Gereja Injili Anugerah Tuhan - Riau

Gereja Injili Anugerah Tuhan - Riau GK3~> GIAT Kasih Karunia Kandis
gereja yg baru merintis, berdedikasi menyebar kasih, komitmen membangun komunitas iman berlandaskan kasih karunia.

Hadir sebagai rumah anugerah, menginspirasi pertumbuhan rohani dan pelayanan tulus di tengah masyarakat

๐‰๐€๐ƒ๐ˆ๐‹๐€๐‡ ๐๐„๐“๐€๐๐† ๐ƒ๐€๐ ๐‰๐€๐ƒ๐ˆ๐‹๐€๐‡ ๐๐€๐†๐ˆKejadian 1:5"Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadi...
21/06/2026

๐‰๐€๐ƒ๐ˆ๐‹๐€๐‡ ๐๐„๐“๐€๐๐† ๐ƒ๐€๐ ๐‰๐€๐ƒ๐ˆ๐‹๐€๐‡ ๐๐€๐†๐ˆ

Kejadian 1:5
"Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama."

Shalom Bapak/Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran sederhana namun sangat mendalam:
"Jadilah petang dan jadilah pagi."

Sejak awal penciptaan, Allah tidak menciptakan dunia yang selalu terang. Allah menetapkan adanya siang dan malam, terang dan gelap, petang dan pagi.

Demikian p**a kehidupan kita.

Ada masa ketika segala sesuatu berjalan baik dan kita dapat melihat jalan di depan dengan jelas.

Tetapi ada juga masa ketika kita harus berjalan dengan iman, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.

Masalah terbesar kita sering kali bukan karena malam itu ada, melainkan karena kita berharap malam itu tidak pernah datang kepada kita.

Padahal Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa malam.
Yang Tuhan janjikan adalah penyertaan-Nya yang konstan bahkan ketika hari di sedang malam.

Ketika kesehatan menurun,
ketika usaha terasa berat,
ketika hubungan mengalami masalah,
atau ketika doa yang sudah lama dinaikkan belum juga terjawab,
Tuhan tetap hadir.

Dan sama seperti Allah menetapkan adanya petang dan pagi,
Tuhan juga mengingatkan kita bahwa tidak ada malam yang berlangsung selamanya.

Pagi akan datang pada waktunya.

Karena itu jangan letakkan pengharapan kita pada hal-hal yang dapat berubah.
Karena. . . ,
Kesehatan bisa berubah.
Keuangan bisa berubah.
Manusia bisa berubah.
Keadaan bisa berubah.

Tetapi Tuhan tidak pernah berubah.

Orang yang menggantungkan hidupnya pada keadaan akan mudah goyah ketika keadaan berubah.
Namun orang yang berharap kepada Tuhan memiliki dasar yang tetap kokoh, sekalipun sedang melewati musim yang sulit.

Mungkin saat ini kita sedang berada dalam "malam" kehidupan.

Tetapi malam tidak selalu berarti Tuhan sedang menghukum atau meninggalkan kita.

Sering kali justru dalam malam itulah Tuhan membentuk iman, memurnikan hati, dan mengajarkan kita untuk bersandar sepenuhnya kepada-Nya.

Karena itu, jangan hanya memuji Tuhan ketika matahari terbit.
Belajarlah juga memuji Tuhan ketika matahari terbenam.

Jangan hanya percaya ketika doa dijawab.
Belajarlah tetap percaya ketika langit masih terasa sunyi.

Jangan hanya mencari Tuhan ketika semua sandaran lain hilang.
Berharaplah kepada Tuhan setiap hari, dalam setiap musim kehidupan.

Sebab Tuhan yang menyertai kita pada pagi hari adalah Tuhan yang sama yang memegang kita pada malam hari.

Dan suatu hari nanti, kita akan tiba pada pagi yang sempurna, tempat yang tidak lagi mengenal malam, air mata, ataupun kesedihan.

Sebelum hari itu tiba, tetaplah berharap kepada Tuhan.
Setiap hari.
Setiap musim.
Setiap keadaan.

Tuhan Yesus memberkati.

๐“๐š๐ค๐ฎ๐ญ ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ฅ, ๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐Œ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐กYosua 1:9 โ€œBukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? ...
05/01/2026

๐“๐š๐ค๐ฎ๐ญ ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ฅ, ๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐Œ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก

Yosua 1:9 โ€œBukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.โ€

Ayat ini tidak lahir dalam situasi yang aman. Yosua sedang berdiri di ambang masa depan yang besar dan penuh tantangan. Musa telah tiada. Tanggung jawab memimpin bangsa Israel kini ada di pundaknya. Tanah Perjanjian belum ditaklukkan, musuh masih ada, dan jalan ke depan belum jelas.

Namun di tengah ketidakpastian itu, Tuhan tidak memberikan peta lengkap tentang apa yang akan terjadi. Tuhan tidak menjelaskan semua detail perjalanan. Yang Tuhan tegaskan hanya satu hal: "penyertaan-Nya".

Sering kali kita menuntut kepastian sebelum melangkah. Kita ingin memahami hasilnya, menghitung risikonya, dan memastikan akhirnya.

Namun Tuhan tidak menjanjikan bahwa kita akan selalu mengerti.
Kepada Yosua dan kepada kita hari ini Tuhan berjanji satu hal yang lebih kuat dari sekedar mengerti: โ€œAku akan menyertai engkau.โ€

Iman sejati tidak dibangun di atas kejelasan keadaan, melainkan di atas kesetiaan Tuhan. Masa depan boleh tidak terlihat seutuhnya, rencana boleh berubah, tetapi Tuhan tetap sama: "setia dan dapat dipercaya".

Perintah Tuhan adalah: โ€œkuatkan dan teguhkanlah hatimuโ€
๐Ÿ‘‰ Ini menunjukkan bahwa rasa takut itu nyata.

Dan Tuhan tidak menegur Yosua karena takut. Tuhan menguatkannya supaya ketakutan itu tidak menguasai langkahnya.

Demikian juga dengan kita. Takut bukan tanda kurang iman. Yang jadi masalah adalah ketika kita berhenti melangkah karena takut.

Hari ini Tuhan mengundang kita untuk berani percaya, tetap berjalan di jalan kemurahan-Nya meski hati masih gemetar.

Dengan satu janji yang sederhana namun kokoh: โ€œTUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.โ€

Bukan hanya di tempat aman, tetapi juga di medan yang asing. Bukan hanya saat berhasil, tetapi juga ketika gagal.

Di awal tahun, kita mungkin belum melihat jawabannya, belum melihat jalannya, bahkan belum melihat hasilnya. Tetapi kita melihat satu hal yang pasti: Tuhan ada bersama kita.

Masa depan tidak harus jelas agar kita bisa melangkah. Yang terpenting adalah memastikan siapa yang berjalan bersama kita. Selama Tuhan menyertai, kita tidak berjalan sendirian.

Mari melangkah dengan iman, bukan karena kita kuat, tetapi karena Tuhan setia.
Bahwa masa depan tidak terlihat seutuhnya, tetapi kuasa penyertaan Tuhan konstan. Amin.

BAGIAN 3๐’๐ž๐ซ๐ฎ๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐Š๐š๐ฌ๐ข๐ก๐‘ซ๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’“๐’๐’‚๐’‰, ๐’‰๐’‚๐’Š ๐’–๐’Ž๐’‚๐’• ๐‘ป๐’–๐’‰๐’‚๐’: Tahun telah berganti, tetapi Tuhan bertanya: "apakah hidup kita juga ...
02/01/2026

BAGIAN 3
๐’๐ž๐ซ๐ฎ๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐Š๐š๐ฌ๐ข๐ก

๐‘ซ๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’“๐’๐’‚๐’‰, ๐’‰๐’‚๐’Š ๐’–๐’Ž๐’‚๐’• ๐‘ป๐’–๐’‰๐’‚๐’: Tahun telah berganti, tetapi Tuhan bertanya: "apakah hidup kita juga sudah berubah?"

Sebab ibadah bisa ramai sementara ketaatan sepi. Iman bisa lantang di mulut namun sunyi dalam kehidupan.

Lukas 6:46 "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

๐‘บ๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’‹๐’†๐’๐’‚๐’” ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐‘ป๐’–๐’‰๐’‚๐’ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’‚๐’“๐’Š ๐’–๐’Ž๐’‚๐’• ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’…๐’‚๐’“ ๐’‘๐’†๐’“๐’„๐’‚๐’š๐’‚, ๐‘ซ๐’Š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’‚๐’“๐’Š ๐’–๐’Ž๐’‚๐’• ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’‚๐’– ๐’•๐’‚๐’‚๐’•.

Iman yang hidup tidak bisa berdiam dalam kenyamanan. Ia akan mengguncang hati, memaksa kita memilih antara kebenaran atau kebiasaan lama.

Iman tanpa perbuatan adalah mati (tertulis dalam Yakobus 2:26). Bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena menunda ketaatan.

Tahun 2026 adalah panggilan, bukan sekadar kelanjutan.

Kita dipanggil bukan untuk menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi untuk berdiri sebagai tanda:
โœ“Tanda pertobatan.
โœ“Tanda kesetiaan.
โœ“ Tanda kehadiran Kristus.

Dan pertanyaan Tuhan hari ini adalah:
Siapakah yang masih mau berjalan bersama-Nya, bahkan ketika ketaatan menuntut harga yang harus dibayar?

Satu hal yang perlu kita tanamkan di hati: "bahwa Tuhan yang menegur kita adalah Tuhan yang memeluk kita."

Ia tidak memanggil yang kuat, Ia menguatkan yang mau taat. Jika firman-Nya terasa tajam, itu karena Ia mengasihi. Jika hati kita terguncang, itu karena Ia ingin memulihkan.

Datanglah apa adanya. Di dalam GK3, kita dipanggil menjadi satu keluarga, berjalan bersama Allah dalam kasih dan kebenaran, selangkah demi selangkah, di bawah anugerah-Nya yang setia.

Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang menyertai kita. Ia menuntun yang lemah, menguatkan yang letih, dan meneguhkan yang mau taat.

Kiranya iman kita dibangunkan, hidup kita diarahkan, dan melalui hidup kita,
Kristus dimuliakan. Amin.

02/01/2026

BAGIAN 2
๐ˆ๐ฆ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ข๐ค๐ฌ๐š, ๐‡๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐š๐ซ๐š๐ก๐ค๐š๐ง

Setelah kita merenungkan pergantian tahun dan mempertanyakan hati kita, Tuhan mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan hanya merenung, tetapi juga memeriksa diri.

2 Korintus 13:5, โ€œUjilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.โ€

Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengingatkan kita agar tidak menjalani iman secara otomatis.

Karena kita bisa rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, bahkan lama menjadi orang percaya, tetapi tanpa sadar hati kita bisa menjauh dari Tuhan.

Pemeriksaan iman bukan tanda bahwa iman kita lemah. Justru iman yang sehat adalah iman yang mau dibawa ke hadapan Tuhan, dibuka, dan dibentuk kembali.

Tuhan tidak mencari iman yang terlihat sempurna, tetapi hati yang mau diajar dan dibaharui.

Awal tahun adalah waktu yang baik untuk bertanya dengan jujur:
โœ“ Apakah doa masih menjadi kebutuhan, atau sekadar kebiasaan?
โœ“ Apakah firman masih kita dengarkan, atau hanya kita kenal?
โœ“ Apakah iman kita terlihat dalam cara hidup sehari-hari atau hanya di Gereja dan di pelayanan saja?

๐‘‡๐‘ขโ„Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘Ÿ๐‘–๐‘›๐‘‘๐‘ข ๐‘–๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘๐‘’๐‘Ÿโ„Ž๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘– ๐‘‘๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘”๐‘’๐‘Ÿ๐‘’๐‘—๐‘Ž, ๐‘ก๐‘’๐‘ก๐‘Ž๐‘๐‘– โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘ ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘˜๐‘’๐‘ ๐‘’โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘Ž๐‘›. ๐ท๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘ข๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘”๐‘Ž, ๐‘‘๐‘– ๐‘ก๐‘’๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘’๐‘Ÿ๐‘—๐‘Ž, ๐‘‘๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘˜๐‘œ๐‘™๐‘Žโ„Ž, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘ก๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Žโ„Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘ก. ๐ผ๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘ ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘™๐‘–โ„Ž๐‘Ž๐‘ก ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘, ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘Ž๐‘›, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘–๐‘™๐‘–โ„Ž๐‘Ž๐‘› โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘ ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž.

Tahun 2026 ini, Tuhan mengajak kita menata kembali arah hidup. Bukan sekadar mengejar keberhasilan lahiriah, tetapi bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Bukan hanya menjadi jemaat yang hadir, tetapi umat yang berjalan bersama Tuhan.

Kiranya GK3 menjadi persekutuan yang menguatkan iman, menumbuhkan kasih, dan memuliakan Tuhan. Melalui hidup kita masing-masing, biarlah nama Tuhan semakin dikenal dan kasih-Nya semakin nyata.

Seiring tahun berganti, kiranya iman kita juga semakin bertumbuh.
Hati semakin dekat dengan Tuhan.
Dan hidup semakin mencerminkan Kristus.
Amin

๐‘†๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘Ž๐‘™ ๐‘…๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐ด๐‘ค๐‘Ž๐‘™ ๐‘‡๐‘Žโ„Ž๐‘ข๐‘› 2026 โ€“ ๐บ๐พ3BAGIAN 1๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐๐ž๐ซ๐ ๐š๐ง๐ญ๐ข, ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐ƒ๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค๐š๐งMemasuki tahun yang baru hampir selalu me...
01/01/2026

๐‘†๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘Ž๐‘™ ๐‘…๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐ด๐‘ค๐‘Ž๐‘™ ๐‘‡๐‘Žโ„Ž๐‘ข๐‘› 2026 โ€“ ๐บ๐พ3
BAGIAN 1
๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐๐ž๐ซ๐ ๐š๐ง๐ญ๐ข, ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐ƒ๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค๐š๐ง

Memasuki tahun yang baru hampir selalu menghadirkan semangat baru. Kita mengganti kalender, menyusun rencana, dan menaruh harapan agar hidup berjalan lebih baik dari sebelumnya.

Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: "apakah yang berubah hanya tahunnya, atau juga hati kita?

Awal tahun bukan sekadar soal waktu yang berganti, melainkan tentang arah rohani yang kita pilih.

Bahwa kita sedang berdiri di sebuah ambang pintu, bukan hanya menuju tahun 2026, tetapi menuju fase iman yang baru.

Di titik inilah Tuhan mengundang kita untuk berhenti sejenak dan bercermin: "Apakah iman yang kita jalani selama ini sungguh hidup, atau hanya terbiasa bertahan?

Tahun bisa berganti tanpa mengubah siapa kita.
Waktu bisa berjalan tanpa membawa kita kepada kedewasaan rohani.
Bahkan iman bisa bertahan lama tanpa pernah benar-benar dipahami.

Karena itu, di awal tahun ini Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk memiliki iman, melainkan untuk memeriksanya.

Amsal 4:7 berkata, โ€œPermulaan hikmat adalah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian.โ€

Iman tidak cukup hanya diwariskan, dipertahankan, atau dibela. Iman perlu disertai pengertian. Karena tanpa pengertian, iman mudah menjadi keras. Terdengar kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.

Tahun ini, Tuhan tidak hanya membawa kita melangkah lebih jauh, tetapi mengajak kita melangkah lebih dalam. Lebih dalam mengenal-Nya, lebih rendah hati dalam iman, dan lebih luas dalam kasih.

Kiranya GK3 menjadi gereja yang hidup. Kiranya melalui persekutuan ini, banyak orang tidak hanya menemukan tempat beribadah, tetapi mengalami perjumpaan dengan Kristus, melihat iman yang nyata, kasih yang bekerja, dan Tuhan yang dimuliakan.
Amin.

(Bersambung ke Bagian 2)

๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐๐š๐ญ๐š๐ฅ ๐ƒ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐š๐ง ๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐๐š๐ซ๐ฎ ๐Œ๐ž๐ง๐š๐ง๐ญ๐ขNatal hampir berlalu. Kalender hampir habis, dan dunia mulai sibuk menghitung m...
30/12/2025

๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐๐š๐ญ๐š๐ฅ ๐ƒ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐š๐ง ๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐๐š๐ซ๐ฎ ๐Œ๐ž๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข

Natal hampir berlalu. Kalender hampir habis, dan dunia mulai sibuk menghitung mundur menuju Tahun Baru.

Di titik inilah Natal diuji:
โœ“ Saat Natal selesai dirayakan dan hidup kembali berjalan seperti biasa.
โœ“ Saat kita sedang menyusun resolusi-resolusi baruโ€” target baru, rencana baru, dan impian baru.

Yang jadi pertanyaan adalah apakah kita menyusun semuanya dengan melibatkan Kristus di dalamnya? Atau justru kita menempatkan Kristus hanya sebagai perayaan musiman: "hadir di bulan Desember, lalu perlahan tersisih ketika Januari datang".

Di sinilah Natal benar-benar diuji.
Bukan oleh gemerlap lampu atau ramainya ibadah, melainkan oleh keseharian kita setelah semuanya usai.

Apakah kasih yang kita rayakan masih kita hidupi?
Apakah pengharapan yang kita nyanyikan masih kita pegang, bahkan saat rencana tidak berjalan mulus?
Apakah Kristus tetap menjadi pusat hidup, atau hanya hiasan rohani di awal tahun?

Tahun Baru akan selalu menawarkan awal yang segar, tetapi Natal mengingatkan bahwa awal sejati bukan soal kalender yang berganti, melainkan hati yang terus diperbarui.

Jika Kristus tetap kita libatkan: dalam keputusan, dalam kegagalan, dalam kerja, dan dalam mimpi, maka Natal tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia hidup, bertumbuh, dan berjalan bersama kita menyongsong tahun yang baru.

Namun, jika Kristus kita terima dengan hangat hanya di bulan Desember, tetapi mulai terasa asing di bulan Januari, maka Natal hanya sebatas kenangan tahunan, hati yang baru berhenti di dekorasi, tidak berlanjut dalam ketaatan. Kristus yang lahir hanya hadir sebagai simbol, bukan sebagai Tuhan yang memimpin.

๐Ÿ‘‰ Kita memuji Dia sebagai Juruselamat,
namun tidak mengundangnya sebagai Penentu arah hidup.
๐Ÿ‘‰ Kita senang Yesus yang memberi penghiburan, tetapi mulai ragu ketika Dia berbicara tentang ketaatan.
๐Ÿ‘‰ Kita bersukacita atas kasih karunia, namun gelisah ketika Dia meminta kendali atas masa depan kita.

Padahal Natal bukan sekadar peristiwa kelahiran, melainkan pernyataan pemerintahan: Bahwa Yesus lahir bukan untuk menghiasi akhir tahun, tetapi untuk memerintah sepanjang hidup.

Di persimpangan ini:
antara Natal yang baru berlalu dan Tahun Baru yang menanti โ€” kita dihadapkan pada satu keputusan iman: Apakah Kristus hanya bagian dari cerita lama, atau fondasi dari setiap langkah yang akan kita ambil?

Karena Natal yang lolos ujian akan melahirkan Tahun Baru yang tidak sekadar berbeda tanggal, tetapi berbeda arah hidup.

Kiranya di Tahun Baru nanti, kita tidak hanya berkata, โ€œTuhan beserta kita,โ€ tetapi sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan yang memimpin kita. Amin

๐Œ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ง๐ญ๐š๐ข ๐๐š๐ญ๐š๐ฅ, ๐“๐ž๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐Š๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌNatal selalu punya daya tarik: Lampu yang berkilau, lagu yang akrab di telinga, k...
26/12/2025

๐Œ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ง๐ญ๐š๐ข ๐๐š๐ญ๐š๐ฅ, ๐“๐ž๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐Š๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ

Natal selalu punya daya tarik: Lampu yang berkilau, lagu yang akrab di telinga, kehangatan keluarga, dan nostalgia yang menenangkan hati.

Namun di tengah semua itu, ada sebuah realita yang perlu kita akui dengan jujur: "bahwa banyak orang mencintai Natal, tetapi menolak Kristus."

Kita mencintai suasananya, tetapi sering menolak kehadiran-Nya yang nyata.
Kita merayakan kelahiran-Nya, tetapi enggan menerima pemerintahan-Nya.

Kita nyaman dengan Yesus sebagai bayi di palunganโ€” yang lembut, yang tidak menuntut, yang aman untuk dirayakan.

Sedangkan Kristus yang dewasa terasa terlalu mahal untuk kita pertahankan. Terlebih ketika Dia berkata: โ€œikutlah Akuโ€ dan kemudian memanggil kita untuk menyangkal diri dan memikul salib.

Pokoknya Natal menjadi aman selama Kristus tetap kecil, tetap bisa dibungkus, bukan hanya dengan lampin tetapi dengan tradisi dan kenangan.
Titik.

Sampai kita menjadi lupa, bahwa Natal kehilangan maknanya ketika Kristus tidak diberi ruang untuk memerintah hidup kita.

Tanpa sadar kisah lama kembali terulang: "tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan."
Bukan karena pintu tertutup, tetapi karena hati sudah penuh oleh kesibukan, keinginan, dan ego kita sendiri.

Dari sini kita bisa mengambil kesimp**an bahwa mencintai Natal ternyata tidak sama dengan mengasihi Kristus.

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Kristus hanya hadir dalam lagu dan dekorasi, atau sungguh hidup dan berkuasa dalam hati?

Natal sejati bukan sekadar mengenang kelahiran Yesus, tetapi memberi Dia tempat. Bukan di palungan kenangan,
melainkan di takhta kehidupan kita.

๐‰๐ข๐ค๐š ๐˜๐ž๐ฌ๐ฎ๐ฌ ๐Œ๐ž๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง ๐†๐ž๐ซ๐ž๐ฃ๐š ๐‡๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐ง๐ขPernahkah kita membayangkan gereja yang dipimpin langsung oleh Yesus di jaman ini? Bu...
17/12/2025

๐‰๐ข๐ค๐š ๐˜๐ž๐ฌ๐ฎ๐ฌ ๐Œ๐ž๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง ๐†๐ž๐ซ๐ž๐ฃ๐š ๐‡๐š๐ซ๐ข ๐ˆ๐ง๐ข

Pernahkah kita membayangkan gereja yang dipimpin langsung oleh Yesus di jaman ini?

Bukan sekadar khotbah yang menyentuh hati, musik yang indah, atau program yang menarik. Tapi sebuah gereja di mana standar, integritas, dan kasih-Nya yang sempurna menuntut kita untuk berubah -> benar-benar berubah.

Tidak ada kepalsuan yang bisa lolos, tidak ada dosa yang bisa ditutup-tutupi, tidak ada favoritisme, tidak ada kompromi dengan kenyamanan diri sendiri.

Bayangkan: setiap kata, setiap tindakan, setiap keputusan menuntun kita ke kebenaran yang menembus hati.

Standar-Nya bukan standar manusia. Tetapi standar yang mengungkap setiap niat tersembunyi, setiap kepalsuan, dan setiap kebiasaan yang menahan kita dari pertumbuhan sejati.

Sekarang pertanyaannya: Berapa banyak dari kita yang akan bertahan?

Berapa banyak yang akan tetap duduk di bangku itu, menerima koreksi, menerima tuntutan kasih yang murni, tetap setia ketika itu tidak nyaman, ketika itu menuntut pengorbanan, ketika itu membuat kita sendiri merasa rapuh?

Berapa banyak yang akan datang bukan karena hiburan, program, atau komunitas, tapi karena Yesus sendiri hadir?

Dan sebaliknya, jika standar-Nya terlalu tinggi bagi kenyamanan kita, berapa banyak yang akan lari, mencari gereja lain yang lebih โ€œramah manusiaโ€? Berapa banyak yang memilih kemudahan daripada kebenaran, kesenangan daripada pertumbuhan, pop**aritas daripada pengorbanan?

Mungkin inilah ujian terbesar iman: bukan seberapa sering kita hadir di gereja, bukan seberapa banyak kita tahu tentang Firman, tapi seberapa dalam kita siap berubah ketika Yesus benar-benar memimpin.

Karena jika kita tidak siap menghadapi Yesus yang memimpin dengan kasih dan kebenaran-Nya, maka ternyata, sebenarnya kita belum mengenal Dia sama sekali.

Kiranya Kristus melimpahi kita dengan rahmat dan karunia-Nya yang tanpa batas ๐Ÿ™

Address

Riau

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Injili Anugerah Tuhan - Riau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share