29/05/2026
Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah
PEKALONGAN – Kebudayaan memegang peran krusial sebagai akar tumbuhnya peradaban sekaligus pilar utama dalam membangun indeks kebahagiaan masyarakat. Hal tersebut menjadi benang merah dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk "Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan" yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kamis (28/5/2026) malam.
Acara ini menghadirkan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman, yang dijadwalkan hadir, berhalangan mendatangkan diri pada kesempatan tersebut. Meski demikian, forum tetap berlangsung dinamis dengan kehadiran tokoh masyarakat yang juga mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.
Turut hadir dalam acara ini perwakilan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggotanya, perwakilan Kapolres Pekalongan, perwakilan Dandim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar), serta para budayawan lokal.
Dalam paparannya, Ketua Lesbumi PBNU KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti fenomena global berupa gonjang-ganjing zaman yang melanda sektor ekonomi, sosial, hingga disorientasi manusia saat ini. Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah jati diri yang tidak boleh ditinggalkan.
"Peradaban tanpa budaya tidak akan bisa hidup. Indonesia sebenarnya adalah negara superpower kebudayaan dengan kekayaan luar biasa yang diakui UNESCO. Namun, tantangannya adalah perhatian negara yang lambat. UU Pemajuan Kebudayaan baru disahkan beeberapa tahun terakhir," ujar KH. Jadul Maula.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah elemen vital yang tidak boleh dipisahkan dari peradaban.
"Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa, ia akan mati total dan berhenti. Tujuan utama dari kebudayaan ialah mendewasakan dan memerdekakan jiwa, di mana muara akhirnya adalah kebahagiaan serta kesejahteraan rakyat, bahkan sebelum Indonesia mampu merdeka," ujar KH. Jadul Maula.
Dalam konteks mendewasakan jiwa, beliau mengisahkan keteladanan tokoh Nusantara seperti Ki Ageng Suryomentaram dengan beragam laku tirakatnya. Ki Ageng Suryomentaram dikisahkan pernah mendapat satu isyarat dalam mimpinya untuk mendewasakan seribu jiwa manusia terlebih dahulu, sebelum memerdekakan bangsa ini dari cengkeraman penjajah.
Beliau juga memberikan amsal historis mengenai kuatnya pengaruh budaya Nusantara. Salah satunya kisah pekerja Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.
"Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya, kita justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting untuk perjuangan kedaulatan bangsa," imbuhnya.
Lebih lanjut, KH. Jadul Maula mengkritik arah pembangunan global selama puluhan tahun yang hanya diukur dari sektor ekonomi. Menurutnya, ukuran sejati dari kebudayaan adalah kebahagiaan rakyat. Menghadapi krisis modern mulai dari spiritual, lingkungan, hingga perang, jawabannya ada pada 10 objek pemajuan kebudayaan yang seluruhnya berbasis tradisi.
"Jika cara pandang tradisi diubah untuk fokus membangun manusianya, Indonesia akan menjadi negara superpower," tegasnya.
Pandangan senada disampaikan oleh mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Ia memaparkan bahwa tulang punggung (backbone) pembangunan pemerintah memang bertumpu pada infrastruktur, transparansi, dan kapasitas fiskal. Namun, muara akhir dari seluruh pembangunan tersebut harus mampu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat, terutama di tengah arus modernisasi yang kuat memengaruhi pola hidup hari ini.
Merespons pentingnya pelestarian nilai lokal tersebut, Asip Kholbihi, membawa kabar baik mengenai regulasi daerah. Ia menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pekalongan terkait C***r Budaya yang baru saja disahkan pada tanggal 13 Mei 2026.
Selaku mantan Bupati Pekalongan, Asip menyatakan kesiapannya untuk mengawal langsung implementasi aturan tersebut. "Kami siap melakukan follow-up dan mengawal rencana pembangunan museum budaya di Pekalongan. Kami juga merekomendasikan kepada Pemerintah Daerah agar melibatkan Lesbumi ke dalam tim identifikasi situs c***r budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan," tegas Asip.
Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, membedah hubungan kebudayaan dari kacamata spiritualitas Islam melalui konsep keselarasan hubungan kepada Allah (habluminallah), manusia (habluminannas), dan alam. Merujuk pada kitab Adabul Alim Wal Muta'allim, ia menjelaskan pentingnya integrasi antara Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.
"Terjadinya berbagai kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia yang kehilangan komitmen menjaga alam. Budaya yang berkaitan dengan akhlakul karimah inilah yang bisa memajukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah," pungkas KH. Baihaqi Anwar.Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah
PEKALONGAN – Kebudayaan memegang peran krusial sebagai akar tumbuhnya peradaban sekaligus pilar utama dalam membangun indeks kebahagiaan masyarakat. Hal tersebut menjadi benang merah dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk "Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan" yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kamis (28/5/2026) malam.
Acara ini menghadirkan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman, yang dijadwalkan hadir, berhalangan mendatangkan diri pada kesempatan tersebut. Meski demikian, forum tetap berlangsung dinamis dengan kehadiran tokoh masyarakat yang juga mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.
Turut hadir dalam acara ini perwakilan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggotanya, perwakilan Kapolres Pekalongan, perwakilan Dandim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar), serta para budayawan lokal.
Dalam paparannya, Ketua Lesbumi PBNU KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti fenomena global berupa gonjang-ganjing zaman yang melanda sektor ekonomi, sosial, hingga disorientasi manusia saat ini. Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah jati diri yang tidak boleh ditinggalkan.
"Peradaban tanpa budaya tidak akan bisa hidup. Indonesia sebenarnya adalah negara superpower kebudayaan dengan kekayaan luar biasa yang diakui UNESCO. Namun, tantangannya adalah perhatian negara yang lambat. UU Pemajuan Kebudayaan baru disahkan beeberapa tahun terakhir," ujar KH. Jadul Maula.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah elemen vital yang tidak boleh dipisahkan dari peradaban.
"Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa, ia akan mati total dan berhenti. Tujuan utama dari kebudayaan ialah mendewasakan dan memerdekakan jiwa, di mana muara akhirnya adalah kebahagiaan serta kesejahteraan rakyat, bahkan sebelum Indonesia mampu merdeka," ujar KH. Jadul Maula.
Dalam konteks mendewasakan jiwa, beliau mengisahkan keteladanan tokoh Nusantara seperti Ki Ageng Suryomentaram dengan beragam laku tirakatnya. Ki Ageng Suryomentaram dikisahkan pernah mendapat satu isyarat dalam mimpinya untuk mendewasakan seribu jiwa manusia terlebih dahulu, sebelum memerdekakan bangsa ini dari cengkeraman penjajah.
Beliau juga memberikan amsal historis mengenai kuatnya pengaruh budaya Nusantara. Salah satunya kisah pekerja Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.
"Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya, kita justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting untuk perjuangan kedaulatan bangsa," imbuhnya.
Lebih lanjut, KH. Jadul Maula mengkritik arah pembangunan global selama puluhan tahun yang hanya diukur dari sektor ekonomi. Menurutnya, ukuran sejati dari kebudayaan adalah kebahagiaan rakyat. Menghadapi krisis modern mulai dari spiritual, lingkungan, hingga perang, jawabannya ada pada 10 objek pemajuan kebudayaan yang seluruhnya berbasis tradisi.
"Jika cara pandang tradisi diubah untuk fokus membangun manusianya, Indonesia akan menjadi negara superpower," tegasnya.
Pandangan senada disampaikan oleh mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Ia memaparkan bahwa tulang punggung (backbone) pembangunan pemerintah memang bertumpu pada infrastruktur, transparansi, dan kapasitas fiskal. Namun, muara akhir dari seluruh pembangunan tersebut harus mampu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat, terutama di tengah arus modernisasi yang kuat memengaruhi pola hidup hari ini.
Merespons pentingnya pelestarian nilai lokal tersebut, Asip Kholbihi, membawa kabar baik mengenai regulasi daerah. Ia menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pekalongan terkait C***r Budaya yang baru saja disahkan pada tanggal 13 Mei 2026.
Selaku mantan Bupati Pekalongan, Asip menyatakan kesiapannya untuk mengawal langsung implementasi aturan tersebut. "Kami siap melakukan follow-up dan mengawal rencana pembangunan museum budaya di Pekalongan. Kami juga merekomendasikan kepada Pemerintah Daerah agar melibatkan Lesbumi ke dalam tim identifikasi situs c***r budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan," tegas Asip.
Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, membedah hubungan kebudayaan dari kacamata spiritualitas Islam melalui konsep keselarasan hubungan kepada Allah (habluminallah), manusia (habluminannas), dan alam. Merujuk pada kitab Adabul Alim Wal Muta'allim, ia menjelaskan pentingnya integrasi antara Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.
"Terjadinya berbagai kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia yang kehilangan komitmen menjaga alam. Budaya yang berkaitan dengan akhlakul karimah inilah yang bisa memajukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah," pungkas KH. Baihaqi Anwar.