Normshed Papua

Normshed Papua Akun resmi Seminari Norman Sheila Draper Papua-http://normshedpapua.com - Situs berita

https://mobile

Kata KKB dihapus atau dibuangKata KKB itu kata penghinaan yang paling kejam diciptakan negara/tni-polri. KKB stigma yang...
29/07/2026

Kata KKB dihapus atau dibuang

Kata KKB itu kata penghinaan yang paling kejam diciptakan negara/tni-polri. KKB stigma yang diciptakan polisi dan KKSB --Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata distigmakan oleh TNI. Jadi, KKB milik Polisi dan KKSB milik TNI.

EMAS MEMANG SEJAK DULU ADA BERLIPAH-LIMPAH DI TANAH PAPUA BARAT BUKAN DITEMUKAN BRIN DAN TNI" Itu mungkin juga bagian da...
28/07/2026

EMAS MEMANG SEJAK DULU ADA BERLIPAH-LIMPAH DI TANAH PAPUA BARAT BUKAN DITEMUKAN BRIN DAN TNI

" Itu mungkin juga bagian dari hasil temuan tahun 1936 dari geolog Belanda Jean Jacques Dozy dengan dua temannya Anton Hendrikus Colijn, Fritz Julius Wissel dan itu dirahasiakan bertahun-bertahun bukan temuan BRIN dan TNI".

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan adanya temuan cadangan emas dan mineral raksasa di wilayah pegunungan Papua, hasil dari ekspedisi ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah universitas dan TNI.

Disampaikan oleh Presiden Prabowo pada Kamis, 9 Juli 2026, saat peluncuran mandatori biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat. Tim riset ilmiah bekerja selama kurang lebih dua hingga tiga minggu sebelum melaporkan temuan tersebut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa perguruan tinggi, serta dukungan pengamanan dari TNI.

Disebutkan memiliki volume cadangan emas dan berbagai mineral penting lain dalam kategori sangat besar. Menjadi salah satu sumber optimisme tinggi bagi masa depan perekonomian serta ketahanan sumber daya
*
Saya mengajak para pembaca membaca buku: Kutukan Emas Papua (2025) karya Dr. Greg Poulgrain pada Bab 1: Dozy dan Rahasia Kadar Emas.

Fakta sejarah yang sebenarnya yang menemukan tambang di Tanah Papua Barat adalah geolog Belanda Jean Jacques Dozy dengan dua temannya Anton Hendrikus Colijn, Fritz Julius Wissel dan itu dirahasiakan bertahun-bertahun bukan temuan BRIN dan TNI.

Pada 1936 dilakukan sebuah ekspedisi beranggotakan tiga orang yang berujung pada penemuan endapan emas terbesar di dunia. Dozy dikenal sebagai orang yang menemukan dan memberi nama endapan emas-tembaga Ertsberg dan Grasberg (gunung Namangkawi-Ndugu-Ndugu). Penemuannya yang persis di bawah garis salju Nugini ini belum pernah ada sebelumnya dalam hal kuantitas dan kualitas.

Colijn, Dozy dan Wissel menggunakan pengintaian udara untuk mengumpulkan informasi geologi dan memaksimalkan sains demi rencana ekspedisi Carstensz. Trio ini unggul karena sudah ada di Nugini Belanda (Papua Barat) sedangkan orang-orang lain yang menguncar Puncak Carstensz ada di Eropa, Amerika Serikat atau Jepang (hal. 31).

Trio Belanda meneliti lokasi-lokasi yang prospektif secara geologis sepanjang perjalanan. Wissel sebagai pilot yang menggunakan pengintaian dan perencanaan rute ekspedisi. Pesawat terbang dipiloti Wissel digunakan untuk menjatuhkan perbekalan di depan rute untuk ekspedisi. Tujuannya para pendaki tidak membawa beban waktu ke puncak Namangkawi.

Dozy menjelaskan, "Suatu hari kami dapat pesawat amfibi Sikorsky lama. Segera terbangkan untuk mengintai pegunungan. Setelah itu, perlahan-lahan, satu demi satu rencana pun di susun".(hal.33).

"Wissel menjatuhkan dua puluh paket kecil berisi pembekalan dengan parasut.Hampir semua paket ini berhasil ditemukan kecuali dua buah yang terlewat". (34).

Dozy menemukan singkatan pegunungan yang dia beri nama Ertsberg (gunung bijih). "Di mana-mana hanya tampak bijih, tidak ada batu lain...bahwa dalam kondisi lembap dan dingin di letinggian itu bau bijih menyebar ke segala arah. Bau itu bisa terdeksi jauh sebelum dia sampai ke gunung. Di sanalah bersemayam endapan tembaga yang kaya dengan emas halus diseluruh bagiannya..."(hal. 35).

Dozy menyembunyikan kapsul waktu dengan tumpukan batu di tepi garis salju pada 1936. Setelah 26 tahun, Heinrich Harrer mengambil kembali kapsul waktu yang ditinggalkan oleh ekspedisi Jacques Dozy dengan dua temannya Anton Hendrikus Colijn, Fritz Julius Wissel tahun 1936 pada tahun 1962 saat ia memimpin ekspedisi pendakian ke Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) di Papua.

"Dozy memberi Harrer kesempatan untuk menjadi orang pertama yang mencapai puncak Carstensz dengan syarat mengambil kapsul waktu miliknya. Dalam buku yang diterbitkan Harrer tentang ekspedisi tahun 1962, dia menceritakan drama pencarian di sisi gunung untuk mengambil buku catatan Dozy. Dia berkomentar penuh teka-teki bahwa "halaman-halamannya basah dan saling menempel". Namun bisa berjumpa dengan emas tidak mungkin lebih mengasyikkan". (hal. 45).

Apa artinya Kapsul waktu? Kapsul waktu adalah wadah khusus yang sengaja diisi dengan benda-benda atau catatan untuk dikirimkan dan dibuka pada masa depan. Barang-barang ini menjadi alat komunikasi agar orang di masa depan tahu kehidupan atau budaya masa lalu.

Siapa Heinrich Harrer yang dipercayakan Dozy untuk mengambil dokumen sangat berharga mahal itu?
Heinrich Harrer adalah seorang pendaki gunung, penjelajah, dan penulis asal Austria. Ia terkenal berkat buku memoarnya berjudul [Seven Years in Tibet] serta hubungannya dengan Dalai Lama. Dia menjadi orang pertama yang mendaki sisi utara Gunung Eiger (Eiger North Face) di Swiss pada tahun 1938.

Jean Jacques Dozy adalah seorang ahli geologi asal Belanda yang terkenal karena penemuan Ertsberg (Gunung Bijih) di Papua pada 1936. Penemuan ini menjadi cikal bakal dari kawasan tambang raksasa Grasberg.Hendrikus Colijn adalah seorang prajurit, pebisnis, dan politikus Belanda yang sukses. Frits Julius Wissel adalah pilot Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang pada tahun 1936 menemukan kelompok danau di Nugini Belanda (kini Papua) dari kokpitnya yang kemudian diberi nama menurut dirinya: Danau Wissel (kini Danau Paniai).

Tidak ada istilahtambang emas hasil penemuan BRIN dan TNI, karena Tanah Papua Barat memang rumahnya emas dan sudah ditemukan pada tahun 1936 dari geolog Belanda Jean Jacques Dozy dengan dua temannya Anton Hendrikus Colijn, Fritz Julius Wissel dan itu dirahasiakan bertahun- bertahun.

Akhirnya, saya merekomendasikan membaca buku Kutukan Emas Papua karya Greg Paulgrain. Semua rahasia dan kejahatan Indonesia, Amerika, Jepang, Belanda, Allan Dulles, Henry Alfred Kissinger, Nelson Aldrich Rockefeller ada dalam buku ini.

Selamat membaca. Tuhan memberkati.

Ita Wakhu Purom, 26 Juli 2026

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Kontak: 08124888458

"NKRI harga mati adalah omong kosong di Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke, tapi yang benar ialah EMAS harga mati bag...
28/07/2026

"NKRI harga mati adalah omong kosong di Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke, tapi yang benar ialah EMAS harga mati bagi kepentingan penguasa Indonesia dan oligaki. Manusia pemilik EMAS diusir, dibantai dan dimusnahkan dari tanah leluhur mereka seperti hewan secara sistematis dengan stigma separatis, makar, opm, kkb, teroris, dan monyet".---Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman (Ndumma)---Ita Wakhu Purom, 2872026---

"Kita boleh berbeda dalam pandangan ideologi dan nasionalisme  antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat, tapi kita...
28/07/2026

"Kita boleh berbeda dalam pandangan ideologi dan nasionalisme antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat, tapi kita tetap bersahabat dalam kemanusiaan. Dan kita boleh berbeda dalam keyakinan iman antara. Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Atheis, dan Komunis, tapi kita tetap bersahabat dalam kemanusiaan." --Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman, IWP, 240726---08124888458.

10 PENYAKIT KANKER DAN RACUN TANDA BAHAYA UNTUK  NKRISaya sebagai salah satu pendukung Presiden Prabowo Subianto, saya s...
28/07/2026

10 PENYAKIT KANKER DAN RACUN TANDA BAHAYA UNTUK NKRI

Saya sebagai salah satu pendukung Presiden Prabowo Subianto, saya sampaikan bahwa Indonesia berada dalam keadaan bahaya karena sepuluh penyakit kanker yang bisa melumpuhkan NKRI:

(1) Korupsi merajalela di level elit dan sulit dibrantas;

2) Hukum sudah tidak berfungsi dan hukum bisa diperdagangkan;

(3) Kemiskinan meningkat tajam;

(4) Kekerasan militer meningkat dan ruang-ruang sipil diambil kendali oleh militer.

(5) Tidak ada ruang demokrasi;

(6) Semakin melemahnya nilai uang terhadap dollar;

(7) Hutang Luar Negeri meningkat.

(8) Mulai retaknya atau hilangnya kepercayaan sebagian rakyat Indonesia kepada pemerintah;

(9) Semakin hilangnya toleransi beragama di Indonesia.

(10) Investor asing menarik diri karena ketidaknyaman di Indonesia.

*
Solusinya:

(1) Semua koruptor ditangkap dan dipenjarakan;

(2) Hukum ditegakkan;

(3) Militer ditarik ke fungsinya sebagai pagar negara;

(4) Ruang demokrasi dibuka; dan

(5) Program MBG dihentikan.

(6) Kelompok intoleran agama ditanhkap dan dipenjarakan.

Tujuan utama: NKRI diselamatkan, kemiskinan bisa ditekan dan mata uang bisa menjadi normal kembali.

Kalau Presiden Prabowo tidak bersikap tegas, maka tidak bisa dihindari dan kita saksikan runtuhnya Indonesia di tangan orang-orang kuroptor dan perampok dan kekerasan militer.

Ita Wakhu Purom, 23 Juli 2026

Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Kontak: 08124888458

SAYA TOLAK  MENYANYI LAGU INDONESIA RAYA DAN JUGA TIDAK TUNDUK  MENGHORMATI BENDERA MERAH PUTIH--Jangan paksa saya menja...
24/07/2026

SAYA TOLAK MENYANYI LAGU INDONESIA RAYA DAN JUGA TIDAK TUNDUK MENGHORMATI BENDERA MERAH PUTIH

--Jangan paksa saya menjadi orang lain. Biarkan saya menjadi diri sendiri sebagai orang Lani, sebagai bangsa Papua dan bangsa Melanesia dalam dunia saya sendiri---Saya Sudah Sekolah--

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

:Sikap bapak menolak terhadap bendera merah putih itu menunjukan harga diri bangsa Irian Barat itu mahal".---Ibu Ella---

SAYA Sudah Sekolah! Saya tidak bisa dipaksa dan juga tidak bisa ikut sejarah palsu dan bengkong yang mengandung kebohongan, kekejaman dan penindasan. Ideologi dan nasionalisme saya jelas, yaitu saya adalah bangsa Papua. Saya miliki bendera sendiri dan lagu sendiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat pada 1 Desember 1961. Tetapi, dalam perbedaan ideologi, nasionalisme dan iman, kita tetap bersaudara dan saling menghormati dalam kemanusiaan dan kesamaan derajat untuk menciptakan perdamaian permanen di planet ini.

Singkatnya, lagu kebangsaan saya: Hai Tanahku Papua. Bendera kebangsaan saya: Bintang Kejora. Posisi ini sangat clear. Anda yang membaca ini tidak usah bertanya banyak. Sadarlah---"Saya Sudah Sekolah"----

Pada 19 Desember 1961, Ir. Sukarno aneksasi kemerdekaan bangsa Papua 1 Desember 1961 dengan malkumat Trikora. Akibatnya sampai sekarang rakyat dan bangsa saya dibantai seperti hewan dan binatang dengan stigma gpk, gpl, opm, makar, separatis, teroris, monyet, kksb (tni), kkb (polisi) dan pandangan rasisme, fasisme, ketidakadilan, proses genosida dan perampokan sumber daya alam.

***
Ikutlah fakta ini:.

Pada 7 Desember 2017 Gubernur Lukas Enembe melantik Dr. Yunny Wonda dan wakilnya sebagai bupati dan wakil kabupaten Puncak Jaya di Mulia.

Saya ikut hadir pada pelantikan itu. Saya duduk di kursi barissan kedua dari kursi para bupati. Tidak banyak bupati yang hadir, kursi beberapa kursi depan kosong hanya terisi satu kursi yaitu bupati Tolikara Usman Wanimbo.

Pempin acara meminta kami yang hadir dimohon berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya tidak ikut menyanyi, saya hanya menatap muka Lukas Enembe, Yunus Wonda dan Nesko Wonda yang duduk di depan.
***

Pada 20 Desember 2024 di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sekarang Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) diluncurkan buku saya berjudul: Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua.

Di meja depan saya bersama dengan dua Profesor dan mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan saya tidak ikut menyanyi dan memilih diam.

***

Pada 3 April 2025 di hotel Swiss-Belexpress, Dewan Pengurus Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya (DPD-Gerindra) Provinsi Papua mengadakan ibadah syukuran atas terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-8.

Saya salah satu pendukung Prabowo diundang untuk hadir oleh Ketua DPD Ibu Yanni.

Pada awalnya saya sampaikan tidak bersedia hadir. Dan saya tanya kepada Ketua DPD Gerinda, kalau saya hadir apa yang saya sampaikan atau saya hanya hadir sebagai undangan?

Ibu Yanni sampaikan:

"Pak Yoman hadir untuk sampaikan sambutan singkat, tapi tidak usah yang berat-berat. Ini kesempatkan baik pak Yoman".

Kami beberapa tokoh yang diundang dimohon berdiri di depan bersama pengurus DPD Gerindra Provinsi Papua.

Pemimpin acara ibadah mengundang kita menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Semua pemimpin yang berdiri di depan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya sendiri tidak ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memilih diam.

Mengapa saya tidak pernah menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan tidak pernah menghormati bendera merah putih?

Keberadaan Lagu dan bendera di Tanah Papua Barat sebagai lagu dan bendera kolonial firaun modern ini benar-benar memindas, menjajah, memarjinalkan dan terjadi proses pemusnahan penduduk orang asli Papua secara sistematis, terstruktur, masif, meluas dan kolektif.

Dalam dunia realitas yang terus bernamika ini kita tidak boleh hidup berpura-pura, munafik, dilanda ketakutan dan juga takut kepada manusia. Katakan benar itu adalah benar dan yang salah itu salah.

Ini bentuk perlawanan saya secara terhormat dan bermartabat di ruang-ruang pulbik dan resmi terhadap pendudukan dan penjajahan Indonesia atas bangsa Papua Barat.

***
Pada 16 Maret 2026 jam 08:00 saya menerima pesan singkat dari Johanes P. Pesan singkatnya saya kutip sebagai berikut:

"Selamat pagi Bapak Pendeta bersama keluarga tercinta.Kami mengucapkan
Selamat bertugas dimanapun dalam menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, serta melindungi bangsa dan negara dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Amin."

Apakah pesan ini provokasi, dan sengaja membuka mulut saya untuk mengetahui pikiran dan hati saya?

Saya hargai pesan ini. Saya selalu respek setiap pendapat dan pikian orang. Terima kasih atas pesan ini.

Yang jelas dan pasti, saya tidak pernah urus kedaulatan negara, keutuhan wilayah, melindungi keutuhan bangsa dan negara. Karena saya tidak pernah sumpah janji setia pada NKRI dan saya juga tidak diberikan bayaran atau gaji oleh Negara atau pemerintah untuk jaga NKRI.

Saya dari dulu tidak pernah menyanyi lagu Indonesia raya dan juga tidak pernah hormati bendera merah putih.

MENGAPA?

Saya mempunyai empat alasan mendasar yang menjadi pedoman dan pijakan dalam hidup saya:

***
Pertama, jangan paksa saya untuk ikut dan tunduk pada ideologi asing. Saya sebagai gembala ditugaskan Tuhan Yesus Kristus dan gereja-Nya untuk menjaga, menggembalakan dan melindungi kedaulatan martabat kemanusiaan bagi semua orang dan golongan, lebih khusus rakyat dan bangsa Papua Barat dari Sorong-Merauke.

***
Kedua, rakyat dan bangsa Papua Barat adalah bangsa merdeka dan berdaulat sejak 1 Desember 1961 dengan simbol-simbol bangsa dan negara. (Lengkapnya baca buku Prabowo dan Penyelesaian Akar Konflik Papua pada Bab 4).

Kemerdekaan dan Kedaulatan rakyat dan bangsa Papua Barat ini dianeksasi dengan konspirasi politik nasional dan internasional yang mengorbankan kedaulatan bangsa Papua Barat.

Konspirasi politik nasional dan internasional sebagai berikut:

(1) Ir. Sukarno menganeksasi kemerdekaan 1 Desember 1961 dengan maklumat Trikora pada 19 Desember 1961. Isi maklumat Trikora: (1) Gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda. (2) Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia. (3) Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air.

(2) Perjanjian New York 15 Agustus 1962 tanpa melibatkan perwakilan penduduk orang asli Papua. Perjanjian antara PBB, Amerika, Belanda dan Indonesia.

(3) Perjanjian Roma 30 September 1962 yang terdiri dari 7 point dan point nomor 2 adalah Indonesia menduduki Papua Barat dari 1 Mei 1962 sampai 1 Mei 1988.

(4) Penyerahan wilayah Papua Barat dari Belanda kepada UNTEA (PBB) pada 1 Oktober 1962.

(5) Penyerahan wilayah Papua Barat dari UNTEA (PBB) kepada Indonesia pada 1 Mei 1963 adalah hari dimulainya malapetaka dan pemusnahan Penduduk Orang Asli Papua Barat.

(6) Pelaksanaan Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 14 Juli-2 Agustus 1969 yang dimenangkan ABRI dengan moncong senjata. Pelaksanaan Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang penuh dengan tragedi kemanusiaan yakni dengan kekejaman, intimidasi, teror, penyiksaan, penculikan dan pembunuhan yang menolak bergabung dengan Indonesia.
Keterlibatan Militer Indonesia diakui oleh Sintong Panjaitan dalam bukunya: Perjalanan Seorang Prajurit Peran Komando:

“seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi-operasi Tempur, Teritorial dan Wibawa sebelum dan p***a pelaksanaan Penipuan Pendapat Rakyat dari Tahun 1965-1969, maka saya yakin PEPERA 1969 di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Pro Papua Mereka.”

Jendral TNI purn. Ali Murtopo kepada anggota Dewan Musyawarah Pepera (DMP) di Jayapura pada 2 Agustus 1969, ia mengancam seperti tertulis:

“Kalau mau merdeka sebaiknya tanyakan pada Tuhan apakah dia bisa berbaik hati membesarkan p**au di tengah Samudra Pasifik supaya bisa bermigrasi ke sana. Bisa juga tulis orang Amerika. Mereka sudah menginjakkan kaki di bulan, mungkin mereka akan bersedia menyediakan tempat untuk Anda di sana. Anda yang berpikir untuk memilih menentang Indonesia harus berpikir lagi, karena jika Anda melakukannya, murka rakyat Indonesia akan menimpa Anda. Lidah Anda pasti akan dipotong dan mulut jahat Anda akan digoyak. Lalu aku, Jenderal Ali Murtopo, akan masuk dan menembakmu di tempat "(Sumber: SEE NO EVIL: New Zealand's Betrayal of the people of West Papua: Maire Leadbeater: 2018: 154)

***
Ketiga, karena sejak 19 Desember 1961 hingga sekarang rakyat dan bangsa saya dibantai seperti hewan dan binatang dengan stigma atau label gpk, gpl, opm, makar, separatis, teroris, monyet, kksb (tni), kkb (polisi) dan pandangan rasisme, fasisme. Ketidakadilan, proses genosida dan perampokan sumber daya alam. Rakyat saya dibodohkan dan dimiskinkan, dimarginalkan dan dilumpahkan secara sengaja, sistematis, kolektif, masif, meluas tanpa rasa kemanusiaan oleh penguasa kolonial firaun modern Indonesia.

Keempat, karena negara menciptakan konflik di Papua Barat dan memelihara kemiskinan, kebodohan, kesehatan buruk penduduk asli sebagai senjata yang paling ampuh bagi bangsa kolonial Indonesia supaya bangsa ini tidak bangkit dan membangun bangsanya sendiri.

Jadi, negara harus bertanggungjawab selesaikan 4 akar konflik yang sudah direkomendasikan LIPI dan sekarang BRIN. Karena akar konflik Papua sudah jelas dan terang dan sudah membusuk dan bernanah di dalam tubuh NKRI. 4 akar konflik sebagai berikut:

1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia; (2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian; (3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri; (4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Dengan tepat Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, akademisi, pengamat Pertahanan Keamanan Maritim, Dirgantara dan Intelijen berulang-ulang peringat kepada pemerintah Indonesia.

"Pemerintah Indonesia hati-hati berbicara persoalan Palestina. Karena Indonesia mempunyai masalah dalam negeri, yaitu Papua. Karena Papua sudah memenuhi syarat sebagai sebuah negara, yaitu ada wilayah, ada penduduk asli atau rakyat yang menetap dan ada diplomat di luar negeri."

Akhir kata, Saya Sudah Sekolah. Jangan paksa saya untuk tunduk pada ideologi asing yang penuh kebohongan, kekejaman dan kejahatan yang membantai bangsa saya dan ketidakadilan. Tidak layak dan tidak pantas untuk menghormati simbol-simbol bangsa penjajah dan penindas yang berwatak kriminal yang berkultur militer.

Ini sikap politik saya. Ini iman saya. Ini ideologi dan nasionalisme saya. Ini posisi saya. Semoga yang membaca menemukan identitas dan jati dirinya.

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati

Ita Wakhu Purom, 23 Juli 2026

Kontak: 08124888458

SINTONG PANJAITAN MENGAKUI BAHWA PENIPUAN PENDAPAT RAKYAT (PEPERA)  1969 DIMENANGKAN ABRI  Letjen TNI (Purn) Sintong Pan...
24/07/2026

SINTONG PANJAITAN MENGAKUI BAHWA PENIPUAN PENDAPAT RAKYAT (PEPERA) 1969 DIMENANGKAN ABRI

Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan mengakui: “seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi-operasi Tempur, Teritorial dan Wibawa sebelum dan p***a pelaksanaan Pepera dari Tahun 1965-1969, maka saya yakin PEPERA 1969 di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Pro Papua Mereka.”

Oleh: Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Pada 14 Juli-2 Agustus 1969 dilakanakan proses politik Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Tanah Papua Barat. Proses politik Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 dimenangkan ABRI dengan moncong senjata.

Kata Penentuan Pendapat Rakyat dan saya gantikan dengan kata yang tepat, yaitu: Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Jadi, yang jelas dan pasti, dalam proses politik Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang dimenangkan ABRI ini terjadi tindakan diskriminasi rasial dari Indonesia melalui polisi Indonesia yang berwatak rasis dan fasis.

Kisahnya sebagai berikut:

"...staf PBB di bawah Ferdinant Ortiz Sanz menjadi kecewa dengan keseluruhan proses karena "hasil Pepera merupakan kesimp**an yang pasti". Salah satu staf PBB, Marshall Williams, bertugas di Executive Office of the Secretary General (EOSG, Kantor Eksekutif Sekretaris Jenderal) dari 1966 hingga 1969. Dia memberikan beberapa wawasan tentang seberapa mengganggunya tentara Indonesia. Telegram Amerika Serikat menjelaskan bahwa Williams adalah "keturunan Negro Amerika". Selain informasi itu, telegram tersebut tidak mengungkapkan apapun. Tidak p**a diaebutkan bahwa Williams sebenarnya adalah sekretaris utama dan kepala pejabat administratif. Dia adalah orang terpenting dibawah Ortiz Sanz. Karena warna kulitnya, dia disangka orang Papua. Polisi Indonesia yang rasis telah mengusirnya dari kantor PBB. Peristiwa ini dicatat sebagai "jelas merupakan kasus kesalahan identitas".

William dan anggota PBB lainnya, James Lewis, sesama warga negara Amerika Serikat, "mengutuk apa yang mereka sebut 'penjajahan' Indonesia atas Irian Barat. Mereka mengkleim 95 persen rakyat Irian mendukung gerakan kemerdekaan dan bahwa Pepera adalah olok-olok". (Sumber: Kutukan Emas Papua: Greg Poulgrain: 2025: p. 285).

Sengan jujur, saya sampaikan kepada para pembaca, isi tulisan ini sudah berulang-ulang dibagikan. Karena saya merasa penting. Ini yang dikaburkan penguasa Indonesia.

Bagi orang-orang terdidik sebenarnya menjadi para pelopor keadilan dan penegak nilai kebenaran serta martabat manusia untuk menciptakan dunia yang beradab dan berkeadilan serta kedamaian.

Artinya para kaum terpelajar tidak mewariskan dan memelihara serta mempertahankan sejarah yang busuk, salah, bengkok yang menyebabkan penderitaan panjang dalam sejarah kemanusiaan di West Papua. Kita berkewajiban untuk menciptakan Papua yang harmoni, berperadaban dan manusiawi.

Dalam misi mulia ini, kita harus melangkah dalam tindakan nyata, yaitu menulis sejarah dengan jujur, benar dan obyektif. Karena yang abadi adalah sejarah itu sendiri. Kita harus hindari penulisan sejarah karena kepentingan dan pesan sponsor.

“Setiap dusta harus dilawan. Menang atau kalah. Lebih-lebih dusta yang mengandung penindasan“ (Mayon Soetrisno: Arus Pusaran Soekarno Roman Zaman Pergerakan, 2001, hal.369)

Rakyat Papua menentang dan menolak hasil Penipuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 selama ini. Karena
Proses pelaksanaan Penipuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 dimenangkan oleh ABRI (sekarang: TNI-Polri).

Apakah benar Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 di Tanah Papua dimenangkan oleh TNI-Polri?

Apakah benar Indonesia menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa West Papua secara ilegal melalui Pepera 1969 yang cacat hukum Internasional?

Apakah ada bukti-bukti kuat yang dapat dipertanggungjawabkan?

Dalam proses dimasukkannya Papua ke dalam wilayah Indonesia, militer Indonesia memainkan peran sangat besar sebelum hingga masa pasca
Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Terlihat dalam dokumen militer Surat Telegram Resmi Kol. Inf. Soepomo, Komando Daerah Militer XVII Tjenderawasih Nomor: TR-20/PS/PSAD/196, tertanggal 20-2-1967, berdasarkan Radiogram MEN/PANGAD No: TR-228/1967 TBT tertanggal 7-2-1967, Perihal: menghadapi referendum di IRBA tahun 1969: Mempergiatkan segala aktivitas di masing-masing bidang dengan mempergunakan semua kekuatan material dan personil yang organik maupun yang B/P-kan baik dari Angkatan Darat maupun dari lain angkatan. Berpegang teguh pada pedoman, referendum di IRBA tahun 1969 harus dimenangkan, harus dimenangkan. Bahan-bahan strategis vital yang ada harus diamankan. Memperkecil kekalahan pasukan kita dengan mengurangi pos-pos yang statis. Surat ini sebagai perintah OPS untuk dilaksanakan. Masing-masing koordinasi sebaik-baiknya. Pangdam 17/PANG OPSADAR.

Christofelt L. Korua, seorang saksi mata yang merupakan purnawirawan polisi, menyatakan, “orang-orang Papua yang memberikan suara dalam Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 itu ditentukan oleh pejabat Indonesia dan sementara orang-orang yang dipilih itu semua berada di dalam ruangan dan dijaga ketat oleh militer dan polisi Indonesia.” (Wawancara penulis dengan Christofelt Korua di Jayapura, 11 Desember 2002).

Pada 14 Juli 1969, proses Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) dimulai dengan 175 anggota dewan musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu kelompok besar tentara Indonesia hadir (Laporan Resmi PBB, Annex 1, Paragraph 189-200). Carmel Budiardjo, Direktur The Indonesia Human Rights Campaign (TAPOL), pada 26 Maret 2002 menyerukan kepada Sekjen PBB, Kofi Annan: “Dalam bulan Agustus 1969, penguasa Indonesia melaksanakan Penipuan Pendapat Rakyat (Pepera) di West Niew Guinea (West Irian, kemudian Irian Jaya, dan sekarang Papua) untuk menentukan status masa depan wilayah. Pemilihan menyampaikan delapan dewan bersama 1.025 orang, dilaksanakan di bawah tekanan dari penguasa militer Indonesia.

Pada masa Kodam dipimpin oleh Brigjen R. Kartidjo (1965 – 23 Maret 1966), dilaksanakan ‘Operasi Sadar’ yang bertugas melakukan kegiatan intelijen, menyadarkan para kepala suku, dan melakukan penangkapan terhadap para pemimpin OPM (Organisasi Papua Merdeka) serta menangkap orang-orang Papua yang menolak integrasi dengan Indonesia. Kemudian, ketika Brigjen R. Bintoro ditunjuk sebagai Pangdam (23 Maret 1966-25 Juni 1968), memimpin ‘Operasi Bratayudha’ yang melakukan operasi untuk menghancurkan aktivitas OPM yang dipimpin Ferry Awom di Manokwari dan menguasai wilayah Papua Barat secara keseluruhan. Pangdam berikutnya, Brigjen Sarwo Edhi Wibowo, memimpin tugas ‘Operasi Sadar’ yang bertujuan menghabisi sisa-sisa OPM, merangkul orang-orang Papua untuk memenangkan Pepera 1969, dan melakukan konsolidasi kekuasaan pemerintah Indonesia di seluruh wilayah (Raweyai, 2002:33-34).

Adapun surat rahasia dari Komando Militer Wilayah XVII Tjenderawasih, Kolonel Infantri Soemarto-NRP.16716, kepada Komando Militer Resort-172 Merauke tanggal 8 Mei 1969, Nomor: R-24/1969, Status Surat Rahasia, Perihal: Pengamanan Pepera di Merauke. Inti dari isi surat rahasia tersebut adalah sebagai berikut: “Kami harus yakin untuk kemenangan mutlak referendum ini, melaksanakan dengan dua metode biasa dan tidak biasa. Oleh karena itu, saya percaya sebagai Ketua Dewan Musyawarah Daerah dan Muspida akan menyatukan pemahaman dengan tujuan kita untuk menggabungkan Papua dengan Republik Indonesia.” (Dutch National Newspaper, NRC Handelsbald, March 4, 2000).

Di Manokwari, sementara dewan memberikan suara, pemuda-pemuda Papua dari luar ruang pertemuan bernyanyi lagu gereja ‘sendiri, sendiri’. Untuk menangani ini, tentara orang-orang Indonesia menangkap dan melemparkan mereka ke dalam mobil dan membawa mereka pergi pada satu bak mobil. Hugh Lunn, salah seorang wartawan asing yang hadir, diancam dengan senjata oleh orang Indonesia sementara dia mengambil foto demonstrasi orang Papua. (Dr. John Saltford. Irian Jaya: United Nations Involment with The Act of Self-Determination in West Papua (Indonesia West Niew Guinea) 1968-1969, Mengutip Laporan Hugh Lunn, seorang wartawan Australia, 21 Agustus 1999).

Sintong Panjaitan, pimpinan Tim Irian Barat Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tiba di Manokwari pada 6 Januari 1967 dalam operasi territorial untuk memenangkan PEPERA 1969 dalam bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” memberikan bukti-bukti keterlibatan langsung aparat keamanan Indonesia memenangkan Penipuan Pendapat Rakyat 1969 dengan istilah Operasi Teritorial, Operasi Tempur, Pembinaan dan Pembentukan DMP. DMP singkatan dari Dewan Musyawarah Penipuan Pendapat Rakyat (PEPERA) bentukan ABRI (kini: TNI). Anggota DMP adalah orang-orang yang dipilih oleh ABRI dan Pemerintah dan diawasi ketat dibawah intimidasi, teror dan ancaman pembunuhan hanya untuk menggabungkan Papua Barat secara paksa ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia dengan Penipuan Pendapat Rakyat 1969 yang cacat moral, hukum dan tidak demokratis. Para pembaca ikuti kutipan-kutipan di bawah ini.

Di Jayapura Panglima Kodam XVII/Tjenderawasih Brigjen TNI Sarwo Edhie, memikul tanggungjawab sangat besar atas keberhasilan Pepera dalam pelaksanaan Pepera, Sarwo Edhi diangkat sebagai Ketua Proyek Pelaksana Daerah.Tugasnya mengendalikan, mengerahkan dan melakukan koordinasi seluruh kegiatan aparat pemerintah daerah, sipil dan swasta, serta seluruh unsur ABRI di Irian Barat. Di Jayapura Brigjen Sarwo Edhi kepada penulis mengemukakan, Kalau Pepera gagal, kegagalan itu terletak di pundak saya. Sebaliknya kalau nanti Pepera berhasil, akan banyak pihak yang mengaku bahwa keberhasilan itu hasil jerih payah mereka. ( 2009: hal. 1969).

Kodam XVII/Tjenderawasih melancarkan Operasi Wibawa dengan mengerahkan pasukan organic setempat dan pasukan yang didatangkan dari luar Irian Barat, termasuk Kopasgat (Pasukan Gerak Tjepat AURI) , Brimob serta satu Karsayudha dengan kekuatan seluruhnya sebanyak 5.220 orang. Operasi Wibawa bertujuan mengamankan Pepera, menghancurkan pemberontak OPM di bawah pimpinan Ferry Awom, serta menumbuhkan dan memelihara kewibawaan pemerintah. (2009:hal. 169).

Tujuh bulan sebelum pelaksanaan Pepera, satu Karsayudha dengan nama Karsayudha Wibawa, di bawah pimpinan Kapten Feisal Tanjung dibawah perintah-kan (B/P) Pandang XVII/Tjenderawasih ditugaskan di Irian Barat untuk memenangkan Pepera. Karsayudha Wibawa yang bermarkas di Jayapura, berkekuatan tiga Prayudha. Prayudha 1 di bawah pimpinan Lettu Saparwadi, AMN angkatan 64, ditempatkan di Kabupaten Sorong. Lettu Kuntara memimpin Prayudha 2 di Kabupaten Biak. Prayudha 4 di bawah pimpinan Lettu Wismoyo Arismunandar ditempatkan di Kabupaten Merauke. Lettu Sintong Panjaitan memimpin Prayudha 3 berkekuatan 26 orang di bawah perintah (B/P) Komandan Korem 171/Manokwari selaku Komandan Operasi Wibawa 1 di Kabupaten Manokwari. Ia dibantu oleh Sujudi yang berpangkat calon perwira (capa) sebagai wakil komandan. (2009:hal.169-170). (Ketetangan: Karsayudha pimpinan Kapten Feisal Tanjung-disebut Karsayudha Wibawa, karena pada waktu itu Kodam XVII/Tjenderawasih sedang melaksanakan serangkaian operasi dengan sandi Wibawa).

Pada dasarnya Karsayudha 3 di Kabupaten Manokwari bertugas memenangkan Pepera, mencegah para pegawai negeri, pemuda pelajar dan penduduk masuk hutan. (hal. 178). Menurut Sintong, salah satu faktor yang sangat penting untuk memenagkan Pepera, ialah dengan jalan pembinaan terhadap penduduknya lewat operasi territorial. (hal. 182). Di keempat KPS itu, Prayudha 3 menugaskan anggotanya untuk melakukan pembinaan para calon DMP. Pembinaan di setiap KPS dilakukan oleh tiga orang Sandiyudha. Mereka terdiri dari para prajurit Sandiyudha yang telah memiliki banyak pengalaman tempur. (2009: hal.183).

Pada tanggal 30 Maret Sintong didampingi oleh Sertu Salam menghadiri rapat pembentukan DMP Persiapan yang dipimpin oleh S.D. Kawab, Bupti Manokwari, di kantor kabupaten. Rapat membicarakan pembentukan DMP Manokwari yang akan diputuskan berdasarkan konsultasi dengan Pemerintah Pusat yang diwakili oleh Soedjarwo Tjondronegoro SH dari Departemen Luar Negeri RI. Sebelum rapat dimulai, para anggota DPRD yang akan berbicara dalam rapat telah melakukan latihan sebanyak empat kali, dengan disaksikan oleh anggota Prayudha 3 sebagai Pembina. Rapat tetap menolak dilaksanakannya kebebasan memilih secara one man one vote. Kemudian dibentuklah Panitia Persiapan Pembentukan DMP yang kemudian disingkat menjadi Panitia 9 dengan ketua S.D. Kawab. Prayudha 3 mendapat tugas membantu Panitia 9 untuk bertindak sebagai pengaman dan penghubung antara para Pembina di daerah-daerah dengan Panitia 9. Disebabkan kerja Panitia 9 kurang lancer hingga Prayudha 3 yang melakukan pekerjaan itu. Hasilnya diserahkan kepada Panitia 9. (2009: hal.183-184).

Para anggota DMP dikumpulkan di kota Manokwari dengan disertai dua orang Pembina, masing-masing Letda Renwaren, seorang Perwira Rochani Katolik, dan Serta Abdul Hamid. (hal. 184). Dalam pelaksanaan Pepera di kabupaten Manokwari, Sintong bertindak sebagai coordinator intelijen dan mengawasi anggota DMP bernama Rumajom yang diperkirakan akan melakukan tindakan negatif. Capa Suyudi, Wadan Prayudha 3 bertindak sebagai Komandan Sektor A di dalam ruang sidang, sedangkan Letda Monthe sebagai Komandan Sektor B. Sementara itu Prayudha 3 mendapat tugas mengerahkan massa sebanyak 5.000 orang untuk menghadiri sidang. Sersan Kepala Simon dibantu oleh tiga orang bertugas mengerakkan massa dari daerah pedalaman dan Sertu Wagimin beserta tiga orang lainnya menggerakkan masa dari daerah pantai. Pengerahan massa menjadi tanggungjawab Prayudha 3 mulai dari pengangkutan sampai ke tempat sidang. (2009:hal. 185). Puncak keberhasilan Prayudha 3 adalah berperan serta sangat besar dalam menyukseskan Pepera. (hal. 186).

Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan mengakui: “seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi-operasi Tempur, Teritorial dan Wibawa sebelum dan p***a pelaksanaan Penipuan Pendapat Rakyat dari Tahun 1965-1969, maka saya yakin PEPERA 1969 di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Pro Papua Mereka.”

Sintong Panjaitan mengakui perlawanan dari pemuda dan mahasiswa: Pada tanggal 19 Juni, 30 orang pelajar yang akan melakukan demonstrasi, dapat ditangkap dari tingkat pimpinan sampai tingkat bawah. Pimpinan mereka seorang mahasiswa Universitas Tjenderawasih. Dalam sidang terjadi demonstrasi kecil oleh 17 anak sekolah yang membuat kegaduhan, tetapi mereka segera ditangkap dan di bawah ke Posko Prayudha 3. (2009:hal. 185). Dimenangkan dengan kekuatan TNI/Polri, maka kegagalan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di Tanah Papua juga akan dipertahankan dengan kekuatan TNI/Polri, yaitu dengan cara membangun basis TNI dan Polri di seluruh pelosok Tanah Papua. Salah satu contohnya adalah penempatan 1 kompi pasukan Brimob di Wamena. Ini juga bertolak dari kenyataan: Konsep Rencana Operasi Pengkodisian Wilayah dan Pengembangan Jaringan Komunikasi dalam Menyikapi Arah Politik Irian Jaya (Papua) untuk Merdeka dan Melep***an Diri Dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri, Ditjen Kesbanglinmas, dalam nota Dinas No.578/ND/KESBANG/D IV/VI/2000, tanggal 9 Juni 2000.

Dr. Fernando Ortiz Sanz dalam laporan resminya dalam Sidang Umum PBB tahun 1969 menyatakan: “Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka.” (Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723, paragraph, 243, p.47).

Yang jelas dan pasti, telah diketahui bahwa hasil Penipuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 itu menuai hujan kritik dan protes yang keras dalam Sidang Umum PBB pada tahun 1969 oleh anggota resmi PBB. Mereka (anggota PBB) mempersoalkan pelaksanaan PEPERA yang penuh dengan kebohongan dan kejahatan kemanusiaan yang melanggar hukum internasional. Karena, hasil PEPERA 1969 itu dianggap melanggar hukum internasional , maka dalam Sidang Umum PBB hanya mencatat “take note”. Istilah “take note” itu tidak sama dengan disahkan. Hanya dicatat karena masih ada masalah yang serius dalam pelaksanaan PEPERA 1969 di Papua Barat.

Hasil PEPERA 1969 tidak disahkan tapi hanya dicatat karena perlawanan sengit dari beberapa Negara anggota PBB yang dimotori oleh pemerintah Ghana. Itu terbukti dalam arsip resmi di kantor PBB, New York, Amerika Serikat: 156 dari 179 pernyataan yang masih tersimpan, sesuai dengan semua yang diterima sampai tanggal 30 April 1969, dari pernyataan-pernyataan ini, 95 pernyataan anti Indonesia, 59 pernyataan pro Indonesia, dan 2 pernyataan adalah netral. (Sumber: Dok PBB di New York: Six lists of summaries of political communications from unidentified Papuans to Ortiz Sanz, August 1968 to April 1969: UN Series 100, Box 1, File 5).

Duta Besar pemerintah Ghana, Mr. Akwei, memprotes dalam Sidang Umum PBB, dengan mengutip laporan Dr. Fernando Ortiz Sanz tentang sikap Menteri Dalam Negeri Indonesia yang tidak terpuji yang ditunjukkan kepada peserta PEPERA di Papua Barat. yang dilaporkan oleh perwakilan Sekretaris Umum bahwa bukti-bukti peristiwa keputusan pelaksanaan pemilihan bebas adalah fenomena asing dimana Menteri Dalam Negeri naik di mimbar dan benar-benar kampanye. Dia, Menteri Dalam Negeri Indonesia meminta anggota-anggota dewan musyawarah untuk menentukan masa depan mereka dengan mengajak bahwa mereka satu ideology, Pancasila, satu bendera, satu pemerintah, satu Negara dari sabang sampai Merauke.

Sedangkan Duta Besar pemerintah Gabon, Mr. Davin, mengkritik sebagai berikut: “Setelah kami mempelajari laporan ini, utusan pemerintah Gabon menemukan kebingungan yang luar biasa, itu sangat sulit bagi kami menyatakan pendapat tentang metode dan prosedur yang dipakai untuk musyawarah rakyat Irian Barat. Kami dibingungkan luar biasa dengan keberatan-keberatan yang dirumuskan oleh Mr. Ortiz Sanz dalam kata-kata terakhir pada penutupan laporannya. Berkenaan dengan metode-metode dan prosedur-prosedur ini, jika utusan saya berpikir perlunya untuk menyampaikan pertanyaan mendasar, itu dengan pasti menarik perhatian peserta sidang untuk memastikan aspek-aspek yang ada, untuk menyatakan setidak-tidaknya luar biasa. Kami harus menanyakan kekejutan kami dan permintaan penjelasan tentang sejumlah bukti-bukti yang disampaikan dalam laporan perwakilan Sekretaris Jenderal.”

Contoh: kami dapat bertanya:

1. Mengapa sangat banyak jumlah mayoritas wakil-wakil diangkat oleh pemerintah dan tidak dipilih oleh rakyat?

2. Mengapa pengamat PBB dapat hadir dalam pemilihan hanya 20 persen wakil, beberapa dari mereka hanya sebentar saja?

3. Mengapa pertemuan konsultasi dikepalai oleh Gubernur; dengan kata lain, oleh perwakilan pemerintah?

4. Mengapa hanya organisasi pemerintah dan bukan gerakan oposisi dapat hadir sebagai calon?

5. Mengapa prinsip “one man, one vote” yang direkomendasikan oleh perwakilan Sekretaris Jenderal tidak dilaksanakan?

6. Mengapa tidak ada perwakilan rahasia, tetapi musyawarah terbuka yang dihadiri pemerintah dan militer?

7. Mengapa para menteri dengan sengaja hadir dan mempengaruhi wakil-wakil di depan umum dengan menyampaikan mereka bahwa, hanya hak menjawab atas pertanyaan untuk mengumumkan bahwa mereka berkeinginan tinggal dengan Indonesia?

8. Mengapa hak-hak pengakuan dalam Pasal XXII (22) Perjanjian New York, yang berhubungan dengan kebebasan menyatakan pendapat; berserikat dan berkumpul tidak dinikmati oleh seluruh penduduk asli Papua? Protes Negara-Negara Afrika ini, J.P. Drooglever menggambarkan sebagai berikut: Sekelompok negara-negara Afrika melancarkan kritiknya, yaitu mereka yang sejak tahun 1961 telah bersimpati terhadap persoalan-persoalan Papua (hal. 784).

Prof. J.P. Drooglever memberikan bukti kebenaran sejarah keterlibatan militer Indonesia dalam memenangkan PEPERA 1969. Dengan kedatangan Ortiz Sanz pada bulan Agustus 1968, di pihak Indonesia dilakukan persiapan-persiapan untuk memperkuat jangkauan terhadap wilayah itu. Tugas ini dipercayakan kepada Sarwo Edhie, orang kepercayaan Soeharto. Menurut kata-katanya sendiri, ia pada waktu itu memilik tidak lebih daripada 6.000 orang pasukan. Dalam bulan-bulan pertama tahun 1969 kekuatan itu menurut menteri Amir Machmud ditingkatkan menjadi 10.000 orang, sementara kekuatan ini pada waktu Kegiatan Pemilihan Bebas menurut pemberitaan Malik sudah ditingkatkan menjadi 16.000 orang. Itu sangat cukup untuk mengendalikan kekacauan yang mungkin. (2010:711).

Drooglever mengemukakan: Mengintegrasikan orang-orang Papua ke dalam Negara Indonesia tetap menjadi masalah. Kesempatan bagi orang Papua untuk maju sangat terbatas. Penduduk Papua adalah kelompok yang paling miskin di Indonesia. Integrasi mental dan organisasional ke dalam Negara Indonesia tidak tercapai. Satu hal yang pasti adalah: Indonesia tidak berhasil memenangkan hati orang-orang Papua. Dalam pada itu kesadaran nasional orang-orang Papua meningkat dengan tajam. Dengan disiplin mereka sendiri, para tokoh Papua dalam organisasi gereja maupun di masyarakat mampu mengelola keadaan ini sehingga kerusuhan dapat dicegah, bahkan mampu membawa suara orang Papua untuk didengar oleh pemerintah Indonesia dan dunia melalui cara yang terhormat namun tegas. (2010:hal.786-787).

Selamat membaca. Terima kasih

Ita Wakhu Purom, 18 Juli 2026
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Kontak: 08124888458

Address

Jalan Ita Wakhu Purom, Hedam, Kec. Heram, Kota Jayapura
Jayapura
99351

Opening Hours

Monday 08:00 - 15:30
Tuesday 07:00 - 15:30
Wednesday 08:00 - 15:30
Thursday 08:00 - 15:30
Friday 08:00 - 15:30

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Normshed Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Normshed Papua:

Shortcuts

Share