06/03/2026
Sang Pendidik Sejati, Pendidik Hati, Pendidik Ruhani, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Abuya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki, Seorang Alim Allamah, Al-Muhaddits (Pakar Hadits), Ahlu Baiti Rosulillah, Kaya Raya dan dermawannya tidak keukur. Dan itu diakui Ulama dunia, buka sekedar pengakuan muridnya. Rumah beliau tempat kedua yang dikunjungi di Makkah setelah Masjidil Haram. Bahka Habib Abdul Qodir bin Ahmad Asseggaf mengatakan “Termasuk kesempurnaan Haji ialah Ziaroh ke As-Sayyid Muhammad Al-Maliki”.
Beliau bukan sekadar seorang pendidik yang mentransfer ilmu. Beliau adalah pendidik hati, pendidik jiwa dan pembina akhlak. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi membentuk karakter orang-orang yang dididiknya.
Bahkan didikan itu beliau mulai dari rumahnya sendiri.
Suatu hari, ketika putra beliau Sayyid Alawi masih duduk di bangku sekolah dasar (jika di Indonesia), saat Sayyid Alawi mau berangkat sekolah, Abuya melihat buku tulis anaknya. Di cover buku itu tertulis nama:
“As-Sayyid Alawi.”
Begitu melihatnya, Abuya langsung mencoret kata “As-Sayyid” dari tulisan tersebut. Lalu beliau berkata kepada putranya:
“Jangan memakai gelar Sayyid sekarang. Nanti saja ketika engkau sudah mengajar dan berdakwah.”
Tidak berhenti di situ. Setelah itu Abuya langsung menelepon guru anaknya, yang juga merupakan santri beliau sendiri. Kepada guru tersebut Abuya berpesan:
“Mulai sekarang jangan panggil anak saya dengan sebutan Sayyid. Panggil saja Alawi. Biarkan dia belajar dahulu. Belum waktunya memakai gelar itu.”
Kemudian Abuya menyinggung seseorang -seorang anak dari ulama besar- yang ketika kecil terlalu diagung-agungkan oleh para santri ayahnya. Karena sejak kecil selalu dimuliakan, ia tidak pernah merasakan khidmah dan akhirnya tumbuh dengan sifat sombong.
Abuya tidak ingin hal itu terjadi pada anak-anaknya.
Beliau ingin mereka tumbuh dengan tawadhu’, rendah hati, dan bersih dari kesombongan.
Begitulah cara Abuya mendidik putra-putranya.
Dan hasil didikan itu terlihat nyata.
Kerendahan hati itu juga tampak pada para santri beliau. Banyak dari mereka menjadi ulama besar -baik dari kalangan kiai maupun habaib- namun tetap rendah hati, tidak berlebihan dalam penampilan, dan sangat tawadhu’ kepada siapa saja.
Salah satu contohnya adalah guru kami, Abina KH. Ihya Ulumiddin.
Suatu ketika, saat beliau sedang bersama Abuya dalam sebuah perjalanan di Malaysia, Abi Ihya menelpon seseorang. Karena orang yang ditelepon tidak mengetahui siapa yang berbicara, Abi Ihya spontan berkata:
“Ini saya, Ustadz Ihya.”
Mendengar itu, Abuya langsung menoleh kepadanya dan berkata:
“Ustadz? Engkau ustadz?”
Kemudian Abuya berkata dengan kalimat yang sangat dalam maknanya:
يا إحياء، ما زلتَ طالبًا
“Wahai Ihya’, engkau selamanya tetap seorang santri.”
MasyaAllah.
Begitulah cara Abuya menjaga hati murid-muridnya. Pastinya belia mengaakan itu bukan karena beliau sombong, tetapi Abuya mengingatkan agar benih kesombongan tidak pernah tumbuh di hati muridnya.
Didikan seperti inilah yang membentuk Abi Ihya. Sampai hari ini, kepada para santri beliau sendiri, Abi Ihya tidak pernah menulis “KH. Ihya” atau “Abi Ihya”.
Jika beliau menulis pesan kepada kami para santrinya, beliau menutupnya dengan kalimat:
محبكم، الطالب، إحياء علوم الدين
“Yang mencintai kalian, Kang Santri, Ihya’ Ulumiddin.”
MasyaAllah.
Begitulah didikan sang murabbi, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki.
Dan kami sendiri bisa menyaksikan buah dari didikan itu ketika berkumpul bersama para murid beliau.
Di antara mereka ada yang sudah sangat sepuh, ada yang memiliki ratusan bahkan puluhan ribu santri, ada p**a yang hanya mengajar sederhana di pesantren-pesantren kecil. Bahkan ada yang tidak punya pondok ataupun jama’ah, hanya ikut ngajar di pesantren temanya. Namun di antara mereka tidak ada sekat.
Santri lama dan santri yang baru p**ang dari Makkah sama saja.
Tidak ada perbedaan antara Kiyai besar, Habib besar, atau anak orang biasa.
Semua merasa satu keluarga.
Semua merasa sebagai anak-anak didik Abuya Al-Maliki.
Bahkan kami yang bukan siapa-siapa (hanya muhibbin yang s**a khidmah) ketika berkumpul bersama beliau-beliau, diperlakukan sama. Jika mereka makan enak, kami juga diajak makan bersama. Tidak ada yang menyendiri, semuanya duduk berbaur penuh kehangatan.
Inilah buah didikan seorang Murabbi Sejati.
Beliau mendidik ilmu,
mendidik akhlak,
mendidik jiwa,
dan mendidik cara bersikap.
Hingga akhirnya para murid beliau -baik dari kalangan Habaib maupun Kiai- tidak pernah membanggakan diri mereka, tidak membanggakan nasab mereka, tidak p**a membanggakan kedudukan mereka.
Yang mereka banggakan hanyalah satu:
Menjadi anak didik Abuya Al-Maliki.
Mereka menisbatkan diri kepada beliau dengan penuh cinta:
أولاد أبوي المالكي
Anak-anak didik Abuya Al-Maliki.
Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau.
رحمه الله تعالى رحمة واسعة