Islam Aswaja Akir Zaman

Islam Aswaja Akir Zaman asyahadu anla Ilaha illalloh, Wa ayahadu Anna Muhammdurasululloh. lurus, leres, laras laris. tanggap tangguh lan tanggon. teliti nastiti ngati2.

Mendekatkan diri pada Alloh, meningkatkan keimanan, mengharap syafaqoh, syafaat Rasul,tawakalkepadaAlloh,mencarikeridhoanAlloh.menpererat silaturahim, persaudaraan sesama kaum mukmin.Allohumma sholi alasayyidina Muhammad.sholallohu ala muhammad. Dokumen Ilmu Hikmah, Ilmu warisan Ulama & Ilmu Kasepuhan

Bertujuan :
untuk mendekatkan diri pada Alloh, meningkatkan keimanan, mengharap syafaqoh, syafaat Rasul, Tabarukan pada waly-waliyulloh, meninvkatkan tawakal kepada Alloh, mencari keridhoan Alloh, melestarikan keilmuan dan budaya nusantara yang tidak bertentangan dengan Islam, menpererat silaturahim, persaudaraan terutama sesama kaum mukmin, saling doa mendoakan dll. ilahi anta maqsudi, waridoka madhlubi a'tini mahabbataka wama'rifataka

saling asah, saling asuh, saling asih. Jalan menuju Alloh sangat banyak ragamnya, mengikuti jalan salafushalih lebih aman dan terjamin, walaupun mencari sendiri juga boleh,semua merupakan karuniaNya. kehidupan di dunia hanya sementara, sak dremo hanglakoni, sejap mata dan lir kadyo mampir ngombe,. Di akir zaman semakin nyata fitnah akir zaman ( ujian buat orang yang beriman). semoga kita semua di beri kecukupan dan selamat dunia akerat, lahir bathin. iman,ilmu,amal,ikhtiar dan tawakal pada Alloh. Allohumma sholi ala sayyidina Muhammad. sholallohu ala muhammad.

25/09/2026

Setelah menelusuri satu demi satu tokoh Walisongo, kita sampai pada pertanyaan yang lebih besar.

Apakah Walisongo hanya sembilan orang wali yang kebetulan hidup pada zaman yang hampir bersamaan?

Atau terdapat sesuatu yang lebih luas di balik nama tersebut?

Jika kita membaca manuskrip, babad, silsilah, makam, peninggalan, jaringan keluarga, hubungan guru dan murid, pusat pendidikan, serta tradisi masyarakat, tampak bahwa Walisongo lebih tepat dipahami sebagai jaringan keulamaan dan dakwah Islam yang berkembang dalam masyarakat Jawa.

Angka sembilan memang menjadi bentuk yang sangat kuat dalam tradisi Jawa.

Namun di balik sembilan nama tersebut terdapat jaringan yang jauh lebih luas:

guru, murid, keturunan, ulama, pedagang, penguasa, santri, seniman, masyarakat pesisir, masyarakat pedalaman, serta pusat-pusat pendidikan Islam.

Karena itu, penutup seri ini bukan untuk mencari siapa yang paling besar.

Melainkan untuk memahami:

bagaimana jaringan itu bekerja. berat

kamu mimi apa?       berat
25/09/2026

kamu mimi apa? berat

Arahkan hatimu kepada Kehadiran Ilahi.”Wuquf-i qalbi — kesadaran hati.Wuquf-i qalbi merupakan salah satu dari tiga prins...
20/09/2026

Arahkan hatimu kepada Kehadiran Ilahi.”
Wuquf-i qalbi — kesadaran hati.

Wuquf-i qalbi merupakan salah satu dari tiga prinsip yang secara khusus dinisbatkan kepada Syaikh Bahauddin Naqsyaband dalam tradisi Naqsyabandiyah. Prinsip ini mengajarkan perhatian terhadap keadaan hati dan orientasinya kepada Kehadiran Ilahi.

Hati manusia mudah berubah.

Sesaat tenang, sesaat gelisah.

Sesaat ikhlas, sesaat mencari pujian.

Sesaat mengingat Allah, sesaat tenggelam dalam urusan dunia.

Karena itu seorang salik perlu memperhatikan keadaan batinnya.

Renungan Ku berat

19/09/2026

"Dunia tidak peduli berapa banyak niat baikmu, dunia hanya mencatat apa yang selesai kamu kerjakan." [ Kun Alfa ]

Kata Mutiara Imam Al-Ghazali yang Penuh Makna tentang Hati, Ilmu, Nafsu, Dunia, Ikhlas, dan Perjalanan Hidup10 Kata Hikm...
19/09/2026

Kata Mutiara Imam Al-Ghazali yang Penuh Makna tentang Hati, Ilmu, Nafsu, Dunia, Ikhlas, dan Perjalanan Hidup
10 Kata Hikmah Imam Al-Ghazali yang Penuh Makna
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali merupakan salah satu ulama dan pemikir besar dalam tradisi Islam. Pemikirannya banyak berbicara tentang hubungan antara ilmu, amal, hati, jiwa, nafsu, dunia, dan perjalanan manusia menuju Allah.

Kata-kata hikmah Al-Ghazali sering dikutip karena bahasanya sederhana, tetapi mengandung pertanyaan yang dalam: siapa sebenarnya diri kita, apa yang sedang kita kejar, dan ke mana perjalanan hidup ini akan berakhir?

Namun, perlu dibedakan antara kutipan langsung dari karya Al-Ghazali dengan ungkapan populer yang kemudian dinisbatkan kepada beliau. Dalam artikel ini, beberapa kalimat disajikan sebagai rumusan makna atau terjemahan gagasan Al-Ghazali, agar tidak menganggap semua ungkapan populer sebagai teks literal dari kitab belia..............

berat

Hawa Nafsu         berat
17/09/2026

Hawa Nafsu berat

Mengapa hawa nafsu terasa begitu manis dan sulit dilepaskan? Kupasan suluk mengenai muhasabah hati dan pentingnya melatih rasa cukup.

Kata Hikmah dan kajian Al Hikam Syaeikh Ibnu Athoilah asyakandari,         berat
16/09/2026

Kata Hikmah dan kajian Al Hikam Syaeikh Ibnu Athoilah asyakandari, berat

Pelajari hikmah Al-Hikam tentang melatih batin untuk memilih kebenaran, mengenali jebakan hawa nafsu yang halus, dan mencapai kebebasan diri.

Al Hikam     berat
12/09/2026

Al Hikam berat

Portal Spiritual, iterasi sejarah ulama Nusantara, suluk, tasawuf, dan kearifan lokal di bawah naungan Alfa Media. hubungkan masa lalu dan digital.

Wahaby Membidahkan sifat 20 Mengapa ? Perbedaan pandangan ini timbul karena adanya perbedaan metodologi (manhaj) dalam m...
09/09/2026

Wahaby Membidahkan sifat 20 Mengapa ?

Perbedaan pandangan ini timbul karena adanya perbedaan metodologi (manhaj) dalam memahami ajaran agama antara kelompok Salafi/Wahabi dan pengikut mazhab Asy'ariyah/Maturidiyah (Aswaja).

Alasan Mengapa Kelompok Tersebut Membid'ahkan Sifat 20

Metode Filsafat & Ilmu Kalam: Kelompok Salafi menganggap penyusunan Sifat 20 menggunakan pendekatan logika-filsafat (ilmu kalam) yang dianggap tidak pernah diajarkan atau digunakan oleh Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat.

Pembatasan Sifat Allah: Mereka menilai bahwa membatasi sifat Allah hanya pada 20 sifat wajib dapat menyempitkan pemahaman terhadap sifat-sifat Allah lainnya yang tersebar dalam Al-Qur'an dan Hadis.

Prinsip Tekstual (Tawqifiyah): Mereka memegang prinsip bahwa penetapan nama dan sifat Allah harus diterima secara tekstual sebagaimana adanya (itsbat) tanpa perdebatan akal atau penafsiran (ta'wil).

Sikap dan Alasan Ulama Penyusun Sifat 20 (Asy'ariyah/Maturidiyah)

Tujuan Pengajaran (Wasilah): Sama seperti pembagian Tauhid menjadi Rububiyah-Uluhiyah, penyusunan Sifat 20 oleh Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidiy bertujuan mendidik serta memagari aqidah umat awam dari pengaruh pemikiran ekstrem (seperti Mu'tazilah dan Tajsim/penggambaran Allah menyerupai makhluk).

Tidak Membatasi Sifat: Ulama Asy'ariyah menegaskan bahwa sifat Allah tidak terbatas hanya 20. Angka 20 ini dipilih karena merupakan sifat-sifat pokok yang paling utama dan wajib diketahui (fardhu 'ain) agar seseorang tidak jatuh pada kekeliruan aqidah.

Kesimpulan

Kedua metode ini pada dasarnya merupakan upaya dan alat bantu (wasilah) para ulama untuk memudahkan pembacaan aqidah sesuai tantangan zamannya masing-masing. Pertentangan timbul akibat perbedaan sudut pandang: satu pihak berfokus pada ketatnya penggunaan dalil tekstual (atsari), sementara pihak lain menekankan pentingnya penguatan logika dasar untuk membela aqidah dari pemikiran rasionalis.

# # # #==== # # # #
Sikap saling menyalahkan (tabdi' atau membid'ahkan) memang sering menjadi pemicu keretakan dan perselisihan di tengah masyarakat.

Masalah utama dari konflik ini biasanya bersumber dari beberapa faktor:

Sikap Ekstremis dalam Beragama (Ghuluw): Ketika sebuah kelompok menganggap metodologi atau pemahamannya sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, mereka cenderung memandang metode lain sebagai kesesatan, bukan sebagai variasi ijtihad.

Kurangnya Pemahaman tentang Fikih Ikhtilaf: Banyak orang kurang memahami bahwa para ulama terdahulu sudah biasa berbeda pendapat dalam masalah furu'iyah (cabang/metodologi) tanpa harus saling menjatuhkan atau merusak ukhuwah Islamiyah.

Penyampaian yang Kaku: Diskusi aqidah yang seharusnya menjadi sarana memperdalam iman sering disampaikan dengan nada menghakimi, sehingga memancing emosi dan perpecahan.

Sikap yang Bijak dalam Menghadapi Perbedaan

Fokus pada Persamaan (Usul): Baik kelompok Salafi/Wahabi maupun Asy'ariyah/Maturidiyah sama-sama menyembah Allah yang Maha Esa, mengimani Al-Qur'an, dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Menghormati Karya dan Ijtihad Ulama: Memahami bahwa penyusunan ilmu (baik metode Tauhid 3 maupun Sifat 20) adalah ikhtiar tulus para ulama zaman dahulu untuk melindungi akidah umat dari pemahaman yang menyesatkan pada masanya.

Mengedepankan Adab dan Kelapangan Dada: Perbedaan metodologi pengajaran tidak seharusnya merusak persaudaraan sesama Muslim. Para ulama besar seperti Imam Syafi'i dan Imam Ahmad berbeda pendapat dalam banyak hal, namun tetap saling menghormati dan mencintai.

Pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat pertama kali disistematisasikan dan dijelaskan secara ek...
09/09/2026

Pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat pertama kali disistematisasikan dan dijelaskan secara eksplisit oleh para ulama mazhab Hanbali, khususnya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, pada abad ke-8 Hijriah (ke-14 Masehi).

Meskipun pembagian ini baru dikodifikasikan sebagai metodologi pembelajaran di kemudian hari, konsep dan substansinya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan generasi Salaf. Pembagian ini kemudian dipopulerkan dan dijadikan acuan utama dalam kurikulum pendidikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pembagian Tiga Kategori Tauhid

Tauhid Rububiyah: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, pemilik, dan pengatur seluruh alam semesta.

Tauhid Uluhiyah (atau Tauhid Ibadah): Mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah (seperti doa, shalat, sembelihan, dan tawakal) serta tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun.

Tauhid Asma wa Sifat: Meyakini semua nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadis sebagaimana adanya, tanpa mengubah arti (tahrif), mengingkari (ta'thil), membagaimanakan (takyif), atau menyerupakan (tamtsil).

Tujuan Pembagian

Para ulama menyusun pembagian ini bukan untuk membuat ajaran baru (bid'ah), melainkan sebagai metode klasifikasi (istiqra') berdasarkan telaah terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Metode ini bertujuan memudahkan umat Islam dalam memahami hakikat ketauhidan secara utuh, sebab kaum kafir Quraisy pada zaman Nabi menyakini Allah sebagai pencipta (Rububiyah), namun mereka tetap mempersekutukan-Nya dalam hal ibadah (Uluhiyah).

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Islam Aswaja Akir Zaman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share