Kerasulan - KITAB SUCI Paroki St. Petrus Langowan

Kerasulan - KITAB SUCI Paroki St. Petrus Langowan "Ignorantia Scripturae, ignorantia Christi est"
Merupakan saluran Pewartaan Firman Tuhan agar umat lebih mengenal dan mencintai Kristus sang Firman.

Hasil Lomba CCA dalam Bulan Kitab Suci Nasional BKSN 2022: Juara   I : WR. St. Fransiskus XaveriusJuara II  : WR. St. Th...
25/09/2022

Hasil Lomba CCA dalam Bulan Kitab Suci Nasional BKSN 2022:
Juara I : WR. St. Fransiskus Xaverius
Juara II : WR. St. Theresia Kanak-kanak Yesus
Juara III : WR.St. Matius Rasul
Selamat kepada para pemenang atas prestasinya dan seluruh peserta yang turut berpartisipasi dalam kegiatan BERSAMA GEREJA PAROKI.

Diucapkan banyak terima kasih
Ignorantia Scripturarum ignorantia Christi est

Hasil Lomba Baca Kitab Suci dan Kotbah dalam Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 :Juara I   : WR. St. Patrisius - Kawa...
24/09/2022

Hasil Lomba Baca Kitab Suci dan Kotbah dalam Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 :
Juara I : WR. St. Patrisius - Kawatak 90.6
Juara II : WR. Sta. Maria Ratu Damai 90.0
Juara III : WR. St. Ignatius Loyola. 89.6
Sesuai penilaian Tim Juri yang disampaikan oleh Pst. Delis Umbas, Pr penampilan para peserta umumnya baik dengan perolehan nilai bersaing ketat. Disampaikan Selamat pada pemenang Juara dan semua peserta yang sudah terlibat tetap semangat.

Diucapkan banyak terima kasih.

Mari ikuti bahasan Kitab Suci !Kitab Suci bagaikan sebuah perpustakaan yang terbangun dari berbagai macam kitab, dan umu...
08/09/2022

Mari ikuti bahasan Kitab Suci !

Kitab Suci bagaikan sebuah perpustakaan yang terbangun dari berbagai macam kitab, dan umumnya dikelompokan dalam dua bagian besar yang dikenal sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Setiap kitab ditulis berdasarkan inspirasi dari Allah sendiri, dalam situasi dan kondisi yang berbeda, dalam zaman, latar budaya dan bentuk sastra yang berbeda-beda p**a, serta dengan maksud penulisan yang berbeda-beda dan oleh penulis yang berbeda juga. Dari keaneka-ragaman kitab-kitab ini dapat disadari bahwa setiap kitab tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Untuk dapat memahami isi dan maksud penulisan dari kitab-kitab tersebut seperti yang dimaksudkan Sang Penulis sejati, diperlukan suatu pemahaman yang memadai tentang Kitab Suci agar pembaca tidak tersesat dalam penafsirannya.

PENDALAMAN KITAB SUCI BKSN 2022Di bawah tema umum Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2022; ALLAH SUMBER HARAPAN HIDUP BARU,...
07/09/2022

PENDALAMAN KITAB SUCI BKSN 2022

Di bawah tema umum Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2022; ALLAH SUMBER HARAPAN HIDUP BARU, sub tema bahan katekese pertemuan pertama adalah ALLAH SUMBER HARAPAN UNTUK MENANGKIS MENTALITAS KEAGAMAAN PALSU dengan terang Sabda Tuhan: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Amos 5:4). Melalui sub tema ini, umat Katolik Indonesia diajak untuk melihat kembali praktik kehid**an keagamaan yang telah dilakoni selama masa pandemi. Apakah kita cukup setia pada ajaran dan tata cara yang diajarkan Gereja kepada kita? Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan di tengah perubahan-perubahan cara dan sarana dalam beribadah kepada-Nya? Ataukah kita hanya menjalankan tata cara beribadah kita, sedangkan hati kita jauh dari-Nya? Apakah sikap hidup kita menampakkan iman kita yang nyata? Becermin pada teks Am. 5:4-6, kita dituntun untuk mencari Tuhan agar kita tetap hidup, baik kini maupun kelak.

Teks Amos 5:4-6

Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! 5Janganlah kamu mencari Betel, jangan­lah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gil­gal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” 6Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang me­madamkan bagi Betel.

Penafsiran Teks

Konteks

Amos 5:4-6 merupakan salah satu bagian dari rangkaian yang panjang Am. 5:1-17 yang berisikan kump**an seruan kepada orang Israel agar bertobat. Seruan ini dimulai dengan undangan awal pada ay. 1-2 yang menubuatkan tentang hal buruk yang akan menimpa Israel jika mereka tidak bertobat. Secara bertahap, Tuhan meminta mereka untuk mening­galkan berhala dan mencari Dia (ay. 4-6), melakukan keadilan (ay. 7-13), mencari yang baik dan membenci yang jahat (ay. 15-16), sebelum tibanya hari Tuhan (ay. 16-17). Karena itu, Am. 5:4-6 merupakan ajakan untuk meninggalkan segala yang lain untuk hanya mencari Tuhan sebagai satu-satunya harapan dan pegangan hidup orang Israel.

Perikop ini tersusun dengan baik. Pada ay. 4 dan 6 disebutkan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup”. Kedua ayat ini mem­bungkus ay. 5 yang berkonsentrasi pada larangan untuk mencari tempat-tempat yang mengalihkan perhatian orang Israel dari pertemuan sejati dengan Tuhan. Ketiga tempat itu, yakni Betel, Gilgal, dan Bersyeba, me­mang dikenal sebagai tempat-tempat untuk mempersembahkan kurban.
Betel yang berarti “rumah Allah” merupakan sebuah tempat kudus yang sudah lama dikenal sejak Yakub (Kej. 28:10-22; 31:13; 35:7). Sebelum ada-nya kenisah di Yerusalem, Betel menjadi tempat di mana orang mem­persembahkan kurban. Samuel sendiri mengunjungi tempat ini setiap tahun (1Sam. 7:16; 10:3). Ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua, Be­tel menjadi tempat kebaktian bagi masyarakat di kerajaan bagian utara. Sayangnya, di tempat kudus ini didirikan patung anak lembu emas (1Raj. 12:28-30). Itulah sebabnya para nabi memberikan kritik bahwa di sana berlangsung praktik penyembahan berhala (Hos. 10:5; Yer. 48:13). Salah satu larangan untuk pergi ke Betel terungkap di Am. 5:5 ini.
Gilgal merupakan tempat berkumpulnya orang Israel ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk merebut tanah Kanaan (Yos. 4:19). Di tempat ini p**a mereka menyunat orang-orang Israel yang be­lum disunat agar mereka dikuduskan (Yos. 5:9). Untuk mengenang pe­nyeberangan Sungai Yordan, mereka lalu mendirikan dua belas batu per­ingatan di tempat ini (Yos. 4:20). Jadi, Gilgal mengingatkan orang Israel akan peralihan dari Mesir memasuki Tanah Perjanjian.
Sementara itu, Bersyeba merupakan nama tempat di bagian paling selatan, yang biasanya bersamaan dengan Dan di utara dipakai sebagai penanda wilayah Israel dalam ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (Hak. 20:1). Abraham pernah tinggal di sini (Kej. 22:19), demikian juga Ishak (Kej. 28:10), sedangkan Yakub berhenti di sini untuk mempersem­bahkan kurban (Kej. 46:1).

Penyebutan nama tempat-tempat itu bermaksud mengingatkan orang Israel bahwa Tuhan tidak dapat dicari di tempat-tempat tertentu dengan harapan kosong. Yang paling penting adalah keterbukaan hati dalam mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya ung-kapan “carilah Tuhan” disebutkan dalam perikop ini dua kali. Dengan menyatakan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup” sampai dua kali, perikop ini sebenarnya mau menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjamin kehid**an. Iman yang sejati terletak dalam pencarian akan Tuhan dan semangat untuk meninggalkan berhala-berhala yang menjadi kesenangan diri sendiri.

Membaca teks secara mendalam

Carilah Tuhan

Ungkapan “carilah Tuhan” memiliki beberapa pengertian. Per­tama, ini merupakan undangan untuk menyembah hanya kepada Tuhan. Bangsa Israel hanya memiliki Tuhan sebagai Allah mereka yang dime­teraikan dalam perjanjian di Sinai. Isi perjanjian tersebut adalah: Tuhan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Nya (Kel. 6:6; bdk. Yer. 30:22). Ungkapan “mencari Tuhan” bukan berarti Tuhan menghilang, atau mereka tidak mengetahui lagi di mana Tuhan berada. Tuhan tetap ada. Melalui ungkapan atau perintah ini, orang Israel diundang untuk kembali kepada komitmen atau perjanjian awal mereka, yakni untuk me­nyembah hanya kepada Tuhan saja. Mereka tidak perlu mencari ilah lain, tetapi hanya perlu kembali kepada Tuhan yang selalu menanti mereka.

Kedua, ungkapan “carilah Tuhan” serentak p**a mengandung makna bahwa orang Israel sedang tidak setia pada janji mereka sendiri. Mereka perlu diingatkan untuk kembali menemui Tuhan, Allah mereka. Boleh jadi mereka sedang menyembah banyak ilah dan menempatkan Tuhan sebagai salah satu dari sembahan tersebut, atau malah Tuhan disingkirkan dan digantikan dengan deretan ilah yang baru. Karena itu, ungkapan “carilah Tuhan” sebenarnya meminta pertobatan orang Israel (lih. p**a Ul. 4:29; 1Taw. 16:10-11; 2Taw. 15:12-13). Pertobatan ini perlu diser-tai dengan tindakan nyata untuk mengunjungi Bait Suci (Ul. 12:5; 2Taw. 11:16), tempat yang menandakan kehadiran Allah di tengah mereka. Me-reka juga diminta untuk mendengarkan sabda-Nya dan menaati perin­tah-perintah-Nya. Mencari Tuhan berarti mencari apa yang dikehendaki-Nya.

Maka kamu akan hidup

Memperoleh kehid**an merupakan buah dari pencarian akan Tuhan. Pada ayat sebelumnya disebutkan bahwa kaum Israel akan ba-nyak yang mati ketika mereka maju berperang (ay. 3). Mereka terkapar dan tidak ada yang membangkitkan mereka (ay. 2). Ini terjadi karena mereka tidak mengandalkan Tuhan dalam kehid**an.

Ketika orang Israel melakukan kesalahan, mereka menjauhkan diri mereka dari Tuhan dan dari kehid**an. Tentang hal ini, kisah ke­jatuhan manusia pertama menjadi contoh bahwa mengabaikan perin­tah Tuhan akan menjauhkan seseorang dari kehid**an. Setelah mereka makan dari buah pohon pengetahuan, mereka pun dihalau keluar dari Taman Eden dan Tuhan menempatkan beberapa kerub dengan pedang bernyala-nyala untuk melindungi pohon kehid**an (Kej. 3:22-24). Untuk memperoleh kehid**an, manusia harus mencari Tuhan, menaati perin­tah-Nya, dan bergantung kepada-Nya.
Ketika hendak memasuki Kanaan, orang Israel diingatkan lagi untuk setia kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan akan menentukan nasib mereka. Yang setia akan memperoleh kehid**an dan yang tidak setia akan dihadapkan pada kematian (Ul. 30:15-20). Kehid**an hanya bisa diperoleh ketika orang Israel mendekatkan diri mereka kepada sang Pemilik Kehid**an dan menyembah hanya kepada-Nya saja.

Pada perikop ini, kehid**an dihubungkan dengan upaya pen­carian akan Tuhan. Mencari Tuhan berarti mencari kehid**an. Tuhan adalah Pencipta, maka Dialah sumber kehid**an. Kehid**an hanyalah sebuah konsekuensi dari kedekatan dengan Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber kehid**an, semua yang dekat dengan-Nya akan memperoleh ke­hid**an juga.

Jangan mencari Betel, Gilgal, dan Bersyeba

Dengan sengaja, Nabi Amos memilih kata kerja “mencari” dalam kalimat ini. Pada ayat sebelumnya, kata ini dipakai dalam bentuk impera­tif atau perintah “carilah Aku”. Kini, kata kerja ini dipakai dalam bentuk larangan “jangan mencari Betel”. Kalimat ini memiliki dua pengertian berikut. Pertama, yang seharusnya dicari adalah Tuhan. Betel, Gilgal, dan Bersyeba merupakan tempat-tempat yang mengingatkan orang akan Tu­han. Betel adalah tempat Yakub bermimpi melihat malaikat Allah turun naik dari langit dan Tuhan sendiri berbicara kepadanya. Dia pun mem­buat tugu peringatan di tempat tersebut (Kej. 28:18). Hal serupa terjadi dengan Gilgal yang menjadi tempat orang Israel berkumpul setelah me­nyeberangi Sungai Yordan dan mendirikan dua belas batu peringatan (Yos. 4:19-20). Di tempat tersebut, mereka menyunat semua orang yang belum disunat (Yos. 5) sebagai tanda pembaruan perjanjian dengan Tu­han. Sementara itu, Bersyeba merupakan tempat di mana Abraham ting­gal (Kej. 22:19).

Tempat-tempat tersebut bukanlah tujuan akhir dari penziarah-an iman. Yang dicari hendaknya bukan tempat, melainkan Tuhan. Karena itu, padanan yang disebutkan dalam perikop ini adalah “carilah Tuhan” dan “janganlah mencari Betel”. Padanan ini tidak biasa, sebab kata kerja umumnya tidak langsung diikuti dengan nama tempat. Namun, hal itu disengaja. Kontrasnya sangat jelas: “Carilah Tuhan dan hiduplah! Namun, jangan mencari (nasihat di) Betel.” Tuhan haruslah menjadi subjek dari setiap pencarian iman, alih-alih tempat atau media.

Orang bisa pergi ke Betel yang adalah “rumah Allah”, tetapi yang ia cari seharusnya adalah Tuhan. Ia harus memiliki semangat untuk men­jumpai Tuhan, dan tidak menjadikan perjalanannya ke tempat tersebut sebagai wisata rohani. Yang dicari di Betel adalah Tuhan, alih-alih ba-ngunan atau tempat itu sendiri. Pengultusan terhadap tempat tertentu hanya akan menjauhkan orang dari Tuhan. Tempat-tempat itu mestinya menjadi pengingat setiap orang akan kehadiran Tuhan. Mengunjungi tempat-tempat tersebut mesti dilandasi oleh semangat untuk mencari dan menemui-Nya. Tempat-tempat itu sendiri suatu ketika pasti akan ditinggalkan atau lenyap. Hanya Tuhan yang abadi.

Kedua, Betel, Gilgal, dan Bersyeba adalah tempat terjadinya sinkretisme. Pada masa Amos, tempat-tempat ini sudah tidak lagi men­jadi tempat yang suci. Betel dan Gilgal, misalnya, sudah menjadi tempat berlangsungnya pemujaan berhala. Oleh Raja Yerobeam, di Betel diba-ngun patung anak lembu emas yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berhala (1Raj. 12:28-30). Betel tetap menjadi tempat penziarahan, tetapi tidak lagi memainkan peranan sebagai rumah Tuhan. Ketika orang menuju ke Betel, bukan Tuhan yang mereka cari, melainkan ilah-ilah lain. Di Gilgal pun terjadi hal yang sama.

Kedua tempat ini disinggung Amos di Am. 4:4-5 sebagai tempat orang melakukan kejahatan. Orang Israel, khususnya mereka yang me­miliki kuasa, datang ke situ membawa kurban bakaran, tetapi pada saat yang sama mereka melakukan penindasan.

Sementara itu, Bersyeba yang berada di bagian paling selatan disebut dengan ungkapan “janganlah menyeberang ke Bersyeba”. Tidak ada catatan khusus tentang tempat ini sebagai tempat mempersembah­kan kurban. Penyebutan Bersyeba lebih disebabkan karena letaknya yang berbatasan dengan wilayah lain. Bangsa Israel diharapkan tidak menye­berang kepada bangsa asing untuk mencari ilah yang lain, termasuk seka­dar mengikuti gaya hidup bangsa-bangsa lain. Mereka harus tetap setia kepada Tuhan dengan mengikuti perintah-perintah-Nya.
Api yang tak terpadamkan

Pemakaian kata “api” untuk menggambarkan keruntuhan kota selalu dikaitkan dengan peperangan. Ketika sebuah kota jatuh ke tangan musuh, kota itu akan dibakar supaya musnah. Praktik seperti ini lazim ditemukan di dunia kuno. Ketika orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka memerangi kota Yerikho. Kota ini jatuh ke tangan mereka dan mereka pun membakarnya (Yos. 6:24). Yerusalem sendiri ketika jatuh ke tangan Nebukadnezar juga dibakar habis oleh tentara Babel (Yer. 39:8). Karena itulah, “api” juga menjadi simbol pemusnahan yang dilakukan Tuhan dan penghakiman yang dijatuhkan-Nya.

Nabi Amos mengingatkan orang Israel untuk menyembah hanya kepada Tuhan. Jika tidak, Tuhan akan mendatangi mereka bagaikan api. Api itu akan memakan habis, membasmi, dan tidak akan ada bisa memadamkannya. Betel yang menjadi tempat yang dikuduskan bagi-Nya juga akan turut Ia musnahkan. Itulah nasib akhir bagi orang yang tidak mencari Tuhan.

Pesan dan Penerapan

Warna utama perikop ini adalah undangan untuk mencari Tu­han, yang berarti memusatkan perhatian pada upaya untuk menemui-Nya dalam kehid**an. Amos mengulangi seruan Tuhan agar umat men­cari-Nya, sebab Tuhan menjanjikan kehid**an. Satu dua pesan dapat diambil dari perikop yang singkat ini.

Pertama, kehid**an keagamaan yang sejati terletak pada ke­sesuaian antara ibadah dan praktik hidup. Perubahan-perubahan yang terjadi dengan tata ibadah atau kebaktian selama masa pandemi Covid-19 agar dapat tetap berjumpa dengan Tuhan mesti dibarengi juga dengan si­kap hidup yang mencerminkan kedekatan dengan-Nya. Jika tidak, orang sebenarnya sedang menghayati hidup keagamaan yang palsu. Iman ke­pada Tuhan hanya dapat dihidupi dalam perbuatan nyata, sebab iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (bdk. Yak. 2:17).

Kedua, hanya dalam Tuhan ada kehid**an yang sejati. Pandemi Covid-19 membuat semua orang seakan-akan kehilangan harapan dan kehid**an. Tuhan sendiri dirasakan hilang dari tengah-tengah pergu­latan hidup mati manusia. Namun, sesungguhnya situasi sulit seperti ini merupakan ujian yang memurnikan kehid**an iman dan keagamaan se­tiap pengikut Kristus.

Orang yang memiliki iman yang kokoh dan setia pada ajaran Katolik akan berupaya untuk mencari jalan guna menemui Tuhan dalam kesatuan dengan umat-Nya. Kehadiran satu sama lain adalah dukungan nyata bagi kehid**an bersama. Kesetiaan pada ibadah secara daring, meskipun terlihat menghadirkan kemudahan, tidak menghadirkan ke­bersamaan yang diajarkan oleh Gereja. Prinsip dasar dari perayaan sakra­men dalam Gereja adalah kehadiran yang nyata dari individu-individu di dalam perayaan tersebut. Kebersamaan ini pada saatnya akan membantu setiap orang beriman untuk peduli satu sama lain dan secara nyata me­nolong mereka yang benar-benar membutuhkan, terdorong oleh sema-ngat kebersamaan dalam keluarga iman. Kehid**an jemaat perdana bisa menjadi contoh bagi praktik iman seperti ini.

Ketiga, Betel, Gilgal, dan Bersyeba menuntun ke arah yang salah. Tanpa disadari, dalam situasi yang tidak menguntungkan ini, orang-orang berupaya menemukan jalan keluar yang bisa menenangkan batin. Mereka melarikan diri dari Tuhan dan mencari pemenuhan batin pada hal-hal yang makin menjauhkan diri mereka dari-Nya. Mereka men­ciptakan zona nyaman dengan menciptakan Betel, Gilgal, dan Bersyeba yang baru. Zona nyaman ini membuat mereka seakan-akan menemukan ilah yang baru, yang memberikan kenyamanan dan yang sesuai dengan keinginan mereka. Namun, sama seperti Yerobeam menodai Betel de-ngan membuat patung anak lembu emas agar orang tidak lagi berziarah ke Yerusalem, zona nyaman itu menjadi tandingan agar orang tidak lagi mengikuti pola-pola tradisional dalam menghidupi iman mereka.

Yesus sendiri mengkritik gaya hidup orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka memang mengetahui dengan baik seluk-beluk agama dan berupaya agar semua orang menjalaninya dengan konsekuen. Sayangnya, mereka sendiri hanya menjalankan hidup keagamaan mereka supaya dilihat orang (Mat. 23:5), padahal hati mereka jauh dari Tuhan (Mrk. 7:6-7), sebagaimana yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 29:13). Itulah sebabnya dengan amat tegas Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:20). Dalam hidup beragama, antara puja-puji di bibir dan praktik hidup nyata mesti bersesuaian.

Pertanyaan Pendalaman

1. Bagaimana kita menilai kehid**an keagamaan kita selama masa pandemi ini?
2. Di tengah banyaknya tawaran sekarang ini, tawaran mana yang dirasa lebih nyaman? 3.Apakah hal itu mendekatkan diri kita dengan sesama dan dengan Tuhan?
4. Zona nyaman mana yang membuat kita sulit keluar untuk kembali menjalani kehid**an keagamaan kita seperti sedia kala?
5. Apa yang bisa kita buat untuk membantu diri kita dan sesama guna meningkatkan kehid**an keagamaan yang sejati?

JANJI BAHAGIA Rabu, 7 September 2022Lukas 6:20-26Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai k...
06/09/2022

JANJI BAHAGIA
Rabu, 7 September 2022
Lukas 6:20-26

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

***

Hari ini, empat kali Yesus berkata, “Berbahagialah,” tetapi empat kali p**a Ia berkata, “Celakalah.” Yesus menyebut berbahagia mereka yang miskin, yang sekarang ini lapar, yang sekarang ini menangis, dan yang dibenci karena Anak Manusia. Sementara itu, yang disebut celaka oleh-Nya adalah mereka yang kaya, yang sekarang ini kenyang, yang sekarang ini tertawa, dan yang dipuji oleh orang-orang.

Perkataan Yesus tersebut bisa jadi membuat banyak orang zaman sekarang bingung. Pada zaman modern ini, banyak orang berlomba-lomba mencari kekayaan, kepopuleran, kedudukan, status, jabatan, dan kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya. Mereka tidak atau tidak mau menyadari bahwa semua itu sifatnya sementara saja, tidak langgeng, sebab pada saatnya akan habis, hilang, dan lenyap. Tidak selamanya kita berada di dunia ini. Kelak, ketika kita dipanggil Tuhan, kita harus meninggalkan semuanya untuk pergi kepada-Nya.

Kepada para murid-Nya, Yesus menyebut mereka sebagai kelompok orang yang berbahagia. Memang, dengan mengikuti Yesus, para murid tidak mempunyai banyak harta. Tidak jarang, para murid juga merasakan penderitaan seperti yang dialami oleh sang Guru, di mana mereka dibenci, dikucilkan, dicela, serta ditolak. Meski demikian, para murid adalah orang-orang berbahagia, sebab kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan dengan Yesus. Dialah sumber kehid**an dan jaminan hidup kekal.

Semoga sabda Yesus hari ini meneguhkan dan menguatkan kita untuk dapat tetap setia menjadi murid-Nya.

JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIKSenin, 5 September 2022Lukas 6:6-11Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, ...
05/09/2022

JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK
Senin, 5 September 2022
Lukas 6:6-11

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

***

Salah satu isi sepuluh perintah Allah yang diberikan Allah kepada umat Israel melalui Musa adalah: “Kuduskanlah hari Sabat.” Bagi orang Israel, tidak bekerja pada hari Sabat merupakan bentuk konkret pelaksanaan perintah tersebut. Namun, dalam bacaan Injil hari ini, di dalam rumah ibadat, di hadapan orang banyak, termasuk orang Farisi dan para ahli Taurat, Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya. Itu dilakukan-Nya pada hari Sabat.

Saat mengajar orang banyak, Yesus melihat ada orang yang mati tangan kanannya hadir juga di situ. Tangan kanan bagi orang dewasa sangat penting, yaitu untuk bekerja. Karena itu, orang yang mati tangan kanannya berarti p**a mati mata pencahariannya, sebab ia tidak lagi bisa bekerja sebagaimana mestinya. Melihat itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. Ia bermaksud menyembuhkan orang tersebut.

Keberadaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat di situ tidak membuat Yesus ragu. Memang orang-orang itu tidak senang pada-Nya. Mereka mengamat-amati Dia, berusaha mencari cara untuk menyingkirkan, bahkan membunuh diri-Nya. Mengabaikan itu, Yesus bertanya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Yesus tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan-Nya itu. Ia bermaksud mengajak orang-orang itu berpikir dan merenungkan bahwa yang akan dilakukan-Nya adalah hal yang sungguh benar dan amat baik. Karenanya, tanpa berlama-lama lagi, Yesus pun segera menyembuhkan orang yang sakit itu.

Allah tentu menghendaki kita untuk menyisihkan waktu bagi-Nya dengan cara berdoa, beribadah, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, Ia tidak pernah melarang kita untuk berbuat baik kepada sesama. Ia tidak pernah memerintahkan kita untuk berhenti berbuat baik. Apa pun yang kita lakukan hendaknya mendatangkan kebaikan dan keselamatan, bukan hanya bagi diri kita sendiri dan keluarga, melainkan juga bagi orang-orang lain di sekitar kita.

SEKILAS TENTANG EVANGELIARIUM 📖Buku Evangeliarium memuat perikop-perikop Injil yang diwartakan dalam perayaan liturgi pa...
04/09/2022

SEKILAS TENTANG EVANGELIARIUM 📖

Buku Evangeliarium memuat perikop-perikop Injil yang diwartakan dalam perayaan liturgi pada hari Minggu, Hari Raya, Pesta Tuhan dan Hari Khusus, serta dalam Perayaan dan Misa misa Ritual, seperti Liturgi Inisiasi, Liturgi Tahbisan, Penerimaan Calon untuk Diakon dan Imamat, Pelantikan Pelayan Liturgi, Liturgi Orang Sakit, Liturgi Perkawinan, Pemberkatan Abas dan Abdis, Pengudusan Perawan dan Pengikraran Kaul, serta Pemberkatan Gereja, Altar, Piala dan Patena.

Dalam perayaan-perayaan Liturgi meriah, khususnya dalam Perayaan Ekaristi, Evangeliarium diberi penghormatan sangat khusus, misalnya diarak dengan sedikit diangkat pada saat perarakan masuk, did**ai, dicium setelah pewartaan Injil dan Uskup memberkati Umat dengan buku ini dalam bentuk tanda salib besar.

Peranan simbolis.

Sesuai dengan keluhuran martabat dan peranan simbolis dari buku liturgis resmi Bahasa Indonesia untuk Ritus Latin ini, maka Evangeliarium disusun dengan baik dan dicetak dalam bentuk yang besar, indah dan menawan.

Spesifikasi buku Evangeliarium yang dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, antara lain sebagai berikut:

Ukuran buku 24 cm x 34 cm, 780 halaman, beratnya sekitar @ 5 kg. Agar buku ini dapat disimpan dengan baik, setelah digunakan, disertakan juga Box Sleeve (kotak penyimpan) .

Promulgasi Presidium KWI

Dalam Surat Promulgasi KWI yang ditanda tangani oleh Mgr. M.D Situmorang OFMCap (Ketua KWI) dan Mgr. Johannes Pujasumarta (Sekretaris Jendral KWI), menyebutkan bahwa pada awal Pekan Suci, Minggu Palma, 17 April 2011, buku Evangeliarium ini mulai diberlakukan secara resmi untuk digunakan dalam perayaan liturgi di keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia. Gereja Katedral, Gereja Paroki, Kapel-kapel Seminari dan Biara diharapkan memiliki dan menggunakan buku liturgi Evangeliarium ini. Tata cara penggunaan buku Evangeliarium dijelaskan pada bagian awal buku ini.

Tentang Evangeliarum

Kehadiran Kristus secara khusus dinyatakan dalam pembacaan Injil. Dalam bentuk simbolis pesan ilahi mau dinyatakan secara publik, resmi dan agung. Maka, ada suatu ritus yang mendahului Bacaan Injil. Ritus ini disebut Ritus Perarakan Buku Bacaan Injil.

Istilah latin untuk Buku Bacaan Injil ialah Evangeliarium, yaitu suatu buku khusus yang berisi bacaan-bacaan dari Injil dan berfungsi sebagai buku liturgis. Bacaan-bacaan itu sudah dipilih dan diedit untuk keperluan Liturgi Sabda, sesuai dengan Tata Bacaan Misa. Biasanya, Kitab Injil itu berhias dan tampak anggun, karena Buku ini juga merupakan simbol Kristus yang hadir dalam perayaan liturgi.

Lectionarium adalah Buku Bacaan Misa yang berupa kump**an bacaan-bacaan litugis untuk Perayaan Ekaristi, termasuk Injilnya juga. Jadi, yang diarak bukan Lectionarium tetapi Evangeliarium dalam prosesi masuk pada Ritus Pembuka.

Dalam perarakan masuk, sambil membawa Kitab Injil (Evangeliarium) yang sedikit diangkat, diakon (bukan prodiakon) berjalan di depan imam atau di sampingnya. Setibanya di depan altar, diakon langsung menempatkan Evangeliarium di tempatnya, sesudah itu ia bersama imam mencium altar.

Kalau dalam perayaan Ekaristi dipakai d**a, waktu bait pengantar Injil dilagukan, diakon membantu imam mengisi pend**aan. Kemudian ia membungkuk khidmat di depan imam dan meminta berkat, sesudah itu diakon membungkuk mengambil Kitab Injil yang sedikit diangkat. Para putra altar yang membawa pend**aan serta lilin berjalan di depan diakon. Sesampainya di mimbar, diakon sambil membuka tangan, memberi salam kepada umat untuk mewartakan injil. Setelah selesai mewartakan Injil, diakon membawa Kitab Injil ke tempat lain yang telah disediakan yang anggun dan serasi (bukan di altar).

KEBERADAAN LITURGIS EVANGELIARIUM DALAM PERAYAAN EKARISTI

Evangeliarium atau Kitab Injil sangat dihormati dalam Perayaan Ekaristi. Penghormatan tersebut bisa ditemukan dalam penjelasan Buku Evangeliarium yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengenai penggunaan umum dalam Misa sebagai berikut:

1. Tempat Evangeliarium atau Kitab Injil. Dalam Perayaan Ekaristi, Evangeliarium atau Kitab Injil merupakan buku liturgis berisi Bacaan Injil.

Hal ini berbeda dengan Lectionarium yang berisi bacaan-bacaan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh karenanya, sesuai dengan maknanya, Evangeliarium atau Kitab Injil diletakkan di bagian tengah altar dalam keadaan tertutup (PUMR 117, 173).

2. Dalam perarakan masuk, Evangeliarium atau Kitab Injil dibawa oleh Diakon atau Lektor dengan cara sedikit diangkat dan tertutup, lalu diletakkan di atas altar (PUMR 119, 120d, 122). Dalam perarakan masuk, Diakon pembawa Evangeliarium atau Kitab Injil berjalan di depan Imam Selebran (PUMR 172).

Setiba di altar, Diakon tidak memberi penghormatan pada altar melainkan meletakkan Evangeliarium atau Kitab Injil di altar, kemudian bersama Imam mencium altar. Namun, jika pembawa Evangeliarium atau Kitab Injil adalah Lektor, ia tidak mencium altar. Dengan kata lain, Lektor langsung menuju ke tempat duduk yang tersedia.

3. Sebelum pemakluman Injil, Diakon memohon berkat dengan menunduk kepada Imam Selebran. Jika tidak ada Diakon, petugas pembaca Injil adalah Imam. Begitu p**a jika yang memimpin Ekaristi adalah Uskup dan didampingi Imam Konselebran, maka Imam Konselebran itulah yang membaca Injil dengan memohon berkat dahulu kepada Uskup.

Sesudah diberkati oleh Imam Selebran, Diakon atau Imam yang bertugas menuju altar, membungkuk menghormatinya, mengambil Evangeliarium atau Kitab Injil dari altar kemudian pergi ke mimbar sambil membawa Evangeliarium atau Kitab Injil yang sedikit diangkat dan didahului putra altar pembawa lilin dan d**a. Ia mend**ai Evangeliarium atau Kitab Injil setelah membuat tanda salib dengan ibu jarinya pada bacaan Injil yang akan dimaklumkan serta pada dahi, mulut dan dadanya. Kemudian, Evangeliarium atau Kitab Injil did**ai tiga kali masing-masing dua ayunan: di tengah, di samping kiri dan di samping kanan (PUMR 175).

Setelah itu, ia membawakan bacaan
Injil dengan cara membacakan atau menyanyikan. Pemakluman Sabda
dengan membaca menandakan bahwa bacaan atau Sabda Allah dihadirkan
dalam bentuk yang sederhana, sedangkan dengan menyanyikan adalah untuk menampilkan kemeriahan, kesucian, dan keagungan Sabda Allah.
Dalam hal ini Allah bersabda ketika Kitab Suci diwartakan, dan Kristus sendirilah yang bersabda ketika Injil itu dimaklumkan.

4. Setelah selesai memaklumkan Injil, Diakon atau Imam tidak perlu mengangkat Evangeliarium atau Kitab Injil dari mimbar ketika menyerukan “Demikianlah Injil Tuhan” atau seruan serupa.

5. Sesudah jawaban umat “Terpujilah Kristus”, Diakon atau Imam mencium Evangeliarium atau Kitab Injil sambil mengucapkan dalam hati “Semoga dengan pewartaan Injil ini dileburlah dosa-dosa kami”. Jika yang memimpin Misa adalah Uskup, yang mencium Evangeliarium atau Kitab Injil adalah Uskup atau Diakon sendiri dapat menciumnya tanpa membawanya kepada Uskup.

Dalam perayaan meriah, Uskup dapat memberkati Umat dengan Evangeliarium atau Kitab Injil dalam bentuk tanda salib besar. Sesudah itu, Diakon atau Imam membawa Evangeliarium atau Kitab Injil ke kreden atau tempat lain yang lebih pantas, tetapi tidak meletakkannya di altar (PUMR 175).

--------------------------------------------------------------------

Evangeliarium dan pemakluman Injil mendapatkan penghormatan khusus dalam perayaan Ekaristi, namun lebih dari itu, Evangeliarium dan pemakluman Injil menegaskan maknanya sebagai puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda.

Bacaan-bacaan dalam Liturgi Sabda menunjukkan bahwa sejarah keselamatan yang dimulai dalam Perjanjian Lama dilanjutkan di bacaan kedua, hingga akhirnya memuncak dalam diri Yesus Kristus, yang dimaklumkan dalam Injil. Dengan demikian, Evangeliarium dan pemakluman Injil menunjukkan Tuhan Yesus Kristus yang hadir, bersabda, dan berdialog dengan Gereja-Nya. Para bapa Konsili Vatikan II telah menunjukkan juga bahwa Gereja sejak abad-abad awal menghormati pemakluman Injil.

Dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci dinyatakan bahwa “Ia (Kristus) hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya, Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji:

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
(Matius 18:20)

Address

Jln. Koyawas Langowan
Langowan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kerasulan - KITAB SUCI Paroki St. Petrus Langowan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share