Normshed Papua

Normshed Papua Akun resmi Seminari Norman Sheila Draper Papua-http://normshedpapua.com - Situs berita

https://mobile

KITA BERBEDA DALAM PANDANGAN IDEOLOGI DAN KEYAKINAN IMAN, TAPI,  KITA TETAP BERSAUDARA DALAM NILAI KEMANUSIAAN & KESAMAA...
02/10/2026

KITA BERBEDA DALAM PANDANGAN IDEOLOGI DAN KEYAKINAN IMAN, TAPI, KITA TETAP BERSAUDARA DALAM NILAI KEMANUSIAAN & KESAMAAN DERAJAT

Saya sadar dan mengerti, ketika saya menulis artikel, opini, fakta, realitas dan buku, penguasa Indonesia dan para pencinta NKRI sangat tidak senang dan tidak s**a dengan saya. Bahkan ada seorang jenderal pernah mengatakan:

"Pak Socratez sudah gila, jadi jangan baca tulisan-tulisannya, nanti kita semua bisa jadi gila seperti pak Socratez."

Ada juga menanggapi buku terbaru saya: "Kami Bukan Bangsa Teroris (2021)." Komentar mereka sebagai berikut:

"Sering Pdt Socrates kalau buat serangan tidak lihat kanan kiri...akhirnya off side, jadi tidak tepat sasaran."

Walaupun saya dinilai seperti orang gila, serangan tidak tepat sasaran, tapi, keyakinan iman saya, lebih baik saya tidak dihormati, tidak dis**ai, dan direndahkan serta dimarahi penguasa kolonial Indonesia saat sekarang ini, supaya anak dan cucu saya serta bangsa saya West Papua ke depan menjadi bangsa bebas, merdeka, berdaulat dan bermartabat serta terhormat. Mereka akan dihormati sebagai bangsa yang mewarisi nilai-nilai kasih, keadilan, martabat kemanusiaan, kesamaan derajat dan kehidupan yang harmonis serta kedamaian permanen di Tanah Pusaka Papua Barat.

Mereka boleh berbeda dengan pandangan ideologi dan keyakinan iman dengan bangsa-bangsa lain atau orang-orang pendatang yang berada dan hidup di Tanah ini, tapi mereka bersaudara dan saling mengasihi dan menghormati dalam nilai kemanusiaan sebagai gambar dan rupa TUHAN Allah.

Saya akan berhenti menulis artikel, opini, fakta, realitas dan buku, kalau saya dilarang oleh TUHAN dan juga dilarang oleh rakyat dan bangsa Papua Barat.

Jadi, selama TUHAN dan rakyat dan bangsa Papua Barat belum melarang saya menulis, saya selalu menulis dan menulis untuk martabat kemanusiaan dan masa depan anak dan cucu rakyat dan bangsaku Papua Barat.

Karena, menulis adalah jalan hidup yang saya pilih untuk rakyat dan bangsaku Papua Barat yang sedang diduduki dan dijajah bangsa kolonial Indonesia dengan Rasisme, Militerisme, Ketidakadilan, Kolonialisme dan Kapitalisme yang melahirkan pelanggaran berat HAM dan pemusnahan etnis orang asli Papua.

(Gembala Dr. Socratez S.Yoman). Ita Wakhu Purom, 26 Juli 2021.

PROSES WAKTU PANJANG UNTUK MENJADI ORANG BERPENGARUH DAN ADA HATI ALLAH DAN HATI RAKYATLebih terhormat dan bernilai kare...
01/10/2026

PROSES WAKTU PANJANG UNTUK MENJADI ORANG BERPENGARUH DAN ADA HATI ALLAH DAN HATI RAKYAT

Lebih terhormat dan bernilai karena kaya dalam pengabdian daripada kaya secara harta. Lebih terhormat karena menjadi orang berpengaruh daripada orang berkuasa.

Menjadi pemimpin berpengaruh lahir dengan membutuhkan proses waktu panjang. Mereka selalu menelusuri tebing-tebing terjal dan melewati jalan berbatu-batu serta mengarungi ombak yang ganas. Angin dan topan menerpapun mereka tetap berdiri kokoh dan kuat.

Mereka abaikan usianya demi orang lain. Mereka tunduk ketika dicaci maki. Mereka diam ketika dihina dan direndahkan. Mereka merendahkan diri ketika diberikan pujian dan sanjungan.

Karena mereka percaya dan tahu pujian hanya milik Tuhan. Mereka tahu tidak mau merampas kemulian Tuhan.

Mereka menghindari tawaran dunia yang mengiurkan/menjanjikan. Mereka selalu keluar dari wilayah "zona" nyaman. Mereka lebih memilih terik matahari.

Mereka selalu memandang ke depan untuk mencapai puncak pengaruh permanen bagi sesamanya.

Sedangkan orang berkuasa selalu menempuh dengan jalan pintas dengan jalan sering mengorbankan orang lain. Berbagai bentuk siasat dan jalan yang ditempuh untuk mencapai puncak kekuasaan yang semu dan sesaat. Tidak jarang menyingkirkan dan menjatuhkan orang lain dengan berbagai cara yang tidak layak.

Ita Wakhu Purom, Rabu, 22 Januari 2020

(Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

KAMI RASA TAKUT YANG ADA DI DALAM DAN  KAMI JUGA TAKUT KEPADA  MEREKA YANG ADA DI LUAR(TNI-Polri jual senjata dan amunis...
01/10/2026

KAMI RASA TAKUT YANG ADA DI DALAM DAN KAMI JUGA TAKUT KEPADA MEREKA YANG ADA DI LUAR

(TNI-Polri jual senjata dan amunisi kepada OPM dan menjahit bendera Bintang Kejora)

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

"Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat."

Pada 6 April 2013, Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua meresmikan Tugu Injil masuk di Beoga, Kabupaten Puncak. Gubernur Papua, Lukas Enembe bersama istrinya Ibu Yulce Wenda hadir meresmikan tugu ini. Saya juga diundang oleh Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay. Saya ikut hadir di Beoga memenuhi undangan warga Kingmi melalui Ketua Sinode.

Semua undangan, termasuk gubernur Papua bermalam di Beoga. Pada malam hari kami diskusi tentang penjualan senjata dan amunusi oleh anggota TNI kepada kolompok Organisasi Papua Merdeka.

Pada saat kami diskusi tentang penjualan senjata dan amunusi yang dilakukan oleh TNI itu, ada juga Dandim 1712 Puncak Jaya. Dandim Puncak Jaya sampaikan:

"Memang ada oknum anggota TNI yang menjual peluru kepada teman-teman di luar (baca:OPM). Karena harganya 1 peluru mahal, sekitar Rp 500.000. Karena tuntutan kebutuhan anggota tidak terpenuhi."

Tidak merupakan rahasia umum dan itu tidak kaget bagi kami tentang penjualan senjata dan amunisi kepada OPM dari anggota TNI.

Karena, kekerasan di West Papua sudah merupakan bisnis subur yang sangat menjanjikan secara ekonomi dan promosi jabatan serta pangkat bagi aparat keamanan TNI-Polri. Jadi, untuk menyuburkan dan mengkekalkan situs kekerasan di West Papua harus ada orang yang dibina dan diperlengkapi dengan senjata dan amunisi. Mereka yang dibina selalu tampil atas nama OPM.

Istilah saya, di West Papua ada OPM Sejati dan OPM Binaan Militer dan Polisi Indonesia. (Baca: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat, Yoman, 2007, hal. 255, dan cetakan kedua 2012, hal. 165).

Selain itu, anggota TNI-Polri juga memesan untuk menjahit bendera Bintang Kejora. Ada seorang teman, orang pendatang yang berbisnis sebagai penjahit, sampaikan kepada saya.

"Pak Socratez, saya sering menjahit bendera Bintang Kejora yang dipesan oleh aparat keamanan."

Kembali pada topik. "Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar."

Dari pernyataan ini, patut kita pertanyakan tentang penembakan terhadap anggota TNI-Polri di seluruh Tanah West Papua selama ini.

1. Apakah benar anggota TNI-Polri ditembak mati oleh OPM?

2. Apakah benar anggota OPM yang tidak berpendidikan, tidak terlatih, tidak memiliki ketrampilan (skill) tempur dan menembak itu dapat menembak mati anggota TNI-Polri yang sudah terlatih, apalagi menembak anggota pas**an khusus (Kopassus) di Intan Jaya Desember 2019?

Ada pengalaman dan kejadian dibeberapa kabupaten seperti: Puncak Jaya, Tolikara, Lanny Jaya, Nduga dan....?? Di kabupaten yang disebutkan di sini pernah terjadi penembakan terhadap anggota TNI dan kepolisian.

Sekali lagi, saya bertanya, apakah benar ini pelakunya OPM?

Jawabannya ialah " Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat."

"Kami rasa takut yang ada di dalam..." artinya anggota TNI-Polri juga takut kepada kesatuan-kesatuan tertentu yang dilatih khusus untuk buat skenario kerusahan dan kekerasan dimana-mana.
Kekerasan dan kekacuan harus diciptakan, dipelihara dan ditingkatkan terus-menerus.

Media massa yang dikontrol Negara dengan kekuatan TNI-Polri berperan aktif menyebarkan secara luas, massif dan terus-menerus untuk membangun opini publik. Kebohongan telanjang itu menjadi kebenaran. Rakyat awam yang tidak kritis menerima dan menelan mentah dan utuh berita hoax yang dikreasi aparat keamanan Indonesia.

Fakta yang pernah saya temukan sebagai contoh. Pada 16 Agustus 2004, anggota Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Koppasus, Letkol.Inf. Yogi Gunawan menembak mati Pendeta Elisa Tabuni.

Headline (Berita Utama) media Cenderawasih Pos menulis berita penembakan ini selama 3 bulan berturut-turut dari Agustus-Oktober 2004. "OPM pimpinan Goliat Tabuni menembak mati pendeta Elisa Tabuni." Fakta dilapangan membuktikan bahwa pembunuh pendeta Elisa Tabuni ialah TNI dari kesatuan Koppasus.

Apa tujuan konflik, kekerasan dan kekacauan ini diciptakan dan dipelihara oleh TNI-Kepolisian di West Papua?

Supaya TNI-Kepolisian ada alasan pembenaran (justifikasi) untuk beberapa tujuan:

1. Ada alasan untuk menambah dan menempatkan pas**an TNI-Polri dengan membangun Kodim dan Polres serta kesatuan-kesatuan lainnya. Dengan kata lain, kekerasan yang diciptakan aparat keamanan TNI-Polri ialah merampok dan menjarah tanah Penduduk Asli Papua dengan tangan besi dan tangan yang berdarah-darah.

2. Ada alasan untuk mendapat anggaran operasi dari pusat, provinsi dan kabupaten dimana konflik sudah diciptakan. Karena, daerah aman, TNI-Polri tidak dapat anggaran yang memadai.

3. Mengusir Penduduk Asli Papua bila tempat itu ada pontensi Sumber Daya Alam (emas dan kayu serta rotan). TNI-Polri mau merampok, mencuri dan menjarahnya tanpa perlawanan Penduduk Asli sebagai pemilik tanah itu.

4. Ada alasan dan dasar untuk membantai, membunuh dan memusnahkan Penduduk Asli Papua merupakan agenda dan misi utama pemerintah kolonial Indonesia.

5. Menciptakan iklim trauma dan ketakutan kepada seluruh Penduduk Asli Papua supaya merasa takut, membisu, diam dan tunduk serta bernasib menyerah kepada para kolonial Firaun dan Goliat moderen Indonesia yang kejam dan brutal yang tidak mengenal kebenaran dan tidak menghargai martabat sesama manusia.

Mari, kita ikuti perintah Prabowo Subianto untuk menghadapi rakyat Papua:

"Papua menjadi prioritas utama, tidak boleh lepas dari Indonesia. Hapus intervensi asing".

"Jeremy Corbyn (pemimpin partai buruh) berpeluang menjadi PM Inggris, dimana dia memberikan dukungan kepada Benny Wenda. Harus diambil langkah strategis."

"Kita tidak akan ijinkan kegiatan Papua Merdeka di ibu kota kabupaten, propinsi apalagi negara. Laksanakan operasi teritorial, intelijen dan tempur dari semua Matra."

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno memberikan kesimpulan yang akurat dan tepat tentang keadaan rakyat Papua yang sangat buruk selama ini dalam bukunya: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme (2015, hal. 255, 257).

"...Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia....Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia." (hal. 255).

"...kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam." (hal. 257).

Para pembaca mulia dan terhormat. Mari, kita, renungkan, kritisi, dan analisa pernyataan ini. Kita jangan hambing hitamkan Orang Asli Papua. Kita harus membuka lensa penguasa sebagai penindas dan penjajah rakyat dan rakyat West Papua selama ini. Kita harus menggunakan lensa Tuhan, lensa kemanusiaan, lensa keadilan, lensa kebenaran, lensa kejujuran, lensa kasih.

"Kami rasa takut yang ada di dalam dan kami juga takut kepada mereka yang ada di luar. Karena kami ada keluarga yang kami tinggalkan di Jawa. Mereka mau kami kembali kepada mereka dalam keadaan selamat."

Ita Wakhu Purom, Senin, 23 Desember 2019

Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

HP: 08124888458

"Rakyat dan Bangsa Papua Barat membutuhkan figur politik seperti Nelson Mandela, Xanana Gusmao, Ramos Horta, Ir. Sukarno...
01/10/2026

"Rakyat dan Bangsa Papua Barat membutuhkan figur politik seperti Nelson Mandela, Xanana Gusmao, Ramos Horta, Ir. Sukarno, Mahatma Gandhi, Arbishop Desmond Tutu, dan Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo".

---Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman---
1 Oktober 2026---08124888458---

PERTANYAAN ABADI UNTUK PEMERINTAH INDONESIA YANG MENDUDUKI DAN MENJAJAH BANGSA PAPUA BARAT(Fakta: Ambisi kejar emas  kor...
30/09/2026

PERTANYAAN ABADI UNTUK PEMERINTAH INDONESIA YANG MENDUDUKI DAN MENJAJAH BANGSA PAPUA BARAT

(Fakta: Ambisi kejar emas korbankan rakyat sipil: Tenaga medis, guru dan anggota TNI yang berpangkat kecil)

Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman

Saya meminjam pernyataan A.C. Manulang, mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara:

"Bukan tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta. Sangat mungkin kerusuhan ini didesain dari Jakarta dengan berbagai tujuan.", (Sumber: Indopos, 4 November 2012; dikutip dalam buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal: Yoman, 2012, hal. 215).

Saya mengajukan beberapa pertanyaan: Tujuan apa, agenda siapa, kepentingan apa dan kepentingan siapa, rakyat sipil dan anggota TNI dan Kepolisian berpangkat kecil, kecuali Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha selama ini dikorbankan?

Siapa dibalik atau dibelakang orang-orang yang melakukan kejahatan-kejahatan atau penembakan-penembakan yang menyebabkan rakyat sipil menjadi korban?

Perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat bukan untuk menembak dan membunuh rakyat sipil. Perjuangan kita adalah untuk meraih kembali kemerdekaan bangsa Papua Barat yang dianeksasi Indonesia dengan Trikora 19 Desember 1961, Perjanjian New York 15 Agustus 1962, dan pelaksanaan Pepera 14 Juli-2 Agustus 1969 yang dimenangkan ABRI dengan moncong senjata.

Semua konflik ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia diciptakan dan dipelihara demi kepentingan penguasaan sumber daya alam; di mana penduduk asli Papua justru dilihat sebagai penghalang, beban, dan hambatan yang perlu disingkirkan. Tanah ini hendak dikosongkan dari pemilik aslinya, atas nama pembangunan dan keamanan nasional, padahal tujuannya adalah kepentingan menguasai sumber daya alam.

Dan juga, saudara-saudara pendatang ditembak mati dengan tujuan supaya rakyat Indonesia tidak bersimpati dan membenci perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat untuk merdeka.

***
Pertanyaan-pertanyaan abadi dan berdiri tegak sebagai berikut:

1. Siapa yang menembak mati Aris Sanda (41 tahun) seorang sopir travel angkutan logistik tewas akibat ditembak dan dibakar bersama mobilnya? Peristiwa tragis ini terjadi pada Selasa pagi, 15 September 2026 di sekitar Jalan Poros/Pertigaan Danau Habema KM 32, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Nduga.

2. Siapa sebenarnya pelaku penembakan Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik pada 9 September 2026 di Wamena? Kepentingan siapakah yang dilayani?

3. Siapa yang menembak mati pilot Nicholas F. Goselin dan membakar pesawat PT AMA di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, 2 Juli 2026?

4. Siapa yang menembak mati Suster Gabriela Meilani (22) adalah tenaga kesehatan (perawat) di kota Oksibil, melainkan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada 13 September 2021?

5. Siapa yang menembak mati seorang guru bernama Melani Wamea (31) di Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Jumat, 10 Oktober 2025?

6. Siapa yang menembak mati pilot Egon Irawan dan kopilot Baskoro Adi Anggoro di Boven Digul, 11 Februari 2026?

7. Siapa yang menembak mati pilot Glen Malcolm Conning di Distrik Alama, Mimika, 5 Agustus 2024?

8. Siapa yang menewaskan Rick Spier dan Edwin Burgon di Timika, 31 Agustus 2002?

9. Siapa yang menembak Pieper Dietmar Helmut di Pantai Base G, Jayapura, 29 Mei 2012?

10. Siapa yang menewaskan Graeme Thomas Wall di Kuala Kencana, Timika, 30 Maret 2020?

11. Siapa yang menembak mati Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha di Beoga, Puncak, 25 April 2021?

12. Siapa yang menembak mati Michelle Kurisi Doga di Distrik Kimbim/Assologaima, Wamena, 29 Agustus 2023?

13. Siapa yang membakar pesawat MAF PK-MAX yang dipiloti Alex Luferched di Kampung Pagamba, Distrik Mbiaduga, Kabupaten Intan Jaya, 6 Januari 2021?

14. Siapa yang menembak mati anggota Satgas TNI Pamrahwan Yonif PR 432/WSJ, Praka Yudi Aryanto dan Praka Alif pada 18 Mei 2021 di kali Brasa Dekai, Kabupaten Yahukimo?

15. Siapa yang menembak mati 4 anggota TNI, yaitu Serda Amrosius, Praka Dirham, Pratu Zul Ansari, dan Lettu chb Dirman di kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat pada 2 September 2021?

16. Siapa yang menembak mati 8 karyawan PT Palapa Timur Telematika (PTT) atau pekerja Tower, yaitu: Bona Simanullang, Billy Garibaldi, Renal T. Tentua, Syahril Nurdianyah, Eko, Ibo, Jamaludin, dan Bebi Tabuni pada 2 Maret 2022 di Beoga, Puncak?

Selama belum ada investigasi independen yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, maka setiap tuduhan yang dilemparkan kepada satu pihak saja, tanpa bukti yang dapat diperiksa semua orang, tidak dapat diterima sebagai kebenaran. Tuduhan yang disodorkan sebelum fakta terungkap bukanlah penegakan keadilan, melainkan penutupan jejak.

Pertanyaan yang paling mendasar tetap berdiri tegak abadi: mengapa rakyat sipil yang tidak berdosa dan anggota TNI berpangkat kecil dikorbankan? Agenda siapa yang dijalankan di balik setiap kematian ini?

Kita tidak bisa menghakimi pelaku kekerasan yang terlihat dimata kita. Penghakiman itu terlalu prematur, karena rantai kekerasan dan kejahatan negara selama 65 tahun di Tanah Papua Barat yang sistematis yang diperlukan kekuatan moral dan keberanian intelektual untuk membongkar dsn memotong rantai kekejaman dan kejahatan in.

***
Apa tujuan dari seluruh kekerasan dan kejahatan ini?

1. Penembakan warga asing bertujuan untuk sampaikan kepada komunitas internasional bahwa Perjuangan Papua Barat merdeka itu kejam, kriminal dan tidak manusiawi, maka komunitas internasional tidak perlu dukung. Ini dipakai sebagai bahan atau materi kampanye dipakai diplomat dan pemerintah Indonesia dalam berdiplomasi untuk menghalangi diplomasi para pejuang Papua Barat merdeka di luar negeri.

2. Penembakan terhadap warga sipil dan anggota TNI yang berpangkat kecil bertujuan supaya rakyat Indonesia membenci dan tidak bersimpati perjuangan Papua Barat merdeka.

Ini strategi sistematis untuk mengkriminalisasi perjuangan Papua Barat merdeka dengan jalan damai selama ini.

Kita jangan lihat pelaku yang didepan mata kita, itu terlalu dangkal, prematur, tapi kita pertanyakan siapa dibelakangnya yang memegang remote control. Seperti yang sudah disampaikan A.C. Manulang mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara.

"Bukan tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta. Sangat mungkin kerusuhan ini didesain dari Jakarta dengan berbagai tujuan.",

(Sumber: Indopos, 4 November 2012; dikutip dalam buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal: Yoman, 2012, hal. 215).

Akhir kata, Sepanjang belum ada fakta dan data hasil investigasi Tim kredibel dan independen yang memastikan para pelaku, maka klaim pemerintah, TNI dan TPN-PB diragukan dan tidak dapat diterima---

Terima kasih. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Ita Wakhu Purom, 18 September 2026

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Nomor kontak penulis: 08124888458

(Biarkan foto ini bercerita kepada publik: Mereka pemimpin bangsa Papua Barat)SAYA MENDUKUNG PENUH RE-AFFIRMATION ATAU R...
30/09/2026

(Biarkan foto ini bercerita kepada publik: Mereka pemimpin bangsa Papua Barat)

SAYA MENDUKUNG PENUH RE-AFFIRMATION ATAU RE-DEKLARASI 1 DESEMBER 2020 DARI PRESIDEN PEMERINTAHAN SEMENTARA ULMWP HON. BENNY WENDA DI OXFORD-INGGRIS

Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman

MENGAPA saya mendukung penuh Re-Deklarasi atau Re-affirmasi pada 1 Desember 1961 pada 1 Desember 2020 oleh Presiden Pemerintahan Sementara ULMWP Tuan Benny Benny di Oxford-Inggris?

KARENA sesuai fakta sejarah 1 Desember 1961, amanat Kongres II pada 26 Mei-4 Juni 2000; Suara Tim 100 pada 26 Februari 1999, Amanat Mubes pada 23-26 Februari 2000; dan Amanat Kongres III pada 17-19 Oktober 2011.

Perlu dicatat, diingat dipegang baik oleh seluruh rakyat dan bangsa Papua Barat dari Sorong-Merauke, bahwa Pemerintah Vanuatu, dan negara-negara anggota MSG, PIF dan negara-negara merdeka di dunia internasional tidak mempertanyakan dan mempersoalkan Pemerintahan Sementara ULMWP yang dipimpin oleh Presiden Benny Wenda.

Buktinya, Benny Wenda dan Octovianus Mote selalu berkomunikasi baik dengan para pemimpin negara-negara merdeka. Karena itulah, pada 2 Desember 2020, saya mendukung penuh Re-Affirmation atau Re-Deklarasi Hon. Benny Wenda Presiden Pemerintahan Sementara ULMWP.

Saya mau tegaskan bahwa ULMWP bukan wadah koordinatif lagi. ULMWP sudah berubah status menjadi sebuah pemerintahan sementara sesuai fakta sejarah 1 Desember 1961. Jangan putar-putar dan bikin kabur perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat untuk meraih krmbali kemerdekaan dan kedaulatan 1 Desember 1961.

Jadi, istilah wadah koordinatif itu tidak berlaku lagi karena sudah berada pada G to G (Government to Government---antar Pemerintah dengan Pemerintah).

Kita harus cerdas, bahwa pada 2 Desember 2020, Pemerintah Indonesia secara tegas menolak deklarasi pemerintahan sementara Republik West Papua yang dilakukan oleh pimpinan ULMWP, Benny Wenda, dari Oxford, Inggris, pada 1 Desember 2020. Pemerintah menilai langkah tersebut sebagai tindakan makar, tidak sah secara hukum internasional, dan hanya membentuk "negara ilusi" karena tidak didukung oleh fakta kedaulatan.

Menko Polhukam Mahfud MD: Menyebut deklarasi tersebut tidak memenuhi syarat berdirinya sebuah negara dan menganggapnya sebagai negara ilusi yang tidak ada dalam faktanya.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu): Mengecam aksi separatisme tersebut dan menegaskan bahwa Benny Wenda tidak mewakili rakyat Papua serta melakukan tindakan pembangkangan di luar negeri.

Kantor Staf Presiden (KSP): Menegaskan bahwa klaim pemerintahan sementara itu tidak sah dan tidak memiliki dasar apa pun dalam hukum internasional.

Pernyataan Mahfud MD mengenai "negara ilusi" dilontarkan pada 2 Desember 2020 saat menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam). Ia merujuk pada deklarasi kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan sementara Papua Barat oleh pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda.

Alasan Disebut Negara Ilusi
Mahfud MD menyatakan bahwa langkah Benny Wenda tidak memenuhi syarat pendirian negara yang sah menurut hukum internasional (Montevideo Convention 1933):

Tanpa Wilayah: Wilayah Papua adalah bagian sah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tanpa Rakyat yang Jelas: Rakyat yang diklaim di bawah kepemimpinannya tidak nyata secara faktual mendukung di lapangan.

Tanpa Pemerintahan Berdaulat: Tidak ada struktur pemerintahan definitif yang menguasai wilayah tersebut. Poin Utama Tanggapan Pemerintah

Status Papua Final: Status Papua sebagai bagian dari Indonesia sudah final dan diakui PBB sejak Pepera 1969.

Deklarasi Media Sosial: Deklarasi tersebut dinilai hanya sebatas aksi di media sosial (Twitter) tanpa legitimasi di dalam maupun luar negeri.

Imbauan Tenang: Masyarakat diimbau agar tidak resah atau takut karena deklarasi tersebut tidak memiliki kekuatan hukum atau fakta kenegaraan.

*
Pertanyaannya ialah mengapa saya menyampaikan ucapan selamat?

Jawabannya sederhana saja, yakni:

SAYA sudah sekolah. Saya tahu. Saya mengerti. 1 Desember 1961 adalah hari kemerdekaan dan kedaulatan rakyat dan bangsa Papua Barat lengkap dengan simbol-simbol dan lambang negara. Pada kesempatan ini dihadiri perwakilan 5 negara merdeka dan berdaulat, yaitu: Inggris, Prancis, Australia, Belanda dan PNG.

Kebenaran sejarah harus ditegakkan. Sejarah palsu harus dihapuskan dan dihilangkan dari kehidupan rakyat dan bangsa Papua Barat dari Tanah ini. Ideologi dan nasionalisme paksaan harus dicabut buang dan dihilangkan.

Rakyat dukung konsep Green State dan paket diplomasi untuk perjuangan pengakuan 1 Desember 1961 sebagai hari kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Papua Barat.

Mendasari fakta historis ini, logika sederhana saya ialah langkah yang ditempuh oleh Ketua ULMWP Hon. Benny Wenda yang mendeklarasikan Pemerintahan Sementara Papua Barat pada 1 Desember 2020 adalah langkah maju yang positif dan membuka mata komunitas internasional bahwa rakyat dan bangsa Papua Barat adalah bangsa merdeka dan berdaulat sejak 1 Desember 1961.

Deklarasi 1 Desember 2020 di Oxford, Inggris merupakan langkah besar yang dapat memperjelas posisi rakyat dan bangsa Papua Barat yang dapat mempertahankan dan memperjuangkan Hari Kemerdekaan Nasional yang dianeksasi oleh penguasa kolonial modern Indonesia melalui maklumat Trikora 19 Desember 1961 dengan kekerasan moncong senjata.

Hon. Benny Wenda Presiden Pemerintahan Sementara ULMWP dan Green State dengan langkah yang pasti dan komitmen politik yang jelas menyampaikan suara rakyat dan bangsa Papua Barat yang berdiri dan berjuang untuk meraih kembali hak kemerdekaan dan kedaulatan politik 1 Desember 1961 yang dianeksasi bangsa kolonial modern Indonesia.

Singkat kata, Hon. Benny Wenda menyampaikan kepada komunitas internasional bahwa rakyat dan bangsa Papua Barat sedang berjuang untuk meraih kembali kemerdekaan dan kedaulatan kami sejak 1 Desember 1961.

Saya secara person, tidak mewakili siapa-siapa, tetap mendukung Pemerintahan Sementara dan Green State yang dideklarasikan Hon. Benny Wenda 1 Desember 2020 di Oxford Inggris dan Green State Vision dan Paket Diplomasi yang sedang diperjuangkan oleh Presiden Sementara ULMWP Hon. Benny Wenda dengan tim diplomat.

MENGAPA posisi saya ini? KARENA, 1 Desember 1961 adalah hari kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Papua Barat, maka saya adalah satu-satunya dari dalam Negeri Papua Barat yang menyampaikan Ucapan Selamat Redeklarasi Pemerintahan Sementara dan Green State pada 1 Desember 2020 di Oxford, Inggris. Ucapan Selamat saya sampaikan pada 2 Desember 2020 dari Kantor Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (BPP-PGBWP) di Ita Wakhu Purom, Numbai, Tabi (Jayapura) Papua Barat.

Saya berdiri pada posisi ini, saya menjaga wibawa, kredibilitas, kapabilitas, komitmen dan konsistensi saya dalam memelihara, mengawal dan bersuara tentang penderitaan umat Tuhan di Tanah Papua Barat untuk meraih dan memulihkan kembali hari Kemerdekaan Nasional pada 1 Desember 1961 yang dianeksi penguasa kolonial firaun modern Indonesia dengan kekuatan militer pada 19 Desember 1961 dan maklumat Trikora.

Mengapa saya menyampaikan ucapan Selamat dan mendukung Pemerintahan Sementara dan Green State Papua Barat?

Pertama, pada 1 Desember 1961 di Jayapura dihadiri oleh lima negara merdeka dan berdaulat, yaitu: Inggris, Francis, Australia, Belanda dan PNG dihadiri anggota parlemen.

Kedua, bangsa Papua Barat ada alat kelengkapan Negara: Parlemen New Guinea Raad, Bendera, Lagu, mata uang, wilayah dan nama bangsa.

Ketiga, Tim 100 perwakilan bangsa Papua Barat bertemu Presiden RI Prof BJ Habibie di Istana Negara pada 26 Februari 1999 dan dinyatakan:

"...kehendak kami untuk memilih merdeka memisahkan diri dari negara Republik Indonesia kembali ke status kami semula sebagai bangsa dan negara Papua 1 Desember 1961".

Keempat, Musyawarah Besar (MUBES) 23-26 Februari 2000 dari 7 butir keputusan MUBES, pada butir 4 dinyatakan:

"Bahwa kami bangsa Papua Barat setelah berintegrasi dengan Indonesia melalui pelaksanaan pepera yang tidak adil dan penuh kecurangan, dan setelah 36 tahun berada dalam Negara Republik Indonesia, bangsa Papua Barat mengalami perlakuan-perlakuan keji dan tidak manusiawi: Pelanggaran berat HAM, pembunuhan, pemerkosaan, pembodohan, pemiskinan, ketidakadilan sosial dan hukum yang mengarah pada etnik dan kultur genocide bangsa Papua Barat,maka kami atas dasar hal-hal tersebut di atas menyatakan kehendak kami untuk memilih merdeka-memisahkan diri dari negara Republik Indonesia kembali ke status kami semula sebagai bangsa dan negara Papua, 1 Desember 1961."

Kelima, Kongres Nasional II Rakyat dan Bangsa Papua Barat pada 26 Mei sampai 4 Juni 2000, menyatakan 6 butir keputusan penting, yaitu:

Butir (1) "Bangsa Papua telah berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961".

Butir (6) "PBB, AS, dan Belanda agar meninjau kembali keterlibatan mereka dalam proses aneksasi Indonesia atas Papua Barat dan menyampaikan hasil-hasilnya secara jujur, adil dan benar kepada rakyat Papua pada 1 Desember 2000.

Keenam, Kongres III Rakyat dan bangsa Papua Barat 17-19 Oktober 2011 menyatakan: "Pemulihan 1 Desember 1961 sebagai Hari Kemerdekaan Nasional bangsa Papua Barat.

Ketujuh, Kongres I ULMWP pada November 2023 memilih kembali dan menetapkan Hon. Benny Wenda sebagai Presiden Pemerintahan Sementara ULMWP dan Green State.

Kedelapan, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan jaminan, yaitu: "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Kesimpulan

(1) Saya tetap bersuara tentang pentingnya menjaga, merawat dan memelihara 1 Desember 1961 Hari Kemerdekaan Nasional bangsa Papua Barat.

(2) Saya mendukung Pemerintahan Sementara ULMWP, Green State Vision dan Paket diplomasi karena menurut pengertian saya bahwa apa yang dikerjakan Hon. Benny Wenda adalah langkah maju dan positif sesuai dengan realitas dinamika sejarah dan aspirasi rakyat dan bangsa Papua Barat.

(3) Saya mendukung ULMWP sebagai rumah bersama, perahu dan honai milik rakyat dan bangsa Papua Barat.

(4) Saya mendukung ULMWP, NFRPB, KNPB, PNWP, WPNCL, NGR, WPLO, OPM, WPNA, TPNPB DAN BINTANG 14---

(5) Para perjuang yang berada di dalam Negeri dan di luar negeri bersatu dan membagi tugas-tugas dan peran masing-masing dalam rumah bersama ULMWP untuk meraih kembali hak kemerdekaan politik 1 Desember 1961 yang dianeksasi bangsa kolonial modern Indonesia dengan moncong senjata pada 19 Desember 1961 dengan maklumat Trikora.

(6) Kayakinan dan pemahaman saya ialah OPM melahirkan ULMWP dan ULMWP melahirkan Pemerintahan Sementara Papua Barat, Green State Vision. Menurut saya Pemerintahan Sementara ULMWP ini progess atau perkembangan positif karena itu saya mendukung.

Ita Wakhu Purom, 24 Agustus 2026

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua;
2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua Barat (WPCC)
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
4. Anggota Aliansi Baptis Dunia (BWA).

==================

Kontak: 08124888458

Address

Jalan Ita Wakhu Purom, Hedam, Kec. Heram, Kota Jayapura
Jayapura
99351

Opening Hours

Monday 08:00 - 15:30
Tuesday 07:00 - 15:30
Wednesday 08:00 - 15:30
Thursday 08:00 - 15:30
Friday 08:00 - 15:30

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Normshed Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Normshed Papua:

Shortcuts

Share