05/06/2026
*Allah Menempatkan Pada Segala Sesuatu Jendela Yang Mengarah Kepada Keesaan-Nya*
Nah, berdasarkan contoh di atas, Tuhan Sang Pencipta Yang Mahaagung—yang memiliki seribu satu nama yang mulia seperti Penguasa Yang Mahabijak, yang Mahaadil dan Bijaksana, Pencipta Yang Mahaagung di mana tidak ada yang sama seperti-Nya—berkehendak menciptakan pohon entitas yang besar dan membangun istana alam yang menakjubkan. Maka, Dia membuat fondasi dan benih dari istana dan pohon tersebut dalam enam hari lewat ketentuan hikmah-Nya yang menyeluruh dan pengetahuan-Nya yang azali.
Setelah itu, Dia membentuknya dengan rambu-rambu _qadha_ dan _qadar_ serta mengurainya secara terperinci kepada sejumlah tingkatan dan cabang yang berada di atas dan di bawah. Setelah itu, Dia menata setiap kelompok makhluk dan setiap tingkatannya dengan ketentuan _inâyah_ dan kebaikan-Nya. Setelah itu, Dia menghias segala sesuatu dan semua alam dengan keindahan yang sesuai dengannya. Misalnya, Dia menghias langit dengan bintang-gemintang dan memperindah bumi dengan aneka macam bunga.
Kemudian Dia menyinari semua ruang rambu-rambu universal dan konstitusi umum itu dengan manifestasi nama-nama-Nya. Setelah itu, Dia menolong mereka yang meminta bantuan-Nya dalam menghadapi kesulitan lewat nama Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan kata lain, Dia menetapkan pada sela-sela rambu-Nya yang bersifat komprehensif dan hukumnya yang bersifat umum sejumlah karunia dan pertolongan khusus berikut manifestasi yang bersifat khusus p**a di mana hal itu memungkinkan segala sesuatu untuk mengarah kepada-Nya setiap waktu dan meminta kepada-Nya apa yang dibutuhkan.
Dia membuka lewat setiap tempat, setiap tingkatan, setiap alam, setiap kelompok, setiap individu, dan setiap sesuatu sejumlah jendela yang menghadap kepada-Nya sekaligus memperlihatkan-Nya. Yakni, menampakkan keberadaan dan keesaan-Nya. Dia sisipkan pada setiap kalbu sebuah sarana untuk berkomunikasi dengan-Nya. Selanjutnya, kita tidak akan memaksakan diri untuk membahas jendela yang tak terhitung banyaknya di mana ia berada di luar kemampuan kita.
Namun, kita serahkan ia kepada pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu. Kita hanya akan membahas secara global “tiga puluh tiga” jendela yang terpaut dengan kilau ayat-ayat al-Qur’an sehingga menjadi “Kalimat Ketiga Puluh Tiga” atau “Surat Ketiga Puluh Tiga”. Kami membatasinya dalam tiga puluh tiga jendela sebagai bentuk tabaruk dengan zikir yang biasa dibaca selepas salat lima waktu, sementara penjelasan detailnya terdapat pada sejumlah bagian risalah yang lain.
Badiuzzaman Said Nursi, *Jendela Tauhid*, h. 2-4