Stone Philosophy / Agem Bali

Stone Philosophy / Agem Bali Tutur tutur kekunaan Stone Philosophy. Pagi itu matahari masih malu malu menampakkan dirinya. Bapa memanggilku untuk sama sama pergi ke kebun memetik kopi.

Satu pengandongan besar dan satu pengandongan kecil tergolek diatas apad glebeg tua yang terbuat dari kayu dapdap. Induk ayam hitam dengan anak anaknya sudah terbangun untuk berjuang melewati hari, mulai mengais tanah di kekalen depan rumah…. Ketika aku dengar Bapa memanggilku… “Ngah, jemak pengandongane, mai jani luas ngalap”. Satu petak tanah warisan leluhur ada di alas Kaja Kauh dan penuh ditan

ami pohon kopi lokal yang menjadi sumber penghidupan kami dan herannya musim panen kopi selalu bersamaan dengan masa liburan kenaikan kelas… jadi mau tidak mau liburan harus dihabiskan di bawah pohon pohon kopi itu.. :)

Akupun bergegas mengambil pengandongan dan bersiap mengikuti Bapa. Meme berjalan di depan menjunjung sebuah penarak yang berisi perbekalan kami karena pekerjaan akan memakan waktu sampai sore, aku dibelakang beliau dan Bapa paling belakang. Sementara Uwa Repot dan keluarganya sudah menunggu di kebun kopi karena mereka menginap di gubuk yang ada disana bersama ayam dan sapi peliharaan mereka. Melewati perepatan, jalan masih datar sampai dengan kebun Peketut Wakta dan jalan kemudian mulai agak menanjak pada saat kami mulai menapaki area kebun Mbah Putru dengan pohon kemiri yang menjulang tinggi diatas kami, melewati Pererenan dan baru kemudian datar kembali saat sampai di kebun Uwa Kuwatri. Aku sempat sedikit berlari menyalip meme bersama anjing setiaku “ I Lua” saat kami bertemu jalan menurun disebelah kebun Peketut Sekat. Setelah melewati kebun Pak Kamajaya yang ada dilokasi datar dengan pohon Gintungan besar disebelah kiri jalan, di dairah Leg, kembali jalan menurun hingga ketemu dengan telabah kecil dimana aku lihat Uwa Talmi sudah melakukan aktivitasnya memetik kopi pagi itu. Uwa Talmi pun kemudian menyapaku dan seperti biasa aku jawab dengan bercandaan masa kecilku… Sampai habis batas kebun yang digarap oleh Uwa Talmi, akhirnya kami sampai di sungai Yeh Nunuan. Batunya bersusun susun indah dan diatas susunan batu itu sebuah pancuran besar dari sumber mata air alam mengalir deras.. Beberapa alirannya meluap dan menjadi aliran terpisah disela sela batu batu besar dibawah pancuran itu. Disana biasanya kami mengambil air minum saat pergi ke kebun dan tempat kami mandi saat pulang dari kebun, dimana aku selalu kagum akan tumpukan batu batu itu. Hari itu kami juga mengambil air di pancuran itu sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kopi melewati kebun Nang Mester, Kebun Uwa Landri, Kebun Gung Wicana, Kebun Bli Sulandra sebelum akhirnya kami tiba di kebun kopi milik Mbah. Itulah sedikit ingatanku tentang perjalanan yang begitu akrab di masa kecilku dulu dan sekarang setelah Mbah dan Bapa berpulang, secara kebetulan aku sempat lewat di dairah itu lagi saat ada pracara di Pura Manik Selaka. Pura yang berjarak kurang lebih dua areal kebun orang lain disebelah utara kebun Mbah. Banyak hal yang aku lihat diperjalanan telah berubah, kopi lokal yang dulu tinggi dan memelukan cara memetik yang unik, sekarang sudah berganti kopi top yang hanya setinggi badan orang dewasa dan semua rantingnya mampu dijangkau dari bawah. Pohon pohon besar yang dulu ada, beberapa diantaranya sudah tidak aku temui lagi. Sunari yang terikat di pohon nangka Peketut sekat sudah tidak ada lagi menyenandungkan irama alam yang begitu merdu. Dan sampai aku tiba kembali di Yeh Nunuan, aku berhenti sejenak. Terlihat sungai itu agar rimbun oleh semak dan Temen Poleng yang tumbuh disekitarnya. Aku terdiam sesaat dan kembali ingatanku menerawang ke masa lalu, 30 tahun yang lalu. Ada rasa kangen dan penasaran menyeruak dalam hati… ingin melihat batu batu yang dulu aku kagumi .. Dan kemudian aku sibakkan semak semak itu. Mereka ternyata semua masih ada disana dan tak bergeser sedikitpun dari tempatnya dulu, masih begitu polos. Beberapa saat aku terdiam sebelum kemudian aku tersenyum manakala terasa ada yang menyapa diantara batu batu itu… banyak hal hal indah yang tiba tiba muncu dalam fikiranku… tentang batu batu itu. Batu tidak pernah meminta balasan dan sanjungan walau dia menjadi dasar dan penopang kehidupan di Bumi ini. Batu itu penuh keiklasan….. Batu tidak pernah menyombongkan diri walau dia kuat dan berharga begitu mahal bagi manusia, dia tetap ada di tempatnya sampai manusia datang dan bersusah payah menemukannya, mengasahnya dan kemudian dengan bangga memakainya. Batu itu diam dalam doa dan kesabaran yang teramat dalam menyaksikan segala proses dan hiruk pikuk yang terjadi disekelilingnya, menyaksikan manusia, hewan dan tumbuhan yang mati dan terlahir kembali, menyaksikan kecongkakan dan kesombongan yang satu berganti dengan yang lain, menyaksikan manusia yang baik datang dan pergi. Menyaksikan yuga berganti kalpa… dia setia sampai Maha Pralaya datang. Batu itu juga tidak pernah mentertawakan manusia manusia yang hidup dengan penuh beban dan tekanan mental diatasnya. Batu itu tidak pernah malu walau ia tua dan kotor, ia tetap menyediakan badannya bagi bentuk kehidupan lain walau lumut dan jamur menggerogotinya. Batu Itu tidak pernah merasa pintar walau saat ini semua manusia pintar datang kepadanya mencari jejaka jejak keberadaan dan peradabannya, mencari jejak jejak perjalanan bumi yang dipijaknya. Dan sejak saat itu, ada terbersit keinginan dalam hatiku, untuk mencoba meniru batu batu itu. Semoga jalan jalan yang aku tapaki dan cerita cerita yang aku bagi bisa aku lakukan sebagaimana batu itu melakukannya, setidaknya dalam beberapa hal yang aku selalu kagumi dari batu batu itu..

Adresse

Bali
Mbali
08362

Notifications

Soyez le premier à savoir et laissez-nous vous envoyer un courriel lorsque Stone Philosophy / Agem Bali publie des nouvelles et des promotions. Votre adresse e-mail ne sera pas utilisée à d'autres fins, et vous pouvez vous désabonner à tout moment.

Contacter Le Lieu De Culte

Envoyer un message à Stone Philosophy / Agem Bali:

Raccourcis

Partager