AlQuraan Visual

AlQuraan Visual Ayo bersama-sama belajar memahami Al-Quran dengan runut dan detil.

Tiga Penokohan Kehidupan Bagian 2Lalu apa itu kegaiban? Banyak yang memaknai kegaiban adalah hal-hal yang tidak tampak t...
04/10/2026

Tiga Penokohan Kehidupan
Bagian 2

Lalu apa itu kegaiban? Banyak yang memaknai kegaiban adalah hal-hal yang tidak tampak tapi ada, merujuk pada Tuhan, malaikat, setan, surga, neraka, apapun yang dipaparkan dalam Al-Quran. Pemaknaan itu tidak berarti salah tapi sebetulnya makna gaib di ayat 3 surat Al-Baqarah ini lebih umum. Merujuk pada semua hal yang tidak tampak tapi ada termasuk bakteri, virus, atom dan gaya-gaya fisika.

Mengapa memaknai kegaiban secara umum itu penting? Agar kita sebagai manusia memahami bahwa sikap mengimani kegaiban itu bukan berlaku khusus pada apa yang disebutkan dalam Al-Quran saja tapi berlaku umum dalam kehidupan. Mereka yang bertakwa adalah mereka yang percaya ada banyak hal di luar yang mereka ketahui dan bisa mereka lihat dan amati, eksis walaupun mereka belum mengetahuinya. Siapa yang bisa bersikap seperti itu?

Mereka yang bisa mengimani kegaiban adalah mereka yang menyadari ilmu mereka itu terbatas, sehingga mereka mau merendahkan diri dengan mengakui masih banyak hal yang eksis di dunia ini walaupun mereka belum mengetahuinya. Iya, mereka yang beriman dengan kegaiban adalah mereka yang rendah hati dan memiliki kesadaran atas pengetahuan mereka dan kesadaran atas batas pengetahuan mereka.

Maka ketakwaan bukan dimulai dari mengimani hal yang diketahui tapi justru dimulai dari mengimani hal yang tidak diketahui, kegaiban. Betapa luar biasa bukan pondasi utama ketakwaan yang disebutkan di ayat 3 surat Al-Baqarah ? Di dunia yang materialiis ini, tidak banyak orang yang mengimani kegaiban. Semua orang selalu menuntut bukti nyata, bukti yang bisa dilihat. Ternyata gerbang ketakwaan hanya bisa dibuka oleh mereka yang rendah hati.

Tiga Penokohan KehidupanBagian 1Jadi, ada berapa jenis penokohan dalam kehidupan? Kita lanjutkan pembahasan tentang  . I...
02/10/2026

Tiga Penokohan Kehidupan
Bagian 1

Jadi, ada berapa jenis penokohan dalam kehidupan? Kita lanjutkan pembahasan tentang . Iya, ada tiga jenis yang dalam istilah manusia diklasifikasikan menjadi mereka yang diberi nikmat atasnya, mereka yang dimurkai atasnya dan yang tersesat. Sedangkan dalam istilah Tuhan اللّٰه, diklasifikasikan menjadi takwa, kafir dan fasik.

Banyak hal menarik yang bisa dibahas tentang . Mari kita mulai dengan orang bertakwa atau muttaqiin. Pada ayat 2 surat Al-Baqarah, اللّٰه mengaitkan antara Al-Quran dengan ketakwaan. Banyak yang mengartikan ayat ini ‘Itulah petunjuk, tidak ada keraguan di dalamnya, bagi orang-orang bertakwa”. Seakan-akan Al-Quran adalah petunjuk hanya bagi orang yang bertakwa. Padahal kita tahu, Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia.

Terjemahan yang lebih tepat untuk ayat 2 surat Al-Baqarah adalah ‘Itulah petunjuk, tidak ada keraguan di dalamnya, agar menjadi orang-orang bertakwa”. Semua manusia harus menggunakan Al-Quran jika ingin menjadi orang yang bertakwa. Kata ‘takwa’ sendiri baru muncul di ayat ini tapi kita ingat kata ‘petunjuk’ sebelumnya terdapat di ayat 6 surat Al-Fatihah. Benar, istilah Tuhan untuk orang yang diberi nikmat adalah orang bertakwa.

Apa tahapan pertama agar menjadi orang bertakwa? Sungguh tahapan pertama ini sangatlah sederhana tapi fundamental, yaitu ‘beriman dengan kegaiban’. Keimanan maknanya adalah percaya. Iman adalah kondisi hati seseorang yang mau percaya padahal belum tampak buktinya. Mirip seperti seseorang yang menerima untuk menikahi seseorang padahal belum tentu orang itu bisa menjadi suami atau istri yang baik dan sesuai yang diharapkan. Modalnya hanya percaya atau iman.

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut? Baguan 3/3Cukup tiga fakta yang kita beberkan tentang pentingnya membaca Al-Quran...
30/09/2026

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut?
Baguan 3/3

Cukup tiga fakta yang kita beberkan tentang pentingnya membaca Al-Quran dengan runut. Konsistensi runutan Al-Quran akan bisa kita lihat di ayat-ayat selanjutnya. Pembahasan tentang hal ini akan kita sudahi. Ke depannya kita akan berusaha menapaki Al-Quran dengan runut dan detil.

Selama ini kita seringkali abai dengan urutan Al-Quran padahal memang Al-Quran yang dipersembahkan اللّٰه untuk para manusia di zaman setelah Rasulullah SAW punya urutan yang berbeda dengan urutan turunnya ayat karena memang dikhususkan pada manusia yang sudah memiliki peradaban lebih maju daripada saat diturunkannya Al-Quran yaitu mampu membaca Al-Quran secara mandiri.

Memangnya boleh membaca Al-Quran mandiri? Apa buktinya manusia harus membaca Al-Quran mandiri? Buktinya ada di ayat 1 surat Al-Baqarah yaitu Alif Lam Mim. Melalui ayat ini, اللّٰه menegaskan bahwa manusia harus mampu mengeja. Tentu kita paham mereka yang mampu mengeja pasti mampu membaca. Ini bukti manusia memang harus membaca Al-Quran secara mandiri. Ini juga alasan mengapa tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad SAW.

Al-Quran sudah turun dengan sempurna sebelum Rasulullah SAW wafat. Urutannya pun disusun sedemikian rupa, tentu atas petunjuk اللّٰه . Seperti sebuah buku, tidaklah baik membaca buku tidak sesuai urutannya karena setiap penulis pasti punya maksud menyusun bukunya seperti itu. Maka kitapun harus menghormati susunan Al-Quran karena اللّٰه telah menyusun Al-Quran seperti yang kita kenali sekarang.

Mari kita membaca Al-Quran dengan runut dan detil karena kita yakin ada banyak rahasia yang harus diungkap dari susunan Al-Quran seperti yang kita kenali sekarang. Seperti kita juga yakin, Rasulullah SAW membimbing para sahabatnya setahap demi setahap sampai meraih ketakwaan. Marilah kita pun merelakan diri untuk dibimbing Al-Quran setahap demi setahap sampai meraih ketakwaan.

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut? Bagian 2/3Alasan kedua mengapa membaca Al-Quran harus rumut adalah dalam surat Al...
28/09/2026

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut?
Bagian 2/3

Alasan kedua mengapa membaca Al-Quran harus rumut adalah dalam surat Al-Fatihah ayat 7 kita mengenal 3 golongan. Mereka yang diberi nikmat, mereka yang dimurkai dan mereka yang tersesat. Seperti yang telah kita bahas, ketiga golongan ini adalah klasifikasi manusia. Ternyata, اللّٰه membahas 3 klasifikasi yang serupa di awal surat Al-Baqarah tapi dengan penamaan yang berbeda.

Satu tambahan fakta yang telah disebutkan sebelumnya, menambah keyakinan kita bahwa membaca Al-Quran memang harus runut. Tentu tidak pas kita membaca surat Al-Baqarah sebelum membaca surat Al-Fatihah karena pembahasan tentang 3 tokoh utama kehidupan yang dibahas dibagian awal surat Al-Baqarah memang merupakan penjelasan lanjutan dari surat Al-Fatihah.

Bukan hanya harus runut urutan suratnya, urutan ayat pun harus runut. Jika kita membaca ayat keempat surat Al-Fatihah sebelum membaca ayat keduanya tentu kita tidak akan bisa sampai pada kesimp**an yang tepat, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Membaca Al-Quran itu seperti menaiki anak tangga, memang harus setahap demi setahap. Tidak bisa diacak sesukanya.

Kita tidak bisa memahami ayat selanjutnya sebelum benar-benar paham ayat sebelumnya. Setiap ayat adalah pondasi memahami ayat selanjutnya. Bahkan kata di awal pun jadi pondasi bagi kata selanjutnya, dalam suatu ayat. Seperti dalam pembahasan ayat kedua surat Al-Fatihah. Mereka yang tidak memiliki sikap ‘alhamdu’, memandang hidup penuh keajaiban dan selalu ingin menyematkan pujian pada yang mereka anggap lebih, tidak akan menyambut perkenalan Tuhan pada manusia.

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut?Bagian 1/3Mari kita lanjut ke bahasan baru. Sebelum masuk ke pembahasan tentang ‘T...
26/09/2026

Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut?
Bagian 1/3

Mari kita lanjut ke bahasan baru. Sebelum masuk ke pembahasan tentang ‘Tiga Tokoh Utama Kehidupan’ kita akan membahas tentang korelasi antara Al-Fatihah dengan Al-Baqarah yang kita beri judul ‘Benarkah Membaca Al-Quran Harus Runut?’ Sebetulnya pembahasan ini menjadi bagian dalam bahasan selanjutnya tapi agar lebih jelas kita pisahkan saja.

Urutan Al-Quran diakui disusun berdasarkan perintah Rasulullah SAW dan kitab Al-Quran yang beredar dipenjuru dunia manapun mempunyai susunan yang sama. Tapi sepertinya banyak ulama tidak terlalu memedulikan soal susunan Al-Quran. Banyak yang memilih membahas Al-Quran secara temartik. Memang, pembahasan Al-Quran secara runut menuntut pembelajaran yang berkesinambungan. Jika begitu, mengapa Al-Quran zaman kita susunannya berbeda dengan susunan turunnya ayat?

Pertanyaan ini langsung terjawab jika kita membaca surat Al-Fatihah dengan seksama dilanjutkan membaca surat Al-Baqarah. Apa yang kita minta di surat Al-Fatihah? Kita meminta petunjuk jalan yang lurus, dengan bahasa Arabnya adalah ‘IHdinash shoroothol mustaqiim’. Kata ‘IHdina’ berasal dari kata ‘Hudan’ petunjuk. Pada ayat 2 surat Al-Baqarah, terdapat kata ‘Hudan’ dalam pernyataan ‘Itulah kitab, tidak ada keraguan didalamnya,petunjuk agar menjadi orang bertakwa’.

Maka jika kita menghubungkan antara ayat 6 surat Al-Fatihah dengan ayat 2 surat Al-Baqarah kita bisa menyimpulkan bahwa petunjuk yang kita minta di ayat 6 surat Al-Fatihah adalah Al-Quran yang dinyatakan di ayat 2 surat Al-Baqarah, ‘Itulah kitab tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk agar menjadi orang bertakwa.

Al-Fatihah dan KehidupanBagian 4/4Bimbing kami jalan yang lurus! Ini bukan permohonan, ini kalimat perintah. Kok bisa, m...
25/09/2026

Al-Fatihah dan Kehidupan
Bagian 4/4

Bimbing kami jalan yang lurus! Ini bukan permohonan, ini kalimat perintah. Kok bisa, manusia memerintahkan Tuhannya? Semata larena begitu inginnya manusia selalu bersama Tuhannya, semata karena ingin pengabdiannya diterima. Kata ‘bimbing’ berasal dari kata ‘huda’ bisa juga diartikan ‘beri kami petunjuk’.

Manusia memahami dalam hidup ini ada dua golongan manusia. Mereka yang diberi nikmat dan mereka yang dimurkai juga yang tersesat. Mereka yang diberi nikmat adalah mereka yang selalu bersama Tuhan. Mereka yang dimurkai, tentu yang dijauhkan dari Tuhan. Sedangkan mereka yang tersesat adalah mereka yang tidak pernah sampai pada Tuhan, tidak pernah bersama-Nya.

Permohonan manusia yang berkesadaran di ayat 6 dan 7 surat Al-Fatihah membuat kita memahami sebetulnya hanya ada satu golongan saja di dunia, golongan yang berjalan bersama Tuhan. Sisanya adalah negasi dari himpunan itu. Jadi, dimurkai maupun tersesat bukanlah pilihan melainkan sebuah konsekuensi.

Selesai sudah rangkaian pembahasan tentang surat Al-Fatihah. Pembahasan tentang surat ini membuat kita paham mengapa surat ini perlu dibaca setiap sholat. Surat Al-Fatihah adalah bentuk kesadaran manusia yang disambut dengan pengajaran Tuhan akan kehidupan. Sebuah sikap dalam memandang kehidupan yang disertai arahan dalam menjalani kehidupan. Kehidupan ini tidak gratis, ada yang harus kita perjuangkan demi selalu bersama dengan-Nya.

Al-Fatihah dan KehidupanBagian 3/4Mari kita lanjutkan pembahasan tentang surat Al-Fatihah. Setelah pernyataan Tuhan di a...
24/09/2026

Al-Fatihah dan Kehidupan
Bagian 3/4

Mari kita lanjutkan pembahasan tentang surat Al-Fatihah. Setelah pernyataan Tuhan di ayat 2,3 dan 4 surat Al-Fatihah, ayat 5,6 dan 7 adalah pernyataan manusia. Awal surat ini membuka kesadaran kita bahwa Al-Quran adalah bentuk komunikasi dua arah antara Tuhan dan manusia. Seperti di ayat 2, perkenalan manusia dengan Tuhan dimulai dari bagaimana manusia memandang kehidupan. Begitupun di ayat 5, 6 dan 7.

Siapa dari kita yang merasa rela hati menyatakan ‘Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’? Ratusan ribu kali kita membaca Al-Fatihah, berapa kali kita sadar dengan makna ayat ke 5 dari surat Al-Fatihah ini? Sadarkah kita pernyataan di ayat ini terlalu dalam untuk bahkan kita pahami. Bagaimana mungkin ada manusia yang mampu dengan lantang menyatakan ketundukannya pada Tuhannya?

Itulah keajaiban Al-Quran. Cara Tuhan menuntun kita menjalani kehidupan dengan memberi contoh orang-orang yang memahami fakta kehidupan yang dipaparkan secara ringkas tapi fundamental di ayat 2,3 dan 4 surat Al-Fatihah membuat mereka dengan sukarela menyatakan ketundukan pada Allah SWT, Rabb dan Maalik kehidupan, dengan menyadari ketunggalan-Nya dan kekuasaan-Nya yang tak berbatas.

Kita sudah memahami, kesimp**an yang kita dapatkan dari ayat awal surat Al-Fatihah adalah, kehidupan ini tidak gratis. Hidup yang sungguh ajaib ini, seringkali dianggap gratis oleh mereka yang tidak memiliki kesadaran akan kehidupan. Sedangkan, mereka yang berkesadaran akan langsung memahami ada tujuan yang harus manusia raih dalam menjalani kehidupan ini.

Pengakuan bahwa kita mempersembahkan pengabdian dan permintaan tolong hanya pada satu-satunya Rabb dan Maalik dalam kehidupan, semata karena kita menyadari hanya itulah bayaran yang pantas atas kehidupan yang ajaib ini. Itulah mengapa, mereka yang memandang kehidupan ini biasa-biasa saja tidak akan sampai pada Tuhan apalagi sampai mengabdi dan meminta pertolongan hanya pada-Nya.

Lalu ada apa dengan pengabdian dan permintaan tolong? Mengapa dua sikap ini yang menjadi indikator pahamnya seseorang akan tujuan penciptaannya dalam kehidupan ini? Apa makna pengabdian? Pengabdian adalah penghambaan manusia atas sesuatu yang dianggap lebih darinya. Setiap manusia akan selalu menghamba sesuatu. Maka pilihannya adalah menghamba Tuhan atau bukan Tuhan.

Tapi bagaimana mungkin tidak menghamba hanya pada-Nya sementara kehidupan ini Tuhan yang mengatur dan merajai? Setiap penghambaan selalu membutuhkan bimbingan dari yang ingin kita hamba. Bukankah cinta harus tepat sasaran? Bukankah seseorang baru bisa merasa dicintai jika sesuai dengan keinginannya? Begitu p**a dalam penghambaan. Sikap menghamba erat kaitannya dengan permintaan tolong, terutama untuk ditunjukkan cara menghamba yang benar.

Al-Fatihah dan Kehidupan Bagian 2/4Cara Allah SWT bertutur memang luar biasa. Pada kalimat sederhana ‘Alhamdu lilaahir r...
22/09/2026

Al-Fatihah dan Kehidupan
Bagian 2/4

Cara Allah SWT bertutur memang luar biasa. Pada kalimat sederhana ‘Alhamdu lilaahir robbil’alamin’ tersurat banyak hal. Kita tidak sekadar diperkenalkan pada Tuhan tapi juga pada fungsi Tuhan dalam kehidupan pun bagaimana kita harus bersikap pada-Nya yaitu menyematkan segala pujian hanya pada-Nya. Temtu saja sikap menyematkan pujian hanya pada-Nya melibatkan seluruh kesadaran perasaan dan pikiran.

Ayat pembuka Al-Quran ini menyadarkan kita, cara kita memandang lehidupan akan mempengaruhi cara kita menjalani kehidupan. Ini bukan toxic positivity karena kita tidak memaksakan diri untuk positif tapi memilih untuk melihat kehidupan dari sisi positif. Karena bagi manusia yang memiliki kesadaran, kita paham semua hal di dunia ini selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif. Tergantung sudut pandang yang dipilih.

Manusia tetap saja mempertanyakan pengaturan Tuhan akan alam semesta, maka Allah SWT menegaskan pengaturan-Nya akan selalu dalam jalur ‘Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’ seperti yang dipaparkan-Nya di ayat 3 surat Al-Fatihah. ‘Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’ adalah dua nama Allah SWT. Dalam bahasa Arab, makna kata ‘nama’ lebih dekat ke kata ‘sifat’ dalam bahasa Indonesia.

Sedalam apa makna ‘Ar-Rahmaan’ dan ‘Ar-Rahiim’? Keduanya memiliki 3 huruf penyusun yang sama. Ada ulama yang menyampaikan rahman dan rahim
Itu hulu dan hilirnya kasih sayang. Jadi, Allah SWT sumber kasih sayang satu-satunya dan pengalir kasih sayang terbaik. Jelas untuk memahami lebih dalam kita harus menelaah setiap ayat dalam Al-Quran yang memuat dua nama-Nya ini.

Lalu manusia mempertanyakan kerahmanan dan kerahiman Tuhan dengan mengungkapkan bukti-bukti ada banyak letidakadilan dalam hidup ini. Allah SWT langsung menjawabnya di ayat selanjutnya, ‘Maaliki yawmid diin’. Ayat ini terkesan sangat sederhana tapi bisa menjawab gugatan manusia tentang dua nama-Nya itu. Iya, tenang saja, akan ada hari pembalasan, hari dimana semua ketidakadilan akan berbalas.

Tapi, mengapa kata ‘Ad-diin’ diartikan pembalasan? Bukankah maknanya adalah agama? Iya betul ‘yawmid diin’ adalah hari agama tapi maknanya memang bisa dibawa ke hari pembalasan. Sehingga para ulama menerjemahkannya begitu. Walaupun begitu, tidak ada salahnya kita menelusuri makna yang lebih pas dari ‘yawmid diin’.

Sebelum membahas tentang ‘hari agama’ mari kita membahas keterkaitan antara Rabb dan Maalik. Iya, keduanya adalah dua fungsi Tuhan di dua kehidupan yang berbeda. Keduanya serupa tapi tak sama. Dalam kehidupan dunia, Allah SWT berfungsi sebagai pengatur tapi Dia tidak merajai kehidupan. Itulah mengapa Dia tidak tampil di dunia, terlihat oleh manusia. Sedangkan di kehidupan akhirat, Dia merajai, tampil dan terlihat.

Kedua fungsi Tuhan, Rabb dan Maalik sama-sama diikat dengan dua nama-Nya ‘Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim’. Kekuasaan-Nya bukan untuk merusak manusia, merusak kehidupan tapi untuk menjaga dan melimpahkan kasih sayang-Nya pada kehidupan ini. Sungguh 3 ayat sederhana yang maknanya dalam dan saling terkait sekaligus menenangkan hati manusia.

Jadi, apa itu hari agama? Ad-diin tidak tepat diartikan agama. Ad-diin punya huruf penyusun yang sama dengan kata ‘hutang’ dan ‘kontrak’. Secara bebas, kata ‘Ad-diin’ bisa dimaknai kontrak yang akan dimintai pertanggungan jawaban. Itulah mengapa banyak yang menerjemahkan kata ‘Ad-diin’ menjadi pembalasan.

Seperti yang telah dipahami, kata ‘Ad-diin’ merujuk pada suatu pedoman dalam menjalani kehidupan. Jadi jika ditanya apa yang akan kita pertanggungjawabkan di hari pembalasan? Ya pelaksanaan ad-diin itu sendiri dalam kehidupan yang kita jalani. Selama ini kita selalu berpikir parsial dalam memahami surat Al-Fatihah. Padahal ketiga ayat pembuka di surat ini sudah menggambarkan secara utuh tentang kehidupan.

Marilah kita review lagi ayat 2,3 dan 4 surat Al-Fatihah. Ketiga ayat ini memaparkan pada manusia, bagaimana cara menjalani kehidupan, siapa yang mengatur kehidupan, seperti apa Tuhan mengatur kehidupan,apa yang harus dilakukan oleh manusia selama hidup dan semua perilaku manusia akan diminta pertanggung jawabannya di hari pembalasan. Atau dalam bahasa sederhananya, kehidupan itu ‘settle down’ bagi manusia tapi tidak gratis!

Al-Fatihah dan Kehidupan Bagian 1/4Banyak orang mempertanyakan kehidupan. Mereka bilang jika Tuhan memang ada mengapa ma...
19/09/2026

Al-Fatihah dan Kehidupan
Bagian 1/4

Banyak orang mempertanyakan kehidupan. Mereka bilang jika Tuhan memang ada mengapa manusia dibiarkan tanpa arah. Tapi ketika dijawab arah hidup sudah ada dalam kitab suci mereka ngeyel dan bilang itu hanyalah karangan para manusia.

Memahami Al-Quran memang tidak mudah. Sampai sekarang, Al-Quran belum menjadi panduan satu-satunya bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Bahkan bagi mereka yang mengaku-aku Islam sekalipun.

Mereka yang mengaku Islam pun kebingungan bagaimana caranya memposisikan Al-Quran sebagai satu-satunya pedoman hidup. Tapi jelas mereka menolak dibilang tidak iman pada Al-Quran walaupun mereka hanya menjadikan Al-Quran sekadar inspirasi, bukan pedoman.

Al-Fatihah seringkali dianggap suatu surat sederhana yang wajib dibaca setiap sholat. Saking terbiasanya, kita tidak menyadari surat Al-Fatihah adalah surat yang merangkumkan keseluruhan isi Al-Quran. Itulah yang menjadikan Al-Fatihah sebuah panduan ringkas dalam menjalani kehidupan.

Perkenalan pertama Tuhan dengan manusia, berada di surat Al-Fatihah. Dia memperkenalkan diri sebagai pengatur alam semesta, semua hal yang manusia ilmui atau ketahui. Perkenalan ini hanya bisa diterima oleh manusia yang menganggap kehidupan ini sebuah keajaiban dan selalu terkagum-kagum dengan kehidupan.

Lalu bagaimana dengan manusia yang tidak terkagum-kagum dengan kehidupan? Tidak pernah terbersit dalam hatinya keinginan memuji apapun, siapapun yang mengatur kehidupan dengan sangat tertib dan harmonis. Menganggap kehidupan memang begitu adanya. Mereka, tidak akan menyambut perkenalan Tuhan dalam surat Al-Fatihah.

Memangnya ada manusia yang menganggap kehidupan ini biasa-biasa saja? Begitu adanya? Banyak. Hampir semua orang dewasa begitu. Jadi, semakin dewasa bukannya semakin mengagumi kehidupan tapi makin apatis dengan kehidupan. Jelas mereka tidak peduli dengan perkenalan Tuhan di surat Al-Fatihah.

Manusia yang menganggap kehidupan ini luar biasa, akan selalu merasa takjub dengan kehidupan dan selalu mencari rahasia dibalik dunia yang luar biasa ini. Mereka selalu memuja kehidupan. Sesulit apapun kehidupan yang mereka hadapi tidak menutup ketakjuban mereka akan kehidupan, mulai dari tubuhnya sendiri sampai alam semesta yang luas.

Iya, mereka yang takjub pada kehidupan, adalah mereka yang bersikap ‘alhamdu’. Makna kata ‘alhamdu’ adalah ‘segala pujian’. Maksudnya, bagi mereka kehidupan ini sangat luar biasa sehingga mereka selalu memuji kehidupan ini. Lalu Tuhan, dalam Al-Fatihah menyatakan, bahwa segala pujian, yang muncul karena ketakjuban akan alam semesta, adalah milik Dia, Al-Illah, Allah SWT atau Sang Tuhan.

Jika kita bertanya, mengapa banyak manusia tidak mau mengakui adanya Tuhan? Jawabannya sudah tertera di ayat awal Al-Fatihah. Hal itu karena bagi mereka kehidupan ini biasa-biasa saja, tidak keren, bikin takjub, bikin speechless. Pengaturan alam raya ini biasa saja, tidak sangat teratur, tertata dengan harmonis. Mereka, merasa tidak perlu ada Tuhan untuk menjadikan alam raya ini bergerak indah.

Sudahlah tak perlu bersedih dengan mereka yang lantang meniadakan Tuhan. Bagi kita, manusia yang memiliki kesadaran akan kehidupan, yang sadar akan ketidakberdayaan kita bahkan dalam mengatur degup jantung kita sendiri, kita sambut perkenalan Tuhan di awal surat Al-Fatihah. Dialah Sang Tuhan yang mengatur semua semesta yang ada, Allah SWT.

Address

Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AlQuraan Visual posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share