Melayani Imam adalah melayani Tuhan
26/02/2020
06/03/2019
Dominus Vobis Cum !!! PPA KATOLIK yg terkasih,mari kita memberi diri lebih semangat dan lebih mengasihi TUHAN dengan membantu Imam dalam merayakan masa Prapaskah dan Pekan Suci 2019 🤗😘 TYm 🙇🙏
29/12/2018
24/12/2018
Selamat natal bagi semua misdinaris/misdinaristi dimanapun anda berada...semoga Damai Kristus beserta kita semua,TYm 🤗🤗🙇🙇
14/01/2018
Kita telah memasuki tahun 2018,semoga anda makin semangat melayani Tuhan dalam Ekaristi sebagai Putra Putri Altar #(PPA) yang takut dan cinta akan TUHAN, amin!!! 🙇🙏💋💗👍
31/12/2017
Selama natal dan tahun baru 2018, rahmat dan damai Kristus menyertai kita smua.... 🎄🎋🎉🎉🎉
16/04/2017
Selamat pesta Paskah ....
18/08/2013
Halo PPA Katolik yang terkasih di manapun anda berada,kali ini admin akan menSharingkan Panduan Misdinar yang di tulis oleh Angelo Carte......
Like dan di share ya ......!!!!!
Panduan Misdinar : Bagian Pertama
Diposkan oleh Angelo Carte di 04.37
Panduan ini ditujukan bagi para putra dan putri altar, mereka yang ingin mengetahui baik tentang putra altar maupun Gereja Katolik, bagi para pelatih putra - putri altar, dan bagi mereka yang menemukan manfaat dari tulisan ini.
Tulisan ini sendiri secara utuh terdiri dari bagian - bagian berikut :
1. Bagian Pertama : Pengenalan Misdinar, Misa Kudus dan Struktur Misa Kudus
2. Bagian Kedua : Pengenalan Alat-alat Misa dan Perangkat Misdinar
3. Bagian Ketiga : Tugas Misdinar
4. Bagian Keempat : Kesalahan Misdinar yang Paling Umum
Baiklah, kini mari kita mulai :)
BAGIAN PERTAMA
a. Pengenalan Misdinar
:Misdinar (Belanda : misdieenarr; Inggris : altar boys; Latin : akolit) adalah suatu posisi pelayanan Gerejawi yang diberikan kepada kaum awam dengan tugas utama untuk bersama-sama dengan imam mempersiapkan Ekaristi yang layak kepada Tuhan. Misdinar atau sering juga disebut sebagai putra-putri altar atau juga pelayan altar turut membantu imam baik dalam mempersiapkan materi-materi Ekaristi, mend**ai umat, memberikan tanda konsekrasi, menambah makna liturgis Misa, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, silahkan melihat artikel mengenai misdinar di sini..
b. Misa Kudus
Sesuai dengan sabda Yesus pada malam perjamuan terakhir yang menghendaki para murid agar senantiasa mengadakan perjamuan sebagai peringatan akan Yesus, maka para murid sejak Gereja Kristen Perdana (pada waktu itu, istilah Gereja Katolik belum muncul sampai pada saat penggunaan identitas katolik yang berarti universal, pertama kali di Antiokhia) berkumpul bersama dalam satu tempat, berdoa, dan memecahkan roti. Hal ini kemudian berkembang dikarenakan perkembangan dari Gereja itu sendiri. Umat beriman tidak lagi hanya berada di Yerusalem atau Israel, tetapi mulai ada di tempat-tempat lain yang lokasinya jauh dari Israel sehingga para bapa-bapa konsili mulai berusaha untuk merumuskan suatu pola universal bagi perayaan bersama. Pada dasarnya, ada SATU ritus perayaan Ekaristi dalam Gereja katolik, namun memiliki DUA ALTERNATIF perayaan, yakni MISA FORMA EKSTRAORDINARIA (disebut juga Missa Trente atau Misa Latin Tradisional atau Misa Tridentinum) dan MISA FORMA ORDINARIA (disebut juga Misa Vernakuler atau Missa Novus Ordo, alternatif perayaan inilah yang umumnya kita rayakan pada masa ini). Pembahasan mengenai kedua alternatif perayaan Misa ini akan saya bahas lebih lanjut, namun khusus untuk panduan misdinar kali ini, akan saya berikan dalam alternatif perayaan Misa Novus Ordo atau Misa yang sering kita rayakan dewasa ini.
c. Struktur Misa Kudus
Struktur dalam Misa Kudus turut memperhatikan pola interaksi inter personal, yakni antara Allah dengan manusia. Setiap bagian disusun sedemikian rupa agar berpuncak pada peristiwa Ekaristi sendiri. Adapun struktur Misa Kudus dapat dilihat sebagai berikut :
a. RITUS PEMBUKA
a.1 Perarakan
a.2 Tanda Salib
a.3 Salam
a.4 Pengantar
a.5 Pernyataan Tobat
a.6 Madah Tuhan Kasihanilah
a.7 Madah Kemuliaan
a.8 Doa Pembukaan
b. LITURGI SABDA
b.1 Bacaan Pertama
b.2 Mazmur Tanggapan
b.3 Bacaan Kedua
b.4 Bait Pengantar Injil
b.5 Bacaan Injil
b.6 Homili
b.7 Syahadat Para Rasul
b.8 Doa Umat
c. LITURGI EKARISTI
c.1 Persiapan Persembahan
c.1.1 Persiapan Persembahan
c.2.2 Doa Persembahan
c.2 Liturgi Ekaristi
c.2.1 Dialog Pembukaan
c.2.2 Prefasi
c.2.3 Kudus
c.2.4 Doa Syukur Agung
c.3 Komuni
c.3.1 Bapa Kami
c.3.2 Embolisme
c.3.3 Doa Damai
c.3.4 Pemecahan Roti
c.3.5 Persiapan Komuni
c.3.6 Pembagian Tubuh (dan Darah) Kristus
c.3.7 Saat Hening
c.3.8 Madah Syukur
c.3.9 Doa Komuni
d. RITUS PENUTUP
d.1 Pengumuman
d.2 Berkat dan Pengutusan
18/08/2013
Panduan Misdinar : Bagian Kedua
Diposkan oleh Angelo Carte di 10.57
Panduan ini ditujukan bagi para putra dan putri altar, mereka yang ingin mengetahui baik tentang putra altar maupun Gereja Katolik, bagi para pelatih putra - putri altar, dan bagi mereka yang menemukan manfaat dari tulisan ini.
Tulisan ini sendiri secara utuh terdiri dari bagian - bagian berikut :
1. Bagian Pertama : Pengenalan Misdinar, Misa Kudus dan Struktur Misa Kudus
2. Bagian Kedua : Pengenalan Alat-alat Misa dan Perangkat Misdinar
3. Bagian Ketiga : Tugas Misdinar
4. Bagian Keempat : Kesalahan Misdinar yang Paling Umum
Sebagai kelanjutan dari bagian pertama, mari kini kita lanjutkan ke bagian kedua.
BAGIAN KEDUA
a. Peralatan Misa dan dalam Gereja/kapel
1. Tempat air suci
Umumnya tempat air suci diletakkan dekat pintu-pintu masuk gereja/kapel, dengan tujuan memudahkan umat mengambil air suci saat memasuki rumah Allah. Menandai diri sendiri dengan air suci sendiri memiliki makna pengenangan kembali akan pembaptisan suci yang telah diterima.
Cara menandai diri dengan air suci hendaknya seperti berikut :
Celupkan kelima jari tangan Anda ke dalam tempat air suci, cukup sampai bersentuhan dengan air suci saja. Kemudian dengan kelima jari tangan, buatlah tanda salib. Urutan tanda salib yang benar adalah :
1. Menandai dahi dengan menyebut Demi nama Bapa;
2. Menandai perut dengan menyebut dan Putera;
3. Menandai bahu kiri dengan menyebut dan Roh;
4. Menandai bahu kanan dengan menyebut Kudus;
5. Menandai ulu hati dengan menyebut Amin.
Alasan untuk terlebih dahulu menandai bahu kiri kemudian bahu kanan pada saat membuat tanda salib ialah bahu kiri diperlambangkan sebagai kejahatan, sedangkan bahu kanan sebagai kebaikan sehingga dengan menandai bahu kiri terlebih dahulu daripada bahu kanan ialah sebagai perlambang kita beralih dari kejahatan kepada kebaikan. Sedangkan alasan penggunaan kelima jari sekaligus saat membuat tanda salib adalah pengenangan dari kelima luka suci Kristus (kepala. tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri, dan kaki kanan).
2. Kain altar

Kain penutup altar berjumlah 3 (tiga) helai. Helai pertama melambangkan altar sebagai meja perjamuan, digunakan untuk menutupi sisi atas dan sebagian sisi samping altar. Helai kedua melambangkan altar sebagai meja persembahan, digunakan untuk menutupi sisi atas dan sisi samping altar. Sedangkan helai ketiga melambangkan intensi yang dirayakan (pesta, peringatan, misa biasa, dll) sehingga warnanya seturut warna liturgi dan digunakan menutupi seluruh sisi altar. Adapun helai pertama dan helai kedua haruslah berwarna putih.
Alasan penggunaan lapisan - lapisan kain altar ialah selain melambangkan makna perjamuan dan persembahan, tetapi juga sebagai langkah antisipasi jika andai saja terjadi tumpahan Darah Kristus ke meja altar sehingga dengan adanya kain altar, tumpahan Darah Kristus akan segera mengering di kain dan tidak sampai tercecer ke altar.
3. Salib altar
Salib altar merupakan salib kecil yang diletakkan di tengah altar bagian depan dengan posisi menghadap ke imam. Tujuan peletakan salib ini agar imam pada saat memimpin Misa, selalu mengingat Kristus dalam pelayanannya.
Dalam penggunaannya, salib altar boleh berupa salib tegak/berdiri atau salib yang dapat ditidurkan.
4. Lilin altar
Lilin altar memiliki makna sebagai simbol iman Gereja kepada Allah. Jumlah lilin altar sendiri minimal 2 (dua) diletakkan di sisi kiri dan kanan depan altar. Namun pada saat peringatan-peringatan para kudus, pesta-pesta, dan hari-hari raya, lilin yang diletakkan di altar harus berjumlah 4 (empat) buah sebagai ungkapan syukur meriah atas iman yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Lilin altar juga harus berwarna putih, tidak boleh berwarna lain karena warna putih turut melambangkan iman yang mengarahkan manusia kepada kesucian hidup kepada Allah.
5. Lilin/lampu tabernakel

Sebagai penanda bagi umat bahwa Tubuh Kristus sedang ditakhtakan dalam tabernakel, maka digunakan penanda yang bercahaya sebagaimana Kristus sendiri adalah cahaya iman kita. Selama Tubuh Kristus berada dalam tabernakel, cahaya tersebut harus tetap menyala. Sedangkan jika Tubuh Kristus tidak berada dalam tabernakel, cahaya tersebut harus dipadamkan. Perlu diingat, pemindahan Tubuh Kristus dari tabernakel ke tempat lain yang layak, kecuali pada saat Misa Kudus, harus disertai dengan lilin bernyala sebagai penanda bagi setiap orang bahwa Kristus hadir.
6. Meja credens
Meja credens merupakan meja kecil yang ditempatkan di panti imam. Di atas meja ini, ditempatkan 1 set piala, sibori, ampul air dan anggur, wadah dan kain lavabo, serta dapat p**a lilin-lilin. Sehingga dapat kita simpulkan meja credens adalah meja yang digunakan sebagai tempat peletakan alat-alat keperluan Misa. Meja credens sendiri dilapisi dengan sehelai kain putih yang menutupi minimal sisi atas dan sisi samping meja.
7. Piala

Piala (chalice) merupakan media anggur dan air setelah dituangkan dari ampul dan sekaligus Darah Kristus. Bentuk piala sendiri dipilih untuk menjaga keselarasan dengan tradisi karena pada saat perjamuan malam terakhir, Kristus juga menggunakan piala sebagai tempat Darah-Nya yang diberikan kepada para murid yang berkumpul. Piala haruslah benda yang dikhususkan bagi Misa Kudus sehingga tidak boleh digunakan untuk keperluan lain. Bahan pembuatan piala boleh dari perak, emas, atau kristal, namun lapisan dalam cawan piala haruslah dari emas mengingat Darah Kristus akan ditempatkan di situ. Pegangan piala juga harus diberikan semacam tonjolan di tengah. Hal ini dikarenakan pada saat perayaan Misa dengan alternatif ritus Missa Forma Ekstra Ordinaria, imam hanya boleh memegang tonjolan ini dengan jari tengah dan manis, tanpa boleh sedikitpun menyentuh bagian cawan piala.
Ornamen-ornamen untuk piala juga diperbolehkan dengan tetap memperhatikan kegunaan piala itu sendiri.
8. Purifikatorium

Purifikatorium yang berarti penyuci, adalah sehelai kain putih berbentuk persegi panjang dengan ciri khas salib kecil yang berada di tengah - tengah lipatan akhir. Purifikatorium digunakan untuk membersihkan bagian dalam cawan piala setelah imam meminum semua Darah Kristus setelah pembagian Komuni. Dikarenakan bentuknya yang sama dengan kain lavabo yang digunakan untuk pembasuhan tangan imam, maka sering kali terjadi kesalahan berupa tertukarnya purifikatorium dengan kain lavabo.
9. Patena

Patena adalah piringan kecil yang berdiameter sedikit lebih lebar daripada diameter cawan piala. Patena haruslah berupa lempengan yang minimal dilapisi oleh emas karena digunakan sebagai tempat Tubuh Kristus usai dikonsekrasi. Bentuk patena sendiri diharapkan berupa lempengan cekung. Ini dikarenakan imam akan menggunakan patena untuk mengambil remah-remah Hosti yang mungkin terjatuh untuk kemudian dipersatukan kembali dengan Darah Kristus yang akan disantap oleh imam, setelah imam selesai mengedarkan Tubuh (dan Darah) Kristus.
10. Hosti besar

Hosti jenis ini digunakan khusus untuk pemecahan roti dan hosti inilah yang diangkat dan dipertunjukkan kepada umat saat kata-kata konsekrasi diucapkan. Perbedaan yang dimiliki hosti jenis ini dengan hosti kecil yang diedarkan kepada umat adalah pada hosti ini terdapat ornamen-ornamen serupa salib atau monogram Kristus. Pada hosti jenis ini juga terdapat garis patahan yang akan memudahkan imam untuk memecahkan hosti dan hosti inilah yang harus disantap oleh imam, walaupun diperkenankan untuk membagikannya p**a kepada umat.
11. Hosti kecil

Hosti jenis ini merupakan hosti yang dibagikan kepada umat. Hosti terbuat dari bahan gandum dan tidak menggunakan ragi dalam proses pembuatannya. Jika didapat kesulitan menggunakan gandum sebagai bahan pembuatannya, dapat digunakan bahan-bahan makanan pokok lain sebagai ganti gandum, dengan ketentuan memiliki unsur-unsur penyusun yang sama seperti gandum. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesinambungan dengan tradisi perjamuan seperti yang telah dilakukan Kristus sendiri pada perjamuan malam terakhir di Yerusalem bersama para murid-murid-Nya.

12. Palla
Palla merupakan lempengan tipis kaku yang digunakan untuk menutup cawan piala ketika anggur sudah dituangkan ke dalam piala dan dicampurkan dengan air. Pada umumnya, palla dibuat dalam bentuk lempengan kayu tipis yang dibalut dengan kain putih berornamen atau bisa p**a dalam bentuk plastik, misalnya. Material logam hendaknya dihindari dalam pembuatan palla karena pada saat menutup piala, dapat menimbulkan suara ketika bersentuhan. Hal ini hendaknya dihindari karena sedikit banyaknya dapat menggangu makna dari piala itu sendiri sebagai piala Darah Kristus.
13. Korporale

Korporale merupakan kain putih berbentuk persegi empat dengan ornamen tertentu dan diletakkan di atas palla. Korporale digunakan sebagai alas Hosti dan Tubuh Kristus di atas patena. Pada saat membuka korporale, imam mengucapkan Dalam nama Bapa (saat membuka lipatan korporale ke arah utara), dan Putera (saat membuka lipatan korporale ke arah selatan), dan Roh (saat membuka korporale ke arah barat), Kudus (pada saat membuka korporale ke arah timur).
14. Ampul air dan anggur

Ampul adalah wadah yang digunakan untuk menampung anggur dan air yang akan digunakan dalam Misa Kudus.Dalam alternatif ritus Missa Forma Ekstra Ordinaria, sebelum memberikan ampul kepada imam, akolit mencium ampul terlebih dahulu. Begitu p**a saat memberikan ampul kepada imam, akolit memegang ampul anggur di tangan kanan kepada imam dan segera memindahkan ampul air ke tangan kanan dan memegang ampul anggur di tangan kiri.
15. Wadah dan kain lavabo

Lavabo berasal dari kata lavabris yang berarti pembasuhan tangan. Wadah lavabo berisikan air yang digunakan oleh imam untuk membasuh tangannya sebelum memulai Prefasi. Pada saat membasuh tangan, imam juga memohon kepada Tuhan agar berkenan menyucikan dirinya dan melayakkannya untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan dalam Misa Kudus.

16. Sibori
Sibori merupakan tempat penyimpanan Hosti sebelum dikonsekrasi dan Tubuh Kristus. Sibori memiliki bentuk seperti piala namun tidak memiliki tonjolan di bagian gagangnya. Sibori biasanya terbuat dari perak ataupun emas, namun tetap harus dilapisi emas di bagian dalam cawan sibori. Sebagai penanda wadah penyimpan Tubuh Kristus, di bagian tutup sibori diberikan salib.
17. Piksis

Piksis mirip seperti sibori, namun dalam ukuran yang lebih kecil. Piksis tidak memiliki gagang.
18. Monstrans

Monstrans adalah tempat penahtaan Sakramen Maha Kudus. Karena penggunaannya sebagai tempat penahtaan untuk dapat dipertunjukkan kepada umat, maka umumnya monstrans berukuran agak besar dan dihiasi berbagai ornamen untuk menunjukkan keistimewaanya. Di bagian tengah monstrans, terdapat bagian yang tembus pandang yang dibagian depannya ditutupi kaca. Bagian ini disebut dengan corona, tempat penakhtaan Sakramen Maha Kudus itu sendiri. Dinamakan corona seturut lingkaran cahaya yang terlihat pada matahari. Hal ini sebagai penanda bahwa Sakramen Maha Kudus adalah Kristus sendiri yang memancarkan cahaya-Nya ke dunia.
19. Wiruk
Wiruk merupakan tempat ped**aan yang digunakan pada saat Misa Hari Raya, Peringatan, dan Pesta-pesta. Di dalam wiruk terdapat arang atau briket yang telah dipanaskan sehingga ketika d**a dimasukkan ke dalamnya, akan menimbulkan kep**an asap. Kep**an asap ini sendiri melambangkan untaian doa mat manusia yang harum semerbak menuju ke hadirat Allah.

Wiruk terdiri atas tiga bagian yakni bagian penyatu rantai yang terletak di bagian paling atas, rantai wiruk yang terjalin di keempat sisi wiruk, dan wiruk sebagai tempat diletakkannya arang atau briket. Di sekeliling wiruk juga diberikan lubang-lubang kecil sebagai tempat masuknya udara, sekaligus tempat keluarnya kep**an asap.
Cara memegang wiruk yang baik ialah memegangnya pada satu titik yakni di bagian penyatu rantai sehingga saat dipegang, wiruk akan menjuntai dari atas ke bawak. Ayunan wiruk hendaknya dipertahankan sebesar kurang lebih 30 derajat. Hal ini bertujuan untuk menjaga sirkulasi udara dalam wiruk sehingga arang atau briket tetap menyala dan mengeluarkan kep**an asap.
20. D**a

D**a merupakan pasangan dari wiruk. D**a biasanya merupakan semacam bubuk-bubuk yang terbuat dari berbagai macam rempah. Penggunaan d**a selain bertujuan untuk menimbulkan kep**an asap setelah ditaburkan ke atas arang atau briket, juga bertujuan untuk membuat kep**an asap menjadi harum sebagaimana doa umat beriman yang melambung ke hadirat Allah yang Mahakuasa, amatlah harum.
21. Lilin
Lilin digunakan dalam Misa sebagai pertanda Kristus yang membawa terang kepada dunia dan terang iman itu sendiri. Dalam Misa, lilin digunakan baik sebagai cahaya di altar, cahaya di tabernakel, pada saat perarakan masuk dan keluar, pada saat pembacaan Injil oleh imam, serta pada saat pembagian komuni.
22. Salib
Perarakan salib biasanya hanya digunakan pada Misa dengan intensi-intensi khusus di luar penanggalan liturgi serta hari-hari raya, pesta-pesta, dan peringatan-peringatan.
23. Hisop

Hisop merupakan alat yang digunakan untuk memerciki umat dengan air suci. Hisop pada umumnya ada beberapa macam, misalnya ada hisop yang ujungnya berupa untaian serat atau bulu, dan ada p**a hisop yang ujungnya menyerupai bola kecil namun terdapat lubang-lubang kecil sehingga ketika dicelupkan ke dalam air suci, untuk sementara air suci akan masuk ke dalam bulatan tersebut namun akan keluar kembali melalui lubang-lubang kecil pada saat dipercikkan kepada umat. Perecikan air suci kepada umat sendiri dilakukan khususnya pada hari-hari raya, misa dengan intensi khusus, dan kegiatan pembaptisan atau pengenangan pembaptisan. Perecikan umat dengan air suci juga hanya merupakan tindakan simbolis sehingga tidak perlu semua umat mendapatkan perecikan air suci oleh imam.
24. Wadah air suci percikan


Wadah ini digunakan sebagai tempat air suci yang akan digunakan dalam ritus perecikan air suci di dalam Misa Kudus.
25. Lilin Paskah
Lilin Paskah merupakan perlambang Kristus sendiri yang membawa cahaya ke dalam kehid**an manusia. Lilin Paskah pertama kali dinyalakan pada saat Ritus Cahaya pada Misa Malam Paskah yang dilakukan paling cepat setelah matahari terbenam. Pada lilin Paskah paling tidak terdapat unsur - unsur berikut :
a. Angka tahun yang sedang berjalan
b. Gambar salib, sebagai peringatan akan salib dan luka-luka suci Kristus
c. Lambang Alpha dan Omega
d. Tiga buah garis, yang melambangkan Allah Tritunggal Maha Kudus.
Setelah lilin Paskah dinyalakan, lilin Paskah diangkat tiga kali dalam tiga kali pemberhentian, dengan ucapan "Kristus Cahaya Dunia" yang dilontarkan oleh imam, dan umat menjawab dengan "Syukur kepada Allah". Lilin Paskah juga digunakan ketika ada upacara pembaptisan yakni untuk memberkati air baptis.
26. Lilin Adven

Lilin Aden merupakan pertanda bahwa Gereja telah memasuki masa Adven. Masing-masing lilin Adven memiliki makna tersendiri. Lilin Adven diletakkan pada suatu karangan Adven yang tersusun dari rangkaian daun cemara dan dilengkapi unsur-unsur lain dalam semangat Adven serta dalam warna ungu, seturut semangat Adven yang menyatakan pengharapan akan kelahiran Penebus ke dunia.
27 Altar
Altar dalam Gereja Katolik merupakan pusat dari seluruh Misa Kudus. Altar melambangkan meja perjamuan dan meja persembahan. Pada altar juga terdapat relikui-relikui dari pelindung Gereja atau kapel. Altar haruslah berada di panti imam (sanctuarium) dan posisinya diharapkan lebih tinggi dari tempat-tempat yang lain di dalam Gereja atau kapel dikarenakan hakikatnya sebagai tempat imam mempersembahkan kurban Misa yakni Kristus sendiri sehingga pada dasarnya altar menjadi tempat kedua tersuci di dalam Gereja atau kapel, setelah tabernakel.
28. Ambo/mimbar
29. Cathedra (Kursi uskup)
30. Kursi imam
31. Kursi misdinar
32. Tabernakel
Pakaian imam
1. Kasula
Kasula melambangkan beban salib yang harus dipikul oleh setiap gembala Kristus.
2. Stola
Stola melambangkan kuasa imamat yang dianugerahkan oleh Kristus kepada setiap imam-Nya.
3. Alba
Alba yang berwarna putih, seringkali disebut jubah, adalah bentuk penyerahan seutuhnya kepada Kristus dalam keadaan diri yang apa adanya.
4. Singel

Singel merupakan seuntai tali yang digunakan untuk mengikat bagian pinggang. Singel merupakan perlambang pengekangan hawa nafsu untuk melayani Tuhan dan sesama.
5. Velum
Velum merupakan lambang kebesaran imam dan persatuan pribadi imam dengan Allah yang digunakan hanya pada penahtaan Sakramen Maha Kudus.
6. Copa
Copa merupakan lambang kebesaran imam.
b. Pakaian misdinar
Catatan : Perihal pakaian misdinar, acuan yang saya gunakan adalah Busana Petugas Liturgi keluaran Takhta Suci. Sehingga mungkin ada ketidaksesuaian dengan yang terjadi di Gereja/kapel Anda.
1. Cassock
2.. Superpli
3. Singel (optional)

18/08/2013
Panduan Misdinar : Bagian Ketiga
Diposkan oleh Angelo Carte di 11.11
Panduan ini ditujukan bagi para putra dan putri altar, mereka yang ingin mengetahui baik tentang putra altar maupun Gereja Katolik, bagi para pelatih putra - putri altar, dan bagi mereka yang menemukan manfaat dari tulisan ini.
Tulisan ini sendiri secara utuh terdiri dari bagian - bagian berikut :
1. Bagian Pertama : Pengenalan Misdinar, Misa Kudus dan Struktur Misa Kudus
2. Bagian Kedua : Pengenalan Alat-alat Misa dan Perangkat Misdinar
3. Bagian Ketiga : Tugas Misdinar
4. Bagian Keempat : Kesalahan Misdinar yang Paling Umum
Sebagai kelanjutan dari bagian pertama, mari kini kita lanjutkan ke bagian ketiga.
BAGIAN KETIGA : TUGAS MISDINAR
a. Misa Biasa (Misa Harian, Misa Minggu Biasa, Misa Minggu dalam Oktaf Paskah dan Natal)
1. Perarakan diawali dengan para misdinar, diikuti para petugas liturgi, dan kemudian imam. Setelah sampai di depan altar, para misdinar bergerak menyamping sehingga memberikan ruang kosong di tengah bagi imam. Setelah imam sampai di depan altar, seluruh petugas Misa berlutut (jika di belakang altar terdapat tabernakel) atau hanya menundukkan kepala (jika di belakang altar tidak terdapat tabernakel). Kemudian imam naik ke altar dan mencium altar. Setelah itu, para misdinar dan petugas liturgi menuju tempat duduk masing-masing dengan tetap berdiri.
Sikap tubuh :
1.1 Mengatupkan tangan sepanjang perarakan dan sampai ke tempat duduk.
1.2 Pada saat imam mencium altar, para misdinar tidak perlu menundukkan kepala karena sejatinya
penciuman altar adalah tanda penghormatan imam kepada altar sebagai simbol Kristus.
2. Setelah imam selesai mendaraskan Doa Pembukaan, imam akan kembali ke tempat duduk. Misdinar menunggu imam sampai ke tempat duduk sambil berdiri, dan sebelum imam duduk, para misdinar yang duduk di sisi imam mengangkat kasula imam agar tidak terhimpit oleh badan imam saat duduk.
Sikap tubuh :
Tetap fokus pada tugas dengan tidak berbicara dan melirik.
3. Pada saat Bait Pengantar Injil, dua orang misdinar mengambil lilin bernyala kemudian turun ke bawah altar. Setelah Bait Pengantar Injil selesai didaraskan dan imam sampai ke mimbar, para misdinar berdiri di sisi kiri dan kanan imam, tetapi tidak terlalu dekat, dengan memegang lilin bernyala, selama imam membacakan Injil. Setelah imam membacakan Injil, para misdinar pemegang lilin bernyala kembali turun ke bawah altar dan kemudian mengembalikan lilin bernyala ke tempatnya.
Sikap tubuh :
Setiap turun ke bawah altar, yang di belakangnya terdapat tabernakel, semua misdinar harus berlutut. Jika di belakangnya tidak terdapat tabernakel, maka cukup dengan menundukkan kepala.
4. Setelah Doa umat selesai, Misa masuk pada bagian Persiapan Persembahan. Selagi persembahan berjalan atau lagu persembahan dilantunkan, para misdinar, berdasarkan pembagian tugas yang telah disepakati, mengantarkan materi-materi Ekaristi kepada imam antara lain, 1 set piala, sibori, ampul, dan lavabo.
Sikap tubuh :
Setiap kali mengantarkan materi Ekaristi kepada imam, misdinar haruslah berjalan beriringan (jika lebih dari 1 misdinar). Setelah sampai di depan imam, misdinar menghormati imam dengan menundukkan kepala sebatas bawah leher. Misdinar yang berada di sebelah kanan pertama kali menyerahkan materi Ekaristi yang dibawanya, kemudian diikuti misdinar kedua. Setelah memberikan materi yang dibawa, para misdinar kembali menghormati imam dengan menundukkan kepala sebatas leher dan kemudian membalikkan tubuh ke arah kanan dengan perlahan dan kembali untuk mengambil materi Ekaristi yang lain atau jika sudah selesai diberikan, kembali ke tempat duduk masing-masing.
5. Berdiri di tempat duduk masing-masing pada saat imam mendaraskan Prefasi (ditandai dengan kata-kata "Tuhan sertamu." dari imam).
6. Bergerak ke posisi lonceng ditempatkan pada saat lagu Kudus dinyanyikan. Jika lonceng ditempatkan di bawah altar, maka tetap harus tunduk atau berlutut di bawah altar.
7. Berlutut pada saat memasuki Doa Syukur Agung.
Sikap tubuh : Tangan tetap terkatup dan pandangan kepada imam.
8. Membunyikan lonceng pertama kali pada saat imam mengatakan :
Sudilah mengutus Roh-Mu menyucikan persembahan ini, agar menjadi bagi kami, Tubuh dan Darah Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.
Lonceng dibunyikan satu kali dari awal sampai imam selesai mendaraskan doa ini atau cukup dengan satu kali melonceng singkat.
9. Membunyikan lonceng atau gong pada saat imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus usai mengucapkan kata-kata konsekrasi.
Sikap tubuh :
Misdinar melonceng atau membunyikan gong tiga kali. Jika menggunakan lonceng, lonceng dibunyikan singkat tapi terdengar jelas. Jika menggunakan gong, usahakan gong bergaung jelas dan jangan sekali-kali menahan gong setelah dipegang dengan maksud agar bunyi gong langsung berhenti, namun justru harus dibiarkan karena ini akan menambah keagungan trans-substantiasi Ekaristi. Baik lonceng atau gong, dibunyikan tiga kali persis pada saat imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus dan mengarahkannya ke pada umat yakni ke arah kiri, ke arah tengah, dan ke arah kanan.
Pada bagian ini, misdinar yang tidak mendapatkan tugas apa-apa, menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang dipertunjukkan imam dengan mengatupkan tangan, mengangkatnya sebatas dahi sambil memandang Tubuh dan Darah Kristus.
10. Membunyikan lonceng panjang sekali lagi pada saat imam menutup Doa Syukur Agung dengan doa :
Dengan perantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu Allah Bapa yang Maha Kuasa, segala hormat dan kemuliaan, kini dan sepanjang segala masa.
11. Setelah Doa Syukur Agung selesai, imam mengajak seluruh umat mendoakan Bapa Kami. Misdinar dan seluruh umat beserta petugas liturgi berdiri di tempat masing-masing dan sambil menengadahkan tangan sebatas pinggang dan selebar bahu, mendoakan atau mendaraskan doa Bapa Kami.
12. Jika diperkenankan, setelah Doa Bapa Kami, seluruh umat, imam, petugas liturgi, dan misdinar saling memberikan Salam Damai. Jangan pernah sekali-kali takut untuk beranjak dari tempat dan menghampiri umat untuk memberikan Salam Damai dan serta-merta mengucapkan Damai Kristus dengan langsung menatap mata dari memberikan senyuman.
13. Kemudian pada bagian Anak Domba Allah, seluruh umat, petugas liturgi, dan misdinar berlutut di tempat masing-masing. Pada saat mendoakan atau menyanyikan Anak Domba Allah, ada baiknya menepuk dada 3 (tiga) kali pada saat mengatakan/menyanyikan kasihanilah kami dan berilah kami damai.
14. Setelah menyatakan ketidakpantasan menerima Tubuh Kristus, misdinar berdoa di tempat membunyikan lonceng sambil berlutut untuk mempersiapkan diri menerima Tubuh Kristus. Setelah semua misdinar yang bertugas selesai berdoa, misdinar langsung menuju ke barisan penerima komuni paling depan atau bisa juga dengan cukup berdiri di tempat membunyikan lonceng.
15. Setelah misdinar menerima komuni, segera bergegas mengambil lilin bernyala untuk mendampingi Tubuh (dan Darah) Kristus yang sedang dibagikan.
16. Setelah pembagian komuni selesai, berdasarkan pembagian tugas, misdinar kembali menghampiri imam dengan terlebih dahulu menghormati imam dengan menundukkan kepala, untuk mengambil kembali alat-alat Misa yakni 1 set piala dan sibori. Setelah itu, misdinar kembali ke tempat duduk masing-masing.
Catatan : Setiap kali imam akan duduk, misdinar yang berada di sisi kiri dan kanan imam haruslah mengangkat kasula imam agar tidak terhimpit pada saat imam duduk.
17. Setelah pengumuman selesai dibacakan, para misdinar bergerak ke bawah altar untuk mempersiapkan perarakan p**ang. Jika tidak ada pengumuman, maka misdinar turun ke bawah altar setelah membereskan alat-alat Misa usai Komuni. Misdinar tetap berdiri pada saat imam memberikan berkat pengutusan. Setelah imam turun, imam bersama-sama dengan seluruh umat, petugas liturgi, dan misdinar berlutut atau menundukkan kepala dan setelah itu berarak kembali ke sakristi.
b. Misa Hari Raya (Pesta, Peringatan, Minggu Paskah dan Natal)
1. Perarakan diawali dengan para misdinar, diikuti para petugas liturgi, dan kemudian imam. Urutan perarakan dari depan ke belakang :
Misdinar pembawa wiruk - misdinar pembawa d**a - misdinar pembawa salib - misdinar pembawa lilin bernyala - petugas liturgi - prodiakon (jika ada) - imam.
Setelah sampai di depan altar, para misdinar bergerak menyamping sehingga memberikan ruang kosong di tengah bagi imam. Setelah imam sampai di depan altar, seluruh petugas Misa berlutut, kecuali pembawa salib (jika di belakang altar terdapat tabernakel) atau hanya menundukkan kepala (jika di belakang altar tidak terdapat tabernakel). Kemudian imam naik ke altar dan mencium altar.
Setelah imam mencium altar, misdinar pembawa wiruk dan d**a naik ke daerah altar. Pembawa wiruk membuka wiruk setinggi dada dan pembawa d**a membukakan tempat d**a yang dibawa agar imam dapat memasukkan d**a ke dalam wiruk untuk menimbulkan kep**an asap. Setelah imam menaburkan d**a ke dalam wiruk, pembawa wiruk menutup kembali wiruk dan menyerahkannya kepada imam agar imam dapat mend**ai altar dan salib, sambil ujung kasula bagian belakang dipegang oleh misdinar pembawa wiruk.
Setelah imam selesai mend**ai, wiruk diberikan kembali kepada misdinar dan kemudian misdinar mend**ai imam dengan aturan 2 kali ayunan wiruk ke 3 arah yakni kiri, tengah, dan kanan (duplex trictibus). Setelah selesai mend**ai, misdinar kembali turun ke bawah altar.
Setelah itu, para misdinar dan petugas liturgi menuju tempat duduk masing-masing dengan tetap berdiri.
Sikap tubuh :
1.1 Mengatupkan tangan sepanjang perarakan dan sampai ke tempat duduk.
1.2 Pada saat imam mencium altar, para misdinar tidak perlu menundukkan kepala karena sejatinya
penciuman altar adalah tanda penghormatan imam kepada altar sebagai simbol Kristus.
2. Setelah imam selesai mendaraskan Doa Pembukaan, imam akan kembali ke tempat duduk. Misdinar menunggu imam sampai ke tempat duduk sambil berdiri, dan sebelum imam duduk, para misdinar yang duduk di sisi imam mengangkat kasula imam agar tidak terhimpit oleh badan imam saat duduk.
Sikap tubuh :
Tetap fokus pada tugas dengan tidak berbicara dan melirik.
3. Pada saat Bait Pengantar Injil, dua orang misdinar mengambil lilin bernyala kemudian turun ke bawah altar. Bersamaan dengan kedua orang misdinar yang mengambil lilin bernyala, dua orang misdinar lain juga mengambil wiruk dan d**a. Setelah sampai di bawah altar, keempat misdinar berlutut atau menundukkan kepala. Kemudian kedua misdinar pemegang wiruk dan d**a naik ke daerah altar sementara kedua misdinar pemegang lilin bernyala tetap di bawah altar. Pemegang wiruk membukakan wiruk bagi imam untuk mengisikan d**a. Setelah Bait Pengantar Injil selesai didaraskan dan imam sampai ke mimbar, para misdinar pemegang lilin bernyala berdiri di sisi kiri dan kanan imam, sementara pembawa wiruk dan d**a berdiri di kanan atau belakang imam, tetapi tidak terlalu dekat, selama imam membacakan Injil. Setelah imam membacakan Injil, para misdinar pemegang lilin bernyala dan pembawa wiruk serta d**a kembali turun ke bawah altar dan kemudian mengembalikan lilin bernyala beserta wiruk dan d**a ke tempatnya.
Sikap tubuh :
Setiap turun ke bawah altar, yang di belakangnya terdapat tabernakel, semua misdinar harus berlutut. Jika di belakangnya tidak terdapat tabernakel, maka cukup dengan menundukkan kepala.
4. Setelah Doa umat selesai, Misa masuk pada bagian Persiapan Persembahan. Selagi persembahan berjalan atau lagu persembahan dilantunkan, para misdinar, berdasarkan pembagian tugas yang telah disepakati, mengantarkan materi-materi Ekaristi kepada imam antara lain, 1 set piala, sibori, ampul, dan lavabo.
Pada saat yang bersamaan, dua orang misdinar mengambil wiruk dan d**a, kemudian turun ke bawah altar untuk berlutut atau menundukkan kepala untuk menghormati simbol Kristus. Mereka kemudian naik ke daerah altar dan menunggu sampai imam selesai menuangkan anggur dan air ke dalam cawan piala. Pembawa wiruk kemudian membukakan wiruk untuk diisikan d**a oleh imam dan kemudian menyerahkan wiruk kepada imam agar imam dapat mend**ai bahan-bahan persembahan, altar, dan salib; yang pada saat imam mend**ai, pemegang wiruk memegang ujung belakang kasula imam. Setelah imam selesai mend**ai, wiruk dikembalikan kepada pemegang wiruk untuk kemudian mend**ai imam. Setelah mend**ai imam, pemegang wiruk dan pembawa d**a bergerak ke altar bagian depan, untuk mend**ai umat dengan terlebih dahulu menghormat kepada umat, dengan pedoman ped**aan sama seperti bagian pembukaan Misa.
Setelah selesai mend**ai umat, misdinar pembawa wiruk dan d**a turun ke bawah altar untuk berlutut atau menghormat dan kemudian mengembalikan wiruk dan d**a ke tempatnya.
Sikap tubuh :
Setiap kali mengantarkan materi Ekaristi kepada imam, misdinar haruslah berjalan beriringan (jika lebih dari 1 misdinar). Setelah sampai di depan imam, misdinar menghormati imam dengan menundukkan kepala sebatas bawah leher. Misdinar yang berada di sebelah kanan pertama kali menyerahkan materi Ekaristi yang dibawanya, kemudian diikuti misdinar kedua. Setelah memberikan materi yang dibawa, para misdinar kembali menghormati imam dengan menundukkan kepala sebatas leher dan kemudian membalikkan tubuh ke arah kanan dengan perlahan dan kembali untuk mengambil materi Ekaristi yang lain atau jika sudah selesai diberikan, kembali ke tempat duduk masing-masing.
5. Berdiri di tempat duduk masing-masing pada saat imam mendaraskan Prefasi (ditandai dengan kata-kata "Tuhan sertamu." dari imam).
6. Bergerak ke posisi lonceng ditempatkan pada saat lagu Kudus dinyanyikan. Jika lonceng ditempatkan di bawah altar, maka tetap harus tunduk atau berlutut di bawah altar.
7. Berlutut pada saat memasuki Doa Syukur Agung.
Sikap tubuh : Tangan tetap terkatup dan pandangan kepada imam.
8. Membunyikan lonceng pertama kali pada saat imam mengatakan :
Sudilah mengutus Roh-Mu menyucikan persembahan ini, agar menjadi bagi kami, Tubuh dan Darah Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.
Lonceng dibunyikan satu kali dari awal sampai imam selesai mendaraskan doa ini atau cukup dengan satu kali melonceng singkat.
9. Membunyikan lonceng atau gong pada saat jeda ketika imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus usai mengucapkan kata-kata konsekrasi, persisnya dua kali melonceng. Hal ini karena pada saat imam mempertunjukkan Tubuh dan Darah Kristus ke tiga arah, akan ada ped**aan sehingga bunyi wiruk dan lonceng atau gong tidak saling bertubrukan yang hanya akan merusak keagungan Ekaristi itu sendiri.
Dengan demikian, pada saat imam mempertunjukkan Tubuh dan Darah Kristus kepada umat, misdinar pemegang wiruk mend**ai Tubuh dan Darah Kristus dengan aturan triplex trictibus. Aturan ini berarti mengayunkan 3 (tiga) kali wiruk untuk masing-masing arah kiri, tengah, dan kanan sehingga jika dijumlahkan akan ada 3 ayunan.
Alasan penggunaan 3 kali ayunan untuk masing-masing arah adalah kali ini misdinar mend**ai Kristus sendiri yang adalah Tuhan sendiri. Hal ini berbeda dengan pengayunan wiruk 2 kali untuk masing-masing arah yang digunakan untuk menghormati simbol-simbol Kristus yang hadir dalam Misa.
Sikap tubuh :
Misdinar melonceng atau membunyikan gong tiga kali. Jika menggunakan lonceng, lonceng dibunyikan singkat tapi terdengar jelas. Jika menggunakan gong, usahakan gong bergaung jelas dan jangan sekali-kali menahan gong setelah dipegang dengan maksud agar bunyi gong langsung berhenti, namun justru harus dibiarkan karena ini akan menambah keagungan trans-substantiasi Ekaristi. Baik lonceng atau gong, dibunyikan tiga kali persis pada saat imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus dan mengarahkannya ke pada umat yakni ke arah kiri, ke arah tengah, dan ke arah kanan.
Pada bagian ini, misdinar yang tidak mendapatkan tugas apa-apa, menghormati Tubuh dan Darah Kristus yang dipertunjukkan imam dengan mengatupkan tangan, mengangkatnya sebatas dahi sambil memandang Tubuh dan Darah Kristus.
10. Membunyikan lonceng panjang sekali lagi pada saat imam menutup Doa Syukur Agung dengan doa :
Dengan perantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu Allah Bapa yang Maha Kuasa, segala hormat dan kemuliaan, kini dan sepanjang segala masa.
11. Setelah Doa Syukur Agung selesai, imam mengajak seluruh umat mendoakan Bapa Kami. Misdinar dan seluruh umat beserta petugas liturgi berdiri di tempat masing-masing dan sambil menengadahkan tangan sebatas pinggang dan selebar bahu, mendoakan atau mendaraskan doa Bapa Kami. Namun, pada saat doa Bapa Kami dimulai, misdinar pemegang wiruk dan d**a beranjak dari tempat untuk mengembalikan wiruk dan d**a ke tempatnya dengan terlebih dahulu hanya menundukkan kepala untuk menghormati Kristus yang hadir. Setelah mengembalikan wiruk dan d**a, mereka kembali turun ke bawah altar, bergabung dengan misdinar yang lain.
12. Jika diperkenankan, setelah Doa Bapa Kami, seluruh umat, imam, petugas liturgi, dan misdinar saling memberikan Salam Damai. Jangan pernah sekali-kali takut untuk beranjak dari tempat dan menghampiri umat untuk memberikan Salam Damai dan serta-merta mengucapkan Damai Kristus dengan langsung menatap mata dari memberikan senyuman.
13. Kemudian pada bagian Anak Domba Allah, seluruh umat, petugas liturgi, dan misdinar berlutut di tempat masing-masing. Pada saat mendoakan atau menyanyikan Anak Domba Allah, ada baiknya menepuk dada 3 (tiga) kali pada saat mengatakan/menyanyikan kasihanilah kami dan berilah kami damai.
14. Setelah menyatakan ketidakpantasan menerima Tubuh Kristus, misdinar berdoa di tempat membunyikan lonceng sambil berlutut untuk mempersiapkan diri menerima Tubuh Kristus. Setelah semua misdinar yang bertugas selesai berdoa, misdinar langsung menuju ke barisan penerima komuni paling depan atau bisa juga dengan cukup berdiri di tempat membunyikan lonceng.
15. Setelah misdinar menerima komuni, segera bergegas mengambil lilin bernyala untuk mendampingi Tubuh (dan Darah) Kristus yang sedang dibagikan.
16. Setelah pembagian komuni selesai, berdasarkan pembagian tugas, misdinar kembali menghampiri imam dengan terlebih dahulu menghormati imam dengan menundukkan kepala, untuk mengambil kembali alat-alat Misa yakni 1 set piala dan sibori. Setelah itu, misdinar kembali ke tempat duduk masing-masing.
Catatan : Setiap kali imam akan duduk, misdinar yang berada di sisi kiri dan kanan imam haruslah mengangkat kasula imam agar tidak terhimpit pada saat imam duduk.
17. Setelah pengumuman selesai dibacakan, para misdinar bergerak ke bawah altar untuk mempersiapkan perarakan p**ang. Jika tidak ada pengumuman, maka misdinar turun ke bawah altar setelah membereskan alat-alat Misa usai Komuni. Misdinar tetap berdiri pada saat imam memberikan berkat pengutusan. Setelah imam turun, imam bersama-sama dengan seluruh umat, petugas liturgi, dan misdinar berlutut atau menundukkan kepala dan setelah itu berarak kembali ke sakristi.
Catatan : Pada perarakan p**ang, hanya salib yang dibawa.
c. Misa Pekan Suci
c.1 Misa Minggu Palma
Secara garis besar, pada Misa Minggu Palma ada dua bagian yakni bagian perarakan, untuk mengenang perarakan Kristus masuk ke Yerusalem dan bagian Misa itu sendiri. Bagian perarakan biasanya dimulai di luar gedung gereja atau kapel, yakni dimulai dari awal Misa sampai ke bagian terakhir Ritus Pembuka. Sehingga pada umumnya, tugas misdinar di Misa Minggu Palma, sama seperti Misa Hari Raya lainnya. Tugas tambahan terletak pada pend**aan daun-daun palma dan urutan perarakan ke dalam gedung gereja. Perarakan Minggu Palma ke dalam gedung gereja biasanya sebagai berikut :
1. Umat
2. Paduan suara
3. Misdinar
4. Petugas liturgi
5. Imam
Kemudian, mulai dari bagian Liturgi Sabda sampai Misa berakhir, tugas misdinar sama persis dengan tugas pada saat Misa Hari Raya.
c.2 Misa Kamis Putih
Misa Kamis Putih sering juga disebut sebagai Misa Peringatan Perjamuan Tuhan karena pada hari sebelum sengsara-Nya, Kristus mengadakan perjamuan bersama para murid-Nya untuk memberikan teladan kasih bagi mereka. Selain itu, Kamis Putih juga peringatan akan kelahiran Gereja sendiri karena pada saat itu Ekaristi diberikan kepada dunia oleh Kristus sendiri.
Pada Misa Kamis Putih, tugas misdinar sama dengan tugas-tugas pada Misa Hari Raya lainnya. Tugas tambahan yang diberikan adalah membantu imam dalam ritus Pembasuhan Kaki.
Ritus ini sendiri dilakukan setelah imam memberikan homili. Para wakil umat yang menggantikan para rasul untuk dibasuh kakinya, maju ke tempat yang sudah disediakan oleh para misdinar. Kemudian, seorang misdinar membantu imam untuk melepaskan kasula dan stola, serta meletakkannya di altar. Misdinar lain bertugas menyiapkan wadah pembasuhan berisi air dan kain putih untuk mengeringkan kaki para wakil umat. Untuk bagian-bagian Misa yang lain sampai pada Misa selesai, tugas misdinar cukup merujuk pada poin (b).
Sedangkan untuk perarakan masuk dan p**ang, urutannya adalah sebagai berikut :
1. Misdinar pembawa salib
2. Misdinar lainnya
3. Petugas liturgi
4. Para wakil umat
5. Imam
Tambahan tugas lain adalah pada saat Perarakan Sakramen Maha Kudus. Pada bagian ini, misdinar mengenakan velum kepada imam dan memberikan d**a kepada imam untuk mengisikannya ke dalam wiruk. Pada saat perarakan, misdinar mend**ai Sakramen Maha Kudus (walaupun sebenarnya, yang did**ai adalah jalan di depan Sakramen Maha Kudus dengan maksud menyucikan jalan Tuhan). Pada saat imam berhenti untuk memperlihatkan Tuhan kepada umat, pend**aan dihentikan dan digantikan dengan membunyikan alat dari kayu (keprak) sebagai ganti dari lonceng. Akhir dari perarakan ditandai dengan penahtaan Sakramen Maha Kudus pada tempat yang telah disediakan (bukan tabernakel) dan pada bagian ini, Sakramen Maha Kudus did**ai sekali lagi oleh imam.
c.3 Ibadat Jumat Agung
Jumat Agung adalah saat ketika Gereja Katolik mengenangkan sengsara Tuhan sendiri. Oleh karena itu, pada Jumat Agung tidak diadakan Misa karena pada hari itu Gereja mengenangkan Tuhan sendiri yang langsung mengurbankan diri di salib. Berikut tugas misdinar, mungkin ada beberapa bagian yang kurang, dalam Ibadat Jumat Agung :
1. Perarakan
2. Setelah sampai di depan altar, imam akan langsung tiarap ke lantai, tanda penyerahan diri seutuhnya kepada Kristus yang pada hari itu dikenangkan telah mengurbankan diri di salib.
3. Imam kemudian memimpin ibadat dari kursi imam. Pada ibadat Jumat Agung tidak ada Liturgi Ekaristi, hanya ada pembagian Komuni sehingga tugas misdinar terbatas pada membawa lilin bernyala untuk mendampingi pembagian Komuni.
Sedangkan pada bagian Ritus Penghormatan Salib, tidak selamanya misdinar yang membawa salib yang akan dihormati oleh umat. Namun, apabila misdinar yang diminta untuk membawa salib, berikut penjelasan tugasnya.
Sebelum ritus penghormatan Salib dimulai, akan ada penghunjukan salib kepada umat yang akan berhenti di tiga titik, yang biasanya titik pintu depan gereja, titik tengah, dan di bawah altar. Setiap berhenti, misdinar mengangkat salib tinggi-tinggi untuk dibuka selubungnya oleh imam, begitu seterusnya. Namun ketika imam telah membuka semua selubung di bawah altar, misdinar harus mengangkat salib lebih tinggi dari sebelumnya saat imam membuka selubung.
c.4 Misa Sabtu Suci
Pada Misa Sabtu Suci, misdinar tetap harus berpedoman pada tata laksana tugas misdinar pada Misa Hari Raya, dengan tambahan mempelajari ritus-ritus tambahan pada Misa Sabtu Suci. Ritus-ritus tersebut adalah :
a. Ritus Cahaya
Ritus Cahaya dimasukkan dalam Ritus Pembuka dalam Misa. Imam, misdinar, dan para petugas liturgi berkumpul di luar gedung gereja atau kapel, yang sebelumnya semua cahaya baik di dalam maupun di luar gedung gereja atau kapel telah dimatikan, kecuali lampu atau lilin di tabernakel.
Imam pertama-tama akan menandai lilin Paskah yakni dengan menggariskan salib di lilin paskah, menandai lambang Alpha dan Omega, serta menancapkan 5 biji d**a ke lilin paskah.
Kemudian imam akan memberkati api yang telah disediakan untuk kemudian mengambil arang bernyala dan meletakkannya dalam wiruk.
Setelah ini, dilakukan perarakan lilin Paskah dengan tiga kali pemberhentian yang di masing-masing pemberhentian, lilin Paskah diangkat dan diserukan "Kristus, Cahaya Dunia".
b. Ritus Pembaharuan Janji Baptis
Ritus ini sama seperti pada Misa Kamis Putih.
c. Ritus Pembaptisan (opsional)
d. Misa Malam Natal
Pada dasarnya, sama seperti bagian (b), namun perbedaannya terletak pada tambahan ritus Pembaharuan Janji Baptis serta ritus-ritus lain yang bertujuan untuk menekankan pengharapan iman umat akan kelahiran Kristus, yang ditandai dengan penyalaan lilin-lilin umat.
e. Misa bersama Uskup
Pada Misa bersama Uskup, tata laksana tugas misdinar sama seperti bagian (b). Perbedaannya hanya terletak pada tambahan tugas bagi seorang misdinar untuk memegang tongkat uskup sambil mengenakan velum, dikarenakan yang dipegang adalah tanda penggembalaan umat.
Address
Jakarta
Website
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when Putra Putri Altar Katolik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.