07/07/2026
*Pantaskah Kita Dekat dengan Ulama? | Habib Abdulloh Al-Muhdhor*
Yang sangat disayangkan, banyak orang memiliki pemahaman yang perlu diluruskan.
Ketika di tanya: “Kenapa kamu tidak hadir ke pengajian Ustadz Fulan, ‘Alim Fulan, atau Syeikh Fulan?”
Mereka menjawab: “Aku orangnya masih banyak kekurangan, aku ahli maksiat. Bagaimana mungkin aku menghadiri majelis orang-orang saleh?”.
Padahal, justru sebaliknya. Orang yang ahli maksiat dan serba kekuranganlah yang paling membutuhkan majelis orang-orang saleh.
Adapun jika seseorang sudah menjadi saleh, maka ia bisa melanjutkan kesibukannya. Ia tidak lagi harus datang ke majelis orang saleh, karena dirinya sudah mendapat bimbingan. Namun selama kita masih serba kurang, masih bercampur antara kebaikan dan keburukan, kita tetap membutuhkan “service” dan perbaikan. Majelis mereka (para ulama dan orang saleh) akan memperbaiki kita. Pandangan mereka bagaikan elixir (cairan ajaib) yang dapat mengubah keadaan seseorang dari buruk menjadi baik, dan dari baik menjadi lebih baik lagi.
Lalu, dari mana datangnya pemahaman yang keliru tadi? Pemahaman itu datang dari iblis, yang berusaha menjauhkan manusia dari majelis orang-orang saleh. Akibatnya, banyak syiar-syiar agama dan sunnah-sunnah Nabi Muhammad ﷺ semakin tidak dikenal oleh kita, karena tidak ada yang mengingatkan. Banyak kemungkaran yang tampak, karena tidak ada lagi yang menegur.
Dari siapa seharusnya datang peringatan atau teguran itu? Dari orang yang berilmu. Siapa lagi yang akan mengingatkan kalau bukan mereka? Peran orang yang berilmu adalah menghancurkan tipu daya setan, membuka kedoknya, dan menampakkan kebenaran kepada manusia agar tidak ada seorang pun yang terfitnah oleh tipu dayanya.
للهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِ سيِّدنا محمَّد.
يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق
Semoga Allah memberi kita taufiq sehingga kita bisa digolongkan dengan orang-orang sholeh. Aamiin