Pdt Nekson M Simanjuntak

Pdt Nekson M Simanjuntak Renungan Harian Sumber Kehidupan: memberikan kekuatan, inspirasi dan motivasi/spirit bagi pembaca.

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPANKekuatan, Inspirasi dan MotivasiSenin, 7 September 2026ALLAH: ALFA DAN OMEGA Selamat Pagi! ...
06/09/2026

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN
Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi
Senin, 7 September 2026

ALLAH: ALFA DAN OMEGA

Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

Wahyu 21:6 (TB) Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

Revelation 21:6 (UKJV) And he said unto me, It is done. I am Alpha and Omega, the beginning and the end. I will give unto him that is thirsty of the fountain of the water of life freely.

Hal yang harus kita sadari dalam hidup ini adalah segala sesuatu dalam hidup ini diawali dan diakhiri oleh Tuhan. Tuhan tahu latar belakang kita dan Tuhan sendiri tekah merancang masa depan kita. Karena Allah sendirilah Alfa dan Omega. Dengan pemahaman ini Alkitab hendak mengajarkan manusia menjalani hidup ini dengan setia kepada Tuhan. Hal akan apa yang terjadi ke depan semuanya diserahkan kepada Tuhan.

Sahabat yang baik hati, alfa dan omega merupan huruf dalam bahasa yunani, huruf alfa (α) adalah huruf pertama dan huruf omega (ω) adalah huruf terakhir dari alfabetikal huruf-huruf Yunani. Dan di dalam Alkitab Tuhan Yesus menyebut diri-Nya dalam penglihatan Yohanes sebagai Alfa dan Omega, yakni suatu pribadi yang ada, sudah ada, dan akan datang. Sebagai yang awal, Dia adalah pencipta segala sesuatu, seluruh alam dan semua isinya. Injil Yohanes menjelaskan status Yesus sebagai Yang Awal. “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:2-3). Sebagai Yang Akhir, Dia akan mengakhiri dunia yang rusak karena dosa, dan mendatangkan langit baru dan bumi baru. Dalam penglihatannya Yohanes melihat langit dan bumi yang baru turun dari langit, lalu mendengar suara yang berkata bahwa “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir” seperti nas hari ini. Kita tahu bahwa dari awal penciptaan oleh Allah sampai Allah memberikan anakNya yang tunggal untuk menebus dosadosa manusia. Maka dari perjalanan tersebut juga kita boleh melihat bahwa sebelum dunia diciptakan juga Allah telah ada (awal)hingga pada akhirnya nanti seperti yang Allah katakan bahwa kita akan sampai kerumah bapa yang kekal atau kehidupan yang kekal (ahir).

Sahabatku ada kalimat mengatakan "setiap orang ada waktunya, dan setiap waktu ada orangnya". Dari kalimat tersebut kita dapat memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bisa saja kita memiliki jabatan, kuasa dan harta yang berlimpah, tapi seiring dengan waktu semua yang kita miliki itu ada batasnya, ada kalanya kita meninggalkan segalanya atau bahkan kita yang ditinggalkan. Tetapi walau terbatas kita juga harus mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Kita tidak bisa berpangku tangan. Sebab kita juga harus mengerjakan bagian kita untuk mewujudkan apa yang Tuhan telah wahyukan. Walaupun terkadang sulit dalam kehidupan kita untuk melakukan apa yang Tuhan fimankan, tetapi coba kita renungkan kembali bagaimana kita merasakan penyertaan Tuhan pada hari yang lalu ketika kita mengalami sakit, tekanan, pergumulan, dan hal lainnya, begitu jugalah Allah akan menyertai hidup kita pada hari esok dan seterusnya. Nas hari ini mengingatkan dan menguatkan kita Allah yang adalah alfa dan omega, awal dan akhir, yang telah memberikan kehidupan kepada setiap yang diciptakanNya, dan akan memberkati semuaNya hingga pada akhirNya.

Sahabatku, apakah yang membuat kita kuatir akan hidup kita ini? Apakah tentang makanan, minuman, pakaian, rumah, ataukah keingiman-keinginan kita yang belum tercapai? Percayalah selagi kita mau bekerja memakai waktu dan tenaga kita, hidup dalam Firman Allah, semua itu akan tercapai sesuai dengan kehendak Allah. Bahkan pada hari ini Allah berfiman " Orang Yang Haus Akan Kuberi Minum Secara Cumacuma.".

Sahabatku, Tuhanmemberkati saudara dengan memberikan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amen (BP)

Saya ingin memberikan apresiasi besar kepada pengirim Stars teratas saya. Terima kasih atas semua dukungannya!Berriaman ...
06/09/2026

Saya ingin memberikan apresiasi besar kepada pengirim Stars teratas saya. Terima kasih atas semua dukungannya!

Berriaman Saragih Garingging

Teerima kasih atas supportnya

BERITA DUKA:Telah Meninggal Dunia C.Pdt. Gabriella Lbn Gaol!Menurut catatan dari Wall Kadep Pdt Dr Deonal Sinaga saya ku...
06/09/2026

BERITA DUKA:

Telah Meninggal Dunia C.Pdt. Gabriella Lbn Gaol!

Menurut catatan dari Wall Kadep Pdt Dr Deonal Sinaga saya kutip:
Sangat sedih mendengar Berita duka meninggalnya hamba Tuhan yg sudah lulus ujian penerimaan calon Pendeta HKBP Gabriella Lbn. Gaol asal Cilegon.

Minggu siang tadi, 6 September 2026 dia mengendarai sepeda motor dalam perjalanan dari Cilegon menuju Serang untuk memberitakan Firman Tuhan. Dalam perjalanan, dia mengalami kecelakaan maut. Tidak lama kemudian, dia menghembuskan nafas terakhir.

C.Pdt. Gabriella meninggal dunia, ketika menunaikan panggilan untuk memberitakan Injil.
Kita doakan keluarga yg paling berduka, khususnya ibunda - inang St. M. Br. Pangaribuan yg sudah lama berharap putrinya menjadi seorang pendeta!

Turut berduka yang mendalam atasnama selurub Pelayanan Full Timer HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy
Pdt Nekson M Simanjuntak

06/09/2026

Satu koor tadi di HKBP Kapuk: Sungguh Alangkah Baik" lagi yang bagus dan merdu. Kualitas vocalnya juga lumayan. Simak ya

HKBP Kapuk, Minggu, 6 Sepember 2026Terima kasih atas pelayanan Pdt Philip Nainggolan
06/09/2026

HKBP Kapuk, Minggu, 6 Sepember 2026
Terima kasih atas pelayanan Pdt Philip Nainggolan

Selamat Hari Minggu! AI ini memberikan imajinasi, saya kirim photo buatkan sapaan selamat hari Minggu drngan topik menga...
05/09/2026

Selamat Hari Minggu! AI ini memberikan imajinasi, saya kirim photo buatkan sapaan selamat hari Minggu drngan topik mengasihi Allah melalui tindakan nyata. Hasilnya dikirim seperti ini.
Selamat hari Minggu
(Ilustrasi ini hasil gambar AI)

Catatan Kotbah Minggu XIV S.TrinitatisMinggu, 6 September 2026Ev. Lukas 10:27-35MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMASela...
05/09/2026

Catatan Kotbah Minggu XIV S.Trinitatis
Minggu, 6 September 2026
Ev. Lukas 10:27-35

MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA

Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah tentang Orang Samaria yang baik hati merupakan salah satu pengajaran Yesus yang membuka mata setiap tokoh agama dan rohaniawan tentang essensi ajaean agama itu sendiri. Ajaran agama bukanlah sesesuatu tataran teoritis idealis, dogmatis dan bukan pada rumusan kalimat yang bagus tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah namanya iman yang praxis.

Ada orang yang menilai keagamaan dari tataran teoritis, bergulat dalam doktrin-doktrin tentang ajaran kebenaran, dampak dari perbededaan doktrin kemudian menghantarkan perpecahan dan klaim kebenaran dan menganggap lain sesat (mebidaatkan atau mengharamkan) ajaran lain. Pandangan seperti itu lama juga terjadi di dalam ajaran agama-agama hingga masa kini termasuk di dalam kekristenan. Apa yang diajarkan oleh Yesus menyadarkan kita bahwa inti pokok dari ajaran keagamaan adalah praksis hidup orang benar, yang mengasihi Allah tampak pada praktek hidup yang mengasihi sesama. Benar apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes.
1 Yohanes 4:20-21 (TB) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Baiklah kita dalami kotbah Minggu ini, setidaknya ada 3 hal yang dapat kita perdalam sebagai pelajaran penting dalam praksis hidup orang percaya yang mengasihi Allah dkbuktikan lewat tindakan kemanusiaan.

1. Tahu Perintah, Tapi Tidak Melakukan: Menguji Yesus di Balik Kesucian Formalis

Pertama Yesus mengkritik agama Yahudi yang formalis dan legalistik, agama yang menuruti persturan keagamaan sebagai landasan iman.

“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ’Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’” (Lukas 10:25)

Perikop ini dibuka dengan pemandangan yang sangat khas dalam masyarakat Yahudi abad pertama. Seorang ahli Taurat (Nomikos)—seorang sarjana hukum agama yang dihormati dan menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari, menyalin, serta menafsirkan Hukum Musa—datang mendekati Yesus. Namun, pendekatannya tidak lahir dari kerendahan hati atau kerinduan akan kebenaran, melainkan untuk mencobai (ekpeirazon). Ia ingin menguji apakah Guru dari Nazaret ini memiliki teologi yang lurus sesuai standar ketat keagamaan Yahudi.

Ketika Yesus bertanya balik tentang apa yang tertulis dalam hukum Taurat, sang ahli Taurat dengan sangat lancar dan tanpa ragu mengutip pengakuan iman utama Yahudi, yaitu Shema (Ulangan 6:5) dan aturan kasih (Imamat 19:18): mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Secara intelektual dan doktrin, jawabannya sempurna, nilai sepuluh. Bangsa Yahudi pada masa itu sangat bangga akan kepemilikan Hukum Taurat; mereka merasa sebagai bangsa pilihan yang dijamin selamat hanya karena memegang teologi yang benar dan menjalankan ritus keagamaan secara formal.

Namun, di sinilah Yesus menyingkapkan kerapuhan sikap keagamaan tersebut. Yesus menjawab: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (Ayat 28). Kata "perbuatlah" (poiei) menggarisbawahi jarak yang lebar antara pengetahuan di kepala dan praktik dalam kehidupan. Sikap formalisme Yahudi saat itu sering kali terjebak pada kesucian lahiriah, wacana teologis, dan hafalan ayat, tetapi kering dari ketaatan yang nyata.
Melalui teguran halus ini, Yesus membongkar ilusi sang ahli Taurat: hidup kekal dan hubungan yang sejati dengan Allah tidak pernah dijamin oleh seberapa banyak doktrin yang kita kuasai atau seberapa sering kita membicarakan Firman, melainkan apakah Firman itu dihidupi dan dinyatakan dalam tindakan mengasihi setiap hari.

Dalam ayat berikutnya dia menerima pesan Yesus tetapi hendak.membela diri dengan bertanya siapa sesamaku manusia? Agama bukanlah hanya nalar dan isi ayat hapalan tegapi tinggal bersama dengan sesamanya.

2. Mengasihi Sesama Tanpa Mengenal Batas: Membongkar Tembok Prasangka

“Tetapi orang itu ingin membenarkan dirinya, lalu berkata kepada Yesus: ’Dan siapakah sesamaku manusia?’” (Lukas 10:29)

Menyadari bahwa ketaatannya sedang diuji, sang ahli Taurat berusaha "membenarkan dirinya" dengan mengajukan pertanyaan teologis yang sangat populer di kalangan rabi Yahudi saat itu: "Siapakah sesamaku manusia?" Dalam tradisi dan pandangan keagamaan Yahudi abad pertama, kata "sesama" (rea') memiliki batasan yang sangat sempit dan eksklusif. Bagi mereka, sesama hanyalah sesama anggota bangsa Yahudi, penganut agama yang sama, atau rekan satu kelompok. Orang di luar Yahudi, terlebih bangsa Samaria, dianggap najis, kafir, bahkan musuh yang layak dibenci.

Guna menjawab batasan sempit tersebut, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang korban perampokan yang terkapar setengah mati di jalan berbahaya antara Yerusalem dan Yerikho. Dua tokoh agama Yahudi yang sangat dihormati lewat di sana: seorang Imam dan seorang Lewi. Keduanya melihat korban tersebut, namun memilih untuk melintas dari samping dan menjauh. Mengapa? Bagi mereka, menyentuh orang yang tampak hampir mati berisiko melanggar hukum kesucian ritual (Imamat 21:1). Jika orang itu ternyata sudah mati, mereka akan menjadi najis dan kehilangan hak menjalankan tugas keagamaan di Bait Allah. Mereka lebih memilih menjaga tembok kesucian formalis dan kenyamanan diri daripada menyelamatkan nyawa manusia.

Lalu Yesus menghadirkan figur yang amat mengejutkan: seorang Samaria. Secara sejarah, bangsa Yahudi dan Samaria terlibat permusuhan turun-temurun yang sangat tajam—keduanya saling menghina dan tidak saling menyapa. Namun, orang Samaria yang "dianggap musuh" inilah yang justru berhenti, mengobati luka korban, membawanya ke penginapan, dan membiayai seluruh perawatannya.

Melalui perumpamaan ini, Yesus merubuhkan seluruh tembok pembatas yang dibangun oleh tradisi manusia. Kasih Kristiani tidak boleh dikotakkan oleh garis suku, ras, status sosial, agama, atau prasangka pribadi. Yesus memutarbalikkan pertanyaan sang ahli Taurat: bukan lagi sibuk mencari siapa yang layak menjadi sesama kita, melainkan bagaimana kita sendiri hadir menjadi sesama bagi siapa saja yang sedang membutuhkan pertolongan di hadapan kita.

Tokoh yang dianggap paling agamawan, dekat dengan Tuhan dan yang dipuji da dihormstinkarena ketaatannya kepada agam justru tidak menunjukkan belaskasihan yang seharusnya dilakukan. Tetapi dengan Tokoh orang Samaria, yang dinilai hina, dan tak layak berjumpa dengan Yahudi menunjukkan nilai kemanusiaan.

3. Menunjukkan Belas Kasihan yang Nyata:

Kasih yang Berkorban dan Berdampak
“Lalu datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” (Lukas 10:33)

Puncak dari perumpamaan ini terletak pada respons batin dan tindakan nyata orang Samaria tersebut. Ketika melihat korban perampokan yang tergeletak tak berdaya, Alkitab mencatat bahwa “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah σπλαγχνίζομαι (Splagchnizomai). Ini adalah istilah yang sangat kuat, menggambarkan belas kasihan yang begitu mendalam hingga meremas bagian dalam perut (bowels of compassion). Ini bukan sekadar rasa iba yang pasif, sentimentalitas di bibir, atau simpati dari kejauhan, melainkan dorongan batin yang mewajibkan lahirnya tindakan konkret.

Orang Samaria ini melangkah jauh melampaui rasa kasihan biasa. Belas kasihan yang sejati selalu menuntut harga dan pengorbanan:

a. Pengorbanan Sumber Daya: Ia menyiramkan minyak dan anggur—pertolongan medis yang mahal pada zaman itu—untuk membersihkan dan membalut luka-luka korban.

b. Pengorbanan Kenyamanan & Waktu: Ia menaikkan orang terluka itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki menempuh sisa perjalanan yang berbahaya, lalu merawatnya sepanjang malam di penginapan.

c. Pengorbanan Finansial: Ia mengeluarkan dua dinar (setara dengan upah kerja dua hari) dan memberikan jaminan terbuka kepada pemilik penginapan untuk menanggung seluruh biaya perawatan tambahan sampai orang itu sembuh.

Di akhir cerita, Yesus bertanya kepada ahli Taurat tentang siapa di antara ketiga orang itu yang telah menjadi "sesama" bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun. Dengan enggan, ahli Taurat itu menjawab: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Yesus lalu memberikan perintah yang memungkas seluruh diskusi: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Poreuou kai sy poiei homoios).
Iman yang sejati tidak diukur dari seberapa suci ritus yang kita jalani atau seberapa tinggi wacana kasih yang kita gaungkan, melainkan dari keberanian kita untuk melangkah turun, terlibat dalam rasa sakit sesama, dan mempraktikkan belas kasihan Kristus yang nyata di tengah dunia yang terluka.

Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini meminta kesungguhan hati kita sebagai ornag yang menerima keselamatan. klKita telah dibenarkan dan telah diselamatkan pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menghiduo kasih Allah itu dalam praktek kehiduoan sehari-hari.

Dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati:

1: Melepaskan formalisme agama—iman bukan sekadar hafalan Taurat di kepala, melainkan ketaatan yang dihidupi.

2: Merubuhkan tembok prasangka—kasih tidak dibatasi oleh suku, ras, atau status, melainkan hadir bagi siapa saja yang membutuhkan.

3: Menghidupi belas kasihan yang nyata (Splagchnizomai)—kasih yang mau berkorban waktu, tenaga, dan harta demi memulihkan sesama. Amin

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUPKekuatan, Inspirasi dan MotivasiSabtu, 05 September  2026KEMBALI KEPADA TUHAN DENGAN MENGANDALK...
04/09/2026

FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP
Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi
Sabtu, 05 September 2026

KEMBALI KEPADA TUHAN DENGAN MENGANDALKAN KASIHNYA

Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

Hosea (TB) (14-3) Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami

Hosea 14:2 (UKJV) Take with you words, and turn to the LORD: say unto him, Take away all iniquity, and receive us graciously: so will we render the calves of our lips

Sahabat yang baik hati, Hosea 14:3 mengingatkan umat Israel untuk kembali kepada Tuhan dan meninggalkan segala bentuk pengandalan diri yang salah. Mereka diajak untuk mengakui bahwa keselamatan dan pertolongan sejati tidak berasal dari kekuatan manusia, tetapi dari Allah. Pertobatan bukan sekadar penyesalan di dalam hati, melainkan keberanian untuk kembali menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

Nabi Hosea menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel yang telah jauh dari Allah. Mereka mengalami kemerosotan rohani karena menyembah berhala dan mengandalkan kekuatan politik serta bangsa-bangsa lain. Dalam keadaan seperti itu, Tuhan tetap membuka jalan bagi mereka untuk kembali. Ini menunjukkan bahwa teguran Tuhan tidak bertujuan menghancurkan, tetapi memanggil umat-Nya kepada pemulihan.

Kalimat “Bertobatlah dan bawalah perkataan penyesalan” menunjukkan bahwa pertobatan harus dimulai dari pengakuan yang jujur. Seseorang tidak dapat mengalami pemulihan jika terus-menerus menutupi kesalahannya. Di hadapan Tuhan, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang sempurna. Tuhan menghendaki hati yang mau mengakui dosa dan kembali kepada-Nya.

Israel memiliki masalah besar karena mereka sering mengandalkan “Assyur” atau kekuatan politik daripada Tuhan. Mereka berpikir bahwa keamanan hidup dapat diperoleh melalui hubungan dengan bangsa lain. Namun, Hosea mengingatkan bahwa manusia dapat memberikan pertolongan yang terbatas, sedangkan Tuhan adalah sumber pertolongan yang sejati.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita mungkin tidak menyembah patung atau berhala secara langsung, tetapi kita dapat memiliki “berhala modern”. Jabatan, uang, pendidikan, pekerjaan, pop**aritas, relasi, teknologi, bahkan kemampuan diri sendiri dapat menjadi sesuatu yang lebih kita andalkan daripada Tuhan. Ketika sesuatu yang baik ditempatkan menggantikan Tuhan, sesuatu itu dapat berubah menjadi berhala.
Hosea 14:3 juga berbicara tentang perkataan yang keluar dari mulut kita. Umat diminta membawa perkataan kepada Tuhan. Artinya, pertobatan membutuhkan pengakuan yang sungguh-sungguh. Kita perlu berani berkata, “Tuhan, selama ini saya terlalu mengandalkan diri sendiri. Saya telah menjauh dari-Mu. Ampunilah saya dan tuntunlah kembali hidup saya.”

Pertobatan bukan tanda kelemahan. Justru mengakui kesalahan membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Dunia sering mengajarkan kita untuk mempertahankan harga diri dengan tidak mau mengakui kesalahan. Tetapi di hadapan Tuhan, kerendahan hati adalah jalan menuju pemulihan.
Tuhan tidak meminta kita membawa persembahan yang luar biasa sebagai pengganti pertobatan. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Ritual keagamaan tidak akan berarti jika kehidupan kita tetap jauh dari kehendak Tuhan. Ibadah yang benar harus menghasilkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pertobatan tidak berhenti pada kata-kata. Pertobatan harus terlihat dalam tindakan. Jika sebelumnya kita s**a berbohong, maka kita belajar hidup dalam kejujuran. Jika sebelumnya kita mudah membenci, kita belajar mengampuni. Jika sebelumnya kita hidup egois, kita belajar memperhatikan sesama. Pertobatan menghasilkan kehidupan yang semakin sesuai dengan kehendak Allah.

Relevansi firman ini sangat kuat bagi kehidupan manusia saat ini. Kita hidup dalam zaman yang penuh persaingan. Banyak orang merasa bahwa mereka harus kuat, mandiri, sukses, dan mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Kemandirian memang penting, tetapi manusia tidak boleh sampai berpikir bahwa dirinya tidak membutuhkan Tuhan.

Dalam kehidupan pekerjaan, misalnya, seseorang dapat bekerja keras mengejar keberhasilan. Ia berusaha mendapatkan jabatan, penghasilan yang baik, dan kehidupan yang nyaman. Semua itu tidak salah. Namun, masalah muncul ketika keberhasilan membuat seseorang melupakan Tuhan. Hosea mengingatkan bahwa jangan sampai berkat yang kita terima justru membuat kita menjauh dari Sang Pemberi berkat.

Demikian p**a dalam menghadapi masa depan. Banyak orang merasa cemas tentang pekerjaan, pasangan hidup, pendidikan, ekonomi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kekhawatiran tersebut manusiawi. Namun, kita dipanggil untuk membawa semua pergumulan itu kepada Tuhan. Kita bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menyadari bahwa masa depan berada dalam tangan Tuhan.

Oleh sebab itu, pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah: “Kepada siapa saya sebenarnya bersandar?” Apakah kita lebih percaya kepada uang, jabatan, kemampuan, relasi, atau kekuatan sendiri? Ataukah kita sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai dasar kehidupan? Hosea 14:3 mengajak kita untuk memeriksa kembali arah hidup dan berani kembali kepada Tuhan.

Sahabat yang baik hati Pada akhirnya, Hosea 14:3 adalah panggilan kepada pertobatan dan pembaruan hidup. Tuhan tidak hanya ingin kita datang kepada-Nya ketika berada dalam kesulitan, tetapi menghendaki agar kita hidup dalam ketergantungan kepada-Nya setiap hari. Mari kembali kepada Tuhan, mengakui kesalahan kita, meninggalkan pengandalan yang salah, dan mempercayakan hidup kepada-Nya. Di tengah dunia yang terus berubah, Tuhan tetap menjadi tempat kita berharap. Ketika manusia dan segala sesuatu di dunia ini memiliki keterbatasan, kasih dan kesetiaan Tuhan tetap menjadi dasar pengharapan kita. Amin (BDS)

04/09/2026

Konflik Keluarga Abraham; Sarai dan Hagar
Ijin share cuplikan kotbah 1 Musa 21:8-21
Saya perhatikan disininasa sesuatu yang mensrik. Sarai yang "kurang" memegang teguh Janji Allah pada akhir nya meminta Abraham mengambil Hagar menjadi isterinya. Menurut catatan Alkitab pelanggaran ini mendatangkan luka dan air mata bagi Sarai, simak vido berikut.

04/09/2026

Konflik Keluarga Abraham; Sarai dan Hagar
Ijin share cuplikan kotbah 1 Musa 21:8-21
Saya perhatikan disininasa sesuatu yang mensrik. Sarai yang "kurang" memegang teguh Janji Allah pada akhirnya meminta Abraham mengambil Hagar menjadi isterinya. Menurut catatan Alkitab pelanggaran ini mendatangkan luka dan air mata bagi Sarai, simak vido berikut. Bagian 3

Address

Jalan Cikajang 1 No 4, Antapani Bandung
Depok
40291

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pdt Nekson M Simanjuntak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Pdt Nekson M Simanjuntak:

Shortcuts

Share