Persekutuan Doa SION SoE

Persekutuan Doa SION SoE Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Persekutuan Doa SION SoE, Church, Jalan Bill Nope, Soe.

Janganlah kuatir akan apa pun, tetapi dalam segala hal dengan doa dan permohonan serta ucapan syukur biarlah permohonanm...
07/04/2026

Janganlah kuatir akan apa pun, tetapi dalam segala hal dengan doa dan permohonan serta ucapan syukur biarlah permohonanmu diberitahukan kepada Tuhan.

Dan damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan menjaga hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.​

Filipi 4:6-7

Jangan kuatir, Tuhan punya kuasa atas masa depanmu. Percayalah 😇🙌🏻 . . . .
03/09/2025

Jangan kuatir, Tuhan punya kuasa atas masa depanmu. Percayalah 😇🙌🏻 . . . .

31/01/2025

Keluaran 25:1-9

Berikan yang Terbaik bagi Tuhan!

Makin sulit kehidupan, makin banyak orang yang mempertimbangkan untung dan rugi dalam memberi. Jangan heran jika orang makin ragu dan tidak rela untuk memberikan bantuan atau sumbangan kepada siapa pun, apalagi untuk memberikan persembahan kepada Tuhan.

Ketika Musa berada di dalam hadirat TUHAN di atas Gunung Sinai, ia mendapat petunjuk dari-Nya. Ia harus mengatakan kepada orang Israel bahwa mereka harus memungut persembahan khusus bagi TUHAN. Uniknya, persembahan itu bukan dari orang-orang yang dipaksa, melainkan dari mereka yang tergerak hatinya (1-2).

Dalam firman-Nya, TUHAN menyebutkan segala perincian tentang persembahan khusus yang harus dipungut dan diberikan kepada-Nya (3-7). TUHAN juga menunjukkan pola tentang Tempat Kudus yang harus dibangun bagi-Nya dan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk beribadah kepada-Nya (8-9).

Semua hal di atas menunjukkan bahwa menjadi umat Allah berarti melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan keinginan Musa atau orang Israel sendiri. Begitu pun dengan kita sebagai orang percaya. Apa yang Allah minta, itulah yang kita berikan; apa yang Allah tunjukkan kepada kita, itulah yang kita lakukan.

Janganlah kita enggan untuk memberi bagi Tuhan, dan janganlah kita hanya memberi sisa! Berilah persembahan dengan kesadaran bahwa kita sendiri sudah menerima dan menikmati banyak sekali kebaikan Tuhan. Hendaklah kita semua tergerak hatinya untuk menyenangkan Tuhan.

Dengan demikian, kita akan menjadi orang percaya yang selalu sadar bahwa apa yang sudah dikerjakan Tuhan dalam hidup kita tidaklah sebanding dengan apa pun yang ada di dunia ini, dan bahwa sudah sepatutnya bagi kita untuk memberikan yang terbaik bagi-Nya. Jadilah pribadi-pribadi yang memberi tanpa harus memperhitungkan untung dan rugi karena itu semua merupakan bentuk syukur kita kepada Tuhan. Biarlah melalui pemberian kita, sesama diberkati dan Tuhan dipermuliakan.

30/05/2020

Lakukan Apa Saja

Baca: Pengkhotbah 2:17-25

Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? —Pengkhotbah 2:25

Dalam sebuah film yang dirilis baru-baru ini, seseorang yang menyebut dirinya sendiri “jenius” nyerocos di depan kamera tentang “kengerian, korupsi, ketidakpedulian, dan kemiskinan” dunia, dan menyatakan bahwa kehidupan ini tidak bertuhan dan konyol. Meski pemikiran seperti itu tidak asing dalam banyak naskah film modern, yang menarik di bagian akhir, si tokoh utama mendesak penonton untuk melakukan apa saja demi meraih kebahagiaan. Baginya, hal itu termasuk meninggalkan moralitas tradisional.

Namun, dapatkah kita memperoleh kebahagiaan dengan “melakukan apa saja”? Menghadapi keputusasaannya atas masalah-masalah dalam hidup ini, penulis Pengkhotbah di Perjanjian Lama sudah pernah mencoba untuk mencari kebahagiaan melalui kesenangan dan sukacita (Pkh. 2:1,10), melalui pekerjaan-pekerjaan besar (ay.4-6), melalui kekayaan (ay.7-9), dan melalui upaya memperoleh hikmat (ay.12-16). Kesimp**annya? “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (ay.17). Tidak ada sesuatu pun yang kebal dari kematian, bencana, atau ketidakadilan (5:13-17).

Hanya satu yang membawa penulis Pengkhotbah keluar dari keputusasaan. Meski didera oleh berbagai pencobaan hidup, kita dapat menemukan kepuasan ketika Allah menjadi bagian dari hidup dan karya kita: “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (2:25). Hidup terkadang terasa tidak berarti, tetapi “ingatlah akan Penciptamu” (12:1). Jangan buang-buang tenaga untuk mencoba memahami hidup, melainkan “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (ay.13).

Tanpa Allah sebagai pusat hidup kita, kenikmatan dan kepedihan hidup hanya akan membawa kita kepada kekecewaan

🙏😇
30/05/2020

🙏😇

15/03/2020

Tema : Sudah Dibayar Lunas

Maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda. —Ulangan 26:12
“Apa yang kau alami?” tanya Zeal, seorang pengusaha Nigeria, sambil membungkukkan badannya di atas salah satu ranjang rumah sakit di Lagos. “Luka tembak,” jawab si pemuda yang pahanya diperban. Meski sudah cukup sehat untuk kembali ke rumah, pemuda itu tidak bisa p**ang sebelum ia menyelesaikan tagihan rumah sakit—kebijakan yang diberlakukan di banyak rumah sakit pemerintah di wilayah tersebut. Setelah berkonsultasi dengan seorang pekerja sosial, Zeal diam-diam menanggung pembayaran tagihan tersebut melalui lembaga amal yang pernah ia dirikan sebagai wujud nyata dari imannya. Ia berharap orang-orang yang telah menerima berkat kebebasan itu kelak akan memberkati orang lain juga.

Membagikan berkat Allah kepada sesama merupakan tema yang muncul di sepanjang Alkitab. Misalnya, ketika Musa memberitahukan cara hidup di Tanah Perjanjian kepada orang Israel, ia meminta mereka untuk mengembalikan milik Allah terlebih dahulu (lihat Ul. 26:1-3) dan mempedulikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan—orang asing, yatim piatu, dan para janda (ay.12). Karena tinggal di “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (ay.15), mereka harus rela menunjukkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkan.

Kita juga dapat menyebarkan kasih Allah dengan cara membagikan harta yang kita punya, dalam jumlah besar atau kecil. Mungkin kita tidak memiliki kesempatan untuk memberi secara pribadi seperti yang dilakukan Zeal, tetapi kita dapat meminta Allah untuk menunjukkan pertolongan seperti apa yang dapat kita berikan dan siapa yang membutuhkan bantuan kita.

25/02/2020

Kiranya Yesus memurnikan kerinduan hati kita dan menjadikan kita kaya di hadapan Allah!

10/09/2019

Aku Tidak Takut Bahaya

Baca: Mazmur 23

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4

Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.

Namun, ia juga menulis tentang imannya yang teguh kepada Allah. Di saat-saat tergelapnya, ketika ketakutan nyaris melumpuhkannya, Beals berulang kali mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipelajarinya sejak kecil dari neneknya. Saat mengucapkannya, Beals diingatkan kembali akan penyertaan Allah, dan Alkitab memberinya keberanian untuk bertahan.

Beals sering mengucapkan Mazmur 23 dan sangat terhibur dengan menyatakan bagian ini: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (ay.4). Selain itu, ia juga dikuatkan oleh dorongan semangat dari sang nenek yang selalu meyakinkannya bahwa Allah “sangat dekat denganmu, dan kau hanya perlu berseru kepada-Nya bila membutuhkan pertolongan.”

Meskipun situasinya mungkin berbeda, kita pasti akan mengalami masa-masa sulit dan keadaan menakutkan yang mudah membuat kita menyerah. Di saat-saat itulah, kiranya hati Anda dikuatkan oleh kebenaran tentang kuasa kehadiran Allah yang akan selalu menyertai kita.

06/09/2019

Perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18) tertulis di dalam pasal yang berisi berbagai peraturan hidup saleh yang senada dengan Sepuluh Perintah Allah. Imamat 19:18—seperti halnya Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:17)—adalah mengenai tanggung jawab terhadap sesama.

Namun, perintah itu lebih mendalam sifatnya dengan menyatakan bahwa tanggung jawab kita terhadap sesama ialah juga mengasihi, dan bukan hanya kepada anggota umat Allah, tetapi juga kepada “orang asing” (Imamat 19:34).

Yesus mengutip hukum kasih itu sebagai tindak lanjut dari kasih kita kepada Allah: "Hukum yang terutama ialah . . . Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:29-31). —Alyson Kieda

15/08/2019

WAWASAN

Yohanes 14:1-6 adalah perikop terkenal berisi perkataan Yesus bahwa Dialah jalan, kebenaran dan hidup. Kemudian Dia berbicara tentang kepergian-Nya untuk menyediakan tempat bagi pengikut-Nya. Sebagai orang percaya, kita menantikan saatnya untuk bersama dengan Kristus kelak (ay.3). Namun, perkataan itu pasti terdengar sangat berbeda di telinga murid-murid. Bagi kita, kata-kata tersebut meyakinkan bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu muka dengan Yesus, tetapi bagi para murid, pertemuan itu adalah reuni.

Inti perikop ini bukan tempat di rumah Bapa, melainkan kebersamaan dengan Yesus. Dia akan kembali untuk menjemput para pengikut-Nya supaya di mana Dia berada, di situ p**a mereka berada (ay.3). Bersama dengan Yesus menjadi penghiburan yang Dia berikan kepada para murid-Nya dahulu, hal yang sama juga Dia tawarkan kepada kita.

14/08/2019

Ilusi Memegang Kendali

Baca: Yakobus 4:13-17

Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. —Yakobus 4:14

Penelitian Ellen Langer pada tahun 1975 yang berjudul “The Illusion of Control” (Ilusi Memegang Kendali) dilakukan untuk menguji seberapa besar manusia dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Ia menemukan bahwa sering kali kita terlalu berlebihan dalam mengukur pengaruh kita terhadap berbagai situasi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bagaimana kenyataan hampir selalu menghancurkan ilusi kita.

Kesimp**an Langer tersebut didukung oleh percobaan-percobaan yang dilakukan oleh pihak-pihak lain setelah studi awal itu diterbitkan. Namun, sebenarnya di dalam Alkitab, Yakobus sudah terlebih dahulu mengidentifikasi fenomena tersebut jauh sebelum Langer menemukannya. Dalam Yakobus 4, ia menulis, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ay.13-14).

Lalu Yakobus memberikan solusi agar kita tidak merasa seolah-olah dapat mengendalikan hidup kita, dengan mengarahkan kita kepada satu-satunya Pribadi yang memegang kendali total atas segalanya: “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (ay.15). Hanya dalam beberapa ayat, Yakobus sudah menyebutkan tentang kegagalan utama dalam diri manusia serta cara mengatasinya.

Kiranya kita mengerti bahwa masa depan tidak tergantung pada diri kita sendiri. Karena Allah saja yang memegang kendali atas segala sesuatu, kita dapat mempercayai rencana-Nya bagi kita!

Address

Jalan Bill Nope
Soe
8511

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Persekutuan Doa SION SoE posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Persekutuan Doa SION SoE:

Share

Category