18/09/2026
Ilmu Bisa Membimbing, tetapi Pengalaman Lebih Utama
Oleh:
Machmud Yulianto
Kepala MA Daarussalaam Muhammadiyah Purbalingga
Banyak orang belajar ke sana kemari untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Mereka datang ke perpustakaan, mengikuti berbagai pelatihan, membaca buku, bahkan memanfaatkan media sosial dan laman internet untuk menambah wawasan.
Semua itu tentu baik. Ilmu memberikan petunjuk, membuka cakrawala berpikir, dan menjadi bekal seseorang dalam mengambil keputusan. Namun, ilmu yang hanya berhenti sebagai pengetahuan belum tentu menjadikan seseorang benar-benar menguasai suatu hal.
Di sinilah pengalaman memiliki peran yang sangat penting. Pengalaman adalah ilmu yang telah melewati proses praktik, menghadapi persoalan, menemukan kesalahan, mencoba kembali, dan belajar dari keadaan yang nyata. Seseorang yang berpengalaman sering kali mampu memahami persoalan dengan lebih cepat karena ia tidak hanya mengetahui *apa* yang harus dilakukan, tetapi juga memahami *bagaimana* melakukannya dan *apa yang mungkin terjadi* setelahnya.
Ibarat seseorang yang belajar tentang berenang dari buku. Ia mungkin memahami teknik gerakan tangan, kaki, dan cara mengambil napas. Tetapi pemahaman itu akan berbeda ketika ia benar-benar masuk ke dalam air. Pengalaman mengajarkan keseimbangan, menghadapi arus, mengatur napas, dan beradaptasi dengan kondisi yang tidak selalu sesuai dengan teori.
Karena itu, **ilmu dan pengalaman seharusnya tidak dipertentangkan**. Ilmu memberikan arah, sedangkan pengalaman mengajarkan cara menempuhnya. Ilmu tanpa pengalaman bisa menjadi teori yang kering, sementara pengalaman tanpa ilmu dapat membuat seseorang berjalan tanpa dasar yang kuat.
Maka, teruslah belajar dan jangan takut untuk mengalami proses. Bacalah, bertanyalah, berdiskusilah, kemudian praktikkan. Sebab pengalaman yang dijalani dengan ilmu akan melahirkan pemahaman yang lebih matang, keterampilan yang lebih kuat, dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan.
Ilmu membimbing langkah, pengalaman mematangkan perjalanan.