Missa Latina

Missa Latina Traditional Latin Mass - Jakarta
Extraordinary form of the Roman Rite, the liturgy of the 1962 Missal https://en.wikipedia.org/wiki/Tridentine_Mass

Misa Tridentin adalah sebuah bentuk Misa Ritus Romawi yang ada di dalam Missale Romanum atau Buku Misa Romawi edisi umum yang terbit antara tahun 1570 hingga tahun 1961. Misa ini adalah liturgi misa yang paling luas digunakan di seluruh dunia hingga diperkenalkannya Misa Paulus VI di bulan Desember 1969. Di hampir semua negara misa ini dirayakan dengan menggunakan Bahasa Latin sepenuhnya, namun pe

nggunaan bahasa lainnya diperbolehkan baik sebelum Konsili Trento dan dalam abad-abad berikutnya hingga puncaknya pada Konsili Vatikan Kedua. Kata "Tridentin" berasal dari kata Bahasa Latin Tridentinus, artinya "berhubungan dengan kota Tridentum (kota Trento, Italia saat ini)". Nama ini digunakan sebagai balasan terhadap sebuah keputusan dari Konsili Trento yang mendasari Paus Pius V untuk membuat Tata Cara Misa Romawi tahun 1570 dan menyatakannya sebagai bentuk misa yang harus digunakan di seluruh Gereja Barat, dengan perkecualian wilayah-wilayah dan ordo-ordo yang tata cara misanya telah ada sebelum tahun 1370. Pada tahun 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan sebuah motu proprio yang berjudul Summorum Pontificum, disertai dengan sebuah surat kepada para uskup di seluruh dunia. Sri Paus menyatakan bahwa Tata Cara Misa Romawi tahun 1962 dianggap sebagai sebuah bentuk misa yang luar biasa (forma extraordinaria) dari Ritus Romawi, di mana Tata Cara Misa yang direvisi oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970 dianggap sebagai bentuk misa yang umum atau normal. Alhasil, beberapa pihak merujuk Misa Tridentin tahun 1962 sebagai "bentuk misa yang luar biasa". Misa Tridentin tahun 1962 juga terkadang dirujuk sebagai "usus antiquior" (penggunaan yang lebih tua) atau "antiquior forma" (bentuk yang lebih tua), untuk membedakannya dengan bentuk Ritus Romawi lebih baru yang digunakan sejak tahun 1970. Nama-nama lainnya termasuk Misa Tradisional dan Misa Latin - walaupun bentuk revisi dari misa yang menggantikan Misa Tridentin juga memiliki teks resmi dalam Bahasa Latin, dan terkadang dirayakan dalam bahasa tersebut. Dalam misa-misa yang dirayakan tanpa kehadiran orang-orang awam, para imam Katolik Ritus Latin bebas memilih baik liturgi Tridentin versi tahun 1962, atau apa yang sekarang dikenal dengan bentuk liturgi umum. Misa-misa ini "bisa juga - dengan memperhatikan semua aturan yang berlaku - dihadiri oleh para umat yang, dengan keinginan bebasnya sendiri, meminta untuk diperbolehkan untuk berpartisipasi." Izin untuk menggunakan bentuk Misa Tridentin di misa paroki bisa diberikah oleh imam paroki tersebut.

20/04/2026
Hari Minggu kedua sesudah Paskah(MINGGU GEMBALA BAIK)19 April 2026Dominica II Post Pascha
20/04/2026

Hari Minggu kedua sesudah Paskah
(MINGGU GEMBALA BAIK)
19 April 2026

Dominica II Post Pascha

MENGAPA MENGAKU DOSA KEPADA IMAM?Kita orang Katolik wajib mengaku dosa pada seorang imam jika kita telah melakukan suatu...
15/04/2026

MENGAPA MENGAKU DOSA KEPADA IMAM?

Kita orang Katolik wajib mengaku dosa pada seorang imam jika kita telah melakukan suatu dosa berat di mana kita dengan sengaja memutuskan hubungan kita dengan Allah. Akan tetapi, kebanyakan orang Katolik juga pergi mengaku dosa secara berkala meskipun barangkali tidak punya dosa berat untuk disampaikan dalam pengakuan. Istilah yang lebih tepat untuk pengakuan dosa adalah Sakramen Rekonsiliasi.

Ada tiga alasan pokok umat Katolik mengaku dosa kepada imam. Pertama, Yesus telah memberikan kepada rasul-rasul kuasa untuk mengampuni dosa. “‘Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’” (Yohanes 20:21-23). Gereja Katolik percaya bahwa kuasa ini diturunkan kepada para uskup dan para imam sepanjang sejarah Gereja. Hal ini sejalan dengan cara Allah mengomunikasikan diri-Nya kepada kita, yakni melalui tanda-tanda yang kelihatan. Kita adalah manusia jasmani dengan darah dan daging; melalui imam, Allah memungkinkan kita mendengar secara fisik bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni.

Kedua, pengakuan tidak hanya mendamaikan kita kembali dengan Allah, tetapi juga mendamaikan kita kembali dengan Gereja. Dosa melukai persekutuan umat beriman. Sama seperti dua orang yang bertengkar dalam suatu pesta menimbulkan kemarahan hadirin, demikian p**a dosa seorang anggota Tubuh Kristus membawa akibat terhadap persekutuan umat beriman. Pengakuan dosa kepada seorang imam sebagai wakil Gereja merupakan suatu ungkapan penyesalan dan kerinduan kita untuk dipersatukan kembali dengan Gereja.

Ketiga, imam seringkali dapat memberikan peneguhan, nasihat dan dorongan kepada peniten dalam terang keadaan tertentu kepada si peniten yang diharapkan dapat membawa perubahan yang berguna bagi hidupnya.

Sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id39.htm

✠ Instaurare Omnia in Christo ✠

Kamu masih ingat Quasimodo, teman Esmeralda dalam novel ”The Hunchback of Notre Dame” karangan Victor Hugo, yang di anta...
15/04/2026

Kamu masih ingat Quasimodo, teman Esmeralda dalam novel ”The Hunchback of Notre Dame” karangan Victor Hugo, yang di antaranya pernah difilmkan oleh Disney? Quasimodo adalah seorang penyandang disabilitas dengan punggung bungkuk yang hidup dan bersembunyi di menara lonceng Katedral Notre Dame Paris yang indah dan termasyhur. Oleh karena itu, dia dibuang oleh orang tuanya dan ditinggalkan di Katedral Notre Dame. Dia kemudian ditemukan dan dipungut oleh Diakon Agung Claude Frollo, yang memberinya nama Quasimodo, karena dia ditemukan pada hari Minggu Quasimodo, yaitu hari Minggu pertama setelah Paskah. Istilah Minggu Quasimodo diambil dari Introitus Misa hari Minggu pertama setelah Paskah yang berbunyi: “Quasi modo geniti infantes, alleluia: rationabiles, sine dolo lac concupiscite, alleluia, alleluia, alleluia.” Introitus tersebut diambil dari 1 Petrus 2:2, yaitu: “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, haleluya: yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, haleluya, haleluya, haleluya.”

Kamu masih ingat Quasimodo, teman Esmeralda dalam novel ”The Hunchback of Notre Dame” karangan Victor Hugo, yang di antaranya pernah difilmkan oleh Disney? Quasimodo adalah seorang penyandang disabilitas dengan punggung bungkuk yang hidup dan bersembunyi di menara lonceng Katedral Notre Dame Paris yang indah dan termasyhur. Oleh karena itu, dia dibuang oleh orang tuanya dan ditinggalkan di Katedral Notre Dame. Dia kemudian ditemukan dan dipungut oleh Diakon Agung Claude Frollo, yang memberinya nama Quasimodo, karena dia ditemukan pada hari Minggu Quasimodo, yaitu hari Minggu pertama setelah Paskah. Istilah Minggu Quasimodo diambil dari Introitus Misa hari Minggu pertama setelah Paskah yang berbunyi: “Quasi modo geniti infantes, alleluia: rationabiles, sine dolo lac concupiscite, alleluia, alleluia, alleluia.” Introitus tersebut diambil dari 1 Petrus 2:2, yaitu: “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, haleluya: yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, haleluya, haleluya, haleluya.”

Foto oleh: Kanon Reguler St. Yohanes Kantius

Minggu Pertama sesudah Paskah (Minggu Putih) 12 April 2026 Dominica in Albis
13/04/2026

Minggu Pertama sesudah Paskah (Minggu Putih)
12 April 2026
Dominica in Albis

Hari Raya PASKAH 5 April 2026 Dominica Ressurectionis
07/04/2026

Hari Raya PASKAH
5 April 2026
Dominica Ressurectionis

UPACARA PENCUCIAN ALTAR DI BASILIKA SANTO PETRUS PADA KAMIS PUTIH
02/04/2026

UPACARA PENCUCIAN ALTAR DI BASILIKA SANTO PETRUS PADA KAMIS PUTIH

UPACARA PENCUCIAN ALTAR DI BASILIKA SANTO PETRUS PADA KAMIS PUTIH

Secara tradisional pada hari Kamis Putih di Basilika St. Petrus, terdapat upacara yang membuat rasa ingin tahu, yaitu pembersihan (atau pencucian) altar kepausan dengan anggur dan air. Kardinal Wiseman, dalam ceramahnya tentang ibadat dan upacara Pekan Suci di kapel kepausan, menggambarkan upacara tersebut sebagai berikut:

“... hal lain dari praktik kuno, yang dahulu mungkin umum di setiap gereja, tetapi sekarang hampir tidak dilakukan lagi kecuali di Basilika St. Petrus. Di mana-mana altar resminya dilucuti pada Kamis Putih dan tetap seperti itu sampai hari Sabtu berikutnya.

Selama Tenebrae pada Kamis malam, masing-masing kanon dan fungsionaris lainnya dari Basilika St. Petrus, menerima sikat yang terbuat dari bulu-bulu, dan setelah ibadat, seluruh pejabat tinggi Gereja berjalan ke altar utama, di mana tujuh guci anggur dan air telah disiapkan. Anggur dan air lalu dituangkan ke atas altar, dan para kanon, setiap enam orang dalam satu kelompok, menggosok altar dengan sikat mereka, dan setelah itu altar dicuci dengan spons dan dikeringkan.

Santo Isidorus dari Sevilla, pada abad ketujuh, menyebutkan kebiasaan mencuci altar, dan bahkan lantai gereja pada hari ini, untuk memperingati tindakan kerendahan hati, yang dengannya Penebus kita mencuci kaki para murid-Nya dan St. Eligius mencatat, dalam istilah yang serupa, baik praktik dan tujuannya. Dalam Ordo Romawi, Abbas Rupert, dan para penulis lainnya, membicarakan upacara ini sebagai praktik yang lazim dilakukan dan banyak dokumen abad pertengahan menunjukkannya dilakukan di Siena, Benevento, Bologna, dan gereja-gereja lainnya. Pencucian altar juga dipraktikkan di Inggris; karena Misale Ritus Sarum menggambarkannya sebagai berikut: ‘Setelah makan malam, semua klerus berkumpul di gereja untuk mencuci altar. Pertama, air diberkati dari paduan suara dan secara pribadi. Kemudian dua imam yang paling dihormati bersiap bersama diakon, subdiakon, dan dua akolit, semuanya memakai alba dan amik, dan dua petugas membawa anggur dan air, dan mereka mulai dengan altar utama dan mencucinya, menuangkan anggur dan air di atasnya. Setelah doa-doa diucapkan selama satu menit dalam upacara itu, rubrik dilanjutkan: Setelah Injil dinyanyikan seperti pada Misa, kedua imam yang disebutkan di atas akan mencuci kaki semua orang yang berada di paduan suara, satu imam di setiap sisi, dan kemudian mereka saling melakukannya satu sama lain.’

Contoh-contoh ini sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana upacara Pekan Suci, sebagaimana dilakukan di Vatikan, telah melestarikan ritus yang sebelumnya sangat umum di gereja, tetapi hampir seluruhnya menghilang pada praktiknya, seandainya hal ini tidak dilakukan dengan kehati-hatian.”

C.M. Baggs dalam karyanya, Penjelasan Upacara Pekan Suci di Vatikan dan St. Yohanes Lateran, menjelaskan upacara itu lebih lanjut:

“Masih ada peninggalan upacara luar biasa lainnya yang biasa dilakukan di Basilika St. Petrus pada Kamis Putih. Setelah Ibadat Tenebrae, para pejabat tinggi Gereja melanjutkan prosesi dari kapel paduan suara ke altar utama. Stola hitam dipakai oleh enam kanon, dan lilin lebah padam berwarna kuning yang ujungnya meruncing dibawa para akolit, menjadi tanda berkabung atas penderitaan Kristus. Mereka semua membawa aspergilum lentur, dan setelah berdoa singkat dalam keheningan, mereka menyanyikan lagu, ‘Mereka membagi-bagi pakaian-Ku ....’ dan mazmur ‘Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ Kain halus yang menutupi altar, kemudian disingkirkan, dan kardinal-imam dari gereja dan keenam kanon menuangkan anggur ke atas altar, dan mencucinya dengan aspergilum atau sikat. Setelah para kanon dan para pejabat tinggi Gereja lainnya mendapat giliran mencuci dengan cara yang sama, kardinal dan enam kanon mulai mengeringkan altar dengan spons dan handuk; semua orang kemudian berlutut, dan upacara itu diakhiri dengan ayat ‘Kristus taat sampai mati ....’, Bapa Kami, dan doa untuk hari itu ‘Lihatlah, kami mohon kepada-Mu ....’ Para pejabat tinggi Gereja ini kemudian menghormati relik yang ditampilkan seperti biasanya dari galeri di atas patung St. Veronika.”

Untuk sedikit lebih detail lagi, kita beralih ke Upacara Pekan Suci di Kapel Kepausan di Vatikan, disarikan dari karya Francesco Cancellieri:

“Di Kapel Paduan Suara, upacara yang sama terjadi seperti di kapel kepausan dan dengan kekhidmatan yang sama. Ratapan dan Miserere dinyanyikan oleh paduan suara. Namun upacara yang paling luar biasa adalah pencucian altar.

Sementara Matin dan Laudes dinyanyikan paduan suara, sebuah meja disiapkan di dekat altar utama tempat diletakkan tujuh bejana kristal, dan satu dari tembaga bersepuh emas yang berisi anggur. Di satu sisi ada tujuh handuk, di sisi lainnya tujuh spons: ketika paduan suara menyanyikan «Benedictus» dari Ibadat Laudes, sikat kecil daun yew tetapi umumnya dari tanaman bloodwort, yang ditata dalam bentuk mahkota, dibagikan kepada para kanon.

Petugas sakristi mempersiapkan pluviale dan tujuh stola hitam untuk tujuh kanon senior, yang mempersiapkan altar utama, didahului oleh dua akolit yang membawa salib yang diselubungi kain hitam, dengan lilin-lilin padam, sebagai tanda berkabung. Pembawa salib dan akolit ditempatkan di sisi timur altar, seluruh pejabat tinggi gereja menyebar dalam lingkaran, ketika semuanya berlutut dan berdoa. Antifon Diviserunt sibi (Mereka membagi-bagi pakaian-Ku) diikuti oleh mazmur Deus, Deus meus.

Altar dibuka, dicuci dengan anggur dan kemudian dengan air oleh enam kanon pertama yang diikuti oleh pejabat tinggi Gereja lainnya. Ketika upacara ini berakhir, dibawa tujuh spons untuk membersihkan altar, dan tujuh handuk untuk mengeringkannya. Klerus mengulang Antifon Diviserunt sibi, Christus factus est, dan Pater noster diucapkan dengan nada rendah, doa Respice quaesumus Domine diucapkan. Semua kemudian berlutut menghormati tiga relik utama, yaitu salib, wajah suci, dan tombak, yang disimpan di galeri di atas patung St. Veronika.”

Diterjemahkan oleh Nicholas Adityas dari: https://www.liturgicalartsjournal.com/2019/04/the-ceremony-of-washing-of-papal-altar.html

Paus Yohanes XXIII menghadiri upacara Minggu Palma di Basilika St. Petrus, diikuti oleh prosesi khidmat di mana beliau d...
29/03/2026

Paus Yohanes XXIII menghadiri upacara Minggu Palma di Basilika St. Petrus, diikuti oleh prosesi khidmat di mana beliau diusung di atas sedia gestatoria.

Paus Yohanes XXIII menghadiri upacara Minggu Palma di Basilika St. Petrus, diikuti oleh prosesi khidmat di mana beliau diusung di atas sedia gestatoria.

*

Pope John XXIII attended the Palm Sunday ceremony at St. Peter’s Basilica, followed by a solemn procession during which he was carried on the sedia gestatoria.

“Dalam liturgi kuno Minggu Palma, imam yang tiba di depan gereja akan mengetuk keras dengan tangkai salib prosesi pada p...
29/03/2026

“Dalam liturgi kuno Minggu Palma, imam yang tiba di depan gereja akan mengetuk keras dengan tangkai salib prosesi pada pintu yang masih tertutup; setelah itu pintu pun dibuka. Ini adalah penggambaran yang indah dari misteri Yesus Kristus itu sendiri, yang dengan kayu salib-Nya, dengan kuasa kasih-Nya yang diberikan, mengetuk dari sisi dunia pada pintu Allah; pada sisi dunia yang tak dapat menemukan akses kepada Allah. Dengan salib-Nya, Yesus membuka pintu Allah, pintu yang menghubungkan manusia dengan Allah. Sekarang pintu itu telah terbuka.” — Paus Benediktus XVI

“Dalam liturgi kuno Minggu Palma, imam yang tiba di depan gereja akan mengetuk keras dengan tangkai salib prosesi pada pintu yang masih tertutup; setelah itu pintu pun dibuka. Ini adalah penggambaran yang indah dari misteri Yesus Kristus itu sendiri, yang dengan kayu salib-Nya, dengan kuasa kasih-Nya yang diberikan, mengetuk dari sisi dunia pada pintu Allah; pada sisi dunia yang tak dapat menemukan akses kepada Allah. Dengan salib-Nya, Yesus membuka pintu Allah, pintu yang menghubungkan manusia dengan Allah. Sekarang pintu itu telah terbuka.” — Paus Benediktus XVI

*

“In the old liturgy for Palm Sunday, the priest, arriving in front of the church, would knock loudly with the shaft of the processional cross on the door that was still closed; thereupon, it would be opened. This was a beautiful image of the mystery of Jesus Christ Himself who, with the wood of His cross, with the power of His love that is given, knocked from the side of the world at God’s door; on the side of a world that was not able to find access to God. With His cross, Jesus opened God’s door, the door between God and men. Now it is open.” — Pope Benedict XVI

MENGAPA SALIB DITUTUP KAIN UNGU?Masa Sengsara Yesus:Masa Sengsara Yesus dimulai pada Minggu Prapaskah ke-5, yang dikenal...
29/03/2026

MENGAPA SALIB DITUTUP KAIN UNGU?

Masa Sengsara Yesus:

Masa Sengsara Yesus dimulai pada Minggu Prapaskah ke-5, yang dikenal sebagai Minggu Sengsara, dan dari hari itu sampai Paskah, Gereja masuk lebih dalam lagi ke dalam kisah sengsara Tuhan Yesus dan membawa sengsara-Nya lebih dan lebih dalam lagi ke hadapan umat-Nya. Liturgi mengesampingkan semua lambang sukacita dan menampilkan dalam kata dan perbuatan, kesedihan dan penitensi yang harus mengisi setiap jiwa orang Kristen pada saat merenungkan peristiwa-peristiwa akhir dalam kehidupan Penyelamat kita di dunia ini.

Sebelum Vesper pada hari Sabtu sebelum Minggu Sengsara, crucifix [salib Tuhan Yesus], patung-patung, dan gambar-gambar di altar dan di sekitar gereja ditutup dengan kain ungu polos, kecuali gambar-gambar Jalan Salib. Salib Tuhan Yesus ditutupi kain ungu sampai hari Jumat Agung, sedangkan patung-patung dan gambar-gambar lainnya tetap ditutup sampai pada saat kidung Gloria [Kemuliaan] pada Sabtu Suci. Patung-patung dan gambar-gambar para malaikat dan orang-orang kudus ditutup, untuk menunjukkan bahwa Gereja membungkus dirinya sendiri dan berkabung saat Tuhannya sedang mempersiapkan diri untuk mengalami kesengsaraan dan kematian untuk menebus dunia. Dengan semua tanda-tanda lahiriah dan upacara Masa Sengsara, umat beriman diingatkan bagaimana Tuhan dalam keilahian-Nya di sepanjang masa sengsara-Nya, dan dengan penglihatan dan pendengaran, para pendosa diingatkan agar bertobat dan menarik diri semakin jauh dari kesenangan-kesenangan duniawi, dengan mendevosikan diri semakin dalam kepada doa-doa Prapaskah dan merenungkan kisah sengsara Kristus yang telah wafat demi kasih-Nya kepada mereka.

Diterjemahkan dari “Saint Joseph Catholic Manual” (hak cipta tahun 1956).

Deo gratias.https://www.facebook.com/share/p/1Hf1chaDAe/
25/03/2026

Deo gratias.

https://www.facebook.com/share/p/1Hf1chaDAe/

The Catholic Church in South Korea has emerged as one of the most striking growth stories in modern Christianity, growing from about 500,000 faithful in the 1960s to nearly 6 million today–a growth of 1,200%. This extraordinary rise now places Catholics at roughly 11% of the national pop**ation. Church data cited by Vatican News showed that the Catholic pop**ation reached 5.8 million in 2018, up 48.6% from 3.9 million in 1999 alone. What was once a small and often overlooked community has become one of Asia’s most vibrant Catholic Churches, shaped by the witness of Korea’s martyrs, strengthened by strong parish life, and sustained by generations of priests, religious, and lay faithful. Its growth unfolded alongside South Korea’s rapid modernization, political upheaval, and economic transformation, giving the Church a visible moral and spiritual presence in national life. The story is not only about numbers. The Church in South Korea has also gained growing importance in the life of the universal Church. Seoul is set to host World Youth Day 2027, after Pope Francis announced in Lisbon on Aug. 6, 2023, that the next global gathering of Catholic youth would take place in the South Korean capital. The official WYD Seoul 2027 site says the event will mark a major moment for the Church in Asia. Still, the rise has not come without challenges. Vatican News reported that annual Catholic growth in South Korea has slowed to below 1%, even as the Church remains a powerful witness in a society where many claim no religious affiliation. From a flock of half a million to a national force, the Church in South Korea stands as a vivid testament to endurance, missionary zeal, and the enduring power of the Gospel.

Discover God’s goodness every day- join Shalom World News! 👉 shalomworld.org/news-whatsapp

Follow Us Shalom World News

Address

East Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Missa Latina posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Missa Latina:

Share