16/05/2026
Hari Minggu Paskah VII (A)
bit.ly/embun-pagi
“DIPELIHARA SEBAGAI MILIK BAPA”
Kis 1:12-14, 1Ptr 4:13-16, Yoh 17:1-11a
Alangkah membahagiakan menemukan wajah yang kita kenal di tengah
keramaian yang asing! Stasiun kereta api dan pintu kedatangan bandar
udara sering membuat kita secara spontan mencari-cari wajah yang kita
kenal. Di sana orang bergegas datang dan pergi, namun perjumpaan
dengan orang yang kita kenal selalu menyenangkan hati. Melihat wajah
yang familier menyambut kita itu seperti menyelamatkan kita dari
suasana yang hiruk pikuk. Kita senang karena diingat dan diperhatikan.
Sementara itu, mungkin ada banyak orang yang harus berjalan sendiri
dan mencari angkutan umum untuk pulang ke rumah. Itu suasana di
stasiun dan bandar udara, yang mungkin juga terjadi di dalam
keseharian kita. Ada saat-saat kita merasa tidak diingat oleh siapapun
dan harus berjalan sendiri. Saat-saat itu menantang kita untuk tetap
menyadari pemeliharaan Tuhan dan mau masuk dalam perjumpaan.
Perjumpaan dan kebersamaan sebetulnya mudah diadakan. Masalahnya
sering kali adalah orang merasa sibuk atau ingin selalu sibuk.
Pertemuan dianggap menyita waktu. Kalau bisa pertemuan online saja,
supaya lebih cepat dan praktis. Apakah alasan cepat dan praktis itu
muncul juga dalam kehidupan iman kita?
Dalam Injil hari ini, ketika berdoa bersama para murid-Nya, Yesus
benar-benar menyediakan waktu. Waktu berjalan lambat pada saat itu,
berpusat pada kata-kata doa-Nya kepada Bapa. Yesus menghadirkan Bapa
di tengah para murid, ketika menggambarkan betapa dekat relasi-Nya
dengan Bapa. Ia menyatakan bahwa mereka sudah mengenal wajah Bapa,
satu-satunya Allah yang benar, karena mereka selama ini telah mengenal
diri-Nya. Semata-mata karena pengenalan akan Bapa melalui Yesus yang
diutus oleh Bapa, mereka menerima hidup yang kekal dan mereka menjadi
milik Bapa. Yesus menempatkan para murid ke dalam tangan Bapa, yang
akan senantiasa memelihara mereka.
Yesus juga mendoakan para murid, yang dibedakan-Nya dari dunia. Dunia
tidak mengenal dan tidak menerima Dia, tetapi para murid-Nya ini “tahu
benar-benar” bahwa Ia datang dari Bapa dan bahwa Bapa yang telah
mengutus-Nya ke dunia. Ia berdoa “untuk mereka”, bukan untuk dunia.
Yesus mendoakan para murid sebab “mereka masih ada di dalam dunia” dan
memohon agar Bapa memelihara mereka dalam nama-Nya. Pemeliharaan Bapa
akan menjaga para murid supaya tetap bersatu, seperti Yesus selalu
satu dengan Bapa. Dimiliki, dipelihara, dan dijaga oleh Bapa dalam
kesatuan, itulah kehidupan yang kekal.
Disapa oleh seseorang di tengah keramaian adalah sesuatu yang
mengesankan. Mungkin kita pernah mengalami, bagaimana ketika semua
orang sedang ramai bercakap-cakap, dan kita dibiarkan sendiri di
sepanjang acara, karena tidak mengenal seorang pun. Jauh di lubuk
hati, tersembunyi harapan bahwa akan ada seseorang yang mau mengajak
kita bicara. Topiknya tidak penting, asal ada seseorang yang mau
menyapa. Kalau perlu, kita mau berkenalan dengannya. Perasaan ini ada
dalam diri banyak orang, dan bukan diri kita saja. Ada banyak
perjumpaan dalam kehidupan iman dan pelayanan kita, tetapi
jangan-jangan ada banyak orang yang merasa tidak disapa, tidak
dilibatkan, dan tidak diperhatikan. Kalau kita terkesan oleh doa Yesus
demi kesatuan para murid, apakah kita punya kepekaan dan kerelaan
untuk saling memperhatikan? Doa Yesus meminta inisiatif dan tanggapan
kita juga terhadap orang lain, termasuk mereka yang tidak kita kenal.
Kehidupan para rasul sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga dialami
sebagai persaudaraan yang satu, seperti dicatat dalam Kisah Para Rasul
(Bacaan I). Kesatuan mereka dilukiskan dengan sangat sederhana,
berkumpul di “ruang atas, tempat mereka menumpang”, dan “mereka semua
bertekun dengan sehati dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan
serta Maria, ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus”. Kesatuan dalam
persaudaraan memang seharusnya sangat mudah dan sederhana. Tidak perlu
tempat berkumpul yang istimewa. Tidak perlu definisi dan rumusan
kesepakatan yang sulit. Cukup dengan sikap sehati dalam doa bersama,
sebuah perjumpaan iman akan berubah menjadi pengalaman yang
mengesankan akan pemeliharaan Bapa. Mungkin kita kini mengerti,
mengapa di zaman ini masih banyak orang merasa dibiarkan, tidak disapa
dan tidak dilibatkan dalam kebersamaan.
Marilah kita menemukan dan menyapa mereka yang ditinggalkan sendiri
entah karena penilaian apapun dari sesamanya. Marilah kita menjadi
wajah Kristus yang mereka kenali di tengah keramaian anonim di sekitar
kita. Doa Yesus kepada Bapa agar memelihara para murid-Nya di dunia
menantang inisiatif kita untuk memulihkan persaudaraan yang rusak
karena prasangka dan ketidakpedulian. Semoga kehadiran kita di mana
pun, menjadi bukti bahwa Bapa memelihara semua orang, khususnya mereka
yang berharap untuk disapa dan diperlakukan sebagai saudara. Yesus
selalu menghadirkan Bapa kepada kita, maka kita pun mesti menghadirkan
wajah Tuhan yang mempersatukan semua orang.
bit.ly/embun-pagi
Halo Masyarakat Indonesia di Belanda
KBRI Den Haag mengadakan “NGOPIH” - Ngobrol dengan Pak Amrih!
Pastinya masyarakat bisa membahas “apa saja” secara langsung dengan Duta Besar RI KBRI Den Haag, L. Amrih Jinangkung.
Yuk ikutan langsung via Zoom pada:
📆 : Jumat, 5 Juni 2026
⏰ : 18:00 CEST
📍 Zoom : 837 0684 8266
Passcode : 264238