07/01/2026
Asia
Indonesia: Keuskupan Amboina Membuka Proses Beatifikasi Uskup Aerts dan Martir Kei
๐๐ช๐ข๐๐๐ง : ๐๐๐๐๐ค ๐๐๐ง๐๐ฉ๐๐จ ๐ผ๐จ๐๐
--------------------------------------------------------------
Uskup Seno Ngutra dari Keuskupan Amboina, Provinsi Maluku, Indonesia, telah secara resmi mengumumkan pembukaan tahap proses beatifikasi untuk Mgr. Arnoldus Johannes Hubertus Aerts, MSC, bersama dengan para Misionaris Hati Kudus (MSC), yang menjadi martir di Langgur, Pulau Kei Kecil. Pengumuman tersebut disampaikan saat perayaan Ekaristi di Taman Ziarah Martir Kei pada tanggal 30 Desember 2025.
Mgr. Aerts dan 12 anggota Jemaat MSC dieksekusi oleh pasukan Jepang pada tanggal 30 Juli 1942 karena kesetiaan mereka pada iman Kristen dan mandat misionaris Gereja.
Dibunuh karena kesetiaan kepada iman dan kepada rakyat.
Peristiwa tragis itu terjadi tak lama setelah pasukan Jepang mendarat di Langgur-Tual di Pulau Kei Kecil selama Perang Dunia II. Para misionaris Eropa menjadi sasaran karena secara politis mereka dianggap berasal dari negara-negara yang dianggap sebagai "musuh" Jepang. Di antara para misionaris MSC, seorang imam keturunan Jerman selamat, karena Jerman saat itu merupakan sekutu Jepang.
Pastor Yong Ohoitimur, MSC, mengenang bahwa para martir Kei secara sadar memilih untuk tetap bersama kaum mereka, meskipun mereka memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri sendiri.
โSebenarnya mereka punya kesempatan untuk melarikan diri ke Australia, seperti halnya para pejabat pemerintah kolonial Belanda. Tetapi karena kesetiaan pada misi mereka, mereka memilih untuk tinggal dan menemani umat beriman,โ kata Pastor Ohoitimur.
Ia mendesak umat Katolik untuk mengingat para martir ini dengan rasa syukur atas kesaksian iman dan keteguhan mereka dalam menjalankan misi mereka, bahkan dengan mengorbankan nyawa mereka. Ungkapan kuno Gereja, Sanguis martyrum semen Christianorum, darah para martir adalah benih umat Kristen, sekali lagi ditegaskan.
Mgr. Aerts, uskup pertama Amboina
Mgr. Arnoldus Johannes Hubertus Aerts, MSC, lahir di Swoglen, Belanda, pada tanggal 3 Februari 1880. Ia ditahbiskan sebagai imam dari Kongregasi Misionaris Hati Kudus pada tanggal 6 Agustus 1905. Awalnya dipersiapkan untuk pekerjaan misi di Surigao, Filipina, ia kemudian dikirim ke Hindia Belanda (Indonesia).
Pada tanggal 12 Juli 1920, Paus Benediktus XV menunjuknya sebagai Uskup Tituler Apollonia, dan pada tanggal 28 Agustus 1920, ia diangkat sebagai Vikaris Apostolik Nova Guinea Olandese, sebuah wilayah misi Belanda yang kemudian berkembang menjadi Keuskupan Amboina pada tanggal 3 Januari 1961. Sejak tahun 1902, wilayah ini dipercayakan kepada Kongregasi MSC, menggantikan para misionaris Yesuit.
Mgr. Aerts bertugas di Maluku dan Papua sejak tahun 1921. Pada usia 62 tahun, setelah 37 tahun menjalani kehidupan religius sebagai imam MSC dan 22 tahun sebagai uskup, beliau dieksekusi oleh pasukan Jepang di pantai Langgur pada tanggal 30 Juli 1942.
Tanah suci para martir
Dalam khotbahnya, Uskup Ngutra mengajak umat beriman untuk mengakui tanah Langgur sebagai tanah suci, yang disucikan oleh darah para martir.
โApakah Anda menyadari bahwa Anda sedang berdiri di tanah suci? Yesus Kristus datang ke dunia bukan terutama untuk hidup, tetapi untuk mati. Dan kematian-Nya adalah pengorbanan kasih yang tertinggi,โ kata uskup itu.
Ia menekankan bahwa para martir Kei, seperti Kristus, memilih untuk menjadi butir-butir gandum yang jatuh ke tanah dan mati, agar iman umat, yang masih rapuh pada waktu itu, dapat tumbuh dan berbuah.
โMereka tidak tinggal untuk mencari ketenaran atau kehormatan. Mereka tinggal karena cinta mereka yang besar terhadap tanah ini dan terhadap orang-orang yang dipercayakan kepada mereka,โ katanya.
Menurut Uskup Ngutra, iman Kristen berkembang dari darah para martir ini tidak hanya di Kei tetapi juga di Ambon, Maluku Utara, dan bahkan Papua. โOleh karena itu, sangat tepat jika kita menyebut mereka martir. Pengorbanan hidup mereka adalah bukti paling jelas dari kesetiaan kepada Tuhan dan iman,โ tegasnya.
Awal dari sebuah perjalanan iman
Uskup Ngutra mencatat bahwa apakah orang-orang ini pada akhirnya akan dinyatakan sebagai santo atau bukan sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan. โJika Tuhan menghendakinya, jalan akan dibuka dan setiap rintangan akan disingkirkan. Tugas kita adalah berdoa,โ katanya.
Ia mendorong umat beriman untuk menjadikan Kompleks Ziarah Para Martir Kei sebagai rumah doa sejati, tempat perjumpaan dengan Tuhan, dan menekankan bahwa tanggung jawab untuk melestarikan kesuciannya terletak pada semua umat beriman, terutama masyarakat Langgur.
Perayaan Ekaristi ini menandai dimulainya secara resmi proses beatifikasi para martir Kei, dengan keyakinan bahwa, sebagaimana Kristus dan para martir mempersembahkan hidup mereka, Gereja kini mempersembahkan doanya agar kehendak Allah dapat dinyatakan melalui perjalanan suci ini