FORUM Konsultasi SISWA SMP ISLAM JIWA NALA

FORUM Konsultasi SISWA SMP ISLAM JIWA NALA Tempat Untuk Menyampaikan dan Mencari Solusi Permasalahan Siswa

12/09/2014

Anak2Qu.. truslah berkarya tuk mencapai prestasi..!!! Jgan sia2kan masa remajaMu dgn hal2 yg akan merugikanMu.Jlan kalian masih panjang..

26/03/2014

Hening, malam kian larut, bahkan pagi menjelang. Hawa dingin sudut kota Cilacap kian menggigit. Senyap, pada sepi yang menelikung hati. Sendiri, dalam gelap. Terus menarikan jemari di atas keyboard laptop.
Sendiri, ku di sini. Di ruang yang dahulu pernah menorehkan prasasti sejarah untukku, kucoba kembali susun kepingan hati yang terserak, menyusunnya dengan penuh kehati-hatian agar tak ada celah setan menyusup.
Diam, aku belajar tafakuri. Derap rapat-rapat hati dengan dzikir agar tak ada tangis kesia-siaan.
Perlahan, ku obati luka atas goresan yang tersayat dalam hati, mengusapnya lembut, dengan sentuhan lantunan dzikir yang mulai terasa getarnya.
Bismillah…
Menjalani hidup sebagai anak korban broken home, tentunya kita tau seperti apa rasanya … tapi bukan ini yang akan aku paparkan dalam tulisan sederhanaku.
Ku sadari, bukan hal mudah menjalani peran sebagai anak korban broken home. Hingga kemudian, saat kaki ini mulai terasa lelah menapak alur skenario hidup, dalam pemberhentianku di antara terik untuk sejenak mengusap peluh, aku belajar menatap titah hidupku dari perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang menghijabi kebeningan hati.
Meskipun,
Broken home menjadikan aku pincang tanpa seorang ayah, buta dan tuli tanpa kesempurnaan cinta seorang ibu.
Tapi…
Broken home mengajariku, tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam penerimaan terhadap titahNya. Menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup, tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah. Broken home menuntunku untuk semakin mendekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadaranku bahwa keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak. Hanya dengan mendekat, bercakap dan memohon pada-Nya kedamaian hati itu aku dapat.
Broken home… menjadi penyemangat dalam kesungguhanku menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan kesemangatan ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik.
Broken home menjadi cambuk pelecut, atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai mempersiapkan diri agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang tuaku. Menuntunku untuk senantiasa berbenah menjadi manusia berkualitas agar kelak menjadi seorang ibu shalihah yang mampu mendidik anak-anakku dengan cinta dan berjalan seiring dengan suami membentuk keluarga harmonis yang dekat dengan Rabbnya.
Broken home memproteksi hatiku, mematikan rasa agar senantiasa terjaga kesuciannya, tak tersentuh oleh sosok yang tak semestinya dan menanggalkan pengharapan dalam penantian yang keliru. Karena hanya Allah, Allah sang pemilik hati. Dia yang akan menentukan pada siapa esok hati ini akan tertaut membentuk ikatan suci.
Menjadi anak korban broken home karena Allah mencintaiku lebih dari yang lain, Allah menginginkan aku tumbuh menjadi individu tangguh yang senantiasa dekat denganNya.
Menjadi anak korban broken home? Kenapa harus menangis (lagi)??!
Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambaNya yang SABAR dan TAK KENAL PUTUS ASA
Jangan menyerah Jangan menyerah Jangan menyerah
(d’masiv)
Saya tak pernah tahu alasan pasti mengapa saya ingin menjadi seorang penulis. Saya hanya mengikuti naluri saya. Naluri yang berkata bahwa menulis adalah gairah hidup saya yang dapat memberikan suatu sinergi positif bagi diri saya. Benar saja, sejak saya memutuskan untuk serius menulis, dukungan demi dukungan mengalir kepada saya. Saya pun jadi merasa lebih menikmati apa yang saya pilih. Perasaan senang menulis timbul dengan sendirinya. Tanpa saya harus paksakan, kegemaran menulis selalu melekat dihati saja. Awalnya saya sama sekali tidak punya modal menjadi seorang penulis kecuali kenekatan. Tapi, ada perkataan dari Stephen King yang membuat saya merasa mempunyai modal komplit untuk menjadi seorang penulis.

Stephen King bilang bahwa tiga modal untuk menjadi seorang penulis adalah Pena, Kertas dan Broken Home. Untuk point Pena dan Kertas pasti kalian sudah tahu maksudnya. Bahwa menjadi seorang penulis memang tak lepas dari apa yang dinamakan pena dan kertas. Tapi, menarik bagi saya adalah point ketiga yaitu broken home. Kenapa menjadi seorang penulis harus menjadi korban broken home? Menurut Ratih Kumala, broken home bisa menjadikan pelatuk dalam diri seorang penulis untuk megembangkan ide-idenya atau mencurahkan isi kesedihannya.

Terus terang, saya ini termasuk korban broken home. Entah ini hanya kebetulan semata, tetapi semenjak saya mendapat 'gelar' anak broken home saya lebih s**a menuangkan isi hati saja kedalam sebuah tulisan. Maupun cerita pendek atau puisi. Saya memang agak pendiam. Bagi orang yang tidak mengenal baik siapa saya pasti saya mengira saya sombong. Padahal,saya tak bermaksud bersombong. Tapi, memang saya agak tertutup dengan orang lain. Tidak semua yang saya alami, saya ceritakan kepada teman-teman saya. Biasanya saya hanya memendam semua rasa atau kadang menulisnya. Broken home tidak merubah hidup saya, tapi broken home merubah pandangan saya tentang hidup. Mungkin suatu saat saya akan berbagi cerita tentang rasanya menjadi seorang anak broken home.

Bukannya saya bangga menjadi anak broken home. Percaya deh, tidak ada anak yang ingin terlahir menjadi seorang anak broken home. Namun, Tuhan punya rencana lain bagi saya. Tuhan memberikan sebuah pelajaran berarti yang belum tentu orang lain dapatkan. Broken home menjadi motivasi saya untuk terus maju dan tak berlarut dalam kesedihan. Saya tak ingin kesedihan menenggelamkan segala cita saya. Broken home didalamnya mengandung luka. Dan seperti Sthepen King bilang, Broken home bisa menjadi pelecut seseorang untuk sukses.

Saya tidak tahu apa yang harusnya saya lakukan. Berbahagia dengan statement Stephen King itu atau malah sedih. Saya hanya mengikuti naluri untuk menjadi seorang penulis.

Harapan anak broken home akan menjadi pelengkap dalam menggapai cita saya yang masih berlari dalam menuju cita tersebut.

-PAS #

Address

Surabaya

Telephone

+62318796311

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when FORUM Konsultasi SISWA SMP ISLAM JIWA NALA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share