Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan

Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Akun resmi PC LESBUMI NU Kab Pekalongan yang dikelola oleh Divisi Pengembangan Jaringan, Komunikasi dan Publikasi PC Lesbumi NU Kab Pekalongan.

LESBUMI NU Terbitkan Maklumat Tambakberas 2026, Serukan “Kembali ke Akar” untuk Indonesia MuliaJombang, 14 Juni 2026 – M...
20/06/2026

LESBUMI NU Terbitkan Maklumat Tambakberas 2026, Serukan “Kembali ke Akar” untuk Indonesia Mulia

Jombang, 14 Juni 2026 – Muktamar Kebudayaan Indonesia I yang diselenggarakan oleh LESBUMI NU di Tambakberas, Jombang, menghasilkan sebuah dokumen penting bertajuk “Maklumat Tambakberas 2026: Kembali ke Akar, Merawat Jiwa Sehat-Berdaulat, Menumbuhkan Indonesia Mulia.” Maklumat ini menjadi seruan kebudayaan bagi warga Nahdlatul Ulama dan seluruh elemen bangsa untuk kembali kepada nilai-nilai dasar kebangsaan, keulamaan, dan kebudayaan Nusantara dalam menghadapi berbagai krisis yang melanda Indonesia.

Dalam maklumat tersebut, LESBUMI NU menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari krisis kedaulatan, ekonomi, ekologi, kepemimpinan, pengetahuan, hingga krisis keulamaan. Menurut para perumus, salah satu akar persoalan tersebut adalah semakin jauhnya kehidupan berbangsa dari fondasi nilai yang melahirkan Republik Indonesia serta tradisi keulamaan dan kebudayaan Nusantara yang selama ini menjadi sumber kebijaksanaan bangsa.

Muktamar Kebudayaan Indonesia I kemudian merumuskan lima rekomendasi utama. Pertama, menghidupkan kembali semangat dan nilai-nilai dasar Pembukaan UUD 1945 sebagai pedoman moral, politik, hukum, dan ekonomi bangsa. Kedua, mengembalikan jati diri Nahdlatul Ulama sebagai kebangkitan ulama yang memiliki keberanian moral dalam mengawal keadilan dan mengontrol kekuasaan.

Ketiga, LESBUMI menyerukan penguatan “Jihad Kebudayaan” sebagai bentuk aktualisasi Resolusi Jihad di era modern. Jihad dimaknai tidak hanya sebagai perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan spiritual, intelektual, sosial, ekonomi, politik, dan budaya untuk membangun Peradaban Nusantara yang adil dan beradab.

Keempat, maklumat menyoroti tantangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan rekayasa genetika. LESBUMI menegaskan bahwa teknologi harus digunakan sebagai sarana kemaslahatan manusia dan tidak boleh menggantikan otoritas moral serta keagamaan yang menjadi tanggung jawab manusia. Maklumat juga mendorong pengembangan kurikulum lintas disiplin di pesantren dan perguruan tinggi NU guna menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi.

Sementara itu, rekomendasi kelima menekankan pentingnya paradigma ekologi berbasis kebudayaan. Dalam bagian ini, maklumat menyoroti isu penerimaan konsesi tambang oleh NU yang dinilai perlu dikaji secara lebih komprehensif dari aspek agama, lingkungan, sosial, budaya, dan kemanusiaan. LESBUMI mendorong moratorium tindak lanjut konsesi tambang hingga tersedia kajian yang menyeluruh, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Pada bagian penutup, Muktamar Kebudayaan Indonesia LESBUMI NU 2026 mengajak seluruh warga NU, masyarakat sipil, komunitas budaya, pesantren, perguruan tinggi, dan para pemangku kebijakan untuk menjadikan semangat “Kembali ke Akar” sebagai gerakan kebudayaan nasional. Gerakan tersebut diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai keadilan, akal sehat, kepentingan rakyat, serta cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Maklumat Tambakberas 2026 ditetapkan di Tambakberas, Jombang, pada 14 Juni 2026 dan ditandatangani oleh Ketua Pengurus LESBUMI PBNU M. Jadul Maula serta Sekretaris Inaya Wulandari Wahid. Dokumen ini diharapkan menjadi kontribusi pemikiran kebudayaan dalam menyongsong masa depan Indonesia yang berdaulat, berkeadaban, dan bermartabat.

Keluarga Besar Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan ngaturaken Sugeng Warsa Enggal Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah.Ing dinte...
16/06/2026

Keluarga Besar Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan ngaturaken Sugeng Warsa Enggal Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah.

Ing dinten ingkang pinuji niki, mangga kita sesarengan manjataken donga dumateng Gusti Allah SWT. Mugi-mugi ing taun ingkang enggal niki, kita sedaya dipunparingi berkah umur, berkah rejeki, kasarasan, lan kawicaksanan kangge nguri-uri kabudayan Islam Nusantara ingkang adiluhung.

Mari bersihkan jiwa (sesuci dhiri), jernihkan pikiran, dan terus berkarya melestarikan warisan para ulama dan leluhur di bumi Pekalongan.Tahun baru, niat baru, karya baru yang maslahat untuk umat! 🪕✍️

Selamat dan Sukses atas terpilihnya Pembina Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Bapak Suryono, S. Ag sebagai Ketua Koni Ka...
03/06/2026

Selamat dan Sukses atas terpilihnya Pembina Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Bapak Suryono, S. Ag sebagai Ketua Koni Kabupaten Pekalongan periode 2026-2028.
Semoga amanah dan membawa kemajuan olahraga di Kabupaten Pekalongan.

Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah PEKALONGAN – Kebudayaan memegang pe...
29/05/2026

Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah

PEKALONGAN – Kebudayaan memegang peran krusial sebagai akar tumbuhnya peradaban sekaligus pilar utama dalam membangun indeks kebahagiaan masyarakat. Hal tersebut menjadi benang merah dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk "Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan" yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kamis (28/5/2026) malam.

Acara ini menghadirkan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman, yang dijadwalkan hadir, berhalangan mendatangkan diri pada kesempatan tersebut. Meski demikian, forum tetap berlangsung dinamis dengan kehadiran tokoh masyarakat yang juga mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.

Turut hadir dalam acara ini perwakilan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggotanya, perwakilan Kapolres Pekalongan, perwakilan Dandim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar), serta para budayawan lokal.

Dalam paparannya, Ketua Lesbumi PBNU KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti fenomena global berupa gonjang-ganjing zaman yang melanda sektor ekonomi, sosial, hingga disorientasi manusia saat ini. Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah jati diri yang tidak boleh ditinggalkan.

"Peradaban tanpa budaya tidak akan bisa hidup. Indonesia sebenarnya adalah negara superpower kebudayaan dengan kekayaan luar biasa yang diakui UNESCO. Namun, tantangannya adalah perhatian negara yang lambat. UU Pemajuan Kebudayaan baru disahkan beeberapa tahun terakhir," ujar KH. Jadul Maula.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah elemen vital yang tidak boleh dipisahkan dari peradaban.
"Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa, ia akan mati total dan berhenti. Tujuan utama dari kebudayaan ialah mendewasakan dan memerdekakan jiwa, di mana muara akhirnya adalah kebahagiaan serta kesejahteraan rakyat, bahkan sebelum Indonesia mampu merdeka," ujar KH. Jadul Maula.

Dalam konteks mendewasakan jiwa, beliau mengisahkan keteladanan tokoh Nusantara seperti Ki Ageng Suryomentaram dengan beragam laku tirakatnya. Ki Ageng Suryomentaram dikisahkan pernah mendapat satu isyarat dalam mimpinya untuk mendewasakan seribu jiwa manusia terlebih dahulu, sebelum memerdekakan bangsa ini dari cengkeraman penjajah.

Beliau juga memberikan amsal historis mengenai kuatnya pengaruh budaya Nusantara. Salah satunya kisah pekerja Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.

"Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya, kita justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting untuk perjuangan kedaulatan bangsa," imbuhnya.

Lebih lanjut, KH. Jadul Maula mengkritik arah pembangunan global selama puluhan tahun yang hanya diukur dari sektor ekonomi. Menurutnya, ukuran sejati dari kebudayaan adalah kebahagiaan rakyat. Menghadapi krisis modern mulai dari spiritual, lingkungan, hingga perang, jawabannya ada pada 10 objek pemajuan kebudayaan yang seluruhnya berbasis tradisi.
"Jika cara pandang tradisi diubah untuk fokus membangun manusianya, Indonesia akan menjadi negara superpower," tegasnya.

Pandangan senada disampaikan oleh mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Ia memaparkan bahwa tulang punggung (backbone) pembangunan pemerintah memang bertumpu pada infrastruktur, transparansi, dan kapasitas fiskal. Namun, muara akhir dari seluruh pembangunan tersebut harus mampu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat, terutama di tengah arus modernisasi yang kuat memengaruhi pola hidup hari ini.

Merespons pentingnya pelestarian nilai lokal tersebut, Asip Kholbihi, membawa kabar baik mengenai regulasi daerah. Ia menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pekalongan terkait C***r Budaya yang baru saja disahkan pada tanggal 13 Mei 2026.

Selaku mantan Bupati Pekalongan, Asip menyatakan kesiapannya untuk mengawal langsung implementasi aturan tersebut. "Kami siap melakukan follow-up dan mengawal rencana pembangunan museum budaya di Pekalongan. Kami juga merekomendasikan kepada Pemerintah Daerah agar melibatkan Lesbumi ke dalam tim identifikasi situs c***r budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan," tegas Asip.

Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, membedah hubungan kebudayaan dari kacamata spiritualitas Islam melalui konsep keselarasan hubungan kepada Allah (habluminallah), manusia (habluminannas), dan alam. Merujuk pada kitab Adabul Alim Wal Muta'allim, ia menjelaskan pentingnya integrasi antara Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.

"Terjadinya berbagai kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia yang kehilangan komitmen menjaga alam. Budaya yang berkaitan dengan akhlakul karimah inilah yang bisa memajukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah," pungkas KH. Baihaqi Anwar.Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah

PEKALONGAN – Kebudayaan memegang peran krusial sebagai akar tumbuhnya peradaban sekaligus pilar utama dalam membangun indeks kebahagiaan masyarakat. Hal tersebut menjadi benang merah dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk "Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan" yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kamis (28/5/2026) malam.

Acara ini menghadirkan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman, yang dijadwalkan hadir, berhalangan mendatangkan diri pada kesempatan tersebut. Meski demikian, forum tetap berlangsung dinamis dengan kehadiran tokoh masyarakat yang juga mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.

Turut hadir dalam acara ini perwakilan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggotanya, perwakilan Kapolres Pekalongan, perwakilan Dandim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar), serta para budayawan lokal.

Dalam paparannya, Ketua Lesbumi PBNU KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti fenomena global berupa gonjang-ganjing zaman yang melanda sektor ekonomi, sosial, hingga disorientasi manusia saat ini. Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah jati diri yang tidak boleh ditinggalkan.

"Peradaban tanpa budaya tidak akan bisa hidup. Indonesia sebenarnya adalah negara superpower kebudayaan dengan kekayaan luar biasa yang diakui UNESCO. Namun, tantangannya adalah perhatian negara yang lambat. UU Pemajuan Kebudayaan baru disahkan beeberapa tahun terakhir," ujar KH. Jadul Maula.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah elemen vital yang tidak boleh dipisahkan dari peradaban.
"Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa, ia akan mati total dan berhenti. Tujuan utama dari kebudayaan ialah mendewasakan dan memerdekakan jiwa, di mana muara akhirnya adalah kebahagiaan serta kesejahteraan rakyat, bahkan sebelum Indonesia mampu merdeka," ujar KH. Jadul Maula.

Dalam konteks mendewasakan jiwa, beliau mengisahkan keteladanan tokoh Nusantara seperti Ki Ageng Suryomentaram dengan beragam laku tirakatnya. Ki Ageng Suryomentaram dikisahkan pernah mendapat satu isyarat dalam mimpinya untuk mendewasakan seribu jiwa manusia terlebih dahulu, sebelum memerdekakan bangsa ini dari cengkeraman penjajah.

Beliau juga memberikan amsal historis mengenai kuatnya pengaruh budaya Nusantara. Salah satunya kisah pekerja Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.

"Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya, kita justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting untuk perjuangan kedaulatan bangsa," imbuhnya.

Lebih lanjut, KH. Jadul Maula mengkritik arah pembangunan global selama puluhan tahun yang hanya diukur dari sektor ekonomi. Menurutnya, ukuran sejati dari kebudayaan adalah kebahagiaan rakyat. Menghadapi krisis modern mulai dari spiritual, lingkungan, hingga perang, jawabannya ada pada 10 objek pemajuan kebudayaan yang seluruhnya berbasis tradisi.
"Jika cara pandang tradisi diubah untuk fokus membangun manusianya, Indonesia akan menjadi negara superpower," tegasnya.

Pandangan senada disampaikan oleh mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Ia memaparkan bahwa tulang punggung (backbone) pembangunan pemerintah memang bertumpu pada infrastruktur, transparansi, dan kapasitas fiskal. Namun, muara akhir dari seluruh pembangunan tersebut harus mampu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat, terutama di tengah arus modernisasi yang kuat memengaruhi pola hidup hari ini.

Merespons pentingnya pelestarian nilai lokal tersebut, Asip Kholbihi, membawa kabar baik mengenai regulasi daerah. Ia menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pekalongan terkait C***r Budaya yang baru saja disahkan pada tanggal 13 Mei 2026.

Selaku mantan Bupati Pekalongan, Asip menyatakan kesiapannya untuk mengawal langsung implementasi aturan tersebut. "Kami siap melakukan follow-up dan mengawal rencana pembangunan museum budaya di Pekalongan. Kami juga merekomendasikan kepada Pemerintah Daerah agar melibatkan Lesbumi ke dalam tim identifikasi situs c***r budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan," tegas Asip.

Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, membedah hubungan kebudayaan dari kacamata spiritualitas Islam melalui konsep keselarasan hubungan kepada Allah (habluminallah), manusia (habluminannas), dan alam. Merujuk pada kitab Adabul Alim Wal Muta'allim, ia menjelaskan pentingnya integrasi antara Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.

"Terjadinya berbagai kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia yang kehilangan komitmen menjaga alam. Budaya yang berkaitan dengan akhlakul karimah inilah yang bisa memajukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah," pungkas KH. Baihaqi Anwar.

Raih Status WBTb, Terbang Gendukan Jadi Ikon Legenonan Desa KaranganyarTirtoPEKALONGAN – Kesenian tradisional Terbang Ge...
17/05/2026

Raih Status WBTb, Terbang Gendukan Jadi Ikon Legenonan Desa KaranganyarTirto

PEKALONGAN – Kesenian tradisional Terbang Gendukan resmi menjadi ikon dalam perayaan Legenonan di Desa Karanganyar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.

Acara tahunan ini berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan mulai dari doa bersama, penampilan tari tradisional, hingga pagelaran Wayang Santri yang dibawakan oleh dalang sekaligus Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pemalang, Ki Suryaningrat, Sabtu (16/5/2026) malam.

Acara ini dihadiri langsung oleh Plt. Bupati Pekalongan Sukirman, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro, jajaran Forkopimcam Tirto, Kepala Desa Karanganyar Hasan Basri, serta ratusan warga setempat yang antusias memadati lokasi.

*) Perjalanan Panjang Menuju Warisan Budaya Takbenda Nasional

Proses pengusulan kesenian Terbang Gendukan menuju status Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional melewati tahapan yang panjang. Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, Ahmad Nur Rohim Hadinagoro, menjelaskan bahwa perjuangan ini dimulai sejak tahun 2020.

Saat itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Karanganyar bersama pengurus Jama'ah Gendukan secara resmi mendaftarkan kesenian tersebut ke dinas terkait, dengan difasilitasi oleh Lesbumi PCNU Pekalongan guna mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.

Langkah awal tersebut membuahkan hasil secara bertahap sepanjang tahun 2020 hingga 2024. Selama periode tersebut, kesenian Gendukan menerima kunjungan kerja resmi dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Seluruh dokumentasi atas kesenian ini bahkan telah diterbitkan dalam bentuk buku resmi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X.

Memasuki tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Pekalongan semakin memperkuat komitmennya dengan menetapkan target pengusulan resmi di tingkat pusat.

Tidak hanya Gendukan, Pemkab Pekalongan juga mengusulkan kesenian Langkah Telu (Jangkah 3) yang sama-sama berasal dari Desa Karanganyar, agar keduanya berhasil mendapatkan status legal pelestarian nasional yang diakui secara sah oleh pemerintah pusat.

Saat ini, kesenian Terbang Gendukan telah mendapatkan pengakuan dan perlindungan penuh di tingkat pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan. Seluruh aktivitas kebudayaan dan latihan rutin masyarakat kini telah difasilitasi secara resmi di Gedung Kesenian Gendukan yang terletak di Gang 14, berdampingan langsung dengan Balai Desa Karanganyar.

*) Esensi Budaya dan Kelestarian 125 Tahun

Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman, dalam sambutannya menekankan bahwa esensi kebudayaan memiliki cakupan yang sangat luas. Menurutnya, budaya tidak hanya terbatas pada seni tari dan musik, melainkan juga mewujud pada perilaku baik, aktivitas mengaji, tata krama atau tindak-tanduk dalam bermasyarakat, sikap tolong-menolong, serta semangat gotong royong.

Sementara itu, Kepala Desa Karanganyar, Hasan Basri, menyatakan bahwa kegiatan nguri-uri (melestarikan) budaya ini digelar untuk mengingat kembali jasa para masyayikh. Ia mengagumi konsistensi kesenian ini yang mampu menjaga ritme bacaan dan keaslian alat musiknya selama 125 tahun sejak pertama kali diciptakan.

Pihak Pemdes berkomitmen penuh mendukung acara ini agar marwah kecintaan terhadap desa bisa tumbuh, sekaligus mengedukasi generasi muda agar memahami sejarah peninggalan leluhur yang luar biasa dalam mengisi waktu luang dengan hal-hal positif.

*) Sekilas Sejarah Gendukan Al Muqoddam

Kesenian Gendukan pertama kali diperkenalkan di Desa Karanganyar pada tahun 1900-an oleh Mbah Yai Harjo Sarmidi, seorang santri dari ulama besar Hadrotus Syaikh K.H. Adam bin Abdillah Grabyak. Nama "Gendukan" sendiri diambil dari tiruan bunyi kendang khas Jawa ketika dipukul menggunakan tangan yang mengeluarkan suara "gendang-genduk".

Pada awal kemunculannya, Gang 09 menjadi tempat berkumpul utama para Jama'ah Gendukan.

Seiring berjalannya waktu, roda estafet pelestarian kesenian ini terus berputar. Pada tahun 1960-an, kepengurusan diteruskan oleh Mbah Yai Ilyas bin Cari yang merupakan pengampu Musholla Al-Halim. Sejak saat itu, tempat berkumpul jamaah secara otomatis berpindah ke Musholla Al-Halim di Gang 12, karena Mbah Harjo memilih fokus mengasuh Jama'ah Sewelasan (Manaqib) dan Jama'ah Darailan (Thoriqot).

Setelah wafatnya Mbah Yai Ilyas pada tahun 1980-an, aktivitas jamaah dilanjutkan oleh Kyai Toha yang juga merupakan kyai pengampu di musholla yang sama.

Memasuki era 1990-an, demi menjaga kelestarian ketukan terbang Jawa serta kemurnian bacaan sholawat yang bersumber dari Kitab Al-Barzanji khususnya Bab Sholawat Syariful Anam, kepengurusan diambil alih oleh tokoh masyarakat sekaligus perangkat desa, Bapak Casbari.

Kesenian ini kerap melantunkan nadzom atau lagu sholawat seperti Al Muqoddam, As-Shola, Sholatun, hingga Ya Alloh Wali, sehingga faksi ini identik dengan nama Jama'ah Gendukan Al Muqoddam.

Perjalanan kesenian ini tidak selalu mulus. Pada rentang tahun 1990-an hingga 2000-an, aktivitas Jama'ah Gendukan sempat mengalami kefakuman akibat faktor usia alat musik. Beberapa kendang dan terbang Jawa mengalami kerusakan parah pada bagian kulit, serta kayunya keropos dimakan rayap.

Titik balik kebangkitan terjadi pada tahun 2000-an ketika H. Jamhari, seorang tokoh masyarakat sekaligus pencinta seni Gendukan, merasa terpanggil untuk menyelamatkan tradisi ini. Ia membenahi seluruh sarana alat musik yang rusak serta menata ulang struktur organisasi jamaah.

Di bawah kepemimpinannya, kesenian ini berkembang pesat berkat sinergi yang kuat antara Jama'ah Gendukan, Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten, hingga dinas kebudayaan terkait dari tingkat daerah hingga pusat.
Langkah regenerasi terbaru dilakukan pada tahun 2024 dengan menyerahkan estafet kepemimpinan dari H. Jamhari kepada Ustadz Kharisun bin Kyai Matkhuri.

Langkah ini diambil dengan tujuan besar agar keaslian, keruntutan sejarah, dan kelestarian tradisi yang telah bertahan sejak tahun 1900-an ini tetap terjaga secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan hingga tahun 2025 dan masa-masa yang akan datang.

Kini, nama kesenian tersebut resmi diabadikan pada Gedung Kesenian Gendukan di Gang 14, Tirto, sebagai simbol hidup runtutan sejarah budaya Pekalongan.

Dokumentasi keikutsertaan Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan dalam rangka Kirab Budaya Hari Santri Nasional tahun 2025.
27/10/2025

Dokumentasi keikutsertaan Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan dalam rangka Kirab Budaya Hari Santri Nasional tahun 2025.

budaya, keris, hari santri nasional, kirab budaya,

Karnaval Budaya Hari Santri 2025, Lesbumi Kirab Pusaka Mbah Nur AnomKedungwuni - Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (L...
26/10/2025

Karnaval Budaya Hari Santri 2025, Lesbumi Kirab Pusaka Mbah Nur Anom

Kedungwuni - Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pekalongan turut memeriahkan Karnaval Budaya dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025 dengan menampilkan Kirab Pusaka yang sarat makna sejarah dan spiritual, Minggu 26 Oktober 2025.

Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, Ahmad Nur Rohim Hadinagoro, menjelaskan bahwa dalam momentum Hari Santri tahun ini pihaknya mengusung tema “Santri Berbudaya, Santri Bermartabat.”

“Pada peringatan tahun ini, kami membawa pusaka berupa keris peninggalan Mbah Yai Nur Anom yang berdapur Keris Jangkung Nogo Siluman,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Nur Rohim, keris tersebut memiliki makna simbolis yang mendalam. Keris Jangkung Luk Tiga melambangkan permohonan hamba kepada Tuhan agar senantiasa dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, serta menjadi simbol kepemimpinan dan pengayoman bagi masyarakat dan para santri.

“Keris ini bukan sekadar benda pusaka, tetapi juga doa dan pengharapan. Dulu, Mbah Yai Nur Anom memberikan keris tersebut kepada santrinya sebagai bekal perjuangan melawan penjajah. Maka, dalam Hari Santri ini, kami ingin mengenang perjuangan para ulama yang ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad Nur Rohim menuturkan bahwa dalam acara kirab tersebut, keris sempat diperlihatkan di panggung utama dan diserahkan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan serta Wakil Bupati Pekalongan.

Penyerahan kepada Ketua PCNU dimaknai sebagai amanat kepemimpinan umat dan masyarakat, sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Keris Jangkung Luk Tiga. Sedangkan penyerahan kepada Wakil Bupati melambangkan tanggung jawab pemimpin untuk mengayomi rakyatnya.

“Terakhir, kami juga menyerahkan pusaka secara simbolis kepada dewan syuriah sebagai bentuk permohonan doa dan restu agar perjuangan para santri masa kini senantiasa diberkahi dan dikuatkan oleh Allah SWT,” imbuhnya.

Dengan keikutsertaan Lesbumi dalam karnaval budaya ini, diharapkan semangat perjuangan, kepemimpinan, dan nilai-nilai spiritual para ulama terdahulu dapat terus hidup dan menginspirasi para santri di masa kini.

Address

Jalan Raya Karangdowo No. 9
Kedungwuni
51173

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan:

Shortcuts

Share