda Penolong Abadi, waktu seolah berjalan dengan irama yang berbeda. Bukan lagi deru klakson atau laju kendaraan, melainkan bisikan angin yang menembus jendela kaca patri, denting lonceng yang memanggil untuk doa, dan gemerisik jubah para suster saat mereka melangkah di koridor yang dingin. Di sinilah, dalam keheningan yang mendalam, Suster Angela menjalani hidup membiaranya.
Suster Angela adalah seorang suster muda, namun matanya memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya. Ia adalah sosok yang ramah dan selalu tersenyum, dengan tangan yang sigap membantu siapapun yang membutuhkan. Ia mengajar katekismus, melayani di panti asuhan, dan kerap menjadi tempat curhat bagi suster-suster lain. Semua orang melihatnya sebagai teladan kebaikan dan kesucian.

Namun, di balik jubah hitam yang rapi dan senyum yang selalu terukir, Suster Angela menyimpan sebuah pergumulan batin. Ia sering kali merasa bahwa ia telah menjadi "makam yang dilabur putih", seperti yang Yesus gambarkan. Ia melakukan semua tugasnya dengan sempurna, mengucapkan doa-doanya dengan khusyuk, dan berinteraksi dengan penuh kasih. Tetapi, ia takut bahwa semua itu hanyalah penampilan luar, sebuah cangkang yang indah, sementara di dalamnya, hatinya masih dipenuhi oleh kekhawatiran duniawi, kebanggaan tersembunyi, dan penilaian diam-diam terhadap orang lain.

Malam itu, setelah doa Komplitorium, biara diselimuti oleh keheningan total. Suster Angela tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan jubah, dan berjalan pelan menuju kapel. Di sana, hanya ada sebuah lilin kecil yang berkelip di hadapan Salib, menerangi bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
Ia berlutut di bangku kayu, air mata perlahan mengalir di pipinya. Ia tidak berdoa dengan kata-kata yang indah atau rumusan yang rapi. Ia hanya berbisik, "Tuhan, aku takut. Aku takut aku hanya pura-pura mencintai-Mu. Aku takut hatiku tidak seindah yang terlihat."
Ia teringat akan sabda Yesus tentang membunuh para nabi. Para Farisi menghormati nabi-nabi yang telah mati, tetapi membunuh Firman yang hidup di hadapan mereka. Suster Angela menyadari bahwa ia sering melakukan hal yang sama. Ia mengagumi para kudus, membaca kisah hidup mereka, dan merenungkan ajaran mereka. Namun, ketika Firman Tuhan menantangnya untuk melepaskan hal-hal yang ia cintai, untuk menyerahkan kekhawatirannya, atau untuk mengampuni seseorang yang menyakitinya, ia sering kali menolak. Ia "membunuh" Firman yang hidup itu di dalam hatinya sendiri.
"Aku tidak ingin menjadi orang buta yang memimpin orang buta," gumamnya dalam isak. Ia tidak ingin menjadi seorang biarawati yang hanya tahu jalan, tetapi tidak pernah benar-benar berjalan di atasnya.
Dalam keheningan malam, ia merasakan kehadiran Kristus begitu dekat. Bukan kehadiran yang menghakimi, melainkan kehadiran yang penuh kasih. Ia membayangkan Yesus berlutut di sisinya, meletakkan tangan-Nya di pundaknya, dan berkata dengan lembut, "Anak-Ku, Aku memanggilmu, bukan karena kesempurnaanmu, tetapi karena Aku mencintaimu. Aku ingin membersihkan hatimu, bukan hanya bagian luarnya."

Suster Angela menangis lebih kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Ia menyadari bahwa kedewasaan rohani bukanlah tentang menjadi sempurna, tetapi tentang kejujuran dan kerelaan untuk diubah. Itu adalah tentang berserah diri kepada kasih karunia-Nya yang terus-menerus.
Sejak malam itu, semangat doa Suster Angela berubah. Ia tidak lagi berusaha menampilkan kesucian, melainkan berfokus pada perjumpaan yang tulus dengan Tuhan. Di pagi hari, ia tidak hanya mengucapkan doa-doa, tetapi ia menghidupi setiap kata-katanya. Ketika ia membersihkan taman, ia melakukannya seolah-olah membersihkan hati. Ketika ia melayani sesamanya, ia melihat wajah Kristus pada setiap orang.

Hidupnya tidak serta-merta menjadi sempurna. Kadang-kadang, ia masih merasa lelah dan terganggu. Namun, setiap kali godaan datang, ia segera berbisik dalam hati, "Tuhan, penuhilah aku dengan kasih karunia-Mu."
Di tengah budaya layar dan kebisingan dunia, Suster Angela menemukan kedamaian yang sejati. Ia tahu bahwa hidup membiara bukanlah sebuah pertunjukan, tetapi sebuah perjalanan batin yang intim dengan Kristus. Ia tidak lagi takut menjadi "makam yang dilabur putih", karena ia tahu bahwa Hati Kudus Yesus adalah satu-satunya sumber kemurnian yang dapat membersihkan hatinya, dari dalam ke luar, menjadikannya Bait Allah yang hidup, bukan kuburan yang kosong.

12/06/2025
Join with me in Tik Tok
18/10/2024

Join with me in Tik Tok

TikTok

08/09/2022

Déjà 153 ans de pèlerinages à Issoudun


La messe d'aujourd'hui à la chapelle de ND du Sacré-Coeur était présidée par le Père Gerard Blattmann, MSC, assisté des prêtres du sanctuaire de Notre-Dame du Sacré-Coeur.

"Aujourd'hui, nous célébrons deux anniversaires. Le premier est l'anniversaire de la Nativité de Marie. Le second est l'anniversaire du couronement de ND du SC," Ainsi disait le P. Gérard Blattmann dans le discours d'ouverture de la messe dans la chapelle de ND du Sacré-Cœur d'Issoudun.

« En fait, le pèlerinage a commencé le 8 septembre 1869, explique le père Blattmann, jour du couronnement de la statue de Notre-Dame du Sacré-Cœur au nom du pape Pie IX par l’archevêque de Bourges.

Depuis près de trente ans, en 1992, cette journée est organisée le premier samedi de septembre afin de faciliter la participation des familles. La rentrée scolaire et le fait que la date du 8 se déplaçait dans la semaine, ainsi que l’évolution de nos rythmes de vie, ont milité pour ce changement qui est maintenant adopté. »

Selon les témoignages de l’époque, il semble évident que lors du couronnement de 1869, le nombre de pèlerins ait été plus considérable qu’aujourd’hui. « Une telle comparaison est sans nul doute inutile ; nos rythmes de vie ont bien changé nos repères aussi, mais à Issoudun, particulièrement, on demeure attaché au Sacré-Cœur, comme on dit ici, pour désigner l’ensemble des bâtiments et le parc du sanctuaire. »

Au cours du sermon, le Père Gérard a raconté aux pèlerins présents aujourd'hui les événements qui se sont déroulés il y a 153 ans à Issoudun. Oui, selon La Semaine religieuse du Berry de septembre 1869, « le boulevard qui s’ouvrait par un arc de triomphe se présente comme une forêt impénétrable de feuillage. C’était un ciel continu de guirlandes croisées au-dessus de nos têtes et se prolongeant avec plus d’élégance encore dans les rues de la ville. Des milliers d’écussons pour Notre-Dame et le Sacré-Cœur, des oriflammes portant des inscriptions pieuses et des invocations se rencontrent à chaque pas, à droite et à gauche des couronnes suspendues. » Trente mille personnes environ envahissaient alors la chapelle Notre-Dame, la basilique et la place où un podium se dressait.
Quatorze prélats et quelque 700 prêtres étaient présents. « Le matin, l’archevêque de Bourges, Mgr de la Tour d’Auvergne, a béni solennellement la chapelle de Notre-Dame du Sacré-Cœur et consacré l’autel, en même temps que Mgr l’évêque d’Autun consacre le maître-autel. Vers 16 h se lance la procession avec les évêques et une multitude de pèlerins ; des centaines de prêtres défilent, revêtus d’un surplis romain. »

Notre-Dame du Sacré-Coeur. Prie pour nous....

03/09/2022

Sukacita hari ini di tempat misiku

Adresse

38 Place Du Sacré-Coeur
Issoudun
36100

Site Web

Notifications

Soyez le premier à savoir et laissez-nous vous envoyer un courriel lorsque Romo Yongki Wawo publie des nouvelles et des promotions. Votre adresse e-mail ne sera pas utilisée à d'autres fins, et vous pouvez vous désabonner à tout moment.

Partager