Silahkan KLik ikuti
Jemaat Ahmadiyah didirikan pada tanggal 23 Maret tahun 1889 M di Qadian India oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Beliau lahir pada tahun 1835 M dan telah wafat pada tahun 1908 M. Jemaat Ahmadiyah bukan agama baru dan tidak p**a membawa ajaran baru. Kitab suci Jemaat Ahmadiyah adalah Al-Quran yang terdiri dari 30 juz dan 114 surah. Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa nabi Muhammad
saw. merupakan khâtaman-nabiyyîn dan mengimani 6 Rukun Iman serta melaksanakan 5 Rukun Islam. Saat ini, Jemaat Ahmadiyah dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba,
yaitu khalifah yang ke-5 sebagai penerus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as,
pendiri Jemaat Ahmadiyah. Sejak mulai didirikan hingga sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah berkembang dan tersebar lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Sebagai organisasi yang hanya berkiprah dalam bidang kerohanian dan sama sekali tidak memiliki tujuan-tujuan politik, Jemaat Ahmadiyah telah berhasil menyebarluaskan dakwah Islam di seluruh benua dengan mendirikan masjid-masjid dan pusat-pusat dakwah di kota-kota penting seluruh benua tersebut. Jemaat Ahmadiyah masuk ke wilayah nusantara sebelum Negara Indonesia merdeka, melalui Muballigh Jemaat Ahmadiyah Maulana Rahmat Ali H.A.O.T
yang ketika itu secara khusus diutus oleh pimpinan Ahmadiyah Internasional ke Indonesia. Sebagai muballigh pertama, Maulana Rahmat Ali H.A.O.T membawa Ahmadiyah masuk ke Wilayah Indonesia melalui kota Tapaktuan, Aceh pada tanggal 2 Oktober tahun 1925 M. Dari sana kemudian Jemaat Ahmadiyah berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun 1931 M, Jemaat Ahmadiyah berkembang di wilayah Batavia (Jakarta) dan Bogor. Kepengurusan Jemaat Ahmadiyah di kedua wilayah itu pun terbentuk yakni Pengurus Jemaat Ahmadiyah Betawi dan Jemaat Ahmadiyah Bogor. Dari wilayah Betawi dan Bogor, Jemaat Ahmadiyah kemudian berkembang ke wilayah Pulau Jawa lainnya seperti Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, karawang dan lain-lain. Setelah Jemaat Ahmadiyah tersebar dan kepengurusannya terbentuk di beberapa kota di Sumatera dan hampir di seluruh bagian p**au jawa,
maka pada tahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk Hoofdbestuur (sekarang disebut Pengurus Besar). Pada tanggal 12-13 Juni tahun 1937 M,
Jemaat Ahmadiyah di Indonesia menyelenggarakan kongres yang pertama di Masjid Hidajat (Sekarang Masjid Al-Hidayah), Jl.Balikpapan 1/10 Jakarta dihadiri oleh wakil-wakil Ahmadiyah dari cabang-cabang yang ada ketika itu untuk membahas AD dan ART Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Konferensi tersebut menyetujui AD dan ART Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan nama AADI, yaitu Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia. Pada tahun 1949 M, atau 3-4 tahun setelah Republik Indonesia berdiri, Jemaat Ahmadiyah Indonesia atau yang ketika itu bernama AADI kembali menyelenggarakan kongres di Jakarta pada tanggal 9 s/d 11 Desember 1949 yang dihadiri oleh cabang-cabang AADI. Kongres tersebut menyetujui AD dan ART yang baru dan menyetujui pengganti nama Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia atau AADI
menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia.