Madad Rosulullah

Madad Rosulullah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Madad Rosulullah, Sumber.

kami hadir sebagai oase dipadang tandus ... penyejuk sekaligus pelepas dahaga bagi para jiwa yang kering ...

semoga kehadiran halaman ini menjadi amal jariyah bisa bermanfaat bagi kita semua ...

Pendapat saya orang sakti itu adalah yang bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain ...
22/05/2026

Pendapat saya orang sakti itu adalah yang bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain ...

Keramat Burdah_________________________"Kisah Mimpi K.H Ahmad Maksum Lasem yang Mengubah Jalan Hidupnya"________________...
10/05/2026

Keramat Burdah
_________________________
"Kisah Mimpi K.H Ahmad Maksum Lasem yang Mengubah Jalan Hidupnya"
_________________________

KH Maksum Ahmad Lasem, dikenal dengan sebutan Mbah Maksum, adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang penuh dengan karomah. Kisah karomahnya sudah ditandai oleh gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, ketika Maksum muda masih masa ngaji. Walaupun tidak lama ngaji di Bangkalan, tapi Maksum muda sudah diakui keulamannya.

Selain kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Maksum muda juga pernah belajar di brbagai daerah, yakni ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), hingga Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi).

Setelah selesai mengembara, jadilah Maksum muda sosok kiai yang terkemuka dalam ilmu agama. Tapi setelah berkeluarga, waktunya Mbah Maksum banyak digunakan untuk urusan dagang. Sampai akhirnya dalam sebuah perjalanan di Semarang, Mbah Maksum tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Hal yang sama, ketika di Bojonegoro, Mbah Maksum antara tertidur dan terjaga, kembali bertemu dengan Kanjeng Rasul SAW.

“La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu.” Pesan Rasulullah SAW kepada Mbah Maksum.

Bahkan dalam suatu saat, di rumahnya sendiri, Mbah Maksum kembali bermimpi dengan Kanjeng Rasul. Dalam mimpinya, Mbah Maksum bersalaman dan setelah terjaga, tangannya masih wangi karena salaman dengan Kanjeng Nabi.

“Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Pesan Kanjeng Nabi.

Karena mimpi-mimpi ini, Mbah Maksum akhirnya konsultasi dengan sahabat dan gurunya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

“Mimpi itu sudah jelas. Tidak perlu ditafsirkan kembali.” Tegas Kiai Hasyim Asy’ari yang mendorong Mbah Maksum agar secepatnya fokus ngaji dan mendirikan pesantren di kampungnya.

Setelah itu, Mbah Maksum akhirnya berhenti berdagang dan fokus menetap di Lasem mendirikan Pesantren bernama Al-Hidayat. Fokus ngaji dengan para santri dan masyarakat.

___________________
📷 Mbah Ma'shum dan Istighosah Burdah
___________________
Alfaqir mendapatkan sanad Burdah sampai ke Sang Pengarang "Imam Al-Busiri" Dari Alm. KH. Zaen Abd Mannan Amin

Kisah Imam Nawawi — Ulama yang Hidup Singkat Tapi Menghidupkan UmatDi antara ulama besar sepanjang sejarah Islam, ada sa...
19/04/2026

Kisah Imam Nawawi — Ulama yang Hidup Singkat Tapi Menghidupkan Umat

Di antara ulama besar sepanjang sejarah Islam, ada satu nama yang hampir tidak pernah hilang dari majelis ilmu di seluruh dunia:

Imam Nawawi.

Beliau bukan raja.
Bukan panglima perang.
Bukan orang kaya.

Namun hingga hari ini…
namanya hidup di setiap masjid, pesantren, dan majelis ilmu.

Padahal usia hidupnya hanya 45 tahun.

Bagaimana mungkin?

_________________________________________

•> Masa Kecil yang Berbeda

Imam Nawawi lahir di kota kecil Nawa, wilayah Syam (Suriah), tahun 631 H.

Sejak kecil, tanda kesalehan sudah terlihat.

Anak-anak lain bermain di jalanan…

tetapi Imam Nawawi kecil:

• lebih s**a membaca Al-Qur’an,

• menangis ketika diajak bermain,

• merasa waktunya terlalu berharga untuk hal
sia-sia.

Ayahnya pernah melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.

Suatu malam Ramadhan, anak kecil itu tidak tidur,
tetapi terus membaca Al-Qur’an hingga fajar.

Sejak saat itu ayahnya sadar:

> Anak ini bukan anak biasa.

_________________________________________

•> Perjalanan Menuntut Ilmu

Pada usia sekitar 19 tahun, beliau pergi ke Damaskus, pusat ilmu dunia Islam saat itu.

Di sana beliau hidup sangat sederhana.

Bahkan disebutkan:

• Tidak menikah.

• Tidak mencari harta.

• Tidak mengejar jabatan.

• Hampir seluruh waktunya hanya untuk ilmu
dan ibadah.

Para murid meriwayatkan:

Imam Nawawi belajar 12 pelajaran setiap hari.

Beliau hampir tidak pernah berbaring untuk tidur.

Jika mengantuk…
beliau bersandar sebentar di kitab.

Lalu bangun lagi untuk belajar.

_________________________________________

•> Hidup Sangat Zuhud

Imam Nawawi menolak gaji dari pemerintah.

Makanan beliau sering hanya:

• roti kering,

• sedikit sayur,

• atau makanan kiriman keluarga.

Bahkan beliau tidak ingin tubuhnya sibuk menikmati dunia.

Karena satu tujuan beliau:

> Menghidupkan agama Rasulullah ﷺ melalui ilmu.

_________________________________________

•> Keberkahan yang Menggetarkan

Meski hidup singkat, karya beliau menjadi abadi.

Di antara kitab yang hampir dimiliki setiap muslim:

Riyadhus Shalihin — kump**an hadis tentang akhlak dan kehidupan.

Al-Arba’in An-Nawawiyyah — 40 hadis inti agama Islam.

Syarah Shahih Muslim — salah satu syarah hadis terbesar sepanjang sejarah.

Bayangkan…

Beliau wafat muda.

Namun jutaan orang hingga hari ini masih membaca pahala dari ilmunya.

Inilah makna sabda Nabi ﷺ:

> Jika manusia wafat, amalnya terputus kecuali ilmu yang bermanfaat.

_________________________________________

•> Keberanian di Hadapan Penguasa

Imam Nawawi tidak hanya alim — beliau juga berani membela kebenaran.

Suatu waktu penguasa meminta ulama mendukung kebijakan yang tidak adil.

Banyak orang diam.

Namun Imam Nawawi menolak.

Beliau berkata dengan tegas:

> Ulama tidak boleh menjual agama demi kekuasaan.

Akibatnya beliau diusir dari Damaskus.

Tetapi beliau lebih memilih kehilangan dunia
daripada kehilangan ridha Allah.

_________________________________________

•> Wafat yang Tenang

Pada usia 45 tahun, Imam Nawawi kembali ke kampung halamannya di Nawa.

Di sana beliau jatuh sakit.

Tidak lama kemudian…

ulama besar ini wafat.

Usia pendek.

Harta tidak banyak.

Rumah sederhana.

Namun peninggalannya…

menghidupkan iman jutaan manusia selama ratusan tahun.

_________________________________________

•> Hikmah Besar dari Kisah Imam Nawawi

• Umur panjang bukan ukuran keberkahan.
• Keikhlasan membuat amal kecil menjadi abadi.
• Ilmu yang ikhlas lebih kuat dari kekuasaan.
• Orang yang meninggalkan dunia karena Allah — justru dikenang dunia selamanya.

---

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝 𝙄𝙝𝙨𝙖𝙣 𝙅𝙖𝙢𝙥𝙚𝙨: 𝙎𝙖𝙣𝙜 "𝙂𝙝𝙖𝙯𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙅𝙖𝙬𝙖"𝐏𝐫𝐨𝐟𝐢𝐥 𝐒𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, ata...
26/03/2026

𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝 𝙄𝙝𝙨𝙖𝙣 𝙅𝙖𝙢𝙥𝙚𝙨: 𝙎𝙖𝙣𝙜 "𝙂𝙝𝙖𝙯𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙅𝙖𝙬𝙖"

𝐏𝐫𝐨𝐟𝐢𝐥 𝐒𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭
Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, atau yang akrab disapa Syekh Ihsan Jampes, adalah ulama kharismatik kebanggaan Kediri. Lahir pada tahun 1901 di Dusun Jampes, Desa Putih. Beliau merupakan putra dari KH. Dahlan bin Shaleh dan Nyai Artimah. Ayahnya adalah sosok di balik berdirinya Pondok Pesantren Jampes (kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Al-Ihsan).

𝐊𝐞𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐁𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮
Beliau dikenal dengan semboyan hidup yang inspiratif: "Tiada Hari Tanpa Membaca". Menariknya, meski tidak pernah mengenyam pendidikan langsung di Timur Tengah, penguasaan bahasa Arab dan kedalaman ilmu agama beliau diakui dunia.

Syekh Ihsan Jampes dikenang sebagai "Ghazali dari Tanah Jawa" karena karya-karyanya yang monumental. Beliau telah meninggalkan warisan intelektual yang tidak hanya bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia, tetapi juga di dunia .

Karya-karya monumental beliau, seperti Siraj al-Thalibin (syarah kitab Minhaj al-Abidin karya Imam Al-Ghazali), telah diterbitkan dan dipelajari di berbagai pusat keilmuan internasional, termasuk Mesir. Karya lainnya yang tak kalah masyhur adalah Tashrih al-Ibarat, Manahij al-Amdad, dan Irsyad al-Ikhwan.

𝐖𝐚𝐟𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮
Syekh Ihsan berp**ang ke Rahmatullah pada 16 September 1952 (25 Dzulhijjah 1371 H) dalam usia 51 tahun. Jasadnya disemayamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsan Jampes, Kediri. Hingga kini, makam beliau menjadi destinasi ziarah utama bagi umat Islam yang ingin mencari keberkahan.

𝐊𝐚𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐫𝐛𝐨𝐲𝐨 & 𝐉𝐚𝐦𝐩𝐞𝐬
Lirboyo dan jampes punya hubungan yg sangat erat. Kerena guru kami, Kiai Marzuqi Dahlan Lirboyo, adalah adik kandung dari Syekh Ihsan Al-Jampesy.

Ada dawuh dari sebagian ulama: "Sopo seng moco kitab-be Syekh Ihsan Jampes, uripe ora bakal apes" (Siapa yang membaca kitabnya Syekh Ihsan Jampes, hidupnya tidak akan apes).

Itulah alasan mengapa akhir² ini saya sering membagikan isi kitab beliau, Sirajut Thalibin. Niatnya semata-mata mengharap barokah (ngalap berkah) dari beliau.

Semoga Anda yang ikut menyimak penjelasan kitab² beliau di akun ini juga mendapatkan keberkahan.

Alhamdulillah ala kulli hall ...Maaf baru sempat buka halaman Madad Rosulullah lagi semenjak 10 ahir romadhon sengaja sa...
22/03/2026

Alhamdulillah ala kulli hall ...

Maaf baru sempat buka halaman Madad Rosulullah lagi semenjak 10 ahir romadhon sengaja saya fokuskan untuk bermunjat ...

Dan kini lebaran telah usai meski terlambat saya ucapkan minal aidin wal faizin ... Mohon maaf lahir dan batin ...

Setelah shalat Ied, orang-orang yang sholat terbagi menjadi dua kelompok: sebagian dari mereka p**ang ke rumah dengan pe...
18/03/2026

Setelah shalat Ied, orang-orang yang sholat terbagi menjadi dua kelompok: sebagian dari mereka p**ang ke rumah dengan penuh kegembiraan (tertawa riang), dan sebagian lainnya pergi ke pemakaman sambil menangis.

Perang antara kekaisaran Persia dan Romawi berlangsung selama 700 tahun, di mana mereka bertempur lebih dari 1000 kali, ...
06/03/2026

Perang antara kekaisaran Persia dan Romawi berlangsung selama 700 tahun, di mana mereka bertempur lebih dari 1000 kali, hingga Khalid ibn al-Walid datang dan menghancurkan kedua kekaisaran tersebut hanya dalam waktu 4 tahun.

Ia mengalahkan Persia dalam 15 pertempuran hingga negara mereka runtuh, dan ia mengakhiri kehadiran Romawi, yang telah berlangsung di Timur selama seribu tahun, setelah mengalahkan mereka dalam 9 pertempuran.

Mereka bahkan bersatu dalam Pertempuran Al-Furat pada tahun 12 Hijriah dengan 200.000 pejuang di tepi Sungai Eufrat... Namun Khalid meraih kemenangan atas mereka hanya dengan 15.000 prajurit dan atas izin Allah Subhanawata'alla.

- Jika Anda sudah selesai membaca, jangan lupa sholawat untuk Nabi.
"Allahumma sholi ala Muhammad wa'ala ali Muhammad "

berat

1000 BULAN vs 1 MALAM: Hitungan Matematis yang Gila atau Fakta Ilmiah?Coba pikir. Rata-rata umur manusia mungkin 60-70 t...
06/03/2026

1000 BULAN vs 1 MALAM: Hitungan Matematis yang Gila atau Fakta Ilmiah?

Coba pikir. Rata-rata umur manusia mungkin 60-70 tahun. Lalu tiba-tiba ada “malam” yang nilainya setara dengan 83 tahun lebih (1000 bulan). Logika mana yang bisa menerima ini? Apakah ini hanya janji surgawi, atau ada skenario kosmik yang sengaja Allah atur di malam itu?

Berhenti melihat Lailatul Qadar hanya sebagai ritual. Malam ini adalah fenomena multidimensi. Dan sains, dengan segala keterbatasannya, mulai bisa mencium keanehan malam yang satu ini.

MENGAPA MALAM ITU TERASA "SEJUK"?

Bukan perasaanmu saja. Malam itu benar-benar lebih sejuk secara fisik.

Ahrens (2012) dalam Meteorology Today menjelaskan bahwa kombinasi tekanan udara dan kelembapan yang ideal bisa menciptakan kondisi "termal nyaman". Di malam Lailatul Qadar, angin biasanya tenang, suhu stabil.
Artinya? Allah menciptakan kondisi lingkungan yang paling prima untuk ibadah. Alam sedang diam, agar suaramu yang terdengar oleh-Nya.

Hadits menyebut malam itu "cerah dan tenang". Sains menyebut ini atmospheric window.

Phillips (2017) bilang, angin stratosfer bisa membersihkan partikel aerosol, mengurangi polusi cahaya. Hasilnya? Langit jadi transparan.

Mata fisikmu mungkin melihat bintang lebih terang, mata hatimu mungkin melihat "pintu langit" sedang dibuka. Apakah ini kebetulan? Atau desain untuk memberi tanda pada orang-orang yang berakal?

Ciri paling ikonik: Pagi harinya matahari terbit "tanpa sinar yang menyilaukan", seperti bejana perak.

Bohren & Huffman (1998) menjelaskan ini sebagai fenomena hamburan cahaya.

Malam sebelumnya, atmosfer "dicuci" (mungkin oleh ketenangan angin dan pengurangan partikel), sehingga saat pagi, cahaya merah/kuning matahari terhambur minimal.
Matahari terbit lembut, seolah alam sedang menjaga suasana khusyuk itu tetap terasa hingga pagi.

Tiba-tiba hati jadi tenang, damai luar biasa, bahkan mungkin menangis tanpa sebab. Itu bukan cuma soal "emosi".
Persinger (2003) dalam Neuropsychological Bases of God Beliefs menyebut aktivitas geomagnetik bumi bisa memicu pola gelombang otak yang rileks (gelombang Alpha/Theta).
Bayangkan jika malam itu bertepatan dengan titik di mana gangguan elektromagnetik bumi minimal. Batin jadi adem, fokus ibadah maksimal. Sains menyebutnya "kondisi psikologis optimal", kita menyebutnya "Malaikat turun membawa kedamaian".

Jangan remehkan kekuatan keyakinan.
Koenig et al. (2012) dalam Handbook of Religion and Health membuktikan bahwa ekspektasi spiritual dan ibadah (doa, meditasi) secara signifikan menurunkan kortisol (hormon stres).
Mereka yang meyakini dan mencari Lailatul Qadar secara psikologis lebih siap menerima kedamaian. Ditambah kondisi lingkungan yang mendukung (sejuk, langit cerah), maka "pengalaman spiritual" menjadi ledakan yang luar biasa dahsyatnya.

Sains menjelaskan bagaimana mekanismenya (tata surya, atmosfer, gelombang otak). Spiritual menjelaskan mengapa dan siapa di balik mekanisme itu.

Ada yang bilang ini hanya kebetulan alam. Tapi bagi yang beriman, ini adalah "tanda" (ayat) bagi orang-orang yang berpikir.
Jadi, malam ini jangan cari "malam seribu bulan".

Bagaimana menurutmu?

Tak terasa sudah malam 17 Ramadhan ...Selamat malam dimalam Nuzulul Qur'an ...Semoga kita bisa menjalankan puasa dengan ...
06/03/2026

Tak terasa sudah malam 17 Ramadhan ...

Selamat malam dimalam Nuzulul Qur'an ...

Semoga kita bisa menjalankan puasa dengan sempurna ...

Sang Pendidik Sejati, Pendidik Hati, Pendidik Ruhani, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.Abuya As-Sayy...
06/03/2026

Sang Pendidik Sejati, Pendidik Hati, Pendidik Ruhani, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

Abuya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki, Seorang Alim Allamah, Al-Muhaddits (Pakar Hadits), Ahlu Baiti Rosulillah, Kaya Raya dan dermawannya tidak keukur. Dan itu diakui Ulama dunia, buka sekedar pengakuan muridnya. Rumah beliau tempat kedua yang dikunjungi di Makkah setelah Masjidil Haram. Bahka Habib Abdul Qodir bin Ahmad Asseggaf mengatakan “Termasuk kesempurnaan Haji ialah Ziaroh ke As-Sayyid Muhammad Al-Maliki”.

Beliau bukan sekadar seorang pendidik yang mentransfer ilmu. Beliau adalah pendidik hati, pendidik jiwa dan pembina akhlak. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi membentuk karakter orang-orang yang dididiknya.

Bahkan didikan itu beliau mulai dari rumahnya sendiri.

Suatu hari, ketika putra beliau Sayyid Alawi masih duduk di bangku sekolah dasar (jika di Indonesia), saat Sayyid Alawi mau berangkat sekolah, Abuya melihat buku tulis anaknya. Di cover buku itu tertulis nama:

“As-Sayyid Alawi.”

Begitu melihatnya, Abuya langsung mencoret kata “As-Sayyid” dari tulisan tersebut. Lalu beliau berkata kepada putranya:

“Jangan memakai gelar Sayyid sekarang. Nanti saja ketika engkau sudah mengajar dan berdakwah.”

Tidak berhenti di situ. Setelah itu Abuya langsung menelepon guru anaknya, yang juga merupakan santri beliau sendiri. Kepada guru tersebut Abuya berpesan:

“Mulai sekarang jangan panggil anak saya dengan sebutan Sayyid. Panggil saja Alawi. Biarkan dia belajar dahulu. Belum waktunya memakai gelar itu.”

Kemudian Abuya menyinggung seseorang -seorang anak dari ulama besar- yang ketika kecil terlalu diagung-agungkan oleh para santri ayahnya. Karena sejak kecil selalu dimuliakan, ia tidak pernah merasakan khidmah dan akhirnya tumbuh dengan sifat sombong.

Abuya tidak ingin hal itu terjadi pada anak-anaknya.

Beliau ingin mereka tumbuh dengan tawadhu’, rendah hati, dan bersih dari kesombongan.

Begitulah cara Abuya mendidik putra-putranya.

Dan hasil didikan itu terlihat nyata.

Kerendahan hati itu juga tampak pada para santri beliau. Banyak dari mereka menjadi ulama besar -baik dari kalangan kiai maupun habaib- namun tetap rendah hati, tidak berlebihan dalam penampilan, dan sangat tawadhu’ kepada siapa saja.

Salah satu contohnya adalah guru kami, Abina KH. Ihya Ulumiddin.

Suatu ketika, saat beliau sedang bersama Abuya dalam sebuah perjalanan di Malaysia, Abi Ihya menelpon seseorang. Karena orang yang ditelepon tidak mengetahui siapa yang berbicara, Abi Ihya spontan berkata:

“Ini saya, Ustadz Ihya.”

Mendengar itu, Abuya langsung menoleh kepadanya dan berkata:

“Ustadz? Engkau ustadz?”

Kemudian Abuya berkata dengan kalimat yang sangat dalam maknanya:

يا إحياء، ما زلتَ طالبًا
“Wahai Ihya’, engkau selamanya tetap seorang santri.”

MasyaAllah.

Begitulah cara Abuya menjaga hati murid-muridnya. Pastinya belia mengaakan itu bukan karena beliau sombong, tetapi Abuya mengingatkan agar benih kesombongan tidak pernah tumbuh di hati muridnya.

Didikan seperti inilah yang membentuk Abi Ihya. Sampai hari ini, kepada para santri beliau sendiri, Abi Ihya tidak pernah menulis “KH. Ihya” atau “Abi Ihya”.

Jika beliau menulis pesan kepada kami para santrinya, beliau menutupnya dengan kalimat:

محبكم، الطالب، إحياء علوم الدين
“Yang mencintai kalian, Kang Santri, Ihya’ Ulumiddin.”

MasyaAllah.

Begitulah didikan sang murabbi, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki.

Dan kami sendiri bisa menyaksikan buah dari didikan itu ketika berkumpul bersama para murid beliau.

Di antara mereka ada yang sudah sangat sepuh, ada yang memiliki ratusan bahkan puluhan ribu santri, ada p**a yang hanya mengajar sederhana di pesantren-pesantren kecil. Bahkan ada yang tidak punya pondok ataupun jama’ah, hanya ikut ngajar di pesantren temanya. Namun di antara mereka tidak ada sekat.

Santri lama dan santri yang baru p**ang dari Makkah sama saja.
Tidak ada perbedaan antara Kiyai besar, Habib besar, atau anak orang biasa.

Semua merasa satu keluarga.

Semua merasa sebagai anak-anak didik Abuya Al-Maliki.

Bahkan kami yang bukan siapa-siapa (hanya muhibbin yang s**a khidmah) ketika berkumpul bersama beliau-beliau, diperlakukan sama. Jika mereka makan enak, kami juga diajak makan bersama. Tidak ada yang menyendiri, semuanya duduk berbaur penuh kehangatan.

Inilah buah didikan seorang Murabbi Sejati.

Beliau mendidik ilmu,
mendidik akhlak,
mendidik jiwa,
dan mendidik cara bersikap.

Hingga akhirnya para murid beliau -baik dari kalangan Habaib maupun Kiai- tidak pernah membanggakan diri mereka, tidak membanggakan nasab mereka, tidak p**a membanggakan kedudukan mereka.

Yang mereka banggakan hanyalah satu:

Menjadi anak didik Abuya Al-Maliki.

Mereka menisbatkan diri kepada beliau dengan penuh cinta:

أولاد أبوي المالكي

Anak-anak didik Abuya Al-Maliki.

Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau.

رحمه الله تعالى رحمة واسعة

Address

Sumber

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Madad Rosulullah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share