Fatayat NU Ranting Wonosari

Fatayat NU Ranting Wonosari Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Fatayat NU Ranting Wonosari, Religious organisation, Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen.

Fatayat NU adalah organisasi pemudi Nahdlatu 'Ulama (NU) yang bertujuan untuk membentuk pemudi Islam yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlaqul karimah,beramal, cakap, berrtanggung jawab, berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

17/10/2025

Pertemuan Rutin dan Peringatan Hari Santri Nasional PR Fatayat NU Wonosari pada Ahad, 12 Oktober 2025 di Pedukuhan Kaliduren.

06/07/2025

Pertemuan Rutin dan Kajian Kitab Risalatul Mahid, PR Fatayat NU WONOSARI. Ahad, 6 Juli 2025. 💚💚💚💚💚

Fatayat bermanfaat untuk umat. đŸ€ČđŸ€ČđŸ€Č💚

Pelantikan Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Wonosari masa khidmat 2024 -  2028.
23/12/2024

Pelantikan Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Wonosari masa khidmat 2024 - 2028.

04/10/2024

Maulid Nabi Mhammad SAW.

Hujan Lebat Tak Menyurutkan Tekad FatayatAhad, 24 April 2022 / 22 Ramadhan 1444 H. telah disepakati oleh kami, Fatayat N...
25/04/2022

Hujan Lebat Tak Menyurutkan Tekad Fatayat

Ahad, 24 April 2022 / 22 Ramadhan 1444 H. telah disepakati oleh kami, Fatayat NU Ranting Wonosari untuk menyelenggarakan khotmil Qur'an, bagi takjil gratis, dan buka bersama. Dan alhamdulilah, kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai rencana, meskipun kami harus bersatu dalam rinai hujan sore hari yang syahdu.

Khotmil Qur'an diadakan setelah kita menyelesaikan tadarus bersama secara daring, mengharapkan syafaat Al-Qur'an, semoga kegiatan tadarus ini memberikan keberkahan bagi kita.

Dilanjutkan dengan berbagi takjil gratis, meski cuaca hujan, anggota Fatayat NU Ranting Wonosari tetap antusias membagikan takjilnya kepada masyarakat sekitar yang melintas di Jl. Kertanegara, atau di depan gedung MWC NU Kec. Kebumen.

Masyarakat pun antusias dalam menyambut bagi takjil yang diadakan, terbukti dengan beberapa mobil yang bahkan berhenti dan menyapa kami, serta meminta takjil sesuai dengan jumlah penumpang mereka untuk bekal buka puasa di perjalanan nanti, dan dengan senang hati kami memberikannya. Semoga bermanfaat yaa takjilnya ... â˜ș

Lanjut dengan buka bersama, di dalam gedung MWC NU Kec. Kebumen, kehangatan suasana buka bersama mengalahkan dinginnya cuaca hujan di luar. Kegiatan sore hari itu, ditutup dengan ramah tamah sesama anggota dan pengurus Fatayat NU Ranting Wonosari dengan menikmati buka puasa bersama. Temu kangen antar pengurus lama, dan perkenalan dengan anggota-anggota baru semakin menambah keakraban sesama.
Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah..
Semoga Istiqomah selalu ya sahabat Fatayat đŸ’ȘđŸ’ȘđŸ„°đŸ„°

Untuk semua pemudi, khususnya yang ada di desa Wonosari, yuk segera bergabung dengan kami, insya Allah akan ada banyak kegiatan positif ke depannya, dan yang terdekat adalah kegiatan Lomba dalam rangka Harlah Fatayat NU yang akan kita ikuti pada pertengahan bulan Mei besok, ada lomba Hadroh, Da'i, dan kreasi Masakan berbahan dasar singkong.
Always stay tune with us ya gais 😀
See you next time..

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..




Alhamdulillah, wasyukurillah, ashsholatu wassalamu 'alarosulillah wa'ala alihi washohbihi wamawwalah walaa quwwata illa ...
24/04/2022

Alhamdulillah, wasyukurillah, ashsholatu wassalamu 'alarosulillah wa'ala alihi washohbihi wamawwalah walaa quwwata illa billah..

Sahabat Fatayat yang semoga selalu dalam kasih sayang Allah SWT đŸ„°

Di bulan suci Ramadhan ini, kami keluarga besar Fatayat NU Ranting Wonosari mengadakan kegiatan tadarus, kemudian dipuncak kegiatan kami siap melaksanakan Khotmil Qur'an, Bagi Takjil Gratis, dan Buka Puasa Bersama.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun di bulan Ramadhan, terkecuali 2th yang lalu sementara off karena terhalang pandemi.

Semoga amaliah kita di bulan suci ini membawa keberkahan dan kebaikan bagi semua keluarga besar Fatayat NU Wonosari dan juga untuk semua umat muslim di dunia ini.. Dan semoga pandemi segera usai, berganti dengan hari yang penuh kebahagiaan dan ketentraman hati.
Aamiin ya rabbal alamiin đŸ„°

KARTINI ADALAH SANTRIFakta sejarah yang tidak pernah diajarkan dalam bangku sekolah, bahwa RA. Kartini merupakan seorang...
21/04/2022

KARTINI ADALAH SANTRI
Fakta sejarah yang tidak pernah diajarkan dalam bangku sekolah, bahwa RA. Kartini merupakan seorang santri, ya ia nyantri kepada Ky. H. Soleh Darat - Semarang.

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya. Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:
Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat. Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil.

Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu p**a penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini p**a yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” (Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekump**an surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu: “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kump**an surat-menyuratnya.

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat. Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Sumber: https://nu.or.id/opini/kartini-nyantri-inspirasi-perjuangan-8mdja

Rapat Penyusunan Program Kerja Pimpinan Ranting Fatayat NU Wonosari periode 2021-2024.
02/11/2021

Rapat Penyusunan Program Kerja Pimpinan Ranting Fatayat NU Wonosari periode 2021-2024.

Address

Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen
Kabupaten Kebumen

Telephone

+6289665715411

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fatayat NU Ranting Wonosari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share