PD PGNW Lombok Timur

PD PGNW Lombok Timur PG Aktifkan

Pimpinan Daerah Persatuan Guru Nahdlatul Wathan Lombok TimurMengucapkan:Selamat & SuksesPengajian Silaturrahim Pengurus ...
17/01/2023

Pimpinan Daerah Persatuan Guru Nahdlatul Wathan Lombok Timur
Mengucapkan:

Selamat & Sukses
Pengajian Silaturrahim Pengurus Besar Nahdlatul Wathan
di Cabang NW Kopang (Selasa, 17 Januari 2023)





Awal tahun 2023, Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW) mulai turun silaturrahmi dalam rangka penguatan kapasitas PGNW t...
09/01/2023

Awal tahun 2023, Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW) mulai turun silaturrahmi dalam rangka penguatan kapasitas PGNW terhadap Guru dan Madrasah Nahdlatul Wathan, sekaligus sebagai ruang penyampaian aspirasi dan sinkronisasi program.

Kali ini, Cabang Masbagik memiliki kesempatan pertama untuk dikunjungi sekaligus dalam rangka konsolidasi menyatukan persepsi membangun visi misi organisasi, Sabtu, 7 Januari 2023.

Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Majidiyah NW Kesik tersebut juga dirangkai dengan pengukuhan pengurus cabang PGNW Masbagik. Dihadiri Pimpinan Yayasan dan Lembaga Pendidikan yang dikelola di Kecamatan Masbagik.

Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul, Lale Yaqutunnafis dalam sambutannya menceritakan sejarah perjuangan Maulana Syaikh sebagai seorang Guru yang hadir di tengah gelapnya kehidupan masyarakat Lombok wabil khusus masyarakat Pancor pada waktu itu.

Saat menimba ilmu di Tanah Suci Makkah Almukarromah, kata dia, Maulana Syaikh Zainuddin mendapatkan perintah dari Gurunya untuk pulang ke Lombok dan menghidupkan Agama Islam.

Pada zaman itu, lanjut dia, Maulana Syaikh Zainuddin menyadari kehidupan masyarakat sehingga membangun lembaga pendidikan informal yakni Pesantren pertama bernama Al-Mujahidin yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Madrasah Nahdlatul Wathan.

Kemudian Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sebagai wadah Pendidikan kaum Laki-laki dan kemudian lahirlah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), dimana itu semua menjadi simbol kelahiran dan pergerakan sebuah wadah Guru yang menjadi lentera ditengah kegelapan.

Lanjutnya, Maulana Syaikh mengabadikan nasihat dan perintah dalam Wasiat Renungan Masa yang mengisyaratkan bahwa Guru Nahdlatul Wathan harus tampil ke depan mengambil peran secara sadar untuk menghidupkan bangsa.

Petikan nasihat itu, kata dia, “Buka Madrasah Desa dan Dasan, agar tersebar ajaran Tuhan, HIMMAH Pemuda terus tonjolkan, Ikatan Pelajar PG Aktifkan”.

“Demikianlah doktrin semangat yang beliau abadikan dalam nasihat beliau yang menjadi pedoman warga NW untuk menjalankan roda organisasi melalui underbonya,” tegasnya

Ummy Yaqut juga menambahkan bahwa Persatuan Guru Nahdlatul Wathan harus benar-benar ada dan bergerak sampai tingkat komisariat, yakni di Madrasah-madrasah NW dimana saja berada agar semua orang terutama Guru Nahdlatul Wathan mengenal rumah besar perjuangannya yang merupakan amanat dari pendirinya yang sekaligus seorang Pahlawan Nasional asal Lombok.

Mengakhiri sambutannya, Ummi memberikan ucapan selamat kepada pengurus yang telah dikukuhkan, sekaligus menekankan agar PGNW aktif bergerak memberikan sumbangsih nyata kepada Guru dan Madrasah NW.

Sementara Pimpinan Daerah Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PD-PGNW) Lombok Timu, HL. Budi Karyawan dalam sambutannya memaparkan program kerja PGNW Lombok Timur dalam rangka menjawab instruksi serta arahan organisasi dalam rangka penguatan kapasitas.

Ketua PGNW Lombok Timur itu mengisyaratkan agar semua pergerakan dimulai dengan data, sehingga pergerakan menjadi terarah dan memiliki instrument yang dapat dipantau serta dievaluasi secara berkala dalam mewujudkan cita-cita luhur pendiri NW untuk mengaktifkan PGNW.

Ia juga memberikan ilustrasi betapa pentingnya bergerak menggunakan data, sebab dengan data dapat membedakan antara sebuah asumsi dan fakta.

Oleh karena itu, jelas dia, momen awal tahun 2023 PGNW Lombok Timur benar-benar mengakselerasi pergerakan dengan mulai menghimpun data sebaran Madrasah NW, Guru dan Santri sebagai modal awal untuk mengatur langkah dan strategi yang akan dijalankan dalam menghidupkan roda PGNW.

Ia juga menyampaikan terkait dengan program beasiswa santri berprestasi, pembinaan guru berprestasi serta program stimulus bagi Madrasah-madrasah NW yang dipandang layak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan dana bantuan bergilir dari PGNW.

Hal itu, lanjut dia, agar Madrasah-madrasah NW secara khusus tidak melulu mengharapkan bantuan dan belas kasihan pemerintah dalam mengembangkan serta melengkapi fasilitas pendidikan disetiap Madrasah NW. “Keberadaan PGNW harus benar-benar terasa hadir memberikan manfaat bagi NW dengan segala furu’nya,” ujarnya

Masih kata dia, profesi Guru sangat dimuliakan oleh Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak bangga dan penuh syukur berprofesi sebagai guru.

“Jangan sekali-kali kemuliaan itu justru kita nodai dengan tidak melakukan dan menghadirkan kebermanfaatan atas profesi mulia kita,” kata HL. Budi Karyawan selaku Kepala SMA Ulil Albaab NW Gegek.

Diakhir sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran organisasi dari unsur Cabang NW, Pimpinan Cabang PGNW beserta seluruh badan otonom yang telah mensukseskan kegiatan tersebut. “Semoga Allah meridhoi langkah dan perjuangan kita semua,” tutupnya.***

Barakallah Fii Umrik ke- 42 TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani || 06 Januari 1981 - 06 Januari 2023 ||
06/01/2023

Barakallah Fii Umrik ke- 42 TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani || 06 Januari 1981 - 06 Januari 2023 ||

*SEMINAR NASIONAL*PERINGATAN HARI IBU TAHUN 2022Selain sebagai alat komunikasi, bahasa ibu juga menjadi media pembelajar...
21/12/2022

*SEMINAR NASIONAL*
PERINGATAN HARI IBU TAHUN 2022

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa ibu juga menjadi media pembelajaran individu untuk mengenal lingkungan, budaya, dan norma. Dari segi literasi, penggunaan bahasa ibu yang dikemas secara sistematis juga dapat menambah kemampuan membaca dan menulis siswa dalam bahasa Indonesia.
Melihat pentingnya bahasa ibu, maka FKIP UNW Mataram bekerja sama dengan Asosiasi LPTK NTB, dan Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW) didukung oleh INOVASI menyelenggarakan SEMINAR NASIONAL dengan tema "Penguatan Literasi melalui Bahasa Ibu".

🗓️ Kamis, 22 Desember 2022
⏱️ 08.30 Wita–selesai
📍Luring: Aula Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
🌐 Daring: https://bit.ly/seminarbahasaibu

Pendaftaran: http://bit.ly/seminarhariibu2022
Fasilitas: Ilmu yang bermanfaat, Sertifikat, & Kudapan

Narahubung: 08175716645

https://youtu.be/8irpSm-r5Bs
10/11/2022

https://youtu.be/8irpSm-r5Bs

Upacara bendera memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022Komplek Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan AnjaniIIMarilah sejenak kita menghening...

SERAH MAYUNG SEBUNGKUL ?(Konsep Mengikhlaskan dalam Pendidikan)Dalam hasanah etimologi sasak Lombok, para pendahulu dan ...
22/09/2022

SERAH MAYUNG SEBUNGKUL ?
(Konsep Mengikhlaskan dalam Pendidikan)

Dalam hasanah etimologi sasak Lombok, para pendahulu dan orang tua kita sering menggunakan istilah "Serah Mayung Sebungkul" dalam prosesi menyerahkan anak atau putra putrinya kepada guru, ustad, kyai di madrasah, pesantren atau dilembaga pendidikan lainnya, dengan kepentingan untuk dididik atau diberikan ilmu.

Prosesi "Serah Mayung Sebungkul" adalah proses di mana orang tua yang membawa anaknya untuk diserahkan ke tempat menuntut ilmu (ngaji) atau ketempat ia akan dibimbing oleh guru atau ustadznya.

Jenis etimoligis-semiotis ini tidak hanya sekedar "ijab- kabul" antara orang tua siswa atau santri dengan guru (ustad,kyai, tuan Guru). Tidak hanya semata mata bentuk ungkapan verbal. Namun, makna simbolis, filosofis dan efistemologis dari ungkapan "Serah Mayung Sebungkul" itu, memiliki dimensi makna yang universal, sarat dengan nilai dan prinsip dasar. Khusunya, dalam konteks kesungguhan belajar atau ketulusan saling menerima dan memberi dalam menuntut ilmu.

Kepada beberapa orang tua dan tokoh (narasumber) yang pernah saya wawancarai tentang konsep "Serah Mayung Sebungkul", justru memberikan penjelasan yang sangat ekstrim. Dimaknai, bahwa orang tua yang menyerahkan atau mengantar anaknya untuk mengaji atau untuk menuntut ilmu kepada sang guru, diibaratkannya menyerahkan "mayung" atau menjangan utuh kepada guru, sebungkul (utuh) sebagai bentuk ketulusan, kerelaan, keikhlasan dan totalitas, agar putra -putrinya dididik oleh guru tidak setengah-setengah.

Lanjutannya adalah, setelah mayung (menjangan) diserahkan dan sang guru/ ustad menerima, maka pihak yang diserahkan (penerima) diberikan dan memiliki hak utuh (sebungkul) untuk membuatnya menjadi apa saja yang enak, dan dengan cara atau metode apapun yang di anggap tepat, untuk tujuan manfaat dan kebaikan.

Dalam praktik pendidikan kita hari ini, konsep dan tradisi hasanah sakral sarat makna ini, sudah hampir ditinggalkan bahkan dilupakan, terlebih pada pendidikan formal persekolahan. Pendidikan yang secara berimbang, yang idealnya selalu memerlukan reward and punishment, mulai parsial dan bias dalam praktiknya, sehingga proses pendidikan selalu berjalan setengah wujud setengah rupa.

Guru atau ustad, dibuat harus ekstra hati-hati, menghadapi anak didiknya, apapun jenis dan bentuk kelakuan atau penyimpangan yang dilakukan. Di satu sisi, jika ada pembiaran pada masalah anak, dikhawatirkan akan memberikan efek buruk bagi anak itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Tetapi jika dilakukan tindakan atau bimbingan dengan "tegas" dan atau dengan sanksi, juga akan berpeluang menimbulkan masalah baru. Bahkan, dalam banyak kasus, guru berpotensi terjerat delik pidana dan pelanggaran HAM, terlebih dengan gaya "hebring" orang tua yang hanya memiliki sudut pandang sepihak dalam melihat masalah, dilematis !

Dalam perspektif pendidikan Islam, ikhlas menjadi keyword dan prinsip utama dalam menuntut ilmu. Bahkan Syaidina Ali bin Abi Thalib sahabat Nabi, mengungkapkan ekspresi tentang penghormatan kepada guru dalam ungkapannya " Aku adalah hamba bagi siapapun yang mengajarkan aku Ilmu walaupun hanya satu huruf". Betapa guru dalam Islam sebagai digambarkannya adalah sosok yang harus dimuliakan, bukanlah sebaliknya, dihina dinistakan tidak di takzim dan tidak dihargai.

Ungkapan "serah Mayung Sebungkul" yang digunakan sebagian masyarakat Sasak dalam tradisi menitipkan anaknya pada lembaga pendidikan, hakikatnya adalah bentuk keikhlasan dan ketulusan yang sarat pesan dan nilai universal.

Bagi orang tua yang meyakini tentang konsep keikhlasan dan ketulusan dalam perjuangan menuntut ilmu, padanya tidak akan pernah rasa "syu'zon" atau berburuk sangka kepada guru yang mendidik putra putrinya, apalagi kemudian emosi, garang, marah dan mencaci maki. Miris, jika kemudian pada banyak kasus, orang tua keberatan, tidak ikhlas, mengancam dan bahkan menghina menyerang guru (profesi dan personalnya), hanya gara-gara, anaknya ditegur atau disanksi atas tindakannya di satuan pendidikan.

Menghidupkan kembali tradisi " Serah Mayung Sebungkul" sebagai perikatan atau ijab kabul, pada tahap awal siswa dimasukan sekolah atau madrasah oleh orang tua patut diangkat ke permukaan. Paling tidak, sebagai ikhtiar dalam memposisikan hazanah nilai kearifan pada tempatnya, sehingga hubungan baik antara lembaga pendidikan dan masyarakat terjaga, dalam komitmen dan tanggung jawab bersama, dalam proses yang saling mempercayai dan menghargai.

(DR. Sirojul Hadi | Sekretaris Pimpinan Pusat PGNW)

Address

Mataram Lb. Lombok Km 56 Anjani
Selong
83652

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PD PGNW Lombok Timur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share