Perki se Eropa

Perki se Eropa Shalom! Selamat datang di situs Persekutuan Kristiani/Nasrani (Oikumene) Indonesia di Eropa. Kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati pelayanan kita semua. Syalom!

Salam hangat persekutuan & salam sehat serta damai di ❤️

Join juga fb BP Perki Eropa

Imanuel🙏💐 Selamat datang di situs Persekutuan Kristen Indonesia se Eropa. Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus selalu memberkati kehidupan pelayanan kita. Salam hangat persekutuan,

Badan Pengurus PERKI se Eropa

Hari Minggu Biasa XXIII (A)bit.ly/embun-pagi“TANGGUNG JAWAB KARENA KASIH”Yeh 33:7-9, Rm 13:8-10, Mat 18:15-20Sebuah lagu...
06/09/2026

Hari Minggu Biasa XXIII (A)
bit.ly/embun-pagi

“TANGGUNG JAWAB KARENA KASIH”
Yeh 33:7-9, Rm 13:8-10, Mat 18:15-20

Sebuah lagu berisi kritik sosial yang tajam pernah populer pada tahun
delapan puluhan. Syair lagu ini mengkritik orang-orang yang kaya,
punya kuasa dan s**a main kuasa, serta egoistis. Syairnya seolah-olah
membahasakan secara eksplisit watak buruk itu: “mobilku banyak, harta
berlimpah, bisnisku menjagal, yang penting aku senang, aku menang,
persetan orang susah, yang penting asyik...” Lirik ini membuat kita
langsung membayangkan sosok yang tidak peduli kesusahan orang lain dan
hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri. Menyedihkan dan mungkin
juga membuat kita marah. Egoisme adalah puncak hasrat demi
menyelamatkan diri sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan orang
lain. Mendengarkan lagu itu bisa membuat kita becermin, jangan-jangan
watak itu ada dalam diri kita juga. Kadang-kadang egoisme masih mau
dibenarkan dengan mengingat kejelekan orang lain. Orang lain susah dan
terpuruk karena kesalahannya sendiri. Yang penting aku menang.

Kritik dalam lagu itu mesti ditujukan kepada para murid Kristus juga.
Kita bisa banyak bicara tentang kasih, sementara hati kita tetap
dikuasai sifat egoistis. Ironi ini sangat tersembunyi. Tidak ada yang
tahu, kecuali Tuhan. Masih adakah kasih yang real dan bertanggung
jawab?

Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan nasihat yang praktis untuk
hidup bersama. Pengajaran Yesus terdengar seperti tahap-tahap yang
mesti dilak*kan oleh para murid, untuk menyadarkan seseorang, yaitu
“saudaramu yang berbuat dosa”. Apakah Yesus hanya memberikan nasihat
yang bisa jadi sudah lazim dilak*kan? Menegur secara pribadi, membawa
satu atau dua orang saksi, menyampaikan kepada jemaat, dan
memandangnya sebagai yang paling rendah, tampaknya sudah dilak*kan
orang pada masa itu. Kalau demikian, ada sesuatu yang berbeda dalam
perkataan Yesus. Yang berbeda ialah cara Yesus sendiri memperlak*kan
mereka yang dipandang rendah di masyarakat.

Yesus menyelamatkan dengan kasih. Ia tidak pernah menyerah, ketika
menghadapi seseorang yang dianggap paling berdosa dan tidak mau
bertobat sekalipun. Ia meminta para murid agar berhati-hati, jika
mengikat atau melepaskan di dunia ini, sebab hal itu akan terjadi p**a
di surga. Mereka harus berjuang bersama demi keselamatan saudara
mereka. Mereka diajak untuk sepakat meminta kepada Bapa di surga, demi
mendapatkan kembali saudara mereka. Kasih dan tanggung jawab bersama
akan sungguh menyelamatkan, bila melibatkan Tuhan. Itulah yang membawa
kita pada sabda Yesus, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
Nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka”.

Dalam pergaulan kita sehari-hari, kadang-kadang kita terlalu percaya
pada pertimbangan kita sendiri. Mungkin sudah berkali-kali kita
membiarkan seseorang dengan stigma yang terus-menerus melekat pada
dirinya. Ada kalanya, tanpa disadari, kita membenarkan egoisme dan
ambisi dengan bantuan orang lain, yang bisa kita ‘beli’ dan kita
pengaruhi. Merapat pada mereka yang punya jabatan, kuasa, dan harta
adalah cara duniawi untuk menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan
orang yang tidak dis**ai tetap tersingkir. Semua yang tersembunyi ini
mengingkari perintah kasih Tuhan, yang seharusnya diwujudkan dalam
hidup bersama. Jangan-jangan tidak ada lagi rasa malu ketika seorang
pengikut Kristus bersikap egoistis dan mengejar ambisi pribadinya
semata-mata. Tidak peduli adalah lawan dari tanggung jawab. Seorang
beriman tidak akan menyerah dalam tanggung jawab hidup bersama, sebab
ia melibatkan Tuhan dalam memperlak*kan saudaranya.

Dalam Kitab Yehezkiel (Bacaan I), Tuhan memanggil anak manusia untuk
“menjadi penjaga bagi kaum Israel”. Penjaga sejatinya ialah seseorang
yang diberi tanggung jawab untuk melindungi dan menyelamatkan kawanan.
Panggilan itu dijalankan dengan bersedia memperingatkan orang supaya
bertobat dari kesalahannya. Dengan kata lain, kita tidak boleh
mendiamkan dan membiarkan seseorang yang berbuat salah. Sering kali
ada godaan yang kuat membiarkan orang menanggung akibat kesalahannya
sendiri, karena kita menganggap dia sudah dewasa dan sudah tahu bahwa
perbuatannya itu keliru. Kasih kristiani tidak membutuhkan alasan
apapun, selain bertindak sebagai saudara dan bertanggung jawab atas
keselamatan orang lain.

Lirik sebuah lagu ternyata bisa mengingatkan kita pada tanggung jawab
hidup bersama. Sabda Yesus dalam Injil hari ini memperingatkan kita
akan watak buruk yang tersembunyi di dalam hati. Pada suatu saat,
mungkin kita baru menyadari bahwa kita pun bersikap egoistis dalam
kebersamaan iman dengan orang lain. Kita sering dikuasai dorongan

"Embun Pagi" adalah renungan pendek berdasarkan Bacaan Injil. Renungan ini selalu baru setiap hari, mengisi waktu kita dengan inspirasi rohani yang sejuk, di...

Hari Minggu Biasa XXII (A)bit.ly/embun-pagi“RAHMAT KETIKA MEMIKUL SALIB”Yer 20:7-9, Rm 12:1-2, Mat 16:21-27Dunia sekaran...
29/08/2026

Hari Minggu Biasa XXII (A)
bit.ly/embun-pagi

“RAHMAT KETIKA MEMIKUL SALIB”
Yer 20:7-9, Rm 12:1-2, Mat 16:21-27

Dunia sekarang ini memberi begitu banyak kemudahan dan pilihan yang menyenangkan. Siapakah yang masih mau melak*kan hal yang sulit? Orang-orang muda paling banyak tergoda oleh kemudahan-kemudahan itu. Karena penasaran dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi, seseorang melak*kan penelitian di antara orang muda kristiani. Sejumlah pertanyaan disebarkan ke ratusan remaja dan orang muda, tentang pandangan mereka mengenai ajaran Yesus untuk menyangkal diri dan memikul salib. Hasil survei itu agak mengejutkan. Ternyata banyak orang muda yang tidak begitu saja mencari kemudahan. Mereka masih menghargai nilai perjuangan untuk melak*kan hal yang sulit, tetapi yang pantas untuk dijalani dengan setia. Bahasa mereka lebih realistis ketika menerjemahkan ajaran Yesus untuk berani berkorban dan berjuang karena iman.

Dunia boleh saja menggoda dengan berbagai tawaran memikat, namun selalu ada yang hanya kita peroleh karena iman, yakni kekuatan dan rahmat Tuhan. Kesulitan dan penderitaan sesungguhnya membuka ruang dalam hati, untuk mengalami penyertaan Tuhan di saat berjuang.

Dalam Injil, pernyataan Yesus kepada para murid-Nya bahwa Ia harus mengalami penderitaan, kematian, dan kebangkitan, memicu reaksi. Petrus dengan spontan menarik Yesus ke samping dan menolak apa yang dinyatakan-Nya itu. Reaksi ini, kalau diperhatikan baik-baik, bukan berasal dari hati seorang murid, dan Yesus menegaskannya. Reaksi itu muncul dari Iblis yang memutlakkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Perkataan Yesus kepada Petrus sebetulnya adalah sebuah teguran mengapa ia lebih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Iblis daripada yang disabdakan oleh Yesus. Reaksi yang terlalu cepat sering dipicu oleh pikiran manusiawi, dan mengabaikan sudut pandang Allah.

Sesudahnya Yesus menjelaskan pernyataan-Nya, dengan meminta para murid untuk menyangkal diri, memikul salib mereka, dan mengikuti Dia. Inilah hal-hal yang dipikirkan oleh Allah, dan yang tidak diajarkan oleh dunia atau dipikirkan oleh manusia. Karena hal-hal itu dipikirkan oleh Allah, siapa pun yang melak*kannya akan memperoleh hidupnya. Artinya, seseorang yang berani menyangkal diri dan memikul salibnya untuk mengikuti Yesus akan diberi rahmat dan kehidupan, yang tidak akan didapatkannya dari dunia ini. Namun, kekuatan ilahi itu diberikan manakala seseorang mau melak*kan apa yang diajarkan Yesus, kendati hal itu akan membawanya melalui kesulitan dan penderitaan.

Seandainya hidup sehari-hari kita terlalu mudah dan tidak membawa tantangan, kita akan kehilangan daya juang dalam diri kita. Dan di saat kita kehilangan daya juang, kita menjadi mudah lelah dan mudah menyerah. Ditantang sedikit, kita merasa tidak mampu lalu menarik diri. Ditegur satu kali, kita lekas tersinggung dan tidak mau datang lagi. Sebetulnya kita tahu bahwa kita membutuhkan tantangan, seperti tiap orang mesti menahan rasa lapar, supaya bisa menikmati makanan yang disantapnya. Sesungguhnya, di dalam kesulitan dan penderitaan yang harus kita jalani, tersembunyi daya juang, semangat, dan kepercayaan akan rahmat Tuhan yang selalu akan kita terima. Di dalam salib, ada keberanian dan kekuatan (“In Cruce Robur”). Syaratnya ialah, bahwa kita mau menghadapi dan menjalaninya. Seperti yang kita baca dalam Mazmur 23, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”.

Bagian dari Kitab Yeremia (Bacaan I) yang kita renungkan hari ini, menggambarkan kegelisahan dan kesadaran nabi Yeremia. Semula ia merasa bahwa Tuhan terlalu kuat baginya dan telah membuatnya terbujuk untuk bernubuat tentang Yehuda. Ia diolok-olok dan ditertawakan banyak orang. Namun persis ketika ia berpikir untuk berhenti mengucapkan firman demi nama Tuhan, dalam hatinya “ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala”. Semua perjuangan, kesulitan, dan penderitaan itu terjadi dalam kehendak Tuhan, maka semuanya itu pantas untuk dijalani dan ditanggung karena iman akan penyertaan-Nya. Ada api yang menyala, sebuah kekuatan yang tidak bisa kita jelaskan, yang justru membuat kita merasa ‘hidup’ pada saat berjuang.

Iman menantang kita, namun sekaligus menghidupkan kita. Kesediaan untuk menolak kemudahan, menyangkal hasrat diri, dan memikul salib kita masing-masing adalah jalan yang suci untuk mengalami rahmat Tuhan. Rahmat yang mengagumkan itu tidak akan kita dapatkan dari dunia, atau dari bisikan dan tawaran menggiurkan, yang pasti lebih sering kita dengar. Jauh di lubuk hati, kita sesungguhnya yakin bahwa Tuhan selalu menjaga kita dan memberi kekuatan yang cukup, untuk menjalani tiap kesulitan dan berjuang dengan tekun. Semoga kita merasakan sendiri rahmat Tuhan, yang menjaga nyala api dalam diri kita, manakala memikul salib kita dan mengikuti-Nya.

bit.ly/embun-pagi

"Embun Pagi" adalah renungan pendek berdasarkan Bacaan Injil. Renungan ini selalu baru setiap hari, mengisi waktu kita dengan inspirasi rohani yang sejuk, di...

Hari Minggu Biasa XIX (A)bit.ly/embun-pagi“SAAT TUHAN ULURKAN TANGAN”1Raj 19:9a.11-13a, Rm 9:1-5, Mat 14:22-33Tolong-men...
09/08/2026

Hari Minggu Biasa XIX (A)
bit.ly/embun-pagi

“SAAT TUHAN ULURKAN TANGAN”
1Raj 19:9a.11-13a, Rm 9:1-5, Mat 14:22-33

Tolong-menolong adalah soal yang pelik, dan tidak semudah yang kita
pikirkan. Apalagi kalau pernah terjadi konflik, orang tidak bisa lagi
dengan spontan membantu atau minta tolong kepada yang lain. Telanjur
ada apriori. Ketika penilaian dan stigma makin menentukan kebersamaan,
kita jadi sulit percaya satu sama lain. Pengalaman kita menunjukkan
kenyataan itu: sehari-hari saling mengenal, tetapi gengsi untuk minta
tolong atau berat hati untuk membantu. Ketika seseorang yang kita
kenal menceritakan kesulitannya, mungkin pernah timbul pertanyaan: Apa
yang diharapkannya dari saya? Pertanyaan ini muncul dari penilaian
kita. Prasangka bisa sangat mempengaruhi kehidupan dalam keluarga dan
pelayanan, hingga menimbulkan keengganan atau juga ketakutan untuk
minta tolong. Kalau kita sampai tidak berani minta bantuan kepada
anggota keluarga atau kepada sesama pelayan, hal itu menjadi tanda
bahaya dalam kehidupan iman kita.

Dalam situasi sesulit apa pun, Tuhan pasti menolong dan menunjukkan
jalan. Namun, yang sering tidak kita lihat ialah cara Tuhan memberikan
pertolongan. Cara Tuhan kerap kali tidak seperti yang kita harapkan,
dan Ia mungkin mau menantang dan mendewasakan iman kita.

Dalam Injil dikisahkan, sesudah memberi makan ribuan orang dengan lima
roti dan dua ikan, Yesus menyuruh mereka p**ang. Ia berdoa seorang
diri di atas bukit, sedangkan perahu para murid-Nya diombang-ambingkan
gelombang. Pengalaman itu akan menguji pengenalan dan kepercayaan
mereka kerpada Yesus. Dan benar, ketika Yesus datang kepada mereka
berjalan di atas air, reaksi mereka adalah mengira Yesus hantu. Cara
Yesus datang untuk menenangkan mereka memang mengejutkan, tetapi
seharusnya kedekatan para murid dengan-Nya cukup untuk mengenali
kehadiran-Nya. Ketika bukan kedekatan, tetapi kepanikan yang
menguasai, mereka pun berteriak-teriak karena takut.

Setelah Yesus menyapa dan meyakinkan, Petrus masih merasa ragu dan
berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu
berjalan di atas air”. Pada saat itulah Yesus menantang imannya.
Petrus berjalan di atas air mendapatkan Yesus, namun tiupan angin
masih membuatnya takut dan ia mulai tenggelam. Yesus menunggu sampai
Petrus berseru minta tolong, maka Yesus pun segera mengulurkan
tangan-Nya dan memegang dia. Kebimbangan bisa muncul dalam hati
seorang yang sudah beriman sekalipun. Ada kalanya hal itu dipicu
semata-mata oleh rasa takut yang dibiarkan menguasai pikiran. Sesuatu
yang belum terjadi, tetapi sudah dipikirkan, bisa membuat kita
bimbang.

Dalam keseharian, acap kali orang bersikap berdasarkan prasangka.
Tentu saja, tidak ada yang senang dikatakan berprasangka. Dalih yang
diungkapkan pasti yang terdengar baik, bahwa sikapnya itu apa adanya,
dan seterusnya. Kita bisa mengamati sendiri. Bagaimana kalau ada orang
yang selalu menghindar tiap kali berpapasan dengan kita? Mengapa ada
yang takut menyapa orang tertentu, padahal dia tidak pernah memarahi
siapapun? Dari mana rasa takut dan enggan itu? Bahkan ungkapan “malas
berbasa-basi” pun sudah menunjukkan suatu prasangka. S**a tidak s**a,
kebersamaan dengan sesama adalah tempat Tuhan hadir dan menawarkan
pertolongan. Sayangnya, rahmat dan bantuan Tuhan tidak bisa dialami
hanya karena pikiran kita dikuasai oleh prasangka. Kita beranggapan
Tuhan tidak mungkin menolong lewat orang-orang yang kita hindari.
Bagaimana kalau itu justru cara Tuhan?

Dalam Kitab Pertama Raja-Raja (Bacaan I), dikisahkan bagaimana Elia
berusaha untuk menemukan kehadiran dalam berbagai kejadian alam.
Ketika angin yang besar dan kuat membelah gunung, Tuhan tidak ada di
sana. Begitu juga ketika datang gempa dan api, Tuhan tidak ada di
dalamnya. Hanya ketika datang bunyi angin sepoi-sepoi basa, Elia
menyelubungi mukanya, sebab Tuhan ada di sana. Tuhan hadir dengan
cara-cara yang tidak terduga, dan pada saat hal itu terjadi, hendaknya
kita percaya dan menyambut Dia dengan pantas. Kepekaan kita untuk
menangkap kehadiran-Nya muncul dari kedekatan kita berelasi dengan-Nya
tiap hari. Kita tidak akan salah mengenali wajah Tuhan jika berani
melepaskan pemikiran dan kekhawatiran kita.

Bagaimana kalau Tuhan mengulurkan tangan-Nya dengan cara dan melalui
orang-orang yang tidak kita harapkan? Tanggapan kita adalah seperti
mengenali kehadiran-Nya dalam bunyi angin sepoi-sepoi basa, dan
melepaskan diri dari prasangka yang hanya memporakporandakan. Yesus
siap mengulurkan tangan pada saat Petrus mulai tenggelam, tetapi
Petrus harus mengalahkan ketakutannya terhadap tiupan angin dan
gelombang. Jangan sampai diri kita dikuasai oleh kekhawatiran mengenai
sesuatu yang belum tentu terjadi, sebab hal itu hanya akan membuat
kita bimbang. Semoga kita menjaga relasi yang dekat dengan Tuhan,
supaya mampu mengenali-Nya dalam tiap kejadian yang kita alami.

bit.ly/embun-pagi

"Embun Pagi" adalah renungan pendek berdasarkan Bacaan Injil. Renungan ini selalu baru setiap hari, mengisi waktu kita dengan inspirasi rohani yang sejuk, di...

Hari Minggu Biasa XVIII (A)bit.ly/embun-pagi“HIDUP BERSAMA DENGAN EMPATI”Yes 55:1-3, Rm 8:35.37-39, Mat 14:13-21Kesusaha...
01/08/2026

Hari Minggu Biasa XVIII (A)
bit.ly/embun-pagi

“HIDUP BERSAMA DENGAN EMPATI”
Yes 55:1-3, Rm 8:35.37-39, Mat 14:13-21

Kesusahan dan perjuangan orang tidak selalu menggerakkan mereka yang melihatnya untuk berbuat sesuatu. Saat hari mulai malam, di teras sebuah ruko, seorang ibu dengan dua anaknya hendak beristirahat di balik gerobak. Di sebelah ruko itu, ada kafe tempat orang datang dan pergi. Puluhan mobil bergantian parkir di sana, sampai akhirnya ada satu orang yang tergerak, mendekati keluarga itu dan mengulurkan uang. Empati adalah soal hati, kemanusiaan, dan persaudaraan di antara kita. Di dalamnya tidak diperlukan penilaian atau sekadar rasa kasihan. Empati membuat kita bergerak dan bertindak, bahkan sering tanpa berpikir panjang. Ketika mudah tergerak oleh kesusahan orang lain, kita patut bersyukur, sebab itu berarti kita mengerti tujuan keberadaan kita dan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan. Tuhan memerlukan tangan kita untuk belajar saling bertanggung jawab.

Egoisme dan ketidakpedulian masih mempengaruhi kebersamaan para murid Kristus. Tampaknya orang hidup dengan saleh dan bekerja dengan tekun, tetapi di lubuk hati, yang dipikirkan sering hanyalah kenyamanan diri sendiri. Hidup bersama itu memang tidak mudah.

Dalam Injil hari ini, kita belajar tentang tanggung jawab bersama di antara para murid Yesus. Ketika terus-menerus diikuti oleh banyak orang, Yesus tidak menghindar. Ia membiarkan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka, lalu menyembuhkan mereka yang sakit. Ketika hari mulai malam, para murid-Nya mulai merasa bahwa situasi makin sulit dihadapi, karena banyaknya orang yang ada di sana. Mereka meminta kepada Yesus untuk menyuruh orang-orang itu pergi membeli makanan. Namun, Yesus justru menantang tanggung jawab mereka dalam situasi itu, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. Baru kemudian diakui bahwa mereka membawa bekal.

Selain situasi yang tampak mustahil untuk memberi makan begitu banyak orang, ada masalah yang mendasar, yaitu keinginan untuk lepas tanggung jawab. Yesus meminta para murid untuk berempati dengan banyak orang, dan untuk percaya pada kuasa dan penyelenggaraan Allah. Sekurang-kurangnya mesti ada inisiatif dari mereka untuk peduli, maka Tuhan akan memberikan rahmat yang cukup untuk semua orang. Kata-kata “pada kami hanya ada lima roti dan dua ikan” disambut dengan berkat dan mukjizat Yesus pada saat itu juga. Apa yang semula tidak mungkin karena ketidakpedulian manusia, menjadi kelimpahan rahmat karena kemurahan hati Allah.

Dalam keseharian hidup bersama, selalu ada saat-saat kita melihat langsung kesusahan orang lain, baik yang kita kenal maupun tidak. Apa yang muncul dalam benak kita? Mungkin kita pernah menganggap bahwa orang mesti belajar mengatasi masalah mereka sendiri. Mungkin kita juga pernah menemukan kecurangan orang, dan kita tidak berniat lagi menolongnya. Atau, suatu saat tanpa alasan apa pun, hanya karena tidak s**a kepada orang tertentu, kita membiarkan dia mengalami masalah. Terkadang kita lupa bahwa kita pun bisa berada dalam posisi sulit, dan tidak ada orang yang mengulurkan tangan kepada kita. Kalau itu terjadi, kita hanya bisa menyesal karena selama ini tidak belajar berempati. Berbela rasa tidak memerlukan kemampuan khusus, selain hati yang memandang orang lain sebagai sesama manusia.

Bagian dari Kitab Yesaya yang kita renungkan dalam Bacaan I adalah undangan Tuhan untuk datang dengan bebas kepada-Nya. Tuhan mengundang semua orang yang tidak punya uang, untuk mendapatkan gandum, anggur, dan susu, tanpa bayar. Firman-Nya mengingatkan apa yang terpenting di dunia ini untuk bisa hidup, dan kehidupan itu akan diperoleh bila umat mau datang dan mendengarkan Dia. Di sini kita menemukan bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan semua orang, namun tetap dibutuhkan tanggung jawab bersama kita satu sama lain. Justru karena Tuhan mengundang semua orang, kita tidak boleh mengecualikan siapa pun untuk mendapatkan berkat-Nya dan hidup dengan kecukupan.

Marilah kita berhati-hati dengan penilaian kita terhadap orang-orang yang hidupnya susah. Kuat sekali godaan untuk ‘membiarkan’ mereka berjuang dan jatuh-bangun tiap hari, sementara kita sendiri menikmati hidup yang terlalu nyaman dan berkelimpahan. Mengalihkan pandangan dan sekadar mendoakan mereka tidak akan menghilangkan tanggung jawab kita sebagai sesama manusia. Yesus tergerak oleh belas kasihan dan menantang para murid-Nya untuk berbuat sesuatu dan berbagi dari apa pun yang ada pada mereka. Kalau kita sendiri diberi kecukupan, apalagi kelebihan, dalam kebutuhan sehari-hari kita, seharusnya kita pun mudah tergerak oleh kesusahan orang lain. Kita takkan menyesal ketika memutuskan untuk menolong orang yang tidak kita kenal. Tuhan memerlukan tangan-tangan kita untuk saling bertanggung jawab.

bit.ly/embun-pagi

"Embun Pagi" adalah renungan pendek berdasarkan Bacaan Injil. Renungan ini selalu baru setiap hari, mengisi waktu kita dengan inspirasi rohani yang sejuk, di...

25/07/2026

☘️MINGGU BIASA 17

1Raj 3: 5.7-12
Rm 8: 28-30
Mat 13: 44-52

🌿"KEBIJAKSANAAN,
HARTA TERPENDAM, DAN MUTIARA NAN INDAH"🪷🌾
🌿1. Dalam Bacaan Pertama Salomo minta dari Tuhan anugerah kebijaksanaan agar tahu membedakan yang baik dari yang jahat, dan sanggup memimpin rakyat dengan tepat dan bijak seturut kehendak Tuhan.
Tuhan berkenan akan permohonan Salomo dan menganugerahkannya hikmat dan kebijaksanaan melebihi semua orang lain.

🌿2. Perumpamaan Yesus tentang harta terpendam dan mutiara nan indah dimaksudkan untuk menghimbau kita agar berikhtiar mencari Kerajaan Surga dan mengutamakannya di atas segala-galanya sebagai tujuan utama hidup kita.
"Menjual seluruh milik untuk membeli harta terpendam" berarti menggunakan seluruh milik kita hanya sebagai "sarana" untuk mencapai "tujuan utama" yaitu Kerajaan Surga (KSG).

🌿3. Sejatinya KSG bukanlah keterangan tempat, melainkan Kehadiran Allah sendiri yang menghimpun kita sebagai umat-Nya dan melimpahi kita dengan kasih karunia-Nya. Mengutamakan Kerajaan Surga berarti memberi tempat pertama dan utama kepada Tuhan dalam hidup ini.

🌿4. Pukat yang menjaring pelbagai jenis ikan berarti bahwa Tuhan senantiasa mengundang semua manusia ke dalam KSG. Mereka yang menghayati nilai-nilai KSG seturut kehendak Tuhan akan diselamatkan (ikan-ikan yang baik), mereka yang tidak menghayatinya dibuang.

🌿5. Seperti Salomo kita pun membutuhkan karunia kebijaksanaan untuk memilah-milah apa yang baik dari yang jahat, tahu membedakan tujuan utama dari sarana, dan mampu menghayati nilai-nilai Kerajaan Surga menurut kehendak Tuhan yang memanggil kita.

🌿6. Tapi dari manakah kita menimba kebijaksanaan?
• Dari Sumber yang sama di imana Salomo telah menimbanya dahulu•

Sehubungan dengan ini Rasul Paulus menegaskan:
"Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Rm 8: 28).

Tuhanlah Sumber Kebijaksanaan sejati.
Karena itu pemazmur menghimbau kita untuk bertakwa kepada Tuhan, sebab:
"Awal kebijaksanaan ialah takut akan Tuhan"
(Mzm 111: 10, Sir. 1: 14).

"Pangkal kebijaksanaan ialah takut akan Tuhan" (Sir. 1: 20).

"Puncak kebijaksanaan ialah takut akan Tuhan" (Sir. 1: 14).

🌿7. 🌷 DOA:
+ Tuhan, anugerahkanlah kebijaksanaan-Mu yang setia menuntun kami dalam ikhtiar mencari harta terpendam, rahasia suci kehadiran-Mu yang sunyi, Kerajaan Allah yang tersembunyi di tengah-tengah kami.
Karena siapa pun yang menemukan Engkau, menemukan bahagia sejati, dambaan akhir setiap hati, yaitu Engkau sendiri, Allah kami, sepanjang segala masa +
Amin 🌿🌷
Salam kasih, doa dan persembahan Ekaristi untukmu,
P. Leo Kleden SVD.☘️🌸🍇🍃

12/07/2026

☘️MINGGU BIASA 15

Yes 55: 10-11
Rm 8: 18-23
Mat 13: 1-23 (singkat 1-9)

🌿"FIRMAN ALLAH,
SABDA PENUH DAYA "🪷

🌿1. FIRMAN ALLAH
adalah Sabda Kreatif, Sabda penuh daya cipta. Namun Sabda Allah harus dipahami dalam arti seluas-luasnya dari dua aspek yang berbeda:

(1). SABDA ILAHI YANG
KEKAL DI DALAM ALLAH:
"Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan FIRMAN ITU ADALAH ALLAH"
(Yoh 1: 1).
"Segala sesuatu dijadikan oleh Dia" (Yoh 1: 3a).

(2). SABDA sebagai pewahyuan diri Allah keluar (ad extra), yang dinyatakan melalui karya penciptaan:
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1: 1).

Karena itulah pemazmur mengatakan:
"Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala mewartakan karya tangan-Nya" (Mzm. 19: 1).

Selanjutnya Sabda itu diwahyukan dan diteruskan dalam sejarah melalui para bapa bangsa, para nabi dan rasul, dan terutama melalui Yesus Almasih, Sabda Kekal yang telah menjelma jadi manusia dan tinggal di tengah kita.

Firman dalam arti luas ini kemudian dihimpun dalam Kitab Suci, dan karena itulah Kitab Suci disebut Sabda Tuhan.

🌿2. Dalam Bacaan Pertama Firman itu oleh Nabi Yesaya diibaratkan dengan hujan yang turun dari langit, menyuburkan tanah, menumbuhkan benih, menghidupkan tetumbuhan, memberi makanan kepada semua makhluk hidup. Inilah pernyataan karya Sabda Kreatif, Sabda yang penuh daya cipta.

🌿3. Tetapi entah Firman Allah menghasilkan buah dalam hidup manusia atau tidak, tergantung juga dari sikap batin pendengar. Itulah yang dikatakan Yesus melalui perumpamaan tentang seorang penabur dalam
kisah Injil hari ini.

Ada 4 kemungkinan. Mari kita periksa diri masing-masing:

• "Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan":
Apakah hatiku pinggir jalan (sikap yang menempatkan Firman Allah pada pinggir waktu dan perhatian), di mana benih itu habis dimakan burung atau diinjak-injak orang sehingga tak bisa tumbuh dan menghasilkan buah?

• "Tanah berbatu-batu": Apakah hatiku tanah keras berbatu-batu, di mana benih mula-mula cepat tumbuh tapi tidak berakar, lalu mati sia-sia?

• "Semak duri":
Apakah hatiku belukar duri yang menghimpit pertumbuhan benih firman itu dengan segala macam kepentingan duniawi, sehingga akhirnya gagal menghasilkan buah?

• "Sebagian lagi jatuh di tanah yang baik":
Apakah hatiku lahan subur yang diolah baik, sehingga benih Firman bertumbuh dan menghasilkan buah limpah pada waktunya?

🌿4. Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua menasihati umat untuk berjuang dan menanggung derita sambil mengharapkan dengan rindu pemerdekaan diri kita sepenuhnya sebagai anak-anak Allah. Itulah saatnya panen raya, yaitu kepenuhan Kerajaan Allah yang kita dambakan.

🌿5. 🌷DOA:
+ Tuhan, bukalah hati kami untuk menerima Firman-Mu, yang menyapa kami melalui Yesus Sang Sabda, melalui Kitab Suci yang kami baca, melalui aneka peristiwa hidup serta kebaikan sesama yang kami jumpai setiap hari.
Semoga hati kami menjadi lahan subur yang siap menerima benih Firman, yang akan tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah di musim panen, yang terwujud dalam tindakan kasih dan amal bakti. Kami mohon ini dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami +
Amin. 🌿🌺🍇
Salam kasih, doa dan persembahan Ekaristi untukmu,
P. Leo Kleden SVD 🏕

04/07/2026

☘️MINGGU BIASA 14
🌾
Za 9: 9-10
Rm 8: 9 -13
Mat 11: 25-30

🌿"DOA SYUKUR DAN AJAKAN JURUSELAMAT"🪷

Injil Hari MINGGU ini adalah doa syukur Yesus sesudah murid-murid p**ang dari perutusan awal, disertai ajakan Sang Juruselamat yang lemah lembut dan rendah hati kepada semua orang yang letih lesu dan berbeban berat.

🌿1. "Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil".

•Yesus bersyukur kepada Bapa karena rahasia Kerajaan Allah pertama-tama dinyatakan kepada orang-orang kecil, yaitu mereka yang tidak mengandalkan kepandaian dan kemampuannya sendiri, melainkan yang percaya pada Tuhan yang menolong dan kini hadir di tengah kita dalam diri Yesus Almasih.
Hal itu menjadi amat nyata dalam diri murid-murid yang menjadi utusan Yesus untuk mewartakan Kabar Gembira. Merekalah orang-orang yang amat sederhana, yang rela menjadi saluran rahmat di tangan Tuhan.

🌿2. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada kamu".

•Ajakan Juruselamat ini menunjukkan belaskasih Allah bagi kita semua, yang rela menerima undangan untuk mengalami kerahiman dan anugerah kasih-Nya.

Orang-orang sederhana yang mengikuti Yesus pada waktu itu mengalami banyak sekali tekanan hidup, baik oleh peraturan-peraturan hukum Taurat yang dilipatgandakan oleh orang-orang Farisi, maupun oleh tindasan penjajah Romawi.

Ajakan Tuhan itu kini diarahkan juga kepada kita semua, yang menderita di tengah banyak cobaan dan tantangan hidup agar kita tidak putus asa, melainkan tetap berharap pada belaskasih dan bantuan-Nya.

🌿3. "Pikullah k*k yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan".

•Yesus memberi kelegaan kepada para pengikut-Nya bukan dengan melenyapkan beban salib dari hidup kita, melainkan dengan mengajar kita agar tabah memikul salib menurut teladan-Nya dan dengan itu mengubah titian lorong derita menjadi jalan keselamatan.
Di situlah terletak rahasia kerendahan hati dan kelemahlembutan Sang Juruselamat tersalib.

•Tuhan tidak mengajarkan jalan gampang atau jalan pintas, melainkan Jalan Benar kpd keselamatan.

🌿4. S**acita atas kehadiran Juruselamat ini sudah dinubuatkan Nabi Zakharia dalam Bacaan Pertama:
"Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah hai puteri Yerusalem. Lihat, rajamu datang kepadamu, ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor kelebai beban yang muda"
(Za 9: 9).

🌿5. Rasul Paulus dalam surat kepada Jemaat di Roma menasihati kita untuk hidup menurut tuntunan Roh dan tidak lagi menurut keinginan daging, karena kita sudah ditebus oleh wafat dan kebangkitan Kristus (Rm. 8: 9-13).

🌿6. DOA:
+ Yesus Penebus yang lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu, yang mengalirkan belaskasih Ilahi yang tak berihingga untuk kami orang berdosa, yang lemah dan yang menderita ini.
Dengan bimbingan Roh-Mu yang kudus ajarilah kami untuk rela membantu sesama yang lebih menderita di sekitar kami, agar kami menjadi tanda berkat-Mu bagi mereka + Amin 🌿🌺🍇
Salam kasih, doa dan persembahan Ekaristi untukmu,
P. Leo Kleden SVD 🏕

28/06/2026

🌴MINGGU BIASA 13 Tahun A.
🌾
2Raj 4: 8-11.14-16a
Rm 6: 3-4.8-11
Mat 10: 37-42

🌿"TUNTUTAN RADIKAL DAN AMANAT BAGI MURID-MURID YESUS"🪷

• Injil hari MINGGU ini merupakan bagian dari pengajaran khusus Yesus untuk murid-murid-Nya.
Ada 4 hal penting yang disampaikan Sang Guru:

🌿1. "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku".
• Yesus menuntut agar cinta kita pada Tuhan mendapat tempat pertama dan utama dalam hidup, melebihi kasih kepada orang tua, sanak keluarga dan orang-orang tercinta. Nampaknya hal ini sulit sekali. Namun ada rahasia suci yang tersembunyi di balik itu. Setiap murid yang mengikuti amanat ini akan sampai kepada Tuhan Sumber Kasih yang tak terhingga, sehingga dari Sumber itu dia pun akan sanggup menyalurkan cinta Tuhan kepada sanak keluarga dan orang-orang tercinta, serta banyak orang lain atas cara yang luar biasa.

🌿2. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku".
• Pada mulanya salib adalah palang hukuman yang paling hina. Yesus yang menanggung derita bagi kita sampai mati di kayu salib, telah mengubahnya menjadi POHON KEHIDUPAN, yang menghasilkan buah keselamatan. Maka Yesus mengajar kita mengikuti jejak-Nya di jalan salib itu.

🌿3. "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya".
• Ini prinsip hidup yang paling dasariah. Karena hanya dengan mengabdikan diri kepada Tuhan dalam pelayanan untuk sesama, orang menemukan jati diri yang sesungguhnya. Maka ayah ibu menjadi orangtua yang baik dengan melayani anak-anaknya. Guru menjadi pendidik sejati dengan melayani murid-muridnya. Pastor menjadi gembala yang baik dengan melayani umat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

🌿4. "Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang paling kecil ini, karena ia murid-Ku...ia tidak akan kehilangan upahnya".
Kebaikan sekecil apa pun, punya nilai abadi. Karena hanya tindakan kasihlah yang akan dinilai Tuhan dalam pengadilan terakhir.

🌿5. DOA:
+ Tuhan, ajarilah kami mencintai Engkau dengan segenap hati, agar dari Sumber Kasih-Mu yang tak bertepi itu kamiu boleh menyalurkan cinta yang tulus dalam pelayanan untuk sesama, khususnya bagi mereka yang paling kecil dan menderita di sekitar kami + Amin 🌿🌺🍇
Salam kasih, doa dan persembahan Ekaristi untukmu,
P. Leo Kleden SVD
☘️🌸🍇🍃

Adres

Tervurenlaan 294
Brussels

Website

Meldingen

Wees de eerste die het weet en laat ons u een e-mail sturen wanneer Perki se Eropa nieuws en promoties plaatst. Uw e-mailadres wordt niet voor andere doeleinden gebruikt en u kunt zich op elk gewenst moment afmelden.

Snelkoppelingen

Delen