13/12/2018
MEWUJUDKAN KEADILAN
Untuk mewujudkan keadilan, minimal harus terpenuhi dua syarat utama, yaitu:
Pertama, hukumnya harus adil. Yang bisa memenuhi kriteria ini hanyalah syariah. Sebab, syariah adalah hukum yang berasal dari Allah Swt, Dzat yang Maha Adil.
Allah Swt berfirman:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil (QS al-Nisa [4]: 58).
الْعَدْلُ: هُوَ فَصْلُ الْحُكُومَةِ عَلَى مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَا الْحُكْمُ بِالرَّأْيِ الْمُجَرَّدِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ مِنَ الْحَقِّ فِي شَيْءٍ، إِلَّا إِذَا لَمْ يُوجَدْ دَلِيلُ تِلْكَ الْحُكُومَةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَلَا فِي سُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلَا بَأْسَ بِاجْتِهَادِ الرَّأْيِ مِنَ الْحَاكِمِ الَّذِي يَعْلَمُ بِحُكْمِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَبِمَا هُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْحَقِّ عِنْدَ عَدَمِ وُجُودِ النَّصِّ، وَأَمَّا الْحَاكِمُ الَّذِي لَا يَدْرِي بِحُكْمِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَلَا بِمَا هُوَ أَقْرَبُ إِلَيْهِمَا، فَهُوَ لَا يَدْرِي مَا هُوَ الْعَدْلُ، لِأَنَّهُ لَا يَعْقِلُ الْحُجَّةَ إِذَا جَاءَتْهُ، فَضْلًا عَنْ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا بَيْنَ عِبَادِ اللَّهِ
Ketika menjelaskan ayat ini, Imam al-Syaukani berkata, Adil adalah memutuskan hukum atas dasar ketentuan al-Kitab dan Sunnah Rasulullah saw. Bukan dengan hukum berdasarkan pendapat akal semata. Sebab, tidak ada kebenaran sedikit pun di dalamnya. Kecuali ketika tidak ditemukan dalil (nash yang sharih) pada perkara tersebut dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka boleh dengan ijtihad pendapat dari seorang hakim yang mengetahui hukum Allah Swt; dan dengan sesuatu yang paling dekat dengan kebenaran ketika tidak ditemukan nash. Adapun hakim yang tidak mengetahui hukum Allah Swt dan Rasul-Nya; dan tidak p**a mengetahui yang lebih dekat dengan keduanya (Kitab dan SUnnah), maka sesungguhnya tidak mengetahui apa yang adil. Sebab, dia tidak memahami hujjah ketika datang kepadanya. Lebih-lebih, dalam memutuskan perkara di antara manusia dengan hujjah tersebut" (al-Syaukani, Fath al-Qadîr, I/555).
Kedua, hukum yang adil itu diperlakukan secara sama kepada seluruh rakyatnya. Tidak diskrimanit dan tebag pilih.
Dari Aisyah ra menceritakan bahwa ada seorang wanita wanita Makhzumiyah yang mencuri. Mereka berkata: ”Siapa yang mau berbicara dengan Rasulullah Saw untuk memintakan keringanan baginya?" Mereka berkata, "siapa lagi yang berani melakukannya selain dari Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah?" Maka Usamah berbicara dengan beliau, lalu beliau bersabda:
« أَتَشْفَعُ فِى حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ » . ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ، ثُمَّ قَالَ « إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَايْمُ اللَّهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا »
Adakah engkau memintakan syafa’at dalam salah satu hukum-hukum Allah? Kemudian beliau berdiri dan menyampaikan pidato, seraya bersabda: “Sesungguhnya telah binasalah orang-orang sebelum kalian,karena jika orang yang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya, dan sekiranya yang mencuri itu orang lemah di antara mereka, maka mereka menegakkan hukuman atas dirinya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR al-Bukhari).
Demikianlah ketegasan Rasulullah saw dalam memutuskan hukum. Ketentuan itu hukum diberlakukan kepada semua orang. Siapa pun yang melanggarnya harus dihukum, meskipun itu adalah anaknya sendiri.
Ketika hukum yang diterapkan bukan hukum yang adil karena bukan berasal dari Dzat Maha Adil, lebih parah lagi diterapkan secara diskriminatif dan tebang pilih. Hukum hanya tegas diberlakukan kepada orang yang lemah dan pihak yang dianggap sebagai lawan. Sementara terhadap keluarga dan kelompoknya lembek. Bagaimana bisa ada keadilan? Itu hanyalah ilusi kosong dan mimpi di siang bolong?
Masih berharap selain Syariah dan Khilafah?