07/09/2022
PENDALAMAN KITAB SUCI BKSN 2022
Di bawah tema umum Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2022; ALLAH SUMBER HARAPAN HIDUP BARU, sub tema bahan katekese pertemuan pertama adalah ALLAH SUMBER HARAPAN UNTUK MENANGKIS MENTALITAS KEAGAMAAN PALSU dengan terang Sabda Tuhan: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Amos 5:4). Melalui sub tema ini, umat Katolik Indonesia diajak untuk melihat kembali praktik kehid**an keagamaan yang telah dilakoni selama masa pandemi. Apakah kita cukup setia pada ajaran dan tata cara yang diajarkan Gereja kepada kita? Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan di tengah perubahan-perubahan cara dan sarana dalam beribadah kepada-Nya? Ataukah kita hanya menjalankan tata cara beribadah kita, sedangkan hati kita jauh dari-Nya? Apakah sikap hidup kita menampakkan iman kita yang nyata? Becermin pada teks Am. 5:4-6, kita dituntun untuk mencari Tuhan agar kita tetap hidup, baik kini maupun kelak.
Teks Amos 5:4-6
Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! 5Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” 6Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.
Penafsiran Teks
Konteks
Amos 5:4-6 merupakan salah satu bagian dari rangkaian yang panjang Am. 5:1-17 yang berisikan kump**an seruan kepada orang Israel agar bertobat. Seruan ini dimulai dengan undangan awal pada ay. 1-2 yang menubuatkan tentang hal buruk yang akan menimpa Israel jika mereka tidak bertobat. Secara bertahap, Tuhan meminta mereka untuk meninggalkan berhala dan mencari Dia (ay. 4-6), melakukan keadilan (ay. 7-13), mencari yang baik dan membenci yang jahat (ay. 15-16), sebelum tibanya hari Tuhan (ay. 16-17). Karena itu, Am. 5:4-6 merupakan ajakan untuk meninggalkan segala yang lain untuk hanya mencari Tuhan sebagai satu-satunya harapan dan pegangan hidup orang Israel.
Perikop ini tersusun dengan baik. Pada ay. 4 dan 6 disebutkan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup”. Kedua ayat ini membungkus ay. 5 yang berkonsentrasi pada larangan untuk mencari tempat-tempat yang mengalihkan perhatian orang Israel dari pertemuan sejati dengan Tuhan. Ketiga tempat itu, yakni Betel, Gilgal, dan Bersyeba, memang dikenal sebagai tempat-tempat untuk mempersembahkan kurban.
Betel yang berarti “rumah Allah” merupakan sebuah tempat kudus yang sudah lama dikenal sejak Yakub (Kej. 28:10-22; 31:13; 35:7). Sebelum ada-nya kenisah di Yerusalem, Betel menjadi tempat di mana orang mempersembahkan kurban. Samuel sendiri mengunjungi tempat ini setiap tahun (1Sam. 7:16; 10:3). Ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua, Betel menjadi tempat kebaktian bagi masyarakat di kerajaan bagian utara. Sayangnya, di tempat kudus ini didirikan patung anak lembu emas (1Raj. 12:28-30). Itulah sebabnya para nabi memberikan kritik bahwa di sana berlangsung praktik penyembahan berhala (Hos. 10:5; Yer. 48:13). Salah satu larangan untuk pergi ke Betel terungkap di Am. 5:5 ini.
Gilgal merupakan tempat berkumpulnya orang Israel ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk merebut tanah Kanaan (Yos. 4:19). Di tempat ini p**a mereka menyunat orang-orang Israel yang belum disunat agar mereka dikuduskan (Yos. 5:9). Untuk mengenang penyeberangan Sungai Yordan, mereka lalu mendirikan dua belas batu peringatan di tempat ini (Yos. 4:20). Jadi, Gilgal mengingatkan orang Israel akan peralihan dari Mesir memasuki Tanah Perjanjian.
Sementara itu, Bersyeba merupakan nama tempat di bagian paling selatan, yang biasanya bersamaan dengan Dan di utara dipakai sebagai penanda wilayah Israel dalam ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (Hak. 20:1). Abraham pernah tinggal di sini (Kej. 22:19), demikian juga Ishak (Kej. 28:10), sedangkan Yakub berhenti di sini untuk mempersembahkan kurban (Kej. 46:1).
Penyebutan nama tempat-tempat itu bermaksud mengingatkan orang Israel bahwa Tuhan tidak dapat dicari di tempat-tempat tertentu dengan harapan kosong. Yang paling penting adalah keterbukaan hati dalam mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya ung-kapan “carilah Tuhan” disebutkan dalam perikop ini dua kali. Dengan menyatakan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup” sampai dua kali, perikop ini sebenarnya mau menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjamin kehid**an. Iman yang sejati terletak dalam pencarian akan Tuhan dan semangat untuk meninggalkan berhala-berhala yang menjadi kesenangan diri sendiri.
Membaca teks secara mendalam
Carilah Tuhan
Ungkapan “carilah Tuhan” memiliki beberapa pengertian. Pertama, ini merupakan undangan untuk menyembah hanya kepada Tuhan. Bangsa Israel hanya memiliki Tuhan sebagai Allah mereka yang dimeteraikan dalam perjanjian di Sinai. Isi perjanjian tersebut adalah: Tuhan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Nya (Kel. 6:6; bdk. Yer. 30:22). Ungkapan “mencari Tuhan” bukan berarti Tuhan menghilang, atau mereka tidak mengetahui lagi di mana Tuhan berada. Tuhan tetap ada. Melalui ungkapan atau perintah ini, orang Israel diundang untuk kembali kepada komitmen atau perjanjian awal mereka, yakni untuk menyembah hanya kepada Tuhan saja. Mereka tidak perlu mencari ilah lain, tetapi hanya perlu kembali kepada Tuhan yang selalu menanti mereka.
Kedua, ungkapan “carilah Tuhan” serentak p**a mengandung makna bahwa orang Israel sedang tidak setia pada janji mereka sendiri. Mereka perlu diingatkan untuk kembali menemui Tuhan, Allah mereka. Boleh jadi mereka sedang menyembah banyak ilah dan menempatkan Tuhan sebagai salah satu dari sembahan tersebut, atau malah Tuhan disingkirkan dan digantikan dengan deretan ilah yang baru. Karena itu, ungkapan “carilah Tuhan” sebenarnya meminta pertobatan orang Israel (lih. p**a Ul. 4:29; 1Taw. 16:10-11; 2Taw. 15:12-13). Pertobatan ini perlu diser-tai dengan tindakan nyata untuk mengunjungi Bait Suci (Ul. 12:5; 2Taw. 11:16), tempat yang menandakan kehadiran Allah di tengah mereka. Me-reka juga diminta untuk mendengarkan sabda-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Mencari Tuhan berarti mencari apa yang dikehendaki-Nya.
Maka kamu akan hidup
Memperoleh kehid**an merupakan buah dari pencarian akan Tuhan. Pada ayat sebelumnya disebutkan bahwa kaum Israel akan ba-nyak yang mati ketika mereka maju berperang (ay. 3). Mereka terkapar dan tidak ada yang membangkitkan mereka (ay. 2). Ini terjadi karena mereka tidak mengandalkan Tuhan dalam kehid**an.
Ketika orang Israel melakukan kesalahan, mereka menjauhkan diri mereka dari Tuhan dan dari kehid**an. Tentang hal ini, kisah kejatuhan manusia pertama menjadi contoh bahwa mengabaikan perintah Tuhan akan menjauhkan seseorang dari kehid**an. Setelah mereka makan dari buah pohon pengetahuan, mereka pun dihalau keluar dari Taman Eden dan Tuhan menempatkan beberapa kerub dengan pedang bernyala-nyala untuk melindungi pohon kehid**an (Kej. 3:22-24). Untuk memperoleh kehid**an, manusia harus mencari Tuhan, menaati perintah-Nya, dan bergantung kepada-Nya.
Ketika hendak memasuki Kanaan, orang Israel diingatkan lagi untuk setia kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan akan menentukan nasib mereka. Yang setia akan memperoleh kehid**an dan yang tidak setia akan dihadapkan pada kematian (Ul. 30:15-20). Kehid**an hanya bisa diperoleh ketika orang Israel mendekatkan diri mereka kepada sang Pemilik Kehid**an dan menyembah hanya kepada-Nya saja.
Pada perikop ini, kehid**an dihubungkan dengan upaya pencarian akan Tuhan. Mencari Tuhan berarti mencari kehid**an. Tuhan adalah Pencipta, maka Dialah sumber kehid**an. Kehid**an hanyalah sebuah konsekuensi dari kedekatan dengan Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber kehid**an, semua yang dekat dengan-Nya akan memperoleh kehid**an juga.
Jangan mencari Betel, Gilgal, dan Bersyeba
Dengan sengaja, Nabi Amos memilih kata kerja “mencari” dalam kalimat ini. Pada ayat sebelumnya, kata ini dipakai dalam bentuk imperatif atau perintah “carilah Aku”. Kini, kata kerja ini dipakai dalam bentuk larangan “jangan mencari Betel”. Kalimat ini memiliki dua pengertian berikut. Pertama, yang seharusnya dicari adalah Tuhan. Betel, Gilgal, dan Bersyeba merupakan tempat-tempat yang mengingatkan orang akan Tuhan. Betel adalah tempat Yakub bermimpi melihat malaikat Allah turun naik dari langit dan Tuhan sendiri berbicara kepadanya. Dia pun membuat tugu peringatan di tempat tersebut (Kej. 28:18). Hal serupa terjadi dengan Gilgal yang menjadi tempat orang Israel berkumpul setelah menyeberangi Sungai Yordan dan mendirikan dua belas batu peringatan (Yos. 4:19-20). Di tempat tersebut, mereka menyunat semua orang yang belum disunat (Yos. 5) sebagai tanda pembaruan perjanjian dengan Tuhan. Sementara itu, Bersyeba merupakan tempat di mana Abraham tinggal (Kej. 22:19).
Tempat-tempat tersebut bukanlah tujuan akhir dari penziarah-an iman. Yang dicari hendaknya bukan tempat, melainkan Tuhan. Karena itu, padanan yang disebutkan dalam perikop ini adalah “carilah Tuhan” dan “janganlah mencari Betel”. Padanan ini tidak biasa, sebab kata kerja umumnya tidak langsung diikuti dengan nama tempat. Namun, hal itu disengaja. Kontrasnya sangat jelas: “Carilah Tuhan dan hiduplah! Namun, jangan mencari (nasihat di) Betel.” Tuhan haruslah menjadi subjek dari setiap pencarian iman, alih-alih tempat atau media.
Orang bisa pergi ke Betel yang adalah “rumah Allah”, tetapi yang ia cari seharusnya adalah Tuhan. Ia harus memiliki semangat untuk menjumpai Tuhan, dan tidak menjadikan perjalanannya ke tempat tersebut sebagai wisata rohani. Yang dicari di Betel adalah Tuhan, alih-alih ba-ngunan atau tempat itu sendiri. Pengultusan terhadap tempat tertentu hanya akan menjauhkan orang dari Tuhan. Tempat-tempat itu mestinya menjadi pengingat setiap orang akan kehadiran Tuhan. Mengunjungi tempat-tempat tersebut mesti dilandasi oleh semangat untuk mencari dan menemui-Nya. Tempat-tempat itu sendiri suatu ketika pasti akan ditinggalkan atau lenyap. Hanya Tuhan yang abadi.
Kedua, Betel, Gilgal, dan Bersyeba adalah tempat terjadinya sinkretisme. Pada masa Amos, tempat-tempat ini sudah tidak lagi menjadi tempat yang suci. Betel dan Gilgal, misalnya, sudah menjadi tempat berlangsungnya pemujaan berhala. Oleh Raja Yerobeam, di Betel diba-ngun patung anak lembu emas yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berhala (1Raj. 12:28-30). Betel tetap menjadi tempat penziarahan, tetapi tidak lagi memainkan peranan sebagai rumah Tuhan. Ketika orang menuju ke Betel, bukan Tuhan yang mereka cari, melainkan ilah-ilah lain. Di Gilgal pun terjadi hal yang sama.
Kedua tempat ini disinggung Amos di Am. 4:4-5 sebagai tempat orang melakukan kejahatan. Orang Israel, khususnya mereka yang memiliki kuasa, datang ke situ membawa kurban bakaran, tetapi pada saat yang sama mereka melakukan penindasan.
Sementara itu, Bersyeba yang berada di bagian paling selatan disebut dengan ungkapan “janganlah menyeberang ke Bersyeba”. Tidak ada catatan khusus tentang tempat ini sebagai tempat mempersembahkan kurban. Penyebutan Bersyeba lebih disebabkan karena letaknya yang berbatasan dengan wilayah lain. Bangsa Israel diharapkan tidak menyeberang kepada bangsa asing untuk mencari ilah yang lain, termasuk sekadar mengikuti gaya hidup bangsa-bangsa lain. Mereka harus tetap setia kepada Tuhan dengan mengikuti perintah-perintah-Nya.
Api yang tak terpadamkan
Pemakaian kata “api” untuk menggambarkan keruntuhan kota selalu dikaitkan dengan peperangan. Ketika sebuah kota jatuh ke tangan musuh, kota itu akan dibakar supaya musnah. Praktik seperti ini lazim ditemukan di dunia kuno. Ketika orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka memerangi kota Yerikho. Kota ini jatuh ke tangan mereka dan mereka pun membakarnya (Yos. 6:24). Yerusalem sendiri ketika jatuh ke tangan Nebukadnezar juga dibakar habis oleh tentara Babel (Yer. 39:8). Karena itulah, “api” juga menjadi simbol pemusnahan yang dilakukan Tuhan dan penghakiman yang dijatuhkan-Nya.
Nabi Amos mengingatkan orang Israel untuk menyembah hanya kepada Tuhan. Jika tidak, Tuhan akan mendatangi mereka bagaikan api. Api itu akan memakan habis, membasmi, dan tidak akan ada bisa memadamkannya. Betel yang menjadi tempat yang dikuduskan bagi-Nya juga akan turut Ia musnahkan. Itulah nasib akhir bagi orang yang tidak mencari Tuhan.
Pesan dan Penerapan
Warna utama perikop ini adalah undangan untuk mencari Tuhan, yang berarti memusatkan perhatian pada upaya untuk menemui-Nya dalam kehid**an. Amos mengulangi seruan Tuhan agar umat mencari-Nya, sebab Tuhan menjanjikan kehid**an. Satu dua pesan dapat diambil dari perikop yang singkat ini.
Pertama, kehid**an keagamaan yang sejati terletak pada kesesuaian antara ibadah dan praktik hidup. Perubahan-perubahan yang terjadi dengan tata ibadah atau kebaktian selama masa pandemi Covid-19 agar dapat tetap berjumpa dengan Tuhan mesti dibarengi juga dengan sikap hidup yang mencerminkan kedekatan dengan-Nya. Jika tidak, orang sebenarnya sedang menghayati hidup keagamaan yang palsu. Iman kepada Tuhan hanya dapat dihidupi dalam perbuatan nyata, sebab iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (bdk. Yak. 2:17).
Kedua, hanya dalam Tuhan ada kehid**an yang sejati. Pandemi Covid-19 membuat semua orang seakan-akan kehilangan harapan dan kehid**an. Tuhan sendiri dirasakan hilang dari tengah-tengah pergulatan hidup mati manusia. Namun, sesungguhnya situasi sulit seperti ini merupakan ujian yang memurnikan kehid**an iman dan keagamaan setiap pengikut Kristus.
Orang yang memiliki iman yang kokoh dan setia pada ajaran Katolik akan berupaya untuk mencari jalan guna menemui Tuhan dalam kesatuan dengan umat-Nya. Kehadiran satu sama lain adalah dukungan nyata bagi kehid**an bersama. Kesetiaan pada ibadah secara daring, meskipun terlihat menghadirkan kemudahan, tidak menghadirkan kebersamaan yang diajarkan oleh Gereja. Prinsip dasar dari perayaan sakramen dalam Gereja adalah kehadiran yang nyata dari individu-individu di dalam perayaan tersebut. Kebersamaan ini pada saatnya akan membantu setiap orang beriman untuk peduli satu sama lain dan secara nyata menolong mereka yang benar-benar membutuhkan, terdorong oleh sema-ngat kebersamaan dalam keluarga iman. Kehid**an jemaat perdana bisa menjadi contoh bagi praktik iman seperti ini.
Ketiga, Betel, Gilgal, dan Bersyeba menuntun ke arah yang salah. Tanpa disadari, dalam situasi yang tidak menguntungkan ini, orang-orang berupaya menemukan jalan keluar yang bisa menenangkan batin. Mereka melarikan diri dari Tuhan dan mencari pemenuhan batin pada hal-hal yang makin menjauhkan diri mereka dari-Nya. Mereka menciptakan zona nyaman dengan menciptakan Betel, Gilgal, dan Bersyeba yang baru. Zona nyaman ini membuat mereka seakan-akan menemukan ilah yang baru, yang memberikan kenyamanan dan yang sesuai dengan keinginan mereka. Namun, sama seperti Yerobeam menodai Betel de-ngan membuat patung anak lembu emas agar orang tidak lagi berziarah ke Yerusalem, zona nyaman itu menjadi tandingan agar orang tidak lagi mengikuti pola-pola tradisional dalam menghidupi iman mereka.
Yesus sendiri mengkritik gaya hidup orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka memang mengetahui dengan baik seluk-beluk agama dan berupaya agar semua orang menjalaninya dengan konsekuen. Sayangnya, mereka sendiri hanya menjalankan hidup keagamaan mereka supaya dilihat orang (Mat. 23:5), padahal hati mereka jauh dari Tuhan (Mrk. 7:6-7), sebagaimana yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 29:13). Itulah sebabnya dengan amat tegas Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:20). Dalam hidup beragama, antara puja-puji di bibir dan praktik hidup nyata mesti bersesuaian.
Pertanyaan Pendalaman
1. Bagaimana kita menilai kehid**an keagamaan kita selama masa pandemi ini?
2. Di tengah banyaknya tawaran sekarang ini, tawaran mana yang dirasa lebih nyaman? 3.Apakah hal itu mendekatkan diri kita dengan sesama dan dengan Tuhan?
4. Zona nyaman mana yang membuat kita sulit keluar untuk kembali menjalani kehid**an keagamaan kita seperti sedia kala?
5. Apa yang bisa kita buat untuk membantu diri kita dan sesama guna meningkatkan kehid**an keagamaan yang sejati?