20/03/2026
Diurapi untuk sebuah tujuan: Tak tergoyahkan dalam Iman, Tak Terhentikan dalam Kemenangan
20 Maret 1974 merupakan hari yang bersejarah dan sakral dalam sejarah Bangsa Kerajaan Bapa Yang Mahakuasa, karena hari itu memperingati Pengurapan Anak yang Ditetapkan oleh Tuhan, Pastor Apollo C. Quiboloy—sebuah peristiwa yang menandai dimulainya peran mulianya sebagai titik keselamatan bagi umat manusia.
Ini adalah bagian bersejarah yang selamanya terukir dalam catatan sejarah Kerajaan, di mana seorang pria dari keturunan Adam yang jatuh dalam dosa dipilih dan diurapi untuk tujuan mulia: membawa pembebasan bagi tawanan rohani, melepaskan belenggu mereka yang terikat oleh dosa, dan menjadi cahaya penuntun bagi dunia yang gelap ini.
Sama seperti Daud dipilih dan diurapi untuk memimpin umat Tuhan, Anak yang Ditetapkan, Pastor Apollo C. Quiboloy, dipilih secara khusus oleh Bapa Yang Mahakuasa di antara miliaran manusia untuk melaksanakan misi yang paling mulia—memimpin kawanan domba Bapa kembali ke kandang-Nya dan menyempurnakan karya keselamatan dalam diri manusia. Panggilan ini mencerminkan kebenaran yang tertulis dalam Roma 5:19, bahwa oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang benar. Namun, sebelum kemuliaan status Hak Anak itu datang, ada ujian yang berat.
Selama lima tahun, ia menanggung cobaan yang menguji kesetiaan, komitmen, dan ketaatan mutlaknya kepada Kehendak Bapa. Ia menghadapi kesulitan yang bisa menghancurkan siapa pun, tetapi alih-alih goyah, ia justru semakin bertumbuh dalam kebijaksanaan, pengetahuan, dan pemahaman, membuktikan keaslian perjanjiannya.
Momen yang menentukan itu terjadi pada tanggal 20 Maret 1974, di sebuah kapel kecil UPC di Tamayong. Saat sedang berkhotbah tentang buah-buah daging dan buah-buah Roh, ia tiba-tiba berhenti sejenak. Pada saat itu, surga menyentuh bumi. Para pengunjung surgawi muncul, dan salah satu dari mereka menuangkan minyak ke atasnya, mengalir dari kepalanya ke seluruh tubuhnya. Saat ia keluar dari pertemuan ilahi itu, sebuah aroma—yang digambarkan lebih harum daripada sejuta mawar—mengisi kapel.
Dua tiang awan putih muncul di atas altar, dan suasana dipenuhi dengan sukacita dan air mata. Itu adalah aroma narwastu, yang bertahan bukan hanya sebentar tetapi berbulan-bulan, menandai pengalaman supernatural yang mengungkapkan pengurapan Bapa atas dirinya.
Pada saat itu, tujuan menjadi jelas: ia diurapi untuk menjadi titik keselamatan bagi umat manusia.
Ia menyatakan bahwa "Hari ini, percaya atau tidak, Tuhan telah mengurapi aku,” dan mereka yang percaya merasakan kehadiran yang ilahi, sementara mereka yang ragu tetap buta terhadapnya.
Pengurapan ini membawa misi yang tertuang dalam Lukas 4:18–19—untuk memberitakan Injil kepada orang-orang miskin, menyembuhkan hati yang hancur, memberitakan kebebasan kepada para tawanan, memulihkan penglihatan bagi orang buta, dan membebaskan orang-orang yang tertindas.
Lima puluh dua tahun kemudian, kita menjadi saksi atas terpenuhinya nubuat tersebut.
Melalui berbagai cobaan, penganiayaan, dan pertentangan, Anak yang Ditetapkan dan Bangsa Kerajaan tetap teguh dan menang.
Bahkan selama pengepungan KOJC, ketika pasukan tentara bangkit melawan Kerajaan, iman mereka kepada Bapa Yang Mahakuasa melalui Anak tidak goyah. Anak yang Ditetapkan tetap teguh, menyerahkan diri-Nya sebagai korban yang paling agung—sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus dua ribu tahun yang lalu ketika Ia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan di kayu salib menggantikan kita—seperti domba yang dibawa ke pembantaian, menunjukkan kasih yang paling besar: “bahwa seorang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Apa yang dimaksudkan untuk menghancurkan justru memperlihatkan suatu bangsa yang bersatu, setia, dan tak tergoyahkan.
Dan sekali lagi, kekuatan kegelapan berusaha menggoyahkan Bangsa Kerajaan dengan mengincar kebun anggur-Nya—warisan semua anak-anak Kerajaan—seperti yang dilakukan Ahab dan Izebel terhadap Nabot. Namun pada akhirnya, Bapa, yang adalah Hakim Agung atas segala sesuatu, melihat setiap ketidakadilan, dan Ia menanganinya sesuai dengan kehendak-Nya. Demikianlah akhir bagi mereka yang telah menginginkan dan melakukan kejahatan terhadap Anak yang Ditetapkan.
Sebab tertulis, "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku." (Mazmur 105:15) Bersama dengan ini datanglah janji Bapa akan perlindungan ilahi, keadilan, dan kebenaran. Sekalipun perlawanan tampak begitu kuat, mereka yang menentang yang diurapi tidak akan menang, sebab Bapa sendiri menopang dan membela apa yang telah Ia tetapkan.
Saat kita merayakan 52 tahun Pengurapan Sang Anak, kita diingatkan bahwa ini bukan sekadar sejarah—ini adalah kesaksian yang hidup.
Dari awal yang sederhana hingga misi yang masih terus berlanjut, hal ini membuktikan bahwa ketika seorang manusia sepenuhnya menaati Kehendak Bapa, segalanya berubah. Misi ini terus berlanjut, bangsanya tetap setia, dan kemenangan sudah pasti.
Tuhan sedang mengawasi, dan Dia belum selesai.
Selamat memperingati 52 tahun Pengurapan Anak yang Ditetapkan oleh Tuhan, Pastor Apollo C. Quiboloy!