08/08/2021
Minggu 08 Agustus 2021
Parjamita : Bvr. M. Br.Silitonga
Liturgis. : St. M. Br.Manurung
Ep. : Mateus 23:23-28
Ev. : Jeremia 22 1-9
Martading Hata sahalak Mahasiswi STT P.Siantar inang Maria Br.Siahaan.
Debata Ma tongtong Mandongani Nasida di Parsiajaranna.
Proses Renovasi Gereja HKBP Bosar Galugur Terus Berlanjut🙏
Minggu X Setelah Trinitatis
“Lakukanlah keadilan dan kebenaran - Ulahon ma uhum dohot hasintongan."
1. Dari sekian banyak raja-raja yang ada di Yehuda (Kerajaan Selatan) dari Daud sampai Zedekia, namun lebih banyak raja-raja hanya melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (2 Rajaraja 8 – 25). Sama halnya dengan arti nama Zedekia: “Tuhan adalah keadilan dan kebenaranku,” maka sesuai nama itu p**a Tuhan melakukan keadilan dan kebenaranNya terhadap perbuatan kejahatan. Penguasa-pemangku jabatan selaku raja tidak melakukan keadilan (Mishpat) dan kebenaran (Tsedaqa) terhadap rakyatnya. Bahkan raja, penguasa, pemangku jabatan, orang besar, orang kaya, orang kuat menjadi pemangsa bagi masyarakat yang kecil, miskin, lemah, orang asing yatim, janda, dan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Pada fasal 21 sudah dinubuatkan sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan kepada Yeremia ketika raja Zedekia mengutus Pasyhur, bahwa: “Aku sendiri akan berperang melawan kamu dengan tangan yang teracung, dengan lengan yang kuat, dengan murka, dengan kehangatan amarah dan dengan kegusaran yang besar. Aku akan memukul penduduk kota ini, baik manusia maupun binatang; mereka akan mati oleh penyakit sampar yang hebat... Zedekia, raja Yehuda, dan pegawai-pegawainya dan rakyat di kota ini, yang masih tinggal hidup dari penyakit sampar dari pedang dan dari kelaparan, akan Kuserahkan ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, yaitu ke dalam tangan musuh mereka yang berusaha mencabut nyawa mereka... Tetapi kepada bangsa ini haruslah kaukatakan: Beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, Aku menghadapkan kepadamu jalan kehidupan dan jalan kematian. Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar... Sebab Aku akan menentang kota ini untuk mendatangkan kecelakaan dan bukan untuk mendatangkan keberuntungannya (21:1-10).
2. Lebih lanjut firman Tuhan kepada keluarga raja Yehuda. “Beginilah firman Tuhan, hai keturunan Daud: Jatuhkanlah hukum yang adil setiap pagi, dan lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, supaya kehangatan murkaKu jangan menyambar seperti api yang menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkannya, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat! Sesungguhnya Aku menjadi lawanmu, hai kota yang di atas lembah, gunung batu di dataran, demikianlah firman Tuhan, hai kamu yang berkata: Siapakah yang berani turun kepada kami dan siapakah yang berani masuk ke tempat perteduhan kami? Aku akan melakukan pembalasan kepadamu sesuai dengan hasil perbuatan, demikianlah firman Tuhan. Aku akan menyalakan api di hutannya yang akan memakan habis segala sesuatu yang disekitarnya” (21:11-14). Ternyata melakukan keadilan dan kebenaran harus menjadi tanggung jawab utama dari para penguasa, pemangku jabatan dan juga masyarakat yang dipimpin.
3. Sudah saatnya bagi para penguasa, pemangku jabatan di suatu bangsa-negara dalam menjalankan pemerintahannya dari tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten-Kota, Kecamatan, Keluarahan, RW-RT-Desa melaksanakan dengan melakukan kejujuran, bahkan keadilan dan kebenaran bagi masyarakat yang dipimpinnya. Jangan penguasa, pemangku jabatan, para pembesar, orang kuat, orang kaya menjadi mangsa bagi masyarakat yang lemah, miskin, dengan melakukan ketidakjujuran, ketidakadilan dan ketidakbenaran menjadi pemeras, penindas, memperlakukan dengan keras dan menumpahkan darah. Tentu para penguasa, pemangku jabatan, pegawai pemerintah harus menjadi pelaku utama dalam melakukan keadilan dan kebenaran. Bagaimana Penguasa, Pemangku jabatan memberikan, mempersembahkan dan menjadikan dirinya keadilan, kebenaran bagi masyarakat yang dipimpinnya dan bagaimana p**a masyarakat diperlakukan, diperbuat, diterima secara keadilan dan kebenaran? Bukan menjadi pemeras, penindas, pelaku kekerasan dan menumpahkan darah. Bagaimana juga masyarakat turut menjadi pelaku keadilan dan kebenaran serta menerima penguasa, pemangku jabatan yang melakukan keadilan dan kebenaran. Jangan Penguasa, pemangku jabatan hanya untuk melakukan kepentingan diri sendiri, lebih memperdulikan, memperhatikan diri sendiri dan memperkaya diri sendiri dengan cara memeras, menindas, memperlakukan dengan keras dan menumpahkan darah orang benar. Apabila Penguasa, pemangku jabatan dan masyarakat bersama melakukan keadilan dan kebenaran, maka suatu bangsa-negara akan maju, makmur, sejahtera terlebih “BERBAHAGIALAH” (martua ma) turun-temurun. Apabila Penguasa, pemangku jabatan dan para pegawainya serta masyarakat tidak melakukan keadilan dan kebenaran, maka yang terjadi adalah: Keruntuhan, padang gurun, tidak didiami dan “CELAKALAH” (marjea ma).
4. Jangan para penguasa, pemangku jabatan yang berakhir pada “celakalah” (marjea ma. Lihat: Ep: Matius 23:23-28 Yesus mengecam ahli-ahli taurat dan orang-orang Fairisi yang penuh dengan kemunafikan. Pemimpin yang munafik dan buta), karena tidak melakukan keadilan dan kebenaran. Justru menjadi pelaku untuk diri sendiri, memperkaya diri sendiri dengan memakai kekuasaan, jabatan menjadi alat untuk memeras, menindas, memperlakukan dengan keras, menumpahkan darah bagi kaum lemah, terpinggir atau marginal yang akhirnya tinggal di Lapas-Rutan dari duduk di singasana karena penguasa, pejabat yang tidak melakukan keadilan dan kebenaran. Tetapi bagaimana para penguasa, pemangku jabatan berakhir dengan “berbahagialah,” karena melakukan keadilan dan kebenaran? Pada zaman nabi Amos juga diingatkan para penguasa, pembesar, yaitu raja dan para imam, orang kaya yang tidak melakukan keadilan dan kebenaran dengan menjual orang benar karena uang, dan orang miskin karena sepasang kasut. Menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara (Amos 2:6-16 ; 8:4-8).
5. Yeremia selaku nabi besar sesuai dengan arti nama: “Tuhan mau meninggikan, mengagungkan atau menegakkan.” Yeremia dipanggil Allah menjadi nabi pada zaman raja Yosia (1:1-10). Yeremia selaku nabi harus menyampaikan, menubuatkan apa yang difirmankan Tuhan terhadap Yehuda dan Israel (f 2 – 25). Yeremia selaku nabi harus menyuarakan suara kenabian kepada kalangan penguasa, pemangku jabatan, yaitu raja, pegawai dan rakyat dengan turun dari Bait Suci untuk pergi secara langsung ke istana raja Yehuda untuk menyampaikan apa yang Tuhan firmankan, yaitu: “Dengarlah firman Tuhan, hai raja Yehuda, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini! Beginilah firman Tuhan: “Lakukanlah keadilan dan kebenaran.” Hal yang utama harus dilakukan oleh penguasa, pemangku jabatan raja, pegawai, rakyat kalangan istana agar melakukan keadilan dan kebenaran dengan: “Lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya.” Melakukan keadilan dan kebenaran tanpa melepaskan dan mengembalikan hak orang yang dirampas haknya dari pemeras, itu bukanlah keadilan dan kebenaran. Selanjutnya untuk melakukan keadilan dan kebenaran dari pihak penguasa, pemangku jabatan raja, pegawai, rakyat kalangan istana dengan melakukan apa yang dilarang, tidak boleh, tidak harus, tidak bisa dilakukan dengan 3 kali kata: “JANGANLAH” engkau menindas, memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, menumpahkan darah orang yang tidak bersalah di tempat ini.
6. Dengan melakukan keadilan dan kebenaran dengan sungguh-sungguh, hanyalah dengan melepaskan dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya dan tidak melakukan apa yang dijangankan, yaitu: Menindas, memperlakukan orang asing, yatim, janda dengan keras dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah. Dengan melakukan keadilan dan kebenaran yang sesungguhnya, maka raja, pegawai, rakyat melalui pintu-pintu gerbang istana akan berarak masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud dengan mengendarai kereta dan kuda. Dampak melakukan keadilan dan kebenaran akan hidup nyaman, tenteram, tenang, aman, sejahtera, makmur dan “berbahagialah.” Namun semuanya itu, ada “tetapi,” yaitu: “Tetapi jika kamu “tidak” mendengarkan perkataan-perkataan ini, maka Aku sudah bersumpah demi diriKu, demikianlah firman Tuhan.” Apa dampak tetapi jika penguasa, pemangku jabatan raja, pegawai, rakyat tidak mendengarkan dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran? Tuhan sudah bersumpah demi diriNya, bahwa istana akan menjadi “reruntuhan.” Mengenai keluarga raja Yehuda yang seperti Gilead ( daerah pegunungan-bukit kesaksian, tanah yang kaya, megah yang menjadi peringatan dan sukacita). Juga seperti Libanon (yang sangat terkenal pohon aras untuk bangunan rumah, gedung, istana yang termasuk kokoh. Bnd: II Samuel 7:2). Sebagaimana istana, keluarga raja menjadi tempat sukacita, kemegahan, kebanggaan akan Tuhan buat menjadi padang gurun, menjadi kota yang tidak di diami orang. Tuhan juga akan menetapkan pemusnah-pemusnah masing-masing dengan senjatanya akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api.
7. Tidak ada lagi yang patut dibanggakan, dimegahkan dan menjadi sukacita, kekuatan apabila raja, keluarga raja, pegawai, rakyat bila tidak mendengarkan apa yang di firmankan Tuhan dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran, akhirnya hukuman dari Tuhan akan membuat istana reruntuhan, menjadi padang gurun, kota yang tidak didiami orang dan akan dimusnahkan. Lebih ironisnya lagi, tidak mendengarkan apa yang difirmankan, dikatakan Tuhan untuk melakukan keadilan dan kebenaran, adalah bukti mereka telah melupakan Tuhan, Allah mereka, dan telah sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya (Titah kedua). Hal inilah yang menjadi jawaban apabila banyak bangsa melewati kota yang sudah reruntuhan, padang gurun, tidak didiami orang, dimusnahkan dan dicampakkan ke api: “Mengapakah Tuhan melakukan seperti itu kepada kota yang besar itu? Apabila seluruh Penguasa, pemangku jabatan di pemerintahan dan apa pun kuasa, jabatan kita di instansi di mana kita kerja. Juga seluruh rakyat mendengarkan apa yang difirmankan Tuhan untuk melakukan keadilan dan kebenaran, dengan melepaskan dari tangan pemerasnya orang yang haknya dirampas dan jangan menjadi penindas, memperlakukan orang asing, yatim, janda dengan keras, dan jangan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, itulah kekuatan, kemegahan, kemakmuran, kesejahteraan, kekokohan, kenyamanan, kedamaian, sukacita suatu bangsa-negara. Tetapi jika tidak mendengarkan apa yang difirmankan Tuhan dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran. Apabila penguasa, pemangku jabatan memakai kekuasaan, jabatannya menjadi pemeras, penindas, memperlakukan orang asing, yatim, janda dengan keras dan menumpahkan darah orang benar. Tuhan sudah bersumpah akan meruntuhkan, menjadikan padang gurun, tidak didiami orang dan memusnahkan kota itu. Apa pun kuasamu, jabatanmu dan selaku pegawai, rakyat pun, ingat firman Tuhan: “Lakukanlah keadilan dan kebenaran.” Jadikan, persembahkan, berikan dirimu pelaku keadilan dan kebenaran. Terimalah, perlakukanlah, perbuatlah orang lain dari golongan dan status sosial mana pun dengan keadilan dan kebenaran. Tetapi jika tidak mendengarkan, dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran, maka kekuasaanmu, jabatanmu, hakmu selaku rakyat akan diruntuhkan Tuhan.
8. Sangat sulit dan berat bagi manusia untuk menjadi sosok, tipikal, jati diri, karakter, memiliki hati, pikiran, sikap kehidupan untuk melakukan keadilan dan kebenaran, mengapa? Oleh karena hati selalu menginginkan, mendambakan apa yang tidak patut kita miliki, sehingga segala tipu daya pun akan diperbuat untuk memiliki apa yang kita inginkan dan kita dambakan. Akibat sikap inilah perbuatan jahat timbul untuk memeras, menindas, memperlakukan orang lain dengan keras, menumpahkan darah orang benar. Bahkan maraknya tipu daya, korupsi, penipuan dilakukan manusia pada zaman now ini. Ingin kaya, mendambakan semakin kaya walaupun dengan cara apa pun dilakukan, yang akhir hidupnya akan runtuh. Kehidupan Pemimpin baik ditengah Keluarga, Pemerintahan diharapkan harus melakukan keadilan dan kebenaran. Bila orang tua ditengah keluarga tidak adil dan benar, bagaimanakah kehidupan keluarga yang memiliki sosok orang tua yang tidak adil dan bebar di keluarganya? Bila Pemimpin Pemerintahan tidak lagi menyikapi, menghidupi, berbuat keadilan dan kebenaran, bagaimanakah rakyat-umat yang dipimpinnya hidup sejahtera? Bila ditengah gereja tidak lagi berlaku adil dan benar, bagaimana kehidupan jemaat yang dilayani oleh pimpinan yang tidak adil dan benar?
9. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu; selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? Dengarlah, Tuhan berseru kepada kota – adalah bijaksana untuk takut kepada namaNya. Dengarlah hai suku bangsa dan orang kota! Masakan Aku melupakan harta benda kefasikan di rumah orang fasik dan takaran efa yang kurang dan terkutuk itu? Masakan Aku membiarkan tidak dihukum orang yang membawa neraca palsu atau pundi-pundi berisi batu timbangan tipu? Orang-orang kaya di kota itu melakukan banyak kekerasan, penduduknya berkata dusta dan lidah dalam mulut mereka adalah penipu... (Mikha 6:8-12 dst). Yesus sangat mengecam orang-orang yang munafik dan akhir hidup orang munafik adalah: “Celakalah.” Tetapi orang yang melakukan keadilan dan kebenaran akan: “Berbahagialah,” bermegah, kokoh, damai, sejahtera sampai kepada Keturunan. Penguasa, Pemangku jabatan di Pemerintahan kita, pegawai dan kita selaku rakyat Indonesia, mari kita melakukan: “PANCASILA.” 1. Ketuhanan yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Peratuan Indonesia. 4. Kerakyatan… 5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.