06/09/2026
Hari Minggu Biasa XXIII (A)
bit.ly/embun-pagi
“TANGGUNG JAWAB KARENA KASIH”
Yeh 33:7-9, Rm 13:8-10, Mat 18:15-20
Sebuah lagu berisi kritik sosial yang tajam pernah populer pada tahun
delapan puluhan. Syair lagu ini mengkritik orang-orang yang kaya,
punya kuasa dan s**a main kuasa, serta egoistis. Syairnya seolah-olah
membahasakan secara eksplisit watak buruk itu: “mobilku banyak, harta
berlimpah, bisnisku menjagal, yang penting aku senang, aku menang,
persetan orang susah, yang penting asyik...” Lirik ini membuat kita
langsung membayangkan sosok yang tidak peduli kesusahan orang lain dan
hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri. Menyedihkan dan mungkin
juga membuat kita marah. Egoisme adalah puncak hasrat demi
menyelamatkan diri sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan orang
lain. Mendengarkan lagu itu bisa membuat kita becermin, jangan-jangan
watak itu ada dalam diri kita juga. Kadang-kadang egoisme masih mau
dibenarkan dengan mengingat kejelekan orang lain. Orang lain susah dan
terpuruk karena kesalahannya sendiri. Yang penting aku menang.
Kritik dalam lagu itu mesti ditujukan kepada para murid Kristus juga.
Kita bisa banyak bicara tentang kasih, sementara hati kita tetap
dikuasai sifat egoistis. Ironi ini sangat tersembunyi. Tidak ada yang
tahu, kecuali Tuhan. Masih adakah kasih yang real dan bertanggung
jawab?
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan nasihat yang praktis untuk
hidup bersama. Pengajaran Yesus terdengar seperti tahap-tahap yang
mesti dilakukan oleh para murid, untuk menyadarkan seseorang, yaitu
“saudaramu yang berbuat dosa”. Apakah Yesus hanya memberikan nasihat
yang bisa jadi sudah lazim dilakukan? Menegur secara pribadi, membawa
satu atau dua orang saksi, menyampaikan kepada jemaat, dan
memandangnya sebagai yang paling rendah, tampaknya sudah dilakukan
orang pada masa itu. Kalau demikian, ada sesuatu yang berbeda dalam
perkataan Yesus. Yang berbeda ialah cara Yesus sendiri memperlakukan
mereka yang dipandang rendah di masyarakat.
Yesus menyelamatkan dengan kasih. Ia tidak pernah menyerah, ketika
menghadapi seseorang yang dianggap paling berdosa dan tidak mau
bertobat sekalipun. Ia meminta para murid agar berhati-hati, jika
mengikat atau melepaskan di dunia ini, sebab hal itu akan terjadi p**a
di surga. Mereka harus berjuang bersama demi keselamatan saudara
mereka. Mereka diajak untuk sepakat meminta kepada Bapa di surga, demi
mendapatkan kembali saudara mereka. Kasih dan tanggung jawab bersama
akan sungguh menyelamatkan, bila melibatkan Tuhan. Itulah yang membawa
kita pada sabda Yesus, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
Nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka”.
Dalam pergaulan kita sehari-hari, kadang-kadang kita terlalu percaya
pada pertimbangan kita sendiri. Mungkin sudah berkali-kali kita
membiarkan seseorang dengan stigma yang terus-menerus melekat pada
dirinya. Ada kalanya, tanpa disadari, kita membenarkan egoisme dan
ambisi dengan bantuan orang lain, yang bisa kita ‘beli’ dan kita
pengaruhi. Merapat pada mereka yang punya jabatan, kuasa, dan harta
adalah cara duniawi untuk menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan
orang yang tidak dis**ai tetap tersingkir. Semua yang tersembunyi ini
mengingkari perintah kasih Tuhan, yang seharusnya diwujudkan dalam
hidup bersama. Jangan-jangan tidak ada lagi rasa malu ketika seorang
pengikut Kristus bersikap egoistis dan mengejar ambisi pribadinya
semata-mata. Tidak peduli adalah lawan dari tanggung jawab. Seorang
beriman tidak akan menyerah dalam tanggung jawab hidup bersama, sebab
ia melibatkan Tuhan dalam memperlakukan saudaranya.
Dalam Kitab Yehezkiel (Bacaan I), Tuhan memanggil anak manusia untuk
“menjadi penjaga bagi kaum Israel”. Penjaga sejatinya ialah seseorang
yang diberi tanggung jawab untuk melindungi dan menyelamatkan kawanan.
Panggilan itu dijalankan dengan bersedia memperingatkan orang supaya
bertobat dari kesalahannya. Dengan kata lain, kita tidak boleh
mendiamkan dan membiarkan seseorang yang berbuat salah. Sering kali
ada godaan yang kuat membiarkan orang menanggung akibat kesalahannya
sendiri, karena kita menganggap dia sudah dewasa dan sudah tahu bahwa
perbuatannya itu keliru. Kasih kristiani tidak membutuhkan alasan
apapun, selain bertindak sebagai saudara dan bertanggung jawab atas
keselamatan orang lain.
Lirik sebuah lagu ternyata bisa mengingatkan kita pada tanggung jawab
hidup bersama. Sabda Yesus dalam Injil hari ini memperingatkan kita
akan watak buruk yang tersembunyi di dalam hati. Pada suatu saat,
mungkin kita baru menyadari bahwa kita pun bersikap egoistis dalam
kebersamaan iman dengan orang lain. Kita sering dikuasai dorongan
untuk menyadarkan seseorang yang berbuat salah, padahal kita sendiri
menyembunyikan egoisme dan ambisi pribadi. Barangkali yang harus kita
lepaskan pertama-tama ialah watak buruk yang tersembunyi ini. Baru
kemudian, kita akan bisa bertanggung jawab dalam kebersamaan, karena
kasih Kristus, yang dalam Nama-Nya kita berkumpul.
bit.ly/embun-pagi
"Embun Pagi" adalah renungan pendek berdasarkan Bacaan Injil. Renungan ini selalu baru setiap hari, mengisi waktu kita dengan inspirasi rohani yang sejuk, di...