Stone Philosophy / Agem Bali

Itinéraire Site Web Contacter le lieu de culte

Stone Philosophy / Agem Bali Tutur tutur kekunaan Stone Philosophy. Pagi itu matahari masih malu malu menampakkan dirinya. Bapa memanggilku untuk sama sama pergi ke kebun memetik kopi.

Satu pengandongan besar dan satu pengandongan kecil tergolek diatas apad glebeg tua yang terbuat dari kayu dapdap. Induk ayam hitam dengan anak anaknya sudah terbangun untuk berjuang melewati hari, mulai mengais tanah di kekalen depan rumah…. Ketika aku dengar Bapa memanggilku… “Ngah, jemak pengandongane, mai jani luas ngalap”. Satu petak tanah warisan leluhur ada di alas Kaja Kauh dan penuh ditanami pohon kopi lokal yang menjadi sumber penghidupan kami dan herannya musim panen kopi selalu bersamaan dengan masa liburan kenaikan kelas… jadi mau tidak mau liburan harus dihabiskan di bawah pohon pohon kopi itu.. :)

Akupun bergegas mengambil pengandongan dan bersiap mengikuti Bapa. Meme berjalan di depan menjunjung sebuah penarak yang berisi perbekalan kami karena pekerjaan akan memakan waktu sampai sore, aku dibelakang beliau dan Bapa paling belakang. Sementara Uwa Repot dan keluarganya sudah menunggu di kebun kopi karena mereka menginap di gubuk yang ada disana bersama ayam dan sapi peliharaan mereka. Melewati perepatan, jalan masih datar sampai dengan kebun Peketut Wakta dan jalan kemudian mulai agak menanjak pada saat kami mulai menapaki area kebun Mbah Putru dengan pohon kemiri yang menjulang tinggi diatas kami, melewati Pererenan dan baru kemudian datar kembali saat sampai di kebun Uwa Kuwatri. Aku sempat sedikit berlari menyalip meme bersama anjing setiaku “ I Lua” saat kami bertemu jalan menurun disebelah kebun Peketut Sekat. Setelah melewati kebun Pak Kamajaya yang ada dilokasi datar dengan pohon Gintungan besar disebelah kiri jalan, di dairah Leg, kembali jalan menurun hingga ketemu dengan telabah kecil dimana aku lihat Uwa Talmi sudah melakukan aktivitasnya memetik kopi pagi itu. Uwa Talmi pun kemudian menyapaku dan seperti biasa aku jawab dengan bercandaan masa kecilku… Sampai habis batas kebun yang digarap oleh Uwa Talmi, akhirnya kami sampai di sungai Yeh Nunuan. Batunya bersusun susun indah dan diatas susunan batu itu sebuah pancuran besar dari sumber mata air alam mengalir deras.. Beberapa alirannya meluap dan menjadi aliran terpisah disela sela batu batu besar dibawah pancuran itu. Disana biasanya kami mengambil air minum saat pergi ke kebun dan tempat kami mandi saat p**ang dari kebun, dimana aku selalu kagum akan tumpukan batu batu itu. Hari itu kami juga mengambil air di pancuran itu sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kopi melewati kebun Nang Mester, Kebun Uwa Landri, Kebun Gung Wicana, Kebun Bli Sulandra sebelum akhirnya kami tiba di kebun kopi milik Mbah. Itulah sedikit ingatanku tentang perjalanan yang begitu akrab di masa kecilku dulu dan sekarang setelah Mbah dan Bapa berp**ang, secara kebetulan aku sempat lewat di dairah itu lagi saat ada pracara di Pura Manik Selaka. Pura yang berjarak kurang lebih dua areal kebun orang lain disebelah utara kebun Mbah. Banyak hal yang aku lihat diperjalanan telah berubah, kopi lokal yang dulu tinggi dan memelukan cara memetik yang unik, sekarang sudah berganti kopi top yang hanya setinggi badan orang dewasa dan semua rantingnya mampu dijangkau dari bawah. Pohon pohon besar yang dulu ada, beberapa diantaranya sudah tidak aku temui lagi. Sunari yang terikat di pohon nangka Peketut sekat sudah tidak ada lagi menyenandungkan irama alam yang begitu merdu. Dan sampai aku tiba kembali di Yeh Nunuan, aku berhenti sejenak. Terlihat sungai itu agar rimbun oleh semak dan Temen Poleng yang tumbuh disekitarnya. Aku terdiam sesaat dan kembali ingatanku menerawang ke masa lalu, 30 tahun yang lalu. Ada rasa kangen dan penasaran menyeruak dalam hati… ingin melihat batu batu yang dulu aku kagumi .. Dan kemudian aku sibakkan semak semak itu. Mereka ternyata semua masih ada disana dan tak bergeser sedikitpun dari tempatnya dulu, masih begitu polos. Beberapa saat aku terdiam sebelum kemudian aku tersenyum manakala terasa ada yang menyapa diantara batu batu itu… banyak hal hal indah yang tiba tiba muncu dalam fikiranku… tentang batu batu itu. Batu tidak pernah meminta balasan dan sanjungan walau dia menjadi dasar dan penopang kehidupan di Bumi ini. Batu itu penuh keiklasan….. Batu tidak pernah menyombongkan diri walau dia kuat dan berharga begitu mahal bagi manusia, dia tetap ada di tempatnya sampai manusia datang dan bersusah payah menemukannya, mengasahnya dan kemudian dengan bangga memakainya. Batu itu diam dalam doa dan kesabaran yang teramat dalam menyaksikan segala proses dan hiruk pikuk yang terjadi disekelilingnya, menyaksikan manusia, hewan dan tumbuhan yang mati dan terlahir kembali, menyaksikan kecongkakan dan kesombongan yang satu berganti dengan yang lain, menyaksikan manusia yang baik datang dan pergi. Menyaksikan yuga berganti kalpa… dia setia sampai Maha Pralaya datang. Batu itu juga tidak pernah mentertawakan manusia manusia yang hidup dengan penuh beban dan tekanan mental diatasnya. Batu itu tidak pernah malu walau ia tua dan kotor, ia tetap menyediakan badannya bagi bentuk kehidupan lain walau lumut dan jamur menggerogotinya. Batu Itu tidak pernah merasa pintar walau saat ini semua manusia pintar datang kepadanya mencari jejaka jejak keberadaan dan peradabannya, mencari jejak jejak perjalanan bumi yang dipijaknya. Dan sejak saat itu, ada terbersit keinginan dalam hatiku, untuk mencoba meniru batu batu itu. Semoga jalan jalan yang aku tapaki dan cerita cerita yang aku bagi bisa aku lakukan sebagaimana batu itu melakukannya, setidaknya dalam beberapa hal yang aku selalu kagumi dari batu batu itu..

27/11/2018

Kehidupan adalah sebuah mimpi, namun mimpi yang nyata.

Kehidupan dilihat dari sisi perjalanan sang waktu, adalah sebuah mimpi. Apa yang terjadi hari kemarin adalah sesuatu yang hanya terjadi dalam pergulatan waktu dan tidak akan pernah bisa diulang kembali karena waktu tidak pernah bisa diputar kembali.

Namun kehidupan dilihat dari sisi pengalaman yang bisa didapatkan dari kehidupan itu sendiri adalah nyata. Karena pengalaman hidup hari kemarin masih bisa kita rasakan hari ini, dan segala karma yang kita lakukan hari kemarin akan berpengaruh besar hari ini dan hari selanjutnya.

Renungan Tumpek Klurut  15 Juli 2018 – Swargan dan The After-Life dalam perspektif Budaya Bali. Sore 15 Juli 2018, seusa...
15/07/2018

Renungan Tumpek Klurut 15 Juli 2018 – Swargan dan The After-Life dalam perspektif Budaya Bali.

Sore 15 Juli 2018, seusai mebanten di Pelangkiran bertepatan dengan hari Tumpek Krulut dan manakala harus membalikkan badan kearah pintu utama rumah, sekilas pandangan saya menyaput foto Mbah dan Bapa yang terpajang di dinding rumah. Ada rasa kangen dan ada rasa sayang yang rasanya menyeret bathin kedalam kesedihan akibat duka perpisahan alam maya. Namun segera kemudian saya balikan fikiran bahwa sesungguhnya kami tidak berpisah, hanya saja beliau sudah tidak dalam kungkungan / badan kasarnya lagi.
Sebersit pertanyaan dalam benak kemudian muncul, ada dimanakah Beliau saat ini?

Terduduk malam ini dalam sepi, ternyata pertanyaan itu masih menggantung dan lagi lagi memerlukan sebuah jawaban, karena apabila tidak terjawab, maka susah tidur pasti akan terjadi malam ini. :)

Dari sebuah statement di masyarakat Bali khususnya dan juga mungkin pada masyarakat dunia secara luas, lebih banyak saya temukan bahwa ada dua tempat yang mungkin dituju atau tertuju oleh roh setelah pergi meninggalkan badan untuk melakukan perjalanan selanjutnya, yaitu Sorga (Swarga / Suarga / Swargan / Suargan dalam bahasa Bali) atau Neraka, dimana kemudian saking lamanya statement tersebut terkristalisasi, maka timbulah tradisi yang mempercayai kebenarannya. Sorga dan Neraka seolah menjadi dua tempat yang sangat imajiner yang apakah mungkin sejatinya adalah viksi yang dikembangkan untuk kemudian memotivasi manusia agar mempu berimajinasi akan keindahan dan kengerian yang dari imajinasi tersebut akan mempengaruhi pola tingkah laku / karma wasana dari setiap orang yang mempercayainya.

Entah mengapa, saya dalam kurun waktu yang sudah agak lama, tidak lagi mempercayai statement tersebut berdasar atas dasar Budaya Bali yang saya hidup di dalamnya semenjak saya “ditandur” ke dunia ini.

Apabila kita lihat lebih dalam, menurut pitutur kekunaan, kata Swarga / Swargan dalam Bahasa Bali tersebut adalah berasal dari kata Swar yang berarti cahaya / sinar dan Ga yang berarti marga / jalan. Jadi menurut pengertian tersebut, Swarga adalah bermakna jalan jalan yang disinari, jalan jalan yang terang. Dan dari pengertian itu dapat p**a disimpulkan, bahwa Swarga tersebut bukanlah tujuan, melainkan jalan.

Lalu kapan Swarga tersebut bisa didapatkan? Lagi lagi dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan kebanyakan pihak lain yang bilang bahwa Swarga hanya bisa dicapai di dunia akhirat, pada alam yang di dapatkan oleh roh setelah meninggalkan badan jasmani. Menganut pengertian Swarga / Swargan diatas, menurut saya bahwa Swargan itu adalah sebuah jalan yang diharapkan di dunia tempat hidup kita sekarang ini maupun di dunia tempat dimana nantinya roh berada. Hal ini juga didukung oleh adanya bagian dari ucap ucap dalam Sesontengan kekunaan yang biasanya disebutkan dalam bagian Pinunas sebagai tahap lanjutan daripada Pitangi, Pikeling dan Pidarta. Bagian dari ucap ucap dimaksud adalah adanya sebuah Pinunas “Mangda Kasuryanan, Mangda Kasundaran Kasuluhan, Mangda Galang Apadang tur Nenten Kepetengan Ring Sejeroning Pemargi lan Pengastawa”. Pinunas tersebut berlaku kepada si pelaku ritual dan juga berlaku kepada yang di-doa-kan dalam sebuah ritual, yaitu misalnya pada saat kita mendoakan perjalanan roh leluhur yang sudah meninggalkan badan jasmaninya.

Lalu kenapa yang kita minta adalah jalan yang terang, jalan cahaya dan bukan misalnya jalan yang teduh, jalan yang mulus, jalan yang datar, jalan yang dengan pemandangan indah? Sepertinya leluhur kita sudah faham, bahwa tidak mungkin jalan jalan kehidupan itu selamanya teduh, selamanya mulus, selamanya datar, selamanya menawarkan pemandangan yang indah.. Namun dengan bekal terang atau cahaya tersebut, segala macam perjalanan yang dilalui dalam kehidupan, pasti akan bisa di lakukan dengan baik dan akan sangat menghindarkan kita dari segala hal hal buruk yang bisa terjadi dalam perjalanan tersebut, dari situasi tersandung, kepetengan sampai dengan situasi paling parah, ketersesatan dan pati-kaplug. Hal ini dalam stage yang lebih mendalam, bisa diidentikkan dengan Surya Astawa yang sesungguhnya adalah bukan pemujaan kepada matahari, tapi adalah menselaraskan Solar Energy yang ada dalam diri dengan Solar Energy di alam semesta, karena sejatinya segala hidup adalah bagian daripada Solar Energy tersebut.
Lalu apabila Swargan hanya sebuah jalan yang kita mohonkan kepada Beliau, lalu dimanakah tujuan dari perjalanan tersebut?

Dalam terminology kekunaan Bali, sesekali waktu kita mendengar adanya istilah “Kolihan”. Seperti misalnya pada upacara pemantukan Dane Raja Dewata, kita dapati istilah bahwa Beliau yang sudah meraga Raja Dewata, mantuk ke Kolihan. Jelas dalam ucap ucap tersebut, tidak kita temukan sebuah statement bahwa Raja Dewata mantuk ke Sorga atau ke Neraka. Inilah Bali.

Kolihan berasal dari kata Ke Olihang yang bermakna sama dengan Ke-polihang yang juga berarti “apa yang didapatkan”. Leluhur Bali dijaman dahulu adalah mereka yang berani dan mampu menyandang predikat “Belog – Polos”. Beliau tidak mau menamai apa yang beliau tidak fahami dengan pasti dan Beliau tidak mau mendahului keputusan Sang Hyang Wenang, yang berwenang terhadap takdir segala mahluk ciptaannya. Dari sekian kompleksitas karma seseorang, yang di dalamnya terkomposisi kedalam tiga hal besar: fikiran, perkataan dan perbuatan, adalah sangat sulit kemudian kita bilang bahwa roh dari orang tersebut akan memasuki alam yang mana setelah dia meninggalkan badan kasarnya.
Atas dasar itulah kemudian muncul istilah “Kolihan”, bahwa roh tersebut akan menempati alam tertentu yang “dia dapatkan” sesuai dengan Karma Wasana-nya semasa menjalani area uji di dunia ini. Jadi, apapun upacara yang kita lakukan, seberapapun besarnya yadnya yang kita lakukan, maka secara mendasar kita hanya mampu mengatakan bahwa beliau bertempat di “Kolihan”. Tidak lebih dan tidak kurang.

Adapun hari ini, apabila sedemikian banyak orang yang berkata bahwa dengan upacara tertentu di level tertentu akan bisa mengangkat roh masuk ke Sorga, ataupun bahkan lebih tinggi lagi ada yang bilang “Amor Ring Acintya”, tentu semua itu adalah pilihan pilihan terminology yang bisa membuat perasaan sebagian dari kita tentram. Namun apabila kita kemudian berorientasi kepada pengetahuan akan kesujatian, tentu terminology terminology seperti itu bisa kita pertanyakan ulang.

Sebagai akhir kata dari renungan ini, saya memohon agar kami yang ada di dunia ini selalu disinari dan mampu selalu berjalan di jalan jalan cahaya yang terang itu dan kepada Beliau yang sudah melanjutkan perjalanan di alam kesejatian, semoga selalu berjalan di jalan yang terang dan mendapatkan tempat sebagaimana yang pantas didapatkan manut Karma Wasana masing masing.
“It is in time we exist”.

15/07/2018
Moksa Dalam Pergulatan Karma. Karmalah yang menyebabkan kelahiran dan kematian. Karma adalah penyebab berputarnya dunia....
16/11/2016

Moksa Dalam Pergulatan Karma.
Karmalah yang menyebabkan kelahiran dan kematian.
Karma adalah penyebab berputarnya dunia. Karma juga yang menjadi penyebab kelahiran dan kematian dalam sebuah siklus yang mampu kita fahami, walau banyak sekali diantaranya terselip rahasia yang hanya diketahui oleh Sang Maha Pencipta, Ida Sang Hyang Parama Kawi dan kalaupun ada segelintir manusia yang mengetahuinya, tentu tidak bagi mereka untuk membicarakannya karena ini bersifat panugrahan dan tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Kalau kita fikir secara gampang dan lugas, misteri dari kelahiran kita ke alam materi mungkin bisa kita cascading sebagai berikut:
1. Atma / Roh / Ruh / Jiwa adalah unsur yang bersifat bukan materi.

2. Sang Hyang Wenang dalam tataran sebuah takdir yang sudah barang tentu tidak bisa kita pertanyakan dan sejauh ini tetap menjadi sebuah misteri, telah menitahkan para roh untuk sebuah misi turun ke dunia dengan sebuah tantangan dimana tantangan tersebut adalah pemberian kenikmatan dunia sekaligus pemberian badan materi sebagai sarana / media untuk menikmati kenikmatan tersebut. Tantangan terbesarnya juga tersembunyi di dalam fasilitas kenikmatan tersebut yang mana diterjemahkan kedalam satu pertanyaan, mampukah para roh / atma / ruh tersebut untuk melepaskan diri dari kenikmatan dunia tersebut yang memiliki kecendrungan semakin menarik roh ke alam material (sebagaimana kecendrungan manusia yang mempertahankan semua bentuk kenikmatan tersebut). Dan bahkan tantangan lanjutan adalah, bagaimana cara manusia memurnikan fasilitas yang diberikan oleh Sang Hyang Wenang tersebut sehingga fasilitas tersebut mampu disucikan dan dibawa oleh ruh sebagai “Jatining Sarining Amerta”. Disini terkandung sebuah beban tanggung jawab ruh tersebut untuk tidak meninggalkan kekotoran di dunia materi dan bertanggung jawab terhadap badan materi nya sendiri.

3. Didalam banyak terminologi umum, bisa kita temukan bahwa tujuan akhir kehidupan manusia / tujuan akhir perjalanan roh di alam material adalah untuk mencapai apa yang disebutkan sebagai “Moksa”. Yang kemudian dalam beberapa literature, disebutkan bahwa terdapat beberapa jenis moksa yang antara lain adalah:
a. Jiwanmukti
b. Wedehamukti
c. Purnamukti
Juga dalam literature India disebutkan tingkatan Moksa dari yang terendah kepada yang tertinggi adalah:
a. Samipya
b. Sarupya
c. Salokya
d. Sayujya

4. Menurut analisa ajah ajah kekunaan yang saya lakukan, ada beberapa level jawaban terhadap tantangan tersebut yang mana akan saya coba uraikan dengan bahasa gampang untuk memudahkan kita dalam memahaminya:
a. Supaya semua unsur material bisa mendapatkan penyucian dalam satu level yang sama untuk kemudian unsur unsur tersebut yang secara bahasa spiritual disebutkan sebagai “Sarining Amerta” akan mampu disucikan menjadi ”Jatining Sarining Amerta” atau “Sarining Amerta Jati” dengan sebuah kreteria uji bahwa apabila unsur unsur tersebut sudah tersucikan, maka unsur unsur tersebut akan bisa dibawa serta ke alam ruh dan sebuah penghargaan akan diberikan oleh Sang Hyang Wenang dalam bentuk apa yang sering kita sebut sebagai Swarga (Swar = Sundara (Sun Da Ra) = Sinar, Ga = Marga = Jalan) yang mana sebenarnya terkait erat dengan beberapa terminology fisika modern seperti : The Body of Light, The Way of Light, etc… Dimana batasan ruang dan waktu sudah tidak menjadi sebuah batasan. Terminologi ini sepertinya yang kita fahami sebagaimana istilah kuna yang menyebutkan “Mekadang Dewa” atau “ulah ulih ke Kolihan”. Yang kemudian memunculkan beberapa istilah “wayah” yang masih kita warisi sampai saat ini, misalnya: Ka-Pi-Turun, Ka-Pi-Tui, Ka-Pi-Taya.

b. Adanya perubahan yang mungkin bersifat kemunduran dalam sebuah peradaban spiritual, yang walaupun pemahaman terhadap tantangan tersebut masih sama, namun kemudian juga menimbulkan sebuah perubahan dalam cara menjawab tantangan tersebut. Dalam satu fase dimana secara umum, penyucian terhadap unsur unsur materi sudah dirasakan tidak bisa lagi dilakukan secara utuh sebagaimana rupa dan bentuk duniawinya, maka kemudian ditemukanlah sebuah jalan untuk melakukan pemurnian unsur unsur tersebut dan mengembalikannya kepada alam semesta dengan cara membakarnya. Yang mana membakar adalah dianggap sebuah cara untuk mengembalikan unsur unsur tersebut dan memisahkan unsur materi nya dengan unsur spiritualnya. Dalam tahapan ini terciptalah kemudian sebuah agem kediatmikan (Ka – Di – Atma – Ika) yang kita sebut sebagai “Dasa Aksara” yang mampu membangkitkan api dalam diri manusia yang dipergunakan untuk membakar badan materi nya sendiri. Sehingga kemudian memunculkan terminology yang lain lagi dengan ungkapan Moksa meninggalkan abu.
--------------- Dan sementara dilapangan ajah ajah Dasa Aksara ini kemudian melahirkan beberapa aliran aliran spiritual yang baru yang lebih banyak menyangkut “Wahya” atau “Kawisesan”. Seperti misalnya yang umum dikenal dengan Panca Gni Aksara, Pangeleakan, Penengen, Pengiwa. Yang mana apabila diumpamakan, Dasa Aksara adalah jalan mendaki kepada sebuah puncak gunung kesucian, namun ada banyak tempat indah yang dilewati sepanjang perjalanan dan beberapa pejalan kadang merasa lebih senang / pantas berapa di tempat tempat yang menurut mereka indah itu. Tentu saja perjalanan bisa dilanjutkan manakala mereka ingat kembali dengan tujuan mereka untuk mencapai puncak gunung kesucian tersebut.--------------

Adanya kedua kondisi diatas yang kemudian menimbulkan sebuah istilah pingit kekunaan yang secara umum disebut dengan istilah “Nyiwa Raga”.
Nyiwa Raga dimaknai sebagai sebuah KEMANDIRIAN dalam melakukan pengembalian / pelepasan unsur unsur material atau kemandirian untuk menemukan Jalan Pulang atau kemandirian untuk menemukan SwarGa.

c. Jaman berubah, tingkat kemurnian alam semakin berkurang akibat banyaknya unsur unsur kekotoran fikiran yang mulai menjamah manusia. Dan hari ini, yang masih bisa diwarisi adalah tradisi membakar diri sebagaimana yang disebutkan diatas, yang kemudian dilanggengkan dengan pelaksanaan upacara ngaben dengan pembakaran jenasah yang bukan lagi dilakukan oleh diri orang yang mantuk, namun dilakukan oleh preti sentana dengan tujuan membantu proses pelepasan unsur unsur material tersebut atau dengan kata lain membantu para leluhurnya untuk menyelesaikan tanggung jawab kelahirannya.
Adapun bagi para pewaris Kapitayan, pengembalian unsur unsur materi tersebut tidak dilakukan dengan cara membakar dengan tujuan agar supaya unsur unsur materi tersebut kembali sebagaimana bentuknya, utuh sebagaimana adanya. Yang menyebabkan kemudian tidak terjadi proses pembakaran jenasah, namun hanya melakukan penguburan atau yang sering disebut sebagai beya tanem. Yang mana ini diasumsikan adalah sebagai sebuah penebusan akan ketidak-mampuan menyucikan diri sendiri dan selama badan itu mengalami sebuah proses pembusukan, selama itu p**a diasumsikan bahwa roh tersebut belum mencapai alam atas (atau dalam istilah Bali sering disebut dengan “Nu Ngaturang Ayah” dengan status sebagai Petala) atau disebut dengan istilah “Ngenepang Pakertian”. “Wus ngaturang ayah ring sekala, ngelantur raris ngaturang ayah ring niskala”. Status ini yang kemudian menimbulkan sebuah cerita cerita yang dulu sangat memasyarakat bahwa leluhurnya si A masih ngayah di…. Dst.. Situasi ini sedikit disembunyikan oleh tradisi masa lalu karena dianggap sangat pingit, namun para tetua kemudian membahasakannya dengan sangat gampang yang bermaksud mengarahkan kepada generasi penerusnya untuk menjaga kemurnian diri semampunya “Da jangina megenep pedewekane, pang sing nyaan kaduken”. Kata kata itu dimaksudkan agar keturunannya mampu menjaga kesuciannya sehingga penebusan akan dilakukan tidak dalam waktu yang lama karena unsur unsur materi dari penyusun badan materinya bisa kembali kepada alam dalam waktu yang singkat.
Konsep Nyiwa Raga, masih sangat dipegang oleh pewaris Kapitayan karena mereka percaya, bahwa Lelangit mereka yang dulu sudah Mekadang Dewa akan tetap mampu menyayangi mereka dan membantu mereka dalam menunaikan beban tanggung jawab kelahiran ke alam materi dalam hal mengambalikan unsur unsur materi tersebut dan membebaskan roh mereka dari kungkungannya. Jadi Nyiwa Raga juga mengalami satu pergeseran pengertian yang mana dulu berarti kemandirian yang murni dari diri sendiri, dan hari ini berarti kemandirian dalam Clan / Warga yang tidak harus meminta pemuput upakara dan wangsuh dari pihak pihak tertentu.

Jadi sekali lagi bahwa tujuan roh dilahirkan ke dunia materi adalah untuk melakukan sebuah ujian membuat materi itu menjadi tersucikan dan immaterial. Jadi, bagi orang Bali, kira kira ada 3 jalan utama yang bisa dilalui untuk menjawab tantangan kelahirannya ke alam materi yang mana ketiga jalan itu adalah bersesuaian dengan Catur Marga yang kita kenal selama ini.

Antara Cret Nong dan Nong Cret,…… :)Secara kebetulan sore itu kami duduk bertiga disebuah kursi kayu dipinggir serumpun ...
17/10/2016

Antara Cret Nong dan Nong Cret,…… :)
Secara kebetulan sore itu kami duduk bertiga disebuah kursi kayu dipinggir serumpun hutan desa ditepi danau Tamblingan. Terdengar dikejauhan suara binatang terbang yang sangat akrab diwaktu kecil saya dulu. Dan kemudian saya bertanya kepada salah satu teman saya. "De, yen caran jumah ditu apa adane ane memunyi to De?", begitu saya bertanya kepada Made yang duduk disebelah saya yang kebetulan berasal dari desa yang berbeda dan kemudian Made menjawab “Kalau di kampung tiang, nika adane Cret Nong”. Namun jawaban itu tidak bertahan lama ketika mendadak Nyoman yang ada disebelah saya berkata “Ah sing Cret Nong sing…. Di desan tiang Nong Cret adane".
Hahahahaha…. Saya tertawa tergelak dan kembali saya bertanya… “Ken ane beneh ne, Nong Cret apa Cret Nong?”. Dan tidak saya sangka sangka, kami sampai pada sebuah argumentasi karena kedua belah pihak sama sama kukuh dengan pendapatnya masing masing. Sampai kami akhirnya memiringkan kepala untuk mendengarkan kesejatian suara itu…

Setelah acara memiringkan kepala selesai, kembali argumentasi terjadi tanpa ada kesepakatan apakah namanya Nong Cret atau Cret Nong. Sampai akhirnya kemudian datang seorang sahabat lain dan senyum senyum melihat tingkah polah kami. Sahabat ini kemudian berkata… “Manut tutur yang tiang pernah dengar, nama sebenarnya adalah Sungeret. Coba perhatikan lagi sekali dengan tenang dan pejamkan mata… pasti akan kedengaran kalau suara itu adalah Sungeret… Sungeret…. “. Kamipun mencoba untuk tenang dan kembali mendengarkan suara alam itu… dan sungguh kami bertiga terkejut, karena benar, suara itu ternyata terdengar "Sungeret… Sungeret…". Kembali diceritakan bahwa katanya ada cerita dibalik nama Sungeret itu… Su artinya baik dan Ngeret artinya mengajak / maid / menarik (verb).

Sungeret hanya berbunyi pada saat sore menjelang petang dan mulai berbunyinya manut sasih. Dulu Sungeret dipercaya bahwa dia adalah panggilan yang mengajak para petani yang bekerja di sawah dan ladang untuk bersiap siap p**ang, karena petang akan datang…. Dia datang dengan setia, setiap hari untuk mengingatkan para petani agar jangan sampai lupa waktu p**ang karena petang akan datang merambat bersama pemiliknya yang menggembalakan binatang binatang malam…

Pelajarannya kira kira: untuk satu objek sekala serupa Sungeret saja kita sudah melakukan perdebatan diwilayah yang sama sama salah… mogi mogi membahas sane ring nis, iraga mresidaang banban lan penuh perenungan… dan semoga sahabat itu akan datang lagi saat pemikiran kita mulai dipenuhi keyakinan dalam ketidaktahuan. Rahayu, Rahajeng.

Don’t Forget to Remember… Pagi ini semua kelihatan begitu baik… Cucak Rawa, Samyong, Punglor Kembang, Pleci dan beberapa...
04/08/2016

Don’t Forget to Remember…

Pagi ini semua kelihatan begitu baik… Cucak Rawa, Samyong, Punglor Kembang, Pleci dan beberapa ekor Perkutut yang tergantung di garase menyanyikan lagu lagu merdunya. Setelah selesai mandi, minum kopi dengan sebatang rokok In Mild ditangan mendengarkan kicauan mereka adalah sebuah starting point yang sangat indah pagi ini. Kemudian Istri tiang bertanya, "sing ngajeng? Be Urutane suba megoreng" (kebetulan di dairah tiang ada tradisi membuat urutan meunun).
Nasi hangatpun kemudian dihidangkan diteras rumah dengan beberapa potong be urutan yang tidak pernah membuat tiang bosan saat tiba tiba datang melintas di depan rumah, dijalanan perumahan yang tidak begitu lebar, mobil tua pengangkut sampah yang di kaca spion kanannya terikan sebuah bendera kecil.. Merah Putih.
Ah….. hampir saya lupa, kalau kita sudah di bulan Agustus, gumam tiang dalam hati. Bukan sepenuhnya lupa, bahkan setiap hari masih selalu mengingat tanggal dan bulan karena keharusan dari pekerjaan.. tapi rupanya lupa tiang mengingat kejadian maha penting yang pernah terjadi kepada bangsa kita dibulan ini. Untuk sesaat, tangan tiang rasanya berat menyuapkan nasi ke mulut karena tiba tiba ingat tutur Mbah..

Dulu… Kenyataan hidup sungguh sangat berbeda… pada masa penjajahan, hidup sangat susah. Segala aktivitas diawasi dengan ketat oleh penjajah, Pura Bale Agung pun pernah menjadi sasaran Lom (sejenis bom mortir) yang mereka tembakkan dari Tangsi-nya yang berada di desa sebelah. Kemudian tiba disekitar tahun 1942, hidup katanya bertambah susah lagi. Kamben Karung dan Baju Bagu adalah pakaian keseharian penduduk desa. Tuma dan Titih tidak terkira banyaknya bersembunyi dilipatan kamben karung dan baju bagu yang mereka pakai. Nasi Oran adalah makanan yang kemudian menjadi makanan pokok di dairah yang bahkan adalah Lumbung Padi p**au Bali. Dua Gelebeg Saka Nem yang ada di halaman rumah, tak menyisakan padinya lagi akibat semua dikuras oleh penjajah Jepang beserta antek anteknya. Hama yang menyerang sawah dan ladang seolah berkolaborasi dengan penjajah menciptakan penderitaan yang bertambah parah. Disetiap kali panen, padi hanya mampir dan kemudian dijarah habis oleh kaum penjajah. Bahkan Pekak yang sedang sakitpun saat itu tidak mendapatkan ijin untuk makan titisan dan nasi putih, tetapi harus meoran. “MAKAN NASI SENDIRIPUN BELIAU BELIAU ITU TIDAK BERHAK”. Natah semua digali untuk lobang pengelindungan / perlindungan akibat perang besar yang sudah direncanakan oleh penjajah. Kerja paksa pembuatan jalan dan fasilitas untuk penjajah yang lain, terjadi dimana mana dan penetrasi kebudayaan penjajah tersuntikkan kedalam anak anak muda desa yang menyebabkan sampai saat inipun banyak tua tua di desa yang masih ingat nyanyian Kimigayo. Perempuan dan anak anak tidak terhitung seringnya harus melarikan diri ke tengah tengah alas karena issue akan adanya penyerangan, para penyingkir melewatkan tahun demi tahun bersembunyi di dalam hutan dan menyusun pergerakan “bukan untuk bayaran” tapi untuk sebuah idealism, sebuah cita cita hidup merdeka, sebuah mimpi yang menghapus segala mimpi buruk penjajahan itu sendiri.

350 tahun….. ya… 350 tahun yang menyakitkan, menghinakan, melacurkan,….. Berapa banyak kekayaan bangsa ini yang hijrah ke negara yang hari ini mengaku sebagai penegak HAM Internasional? apakah kira kira significant apabila kita katakan bahwa 5 generasi sudah terlewat ditahun tahun itu? Apakah kemudian benar bahwa DNA bangsa kita sudah mengalami perubahan dari DNA Bangsa Mandiri ke DNA Bangsa Budak? Buyutnya Budak, Kumpinya Budak, Kakeknya Budak, Bapaknya Budak, dan apa yang bisa kita harapkan dari anaknya selain seorang Budak ? Apakah changing DNA yang ditulis dalam The Power House nya Rhenald Kasali bersesuaian dengan situasi perubahan tersebut?

Semoga tulisan pendek ini mengingatkan kita kembali akan warna bendera kita dan semoga merahnya darah dan putihnya tulang yang dikorbankan para pahlawan tidak menjadi sia sia. Do Not Forget to Remember… :) karena kalau sampai kita tidak bisa mengingat, maka artinya kita sudah kena penyakit parah yang sukar disembuhkan… “Bangsa yang hilang ingatan”.. Jangan sampai ada bentuk bentuk penjajahan baru yang datang mengambil nasi dan payuk jakan kita sekalian.

Rahajeng Nyangra Rahinan Kamardikan 17 Augustus 2016.

16/07/2016

BATU.

Pagi itu matahari masih malu malu menampakkan dirinya. Satu pengandongan besar dan satu pengandongan kecil tergolek buatan Peketut Sandog diatas apad glebeg tua yang terbuat dari kayu dapdap. Induk ayam hitam dengan anak anaknya sudah terbangun untuk berjuang melewati hari, mulai mengais tanah di kekalen depan rumah, ketika aku dengar Bapa memanggilku… “Ngah, jemak pengandongane, mai jani luas ngalap”. Bapa memanggilku untuk sama sama pergi ke kebun memetik kopi.

Satu petak tanah warisan leluhur ada di alas Kaja Kauh dan penuh ditanami pohon kopi lokal yang menjadi sumber penghidupan kami dan herannya musim panen kopi selalu bersamaan dengan masa liburan kenaikan kelas… jadi mau tidak mau liburan harus dihabiskan di bawah pohon pohon kopi itu.. :)

Akupun bergegas mengambil pengandongan dan bersiap mengikuti Bapa. Meme berjalan di depan menjunjung sebuah penarak yang berisi perbekalan kami karena pekerjaan akan memakan waktu sampai sore, aku dibelakang beliau dan Bapa paling belakang. Sementara Uwa Repot dan keluarganya sudah menunggu di kebun kopi karena mereka menginap di gubuk yang ada disana bersama ayam, anjing yang mereka namai Koming dan sapi peliharaan mereka.

Melewati perepatan, jalan masih datar sampai dengan kebun Peketut Wakta dan jalan kemudian mulai agak menanjak pada saat kami mulai menapaki area kebun Mbah Putru dengan pohon kemiri yang menjulang tinggi diatas kami, melewati Pererenan dan baru kemudian datar kembali saat sampai di kebun Uwa Kuwatri. Aku sempat sedikit berlari menyalip meme bersama anjing setiaku “ I Lua” saat kami bertemu jalan menurun disebelah kebun Peketut Sekat. Setelah melewati kebun Pak Kamajaya yang ada dilokasi datar dengan pohon Gintungan besar disebelah kiri jalan, di dairah Leg, kembali jalan menurun hingga ketemu dengan telabah kecil dimana aku lihat Uwa Talmi sudah lebih dulu melakukan aktivitasnya memetik kopi pagi itu. Uwa Talmi pun kemudian menyapaku dan seperti biasa aku jawab dengan bercandaan masa kecilku… Sampai habis batas kebun yang digarap oleh Uwa Talmi, akhirnya kami sampai di sungai Yeh Nunuan.
Batunya bersusun susun indah dan diatas susunan batu itu sebuah pancuran besar dari sumber mata air alam mengalir deras.. Tumpahan alirannya meluap dan menjadi aliran terpisah disela sela batu batu besar dibawah pancuran itu. Disana biasanya kami mengambil air minum saat pergi ke kebun dan tempat kami mandi saat p**ang dari kebun. Entah kenapa aku selalu kagum akan tumpukan batu batu itu....

Hari itu kami juga mengambil air di pancuran itu sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kopi melewati kebun Nang Mester, Kebun Uwa Landri, Kebun Gung Wicana, Kebun Bli Sulandra sebelum akhirnya kami tiba di kebun kopi milik Mbah.

Itulah sedikit ingatanku tentang perjalanan yang begitu akrab di masa kecilku dulu dan sekarang setelah Mbah dan Bapa berp**ang, secara kebetulan aku sempat lewat di dairah itu lagi saat ada upacara di Pura Manik Selaka. Pura yang berjarak kurang lebih dua areal kebun orang lain disebelah utara kebun Mbah.
Banyak hal yang aku lihat diperjalanan telah berubah, kopi lokal yang dulu tinggi dan memerlukan cara memetik yang unik, sekarang sudah berganti kopi top yang hanya setinggi badan orang dewasa dan semua rantingnya mampu dijangkau dari bawah. Pohon pohon besar yang dulu ada, beberapa diantaranya sudah tidak aku temui lagi. Sunari yang terikat di pohon nangka Peketut sekat sudah tidak ada lagi menyenandungkan irama alam yang begitu merdu.
Dan sampai aku tiba kembali di Yeh Nunuan, aku berhenti sejenak. Terlihat sungai itu agak rimbun oleh semak dan Temen Poleng yang tumbuh disekitarnya. Aku terdiam sesaat dan kembali ingatanku menerawang ke masa lalu, 30 tahun yang lalu. Ada rasa kangen dan penasaran menyeruak dalam hati… ingin melihat batu batu yang dulu aku kagumi .. Dan kemudian aku sibakkan semak semak itu. Mereka ternyata semua masih ada disana dan tak bergeser sedikitpun dari tempatnya dulu, masih begitu polos.

Beberapa saat aku terdiam sebelum kemudian aku tersenyum manakala terasa ada yang menyapa diantara batu batu itu… banyak hal hal indah yang tiba tiba muncu dalam fikiranku tentang batu batu itu.

Seorang sahabat pernah bercerita kepadaku bahwa Batu itu katanya berarti "Baan Tuhu" yang mungkin secara gampang bisa aku artikan "Karena Sungguh Sungguh".

Batu tidak pernah meminta balasan dan sanjungan walau dia menjadi dasar dan penopang kehidupan di Bumi ini. Batu itu penuh keiklasan…..

Batu tidak pernah menyombongkan diri walau dia kuat dan berharga begitu mahal bagi manusia, dia tetap ada di tempatnya sampai manusia datang dan bersusah payah menemukannya, mengasahnya dan kemudian dengan bangga memakainya.

Batu itu diam dalam doa dan kesabaran yang teramat dalam menyaksikan segala proses dan hiruk pikuk yang terjadi disekelilingnya, menyaksikan manusia, hewan dan tumbuhan yang mati dan terlahir kembali, menyaksikan kecongkakan dan kesombongan yang satu berganti dengan yang lain, menyaksikan manusia yang baik datang dan pergi. Menyaksikan yuga berganti kalpa… dia setia sampai Maha Pralaya datang.

Batu itu juga tidak pernah mentertawakan manusia manusia yang hidup dengan penuh beban dan tekanan mental diatasnya.

Batu itu tidak pernah malu walau ia tua dan kotor, ia tetap menyediakan badannya bagi bentuk kehidupan lain walau lumut dan jamur menggerogotinya.

Batu Itu tidak pernah merasa pintar walau saat ini semua manusia pintar datang kepadanya mencari jejak-jejak keberadaan dan peradabannya, mencari jejak jejak perjalanan bumi yang dipijaknya.

Dan sejak saat itu, terbersit keinginan dalam hatiku, untuk mencoba meniru batu batu itu. Semoga jalan jalan yang aku tapaki dan cerita cerita yang aku bagi bisa aku lakukan sebagaimana batu itu melakukannya....

06/05/2016

Mbah, Ketoktok berbunga lagi,……..

Rebah bersandar di kursi tua, memandang berpetak – petak hamparan sawah yang disela-selanya tumbuh rumpun pohon bambu yang diselingi pohon kelapa, coklat dan cengkeh. Kabut tipis menyeruak di kaki Batu Karu terlihat samar bagai selimut sutra tipis di kaki sang Ibu. Siang itu, di warung Ibu Jero di Suradadi, senyap diiringi sesekali kokok ayam jantan, segelas kopi yang sedari tadi menemaniku sudah hampir habis. Terasa damai….
Kagum…… Entah telah berapa banyak semangat yang tercucur lewat keringat mereka yang dulu membuat berhektar petak – petak sawah itu di tumpahkan, demi sebuah hidup yang lebih baik.

***
Angin berhembus semakin kencang saat aku dengar suara ‘Kreesssssss,………’. Suara yang teramat akrab di waktu kecilku dulu. Adakah sesuatu yang aku lewatkan? Tanyaku dalam hati…….

Dalam kepenasaran rasa, pandanganku menelisik mencari sumber suara itu. “Ini dia,…..” aku menggumam, saat aku temukan serumpun Ketoktok tepat disebah timur tempatku bersandar, namun karena tempatnya berada di dataran yang lebih rendah, rumpun ketoktok itu sempat terlewat dari pandanganku.

Akupun berjalan mendekat ke rumpun ketoktok itu…. Seperti biasa, aku selalu mengaguminya…. Bunganya yang berwarna biru memenuhi tangkai, yang tua gugur yang muda melanjutkan bermekaran hingga pucuknya yang kuncup sampai habis keatas dan selanjutnya buah yang ranum akan menggati bunga-bunga itu disepanjang tangkainya,…….

Daunnya yang selebar telapak tangan, kasar, tipis melengkung menyerupai pedang,…. Dan kala angin menerpanya, suara riuh pun bermunculan saat satu daun bergesekan dengan yang lain.

Entah mengapa,.. mendadak ingatanku melayang kepada sosok wanita bersahaja yang memberikan seluruh hidupnya buat aku. Mbah…….

Semasa hidupnya, Mbah selalu berusaha membimbingku sebandel apapun aku. Hari – hariku selalu diisi cerita sejarah, dongeng, mitologi hingga cerita dari dimensi lain yang Mbah ketahui. Sebagai wanita yang mendapat kehormatan dari-Nya untuk mengabdikan hidup, Mbah juga mendapat privilege untuk mengetahui hal – hal tertentu yang mungkin orang kebanyakan tidak ketahui. Mbah sangat dihormati karena kedermawanannya. Beratus orang pernah Mbah bantu dengan segala cara yang Mbah bisa. Materi, energi, fikiran, apapun Mbah rela untuk berikan.

Rambutnya yang memutih selalu dibungkus “tengkuluk”, “pabuan” tak pernah jauh darinya, guratan diwajahnya begitu keras namun anggun, tangan tuanya yang seolah hanya tulang dibungkus kulit keriput selalu siap memberi tanpa pernah menengadah kecuali kepada Sang Pencipta. Sambil bercerita, jari – jari tuanya selalu mengelus rambutku saat Mbah duduk atau tidur disebelahku.

Pernah suatu kali aku bawa bunga Ketoktok p**ang untuk aku tanam dipekarangan. Masih aku ingat saat itu Mbah melarangku, kata Mbah “…Nengah eda nanem bungan Ketoktok di natahe, biasane demenin Pemedi……” yang artinya kira – kira “… Nengah jangan menanam Bunga Ketoktok di pekarangan, biasanya disukai mahluk halus….”. Aku benar – benar kaget saat itu…… Tidak pernah aku sangka kalau ternyata Ketoktok yang begitu indah disenangi sama mahluk halus dari dimensi lain. Namun aku selalu percaya apa yang dikatakan Mbah, karena beliau tahu bagaimana dunia parallel yang ada di sekitar kami. Lalu aku buang Ketoktok itu, dan aku cukupkan hanya bisa menikmati indahnya Ketoktok di alam liar mereka.

Aku tersenyum kala mengingat cerita Mbah itu, walau ada rasa sesak yang menghimpit di dada dan ada butiran bening yang jatuh……

12 Februari 1998, Mbah p**ang duluan. “Mulih Ke Desane Wayah” itulah yang kami katakan. Satu malam, badan itu masih terus aku pangku, walau aku tahu Mbah sudah p**ang. Mbah p**ang,……. Pulang kesebuah Desa Tua dari mana kami semua berasal. Badannya kembali ke Ibu dan jiwanya p**ang kepada yang Maha Besar, jiwa alam raya ini. Mbah masih ada, bahkan pada badannya yang lebih besar, di bhuwana agung, pergi bersama angin kemanapun Mbah mau.

Mungkin saat aku jongkok siang itu di depan rumpun Ketoktok, Mbah menemani disebelahku, mengingatkan cerita yang pernah Mbah sampaikan dulu lewat bisikan tipis angin yang singgah di telingaku……

Atau mungkin saat ini, saat aku menuliskan semua ini Mbah ada disebelahku.

Mbah, tiang kangen,…….

Tiang Cuma mau bilang…….”Ketoktok sudah berbunga lagi……..”

Adresse

Bali
Mbali
08362

Notifications

Soyez le premier à savoir et laissez-nous vous envoyer un courriel lorsque Stone Philosophy / Agem Bali publie des nouvelles et des promotions. Votre adresse e-mail ne sera pas utilisée à d'autres fins, et vous pouvez vous désabonner à tout moment.

Contacter Le Lieu De Culte

Envoyer un message à Stone Philosophy / Agem Bali:

Raccourcis

Partager

Catégorie