04/10/2026
Tiga Penokohan Kehidupan
Bagian 2
Lalu apa itu kegaiban? Banyak yang memaknai kegaiban adalah hal-hal yang tidak tampak tapi ada, merujuk pada Tuhan, malaikat, setan, surga, neraka, apapun yang dipaparkan dalam Al-Quran. Pemaknaan itu tidak berarti salah tapi sebetulnya makna gaib di ayat 3 surat Al-Baqarah ini lebih umum. Merujuk pada semua hal yang tidak tampak tapi ada termasuk bakteri, virus, atom dan gaya-gaya fisika.
Mengapa memaknai kegaiban secara umum itu penting? Agar kita sebagai manusia memahami bahwa sikap mengimani kegaiban itu bukan berlaku khusus pada apa yang disebutkan dalam Al-Quran saja tapi berlaku umum dalam kehidupan. Mereka yang bertakwa adalah mereka yang percaya ada banyak hal di luar yang mereka ketahui dan bisa mereka lihat dan amati, eksis walaupun mereka belum mengetahuinya. Siapa yang bisa bersikap seperti itu?
Mereka yang bisa mengimani kegaiban adalah mereka yang menyadari ilmu mereka itu terbatas, sehingga mereka mau merendahkan diri dengan mengakui masih banyak hal yang eksis di dunia ini walaupun mereka belum mengetahuinya. Iya, mereka yang beriman dengan kegaiban adalah mereka yang rendah hati dan memiliki kesadaran atas pengetahuan mereka dan kesadaran atas batas pengetahuan mereka.
Maka ketakwaan bukan dimulai dari mengimani hal yang diketahui tapi justru dimulai dari mengimani hal yang tidak diketahui, kegaiban. Betapa luar biasa bukan pondasi utama ketakwaan yang disebutkan di ayat 3 surat Al-Baqarah ? Di dunia yang materialiis ini, tidak banyak orang yang mengimani kegaiban. Semua orang selalu menuntut bukti nyata, bukti yang bisa dilihat. Ternyata gerbang ketakwaan hanya bisa dibuka oleh mereka yang rendah hati.