20/05/2020
Jejak Gereja Ortodoks Rusia di Hindia Belanda
Tentang Gereja Ortodoks Armenia dan komunitas Armenia yang pernah ada di Hindia Belanda, mungkin kita sudah pernah mendengarnya. Namun, apakah anda pernah mendengar tentang keberadaan komunitas Rusia dan Gereja Ortodoks Rusia pada masa Hindia Belanda? Hal ini sungguh menarik untuk dibahas, sebab hampir tidak ada sumber-sumber berbahasa Indonesia yang membahas tentang hal ini.
Pada Tahun 1930an, mulai ada gelombang kedatangan para imigran Rusia ke tanah Hindia Belanda, khususnya ke Jawa. Mereka datang dari Harbin di Tiongkok utara. Para imigean Rusia ini keluar dari Tiongkok karena di sana sedang terjadi perang saudara dan pendudukan Jepang. Kedatangan para imigran Rusia ini dipimpin oleh seorang bekas kolonel prajurit berkuda Aleksandrian (pasukan Kekaisaran Rusia), V. A Petrushevsky. Kedatangan komunitas imigran Rusia ini menjadi cikal-bakal berdirinya Gereja Ortodoks Rusia di Hindia Belanda.
Kedatangan pertama seorang imam Ortodoks Rusia di tanah Jawa terjadi pada tahun 1934. Atas saran dari Uskup Nestorius Ansimovus dari Keuskupan Agung Kamchatka dan Petropavlovsky, Romo Basilius Bistroff diangkat sebagai sang imam paroki di komunitas Ortodoks Rusia di Batavia, Hindia Belanda. Seharusnya paroki dibangun di Batavia, namun setibanya di Jawa akhirnya Ia mendirikan paroki Ortodoks Rusia di kota Bandung. Pada saat mendirikan Paroki di Bandung, Romo Basilius Bistroff diberikan izin oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Selain itu, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memberikan bantuan subsidi kepada paroki sebesar 1.372 gulfen di tahun 1936. Menurut beberapa sumber, Paroki Gereja Ortodoks Rusia di Bandung ini bernama “Paroki Kabar Sukacita” atau «Бандунгский Благовещенский храм». Paroki Bandung ini berada di bawah perlindungan Keuskupan Harbin. Selain itu, perlu kita ketahui bahwa Gereja Ortodoks Rusia pada masa Hindia Belanda ini bersifat tertutup, hanya melayani jemaat yang merupakan para imigran Rusia.
Pada tanggal 12 Agustus 1938, atas permintaan umat paroki “Kabar Sukacita” , Romo Basilius diberikan penghargaan Kamilavka sebagai tanda jasa atas pelayanannya yang gigih dan rajin. Selanjutnya pada bulan oktober 1947, Sinode Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia (ROCOR) memutuskan untuk memberikan penghargaan berupa medali salib dan pengangakatanya menjadi presbiter agung (protopresbiter). Penghargaan ini tidak lepas dari jasanya dalam mendirikan paroki Ortodoks Rusia di tanah Jawa dan kegigihannya dalam menggembalakan umat.
Pada bulan Agustus 1939, gedung gereja berpindah lokasi ke sebuah bangunan yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Lokasi bangunan gereja ini berada di Jalan Kebon Sirih nomor 44 kota Bandung. Konsekrasi dan peresmian gedung gereja baru ini dilaksanakan pada 15 oktober 1939.
Bukti Keberadaan Gereja Ortodoks Rusia di kota Bandung ini diperkuat oleh sumber buku “Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië” terbitan tahun 1942 yang mencatat tentang keberadaan Gereja Ortodoks Rusia di Bandung. Berdasarkan buku “Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie”, Gereja yang disebut sebagai “Orthodox Russische Kerk in Ned. Indië” ini berlokasi di Jalan Kebon Sirih 44 Bandung dan dikepalai oleh Romo Basilius Bistroff sebagai sang romo paroki dan M.P Nestroff sebagai sang sekretaris bendahara paroki.
Pada akhir 1940an, Paroki Gereja Ortodoks Rusia di Jawa beralih tangan menjadi berada di bawah perlindungan Uskup Agung Tikon dari Keuskupan Agung San Fransisco. Selain itu, seiring dengan revolusi kemerdekaan Indonesia pada 1945-1949, stabilitas di Indonesia saat itu menjadi buruk. Karena hal ini Romo Basilius Bistroff pada Mei 1950an mengirim surat laporan kepada Uskup Agung Tikon. Dalam Suratnya, Romo Basilius Bistroff mengatakan bahwa keadaan di Jawa menjadi lebih buruk setelah penyerahan kedaulatan dan pemindahan kekuasaan dari tangan Hindia Belanda kepada Republik Indonesia. Hal ini menyebabkan banyak jemaat Paroki yang khawatir dan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia menuju negara-negara lain yang lebih aman. Ia juga memikirkan bagaimana keberlangsungan paroki yang semakin ditinggalkan oleh para jemaat, sehingga romo Basilius Bistroff memutuskan juga untuk meninggalkan Jawa.
Pada akhir Mei, Romo Basilius Bistroff mengirim salinan laporan itu kepada Metropolit Anastasius dengan surat pengantar di mana ia mengumumkan penghentian keberadaan paroki Gereja Ortodoks Rusia Jawa dan segera pada tahun 1950an, ia pergi ke Amerika Serikat. Selanjutnya mengenai bagaimana dengan nasib properti gereja serta bangunan gereja sayangnya tidak diketahui karena keterbatasan sumber dan informasi.
Sumber:
https://drevo-info.ru/articles/10786.html
http://www.russianorthodoxchurch.ws/01newstucture/pagesru/novosti2005/vlilindonesia.html
https://books.google.ru/books?id=fBsPAQAAIAAJ&printsec=frontcover&hl=ru =onepage&q&f=false
Храм в честь Благовещения Пресвятой Богородицы в городе Бандунг (недейств.) Престолы: Благовещения Пресвятой Богородицы Адрес: Индонезия, остров Ява, г. Бандунг На ....